February 29, 2012

Masa Lalu

Untuk kebanyakan orang, masa lalu hanyalah sekedar masa lalu. Rentetan kisah yang pernah ada dan telah usang. Terbuang. Seperti sampah. Yang menggugurkan rasa resah atau rasa bersalah. Terlupakan. Tetapi, untukku tidaklah demikian. Untukku, masa lalu tak pernah berlalu.

Masa lalu yang mengantarkan kakiku melangkah ke gedung yang desain interriornya penuh dengan berbagai bunga dan warn-warna cerah. Menyiratkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan oleh seseorang yang pernah kucintai.

Sudah pasti aku akan berlari menuju orang itu, bukan untuk menyalaminya—seperti kebanyakan orang yang akan hadir nantinya di gedung ini—tetapi untuk menyeretnya. Menariknya kembali menuju ke pelukanku. Tetapi aku salah. Aku tak pernah sampai hati untuk menyeretnya atau bahkan melukainya.

Gadis itu terisak di depanku. Aku tak mengenali tatapan matanya yang indah setiap menuju ke mataku—seperti dulu. Hanya ada ketakutan di pelupuk matanya yang kini telah banjir air mata. Bukan itu yang ingin kulihat saat ini. Aku ingin tatapannya yang lalu. Yang berbinar bahagia setiap kali menatapku.

Gadis itu terus terisak…dan sesekali tertunduk. Tak ada satu katapun yang keluar dari bibir manisnya yang dulu dering kukecup, yang ada luapan air mata yang bagaikan air terjun—yang dulu tak pernah tumpah di hadapanku.

“Jangan menangis. Riasan wajahmu yang sudah cantik akan memudar nanti!”

Meski bagiku, gadis itu tetap cantik dengan atau tanpa riasan. Ruang rias pengantin itu memang penuh dengan harum melati, tetapi aku masih bisa menghirup aroma tubuhnya yang masih sama.

Gadis itu masih tetap terisak. Isak yang sungguh memilukan. Seolah perasaannya tertusuk belasan belati. Seperti yang kurasakan seminggu yang lalu—saat mendapati undangan pernikahannya dengan pria lain.

“Beri aku penjelasan”, mintaku singkat.

Sekuat tenaga gadis itu mencoba menghentikan isak tangisnya demi seuntai kalimat yang membakar perasaanku “Aku akan menikah hari ini dengan pria yang kucintai”, jawabnya tegas. Sama tegasnya dengan kalimat yang dia ucapkan lima tahun silam padaku.

“Siapa? Aku pria yang kau cintai, tetapi bukan namaku yang ada dalam undangan pernikahan. Kau akan menikah dengan siapa?”

“Tentu saja dengan pria yang kucintai. Dengan kekasihku yang telah kupacari setahun ini. Mengapa kau tak bisa menerimanya sejak awal ?”

Mataku panas. Perlahan kuhirup aroma bensin yang menyeruak di ruangan.

“Hubungan kita telah berakhir setahun yang lalu. Aku tak pernah lagi mencintaimu sejak setahun yang lalu. Aku telah melupakanmu. Aku telah mengatakannya padamu. Mengapa kau masih saja belum menerimanya?”.

Rentetan perkataan gadis itu seperti paku yang menancap di kepala dan hatiku, lalu disusul dengan tangisnya yang pecah dan tetap indah.

“Tetapi kau mencintaiku. Bukankah kau mencintaiku? Kau sering mengatakannya dulu? Mengapa kau lupa?”, tanyaku setengah berteriak mulai pusing dengan aroma bensin yang semakin membabi buta di ruangan itu.

“Sadarlah ! Itu adalah masa lalu. Masa lalu. Dan mereka hanya sekedar masa lalu. Kau adalah masa laluku. Masa depanku adalah hari ini. Menikah dengan pria yang akan kunikahi hari ini”

Hatiku panas. Aku semakin pusing dengan aroma bensin yang terus memaksa merasuki hidungku. Sekelebat bayangan muncul dalam benakku. Dalam mata terpejam, kudapati seorang gadis belia dengan seragam SMA menggenggam erat tangan kekasihnya. Menyusuri aspal basah sisa hujan siang tadi.

“Apa impianmu?”

“Aku ingin menikah dengan pria yang kucintai”, jawabnya tegas.

Tenggorokanku tercekat. Mataku kembali terbuka dan mendapati gadis SMA itu kini telah berkebaya putih dengan riasan yang telah luntur oleh air mata, tetapi kecantikannya tak pernah luntur sedikitpun bagiku.

Tanganku merogoh saku celana putihku dan menemukan sebuah kotak kuning kecil. Korek api. Kujatuhkan sebatang korek api lengkap dengan apinya ke lantai ruang rias pengantin. Disambut cepat dengan bensin yang telah sengaja kutumpahkan di lantai sejak awal.

Masa lalu tidak akan hanya menjadi masa lalu. Masa lalu adalah selamanya untukku.


February 17, 2012

A Thousand Years

A Thousand Years
by
Christina Perri



Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid
To fall
But watching you stand alone
All of my doubt
Suddenly goes away somehow

One step closer


I have died everyday
waiting for you
Darlin' don't be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more


Time stands still
Beauty I know she is
I will be brave
I will not let anything
Take away
What's standing in front of me
Every breath,
Every hour has come to this

One step closer


I have died everyday
Waiting for you
Darlin' don't be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

And all along I believed
I would find you
Time has brought
Your heart to me
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

One step closer
One step closer

I have died everyday
Waiting for you
Darlin' don't be afraid,
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

And all along I believed
I would find you
Time has brought
Your heart to me
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

Pulang



Sekarang aku dan kamu memiliki buku baru dengan lembaran halaman yang masih kosong. Kita sudah tutup buku dengan kejadian lalu. Aku dan kamu hanya perlu menyiapkan tinta dan menuliskannya di halaman yang masih kosong—di buku yang baru. Seperti sebuah perusahaan yang selalu mencatat setiap transaksi yang dilakukannya dalam sebuah jurnal, aku juga ingin setiap apa yang terjadi dan kita rasakan kita ungkapkan secara jujur dalam buku itu. Hanya saja, jika dalam sebuah jurnal ada ayat yang salah dan harus diganti, maka aku tidak ingin begitu. Aku tidak ingin menghapus atau mengganti setiap kesalahan—yang mungkin ada—diantara kita. Aku hanya ingin aku atau kamu memperbaikinya, mencoret kesalahan itu lalu menuliskan yang seharusnya di bawahnya. Tetapi jangan pernah menghapusnya, agar aku atau kamu bisa kembali melihat coretan itu sebagai pembelajaran untuk tidak akan lagi membuat coretan itu. Agar tidak ada banyak coretan di buku kita yang baru.

Ada ungkapan ‘time heals wound’ tetapi bagi kita ‘time has brought your heart into me’

Terima kasih telah tetap mempercayaiku sebagai pemegang kunci hatimu. Aku seperti pulang menuju hatimu…kembali.





Gemintang

Gemintang
by
Andien


Gemintang
Awali indahnya cerita
Melantunkan rasa
Nyanyikan
Denting nada dan senyuman
Menghadirkan cinta
Resahku menepi indahku bersemi
Mengingat utuh bayangmu
Hatiku mengucap kata merindukanmu
Laksana nyata manis nuansa
Dan jika gemintang tiada lagi melagu
Kisahku yang mencinta dirimu
Kan slalu abadi
Rembulan
Temani indah malam ini
Menyatukan asa
Lukiskan
Dekap hangat yang kau beri
Mengartikan kita
Gemintang nyanyikan
Rembulan lukiskan

Happy Anniversarry



Gue melipat meja setrikaan—memilih menyudahi menyetrika—ketika tahu Eva mau maen ke rumah. Gelagat Eva yang pas dateng ke rumah gue dan nyuruh gue pake kerudung buat gue agak aneh. Agak was was, khawatir ada orang lain yang bersiap menyerbu rumah gue tanpa ba bi bu hem lebih tepatnya 13 12 11. tapi, pikiran gue terus meyakinkan kalau mereka hari itu emang beneran ke Ragunan, seperti yang mereka sampaikan dan tawarkan kepada gue.

Tetapi, Eva semakin aneh saat memaksa gue untuk keluar dan….sekelompok orang datang. Layaknya panitia tujuh belasan RT yang minta sumbangan. Haha. Nggak deh.

Sella, Ical, Ilfi, Oji, Hadi, dan Fandi tiba-tiba da di depan rumah gue. Ical yang bawa cake imut warna coklat pekat dengan barisan kalimat…(lupa) yang paling gue inget 13-02-12. Terus, Sella berdiri di sampingnya sambil bawa lilin yang buat mati lampu. Sementara yang lainnya, mengiring bagaikan paduan suara.

Kaget banget. Mereka nggak tahu rumah gue, Cuma Eva yang tahu dan…mereka berkonspirasi. Haha.

Hari itu mereka juga sukses membuat gue terkejut dan mati kutu saat gue menerima usul mereka untuk berjalan duluan mengantar mereka yang bergegas pulang tapi…selangkah kemudian, gue bagaikan terhujani salju yang nyatanya adalah terigu. Sedetik kemudian, mereka menyiramkan air dan membuat dua material tersebut sukses menyatu, menjadi atribut gue.

Lalu dengan pasrah…gue menerima jepretan kamera yang dibidik oleh Ilfi dan Ical sesuka hati mereka. selain itu, kita foto bersama dengan gue sebagai model utamanya yang berpenampilan paling nggak banget.

Seneng banget bisa kumpul bareng mereka. terakhir kita kumpul dan maen 369, kartu atau nggak jadi maen sekalipun itu sekitar tanggal 17 Januari lalu. Setelah itu, udah nggak pernah ketemu.

Gue yang paling sering nggak dateng kalau ada acara ini itu. Maaf ya.

*tarik nafas

Semester yang akan datang, yaitu semester 2 nanti akan menjadi semester yang baru buat gue. Tanpa mereka…gue nggak sekelas lagi sama mereka, karena pas ngisi KRS (Kartu Rencana Studi) nggak barengan.

Gue pasti akan kangen banget waktu-waktu dimana kita nongkrong bareng di basement sambil nunggu matkul (mata kuliah) selanjutnya.

Gue pasti akan sangat kangen moment-moment yang sering mengisi waktu kita nongkrong bareng di basement drama korea antara Eva dan Hadi yang saling liat-liatan kuku tangan…. Fandi yang ngegalau dengan headset yang muterin lagunya Afghan… ketawa ketiwi saling lirik bareng Ilfi pas nangkep radar cowok ganteng atau 2 cowok yang selalu berduaan deket toilet (lo taukan Fi?)…. Ngeliatin Sella makan gorengan dengan tenang tapi mau berbagi sama gue…. Ical yang selalu mengeluarkan berbagai makanan dari ranselnya (seolah ranselnya adalah kantong doraemon) dan akan membaginya dengan kita—rakyat muka gratisan dan kelaparan….. Oji yang pendiam tapi diam-diam tahu banyak hal atau bahkan Mumu sang manusia update yang lawakannya kadang menjijikkan.

*tarik ingus

Shalat Ashar berjamaah dengan Imam Oji dimana cewek-ceweknya sering jadi makmum masbuk karena kelamaan di toilet. Hehe

Pake sepatu di tangga selepas shalat ashar sambil melepas lelah ngobrolin Spongebob dimana Ical hafal semua episodenya atau ngecakin Fandi yang hobi nonton Aliyah.

Gue pasti akan sangat merindukan masa-masa itu.

Keep in touch ya !

Surprise dari kalian sukses membuat gue surprise dan terharu, khususnya pada kado dan isi suratnya. Kado yang dibungkus dengan sampul coklat—yang mereka bilang kado dari RT—luarnya dan ternyata di dalamnya masih terselubung oleh berbagai kertas Koran dan plastic hitam, juga plastic supermarket isinya sangat membuat gue surprise.

Sebuah celengan plastik jaman dulu yang bertuliskan “isi aku”(dasar ya anak akun, ga jauh dari duit. Haha) . Juga Sebuah buku harian berwarna biru. Di depannya tertempel foto gue, F4, Sella Ilfi Eva. Di dalamnya lagi—di halaman pertama—juga tertempel sebuah foto kami ber-8 yang terpisah-pisah dalam sebuah lingkaran.



Dannnnnnn

Yang membuat gue terharu adalah pesan di ujung surat yang berbunyi

“Pit, ini diisi ya…kalo kita ga bisa jadi tempat curhat, semoga lo bisa curhat di sini”

Terima kasih banget ya, Guys buat semuanya. Waktu, tenaga, perhatian dan kesediaan kalian. Rasa sayang kalian. Makasih banget. Semoga gue bisa membalasnya, kalaupun nggak..semoga Dia bisa membalas kebaikan dan keikhlasan kalian *Love

Ohya, selamat hari jadi kita yang ke-2 bulan ya. I love youuuu(s)


Thinking of You

Thinking of You
by
Katty Perry




Comparisons are easily done
Once you've had a taste of perfection
Like an apple hanging from a tree
I picked the ripest one, I still got the seed

You said move on, where do I go?
I guess second best is all I will know

'Cause when I'm with him I am thinking of you
(Thinking of you, thinking of you)
Thinking of you, what you would do
If you were the one who was spending the night
(Spending the night, spending the night)
Oh, I wish that I was looking into your eyes

You're like an Indian Summer in the middle of winter
Like a hard candy with a surprise center
How do I get better once I've had the best?
You said there's tons of fish in the water, so the waters I will test

He kissed my lips, I taste your mouth, oh!
(Taste your mouth)
He pulled me in, I was disgusted with myself

'Cause when I'm with him I am thinking of you
(Thinking of you, thinking of you)
Thinking of you, what you would do
If you were the one who was spending the night
(Spending the night, spending the night)
Oh, I wish that I was looking into

You're the best, and yes, I do regret
How I could let myself let you go
Now, now the lesson's learned
I touched it, I was burned
Oh, I think you should know!

'Cause when I'm with him I am thinking of you
(Thinking of you, thinking of you)
Thinking of you, what you would do
If you were the one who was spending the night
(Spending the night, spending the night)
Oh, I wish that I was looking into your, your eyes
Looking into your eyes, looking into your eyes

Oh, won't you walk through?
And bust in the door and take me away?
Oh, no more mistakes
'Cause in your eyes I'd like to stay, stay

Perhaps You

Terkadang lelah menyuruhku menyerah, memintaku berhenti melakukan perbuatan sia-sia dan mulai mencari cinta yang baru. Namun, bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya, kalau semua tentangmu mengikuti seperti bayangan menempel di bawah kakiku? Dan bagaimanapula caranya membakar habis semua rindu yang bertahun-tahun mengendap di hatiku?

Perhaps You – Stephanie Zen


© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis