August 20, 2013

Have a Safe Flight #2 (End)




Have A Safe Flight
Oleh :
Fitria Wardani



           “Okay. Siapa itu Anrio ?,” tanya Onya, Si Penyiar HeartFm.
            “Dia…dia seseorang yang hari ini akan kembali ke Batam setelah 30 hari liburan di sini”
            “Dia tinggal di Batam?”
            “Oh, nggak. Dia hanya kuliah di sana
            “Wauw jauh sekali”
            “Iya. Dia dapet beasiswa di Fakultas Kedokteran di sana. Dan dia ingin sekali menjadi seorang Dokter”
            “Cita-cita yang mulia ya. Semoga dia bisa mencapainya. Anyway, Is he your boyfriend, Tera ?”
            “Dia…dia cuma orang yang sama egoisnya denganku. Aku juga nggak tahu, apa dia akan dengar  ini atau nggak, karena dia nggak pernah mendengarkan radio. Tapi, aku cuma ingin menyampaikan five words aja untuk dia”
            “Okay. Lets say your five words, Tera”
            Tera menarik nafas beserta ingusnya yang sejak tadi menggantung, bersamaan dengan air matanya yang tergantung di pelupuk mata.
            “Have a save flight, Anrio”
* * *
            Tera mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Mandi ternyata tidak hanya menyegarkan bagi tubuh, tapi juga pikirannya. Bayangan Anrio masih saja menjejali pikirannya setiap waktu, tetapi ia bisa apa.
            Beep Beep
            Ponsel Tera yang bergetar menandakan ada pesan masuk. Tera dengan malas mearih ponselnya. Namun, matanya langsung terbelalak bahagia begitu mendapai si pengirim pesan adalah Anrio.
            Meski belum tahu apa isi pesan tersebut, tetapi jantung Tera berdegup kencang bahagia. Pasalnya ia dan Anrio tidak berkomunikasi sejak 4 bulan terakhir. Komunikasi terakhir mereka adalah saat mereka memutuskan untuk berjalan masing-masing, tanpa ikatan—sekitar 4 bulan yang lalu.
           
            From : Anrio
            Aku sudah sampai di Batam dengan selamat. Terima kasih untuk        ‘Have a Safe Flight’ nya di Radio.





End
28 September 2012


August 12, 2013

Bye Bye




Bye Bye
by 
Raisa




Hey Girl,
You know you’re beautiful
Where is the pretty smile that
You’ve been hiding far too long
Hey Girl,
You know you’re wonderful
If he doesn’t appreciate you
Then it’s time to say….

Bye Bye…
Say Bye Bye…
Say Bye Bye…
If he does’nt treat you right
Then who is he to stick around just say good bye..

Hey Girl,
You know you’re amazing
Anyone who gets to love you
Is one lucky guy
Hey Girl,
You know you’re a queen
If he doesn’t appreciate you
Then it’s time to say…

Bye Bye…
Say Bye Bye…
Say Bye Bye…
If he does’nt treat you right
Then who is he to stick around just say good bye..

I won’t let anyone make me feel sad
I won’t let anyone make me feel down
I won’t let anyone make me feel unhappy

If you don’t treat me right
Then it’s time for me to

Say bye bye…
Say bye bye…
Say bye bye…

If he doesn’t treat you right then
Who is he to stick around
And say good bye

Say bye bye…
Say bye bye…
Say bye bye…

Treat me right…treat me right…



August 7, 2013

Have a Safe Flight #1



Have A Safe Flight
Oleh :
Fitria Wardani


            Jilatan api memang sudah tak lagi memakan tubuh pesawat, tetapi hawa panas yang tersisa masih terus menyelimuti setiap orang yang melintas di sekitarnya. Puing-puing pesawat berserakan di tanah dan suara rintihan minta tolong terdengar begitu menyakitkan. Tera tidak mengerti mengapa ia bisa berada di tengah pemandangan yang mirip dengan kecelakaan pesawat di film War of the World itu.
            Tera terus berjalan menembus hawa panas yang tercipta serta tubuh – tubuh manusia yang tergeletak. Tera sendiri tidak mengerti akan kemana dan untuk apa ia terus berjalan. Juga mengapa ia bersih tanpa setitikpun luka di tengah bencana itu.
            Langkah Tera terhenti di dekat seorang pria seusianya yang terbaring lemah. Dari pelipisnya, mengalir darah. Sementara, bagian wajah lainnya kehitaman sisa asap yang menempel. Meski begitu, Tera tahu betul siapa pria itu.
            “Anrio,” jerit Tera lirih sambil meletakkan kepala Anrio di pangkuannya.
            Mata Anrio terpejam rapat. Tak pernah terbuka meski Tera terus memanggilnya.
* * *
            Tera meneguk gelasnya dengan sangat rakus, seolah baru menyelesaikan lari marathon sejauh 1 km. Piyama Doraemonnya masih melekat kusut di tubuhnya. Sama halnya dengan mimpinya semalam yang masih melekat hangat dalam pikirannya.
            Tera menghampiri kalender gantungnya yang melekat di dinding. Menatap lekat dengan mata berkaca – kaca. Tertera tanggal 28 yang dilingkari dengan spidol merah bertuliskan ‘Gone’. Tera hanya bisa menghela nafas panjang diiringi lagu When You’re Gone yang keluar melalui radio kecil di sudut kamarnya.
            Tera masih termenung, memutar ulang mimpinya. Tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya seakan ingin menangis, namun tak bisa tumpah begitu saja. Ada sesak yang selalu mengganjal di setiap  mimpi buruk yang terjadi
            “108.8 HeartFm. That was Avril Lavigne with When You’re Gone. Sorry nih, kalau pagi – pagi begini udah memutarkan lagu yang membuat kalian tersedu-sedu. But, anyway 10 menit lagi, akan dibuka ‘Say Five Words’. Jadi, buat kalian yang pagi ini ingin say something untuk someone spesial, ayo buruan telpon. But remember, you just say five words
            Suara penyiar di HeartFm masih bernyanyi dengan nomor telepon yang dapat dihubungi. Tetapi Tera, dengan sangat sigap meraih ponselnya dan menekan panggil pada ‘HeartFm’ di daftar kontak ponselnya. Tera sudah memiliki nomor kontaknya karena tak pernah absent mendengarkan HeartFm, radio kesayangannya.
* * *
            Suara indah Adam Levine baru saja menyudahi lagu Payphone di HeartFm. Hati Anrio terasa dipukul oleh potongan lirik ‘where have the times gone, baby its all wrong where are the plans we made for two’. Terlalu banyak rencana yang ia dan Tera buat sebelum mereka bertemu. Tetapi, tidak ada satupun yang terwujud, bahkan bertemupun tidak. Waktu selama 30 hari berada di daratan yang sama—dengan Tera—terbuang begitu saja dengan cepat.
            “Okay, seperti yang telah Onya janjikan sebelumnya. Sekarang kita akan menggelar ‘Say Five Words’. Dan peserta pertama kita sudah menunggu sejak tadi di ujung sana. Siapakah dia ?”
            Suara penyiar di HeartFm berkumandang terus mengisi kesunyian di mobil. Hanya ada Anrio dan Ayahnya dalam diam menuju Bandara Soekarno-Hatta. Entah bagaimana ceritanya, Anrio menjadi suka mendengarkan radio. Terlebih lagi, karena tidak dapat bertemu dengan Tera, ia menjadi semakin gencar mendengar HeartFm. Setidaknya, ia merasa berada di dekat Tera jika sedang  mendegar HeartFm—radio kesayangan Tera. Anrio merasa, ia dan Tera terhubung melalui lagu yang diputarkan HeartFm setiap waktu, karena mereka sama-sama mendengar hal yang sama.
            “Halo. Siapa disana?,” tanya Onya, Si Penyiar itu.
            “Tera,” ujar lirih suara di seberang sana.
            Anrio terkejut mendengar suara itu. Apakah itu Tera nya ? pikir Anrio dalam hati.
            “Tera? Wauww nama yang unik. Okay, Say Five Words nya untuk siapa nih?”
            “Untuk…untuk….untuk….Anrio”
            Anrio nyaris tersedak mendengar namanya disebut. Tapi, benarkah Anrio dirinya yang dimaksud dengan Tera? Setelah dapat bernafas, Anrio semakin gelagapan karena Ayahnya angkat bicara.
            “Buat kamu tuh Yo ,” ujar Ayah Anrio dengan tatapan fokus ke depan.
            “Bukan ah, Pa. yang namanya Anrio kan bukan hanya aku,”
            Anrio tidak menghiraukan lagi HeartFm. Ia dengan cepat menyumpalkan headset ke kedua lubang telinganya. Seolah tidak ingin ketinggalan mendengar suara melalui headsetnya itu. 



to be continued




#nomention



Lo tau apa itu insting ?
Mungkin gue ngerjain lo karena insting
Kadang kala ada orang yang langsung tahu siapa lawannya pas pertama ketemu
mungkin insting gue bilang lo orang nomer 1 yang menarik buat gue ajak becanda


19 Juni 2013 20:50 WIB 

August 6, 2013

Dongeng Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh




Ksatria jatuh cinta pada Puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari

Sang Puteri naik ke langit

Ksatria kebingungan

Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang

Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu

Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon

Ksatria lalu belajar pada burung gereja

Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara

Ksatria kemudian berguru pada burung elang

Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung

Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi

Ksatria sedih, tapi tak putus asa

Ksatria memohon pada angin

Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi, lebih tinggi dari gunung dan awan

Namun Sang Puteri masih jauh di awang-awang, dan tak ada angin yang mampu menusuk langit

Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa

Sampai suatu malam ada Bintang Jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya

Ia menawari Ksatria untuk mampu meelsat secepat cahaya

Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu

Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya, maka ia akan mati

Hancur dalam kecepatan yang membahayakan, menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat

Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa

Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada serpih detik yang mematikan

Bintang Jatuh menggenggam tangannya

“Inilah perjalanan sebuah cinta sejati,”  ia berbisik, “Tutuplah matamu, Ksatria. Katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan keberadaannya”

Melesatlah mereka berdua

Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria mungil, tapi hangat jiwanya diterangi rasa cinta

Dan ia merasakannya…”Berhenti!”

Bintang Jatuh melongok ke bawah, dan ia pun melihat puteri cantik yang kesepian

Bersinar bagaikan Orion di tengah kelamnya galaksi

Ia pun jatuh hati

Dilepaskannya genggaman itu

Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya

Ksatria melesat menuju kehancuran

Sementara Sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri

Ksatria yang malang

Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan Aurora

Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria


 Supernova : Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh - Dee


Ramadhan Ini...




Saya tidak pernah mengira kalau rutinitas yang berlangsung selama 15 hari berturut-turut bisa menciptakan rindu tersendiri saat kita meninggalkannya. Setidaknya itu yang saya rasakan saat bangun di Sabtu pagi—awal hari libur sesungguhnya bagi saya setelah freelance 15 hari di Ramadhan ini.

Tiba-tiba saya merindukan menunggu Kopaja AC S602 rute Ragunan-Monas di Halte Warung Jati, rindu suasana di dalam bis, menyelami wajah per wajah yang kiranya akan turun di halte selanjutnya agar saya bisa mendapatkan tempat duduknya. Berjalan cepat-cepat menyusuri jembatan penerbangan dari Halte TransJakarta Karet yang bunyinya bergemuruh. Tapi, percayalah readers kalau jarang sekali ada orang yang jalannya pelan di jembatan penyebrangan itu. Semuanya melangkahkan kakinya dengan cepat, seolah berlomba dengan waktu.

Aneh sih, saya merasa sedih karena tidak akan lagi melewati semua rutinitas tersebut. Padahal kalau dipikir, rutinitas itu begitu melelahkan tenaga dan menguras waktu. Tetapi, mungkin saya menikmatinya. Mengamati satu per satu wajah masyarakat di Jakarta di dalam bus ataupun di luar. Khususnya di Ramadhan ini.

Meski Jakarta itu keras dan katanya masyarakat kota itu individualis tetapi saya rasa tidak semua. Sekedar share, saya pernah terkesima melihat seorang wanita yang sedang memegang Al Quran di tangannya—di tengah padatnya penumpang dalam Kopaja AC S602—dan sekaligus membacanya. Masih di Bis yang sama, pada hari berbeda, tepatnya di belakang saya, saya mendengar seorang bapak yang membaca Al Quran melalui tabletnya.

Kalau melihat 2 orang di atas, saya rasa bukankah malu jika kita yang kebanyakan tidak memiliki aktivitas di Ramadhan ini justru menggunakannya untuk tidur atau hal tidak berguna lainnya. Sementara mereka di sela kesibukannya bekerja dan terhimpit kemacetan Jakarta, seolah tidak ingin melewatkan ‘great sale pahala’ yang ditawarkan Allah pada Ramadhan ini.

Pada konteks lain adalah soal keindahan berbagi. Saya tidak pernah menyangka kalau ta’jil on the road menciptakan kebahagiaan tersendiri pagi pengendara di jalan, khususnya yang terjebak macet dan tidak menyiapkan apapun untuk berbuka puasa.

Sedikit share lagi soal saya yang saat itu tidak menyiapkan apapun untuk berbuka puasa. Karena saya pikir setidaknya pukul 17.30 saya telah berada di Ciputat, saya memutuskan untuk membeli minuman di sana saja. Tetapi, siapa sangka kalau saya harus menunggu APTB rute Ciputat-Kota selama hampir 1 jam (16.15-17.15) di Halte Karet. Alhasil saya masih berada di APTB (kalau tidak salah di daerah Radio Dalam) saat Azan Magrib berkumandang.

Kebanyakan orang telah mempersiapkan bekal untuk buka puasa di jalan, kecuali saya. Ada seorang bapak bapak yang mukanya agak bule membagikan makanannya—entah apa—kepada beberapa penumpang di dekatnya. Tentu saja saya tidak dapat karena tidak berada di dekatnya, selain itu gak ngarep juga sih. Tetapi, siapa sangka saat saya sedang menyapukan pandangan ke kanan dan kiri, seorang bapak tua tiba-tiba ‘menangkap’ mata saya dan mengangkat segelas botol air mineral sebagai isyarat menawarkan pada saya.

Saya hanya tersenyum saat itu, juga mengangguk sebagai isyarat terima kasih dan…penolakan ? oke mungkin lebih tepatnya malu-malu karena bapak itu saja hanya berbuka puasa dengan sebotol kecil air mineral. Masa iya dibagi dua dengan saya, kesannya nggak tahu diri sekali saya. Lagipula, kami terpaut sekitar 3 kursi (dia duduk dan saya berdiri). Dan ternyata bapak itu menundukkan kepala dan mengambil sesuatu dari goody bag biru nya…sebotol kecil air mineral lainnya yang diberikan untuk saya. Sangat-sangat berterima kasih kepada bapak #nomention itu.

Pesan dari postingan ini adalah di hiruk pikuk kemacetan dan kerasnya Jakarta, masih tersimpan manusia baik hati yang peduli sesama dan berbuat kebaikan semata-mata untukNya. Memang sih porsinya sedikit, mungkin juga hanya bisa dilihat melalui mikroskop. Tetapi percayalah, kalau kamu juga berbuat baik karenaNya, pasti akan ada hal baik yang juga akan mengikutimu.






August 3, 2013

Reason






Rasanya sulit sekali menemukan kata pertama untuk memulai tulisan ini. Seperti sulitnya hidup di ibu kotakah ? Rasanya bukan. Tiba-tiba saya merasa hidup ini punya banyak alasan yang sulit dipahami atau cukup lucu untuk dapat dimengerti.


Misalnya ? Mengapa orang yang diberi kesempatan duduk di dalam bis justru tetap memilih berdiri. Jawaban yang masuk akal hanya satu, karena orang itu akan segera turun dari bis. Jadi, tidak ada gunanya duduk yang haya sebentar.

Tapi, ada alasan lain yang bisa ditemukan. Orang itu sudah terlalu lama duduk di aktivitas sebelumnya, maka dia ingin berdiri di dalam bis dan memberi kesempatan pada orang lain yang memang butuh duduk.


Ada juga manusia yang menghindar dari teriknya matahari. Sudah bosan karena kepanasan. Tetapi, ada manusia lain yang justru sengaja mencari sinar matahari dan membiarkan tubuhnya dihujani cahaya itu. Alasannya karena terlalu lama berada di ruangan berAC, maka ia butuh cahaya matahari untuk menghangatkan dirinya.

Contoh lain adalah orang yang berusaha keras melakukan aktivitas yang menguras tenaga. Tujuannya? Menciptakan keringat dalam tubuhnya agar dia bisa mempercayai bahwa dia sehat karena telah berkeringat. Tetapi faktanya, sekeras apapun dia mencoba atau seberapa lama dia berjemur di teriknya matahari pagi, keringat tak kunjung membasahi tubuhnya.

Sementara di belahan dunia lain, seseorang dengan kehidupannya begitu mudah berkeringat. Hingga lelah menyekanya dan meninggalkan bau tak sedap di mana-mana. Aneh ? saya tidak ingin menyebutnya begitu. Hanya saja banyak alasan yang sulit dimengerti dalam hidup ini.

Seperti, mengapa kamu harus mengejar orang lain yang tidak mencintaimu ? Sementara ada orang lain yang telah tulus mencintai dan ada di dekatmu ? Jawabannya ada pada mereka yang telah memilih untuk memperjuangkan apa yang menjadi tujuannya. Meski sebenarnya, tujuan itu belum tentu yang kita butuhkan, bukan? Karena bukan kita yang paling tahu apa yang kita butuhkan, melainkan Dia.

Lalu, untuk apa terus mengejar ?

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis