February 28, 2014

Crayons On Holiday





Heloo readers

Hari ini (hari di saat saya menulis postingan) adalah hari terakhir di bulan Februari. Juga hari terakhir liburan semester—yang berjalan selama 2 bulan itu. Ya, memang sangat lama. Sementara kegiatan di dalamnya diisi dengan….mari saya ceritakan

Bulan pertama diisi dengan membaca beberapa buku, menghabiskan 3 session Minami-Ke, mengupdate template blog ini (meski masih aja standard), menyaksikan liputan banjir di TV, mengihlaskan 1 kesempatan magang di sebuah perusahaan power solution karena periode magang melebihi waktu liburan (3 bulan), menghabiskan games Tebak Gambar, menghanguskan tiket Artphoria gratisan karena hujan yang tak kunjung berhenti, melewatkan interview volunteer KHI (Komunitas Historia Indonesia)

Bulan selanjutnya diisi dengan menulis cerpen dan beberapa postingan di Kompasiana, belajar photoshop saat mood, (lagi lagi) mengikhlaskan kesempatan magang di KPEI (Komisi Penjamin Efek Indonesia)  karena periode magang melebihi waktu liburan (6 bulan), melewatkan tes tulis untuk magang jurnalis di Code Margonda, menghanguskan tiket gretongan nonton Comic8 di Grand Indonesia dari Sukro melewatkan kumpul bareng Komunitas Celup Kelingking, melewatkan volunteer acara #RunForLove di f(x) Sudirman, menghanguskan kesempatan dapet tiket gretongan Killers dari TraxFm, seminar dan urusan yang berkaitan dengan organisasi lainnya, vacation education bareng Sella dan Bonita ke IDX, @america, Museum Nasional, Istiqlal, Kedai Es Krim Zaman Belanda “Ragusa, ” dan yang paling berwarna adalah super quality timebersama Itazura di hari Valentine.




With Sella and Bonita in IDX






with Bonita and Monas

Yahhh demikianlah krayon krayon liburan saya yang sangat indah. Meski miris karena banyak hal yang saya lewatkan karena…suatu alasan yang tak bisa dikemukakan di sini atau dimanapun. Kenapa posting ini ? untuk refleksi diri aja sih dan..supaya blog nya nggak sepi. yang jelas liburan kali ini fix rutin mengantar Cella ke sekolah karena dia masuk siang.

Anyway, salah satu resolusi saya sudah tercapai di pertengahan Januari kemarin. Resolusi lain semoga segera menyusul. Semoga readers juga ya. Aamiin.

Terima kasih untuk waktunya.



Begitu Saja

Begitu Saja
by RAN








Selama ini kau tahu betapa ku merindumu
Sekian lama tak bersua oh kangenku kepadamu
Ku naiki anak tangga tuk melihat parasmu yang cantik
Tak sedetik ku menduga kau dengan yang lain
Tiada ku sangka tak ada tangis saat kau pergi
Begitu saja, terima kasih kau telah mendua
Silahkan pergi dari hidupku

Sebelumnya ku fikir kaulah segalanya
Tak terbayangkan hidupku bila kau tak ada
Namun ternyata di belakang kau main dengan lain orang
Hmmm tak sedetik ku menyesal kau dengan yang lain

Tiada ku sangka tak ada tangis saat kau pergi
Begitu saja, terima kasih kau telah mendua
Silahkan pergi dari hidupku

Ku naiki anak tangga, kau main dengan lain orang
Hmmm tak sedetik ku menyesal, tak sedetik ku menduga

Tiada ku sangka tak ada tangis saat kau pergi
Begitu saja, terima kasih kau telah mendua
Silahkan pergi dari hidupku

Tiada ku sangka tak ada tangis saat kau pergi
Begitu saja, oh terima kasih kau telah mendua
Silahkan pergi (oh silahkan pergi)
Silahkan pergi dari dari hidupku



February 21, 2014

Two Things that Make You Worry


Katanya, setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Seperti laki-laki dan perempuan, sepatu kanan dengan sepatu kiri, roti dengan selai, kopi dengan gula. Seperti pelangi setelah hujan, asap karena api. Ini menyoal kausalitas. Hubungan sebab akibat.

Bagi saya, ada 2 hal yang merisaukan dan sulit disembuhkan di kehidupan ini. Mereka adalah kecewa dan kehilangan. Beruntungnya, ada cara di baliknya untuk menghindari 2 hal tersebut. Ada cara pencegahannya, karena 2 hal tersebut hadir atas kausalitas, yaitu hubungan sebab akibat.

Kecewa terbentuk karena ekspektasi yang begitu tinggi. Sementara kehilangan terbentuk karena kita merasa memiliki. Tidak pernah ada kekecawaan kalau kita tidak pernah berekspektasi terlalu tinggi akan suatu hal atau seseorang. Kita sering kagum kepada orang karena chasing dan pembawaannya di muka umum. Memuji orang itu tiada habis dan seolah tiada celah. Kita mungkin sering meyakini dalam pikiran masing-masing betapa hebatnya orang itu. Kemudian ada waktunya saat kita mengetahui kalau orang itu tidak sesempurna yang terlihat oleh mata. Lalu, kecewa yang bersarang di hati.

Kita sering lupa kalau kita semua manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita dan orang itu sama, jika orang itu hebat, maka sesungguhnya kita tak kalah hebat. Hanya saja, mungkin kita belum menemukan lebih jauh potensi yang kita miliki. Jangan berekspektasi terlalu tinggi, jangan menghakimi dan memuji tanpa henti. Kita semua manusia.

Sayangnya selain lupa kalau kita semua sama – sama manusia, kita juga lupa kalau kita tak pernah memiliki apapun di dunia ini sesungguhnya. Semua yang ada pada diri kita hanyalah titipan semata—yang kita tidak pernah tahu kapan pemiliknya yang utuh akan menjemputnya.

Pastinya kita sudah tidak asing dari pelajaran yang bisa kita dapat dari tukang parkir bukan ? Tukang parkir selalu menjaga mobil atau motor yang dititipkan padanya sebaik mungkin. Tetapi, saat si pemilik mobil atau motor itu mengambilnya kembali, tukang parkir tidak menangis tersedu – sedua, sedih atau update status karena merasa kehilangan. Tukang parkir akan mengikhlaskannya, karena dia tahu kalau semua itu hanya titipan. Dan sesuatu yang dititipkan harus dikembalikan atau akan dijemput si pemiliknya.

Mungkin muncul sebuah pertanyaan seperti ini “Tapi, dia dibayar untuk itu ?”. kita juga dibayar untuk itu. Untuk menjaga apa yang telah dititipkan olehNya, dengan syarat kita menjaganya dengan baik. Bayarannya berupa apa ? Poin poin kebaikan yang dikenal dengan pahala. Atau bahasa kerennya amal kebajikan.

Seseorang yang datang kepada kita hanya sebuah titipan, kita bisa menjaganya dengan menjadi manusia bermanfaat di dekatnya. Bukankah itu amal kebajikan yang sedang kita tanam. Saat orang itu harus pergi atau diambil kembali oleh pemilikNya, maka tak seharusnya kita merasa kehilangan. Karena ingat readers, kita bukan pemiliknya.

Jadi, 2 hal merisaukan dalam hidup itu bisa kita hindari kalau kita tidak memiliki ekspektasi yang terlampau tinggi dan tak pernah merasa memiliki. Tapi, kalau memang hati kita tak bisa mengendalikan dan menjalankan apa yang seharusnya kita cegah, mau bagaimana lagi. Untuk sesekali, saya rasa tidak apa. Anggap saja mencicipi hidup. Karena setelah pernah merasa kecewa dan kehilangan, bukankah kita menjadi belajar untuk menjadi dewasa dan menjadi lebih baik lagi

Terima kasih

February 20, 2014

Abel, Kisah Sewindu (End)



cerita sebelumnya



Aku hampir stress dengan semua pemikiranku sendiri hingga Radit datang dan mendekatiku. Awalnya, aku menganggap Radit adalah kakak yang baik dan teman berbagi wawasan. Tetapi, lama kelamaan perlakuannya kepadaku semain istimewa. Radit memeberikan segala hal yang selama ini kuimpikan sebagai seorang gadis. Radit secara tidak langsung memanjakanku dengan seglaa luapan perhatian dan kasih sayangnya. Radit sangat menyayangiku. Aku tahu itu. Maka, saat Radit mengajakku untuk menikah di kala usiaku 21 tahun, aku menerimanya.

Intensitas pertemuanku dengan Albi semakin berkurang. Setiap melihatnya, aku seperti terluka karena tak pernah bisa menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya kepadanya. Aku juga tak pernah tahu seperti apa perasaannya kepadaku. Atau sebaiknya mungkin aku tak perlu tahu, karena saat aku mengetahuinya, aku telah terlambat. Tidak ada yang dapat kuperbuat.

“Makasih, Bi. Aku sudah minta bantuan sama Mia untuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari baju pengatin, catering makanan, gedung, undangan. Kamu nggak perlu khawatir. Anyway, terima kasih sudah menawarkan diri,” jawabku sambil berlalu meninggalkan beranda.

Beberapa menit yang lalu, aku tahu segala usaha Albi mempertahankanku untuk menarikku keluar dari rencana pernikahan ini adalah bukti kalau ia memiliki perasaan yang sama denganku. Tetapi semuanya terlambat, Albian.
* * *

“Saya terima nikahnya Anggita Salsabila binti Hermawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan….”

Salsa. Salsabila. Ya, itu nama Abel yang sesungguhnya. Lalu mengapa ia dipanggil Abel ? Tiba-tiba pikiran itu justru sibuk mengisi kepalaku di tengah ijab kabul yang sedang berlangsung.

Aku menghadiri pernikahan Abel, cinta pertamaku yang bertepuk sebelah tangan.

Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya engkau memilih dia

END

25 Januari 2014
Inspired by Sewindu from Tulus

Abel, Kisah Sewindu #4

cerita sebelumnya 





Musim hujan sedang berlangsung ketika kamu datang dan resmi menjadi tetangga baruku. Aku selalu bertanya-tanya mengapa anak lelaki itu selalu duduk di depan pagar rumahnya sambil berpayung dan membelakangi rumahnya. Seorang wanita yang kuyakini sebagi ibunya tak pernah lelah membujuknya masuk ke dalam rumah baru mereka. Tapi anak lelaki itu sama sekali tidak menghiraukannya. Dia duduk di sana sepanjang pagi hingga malam. Hingga pada hari ke-7 aku memberanikan menegurnya.

“Hai. Kenapa kamu nggak masuk ke rumah? Apa kamu mau main sama aku?,” tanyaku saat itu.
“Kamu siapa?,” tanya anak itu degan mata yang tajam.
“Aku Salsa. Salsabila,” ujarku sambil mengulurkan tangan.
 “Nama kamu ribet. Aku ngggak mau main sama kamu,” jawabnya ketus sambil membalikkan badan dan membelakangiku. Punggungnya yang terlihat hangat membuatku memutar otak.
“Oke, panggil saja aku Abel kalau begitu,”

Aku juga tidak tahu darimana aku menemukan nama itu. Tetapi, demi punggungnya yang hangat. Demi dekat dengan anak lelaki itu, maka mulai hari itu aku menasbihkan diri untuk dipanggil Abel. Bang Andri, kakak lelaki kesayanganku tentu saja menolaknya mentah-mentah. Sementara ayah dan ibu hanya mengikuti kemauan anak perempuannya yang jatuh cinta pada usia 12 tahun. Bang Andri tetap memanggilku sebagai Salsa.

Mulai hari itu aku bermain bersama Albi. Bermain kelereng, mengejar layangan putus, bertanding play station. Bahkan aku memberanikan diri untuk naik pohon dan membuat sarang burung bersamanya. Padahal aku sangat takut dengan ketinggian. Demi tetap terus bersama Albi, aku membuang jauh semua ketakutanku itu. Bang Andri jelas-jelas tak menyukai Albi. Karena Albi telah mengubah adik perempuannya menjadi anak lelaki.

Sebenarnya Albi tidak mengubahku menjadi anak lelaki secara utuh. Aku hanya berubah menjadi anak lelaki ketika berada di hadapan Albi. Aku selalu berusaha terlihat kuat dan bisa di hadapannya. Aku selalu senang saat berada di dekat Albi. Tetapi saat tidak ada Albi, aku sesungguhnya anak perempuan manja dan cengeng. Selalu ingin diperlakukan istimewa.

Bermain dan pergi sekolah bersama Albi membuatku semakin denkat dengannya. Tidak ada satu haripun yang kami lewatkan tanpa bersama, kecuali saat ada acara keluarga kami masing-masing. Karena kedekatan kamilah, aku tahu penyebab Albi tidak mau masuk ke rumah selama seminggu awal kepindahan rumahnya itu.

Albi sebelumnya tinggal di Bandung bersama neneknya. Ibunya meninggal ketika melahirkannya. Ayah Albi datang ke Bandung seminggu sekali untuk mengunjunginya. Hubungan mereka baik – baik saja sampai pada akhirnya Ayah Albi memutuskan untuk menikah kembali dan mengajak Albi tinggal bersamanya di Jakarta.

Awalnya Albi tidak mau ikut pindah karena itu berarti ia akan meninggalkan makam ibunya yang berada di Bandung. Tetapi ayahnya terus memaksa Albi karena ia begitu menyayangi Albi. Ibu tiri Albi sangat cantik dan baik. Dari matanya, aku dapat meilhat kalau dia juga menyayangi Albi dengan tulus.

Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu siangmu malammu

Albi adalah orang pertama yang selalu meneriakkan namaku di setiap pagi, siang dan malam. Aku selalu menunggunya untuk memanggil namaku di pagi hari saat kami ingin berangkat sekolah. Albi tumbuh menjadi anak yang periang dan blak-blakan, juga tampan. Tidak salah jika dia memiliki banyak penggemar di saat SMA.

Ada banyak anak perempuan yang menitipkan surat cinta, cokelat atau sekedar salam kepada Albi melalui aku. Rasanya hatiku panas sekali dan tidak terima. Terkadang, aku tidak ingin memberikan surat itu kepada Albi dan ingin membuangnya ke tempat sampah terdekat. Tetapi aku tidak pernah melakukannya.

Aku selalu membawa surat, cokelat dan pesan itu kepada Albi tanpa ada satu yang terlewat. Cokelat yang ada tidak pernah dimakan Albi. Ia khawatir kalau cokelat itu telah dimanterai oleh si pengirim. Maka, akulah yang menjadi tong sampah cokelat itu. Aku selalu memakan habis semua cokelat dari fans Albi di depan Albi.

Sebagai kapten cheerleaders dan seorang flyer, aku sangat menjaga berat badanku. Sebenarnya aku tidak ingin makan cokelat-cokelat itu. Apalagi dalam sehari, setidaknya ada 5 cokelat yang dititipkan fans Albi untukku. Sebenarnya jika sedang tidak berada bersama dengan Albi, pada akhirnya cokelat itu tak tersentuh olehku.
Aku cuma  nggak mau punya hubungan dengan cewek – cewek yang ingin diperlakukan seperti princess. Semua itu hanya ada di dongeng. Lagipula cewek yang ingin diperlakukan seperti princess pasti bukan cewek yang tough. Aku khawatir cewek seperti mereka nggak bisa bertahan bersamaku di kala kesulitan.”

Aku tertegun mendengar alasan mengapa Albi tidak memilih satu dari sekian gadis yang mengejarnya. Alasan yang sulit. Alasan yang tidak mungkin bisa kutembus. Aku adalah bagian dari gadis-gadis yang ingin mendapatkan pesan selamat pagi dan selamat malam di ponselku. Mendapatkan bunga-bunga cantik yang jumlah tangkainya sesuai dengan usia hubungan kami di setiap bulannya. Dipayungi dengan jaket di kala kedinginan. Aku adalah cewek tipikal pada umumnya. Kriteria yang sungguh sangat dibenci oleh lelaki yang kusayangi. Tetapi demi terus berada di dekat Albi dan berharap suatu hari bisa menjalin hubungan dengannya, maka sejak itu aku berusaha menyembunyikan segalanya dari Albi.

Ada ketakutan yang bersarang saat mengetahui Amanda Kartika, si ratu karate sekolah kami berniat menyatakan cinta pada Albi. Aku tahu betul kalau Amanda bukan cewek tipikal, dia berbeda. Bagaimana jika Albi akan menerima Amanda sebagai kekasihnya. Dengan setengah kekhawatiran dan kesal pada Albi—karena dia tidak mengucapkan ulang tahun sampai jam istirahat berbunyi kepadaku—aku menyampaikan pesan dari Amanda.

“Tapi kalau kamu mau keliling Indonesia, nggak masalah buatku. Kemanapun perginya, asalkan sama kamu, its okay aja aku Bel.”

Aku tidak pernah lupa dengan kalimat yang diutarakan Albi saat itu. Aku berharap ada bintang jatuh yang lewat lalu akan kubuat permohonan untuk menghentikan waktu sampai di situ saja. Untuk membingkai kalimat sederhana yang melelehkan perasaanku. Bagiku, itu adalah kado terindah di ulang tahun ke-17 ku.

Sayangnya aku tidak pernah tahu bagaimana menunjukkan perasaanku pada Albi. Albi pasti tidak akan suka dengan segala hal yang berbau romantis, ala princess atau menye-menye. Dan aku semakin tidak tahu bagaimana membuat Albi tahu kalau aku menyukainya. Tapi, bagiamana dengan Albi sendiri ? aku tidak tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya kepadaku. Apakah Albi merasakan hal yang sama denganku?

Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi
Di sepanjang harimu
Tak mungkin bila
Engkau tak tau
Bila ku menyimpan rasa
Yang kupendam sejak lama

to be continued
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis