July 9, 2014

Kerah Baru



“ciyee kerah baru”

Candaan itu yang keluar dari senior saya di hari pertama saya resmi mengenakan seragam SMA (setelah hari-hari sebelumnya mengenakan seragam SMP dan melewati masa orientasi). Sebenarnya kalau dipikir lagi, ungkapan itu bisa ditujukan kepada pelajar manapun yang datang pada tahun pertama di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Seperti kepada anak yang baru masuk TK, pelajar kelas VII dan X. kenapa kerah baru ? karena pelajar di tahun pertama pasti mengenakan baju baru yang kerahnya masih sangat kaku secara kasat mata.

Kerah baru = dunia pendidikan baru yang lebih tinggi dari sebelumnya. Dan karena lebih tinggi, maka kamu perlu mendakinya melalui serangkaian ujian dan prosesnya. Baik ujian kelulusan maupun ujian masuk ke dunia pendidikan yang lebih baru.

Indonesia  terkenal dengan birokrasinya yang ruwet. Termasuk dalam halnya hanya untuk masuk sekolah. Bukan hal asing atau tabu lagi yang namanya jual beli bangku pendidikan. Kenapa ada yang sampai seperti itu ? karena setiap orang tua ingin memberikan pendidikan yang terbaik kepada putra-putrinya selagi mereka mampu (dan dengan cara apapun).

Meski pemikiran di atas nggak bisa dipukul sama rata, artinya nggak semua orang tua melakukan transaksi bangku pendidikan demi sekolah terbaik anaknya. Baik itukan relatif, jadi ukurannya berbeda-beda, bukankah demikian ?

Tetapi, hampir semua orang tua bersedia mengorbankan waktu dan tenaganya demi mendampingi si buah hati untuk seleksi masuk sekolah misalnya. Dan seleksi ini tidak mudah. Ada banyak rangkaian dan proses.

 Intinya, untuk mengantarkan pada gerbang pendidikan yang baru, ada perjuangan dan perasan keringat ayah dan ibu kamu di baliknya. Jadi ada banyak pesan dan tanggung jawab bagi setiap kerah baru kalau kamu harus lebih bersungguh-sungguh.

Dan untuk semua tenaga pengajar di Indonesia, entah itu guru ataupun dosen, saya rasa mereka juga harus lebih bersungguh –sungguh dalam mendidik setiap kerah baru itu. Tidak malas-malasan dan jelas harus berkualitas. Karena dibalik semangat kerah baru, ada perasan keringat dan tumpukan harapan dari kedua orang tuanya.

Terima kasih telah membaca sampai selesai 
4 Juli 2014

July 4, 2014

Ps : Saya Rindu Kalian, Teman.



Kelak kaukan menjalani hidupmu sendiri
Melukai kenangan yang tlah kita lalui
(Seandainya – Vierra)

Setiap mendengarkan lagu itu, saya selalu teringat dengan guru Bahasa Indonesia saya ketika duduk di SMA. Beliau pernah bilang kalau nantinya kita semua akan benar-benar hidup sendiri. Pertemanan itu tidak akan ada yang abadi, karena setiap individu akan mencari kehidupannya sendiri. Ya, hati manusia siapa yang tahu dan karena hati manusia paling sulit ditebak.

Coba renungkan dalam-dalam, siapa teman paling dekatmu di 3 atau 5 tahun lalu atau bahkan 1 tahun lalu ? teman yang selalu jadi curahan semua rutinitasmu, yang hampir setiap hari  tak pernah absen mendiskusikan ini itu. Kemudian apakah orang itu masih ada di dekat kamu saat ini dan tetap menjadi sosok yang sama ? yang selalu jadi teman diskusi dan teman ngobrol ini itu dalam intensitas yang tidak berubah seperti sebelumnya ? apakah orang itu masih memiliki fungsi yang sama bagimu, readers ? kalau iya, maka selamat. Karena kamu orang yang beruntung masih bisa mempertahankan hal itu.

Tapi, saya percaya kalau di luar sana banyak yang memiliki cerita sebaliknya. Punya teman SMA yang begitu akrab dan hampir setiap hari diskusi ini itu, tapi setelah lulus dan pisah kampus, komunikasi mulai tersendat. Hingga akhirnya hanya berbasa basi dan bertemu di kala libur semester dan buka puasa bersama. Moment – moment ceria yang menutupi jiwa kelabu yang mungkin ada. Semuanya jadi asing, karena komunikasi jadi canggung yang berakhir ‘gak nyambung’.

Waktu memang ajaib ya readers. Dia seolah asisten Tuhan yang punya kekuasaan menciptakan moment indah tapi kemudian memutarbalikkan. Seperti kamu yang hampir setiap hari tertawa bersama temanmu tetapi tahun berikutnya saling tatap pun tidak. Membalas pesannya juga sudah mulai menunda-nunda. Penyebabnya apa ya ?

Waktu. Iya, waktu yang menciptakan moment dan peristiwa baru yang mungkin berbeda. Yang tidak lagi melibatkan kamu dan temanmu saling terkait, makanya komunikasi tidak ada lagi karena tidak ada hal yang menyatukan kalian. Tidak ada hal yang sama yang menjadi perekat bagi kalian. Itu jawabannya versi saya.

Solusinya ? Saya tidak punya solusi pasti, karena waktu terus berjalan dan memberikan kejutan. Ingat, kejutan itu tidak selalu manis, dia bisa saja tragis. Seperti kamu yang kemarin bersamanya sambil tertawa terguling-guling, lalu esok harinya hanya bisa tersenyum miring setiap mendengar namanya.

Ajaib ya, Sang Waktu. Jadi, pada akhirnya kita akan hidup sendiri ?
Tapi, benarkah pertemanan itu tidak ada yang abadi ?
Kembali kepada kalian, readers
Terima kasih atas waktunya


Ps : saya rindu kalian, teman.

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis