January 20, 2014

Querida Ocha #1

Querida Ocha
by
Fitria Wardani






Makhluk kecil berwarna coklat dan bersayap itu masih memiliki tenaga untuk melakukan pembelaan. Hujaman sapu yang bertubi-tubi telah kuhantamkan padanya, tetapi dia masih belum mau juga menyerah.

            “Shal, nyantai dikit kenapa jadi cewek. Jangan ekstrem gitu,” ingat seorang lelaki berambut hitam pekat di ujung jendela padaku.

            Aku tidak menggubrisnya dan masih sibuk memberikan hantaman keras pada makhluk bernama

            “Kecoaaa!,” jerit lelaki lain yang baru memasuki ruangan.

            “Gue juga tahu kalo itu kecoa. Maka dari itu, gue sedang membasminya daritadi. Udah sini bantu gue, San. Jangan teriak-teriak aja bisanya,” pintaku sambil mencari si kecoa yang tiba-tiba menghilang begitu mendengar jeritan Sandy.

            “Sorry banget nih, Shal. Kalau kecoa, gue white flag aja deh. Geli,” elaknya sambil meletakkan bokongnya di sofa empuk dekat lelaki berambut hitam pekat itu.

            “Cemen ah lo jadi cowok,” hardikku.

            “Ga, bantuin Shaline nangkep kecoa tuh. Kasihan daritadi kerja sendirian, nanti tulangnya rontok lagi”

            Arga dan Sandy tertawa bersama karena bualan Sandy.

            “Heh, jangan ketawa aja dong. Kecoanya kabur sekarang”

            “Bagus dong, Shal. Tugas lo udah selesai sekarang,” timpal Arga.

            “Dia kabur karena kaget pas lo teriak tadi, San. Dan sekarang lo harus tanggung jawab nyari tuh kecoa”

            “Lho kok salah gue?, ” sergap Sandy tidak menerima disalahkan olehku.

            “Kecoanya kabur karena daritadi lo pukulin pake sapu, Shal,” bela Arga dengan pandangan penuh ke layar ponselnya.

            “Kok lo ngebela Sandy sih, Ga? Kalau kecoanya mati di tempat antah berantah gimana? Nanti disemutin. Dan gue paling benci kalau udah ngeliat semut berkumpul. Hiii,” ujarku bergidik membayangkan sekumpulan semut yang sibuk menggotong bangkai kecoa.

            “Sama kecoa bisa membabi buta, giliran sama semut segede upil aja lo takut. Cewek macem apaan tuh?,” ujar Arga menimpali. Matanya masih terpaku pada layar ponsel di hadapannya. Sesekali senyuman juga hadir di bibirnya.

            Aku membanting sapu yang kugunakan berburu kecoa sejak tadi. Menyerah berburu makhluk kecil menjijikkan itu. Kuhentakkan badan di atas sofa panjang sambil melepaskan ikatan rambut dan membiarkannya terurai.

            “Shal, lo bau keringat. Minggir Sana,” hina Sandy.

            “Biar bau, yang penting nggak takut sama kecoa,” sindirku.

            “Biar takut sama kecoa yang penting nggak takut sama semut,” balas Sandy tak mau kalah.

            “Ga, lo seminggu ini stay di sini kan? Lo nggak bersih-bersih ya sampai-sampai ada kecoa masuk ?,”  tanyaku pada Arga yang duduk Santai dengan wajah sumringah menatap layar ponselnya.

            “Itukan bukan tugas Arga, Shal. Kitakan punya tukang bersih-bersih,” bela Sandy.

            Selalu begitu. Menyalahkan salah satu diantara mereka, Arga atau Sandy di saat ada keduanya adalah hal sia-sia. Mereka akan saling membela  satu sama lain dan membuatku tersudut.

            “Tukang bersih-bersihnya itu cuma spesialis bersihin CafĂ©, bukan basecamp kita. Ingat, ini area rahasia yang cuma boleh dimasuki oleh kita bertiga,” ingatku.

            Sandy diam pertanda mengamini dan membenarkan ucapanku. Kami bertiga merupakan  teman SMA yang membuka usaha kedai teh bernuansa Jepang. Namanya Querida Ocha. Kedai teh kami tidak terlalu besar, tetapi di dalamnya terdapat ruangan khusus yang kami namai basecamp. Sebenarnya ruangan ini bisa dikatakan sebagai Ruang Direktur, karena hanya kami bertiga yang boleh memasuki ruangan ini. Tidak ada terkecuali. Di ruangan inilah kami menggagas konsep dan ide baru atau membicarakan segala hal tentang Querida Ocha. Kami tidak boleh membawa teman kami masuk ke dalam ruangan ini, termasuk pacar. Tetapi, siapa juga yang akan mengajak pacarnya datang ke ruangan ini. Diantara kami bertiga, tidak ada yang memiliki pacar, gebetanpun juga rasanya tidak ada.


            “Gue cabut dulu ya, Guys,” ujar Arga tiba-tiba sambil berdiri dan keluar dari basecamp.

            Aku melongo dan sedetik kemudian melempar pandangan ke Sandy “Mau kemana dia San?”

“Mana gue tahu. Malam Mingguan mungkin. Hari ini kan Sabtu”

“Hari ini Sabtu? Kok gue lupa ya”

“Iyalah, lo terlalu sibuk dengan kecoa lo itu sih,” balas Sandy sambil berlalu

“Awas ya, San. Pokoknya lo harus cari kecoa itu sampai ketemu. Gue nggak mau tahu”

Tidak ada balasan dari Sandy. Sepertinya ia telah berkecimpung di kesibukan Querida Ocha. Aku menghembuskan nafas dan pertanyaan dalam kepala. Masih sibuk menerka kemana perginya Arga tiba-tiba tanpa memberitahu. Arga terbilang pria yang cerewet. Dia selalu mengutarakan setiap kejadian yang menimpa dirinya. Apa mungkin Arga memiliki gebetan baru? Tetapi peduli apa? Aku menarik bantal kecil dan menutupkannya di atas kepalaku. Mencoba tidur dan menghiraukan perasaan entah apa di dalam hati.


0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis