December 26, 2015

2015 : Me and Myself




Halo !
Its long time no told something to be posted in my second home. Dan ternyata, 2015 sudah menghitung hari untuk bergegas meninggalkan kita. Like as ritual, beberapa waktu lalu, saya membaca ulang buku harian saya untuk flashback kembali tentang 2015 ini.

For me, 2015 is about me and my self. Ya, perjalanan 365 hari saya bersama diri saya sendiri untuk menaklukan kerikil dan segala energi negatif dari diri saya sendiri. Semuanya tentang persoalan melawan energi negatif dan berdamai dengan diri saya sendiri.

Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi saya, karena lebih dari separuhnya membuat pikiran saya tecurah untuk sebuah kata LULUS. Menuntaskan tanggung jawab saya. Mencapai finish line untuk sebuah pendidikan panjang yang diinvestasikan oleh kedua orang tua saya. That’s why, it feels so hard. Feels like there were tons of burdend in my shoulder. But I know, that’s not as big enough with my parents’ effort for me.

Perjuangan mengerjakan skripsi itu diwarnai dengan ambisi saya yang lain, yaitu menjajal dunia kerja yang linier dengan disiplin ilmu saya. Magang di Kantor Akuntan Pubik, menjadi resolusi dan ambisi yang menggebu dalam diri saya di awal 2015. Dan akhirnya terwujud pada bulan Maret.

Tetapi, nyatanya semua tidak berjalan mulus seperti yang saya harapkan dan rencanakan dari awal. Saya gagal meraih tiket wisuda di bulan Agustus. Saya tidak ingin memberikan alasan, tapi mungkin pembelaan atau pengakauan dosa, kalau saya terlalu berambisi dan gagal mewujudkannya. Tidak mampu memanajerial waktu yang saya miliki dengan tanggung jawab baru yang saya pilih.

Maka, Juli hingga Agustus adalah masa yang berat bagi saya. Karena pada saat itulah, saya mencoba berdiri perlahan dan mulai berlari. Mengumpulkan kepingan semangat dari memoir diri saya di masa lalu, yang rasanya lebih baik dari keterpurukan yang terjadi.

Saya mencoba bangkit, menebalkan semangat dengan selalu berkeyakinan selalu ada satu hal yang pasti, yaitu Dia. Ya, Dia akan selalu bersama saya, hambaNya yang selalu percaya bahwa akan ada kado terindah dariNya. Saya terus mencoba berdamai pada diri saya dan sesekali mengingatkan, bahwa roda acapkali berputar. Ada kalanya kamu jatuh ataupun tersungkur, tapi kamu harus bangun. Karena sesungguhnya kamu yang paling tahu siapa dirimu sesungguhnya, sehingga kamu harus bangkit.
Setelah tiket wisuda itu berhasil saya raih, saya menyadari sebentar lagi pintu menuju hutan harus saya lalui. Tak ada jalan lain. Ini sungguh perjalanan yang mengantarkan saya pada sebuah ‘kehidupan’. Tetapi, hal ini membuat saya semakin ingin dekat denganNya. Semakin mempercayai, Dia selalu berada bersama saya. Bersama kita, umatNya yang terus mempercayai bahwa Dia akan selalu memberikan yang terbaik, asal kita ikhlas dan berserah serta selalu bersyukur.

Hal itu benar-benar terjadi, saat saya merelakan untuk melepaskan kesempatan menjadi volunteer dalam event  Social Media Week pada Februari 2015 lalu, maka Dia memberikan kesempatan lain bagi saya. Yaitu, intern di Mirum Jakarta. Serta hal lain yang tak bisa saya ungkapkan di sini. Saya menjadi percaya bahwa keikhlasan dan ketulusan melepaskan sesuatu akan mengantarkanmu pada suatu hal yang baru, yang bisa jadi lebih baik dari apa yang kamu lepaskan. Kuncinya satu, jangan ragu akan rencana dan kehendakNya.

Tahun ini juga menjadikan saya pribadi yang bisa berbahagia dengan diri saya sendiri. Dengan perasaan syukur yang selalu saya selipkan setiap harinya melalui #JurnalSyukur. Tanpa terasa program #Jurnal Syukur yang saya mulai pada 4 Januari 2015 lalu, kini sudah hampir mencapai penghujung. Rasanya seperti baru kemarin, saya mulai menulisnya. #JurnalSyukur memberikan energi positif bagi saya untuk terus berpikiran positif.

2015 ini sungguh perjalanan bagi saya untuk bisa berdamai dengan diri sendiri, jika ada kalanya seorang yang selalu menjadi yang pertama dan terbaik dapat terjatuh dan tersungkur. Perjalanan yang mengendurkan ambisi saya dan menengok lebih dalam, mana yang memang terbaik untuk saya. Bukan untuk sebuah pengakuan di mata orang lain.

Terima kasih Tuhan, untuk 2015 ini. It makes me closer enough with myself. Semoga saya dan kita semua dapat terus memperbaiki diri di usia yang terus menggerogoti ini.       

Selamat jalan, 2015
Cheers


Passport to Happiness : Cause Happiness Is You



Judul : Passport to Happiness
Penulis : Ollie
Halaman : 176 halaman
Penerbit : GagasMedia
Tahun : 2015


Travelling is about the art of making new friends. That’s why, kita akan menemukan orang baru di setiap kota baru yang disinggahi oleh penulis. Buku ini adalah pengalaman perjalanan Ollie menyinggahi 11 kota dengan 11 cerita menarik di dalamnya. Dibuka dari Ubud, pelariannya dari kejenuhan dan pertanyaan besar dalam dirinya mengenai pernikahan. Ubud memberikan jawaban paling penting yang selama ini terlupakan oleh Ollie, atau juga untuk kita sendiri sebagai seorang wanita.

Sepuluh cerita lainnya bersetting di Dublin, Moscow, London, Seoul, Paris, Marrakech, Istanbul, Almaty, Alexandria, dan New York. Cerita pengalaman perjalanan Ollie di setiap kota secara tidak langsung mengajak kita untuk juga kenal dengan kultur budaya dan masyarakat dari kota yang disinggahi. Di Moscow dan Istanbul, contohnya. Ollie menambah kamus karakter cowok belahan dunia, bagi saya.

“Kalau pria Rusia sudah jatuh hati sama kita, mereka akan lebih loyal dari siapa pun di bumi ini.  Seperti yang aku bilang tadi, mereka juga sangat protektif,” (From Moscow With Love - page 37).

Sementara di Istanbul, hampir semua cowok memiliki paras tampan dengan kulit putih, perpaduan Eropa dan Asia. Poin plusnya mereka juga ramah. (The Colours of Love in Istanbul – page 115)

Selain menambah kamus karakter cowok luar—yang bisa masuk list cowok idaman—Ollie juga mengenalkan berbagai tempat bersejarah yang erat kaitannya dengan sastra, seperti museum dan toko buku. Salah satunya yang membuat saya penasaran dan juga ingin berkunjung kesana adalah Museum of Innocence atau Masumiyet Mϋzesi (dalam bahasa Turki). Mengapa saya ingin berkunjung kesana ? Saya rasa kamu juga ingin, jika mengetahui tentang apa Museum itu. (hihii, bikin spoiler yak).

Novel ini nggak selamanya romance kok. Dalam cerita The Alley of Marrakech, Ollie mengajarkan kita kalau soulmate tidak harus berarti romantis. Bisa saja artinya pertemanan yang manis. Seperti ia dan Soufiane. Ada juga, Share the Love in Almaty yang menceritakan soal anak Afghanistan—yang terpaksa belajar di salah satu kota di Kazakhstan—yang terinspirasi oleh Ollie.

Cerita favorit saya adalah Blind Date in Paris dan Pindah Hati di Alexandria. Ollie memberikan pesan bagi pembaca untuk berani mengambil keputusan yang selalu membahagiakan untuk diri kita. Cause happines is about myself


There’s no regret, no right or wrong. Nobody is forced to go or stay. We always have a choice to control our life. One day, when life brings you to a crossroad and asks you to choose, I hope you always choose the comfort of flow. It’s time to move. It’s time to choose yourself.  (Pindah Hati di Alexandria – page 150)

December 25, 2015

Berlari (part 2)



Hei, kamu yang lahir di bulan Februari
Mengapa terus berdiam diri?
Kapan akan berdiri lalu berlari ?
Apa lagi yang kau tunggu ?
Bukankah masih banyak yang harus diraih ?
Jangan mencari apa yang kamu sendiri tidak tahu
Jangan menunggu apa yang tidak kamu ketahui
Jangan terus berdiam diri
Jangan terus menikmati
Tapi berdiri dan berlari
Bukankah ini kepingan hidup?
Warna langit yang berubah seiring waktu yang berputar
Seperti roda yang berputar, itulah hidup
Tapi kamu harus terus berdiri dan berlari
Jangan lagi mencari, menunggu atau mempertanyakan apa yang tidak kamu ketahui
Berlarilah, maka kamu akan menemukan jawabannya


1 Juli 2015

November 21, 2015

Love is Not the Price Sight #KeputusanCerdas

Love is Not the Price Sight
Oleh
Fitria Wardani

“Kamu bisa nggak untuk fokus makan dulu dan berhenti mainin tablet kamu itu,” ujarku kesal pada Malik setelah 15 menit berlalu, ia belum juga menyentuh makanan yang dipesannya.
“Aku nggak lagi main, sayang. Aku lagi mencari bongkahan berlian,” jawab Malik santai tanpa melepaskan pandangannya dari tablet di tangannya.
Mata coklat Malik yang menatap tajam setiap dia sedang fokus menekuni pekerjaannya adalah sudut favoritku. Dahinya yang berkerut dan ekspresinya menggigit bibir setiap menemuni kesulitan adalah pelengkapnya. Aku selalu membiarkan pemandangan itu bertahan hingga berjam-jam, karena hal itulah yang membuatku semakin dalam jatuh cinta dengannya. Tetapi, tidak dengan sekarang. Dengan waktu bertemu kami yang semakin sulit karena sama-sama sibuk bekerja, hitungan detik terasa berharga bagiku untuk dapat memiliki quality time bersamanya.
“Bongkahan berlian apa sih ? Game kan intinya,” tanyaku dengan sedikit meninggikan suara. Meski kutahu hal itu akan mengundang pasangan mata ke arahku. Tetapi, siapa peduli kalau hal itu sekaligus membuat mata Malik menuju ke arahku.
Bingo ! Malik segera mengubah posisi duduknya yang miring dengan kaki disilangkan menjadi tegak dan lurus menghadap ke arahku, kekasihnya selama 4,5 tahun terakhir.
“Attaya, kamu tentu tahu dan berpendidikan bukan ? Kita sedang makan di restoran ternama, yang untuk bisa lunch di sini saja, aku harus booking seminggu sebelumnya. Dan kamu juga tentu tahu, kalau kamu sedang makan di tempat seperti ini, nggak seharusnya kamu bersikap nggak sopan dengan bicara setengah teriak seperti tadi,” jelas Malik panjang lebar dengan setengah berbisik kepadaku. Persis seperti seorang ayah yang sedang membisiki putrinya tentang norma dan sopan santun.
“Aku nggak butuh lunch di restoran yang untuk bisa makan aja harus nunggu seminggu, tetapi ujung-ujungnya aku cuma dicuekin sama kamu. Aku cuma mau makan siang sambil ngobrol sama pacarku yang super sibuk ini. Apa itu salah ? Hah ?,” tanyaku sambil meletakkan garpu dan sendok dengan kasar.
Aku tahu, sekarang di restoran ternama dengan alunan musik Eropa ini semua pengunjung tidak hanya mengirimkan pandangannya ke arahku. Mereka juga saling berbisik. Aku tak peduli. Toh aku tak mengenal mereka. Sementara reaksi Malik terlihat malu sekali dengan kelakuan kekasihnya barusan. Terbukti ia menyapukan kedua telapak tangannya dari dahi dan berakhir dengan menopang dagunya dengan ujung-ujung jarinya. Tanpa kata-kata untuk menenangkanku.
* * *
Harus kuakui restoran Eropa ternama itu memang eksklusif, sampai-sampai tidak ada taksi yang terparkir di depannya. Mungkin karena berada di dalam kompleks hotel berbintang atau karena restoran itu tidak ingin memiliki pengunjung yang melarikan diri dari kekasihnya, seperti aku. Ah, entahlah. Aku hanya terus berjalan dengan high heels hitamku di bawah teriknya matahari untuk dapat menemukan pintu keluar atau taksi yang bersedia mengangkutku.
“Kamu mau sampai kapan jalan dengan high heels setengah jutamu itu, Taya ?,” tanya sebuah suara yang sudah pasti milik Malik.
Aku berhenti dan menundukkan kepala melihat ke arah high heels yang kukenakan hari ini. Aku berani bersumpah kalau high heels ini baru ku beli seminggu yang lalu dengan uangku sendiri. Tetapi, aku juga berani bersumpah kalau Malik juga tahu merk high heels yang kukenakan. Tuan Branded itu mungkin punya tumpukan katalog fashion wanita pria di rumahnya, hingga hapal luar kepala. Hufft. Menyebalkan. Tak terasa lamunanku mengantarkan Malik tepat di hadapanku.
“Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud ngajak kamu lunch dan nyuekin kamu, sayang. Aku sibuk dengan tabletku karena aku…”
“Sedang menganalisa market pagi tadi. Untuk bisa tahu selepas lunch nanti, kamu mau beli atau jual saham apa? Online Trading lagikan?,” jelasku memotong penjelasannya.
“Nah itu kamu tahu. Kamu emang pacar aku yang paling pintar,” puji Malik sambil mencubit hidungku.
“Pacar yang paling pinter? Maksudnya ada pacar kamu yang lain yang kurang pintar?,” tanyaku ketus.
“Oh Tuhan…kenapa Engkau kirimkan kekasih yang sangat pintar seperti Attaya kekasihku ini?,” tanya Malik dengan suara agak keras dan menengadahkan kepalanya ke langit.
Aku lekas membungkam mulutnya malu. “Apaan sih? Malu tahu,” tanyaku sedikit berbisik.
 Malik meraih tangan yang kugunakan untuk membungkam mulutnya dan entah darimana, sebuah kotak seukuran kartunama kini berada di tanganku. Bukan! Ini pasti bukan cincin. Lagipula mana mungkin Malik, Tuan Branded yang selalu hafal dengan harga setiap benda di depan matanya melamar kekasihnya di bawah terik matahari seperti ini.
“Buat kamu, Taya. Buka aja kalau penasaran sama isinya,” pinta Malik seolah menjawab kerutan dahiku pertanda bingung.
“Kartu kredit ? Buat apa ?,” tanyaku lagi-lagi dengan dahi berkerut setelah mengetahui isi kotak yang ada di tanganku. “Tentu saja buat kamu belanja, sayang. Limitnya 10 juta”
“Buat aku?,” tanyaku dengan membelalakkan mata.
“Iya, sayang. Aku sengaja ngajak kamu lunch hari ini karena aku mau kasih itu buat kamu. Tapi, kamunya nggak sabaran dan malah lari dari restoran yang udah aku booking dari seminggu lalu,” jelas Malik.
“Tapi aku nggak butuh ini, Malik”
“Sst…jangan bilang nggak, tapi belum. Anggap aja kamu belum butuh saat ini, tapi pasti akan butuh nantinya. Aku cuma ingin membahagiakan orang yang aku cinta, Taya. Dan salah satu bentuknya, ya aku kasih kamu kartu kredit ini. Kamu bisa shopping sepuas kamu.”
Aku hanya diam. Menatap Malik tajam dan mengukirkan senyuman. Jika saja Malik dapat mengartikan tatapanku yang mencoba menyampaikan kalau aku bukan tipe wanita penggila shopping.
“Jangan melihat aku seperti itu, Taya. Kamu tahukan, apa yang sudah aku kasih ke kamu, pokoknya nggak boleh dibalikin,” pinta Malik dengan menyilangkan tangan di dada dan buang muka. Ciri khasnya setiap aku tak menyukai barang pemberiannya.
Okay, aku terima tapi aku rasa aku belum berniat untuk memakainya dalam waktu dekat ini,” jawabku akhirnya sambil memasukkan kotak berisi kartu kredit ke dalam tasku. “Thanks anyway, sayang,” ujarku smabil mengecup pipi Malik.
* * *
Sudah 30 menit berlalu dari jam 7. Nampaknya gadis yang ditunggu Malik tidak datang. Meski sebelumnya si gadis telah mengiyakan untuk bertemu dengannya di warung tenda sederhana pinggir jalan, tapi bisa saja itu hanya jebakan manis.
Malik gelisah dan berbagai spekulasi menghinggapi kepalanya. Malam minggu ini harusnya jadi malam minggu pertama ia menikmati gaji pertamanya sebagai fresh graduate bersama orang yang telah dia janjikan dalam dirinya sendiri. Seorang gadis yang pernah menolongnya di kala genting. Malik hanya ingin membalas kebaikan itu dengan gaji pertamanya meski hanya makan di sebuah warung tenda sederhana.
Sia-sia sudah Malik menunggu, nampaknya gadis itu benar-benar tidak datang. Malik bersiap bangkit dari tempat duduknya dengan wajah kecewa. Tetapi sebuah suara melunturkan ekspresinya.
“Kak Malik ya? Maaf ya kak aku telat. Aku nggak tahu kalau ternyata di sini banyak warung tenda. Jadi, tadi aku masukkin satu per satu buat tahu kakak ada dimana."
“Oh..oh iya, nggak kok. Nggak apa kok,” jawab Malik tak beraturan. Sama tak beraturannya dengan detak jantungnya saat ini berhadapan dengan malaikat cantik yang ingin ia bahagiakan untuk selamanya.
* * *
Oh my god ! Tiffany and Co. Malik ngelamar lo dengan cincin Tiffany and Co. Gila banget sih Ya, Malik kerjaan apaan emangnya?,” teriak Shinta sahabatku sambil terus menggenggam jari manisku.
Aku hanya tersipu sambil mengingat peristiwa semalam saat Malik akhirnya melamarku. Dan hari ini dnegan kedok membuat kue kering bersama Shinta—sahabat dekatku—sesungguhnya aku ingin memamerkan cincin ini.
“Kok lo nggak bilang selamat sih ke gue ? Malah nanya kerjaannya Malik. Nggak penting banget. Kaya baru kenal Malik kemarin aja,” gerutuku pura-pura ngambek.
“Ya congratulation, Taya. Gue senang banget akhirnya kalian bakalan married. Tapi emang beneran si Malik masih kerja yang jual beli saham gitu? Gede banget ya gajinya? Gue juga mau deh jual beli saham gitu. Biar bisa beli Tiffany and Co dan kartu kredit. Kaya lo,” cerocos Shinta.
“Broker, Shin. Sebutannya tuh broker. Dan nggak sembarangan jual beli saham. Tapi diperlukan analisa yang bagus supaya tepat sasaran. Makanya bisa dapet gain. Makanya harus smart. Kaya Malik. Makanya gue suka”
“Bukan karena Malik ganteng?”
“Karena dia smart, makanya dia jadi ganteng di mata gue”
“Tapi seriusan dia ngelamar lo di warung tenda dengan cincin super mewah kaya gitu?”
Aku mengangguk dengan senyuman lebar. “Iya serius. Di warung tenda tempat pertama kali dia traktir gue dengan gaji pertamanya.”
“Kok gitu? Kenapa?”
“Hm..sebenarnya emang gue aja sih yang pengen makan berdua di tempat itu lagi. Eh ternyata dia malah ngelamar gue di situ”
“Tapi Tay, lo udah yakin banget nih sama Malik?”
“Ya iya dong, Shin. Kita udah jadian hampir 5 tahun lho. Dan kayanya itu udah cukup buat gue bikin yakin kalau he is the one for me
“Tapi kebiasaan Malik yang suka ngomongin harga itu lho. Gimana ya ngomongnya..lo nggak terganggu gitu?”
“Oh itu…ya sih gue juga sebenarnya nggak suka kalau Malik tuh selalu melihat sesuatu dari harganya. Tapi, sebenarnya itu tuh baru sekitar 2 tahun terakhir lho, Shin. Gue kenal banget Malik dan sebenarnya dia nggak kaya gitu..awalnya. Dia sederhana kok. Jadi, one day dia pasti akan kembali pada Malik yang dulu..Malik yang sesungguhnya. Gue percaya itu. Dan mungkin gue yang harus memabwa Malik kembali pada dirinya yang dulu,” jelasku meyakinkan sahabatku ini.
“Ciyeelah…bijak banget sih sahabat gue ini,” ledek Shinta sambil menebarkan terigu ke wajahku, kemudian berlari. Tak mau tinggal diam, aku mengambil segenggam terigu dan mengejar Shinta untuk membalasnya. Alhasil kami saling berkejar-kejaran dan perang terigu di dapur tanpa menyadari keadaan sekitar. Hingga…
“Brukk,” Shinta menabrak sebuah tubuh tegap dan wangi. Tubuh Malik. Ralat. Shinta bersama terigu satu kilogram yang ia pegangi sebagai senjata menabrak Tubuh Malik. Kini Malik ikut berlumuran terigu dan aku terbahak melihat kejadian itu.
“Astaga. Shinta. Kelakuan kamu kaya anak kecil banget. Kamu tahu nggak sih berapa harga cardigan aku?,” teriak Malik dengan mata menyala.
Aku tahu benar Malik paling benci kotor. Kulihat Shinta takut mengkerut tak bergerak karena diteriaki Malik. Aku menghampiri Malik dan membersihkan terigu di cardigannya.
“Maaf ya sayang. Shinta nggak sengaja. Tadi kita terlalu asyik bercandanya. Jadi, kita nggak sadar kalau ternyata ada kamu di dapur,” bujukku sambil mengibas-ngibaskan terigu dari cardigannya.
Tetapi langkah tanganku terhenti. Malik memegang tanganku. Tepat pada telapak tanganku yang bersarang cincin Tiffany and Co pemberiannya semalam. “Attaya, kamu tahu nggak sih cincin ini berapa harganya? Ini cincin Tiffany and Co. Belum sampai 24 jam aku kasih ke kamu dan udah kamu kotorin pake terigu kaya gini. Aku nggak habis pikir ya. Kamu kekanak-kanakan banget.”
“Iya, Malik. Maaf..aku tahu kok ini cincin mahal. Tadi lupa aku copot cincinnya sebelum bikin kue. Aku cuci dulu ya. Jangan marah dong,” bujukku sambil menepuk pipi Malik pelan.
* * *
Jantungku berdetak tak beraturan sejak semalam. Tapi detik ini rasanya jantungku sudah ingin melompat keluar. Perasaan tidak tenang dan gelisah juga menghampiri silih berganti. Oh inikah rasanya menjadi pengantin ? Kenapa rasanya seperti pertama kali janjian berkencan dengan Malik 5 tahun yang lalu.
Riasanku sudah selesai 30 menit yang lalu. Penghulu juga baru saja datang. Tetapi, Malik dan keluarganya belum juga menampakkan batang hidungnya. Aku sendiri sudah tidak bertemu Malik sejak 5 hari yang lalu karena kami sama-sama dipingit. Komunikasi masih terjalin tetapi 2 hari terakhir ini Malik tidak ada kabarnya. Mungkin dia sibuk menghafal naskah ijab kabul.
Tamu-tamu di depan sudah mulai berbisik. Penghulu juga sudah mulai bertanya kemana si calon pengantin pria. Aku mulai gelisah dan khawatir. Panggilan telpon yang kutujukan ke ponsel Malik telah berkali-kali kulangsungkan. Tapi nihil. Tidak ada jawaban. Apakah terjadi sesuatu pada Malik dan keluarga dalam perjalanan. Aku mulai memikirkan kemungkinan terburuk hingga ibuku masuk dan memelukku.
Sambil memperkuat pelukannya, ibuku berbisik “Attaya, hari ini Malik tidak akan datang. Malik memutuskan untuk tidak datang hari ini.”
Aku tak ingat apa-apa lagi. Yang kutahu semuanya berubah menadi gelap. Aku pingsan.
* * *
Pernikahan aku dan Malik tidak pernah terjadi. Jawabannya sedang kucari hari ini, maka dari itu kini aku berdiri di kamar Malik menunggu penjelasannya.
“Aku nggak punya apa-apa lagi, Taya. Aku mempertaruhkan segalanya dan akhirnya kehilangan segalanya. Mungkin aku terlalu serakah. Maafkan aku,” jelas Malik tanpa melihatku. Dia seakan berbicara dengan jendela.
“Maksud kamu ?…aku nggak ngerti Malik,” ujarku setengah berteriak ingin menangis.
“Aku mempertaruhkan segalanya. Aku investasikan semuanya tapi ternyata harga sahamnya semakin hari semakin turun dan aku kehilangan semuanya. Aku nggak punya apapun untuk membahagiakan kamu. Jadi, lebih baik pernikahan itu nggak perlu terjadi”
Kepalaku terasa sakit mendengar jawaban Malik. Alasan yang sangat tidak masuk akal dan konyol. Bagaimana bisa seorang Malik yang selama ini kukenal sebagai sosok pria yang cerdas berpikir sesempit dan sesederhana itu.
“Karena itu ? Karena kamu merasa kamu nggak punya apapun untuk membahagiakan aku ? Karena alasan itu kamu memutuskan untuk nggak datang pada hari pernikahan kita? Malik, please. Kenapa kamu bisa berpikir sedangkal itu ? Apa kamu lupa kalau 5 tahun lalu, kamu pun nggak punya apapun. Tapi, aku nggak pernah sekalipun ninggalin kamu, bukan ? Apa aku minta untuk dibahagiakan dalam bentuk materi ? Aku nggak pernah menuntut apapun, Malik. Buat aku, kebahagiaan bukan hanya soal uang. Bahagia itu saat kita bersama, dalam keadaan apapun itu. Suka atau duka. Kalau memang kamu ngerasa kamu nggak punya apa-apa, kita bisa mulai bersama dari awal lagi, Malik.”
“Nggak bisa, Taya. Nggak bisa. Aku mau membahagiakan orang yang aku cintai. Tapi saat ini, aku nggak punya apapun untuk dapat membahagiakan kamu,” jawab Malik setengah beretriak. Kali ini wajahnya melihat ke arahku.
“Aku nggak ngerti lagi dengan pola pikir kamu, Malik. Kamu seolah membeli cintaku dengan uang, padahal aku nggak pernah menjualnya. Aku memberikannya dengan tulus, Malik. Aku mencintai kamu dengan tulus,” ujarku terisak.
“Aku pikir, Malik yang kukenal selama ini adalah pria yang smart. Cerdas dalam mengambil keputusan, tapi nyatanya kamu nggak secerdas yang aku pikirkan. Kamu…kamu sangat melukai perasaanku dengan nggak datang di hari pernikahan kita.”
* * *
Pria tanggung yang berbadan kurus dengan ransel di punggungnya itu tengah berjuang untuk goresan tinta tanda tangan. Ini adalah hari terakhir pendaftaran sidang skripsi, Malik harus mendapatkan tanda tangan dosen pembimbingnya, bagaimanapun juga. Begitu tekat Malik. Demi segera meraih gelar sajana dan mendapatkan pekerjaan mapan ke depannya.
Tetapi, perjuangan Malik hari itu tidaklah mudah. Si empunya tanda tangan tidak berada di kampus, melainkan di tempat lain. Mau tidak mau Malik harus menyusulnya. Matahari mulai terik, Malik mulai lemah karena sejak pagi perutnya belum terisi oleh makanan apapun. Maklum, sebagai anak rantau di pertengahan bulan, makan pun harus irit. Tetapi nampaknya, tubuh Malik tidak dapat diajak kompromi. Matanya kunang-kunang dan ia nyaris saja roboh.
“Kak, kakak kenapa kak?,” tanya sebuah suara gadis yang menangkap tubuh Malik yang hampir roboh.
Malik segera memeperbaiki diri. Tapi kakinya terlalu lemah untuk berdiri. Akhirnya ia dipapah oleh si gadis untuk menepi dan duduk.
“Kakak, belum sarapan ya? Mukanya pucat. Tangannya juga gemetaran”
“Sok tahu kamu. Saya sudah sarapan kok,” jawab Malik ketus diikuti oleh suara perutnya yang bergemuruh.
Gadis mungil yang sepertinya adalah maba (mahasiswa baru) itu hanya menunduk sambil tersenyum. Begitu juga dengan Malik, ia hanya menunduk sambil mengutuki perutnya yang tak dapat diajak kompromi.
“Ini makan aja kak. Siapa tahu bisa mengganjal,” ujar gadis itu sambil menyodorkan sebuah kotak makan berwarna hijau. Malik hanya diam tak menerima. Tapi si gadis dengan berani meraih tanagan Malik dan meletakkan kotak makannya di tangan Malik. “Nggak usah malu-malu kak. Dimakan aja kak, kakak pucat banget. Nanti pingsan kalau nggak makan,” ujarnya sambil berlalu.
“Hei..nama kamu siapa?,” teriak Malik pada gadis yang telah meninggalkanya.
“Attaya, kak”
“Terima kasih ya Attaya. Nanti kotak makannya saya kembalikan,” ujar Malik, lagi-lagi setengah berteriak.
Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Senyum seorang malaikat yang menyelematkan Malik sepanjang hari dengan energi yang bersumber dari isi kotak makannya. Hari itu, Malik berhasil melanjutkan perjuangannya mengejar tanda tangan dosen dan mendaftar sidang skripsi. Sejak saat itu, Malik berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan gadis berhati malaikat itu.
End

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

October 31, 2015

(Bukan) Ayah Pencitraan #SafetyFirst


(Bukan) Ayah Pencitraan
Oleh : Fitria Wardani



Sirine palang kereta api sudah mulai bernyanyi. Perlahan palangnya mulai turun dan menutup jalan sementara bagi pengendara kendaraan bermotor yang ingin melintas. Mereka menghentikan kendaraannya untuk menunggu kereta api melintas. Tetapi tidak bagi Marwan, dia menerjang palang pintu yang belum sepenuhnya tertutup dengan sepeda motornya. Si penjaga palang pintu hanya menggeleng kesal bersama papan bertuliskan ‘stop’ di tangannya.
“Ayah, kenapa bahunya warna biru ?,” tanya Bayu, putra Marwan yang berusia 5 tahun ketika melihat ayahnya mengolesi salep di bahu kirinya.
“Digigit tawon tadi di jalan,” jawab Marwan bohong. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa luka itu akibat terkena palang pintu kereta yang dia terobos siang tadi.
“Tawonnya jahat banget, Yah. Nanti kalau ketemu, Bayu bunuh tawonnya.”
“Jangan dong, Bayu. Kita nggak boleh menyakiti binatang,” nasihat Marwan pada anaknya yang kini duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.
Bayu langsung terdiam tak membalas. Dia anak yang pintar sekaligus patuh akan segala nasihat yang keluar dari bibir Ayahnya. Bagi Bayu, Marwan bukan hanya sosok ayah, melainkan pahlawan dan panutan yang selalu ingin dia tiru.
* * *

Marwan menginjakkan kakinya ke depan untuk menambah gigi pada motornya ketika lampu lalu lintas berubah kuning. Lalu dia memacu gasnya saat lampu lalu lintas baru saja berubah berwarna hijau. Hal itu dia lakukan semata-mata karena ada polisi yang berjaga jaga di perempatan yang baru saja dia lewati. Jika tidak ada polisi yang berjaga-jaga dan mengawasi, Marwan perlahan akan mencari celah untuk dapat menerobos lampu lalu lintas yang berwarna merah.
Pekerjaannya sebagai kurir di salah satu perusahaan logistik internasional menuntutnya untuk dapat tepat waktu dalam mengantar dan menagih tagihan. Ditambah lagi dengan keadaan jalanan ibukota yang kian hari kian penuh dengan kendaraan bermotor, mau tak mau dia sering membawa kendaraan secara brutal di jalan raya agar dapat sampai di tujuan dengan tepat waktu.

* * *
Istri Marwan menarik resleting jaket putranya hingga satu jengkal di bawah leher. Bayu sudah rapi dan siap untuk pergi bersama ayahnya. Sore itu, mereka akan pergi membeli robot-robotan di toko  mainan. Marwan ingin menepati janjinya untuk membelikan robot-robotan begitu Bayu masuk peringkat 5 besar di kelasnya.
“Anak ayah sudah siap belum untuk menjemput robot impiannya?,” tanya Marwan dari atas motor yang mesinnya sudah menyala.
“Sudah, Yah,” jawab Marwan berlari dengan semangat siap untuk duduk di jok belakang.
“Eit tunggu dulu,” tahan Marwan menghentikan langkah putranya yang hampir naik ke motornya.
“Ada apa lagi Ayah ? Bayu sudah pake jaket, sepatu, kaos kaki dan kacamata,” jelas Bayu sambil menyentuh setiap perlengkapan yang dia sebutkan.
“Ada yang ketinggalan nih, Bayu,” ujar istri Marwan dari dalam rumah sambil membawa helm kecil di tangannya
Bayu cemberut saat mengetahui dia harus mengenakan helm kecil berwarna biru dengan gambar Upin Ipin yang dibawa ibunya.
“Bayu nggak suka pake helm, Ayah. Kepala Bayu sakit kalau pake helm,” bujuk Bayu pada ayahnya.
“Tetapi lebih sakit lagi kalau kepala Bayu kena aspal jalanan karena nggak pake helm,” jelas Marwan lembut pada putranya.
“Valentino Rossi aja yang pebalap hebat, kalau naik motor pake helm. Bayu juga pake ya, biar mirip Valentino Rossi,“ tambah istri Marwan sambil memakaikan helm kepada putranya.

* * *
Ayah, kenapa kita berhenti di sini ? Kitakan belum sampai di toko mainan,” tanya Bayu saat motor yang dikendarai Marwan berhenti di persimpangan jalan.
“Kamu lihat itu Bayu,” tunjuk Marwan pada seonggok tiang yang dapat memancarkan tiga warna berbeda.”Itu namanya lampu lalu lintas. Sekarang yang sedang menyala warnanya merah, artinya semua yang bawa kendaraan harus berhenti dan menunggu sampai warnanya berganti jadi hijau. Kalau warnanya sudah hijau, kita baru boleh jalan lagi,” jelas Marwan sabar pada putranya.
“Kalau yang tengah itu warna apa Ayah?,” tanya Bayu mulai memahami.
“Yang tengah itu warnanya kuning, tandanya kita harus berhati-hati.”
“Ayah…orang itu tetap jalan padahal lampunya masih merah,” teriak Bayu sambil menunjuk ke arah pengendara motor yang menerobos lampu merah dengan kencang.
Marwan hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.
“Orang itu nggak tahu kalau lampunya merah tandanya nggak boleh jalan ya, Yah?,” tanya Bayu polos.
“Orang itu tahu Bayu, tapi mungkin karena nggak ada polisi makanya orang itu tetap jalan.”
“Kalau ada polisi, kenapa memangnya Yah?”
“Nanti ditilang. Dihukum sama Pak Polisi”
“Masuk penjara ya Yah ? Ih sereem.”
“Makanya, Bayu kalau sudah besar, jangan seperti orang itu ya. Jangan menerobos lampu merah meski nggak ada polisi,” nasihat Marwan pada putranya.
“Bayu kalau sudah besar nanti mau jadi seperti Ayah pokoknya. Yang selalu pake helm dan patuh lalu lintas, meski nggak ada Pak Polisi.” jawab Bayu bersemangat tanpa tahu bagaimana sosok ayahnya di jalanan tanpa putranya.
* * *
Marwan menginjak rem kakinya sekuat tenaga. Tangan kanannya sama kuat menarik rem yang bersembunyi di balik stang motornya. Hal itu dia lakukan agar kuda besinya tidak menabrak ibu paruh baya yang melintas di hadapannya dengan santai.
Beruntung, Marwan dapat mengendalikan sepeda motornya sehingga tabrakan itu terhindarkan. Si ibu hanya melintas santai dengan tatapan kesal. Tak terima diberikan tatapan yang demikian, Marwan membuka kaca helmnya.
“Bu, hati-hati dong kalau mau nyebrang. Ibu tuh hampir tertabrak sama saya tahu nggak? Kalau saya nggak rem kuat-kuat, bisa mati ibu,” teriak Marwan marah-marah.
Si ibu yang tadinya telah melewati Marwan tidak terima diteriaki demikian. Dia menghampiri Marwan dengan tatapan yang semakin sinis.
“Heh Pak, mata kamu lihat tidak itu di depan apa namanya ? Zeba cross, tempat buat pejalan kaki menyebrang. Saya sudah benar toh nyebrang di situ. Bapak toh ya kalau tahu ada zebra cross ya mbok lebih pelan jalannya, jangan masih tetap ngebut. Tidak menghargai pejalan kaki. Dasar gila,” omel si ibu di depan wajah Marwan.
“Dasar edan, dikira ini sirkuit balapan apa ya. Bawa motor ngebut, udah salah marah-marah. Dikira jalanan milik nenek moyangnya i,” gerutu si ibu sambil melanjutkan menyebrangnya tetap di jalur zebra cross.
* * *

“Assalamualaikum,” sapa Marwan sambil melepaskan jaketnya begitu sampai rumah.
“Ayah sudah pulaaaaaang. Lihat, Bayu gambar apa Yah. Lihat. Lihat,” sambut Bayu pada Ayahnya dengan buku gambar yang ditinggi-tinggikan oleh tangannya.
“Iya nanti Ayah lihat, tapi Bayu tadi dengar tidak kalau Ayah mengucapkan salam ? Kalau ada yang mengucapkan salam, kita harus menjawabnya terlebih dahulu,” jelas Marwan lembut.
“Ohiya. Waalaikum salam, Ayah,” jawab Bayu malu-malu.
“Nah begitu. Coba mana Ayah lihat, anak Ayah gambar apa sih?,” tanya Marwan sambil meraih buku gambar yang dipegang putranya sejak tadi.
Marwan mengamati gambar yang tidak sepenuhnya sempurna tetapi dapat dipahami. Sebuah potret keadaan jalanan dimana motor dan mobil menunggu di bawah lampu lalu lintas. Di depannya terdapat zebra cross dengan gambar orang yang sedang melintas.
“Ini gambar Ayah dan Bayu yang sedang naik motor tapi berhenti, karena lampunya merah. Tadi ada polisi yang datang ke sekolah dan ngajarin rambu-rambu lalu lintas, Yah. Terus Polisi itu juga bilang kalau mau nyebrang harus di zebra cross. Lihat yah, ini namanya zebra cross, warnanya putih sama hitam. Mirip kaya zebra kan Yah?,” jelas Bayu sambil menunjuk-nunjuk ke buku gambarnya.
“Bayu gambar ada nenek-nenek yang nyebrang di zebra cross, trus Ayah sama Bayu ngeliatin sambil nunggu lampu merahnya berubah. Kalau lampu merahnya udah berubah jadi hijau, orang nggak boleh nyebrang lagi. Polisi tadi juga bilang kalau mau nyebrang harus di zebra cross, karena itu yang paling benar. Tapi, kalau ada orang yang nyebrang di zebra cross trus ditabrak, nanti orang yang nabrak bisa masuk penjara Yah. Karna dia salah udah nggak berhenti pas ada zebra cross,” celoteh Bayu seolah memindahkan apa yang dikatakan polisi di sekolahnya kepada ayahnya.
“Wah Bayu hebat ya, tahu banyak tentang lalu lintas”
“Iya, Yah. Kalau besar nanti Bayu ingin jadi Polisi. Bolehkan Yah?”
Marwan mengelus kepala putranya sambil tersenyum. “Tentu saja boleh.”
“Horeee,” teriak Bayu senang. “Ibu, kata Ayah, Bayu boleh jadi polisi Bu,” teriak Bayu sambil berlari masuk ke rumah untuk menghampiri ibunya.
Marwan melepaskan sepatunya sambil merekam kembali penjelasan putra tunggalnya tadi. Lamunannya juga mengantarkan dia pada peristiwa tadi siang saat hampir menabrak ibu-ibu yang tengah menyebrang di zebra cross. Apa jadinya kalau tadi dia sampai menabrak si ibu. Apakah dia akan dituntut dan dimasukkan ke dalam penjara. Marwan menggelengkan kepalanya seolah mengusir pikiran dan kejadian buruk yang hampir terjadi. Yang dia tahu, dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Nampaknya Marwan sungguh serius untuk tidak mengulangi perbuatannya yang kerap kali melanggar peraturan lalu lintas ataupun berkendara tidak tertib. Hal itu dibuktikannya dengan mengabaikan panggilan yang terus menggetarkan ponselnya. Menjawab telpon dan berbicara sambil berkendara sering kali Marwan lakukan. Padahal, hal itu menjadi penyebab utama kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian.
Tetapi kali ini, Marwan mengabaikan panggilan tersebut dan terus melaju dengan riang gembira. Marwan berhenti menjadi ayah pencitraan yang berperilaku tertib berlalu lintas di hadapan putranya. Dia ingin tulus berperilaku tertib lalu lintas untuk keselamatan dirinya. Ponsel Marwan yang terus bergetar tanpa henti membuat dia meminggirkan kendaraannya dan berhenti untuk menjawab telpon.
Sayangnya, baru saja Marwan ingin menekan tombol jawab, panggilan itu telah berhenti. Terdapat 5 panggilan tidak terjawab dan sebuah pesan singkat dari tetangganya. Tumben sekali tetangga Marwan menelponnya hingga berkali-kali, pikir Marwan. Marwan membuka pesan singkat yang dikirim tetangganya itu. Lututnya terasa lemas begitu membaca pesan di dalamnya.

Pak Marwan, tolong angkat telponnya. Keadaan darurat. Bayu dan istri bapak menjadi korban tabrak lari saat menyebrang di jalan.
* * *
Marwan berhenti di persimpangan saat lampu lalu lintas menyala merah. Pikirannya kalut, matanya sudah berkaca-kaca, tangisnya hampir pecah. Dia tak sabar untuk sampai di Rumah Sakit dan memeluk kedua orang yang amat dia cintai, yaitu istri dan anaknya. Kaki Marwan sudah menginjakkan giginya, meski lampu lalu lintas masih menyala merah.
Marwan melemparkan pandangannya ke sekitar dan tidak menjumpai sosok berbaju coklat yang biasanya berdiri mengawasi. Ini kesempatan yang baik bagi Marwan untuk dapat menerobos lampu merah agar dapat segera sampai di Rumah Sakit. Beberapa pengendara motor lain juga nampak mencari celah dan berhati-hati untuk menerobos lampu merah. Marwan hampir memacu gasnya ketika seakan dia mendengar bisikan di belakangnya.
 “Bayu kalau sudah besar nanti mau jadi seperti Ayah pokoknya. Yang selalu pake helm dan patuh lalu lintas, meski nggak ada Pak Polisi.”
Marwan terkaget dan menoleh ke belakang. Tak ditemuinya pemilik suara itu di jok belakang motor Marwan. Marwan semakin kalut. Dia ingat benar akan ucapan Bayu saat mereka hendak pergi membeli robot-robotan sore itu. Marwan menurunkan gigi motornya dan menunggu lampu lalu lintas itu berganti hijau, baru kemudian melanjutkan perjalanannya. Dia berharap kalau sesuatu yang terburuk tidak akan terjadi.

* * *
Tangis Marwan benar-benar pecah ketika menemukan istri dan anaknya yang telah tertutup kain putih di ruang mayat. Keduanya menjadi korban tabrak lari oleh pengendara motor yang tidak bertanggung jawab ketika mereka sedang menyebrang. Saat kejadian, jalanan memang tengah lengang tetapi terdapat seorang saksi yang menyaksikan ibu dan anak itu menyebrang dengan santai di zebra cross. Tanpa disadari sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju kencang dan menghantam mereka. Keadaan yang sepi tersebut menjadikan kesempatan yang baik bagi si penabrak untuk melarikan diri.
Marwan hanya bisa menangisi keduanya. Terus meratapi sambil terus bertanya pada dirinya sendiri. Inikah balasan untuknya karena kerap melanggar peraturan lalu lintas ? Tapi mengapa balasan ini harus diterima oleh istri dan anaknya ? Mengapa Tuhan tidak menurunkan balasannya langsung pada dirinya? Tak ada yang mampu menjawab semua pertanyaan Marwan. Tak ada seorangpun.

End

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com



October 27, 2015

Dating with My Sibling in Geometry Ice Cream Cafe





Heloo readers. Ini memang hampir Oktober tetapi kita semua setuju bukan kalau musim kemarau belum juga selesai. Nah panas-panas memang asyiknya makan es. Tapi kalau saya pribadi nggak sembarang es, lebih suka es krim karena lebih aman dan bergizi juga.

Yes, I am an ice cream seekers and ice cream lovers. Kali ini akan mereview ice cream café yang baru buka di kawasan Tangerang Selatan, lebih tepatnya di Pamulang. Yes, that was Geometry Ice cream yang lokasinya ada di depan Jalan Masuk Perumahan Witanaharja. Alamat lengkapnya Jl. Siliwangi Raya (Ruko Pamulang Permai)

Geometry Ice cream ini berkonsep café and resto yang memiliki 2 lantai dengan pencahayaan yang menghangatkan. Meja dan kursinya berbentuk bangun segienam, segiempat dan segitiga. Cukup unik dan kreatif. Di lantai dasar, tersedia juga beberapa mainan pintar untuk anak yang terdiri dari bangun-bangun geometri yang bisa dimainkan sambil makan es krim. Di lantai 2, ukurannya lebih luas dan ada mini stage untuk life music gitu. Untuk toilet, kamu nggak perlu khawatir karena tersedia di lantai 1 dan 2.

Suasana di Geometry Cafe (abaikan adik saya)
Geometry Ice cream tidak hanya menyediakan menu es krim, tetapi juga berberapa assorted cake (seperti rainbow cake, pancake, Lava cake, waffle, black forest), makanan (seperti dimsum dan french fries) dan minuman. Untuk range harganya berkisar Rp. 18.000 – Rp. 45.000. Anyway kemarin agak bingung sih mana yang menu es krim, mana yang cuma minuman biasa karena nama menunya unik-unik. Ada sweet cocoa, matcha sakura, chocky pocky, orion candy, rainbow bridges, purple crush, mocca locca, sugar star, giant love couple. Pada akhirnya saya memesan burger ice cream, hot dog ice cream, dan banana split.

Untuk hotdog ice cream dan banana split kamu bisa pilih 3 scoop es krim dengan rasa yang berbeda ataupun sama, tergantung selera. Pilihan rasanya ada 4, yaitu vanilla, green tea, rum raisin dan coffee & cream. Sementara untuk burger ice cream, kamu hanya bisa pilih 2 scoop. Anyway Rum Raisin nya super enak deh.

Burger Ice Cream yang udah dihancurin karena mau dimakan sama adik saya
Hotdog Ice Cream
Hotdog ice cream dan burger ice cream terdiri dari chocolate and strawberry caviar, rainbow chocolate crush, choco or strawberry syrup. Yang membedakan hanya bentuk rotinya, tapi keduanya sama sama menggunakan frozen bread. Nah banana splitnya agak unik sih karena kalau lazimnya Banana Split itu berbentuk banana boat, yang ini tidak. Banana split di Geometry Ice cream disajikan dengan piring lebar dengan potongan pisang kecil-kecil di pinggirnya. Tetapi tetap nyummy.
Banana Split
Tempatnya recommended banget untuk keluarga maupun rumpi-rumpi cantik atau tempat hangout bareng gebetan (hehe). Karena belum lama buka, maka masih ada promo discount 10% sampai akhir Oktober ini. Mungkin bisa masuk ke weekend list kamu, readers.

Price
Banana Split Rp. 22.000
Hotdog Ice Cream Rp. 25.000
Burger Ice Cream Rp. 25.000
Assorted Cake Rp. 25.000
Rainbow Cake Rp. 35.000
Blackforest Cake Rp. 35.000
Ice Cream Scoop Rp. 18.000
Mix and Match Rp. 18.000

chocky pocky, orion candy, rainbow bridges, purple crush, mocca locca, sugar star Rp.25.000
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis