May 9, 2013

ATM Error




Pernah dengar kebijakan dalam sebuah kantor yang melarang karyawannya memiliki hubungan special satu sama lain? Maka, film Thailand yang disutradarai oleh Mez Tharatorn ini mengangkat cerita bertemakan demikian.

Love at the first sight Jib dan Sua di dalam lift
Jib (Preechaya Pongthananikorn) yang merupakan seorang manajer departeman ATM pada bank JNBC sudah tidak tahan memecati setiap karyawan yang ketahuan memiliki hubungan special dengan rekan karyawan lainnya di kantor tersebut. Sementara dia sendiri menjalin hubungan dengan Sua (Chantavit Danasevi), karyawan yang juga bekerja dengan Jib di kantor yang sama.
2 karyawan yang siap dipecat oleh Jib
Sua memutuskan untuk sesegera melaksanakan pernikahan mereka pada 31 Oktober 2011 yang bertepatan dengan Halooween. Tetapi, keduanya tidak ada yang berniat untuk mengundurkan diri selepas menikah nanti. Mereka sama-sama egois ingin tetap bekerja di perusahaan tersebut. Padahal sudah jelas dalam peraturan perusahaan bahwa setiap karyawan dilarang memiliki hubungan khusus dengan sesama karyawan.
Masalah timbul bersamaan dengan mesin ATM di Chunbori yang mengeluarkan uang tambahan setiap kali nasabah melakukan penarikan yang diakibatkan oleh kesalahan pada pengaturan software. Hal ini mengakibatkan kerugian yang diderita Bank sebesar 130.000 Baht. Sebagai Manajer Departemen ATM, Jib dituntut mengembalikan kerugian tersebut dalam waktu 7 hari atau bonusnya selama bekerja 10 tahun tidak akan dibayar.
Sua menawarkan diri untuk membantu dengan syarat jika ia berhasil mengembalikan uang tersebut dalam waktu yang ditentukan, maka Jib harus mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Tetapi, jika Sua gagal, maka Sua lah yang akan mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Perjanjian itu mereka sepakati berdua saat makan bersama. Dan kocaknya mereka makan dengan duduk dan bicara saling membelakangi karena khawatir tertangkap basah kalau mereka memiliki hunbungan special.

dinner ala Sua dan Jib (saling membelakangi)

Sua berangkat ke Chunbori untuk mulai melakukan investigasi. Mencari siapa saja nasabah yang melakukan penarikan pada saat itu  dan meminta kembali uang tersebut. Tetapi, tentu saja tidak mudah karena ada sekitar 800 nasabah yang melakukan penarikan di hari kerusakan ATM itu. Tetapi, demi menikahi Jib dan membuatnya mengundurkan diri dari perusahaan, maka si cowok berparas tampan ini rela melakukan segala cara.

Secara tidak sengaja, Sua—yang ingin membuat duplikat kunci mobilnya—telah bertemu dengan nasabah yang mendapat uang tambahan dari penarikan tersebut, yaitu Ped (supir angkot). Tetapi, Sua belum menyadarinya dan apesnya justru ditinggalkan di tengah jalan. Iapun menemukan rumah besar dan menginap di dalam gudang yang ternyata merupakan kandang buaya seorang kakek tua. Beruntungnya Sua selamat. Sua memutar otak untuk menemukan cara agar dapat secepatnya menemukan nasabah yang mau mengaku telah mendapatkan uang tambahan dari ATM error itu. Akhirnya dia menyamar sebagai polisi gadungan bermodalkan seragam dan borgol, serta wajah tampan yang memikat (hehe).
Jib dengan penyamarannya sebagai polisi bersama Ped dan Peud
Sementara itu, Jib tidak tinggal diam. Dia diam-diam menginap di salah satu Hotel di Chunbori untuk menemukan nasabah yang melakukan penarikan di saat kejadian. Alasannya? Tentu saja karena Jib tidak ingin mengundurkan diri dari  perusahaan, melihat karirnya yang juga telah mapan, saya rasa saya juga akan pikir-pikir kalau jadi Jib. Haha

Jib bergerak lebih cepat karena telah menemukan keanehan pada penarikan yang dilakukan oleh seorang pemilik Laundry. Tetapi, si pemilik Laundry—yang memiliki anak gadis bernama Gob—tidak mau mengakui kalau ia mendapatkan uang tambahan tersebut. Sua yang mengetahui keberadaan Jib di Chunbori membuntutinya dan memanfaatkan Gob agar si pemlik Laundy itu mau mengembalikan uang tersebut. Tetapi, tentu saja tidak berhasil karena uangnya telah digunakan untuk membeli 3 mesin cuci baru.

Untuk menghalangi gerak Jib dalam melakukan investigasi, maka Sua mencopoti semua ban mobil Jib dan memberikan notes yang berisi “Jib, sebaiknya habiskan waktumu untuk mempersiapkan diri menjadi istriku…Sua.” Dengan kesal, Jib meremas notes terebut dan membuangnya begitu saja ke jok belakang mobilnya.

Dengan kerja keras dan ambisi mereka yang saling berlomba untuk mengembalikan uang Bank, akhirnya mereka dapat menemukan siapa saja orang-orang tersebut. Dan orang-orang tersebut saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Uang itu tidak mungki dapat mereka kembalikan karena telah habis digunakan. Ada yang menggunakannya sebagia uang muka membeli sepeda motor, ada yang menggunakan untuk membeli mesin cuci, memasang gigi emas, dan bahkan ada yang  menggunakannnya untuk membeli seekor buaya.
Para nasabah yang menerima uang tamabhan dari ATM error
Melihat hal tersebut, maka Jib dengan rendah hati akan mencoba membicarakannya dengan Direktur Departemen ATM dengan memberikan rekman suara pengakuan kesalahan mereka. Tetapi hal ini justru diartikan lain, dan para warga tersebut tetap diminta untuk mengembalikan uang Bank atau mereka akan dijebloskan ke penjara.

Karena tidak tega, maka Sua memberikan 130.000 Baht kepada kantor, yang sebenarnya uang itu merupakan uang pernikahannya dengan Jib. Mengetahui hal itu, Jib marah besar dan mereka bertengkar hebat yang berujung pada putus. Akhirnya mereka tidak lagi beretegur sapa meski sering bertemu.

Notes yang dillempar Jib ke jok belakangnya ditemukan oleh Yo—anak Direktur Departemen ATM yang sedang magang dan naksir sama Jib. Notes itulah yang membongkar hubungan mereka berdua selama ini, meski sebenranya mereka berdua telah putus, maka tanpa sepengetahuan Sua, Jib memilih mengundurkan diri.

Haloween datang dan pesta pernikahan tidak jadi digelar, padahal setumpuk undangan seharusnya sudah siap disebar. Tetapi apadaya, Jib dan Sua pun tidak pernah lagi  bertemu. Hingga mereka bertemu di perayaan Haloween yang diadakan di Hotel yang tadinya menjadi tempat pelaksanaan pernikahan mereka.

Di situlah, Sua melamar Jib (kembali) dengan cara yang menurut saya cukup unik. Dengan bermain gunting batu kertas. Jika Sua menang dari Jib, maka Jib boleh menolak lamaran dari Sua. Sementara jika Sua kalah dari Jib, maka Jib harus menerima lamaran dari Sua.

Sungguh berkebalikan dari pada umumnya, bukan? Itu karena kata Sua kepada Jib sebagai berikut, “Kamulah satu-satunya wanita dalam hidupku, yang membuatku mau untuk kalah.”
Proses melamar dengan gunting batu kertas
Dan saya rasa tidak banyak lelaki yang mau mengakui kekalahannya dan mencoba mengalah dari pasangannya, seperti Sua yang mengalah pada Jib. Pada seorang cewek egois, perfeksionis dan berambisi seperti Jib. Melihat mereka yang sama-sama berjuang keras memecahkan kasus ATM error ini sebenarnya sangat unik, karena mereka berjuang untuk tidak mengundurkan diri dari perusahaan, tetapi juga berjuang demi mewujudkan pernikahan mereka nantinya.

Film bergenre komedi romantic ini lebih banyak membuat saya tertawa daripada melihat adegan romantic. Diantaranya adalah bagaimana seekor buaya yang tertembak dilarikan ke RS umum dan membuat seisi RS (termasuk Dokter dan Perawat) lari tunggang langgang. Juga percakapan antara Sua dan anak kecil saat ingin membeli pistol mainan. Proses tangkap menangkap hati yang cukup berelbihan anatar Gob dan Peud yang kemudian diperagakan oleh Sua dan Jib di akhir cukup lucu.

Sua, Jib dan beberapa warga Chunbori yang mengantar buaya terkena luka tembak ke RS



Juga ada akal bulus Sua yang menutup pintu kamar mandi dengan lemari, sehingga Jib tidak bisa keluar dari kamar mandi. Yang menjijikkan adalah saat Ped dijejali sekarung kodok agar ia mengaku. Lalu, saat Sua meminum segelas air yang di dalamnya terdapat seperangkat gigi palsu seorang kakek.

Manajer JNBC Chunbori yang menjejalkan kodok pada Ped agar mau mengaku
Sebenarnya yang sulit diterima dalam logika saya adalah mengapa Sua dan Jib sama-sama memilih masuk ke dalam gudang—yang ternyata kandang buaya. Padahal ada rumah yang besar yang berdiri di dekat situ, tetapi kenapa justru kandang buaya yang mereka tuju. Dunno why.

Tetapi, sungguh ya film ini lucu dan menghibur. Apalagi kalau bukan wajahnya Sua yang menyegarkan sepanjang film

Selain itu, yang saya kagumi adalah adanya meja ping pong di kantor tersebut, diamana karyawan boleh memainkannya. Saya tidak tahu persis apakah adegan bermain pingpong antara Sua dan teman kantornya itu dilakukan saat jam kantor atau ketika jam kantor telah berakhir, yang jelas mereka masih menggunakan seragam kantor dengan rapi.

Itu menunjukkan bahwa perusahaan di Thailand memerhatikan dan memenuhi kebutuhan rohani karyawan (dalam hal ini adalah hiburan) dengan baik, bukan begitu readers ?



  

Talk about Relationship




Saya baru saja bertemu dengan teman SMA yang sekarang sedang kuliah di Semarang mengambil D3. Long weekend ini dia pulang untuk liburan. Tidak ada tempat terbaik yang kita rindukan selain rumah, maka dari itu dia rela menghabiskan long weekend ini untuk pulang ke rumah.

Waktu berjalan begitu cepat, ketika dalam obrolan kami salah satu teman saya yang lain berujar “eh kiki, tahun depan udah lulus ya.” Ohiya, D3 = 3 tahun, lalu setahun lagi atau kurang saya akan menyusul (aamiin).

Di situ saya baru sadar kalau jarum jam berputar begitu cepat. Sebenarnya usia sudah cukup menjadi bukti kalau waktu telah berputar dan saya bukan lagi anak kecil. Tetapi perbincangan sore ini seakan menampar saya dan menjauhkan saya dari realita umur biologis saya.

Mendengar teman saya dan pacarnya—yang sudah pacaran sejak SMA—sama-sama berjualan apa saja untuk mengumpulkan modal mereka menikah nanti, saya tercengang. Entah ya serius atau tidak tapi kelihatannya sih memang demikian apalagi dengan perencanaan waktu yang sudah dibuat si cowok untuk melamar si cewek. Buat saya, cowok itu visioner dan melihat hubungan mereka, saya merasa kerdil akan pemikiran ke depan.

Sebenarnya bukan karena envy belum punya pasangan tetapi envy dengan pemikiran visioner atas hubungan mereka. Tidak salah kok buat saya,karena biaya hidup semakin hari semakin tinggi. Kita nggak mungkin hidup tanpa memikirkan orang lain i mean suatu hari kita juga harus memikirkan biaya hidup untuk kita sendiri, pasangan dan anak. Intinya untuk keluarga kita yang baru. Semakin menunda, biayanya memang akan semakin tinggi.

Saya tidak pernah berpikir ke arah ke sana dan honestly tidak pernah menargetkan. Bukan berarti saya tidak memiliki target, hanya saja target saya bukan ke arah sana, atau mungkin belum ke arah membangun keluarga baru. Hanya saja mendengar teman sebaya saya membicarakan hal itu seolah menyadarkan saya kalau saya sebenarnya sudah dewasa, bukan lagi anak kecil—yang seperti kebanyakan orang lihat. Entah ya saya berlebihan atau mungkin karena berada di lingkungan single-ers maka kami tidak pernah  membicarakan hal seserius itu.

Selama ini kok rasanya hanya bercanda dan tertawa tanpa bicara serius. Kalau kita serius, bicaranya pasti nggak pernah jauh dari tugas kuliah, uts, kuis atau meramalkan  profesi audit dalam realitanya nanti. Mungkin itulah sebabnya kalau saya merasa tertampar mendengar teman sebaya yang membicarakan soal rencana hubungannya ke depan.      

  
Ada juga cerita soal teman saya yang menjalani LDR Semarang-Kalimantan sudah hampir 2 thun lebih. Saya belum mendengar visi mereka ke depan yang serius tetapi si cewek mengaku siap jika harus menetap di Kalimantan setelah berkeluarga nanti. Buat saya itu ‘wah sekali’.

Postingan kali ini sih intinya menyadarkan kalau saya rasanya kalah dewasa dalam pemikiran soal relationship. Balik lagi bukan karena tidak atau belum ada pasangan, tetapi saya memaknainya sebagai suatu hal yang belum masuk prioritas saya. Istilahnya saya belum teralalu interest untuk memikirkan hal itu.

Gimana dong ya, kalau memang nggak ada interest atau ketertarikan akan sesuatu kita nggak mungkin berniat untuk mengejarnya, bukan ? mungkin dengan obrolan hari ini—dimana saya berperan besar sebagai pendengar—saya harus membuka mata dan lebih baik lagi dalam manajemen waktu. Kok rasanya saya banyak menyia-nyiakan waktu ya di semester ini.

Semoga bisa, mohon doanya
Terima kasih

Wake up wake up
Isn't time always been on the run?
(Adhitia Sofyan – Tokyo Lights Fade Away)

May 7, 2013

Hello Ghost








“Seseorang  yang  kehilangan orang yang dicintainya cenderung melupakan kenangan tentangnya” 
                Finally saya menangis di 15 menit terakhir sebelum ‘Hello Ghost’ berakhir. Film korea yang sudah lumayan tua ini saya dapat dari seorang teman, yaitu Sella. Film itu juga sudah sebulan dalam folder movie yang masih dalam waiting list untuk ditonton. Tetapi, memang sih 2 teman saya (cowok) bilang kalau film ini sedih, bahkan salah satunya ada juga yang meleleh alias mengucurkan air mata.

                Selama 155 menit menonton, honestly saya merasa bosan dan banyak part bolong. Maksudnya banyak part yang tidak saya mengerti. Saya juga hampir bersombong diri dalam hati “Ini kayanya gue nggak akan nangis deh. Apanya yang sedih sih?”

                Tapi, di 15 menit terakhir itulah scene pelengkap dan penjelas dari semua part yang saya anggap bolong itu terlengkapi. Seketika itulah, ingatan saya terbongkar and then air mata saya meluncur. Meluncur tanpa henti.

                Film ini bercerita tentang seorang pria (Sang Man) yang sudah bosan dengan kesendirian dalam hidupnya, karena dia tidak memiliki keluarga ataupun sanak saudara sejka kecil. Hal inilah yang membuat Sang Man memilih untuk mengakhiri hidupnya alias bunuh diri dengan makan obat-obatan sebanyak mungkin.

                Sang Man berharap dia akan mati, tapi ternyata salah. Sang Man masih diberi kesempatan hidup dengan kemampuan melihat hantu. Tidak cuma melihat, tetapi Sang Man juga harus mengabulkan keinginan 4 hantu—yang tidak dikenalinya—yang ditemuinya di Rumah Sakit  jika dia ingin mereka kembali ke alamnya.

                Keempat hantu tersebut adalah seorang pria bertubuh tambun, wanita paruh baya yang menangis terus menerus, seorang kakek centil dan seorang anak laki-laki berusia 10 tahunan. Tidak hanya itu saja, keempat hantu tersebut juga dapat memanfaatkan tubuh Sang Man semau mereka.

Sang Man yang menggendong keempat hantu untuk pulang ke rumah
                Keinginan pertama adalah dari si kakek centil yang menginginkan sebuah kamera. Sang Man dan si kakek keluar masuk berbagai toko kamera, tetapi kamera yang diinginkan si kakek tak juga ditemukan. Keinginan kedua adalah si bocah laki-laki yang ingin menonton film kartun di bioskop. Di sinilah, Sang Man bertemu dengan suster—yang sedang mengajak pasien (anak yang terkena kanker) menonton film yang sama—yang menjadi gebetannya.
                Keinginan ketiga berasal dari pria tambun yang ingin mendapatkan kembali mobilnya. Setelah bertarung habis-habisan dengan keluar masuk penjara, finally Sang Man mampu mengabulkan keinginan si pria tambun ituuntuk mendapatkan mobilnya yang ternyata adalah….taksi. Merekapun pergi ke pantai dan berenang, meski Sang Man menolak sekeras hati.

Sang Man dan 4 hantu pergi ke pantai
              
 Keinginan keempat atau terakhir berasal dari wanita cengeng itu. Keinginannya sederhana, hanya ingin memasakkan orang yang dia cintai dan pergi berbelanja ke pasar bersama untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan.
Hantu Wanita Cengeng
                Melihat perjalanan Sang Man mewujudkan keinginan keempat hantu itu sungguh membosankan. apalagi ada beberapa cerita yang melebar yang membuat saya bingung, tetapi semua menjadi jelas pada scene dimana Hyeon Soo (suster gebetan Sang Man) bertanya mengapa kimbap yang dibuat Sang Man mengggunakan seledri, padahal umunya menggunakan bayam. Dengan santai, Sang Man menjawab bahwa waktu kecil ibunya pernah bilang kalau seledri bagus untuk darah.

                Sedetik kemudian sebuah bayangan di masa kecilnya memenuhi kepalanya. Seorang wanita yang sedang membuatkan kimbap sambil menasehati Sang Man bahwa seledri bagus untuk kesehatan itu adalah ibunya Sang Man dan ternyata lagi wanita itu adalah si wanita cengeng itu. Yap, hantu wanita cengeng itu adalah ibu Sang Man. Dia ingin pergi berbelanja sambil menggenggam tangan Sang Man yang telah dewasa.

               Kenangan lain mulai semakin jelas. Bocah laki-laki yang berusia 10 tahun yang terpaksa menyerahkan uangnya karena dipalak. Padahal uang itu ingin ia gunakan untuk menonton film kartun bersama adiknya. And yes, bocah laki-laki itu adalah kakak Sang Man.

Kakek centil itu kakek Sang Man ? Jawabannya iya. Lalu mengapa si kakek ingin mencari kamera? Karena kamera itu adalah kamera temannya yang ia pinjam paksa saat ingin pergi liburan keluarga. Pria tambun itu adalah ayah Sang Man yang berprofesi sebagai supir taksi.

 Ayah Sang Man mengajak keluarganya, yaitu istri, Sang Man dan kakaknya, juga kakeknya untuk pergi liburan ke pantai. Ayah Sang Man berencana mengajarkan Sang Man berenang di pantai, tetapi dalam perjalanan mereka sekeluarga mengalami kecelakaan. Dari 5 orang tersebut, haya Sang Man kecillah yang selamat. Sejak itu, dia menjadi yatim piatu.

Dan hantu-hantu yang menemaninya itu sesungguhnya adalah keluarga Sang Man—yang telah lama tiada. Sayangnya, Sang Man baru menyadari itu ketika para hantu itu telah kembali ke alamnya karena diusir Sang Man. Lalu, mengapa Sang Man tidak mengingat keluarganya ?

Jawabannya ada di kalimat awal postingan blog ini “Seseorang  yang  kehilangan orang yang dicintainya cenderung melupakan kenangan tentangnya.”

Film ini mengajarkan banyak hal, especially tentang  makna keluarga. Untuk kita semua, yang keluarganya allhamdulillah masih lengkap, marilah kita sayangi dan jaga sebaik mungkin. Kalau mungkin ibu kamu cerewet, ayah kamu keras, adik atau kakakmu reseh atau jail, just be thankful to God. Bersyukur karena masih ada mereka yang memiliki keunikan dan pastinya itu adalah bentuk perhatian serta penghargaan atas keberadaan kita.

Keluarga itu adalah tempat berlangsungnya sosialisasi primer. Keluarga itu adalah tempat yang akan selalu menghangatkanmu dari dinginnya dunia luar, menguatkanmu saat terjatuh dan mendukung sepenuh tenaga  atas segala cita-citamu.

So, Love your family, especially your parents, readers.
Terima kasih atas waktunya

Jatuh Cinta itu Biasa Saja


Jatuh Cinta itu Biasa Saja
by Efek Rumah Kaca






Kita berdua hanya berpegangan tangan
Tak perlu berpelukan
Kita berdua hanya saling bercerita
Tak perlu memuji
Kita berdua tak pernah ucapkan maaf

Tapi saling mengerti
Kita berdua tak hanya menjalani cinta
Tapi menghidupi
Ketika rindu, menggebu gebu, kita menunggu

Jatuh cinta itu biasa saja
Saat cemburu, kian membelenggu, cepat berlalu
Jatuh cinta itu biasa saja
Jika jatuh cinta itu buta

Berdua kita akan tersesat
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap
Lalu hati kita gelap

Efek Rumah Kaca (Kamar Gelap)



Kita berdua hanya bergandengan tangan, tak perlu berpelukan
Kita berdua hanya saling bercerita, tak perlu memuji
(Jatuh Cinta itu Biasa Saja – Efek Rumah Kaca)



                “Efek Rumah Kaca ? Itu nama band ? Band apa alirannya ?”

                Berawal dari sering mendengarkan Jatuh Cinta itu Biasa Saja milik Efek Rumah Kaca (ERK), saya jadi menggilai lagu-lagunya di album ‘Kamar Gelap’. Jadi, efek Rumah Kaca itu adalah band indie Indonesia yang sudah ada sejak lama. Lagunya yang paling terkenal adalah Lagu Cinta Melulu (kalau nggak salah, lupa judulnya apa). Ada juga Balerina dan Desember (yang ini saya juga suka).

               Karena sedang suka dengan Jatuh Cinta itu Biasa Saja, maka pada suatu hari saya menemukan satu album ERK di komputer PasMod. Setelah membawanya pulang dan menjadikannya lagu pengantar tidur (menggantikan album Adhitia Sofyan – How to stop the time), saya suka dengan hampir keseluruhan isinya.

                Di album Kamar Gelap—yang entah album ke berapa ini—berisi 12 lagu. Judul-judulnya adalah Tubuhmu Membiru…Tragis, Kamar Gelap, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, Jangan Bakar Buku, Mosi Tidak Percaya, Kenakalan Remaja di Era Informatika, Banyak Asap Di Sana, Balerina, Menjadi Indonesia,  Lagu Kesepian, Laki-laki Pemalu, dan Hujan Jangan Marah.

Efek Rumah Kaca memang band indie yang lagunya tidak melulu soal cinta, bahkan lebih menjurus ke keadaan sekitar. Seperti kerusakan lingkungan maupun sosial. Seperti dalam Kenakalan Remaja di Era Informatika (asliii….ini saya suka lirik dan melodinya yang ngebeat) yang menceritakan bagaimana maraknya anak muda sekarang hobi berfoto ya tidak senonoh dan dipublikasikan ke media sosial. Mereka didominasi oleh nafsu.

Senang..mengabadikan
Tubuh yang tak berhalang
Padahal hanya iseng belaka
Ketika birahi yang juara
Etika menua entah kemana
Ooh nafsu menderu-deru, bikin malu
Ooh nafsu menderu-deru, susah maju

Nahkan ! kena banget nggak sih tuh liriknya. Yang nafsunya menderu-deru, berarti tipikal yang susah maju ? Haha.

Ada juga Mosi Tidak Percaya yang isinya menceritakan kekecewaan dan lelah mempercayai. Mungkin lebih tepatnya lagu ini ditujukan untuk para pemimpin yang bukannya menepati janji, tetapi justru mencari alibi. Who knows

ini masalah kuasa, alibimu berharga
kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?
pantas kalau kami marah, kamu dipercaya susah
pantas kalau kami resah, sebab argumenmu payah

Kalau menurut saya, lirik di atas menggambarkan kejengahan akan perilaku pemimpin yang lupa menjalankan amanah. Bisanya hanya beralibi dan akibatnya rakyat marah. Lagu ini seperti soundtrack pengantar demo  (upss haha..)

diskriminasi harga untuk kita semua
kado bersama sama di musim perik tiba
yang muda lari ke kota, berharap tanahnya mulia
kosong di depan mata, banyak asap di sana
menanam tak bisa, menangis pun sama
(Banyak Asap Di Sana)
               
Nah, kalau Banyak Asap Di Sana seperti menggambarkan Jakarta yang menjadi pusat tujuan semua mausia Indonesia. Lagu ini juga pantas jadi soundtrack pasca lebaran dimana jumlah pendatang ke Jakarta semakin banyak. Mereka menggantungkan harapan (berharap tanahnya mulia) meski sebenarnya Ibukota tak menjanjikan segalanya (menanam tak bisa, menangis pun sama)

Sementara di Menjadi Indonesia, ada bagian lirik yang bagi saya menggelitik sekaligus mengkick. ERK seolah memiliki harapan pada Indonesia untuk menjadi besar asal kita bangkit (bangun tidur berkepanjangan)

lekas,
bangun tidur berkepanjangan
menyatakan mimpimu
cuci muka biar terlihat segar
merapikan wajahmu
masih ada cara menjadi besar

                Selanjutnya adalah Balerina. Lagu ini mungkin yang sangat terkenal. Lagu ini bercerita tentang kehidupan yag diiabaratkan dengan perjalanan ballerina dalam menari.

Hidup bagai balerina
gerak maju berirama

Seperti yang kebanyakan orang awam lihat, kalau berdiri dengan ujung kaki kemudian berputar-putar indah tentu nggak mudah. Begitu juga dengan hidup.

menghimpun energi, mengambil posisi
mmenjejakkan kaki, meniti temali
merendah meninggi rasakan api, konsentrasi
biar tubuhmu berkelana, lalui kegelisahan
mencari keseimbangan mengisi ketiadaan
di kepala dan di dada

Lalu, apa yang membuat saya jatuh cinta pada Jatuh Cinta itu Biasa Saja ? (FYI : Jatuh Cinta itu Biasa Saja bukan berada di album Kamar Gelap). Meski lagunya mellow dan terkesan membosankan di part awal, tetapi ada lirik yang maknanya ‘dalam’ buat saya.

Jika jatuh cinta itu buta, berdua kita akan tersesat.
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap

                Dan lagu ini seolah meruntuhkan istilah cinta itu buta atau jatuh cinta itu buta? Yang jelas, kejawab banget deh kalau jatuh cinta itu nggak seharusnya buta. Nggak seharusnya menutup mata dari keadaan sekitar. Nggak seharusnya sama-sama terlarut dan tenggelam lalu lupa akan segalanya.

                Okay, that was my review about Efek Rumah Kaca dengan Kamar Gelapnya. Meski hampir sebagian besar melodinya mellow, tapi isi liriknya nggak kok. Selamat mendengarkan bagi yang tertarik.



                                         

Nyamuk





Nyamuk menggigitiku
Seperti kalian yang menggigiti diriku
Dengan caci dan hipotesa asal
Seperti kalian,
Manusia rapuh yang gemar menghancurkan harga diri orang
Tak peduli kawan atau lawan
Asal bisa menyegarkan perasaan
Mengahdirkan tawa hanya untuk kalian
Manusia tak berperasaan
Melunturkan setiap kepercayaan
Menggiggiti tanpa lelah, seolah haus darah
Nyamuk masih menggigitiku
Lalu hilang dan mati kenyang oleh darah
Kalian berhenti menggigitiku
Mencuri kepingan hati dan harga diri
Meninggalkan duri yang terasa perih

10 April 2013



© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis