November 21, 2015

Love is Not the Price Sight #KeputusanCerdas

Love is Not the Price Sight
Oleh
Fitria Wardani

“Kamu bisa nggak untuk fokus makan dulu dan berhenti mainin tablet kamu itu,” ujarku kesal pada Malik setelah 15 menit berlalu, ia belum juga menyentuh makanan yang dipesannya.
“Aku nggak lagi main, sayang. Aku lagi mencari bongkahan berlian,” jawab Malik santai tanpa melepaskan pandangannya dari tablet di tangannya.
Mata coklat Malik yang menatap tajam setiap dia sedang fokus menekuni pekerjaannya adalah sudut favoritku. Dahinya yang berkerut dan ekspresinya menggigit bibir setiap menemuni kesulitan adalah pelengkapnya. Aku selalu membiarkan pemandangan itu bertahan hingga berjam-jam, karena hal itulah yang membuatku semakin dalam jatuh cinta dengannya. Tetapi, tidak dengan sekarang. Dengan waktu bertemu kami yang semakin sulit karena sama-sama sibuk bekerja, hitungan detik terasa berharga bagiku untuk dapat memiliki quality time bersamanya.
“Bongkahan berlian apa sih ? Game kan intinya,” tanyaku dengan sedikit meninggikan suara. Meski kutahu hal itu akan mengundang pasangan mata ke arahku. Tetapi, siapa peduli kalau hal itu sekaligus membuat mata Malik menuju ke arahku.
Bingo ! Malik segera mengubah posisi duduknya yang miring dengan kaki disilangkan menjadi tegak dan lurus menghadap ke arahku, kekasihnya selama 4,5 tahun terakhir.
“Attaya, kamu tentu tahu dan berpendidikan bukan ? Kita sedang makan di restoran ternama, yang untuk bisa lunch di sini saja, aku harus booking seminggu sebelumnya. Dan kamu juga tentu tahu, kalau kamu sedang makan di tempat seperti ini, nggak seharusnya kamu bersikap nggak sopan dengan bicara setengah teriak seperti tadi,” jelas Malik panjang lebar dengan setengah berbisik kepadaku. Persis seperti seorang ayah yang sedang membisiki putrinya tentang norma dan sopan santun.
“Aku nggak butuh lunch di restoran yang untuk bisa makan aja harus nunggu seminggu, tetapi ujung-ujungnya aku cuma dicuekin sama kamu. Aku cuma mau makan siang sambil ngobrol sama pacarku yang super sibuk ini. Apa itu salah ? Hah ?,” tanyaku sambil meletakkan garpu dan sendok dengan kasar.
Aku tahu, sekarang di restoran ternama dengan alunan musik Eropa ini semua pengunjung tidak hanya mengirimkan pandangannya ke arahku. Mereka juga saling berbisik. Aku tak peduli. Toh aku tak mengenal mereka. Sementara reaksi Malik terlihat malu sekali dengan kelakuan kekasihnya barusan. Terbukti ia menyapukan kedua telapak tangannya dari dahi dan berakhir dengan menopang dagunya dengan ujung-ujung jarinya. Tanpa kata-kata untuk menenangkanku.
* * *
Harus kuakui restoran Eropa ternama itu memang eksklusif, sampai-sampai tidak ada taksi yang terparkir di depannya. Mungkin karena berada di dalam kompleks hotel berbintang atau karena restoran itu tidak ingin memiliki pengunjung yang melarikan diri dari kekasihnya, seperti aku. Ah, entahlah. Aku hanya terus berjalan dengan high heels hitamku di bawah teriknya matahari untuk dapat menemukan pintu keluar atau taksi yang bersedia mengangkutku.
“Kamu mau sampai kapan jalan dengan high heels setengah jutamu itu, Taya ?,” tanya sebuah suara yang sudah pasti milik Malik.
Aku berhenti dan menundukkan kepala melihat ke arah high heels yang kukenakan hari ini. Aku berani bersumpah kalau high heels ini baru ku beli seminggu yang lalu dengan uangku sendiri. Tetapi, aku juga berani bersumpah kalau Malik juga tahu merk high heels yang kukenakan. Tuan Branded itu mungkin punya tumpukan katalog fashion wanita pria di rumahnya, hingga hapal luar kepala. Hufft. Menyebalkan. Tak terasa lamunanku mengantarkan Malik tepat di hadapanku.
“Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud ngajak kamu lunch dan nyuekin kamu, sayang. Aku sibuk dengan tabletku karena aku…”
“Sedang menganalisa market pagi tadi. Untuk bisa tahu selepas lunch nanti, kamu mau beli atau jual saham apa? Online Trading lagikan?,” jelasku memotong penjelasannya.
“Nah itu kamu tahu. Kamu emang pacar aku yang paling pintar,” puji Malik sambil mencubit hidungku.
“Pacar yang paling pinter? Maksudnya ada pacar kamu yang lain yang kurang pintar?,” tanyaku ketus.
“Oh Tuhan…kenapa Engkau kirimkan kekasih yang sangat pintar seperti Attaya kekasihku ini?,” tanya Malik dengan suara agak keras dan menengadahkan kepalanya ke langit.
Aku lekas membungkam mulutnya malu. “Apaan sih? Malu tahu,” tanyaku sedikit berbisik.
 Malik meraih tangan yang kugunakan untuk membungkam mulutnya dan entah darimana, sebuah kotak seukuran kartunama kini berada di tanganku. Bukan! Ini pasti bukan cincin. Lagipula mana mungkin Malik, Tuan Branded yang selalu hafal dengan harga setiap benda di depan matanya melamar kekasihnya di bawah terik matahari seperti ini.
“Buat kamu, Taya. Buka aja kalau penasaran sama isinya,” pinta Malik seolah menjawab kerutan dahiku pertanda bingung.
“Kartu kredit ? Buat apa ?,” tanyaku lagi-lagi dengan dahi berkerut setelah mengetahui isi kotak yang ada di tanganku. “Tentu saja buat kamu belanja, sayang. Limitnya 10 juta”
“Buat aku?,” tanyaku dengan membelalakkan mata.
“Iya, sayang. Aku sengaja ngajak kamu lunch hari ini karena aku mau kasih itu buat kamu. Tapi, kamunya nggak sabaran dan malah lari dari restoran yang udah aku booking dari seminggu lalu,” jelas Malik.
“Tapi aku nggak butuh ini, Malik”
“Sst…jangan bilang nggak, tapi belum. Anggap aja kamu belum butuh saat ini, tapi pasti akan butuh nantinya. Aku cuma ingin membahagiakan orang yang aku cinta, Taya. Dan salah satu bentuknya, ya aku kasih kamu kartu kredit ini. Kamu bisa shopping sepuas kamu.”
Aku hanya diam. Menatap Malik tajam dan mengukirkan senyuman. Jika saja Malik dapat mengartikan tatapanku yang mencoba menyampaikan kalau aku bukan tipe wanita penggila shopping.
“Jangan melihat aku seperti itu, Taya. Kamu tahukan, apa yang sudah aku kasih ke kamu, pokoknya nggak boleh dibalikin,” pinta Malik dengan menyilangkan tangan di dada dan buang muka. Ciri khasnya setiap aku tak menyukai barang pemberiannya.
Okay, aku terima tapi aku rasa aku belum berniat untuk memakainya dalam waktu dekat ini,” jawabku akhirnya sambil memasukkan kotak berisi kartu kredit ke dalam tasku. “Thanks anyway, sayang,” ujarku smabil mengecup pipi Malik.
* * *
Sudah 30 menit berlalu dari jam 7. Nampaknya gadis yang ditunggu Malik tidak datang. Meski sebelumnya si gadis telah mengiyakan untuk bertemu dengannya di warung tenda sederhana pinggir jalan, tapi bisa saja itu hanya jebakan manis.
Malik gelisah dan berbagai spekulasi menghinggapi kepalanya. Malam minggu ini harusnya jadi malam minggu pertama ia menikmati gaji pertamanya sebagai fresh graduate bersama orang yang telah dia janjikan dalam dirinya sendiri. Seorang gadis yang pernah menolongnya di kala genting. Malik hanya ingin membalas kebaikan itu dengan gaji pertamanya meski hanya makan di sebuah warung tenda sederhana.
Sia-sia sudah Malik menunggu, nampaknya gadis itu benar-benar tidak datang. Malik bersiap bangkit dari tempat duduknya dengan wajah kecewa. Tetapi sebuah suara melunturkan ekspresinya.
“Kak Malik ya? Maaf ya kak aku telat. Aku nggak tahu kalau ternyata di sini banyak warung tenda. Jadi, tadi aku masukkin satu per satu buat tahu kakak ada dimana."
“Oh..oh iya, nggak kok. Nggak apa kok,” jawab Malik tak beraturan. Sama tak beraturannya dengan detak jantungnya saat ini berhadapan dengan malaikat cantik yang ingin ia bahagiakan untuk selamanya.
* * *
Oh my god ! Tiffany and Co. Malik ngelamar lo dengan cincin Tiffany and Co. Gila banget sih Ya, Malik kerjaan apaan emangnya?,” teriak Shinta sahabatku sambil terus menggenggam jari manisku.
Aku hanya tersipu sambil mengingat peristiwa semalam saat Malik akhirnya melamarku. Dan hari ini dnegan kedok membuat kue kering bersama Shinta—sahabat dekatku—sesungguhnya aku ingin memamerkan cincin ini.
“Kok lo nggak bilang selamat sih ke gue ? Malah nanya kerjaannya Malik. Nggak penting banget. Kaya baru kenal Malik kemarin aja,” gerutuku pura-pura ngambek.
“Ya congratulation, Taya. Gue senang banget akhirnya kalian bakalan married. Tapi emang beneran si Malik masih kerja yang jual beli saham gitu? Gede banget ya gajinya? Gue juga mau deh jual beli saham gitu. Biar bisa beli Tiffany and Co dan kartu kredit. Kaya lo,” cerocos Shinta.
“Broker, Shin. Sebutannya tuh broker. Dan nggak sembarangan jual beli saham. Tapi diperlukan analisa yang bagus supaya tepat sasaran. Makanya bisa dapet gain. Makanya harus smart. Kaya Malik. Makanya gue suka”
“Bukan karena Malik ganteng?”
“Karena dia smart, makanya dia jadi ganteng di mata gue”
“Tapi seriusan dia ngelamar lo di warung tenda dengan cincin super mewah kaya gitu?”
Aku mengangguk dengan senyuman lebar. “Iya serius. Di warung tenda tempat pertama kali dia traktir gue dengan gaji pertamanya.”
“Kok gitu? Kenapa?”
“Hm..sebenarnya emang gue aja sih yang pengen makan berdua di tempat itu lagi. Eh ternyata dia malah ngelamar gue di situ”
“Tapi Tay, lo udah yakin banget nih sama Malik?”
“Ya iya dong, Shin. Kita udah jadian hampir 5 tahun lho. Dan kayanya itu udah cukup buat gue bikin yakin kalau he is the one for me
“Tapi kebiasaan Malik yang suka ngomongin harga itu lho. Gimana ya ngomongnya..lo nggak terganggu gitu?”
“Oh itu…ya sih gue juga sebenarnya nggak suka kalau Malik tuh selalu melihat sesuatu dari harganya. Tapi, sebenarnya itu tuh baru sekitar 2 tahun terakhir lho, Shin. Gue kenal banget Malik dan sebenarnya dia nggak kaya gitu..awalnya. Dia sederhana kok. Jadi, one day dia pasti akan kembali pada Malik yang dulu..Malik yang sesungguhnya. Gue percaya itu. Dan mungkin gue yang harus memabwa Malik kembali pada dirinya yang dulu,” jelasku meyakinkan sahabatku ini.
“Ciyeelah…bijak banget sih sahabat gue ini,” ledek Shinta sambil menebarkan terigu ke wajahku, kemudian berlari. Tak mau tinggal diam, aku mengambil segenggam terigu dan mengejar Shinta untuk membalasnya. Alhasil kami saling berkejar-kejaran dan perang terigu di dapur tanpa menyadari keadaan sekitar. Hingga…
“Brukk,” Shinta menabrak sebuah tubuh tegap dan wangi. Tubuh Malik. Ralat. Shinta bersama terigu satu kilogram yang ia pegangi sebagai senjata menabrak Tubuh Malik. Kini Malik ikut berlumuran terigu dan aku terbahak melihat kejadian itu.
“Astaga. Shinta. Kelakuan kamu kaya anak kecil banget. Kamu tahu nggak sih berapa harga cardigan aku?,” teriak Malik dengan mata menyala.
Aku tahu benar Malik paling benci kotor. Kulihat Shinta takut mengkerut tak bergerak karena diteriaki Malik. Aku menghampiri Malik dan membersihkan terigu di cardigannya.
“Maaf ya sayang. Shinta nggak sengaja. Tadi kita terlalu asyik bercandanya. Jadi, kita nggak sadar kalau ternyata ada kamu di dapur,” bujukku sambil mengibas-ngibaskan terigu dari cardigannya.
Tetapi langkah tanganku terhenti. Malik memegang tanganku. Tepat pada telapak tanganku yang bersarang cincin Tiffany and Co pemberiannya semalam. “Attaya, kamu tahu nggak sih cincin ini berapa harganya? Ini cincin Tiffany and Co. Belum sampai 24 jam aku kasih ke kamu dan udah kamu kotorin pake terigu kaya gini. Aku nggak habis pikir ya. Kamu kekanak-kanakan banget.”
“Iya, Malik. Maaf..aku tahu kok ini cincin mahal. Tadi lupa aku copot cincinnya sebelum bikin kue. Aku cuci dulu ya. Jangan marah dong,” bujukku sambil menepuk pipi Malik pelan.
* * *
Jantungku berdetak tak beraturan sejak semalam. Tapi detik ini rasanya jantungku sudah ingin melompat keluar. Perasaan tidak tenang dan gelisah juga menghampiri silih berganti. Oh inikah rasanya menjadi pengantin ? Kenapa rasanya seperti pertama kali janjian berkencan dengan Malik 5 tahun yang lalu.
Riasanku sudah selesai 30 menit yang lalu. Penghulu juga baru saja datang. Tetapi, Malik dan keluarganya belum juga menampakkan batang hidungnya. Aku sendiri sudah tidak bertemu Malik sejak 5 hari yang lalu karena kami sama-sama dipingit. Komunikasi masih terjalin tetapi 2 hari terakhir ini Malik tidak ada kabarnya. Mungkin dia sibuk menghafal naskah ijab kabul.
Tamu-tamu di depan sudah mulai berbisik. Penghulu juga sudah mulai bertanya kemana si calon pengantin pria. Aku mulai gelisah dan khawatir. Panggilan telpon yang kutujukan ke ponsel Malik telah berkali-kali kulangsungkan. Tapi nihil. Tidak ada jawaban. Apakah terjadi sesuatu pada Malik dan keluarga dalam perjalanan. Aku mulai memikirkan kemungkinan terburuk hingga ibuku masuk dan memelukku.
Sambil memperkuat pelukannya, ibuku berbisik “Attaya, hari ini Malik tidak akan datang. Malik memutuskan untuk tidak datang hari ini.”
Aku tak ingat apa-apa lagi. Yang kutahu semuanya berubah menadi gelap. Aku pingsan.
* * *
Pernikahan aku dan Malik tidak pernah terjadi. Jawabannya sedang kucari hari ini, maka dari itu kini aku berdiri di kamar Malik menunggu penjelasannya.
“Aku nggak punya apa-apa lagi, Taya. Aku mempertaruhkan segalanya dan akhirnya kehilangan segalanya. Mungkin aku terlalu serakah. Maafkan aku,” jelas Malik tanpa melihatku. Dia seakan berbicara dengan jendela.
“Maksud kamu ?…aku nggak ngerti Malik,” ujarku setengah berteriak ingin menangis.
“Aku mempertaruhkan segalanya. Aku investasikan semuanya tapi ternyata harga sahamnya semakin hari semakin turun dan aku kehilangan semuanya. Aku nggak punya apapun untuk membahagiakan kamu. Jadi, lebih baik pernikahan itu nggak perlu terjadi”
Kepalaku terasa sakit mendengar jawaban Malik. Alasan yang sangat tidak masuk akal dan konyol. Bagaimana bisa seorang Malik yang selama ini kukenal sebagai sosok pria yang cerdas berpikir sesempit dan sesederhana itu.
“Karena itu ? Karena kamu merasa kamu nggak punya apapun untuk membahagiakan aku ? Karena alasan itu kamu memutuskan untuk nggak datang pada hari pernikahan kita? Malik, please. Kenapa kamu bisa berpikir sedangkal itu ? Apa kamu lupa kalau 5 tahun lalu, kamu pun nggak punya apapun. Tapi, aku nggak pernah sekalipun ninggalin kamu, bukan ? Apa aku minta untuk dibahagiakan dalam bentuk materi ? Aku nggak pernah menuntut apapun, Malik. Buat aku, kebahagiaan bukan hanya soal uang. Bahagia itu saat kita bersama, dalam keadaan apapun itu. Suka atau duka. Kalau memang kamu ngerasa kamu nggak punya apa-apa, kita bisa mulai bersama dari awal lagi, Malik.”
“Nggak bisa, Taya. Nggak bisa. Aku mau membahagiakan orang yang aku cintai. Tapi saat ini, aku nggak punya apapun untuk dapat membahagiakan kamu,” jawab Malik setengah beretriak. Kali ini wajahnya melihat ke arahku.
“Aku nggak ngerti lagi dengan pola pikir kamu, Malik. Kamu seolah membeli cintaku dengan uang, padahal aku nggak pernah menjualnya. Aku memberikannya dengan tulus, Malik. Aku mencintai kamu dengan tulus,” ujarku terisak.
“Aku pikir, Malik yang kukenal selama ini adalah pria yang smart. Cerdas dalam mengambil keputusan, tapi nyatanya kamu nggak secerdas yang aku pikirkan. Kamu…kamu sangat melukai perasaanku dengan nggak datang di hari pernikahan kita.”
* * *
Pria tanggung yang berbadan kurus dengan ransel di punggungnya itu tengah berjuang untuk goresan tinta tanda tangan. Ini adalah hari terakhir pendaftaran sidang skripsi, Malik harus mendapatkan tanda tangan dosen pembimbingnya, bagaimanapun juga. Begitu tekat Malik. Demi segera meraih gelar sajana dan mendapatkan pekerjaan mapan ke depannya.
Tetapi, perjuangan Malik hari itu tidaklah mudah. Si empunya tanda tangan tidak berada di kampus, melainkan di tempat lain. Mau tidak mau Malik harus menyusulnya. Matahari mulai terik, Malik mulai lemah karena sejak pagi perutnya belum terisi oleh makanan apapun. Maklum, sebagai anak rantau di pertengahan bulan, makan pun harus irit. Tetapi nampaknya, tubuh Malik tidak dapat diajak kompromi. Matanya kunang-kunang dan ia nyaris saja roboh.
“Kak, kakak kenapa kak?,” tanya sebuah suara gadis yang menangkap tubuh Malik yang hampir roboh.
Malik segera memeperbaiki diri. Tapi kakinya terlalu lemah untuk berdiri. Akhirnya ia dipapah oleh si gadis untuk menepi dan duduk.
“Kakak, belum sarapan ya? Mukanya pucat. Tangannya juga gemetaran”
“Sok tahu kamu. Saya sudah sarapan kok,” jawab Malik ketus diikuti oleh suara perutnya yang bergemuruh.
Gadis mungil yang sepertinya adalah maba (mahasiswa baru) itu hanya menunduk sambil tersenyum. Begitu juga dengan Malik, ia hanya menunduk sambil mengutuki perutnya yang tak dapat diajak kompromi.
“Ini makan aja kak. Siapa tahu bisa mengganjal,” ujar gadis itu sambil menyodorkan sebuah kotak makan berwarna hijau. Malik hanya diam tak menerima. Tapi si gadis dengan berani meraih tanagan Malik dan meletakkan kotak makannya di tangan Malik. “Nggak usah malu-malu kak. Dimakan aja kak, kakak pucat banget. Nanti pingsan kalau nggak makan,” ujarnya sambil berlalu.
“Hei..nama kamu siapa?,” teriak Malik pada gadis yang telah meninggalkanya.
“Attaya, kak”
“Terima kasih ya Attaya. Nanti kotak makannya saya kembalikan,” ujar Malik, lagi-lagi setengah berteriak.
Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Senyum seorang malaikat yang menyelematkan Malik sepanjang hari dengan energi yang bersumber dari isi kotak makannya. Hari itu, Malik berhasil melanjutkan perjuangannya mengejar tanda tangan dosen dan mendaftar sidang skripsi. Sejak saat itu, Malik berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan gadis berhati malaikat itu.
End

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis