January 29, 2014

Selamat Dini Hari






Sudah lewat dini hari dan saya mash terjaga. Bukannya menutup notebook, justru membuka halaman Ms.Word. biarlah. Rindu juga bercerita lepas di label daily ini.
Sebenarnya saya tidak sedang terkena insomnia saat membuat postingan ini. Saya hanya tergugah oleh rasa sakit karena kebanyakan makan saus tomat sebelum tidur sore tadi. Okay, mungkin itu cukup ironis dan sangat memalukan. Sejatinya saya berharap bisa tidur lebih awal (pukul 19.30) agar bisa bangun tengah malam atau bangun pagi lebih awal.
Tapi apadaya, insiden saus tomat itu menggugah saya dan memaksa terbangun pukul 22.00. beberapa hari ini atau mungkin beberapa pekan ini, saya mulai lupa bagaimana caranya tidur lebih awal. Mata selalu terpejam paling cepat pukul 00.00.
Tapi, di kala malam itulah ada kesunyian yang saya dapat. Atau mungkin yang kita semua dapat. Di kala malam, waktu dimana orang-orang berisitirahat, kamu bisa berkicau sepuasmu di segala jejaring sosial. Lagipula, jejaring sosial lebih terasa nyaman di kala malam. kamu tidak akan mendapatkan umpatan atau segala remeh temeh yang  tak penting diungkapkan. Di kala malam, saat kesunyian menjelang, di saat itulah waktu terbaik antara kamu dan dirimu.
Sudah, saya ingin makan bubur kacang ijo. Dan semoga besok bangun tetap pagi. Meski terdnegar mustahil.
Selamat dini hari di 30 Januari
Terima kasih atas waktu dan perhatiannya membaca postingan random ini
Terima kasih untuk Rainbow and Starlight dan  Sudden Wonderland milik Adhitia Sofyan yang menemani terciptanya postingan ini

Querida Ocha #4


cerita sebelumnya




            Aku dan Sandy menemukan pintu basecamp terbuka ketika kami kembali dari Monas. Di dalamnya terdapat Arga dan seorang wanita cantik bak supermodel. Aku dan Sandy sama-sama tercengang. Bukan karena kecantikan wanita itu, tapi karena Arga membawanya masuk ke dalam area terlarang dimasuki siapapun, kecuali kami bertiga.
            “Apa-apaan nih Ga? Ngapain lo bawa masuk orang lain ke basecamp?. Ruangan ini cuma boleh dimasuki kita bertiga. Jangan karena mungkin dia cewek baru lo terus lo seenaknya bawa dia ke sini,” sergap Sandy dengan emosi.
            “Vero cuma pake toiletnya sebentar karena lampu toilet café mati,” jelas Arga Santai.
            “Sorry, gue….,”
            “Udahlah, gue nggak butuh penjelasan lo. Udah balik sana, gue mau ngomong sama Arga.” Sandy semakin emosi dan tak membiarkan wanita supermodel—yang bernama Vero itu menjelaskan. Sandy justru berubah berang dan mengusirnya.
            “Aku pulang naik taksi aja kalau gitu, Ga. Nanti aku kabari begitu sudah sampai,” jelas Vero sambil berlalu dan meninggalkan kami bertiga di basecamp tepat pukul 02.00.
            “Puas lo sekarang, San ? Gue nggak ngerti sahabat macam apa yang nggak mau melihat sahabatnya bahagia,” buka Arga memecah kesunyian diantara kami.
            “Lo kira lo sahabat macam apa yang pergi malming di saat café rame? Yang asyik having fun, sementara 2 sahabat lainnya sibuk ngurusin café. Dan lo kira sahabat macam apa yang nggak menyembunyikan hubungan barunya dari sahabatnya?,” cecar Sandy dengan nada tinggi.
            “Gue mau ngasih tahu kalian tadi sore. Tapi kalian lagi asyik suap-suapan pizza dan gue nggak mau ngerusak moment kalian,” jelas Arga dengan nada yang tak kalah tinggi.
            “Gue sama Sandy nggak ada apa-apa, Ga. Lo seharusnya nggak perlu sungkan untuk ngasih tahu tadi,” ujarku ikut angkat bicara.
            “Kalau memang ada apa-apa diantara kalian juga nggak salah kok, Shal. Gue nggak ada masalah sama sekali,” ba;as Arga.
            “Tapi Shaline ada, Ga,” ungkap Sandy menggantung. Membulatkan bola mata Arga yang penuh taya. Lalu aku mulai angkat bicara “Udahlah, San.”
            “Biar, Shal. Biar lo dan Arga tahu yang sebenarnya. Biar Arga tahu kalau apa yang dia lakukan udah melukai hati kita berdua, Shal,” ujar Sandy dengan setengah berteriak. Lalu dia mulai terisak dan membuatku tak mengerti.
            “Shaline suka sama lo, Ga. Dan gue juga..,” ujar Sandy menggantung.
            Tatapan mata Arga berapi menatap Sandy, meminta penjelasan lebih lanjut.
            “Gue suka sama lo, Ga. Mungkin lo anggap ini sinting, mungkin lo ingin meninju gue…”
            BUUK. Suara tinjuan keras melayang dari tangan Arga ke wajah Sandy yang langsung mengucurkan darah di bagian hidungnya. Aku tak kuat lagi menahan kumpulan air di pelupuk mata. Air mataku meleleh melihat apa yang terjadi di hadapanku.
            Arga berlalu dari Sandy dan melewatiku sambil berbisik “Maafin gue, Shal.”
            Tangannya menyentuh bahuku lembut. Lalu pergi meninggalkan aku dan Sandy, dua orang yang sama-sama mencintainya. Samar-samar kudengar Sandy berteriak memanggil Arga.
            “Argaaaa, gue serius! Gue cinta sama lo. Shaline juga begitu. Kita berdua cinta sama lo, Ga,” raung Sandy dengan terisak.
            Aku menutup mata dan meneteskan air mata terakhir pada dini hari yang sunyi di Querida Ocha. Dalam gelap, aku melihat semut-semut yang menggotong bangkai kecoa.

End
24 Desember 2012

Reuni Terbang


Malam ini hujan absen dari panggung malam—tempat ia bernyanyi—nya dalam beberapa hari ini
Mungkin ini waktu yang tepat untuk berbagi dengan secarik kertas
Dengan alunan musik. Dengan sunyi dan dinginnya lantai
Sudah lama sekali tak bersua
Membingkai indah rangkaian kata menjadi sajak-sajak romantis
Atau mungkin sajak pengiris dari kehidupan yang  miris
Aku rindu terbang. Bagai burung yang bebas melenggang. Merentangkan sayap, menembus cakrawala.
Tapi tak lupa untuk pulang ke tempat ia bersarang
Aku ingin demikian
Mengenal dunia dan isinya dengan sayap keramahan juga rasa ingin tahu yang bersesakkan
Lalu tak lupa pulang ke pangkuanmu, Ibu. Tempat terhangat di dunia ini
Aku ingin terbang layaknya burung. Menggenggam kebebasan dengan senyuman yang berujung kebahagiaan
Aku ingin terbang. Maka, izinkan aku

30 Januari
00.22 WIB


Querida Ocha #3



Sandy menggigit jagung bakarnya dengan kasar. Sudah menjadi pemandangan biasa bagiku melihat cara makan Sandy yang begitu kalap. Baik lapar atau tidak, cara makan Sandy memang menyerupai monster. Tidak heran jika tubuhnya begitu kekar. Berbeda dengan Arga yang makan dengan begitu rapi dan elegan.
            Aku cemberut duduk di sebelah Sandy. Jagung bakar yang dipesankannya untukku belum juga kusentuh. Udara malam begitu menusuk tulangku, tetapi hanya lewat di sela sela tulang Sandy yang begitu kekar.
            “San, katanya lo tahu Arga kemana. Terus Arga dimana sekarang? Kenapa kita justru makan jagung bakar malam – malam begini di Monas?,” omelku kesal sambil merapatkan varsity biru kesayanganku.
            “Arga tuh pasti lagi melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan sekarang. Tempatnya aja yang berbeda”
            Aku mengerutkan dahi bingung yang diartikan Sandy sebagai pertanyaan lebih lanjut untuknya.
            “Arga sedang menikmati malam minggu. Mirip sama kita sekarang. Bedanya, kita di Monas dan Arga entah dimana dan bareng siapa”
            Aku kesal dan tidak mengerti atas ulah Sandy. Kalau hanya jawaban itu yang ingin dia berikan, mengapa  harus repot membawaku ke Monas semalam ini. Dia telah mempersingkat waktu istirahatku malam ini.
            “Arga udah punya pacar baru, Shal. Lo ngerasa nggak sih? Akhir – akhir ini dia kelihatan bedakan? Jadi lebih penyendiri,” jelas Sandy serius.
            Aku yang tadinya hampir beranjak dan pergi akhirnya mengurungkan niat.
 “Kok Arga nggak ngasih tahu gue? Kenapa dia cuma ngasih tahu lo?” tanyaku pelan. Nyaris tak terdengar. Dadaku terasa sesak, tenggorokanku juga tercekat sehingga sepatah kata rasanya sulit keluar dari mulut.
            “Dia juga nggak ngasih tahu gue. Itu cuma perkiraan gue, tapi lo juga pasti ngerasa kan Shal dengan gerak-gerik Arga akhir-akhir ini?”
            Aku tidak mengiyakan meski apa yag dikatakan Sandy sebenarnya berdasarkan fakta. Setitik air bening justru meluncur dari pelupuk mataku, tak bisa lagi kubendung.
            “Shal, lo kenapa? Kok malah nangis?,” Sandy kebingungan dan meraih wajahku.
            Aku tak menjawab dan justru semakin terisak. Aku tak sepenuhnya sadar apa yang kulakukan dan mengapa, yang kutahu aku hanya ingin menangis sampai terisak.
            “Shal, lo suka sama Arga ya?”
            Aku masih terisak dan tak mencoba memberikan jawaban. Sandy memberikan waktu pada angin yang mengisi kesunyian diantara kami. Hingga kemudian, Sandy merenguhku ke dalam pelukannya.
            “Gue nggak tahu kenapa gue nangis, San. Entah karena Arga nggak ngasih tahu kalau dia punya pacar baru atau karena gue suka sama dia. Gue nggak tahu, San. Yang gue tahu, rasanya sakit, San. Sakiiit banget,” jelasku di sela tangis dan dinginnya malam.
            Sandy semakin merengkuhku ke dalam pelukannya. “Gue tahu yang lo rasain, Shal. Gue juga ngerasa sakit. Sakiit banget”
            Tangan Sandy yang kekar terasa hangat, bahkan kehangatannya melebihi varsity kesayanganku.



© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis