January 31, 2012

Memories


Aku kembali menjejakkan kaki di sebuah tempat yang hampir 7 tahun ini tak kudatangi. Tak ada kerikil atau debu yang tersibak begitu angin berhembus. Tak ada lagi suara yang dihasilkan manakala sepatu menginjak kerikil. Aku berpijak pada halaman yang kini telah beraspal hitam pekat.

Mataku tertuju kepada mereka—lima gadis cantik—yang duduk menungguku di bawah pohon mangga. Pandanganku juga tak bisa dikatakan luput oleh empat orang lelaki yang bercengkrama di atas motor mereka, yang juga menungguku dan yang lainnya. Mereka adalah temanku, teman 6 tahunku yang tak kutemui selama 7 tahun.

Pelukan hangat itu datang, disusul canda dan tawa. Pohon mangga yang berada di hadapanku terasa berbeda. 7 tahun lalu, rasanya pohon ini begitu tinggi untukku dan juga yang lainnya. Perlu perjuangan untuk menaiki semen yang menyelimuti pohon mangga yang dibentuk khusus melingkar sebagai tempat duduk itu rasanya. Perlu melompat untuk turun dari tempat itu. Kini, kami duduk—di semen yang dirancang khusus sebagai tempat duduk itu yang mengelilingi pohon mangga—dengan kaki menjejak ke tanah. Kami bertambah tinggi? Ataukah pohon mangga ini yang menyusut? Oh rasanya yang ke-2 tidaklah rasional.

Mataku menyapu keadaan sekitar. Bangunan ini berubah secara kasat mata. Meski tetap memiliki 2 lantai, bangunan ini tak mampu menyembunyikan pancaran warna kuning dan hijau yang menyelimuti di setiap sudut bangunan. Bangunan ini semakin ramai dengan ‘pernak pernik’ di sana sini. Dan..seperti yang telah diceritakan banyak orang kepadaku. Taman tempat kami bermain itu kini telah digantikan oleh kokohnya bangunan yang disebut sebagai Taman Kanak-Kanak.

Tiang bendera yang 7 tahun lalu berada di Timur, kini berada di Utara.

Angin sore membelai kami semua yang berada di sana, seolah menyambut dan menyampaikan rasa rindunya kepada kami. Terasa menyejukkan dan nyaman. Hari semakin gelap. Kami melangkahkan kaki menuju koridor menuju toilet.

Kini, di setiap ruangan tertera plang yang menunjukkan nama ruangan dengan 2 bahasa. Penempatan ruangan tidak berbeda sejauh ini. Koridor itu masih sama. Laboraturium, UKS, Gudang, Toilet dan di sisi sebelah kiri adalah ruangan Kelas 2.

Di sepanjang koridor laboraturium terdapat rak yang berisi bacaan—entah apa—dan lemari kaca berisikan berbagai macam piala. Piala itu baru, berkisar antara tahun 2009. ya, 4 tahun setelah kepergian kami.

Ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah) terasa lebih ‘hidup’ dengan jadwal kelompok kerja yang terpampang di sebelahnya. Padahal, 7 tahun yang lalu, UKS dan gudang seperti ruangan yang begitu tertutup dan menyeramkan bagi kami. Toilet yang diperuntukkan bagi guru dahulunya, kini menjadi toilet wanita. Sedangkan toilet yang berada di pojok—yang begitu menyeramkan bagi kami dulunya—yaitu toilet siswa kini menjadi toilet pria.

Dinding di sepanjang koridor toilet kini menjadi ramai berhiaskan foto acara Kompetisi Seni maupun Buka Puasa Bersama. Lewat foto itu, aku memandangi wajah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang sempat kukenal dan tersisa. Berharap bisa bertemu dengan mereka secara langsung, tapi bukan malam ini tentunya.

Aku mengintip ruangan yang pernah menjadi tempatku belajar saat kelas 2. Di dalamnya berisikan ‘pernak pernik’ lain yang lebih ramai. Pengaturan meja dan kursi sangat jauh berbeda dibandingkan saat aku berada di dalamnya. Penataannya terkesan jauh dari monoton dan penuh inovasi.

Aku tak bisa memungkiri perasaan yang berkecamuk dalam hatiku. Sepertia ada yang berbeda dari setengah bangunan ini. Ada yang berubah, terlepas dari warna cat dan ‘pernak pernik’ di sana sini. Bangunan ini menjadi terasa sempit untukku. Koridor ini menjadi begitu sempit. Seingatku, dahulu kami harus berlari sepanjang koridor menuju toilet—yang berada di ujung koridor—. Tetapi sekarang, koridor ini tidak terlalu panjang ternyata.

Ya, bangunan ini menjadi sempit. Meski belum seluruhnya kami telusuri—karena hari sudah gelap dan penerangan sangat terbatas—setidaknya setengah koridor ini sudah cukup mewakili.

Jadi ingat Raditya Dika dalam bukunya Manusia Setengah Salmon.

“untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan”

Ya, alasan itulah yang membuat kami ‘pindah’ dengan harapan mencapai hal yang lebih baik, meniti impian kami.

Kami duduk dan berbincang di bawah cahaya lampu di koridor Laboraturium. Kami seolah memperkosa habis ingatan yang pernah ada di Sekolah Dasar kami tercinta, SDN Bangka 01 Pagi. Kami mengupas habis semua peristiwa yang pernah kami lalui. Memutar roll film kenangan dalam ingatan masing-masing. Sungguh, ingin rasanya roll film itu diputar di sebuah layar lalu disaksikan bersama dan tertawa bersama. Tetapi nyatanya kami tenggelam dalam awan-awan yang kami ciptakan sendiri sambil saling mengingatkan.

Kenangan bermain karet, sikat gigi di sekolah setiap hari Jumat, teman sekelas yang pup di celana, nasi uduk 500 perak, tempe bihun dan sambal kacang yang antre di kantin, kehebohan hantu Mr.Gepeng, bermain buaya-buayan di kolam taman, bermain AFI, bermain peran menjadi dokter dan pasien rumah sakit jiwa, pramuka di setiap sabtu yang panas, bermain bola bekel, meminjam sepatu teman yang beroda, perkemahan Sabtu Minggu di sekolah.

Cat kuning dan hijau bisa menghapus cat krem dan coklat tua yang menjadi pemandangan kami sehari-hari di 7 tahun yang lalu, tetapi tak bisa menghapus setiap kenangan kami di draft pikiran masin-masing.

Malam itu, hari Sabtu. Waktu yang kami korbankan dengan orang-orang tersayang untuk orang tersayang lainnya. Dengan tujuan mengunjungi rumah guru agama kami yang telah berpulang seminggu yang lalu, kami sekaligus menjejakkan kaki kami di tempat pertama kali kami bertemu.

Kehilangan seseorang justru menjadikan orang lain bersatu, reuni. Sepertinya itu pilihan kata yang tepat.

Terima Kasih. Tour ini belum selesai, belum ada setengahnya bahkan. Kami akan kembali. Lagi.


Fast Fiction


Astaga ! siang ini rasanya benar-benar bingung mau ngapain.

Tidur siang yang biasanya jadi hobi entah kenapa gue urungkan.

Anyway. Liburan gue telah terpakai setengah bulan nih. Setengah bulan yang udah lewat bisa dibilang gue pake dengan having fun. Kumpul-kumpul bareng temen. Mulai dari temen SD sampai SMA. Senang banget bisa ketemu sama mereka.

IP gue juga udah keluar, tapi belum tahu siapa yang bakalan jadi Dosen Pembimbing Akademik gue. Allhamdulillah IP pertama lumayan memuaskan. Setengah dari resolusi 2012 gue tercapai.

Masih ada 1 bulan lagi liburan gue—yang belum tahu bakalan mau ngapain. Yang jelas nggak mungkin having fun nya gue perpanjang jadi sebulan lagi. Udah ah cukup.

Hemmm nampaknya 1 bulan yang menunggu bisa gue gunakan untuk olahraga? Ya, akhir-akhir ini pinggang gue sering sakit. Akibatnya sampai bikin gue meringis sakit saat berjalan. Parahnya, rasa sakitnya suka datang gitu aja, tiba-tiba. Tanpa ketuk pintu dan bertanya gue ada dimana. Seperti waktu itu, abis pulang karaokean bareng Pamulangerss, pas turun dari angkot pinggang gue langsung sakit dan menjalar ke kaki, jadinya buat jalan langsung sakit.

Yaudah, kayanya jogging kecil di pagi hari harus mulai gue terapkan nih. Doain ya readers, supaya gue nggak males bangun. Haha

Ohya, blog gue punya label baru. Namanya fast fiction. Cerita fiksi yang ditulis cepat, begitulah kira-kira. Nggak jauh dari cerpen juga sih menurut gue.

Temen gue, Radini udah duluan ngisi blognya dengan Fast Fiction, lalu setelah lama baru gue tertarik dan ikutan coba buat fast fiction, yang menurut gue adalah cerpen.

Menulis fast fiction seperti media gue untuk konsisten dan nggak malas buat langsung menuangkan ide-ide segar yang berputaran di otak untuk memindahkannya di secarik kertas atau di komputer butut gue.

Gue berharap Label Fast Fiction ini bisa diisi secara konsisten kayak label best moment atau review.

Fast Fiction pertama gue judulnya I’m Jealous, Boy. Terinspirasi dengan lagunya Dewa yang judulnya Aku Cemburu.

Untuk selanjutnya, gue juga akan menhgabiskan liburan dengan menulis fast fiction dan beberapa akan gue share ke readers. Gue sangat mohon kritik dan sarannya atau sekedar kasih komentar atas fast fiction gue.

Komentar, kritik, dan saran bisa via sms ke ponsel gue, twitter, facebook atau di blog ini langsung. Haha, kesannya kaya penulis hebat aja ya gue. Mohon maaf (ojigi)

To be honest, gue cuma pengen berkarya dengan lebih baik. Mendengar komentar sekitar, bukan hanya mengikuti ego yang mengakar.

Terima Kasih.

January 29, 2012

I'm Jealous, Boy !


Bibir mereka terus bertemu. Semakin erat dan terbawa nafsu. sepasang kekasih itu terus menikmati sentuhan bibir satu sama lain di tengah keramaian pesta tahun baru. Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang memang meminta mereka melakukan hal menjijikan itu di depan umum. Zara dan Nico seperti dimabuk akan cinta, seperti ungkapan murah ‘dunia milik mereka berdua’ telah merantai mereka.

Mataku perih. Tak dapat lagi kusaksikan kekasihku menempelkan bibirnya ke orang lain yang tak dicintainya, yang hanya dijadikan tameng untuk hubungan kami. Aku tak mungkin meneteskan air mata sat ini, di depan kerumunan orang yang tertawa puas melihat adegan menjijikkan itu. Sesekali aku menundukkan wajahku, memilih untuk memandangi renda-renda cantik yang menghias taplak meja atau rangkaian bunga plastik yang indah serta api yang perlahan menggerogoti tubuh lilin dalam gelas mungil.

Lalu sesekali aku mengangkat kepalaku, melihat Nico tak sedikitpun melepaskan bibirnya dari bibir milik Zara. Kutundukkan kembali kepalaku dan kulirik arloji manis pemberian Nico 2 hari yang lalu sebagai hadiah ulang tahunku.

Usai. Sudah 60 detik berlalu, waktu yang diminta sebagai tantangan adegan menjijikkan itu. Kulirik lagi detik yang berjalan dalam arlojiku. Ya, aku yakin sudah 60 detik yang dijanjikan itu telah berlalu dan kini terlewat hingga 15 detik. Aku melemparkan pandanganku ke orang-orang sekitar. Mereka sungguh menikmati apa yang saat ini menjadi tontonan mereka. nampaknya tidak ada satupun orang yang sadar kalau waktu yang dijanjikan sebagai tantangan itu telah berakhir.

Kuarahkan mataku pada objek yang menjadi sumber perhatian orang banyak dalam pesta kecil itu. Dua orang bodoh itu, yang salah satunya kekasihku belum juga melepaskan bibir mereka satu sama lain. Aku ingin berteriak, meminta mereka menyudahi adegan yang menyayat hatiku, tetapi nampaknya mereka telah tenggelam dalam sebuah nafsu setan.

Aku beranjak pergi dari keramaian pesta itu, mengajak segenap perasaanku yang tersakiti dan tubuhku yang terasa lemas tak berdaya. Tak ada yang bertanya kemana aku ingin pergi, tak ada juga yang peduli. Padahal aku juga kekasih Nico. Tetapi tidak ada satupun orang yang tahu. Karena akan menjadi gempar jika banyak yang tahu.

Toilet menjadi tempat persembunyian diriku, tetapi bukan tempat persembunyian bagi perasaanku. Aku menumpahkan semua perasaanku. Aku menangis sekeras-kerasnya di depan sebuah kaca besar yang memantulkan bayanganku. Mataku merah dan pipiku basah..tak ada maskara yang luntur atau lipstick yang pudar karena aku memang tidak menggunakannya.

Dilihat dari sisi manapun, Zara memang lebih pantas menjadi kekasih Nico. Dia wanita yang cantik, memiliki otak brilliant dan kaya. Yang menjadi nilai tambah lagi, dia begitu ramah dan rendah hati. Kekayaannya tidak menjadikannya angkuh. Hal itulah yang membuatku sulit untuk membenci Zara.

Suara pintu toilet yang dibuka menyadarkan lamunanku. Segera kusapu air mataku dengan punggung tanganku. Jangan sampai ada orang yang melihatku berteman air mata di toilet ini karena mereka pasti akan memandangku aneh.

Lewat cermin yang tadinya memantulkan bayanganku, kini kulihat juga memunculkan bayangan orang lain. Orang yang kukenal. Bayangan Nico.

“Aku cari kamu kemana-mana, tahunya ada di toilet. Kalau mau ke toilet, seenggaknya kamu titip pesan dong ke temen-temen kalau mau ke toilet, jadi aku nggak pusing nyariin kamu kemana-mana”, ujar Nico dengan seulas senyum bahagia karena telah menemukanku.

“Iya, maaf”, jawabku singkat dengan suara bergetar dan terus membelakanginya.

Tangan Nico meraih bahuku dan memutar badanku untuk berbalik ke arahnya. Nico menghadapkan wajahnya tepat di depan wajahku. Mata bulatnya yang coklat menatap lurus kedua mataku.

“Kamu habis nangis ?”, tanyanya

Aku tak menjawab.

“Kenapa ?”

Aku masih diam dan memilih untuk tidak menatap mata Nico.

“Kamu cemburu ?”

Aku masih diam tapi hatiku panas dan benci dengan setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Nico. Semua itu pertanyaan bodoh bagiku.

“Sayang, aku nggak ngerti kalau kamu terus begini. Setiap aku tanya, kamu cuma diam. Kamukan punya mulut, jawab dong !”, ungkap Nico kesal.

Aku mengangkat wajahku yang dari tadi tertunduk ke lantai di toilet

“Ya, aku cemburu. Aku punya perasaan, Nic. Siapa sih yang nggak sakit hatinya ngeliat bibir pacarnya nempel sama bibir cewek lain ”, ungkapku setengah berteriak.

“Sayang, itukan cuma tantangan dari temen-temen. Buat have fun aja. Biar suasana pesta tahun baru ini makin ramai”

“Ya tapikan tantangan itu banyak, kenapa harus kissing di depan umum yang dipilih?”

“Sayang, itu tantangan dari temen-temen. Sometimes challenge is crazy you know. Come on, sweetheart, jangan ngambek lagi dong”, rayu Nico

“Kamu bisa bilang nggak, kalau kamu mau. Tapi kamu emang maukan nyobain bibirnya Zara?”, ucapku pedas

“Yaudah. Aku tahu kamu cuma envy”, jawab Nico singkat.

Tak berapa lama, Nico mengejutkanku dengan menempelkan bibirnya di atas bibirku. Tangannya mendekap pinggangku dan merapatkan tubuhku ke arahnya. Seketika aku menolak dan memaksa melepaskan tubuhku dari dekapannya.

“Kamu kenapa sih ?”, tanya Nico dengan nada kesal dan tatapannya yang tajam.

“Bibir kamu bekas wanita itu. Aku nggak mau”, jawabku ketus.

Nico hanya mengusap bibirnya perlahan dan diam. Hening. Tak ada yang bicara di antara kami.

“Kita putus aja deh Nic. Aku nggak bisa terus-terusan jadi kekasih gelap kamu.”, ucapku membelah keheningan yang tercipta di toilet.

“Kenapa? Cuma gara-gara bibir aku nempel sama Zara ? Itu Cuma game, sweetheart supaya nggak ada yang curiga siapa aku sebenarnya. Kamu tahu itu. Dan kamu juga tahukan kalau hati aku cuma milik kamu”

“Tapi aku lihat, kamu beneran sukakan sama Zara ? mata kamu nggak bisa boong, Nic”

“Itu cuma perasan kamu yang terbakar cemburu, sayang. Kamu jadi negative thingking. Untuk mencairkan suasana gimana kalau kita jalan-jalan di pantai ?”

Aku hanya menunduk pasrah sambil melempar senyum khasku tapi Nico selalu tahu maksud dari semua itu. Nico langsung merangkul bahuku dan bergegas meninggalkan toilet hingga saat pintu toilet pria itu terbuka, Zara telah berdiri manis di sana.

“Lama banget sih di toiletnya Nic ? aku udah 15 menit nunggu kamu di depan toilet kali”, ujar Zara lembut khas wanita

Hening. Kami masih kaget akan keberadaan Zara yang tiba-tiba.

“Terus kok kamu ngerangkul Tian sih ?”, tanya Zara lagi yang sontak membuat aku dan Nico melepaskan rangkulan kami.

“Eh nggak ini tadikan cuma rangkulan sahabat aja, beib. Iyakan Ian ?”,

“Iya, Ra. lo jangan neting dong”, tambahku.

“Abis lo sahabatnya Nico tapi udah kaya pacar ke-2nya sih. Kemana-mana bareng. Bikin envy. Gue aja yang ceweknya masih sering dicuekin sama Nico”, gerutu Zara.

Nico langsung menggamit tangan mungil Zara

“Yaudah mulai sekarang aku nggak cuekin deh. Aku akan selalu ada di samping kamu”

Ucapan Nico begitu menyakitkan untukku. Aku tahu sampai kapanpun aku hanya kan menjadi kekasih gelapnya. Pasangan gaynya.

Nico merangkul Zara dan mengajaknya berjalan-jalan di pantai. Tangan kirinya menggenggam tanganku tanpa sepengetahuan Zara.. Kami bertiga menyusuri pantai di tengah malam tahun baru ini.

January 19, 2012

Trip to Puncak




Pagi 16 Januari 2012, Kampus UIN nampak seperti fatamorgana karena diselimuti kabut jika dilihat dari fly over Ciputat. Tetapi apa yang terjadi hari itu bukan sebuah fatamorgana, gue bersama AKU KECE (Akuntansi Kelas C) berencana menuju Puncak dengan agenda acara kelas untuk lebih menagkrabkan satu sama lain.

Rencananya sih bakalan berangkat jam 8 pagi dan yang terlambat akan ditinggal, tetapi nyatanya kita semua baru berangkat jam 9 pagi. Ada 3 mobil dan beberapa motor.

Gue ikut mobilnya Ilfi bareng Sella, Eva, Hadi, Faisal, Oji dan Mumu.

Sepanjang perjalanan kita ngomongin AIS dan seputar daftar ulang. Ngakak juga negeliat anak cowok duduk kaya ikan sarden, apalagi kalo inget ekspresinya Mumu

Karena keasyikan ngobrol dan dengerin ‘You belong with me’ Taylor Swift ft.John Mayer (verse.Acoustic), gue nggak sadar kalo botol minum gue tumpah dan membasahi pakaian yang gue kenakan.

Gue sendiri baru sadar setelah sampai di SPBU Cibogo. Beruntung ada sinar matahari yang menyinari, sambil menunggu rombongan lain, gue memutuskan berdiri di bawah matahari. Berjemur. Hemmm lebih tepatnya mengeringkan baju yang basah.


gue yang berjemur

Setelah hampir setengah jam transit di SPBU Cibogo, kita meneruskan perjalanan menuju villa. Ya, kita nyewa villa di puncak.

Karena nggak tega ngeliat anak cowo yang kayak ikan sarden, kita (cewe-cewenya) gantian duduk di belakang.

Perjalanan menuju villa—entah apa namanya—ditemani kemacetan di sepanjang pasar. Sambil menghancurkan jenuh menghadapi kemacetan, kita saling bercanda, berbincang mengomentari setiap toko oleh-oleh yang berjajar di sepanjang kemacetan.

Finally, sekitar pukul 11.30 kita sampai di villa—entah apa namanya-->

Sambil menunggu teman-teman lain, kita buka AIS, ngeliat nilai apa aja yang udah keluar. Notebooknya Rahma udah kaya warnet berjalan. Tiap orang pada ngantre buat numpang buka ais.

Abis itu kita shalat Zuhur berjamaaah and then duduk-duduk aja di depan kolam ikan. Kebanyakan rakyat AKU KECE yang telah kelaparan memasak mie instant dalam kemasan alias pop mie. Gue sih nggak ikutan soalnya gue nggak bawa pop mie. Hiks.

Yaudah nggak berapa lama kemudian kita dipanggil buat makan.

Agak shock sih karena porsi makan satu orang disediain buat dimakan 5 orang. Hemmm

Gue makan bareng Eva, Sella, Ilfi dan Faisal. Kebersamaan banget deh semua makan kaya pengungsi. Haha tapi seruu

Setelah makan, kita (gue, sellla, illfi) nyantai duduk di balkon sambil ngeliatin anak cowok maen bola di halaman villa, sesekali kita juga ngeliat drama korea romantis alias ngeliatin Hadi sama Eva pacaran.



Karena jenuh, kita (gue, Sella, Ilfi) memtuskan turun ke halaman untuk sekedar berfoto dan menginjakkan kaki di rumput yang hijau. Asli gue rasanya mau guling-guling ngeliat rumput*maaf atas kenorak-annya.

Beberapa anak cewe ikut turun dan akhirnya kita main bola. Gue satu tim bersama Tewe, Itha dan Ihdha. Sementara tim lawan adalah Sella, Ilfi, Junita dan Wanda.

Yaah namanya juga cewe maen bola. Permainannya lebih ke mulut yang teriak-teriak memekakakn telinga sambil menggiring bola. Tapi fun. Tim lawan berhasil menjebol gawang tim gue. Sambil melepas lelah, kita berfoto foto




Sudah lelah bermain bola, gue memutuskan untuk mandi. Ada alesan tertentu sih, apalagi kalau bukan karena gue pengen nonton drama korea. Haha

Sebelum nonton, gue sempet bantuin Ibu Dapur (Tewe, Eka, Andien, Ihdha, Junita) ,menyiapkan makan malam, ya meski hanya menyobek belasan bumbu mie instant. Haha

Gue dan Sella stay di depan TV nonton drama korea, tetapi gak terlalu konsen karena rame dengan aktivitas anak-anak yang juga lagi kumpul. At least hari itu nggak absent ngeliat wajahnya malaikat maut. Hoho

Senja di puncak nggak kalah indah dari Pamulang, sayangnya vanilla twilight terlihat jauh dari villa. Tapi kami sempat berfoto di balkon saat azan magrib menjemput.

Kita shalat magrib berjemaah dimana Fahmi bertindak sebagai Imam, dilanjut membaca yasin dan tahlil bersama. Dilanjut shalat Isya berjamaah, tetapi dengan volume massa yang menyusut dari sebelumnya.

Acara selanjutnya adalah makan malam. Menunya mie goreng dan nasi putih. Makannya juga bareng Eva, Sella, Ilfi dan Faisal. Setelah makan, gue cuma memerhatikan Wahyu H, M.Rizky, Faisal, Fahmi (siapa lagi lupa) bermain ‘tepok nyamuk’ sambil menunggu acara inti. Ohya sebelumnya disajikan permainan sulapnya Fahmi alias Fahmi Show yang gagal. Haha

Di waktu senggang yang emang banyak senggangnya dihabiskan bermain kartu, baik remi maupun uno.

Sekitar pukul 20.30 acara dimulai. Pembacaan pemenang polling. Mulai dari Terpaksa dipilih, teralay, termales, terkece, ter-good looking, teralay, terajin, terzalimi, teralim, terasingkan, tergalau dan King and Queen.



Rahma menyabet banyak pengharagaan.

Selanjutnya inti acara yaitu makrab (malam keakraban) baru dimulai. Kita (rakyat AKU KECE) berkumpul.

Ditemani oleh cahaya yang hanya bersumber dari 2 batang lilin putih, setiap unek-unek, kesan dan perasaan yang mengganjal selama berada di AKU KECE disampaikan oleh setiap orang. Ada beberapa yang samapai menitikkan air mata, nggak cewe nggak cowok.


Salah satu uneg-uneg yang tersampaikan mengajak gue untuk intospeksi diri dan nggak melaju terus dengan keangkuhan. Gue jadi harus lebih melihat dan pandai bersikap yang tidak melukai orang-orang di sekitar gue.

Acara selesai sekitar lewat tengah malam. Agenda selanjutnya tidur, tapi asli gue laper, ngajak yang lainnya buat pop mie pada nggak mau. Alhasil gue mengganjal perut dengan roti yang gue bawa.

Kita ke balkon dan melihat langit puncak dipenuhi bintang-bintang yang begitu banyak, yang sudah sangat jarang sekali ditemui di kota karena terhalang cahaya lampu-lampu gedung bertingkat.

Hanya segelintir anak yang memutuskan untuk tidur, kebanyakan masih bercengkrama. Bahkan gue, Sella, Ilfi, Oji, Mumu, Faisal, Hadi memilih main UNO. Gue kurang beruntung dan kena olesan bedak di wajah. Seskali kita juga main game 369. apaan tuh ? Tanya aja sama mantan calon teralay yaitu Mumu *peace mu !

Setiap sebelum bermain kita terlalu banyak mikir dengan hukuman apa yang akan diberikan bagi yang kalah, hingga tidak jarang justru berakhir dengan nggak jadi main. Aneh sekali ya kita memang. Berbagai hukuman sering diajukan, mulai dari yang kalah harus jongkok sepanjang permainan, update status memalukan, disuruh melakukan tantangan, ditampar pake ikan, atau dijitak kepalanya. Nggak ada yang bener deh. Dan justru bikin permainan lama untuk dimulai.

Karena dirasa sudah cukup malam, kita (gue, Sella, Eva, Ilfi) tidur sekitar pukul 01.30.

Dinginnya nggak kenal ampun, padahal gue nggak pake selimut dan kaos kaki, nggak kedapetan guling juga. Oligopolis guling adalah Ilfi dan Eva, sementara Sella dengan tenang memonopoli selimut. Betapa kejamnya kalian *mojok di pojokan.

Pukul 05.00, Eka dengan mukena coklatnya membangunkan kita untuk mengajak shalat subuh berjamaah. Karena terlalu lama mengulur waktu, kita nggak ikut jamaah deh tapi meimlih munfarid.

Awalnya berniat untuk tidur lagi, tetapi nggak jadi. Gue mengisi perut dengan pop mie yang gue nitip beliin Ghea semalem. Setelah itu, kita bergegas jalan-jalan keluar villa. Menelusuri jalan yang kita nggak tahu kemana tembusannya, kita terus berjalan sampai akhirnya menemukan jalan tembusan.


Sambil menunggu acara selanjutnya, kita main kartu lagi hingga akhirnya dipanggil kumpul ke halaman untuk game darat, laut, udara yang dipandu Walad.

Hukman bagi yang salah adalah menunjukkan gaya yang mengikuti musik-musik yang..sungguh ‘nggak banget’ buat gue. At least gamenya seru. Berakhir dengan Fandi yang digiring menuju kolam renang untuk diceburkan.

Gue bersama yang lainnya cuma melihat dari kejauhan. Eva mengajak kita (gue, Sella, Ilfi) untuk bersiap-siap melepas jam tangan kalau-kalu nanti giliran kita yang diceburkan ke kolam.

Gue dengan santainya menolak karena gue pikir mereka (anak cowok) nggak akan sampai hati menyeburkan kita ke kolam renang. Tetapi dugaan seorang Fitria Wardani salah besar. Junita teman gue sudah siap dibujuk hem… lebih tepatnya dipaksa ingin diceburkan, tapi sekuat hati dia menolak karena sesuatu yang akhirnya bisa ditolerir.

Junita, sasaran Walad yang telah gagal untuk diceburkan membuat Wald mencari mangsa lain. Pandangannya dilempar ke gue. Tangan gue langsung dicengkram, dengan pertanyaan singkat seketika gue bersiap langsung ingin diceburkan.

Dan beginilah kelebayan gue mendeskripsikan peristiwa tak berkelas itu

Lalu dalam hitungan detik, Walad dan sekutunya memegangiku dan siap membujukku untuk diceburkan ke kolam renang. Rizky lebih cekatan dengan langsung membuat kaki kiriku tak lagi menjejakkan ke rumput basah sisa hujan semlam. Dia membuat aku kehilangan keseimbanagan, lalu entah tangan siapa mengangkat kaki kananku, sementara 2 tanganku sudah dicengkram sejak kapan tau oleh siapa tau, salah satunya Walad. Dua tersangka utama yang sangat kuingat adalah Walad dan Rizky, entah siapa yang lainnya—yang juga mengarakku bagai kambing guling menuju kolam renang. Ronta dan teriakanku dengan alasan “gue nggak bisa berenang. Sumpah. Lo pengen gue mati tenggelam apa?” tak merubah apapun. Setelah dipastikan tidak membawa ponsel dan juga jam tangan kesayanganku telah dipisahkan dari lenganku, tanpa ragu mereka membuatku terlempar ke kolam renang dengan air yang bagaikan es batu dan juga kotor pastinya

Bete sih harus basah-basahan jadi bawa baju kotor yang berat. Tetapi justr peristiwa itu yang jadi berkesan dan seru di acara ini buat gue pribadi. Honestly, baru pertama kali lho gue diceburin ke kolam renang secara tidak berkelas. Haha

Ohya, karena berniat menolong gue, Ilfi ngikuti sampai ke pinggir kolam, tetapi naas dia justru jadi korban selanjutnya yang diceburkan ke kolam. Saat menepi di pinggir kolam, nampak dari kejauhan Faisal digiring menuju kolam renang. Nggak digotong ala kambing guling ya, di diperlakukan lebih berkelas.

Karena udah terlanjur basah, kita bermain-main di sisi kolam sambil mengeringkan kerudung.

Karena gigi sudah bergemelutuk pertanda kedinginan, gue dan Ilfi memilih kembali ke villa untuk mandi. Setelah itu, waktu senggang lagi dan kita main uno di balkon. Sella dengan tragis harus menerima olesan bedak dengan sangat tidak berkelas dari gue, Oji, Ilfi, Faisal, Fandi, Mumu.

Kita dipanggil makan, jam 9. entah breakfast atau lunch. Menunya nasi goreng dan mie goreng, kali ini gue makan bersama Faisal dan Chandra.

Waktunya senggang lagi, kita meneruskan bermain uno dan sella dengan tragis terpaksa kalah lagi, Oji juga, Fazril juga.

Saat seru bermain uno di balkon, kita dipanggil turun untuk acara tukar kado. Kadonya diundi. Semuanya diminta mengambil nomor terlebih dahulu lalu menukarkan kado yang bernomor sama. Masing-masing langsung membukanya. Ada yang dapat celengan, gantungan kunci, sandaran bantal mobil, sandal, sikat gigi, korek gas, kartu remi, buku, jam weker, pigura, headset, kipas, dsb. Gue mendapat 2 notes imut beserta suart unyu di dalamnya, ternyata kadonya berasal dari Elfi. Teriam kasih

Seperti kata Faisal, “Kadonya Fitria banget”.

Setelah itu kita foto bersama satu kelas dengan fotografer handal Icha dan Tewe. Terima kasih untuk kalian yang sudah mengabadikan gambar rakyat AKU KECE.



Acara selanjutnya shalat Zuhur berjamaah dan packing. Sebelum pulang, kita semua bersaaman, saling meminta maaf dan mengucapkan terima kasih. Berbagai pelukan juga ada di sana. Haru bercampur senang rasanya.

Mungkinkah kita sekelas lagi, bermain bersama seperti 2 hari 1 malam ini? Kita nggak tahu, yang pasti triama kasih AKU KECE yang telah menjadi bagian kehidupan gue dan menjadikan gue bagian dari kehidupan kalian.

Sepanjang perjalanan pulang, hujan mengguyur. Seolah menangisi perpisahan kami. Kami pulang dengan rasa lelah yang menggunung serta pengalaman, kenangan dan pelajaran hidup yang tak akan bisa kami temui dimanapun.

Sekarang, kami semua hanya duduk manis di rumah, menunggu nilai dan IP. Layar komputer atau gadgetlah yang menjadi penghubung kami berkomunikasi selanjutnya.

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis