September 29, 2011

From Little Thing (names)


Postingan gue ini terinspirasi oleh seorang teman yang sebenarnya gue belum kenal secara utuh. Gue hanya tahu namanya dan asal sekolahnya. Nggak lebih. Hal lain tentang dia? Gue cuma bisa lihat dari luarnya, seperti melihat cover buku yang ada di Toko Buku.
Just judge hisself from outside. Dari mata terutama.

Gue hanya merasakan dia seperti korban. Korban dari tindakan tak bertanggung jawab petinggi negri ini. Korban dari sebuah nama.
Ya nama...menurut gue nama adalah sesuatu hal yang kecil tapi bermakna. Sangat bermakna buat gue karena gue suka kalau orang menyebut nama gue dalam pembicaraan.

Contoh : ‘Kalau menurut lo gimana fit?’

Nama itu adalah identitas diri yang paling sederhana, yang harus kita jaga, dan perlakukan sebaik-baiknya.
Dan nama bisa menjadi sebuah dasar dari semua hal yang kita lakukan di dunia ini.

Contohnya nggak perlu jauh-jauh, gue yakin readers udah nggak asing dengan sebuah nama yang selalu menghias layar kaca, Koran, internet atas pemberitaannya. Nama orang ini bagus, bahkan membawa nama Rasulullah. Tetapi sayang, perilakunya tidak sebagus namanya.

Gue nggak mau menyebutkan nama orang ini, yang jelas orang ini begitu terkenal. Sayang, terkenal karena dugaan korupsi, bukan prestasi.
Gue yakin di dunia ini, nggak cuma 1 orang yang punya nama seperti dia atau paling nggak mirip-mirip dia namanya, meski cuma di bagian 4 huruf terakhir atau di bagian tengahnya sekalipun.
Sekarang nama orang ini melambung, makin eksis. Tapi sekali lagi ke-eksis-annya karena hal negatif.
Dan banyak orang di luar sana yang namanya entah mirip atau benar-benar sama jadi kena efeknya, berupa ledekan atau cibiran atau candaan yang bisa saja maknanya hanyalah bercanda atau spontan tentu saja tanpa niat menyinggung perasaan orang itu.

Lalu pernahkah kita memikirkan bagaimana perasaan orang yang memiliki nama yang sama atau hanya mirip-mirip saja yang terkena imbasnya itu?
Setiap orang berbeda, bisa saja dia hanya menganggap guyonan tetapi ada saja yang tidak terima, yang pasti mendendam dengan si pemilik nama yan melambung karena tindakan negatifnya.

Mungkin ini agak ribet, susah juga menuangkannya. Menjelaskannya melalui tulisan.
Yang jelas, gue hanya ingin share apa yang ada dalam pikiran gue kalau nama yang telah diberikan orang tua kepada kita adalah sebuah doa, harapan dan tanggung jawab yang harus kita pikul bukan justru membuat orang lain—yang namanya sama atau hanya mirip dengan kita—menjadi merugi.

Well, semoga apa yang gue share ini maksudnya tersampaikan benar buat readers 

Choice


Mengetik barisan kalimat yang gue niatkan untuk di posting (setelah lama gak posting) rasanya kayak menceburkan diri di sebuah kolam yang gue rindukan atau kembali menghirup bau gerimis ditemani embun di puncak gunung yang diselimuti kabut.
*berlebihan? Tidak juga ahh

Saat gue menulis postingan ini…September dalam hitungan hari untuk menutup tanggalnya. Dan di September inilah—tepatnya sekitar 3 minggu yang lalu—gue resmi menjadi mahasiswi. Ya, 3 minggu yang lalu perkuliahan udah dimulai di kampus gue, yaitu UIN Jakarta. Sudah mulai belajar juga dan perlahan dihajar dengan tugas-tugas yang menumpuk.


Ternyata kuliah itu nggak seperti yang gue bayangkan, nggak seenak yang gue pikirkan, nggak segampang yang gue khayalkan. Kuliah itu menurut gue…yang terpenting adalah manajemen waktunya. Ada banyak kegiatan, banyak teman, banyak tugas, banyak ilmu, banyak pengalaman. Banyak hal intinya. Dan semua itu punya sisi positif dan negative, bisa jadi variable x atau variable y, bisa jadi sesuatu hal yang mempengaruhi atau dipengaruhi.

Dari banyak hal itu, yang paling inti adalah diri kita. Bagaimana diri kita memadukan semuanya? Atau hanya mau pilih salah satunya? Atau justru tidak satupun yang kita ingin perkaya dalam diri kita?

Everyone has a choice in theirselves.
But, to make a choice isn’t easy. We must consider the other things.

Dan dari apapun pilihan kita, kita juga harus mempertanggungjawabkannya. Karena memang sudah seharusnya begitu.

So, yang mau gue share adalah selalu hati-hati dalam membuat pilihan dan pertanggungjawabkan apa yang telah kita pilih sejak awal. Jangan memutuskan sesutu hal dalm keadaan emosi (#kkk2011).

Keep Spirit ! Ganbatte

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis