February 25, 2013

Yang Terdalam




Matahari sebentar lagi akan meninggalkan singgasananya. Semburat senja mulai mengisi langit yang ada di atas kepalaku. Seperti kamu yang terus mengisi seluruh pikiran dan harapku. Saat matahari nanti benar-benar tenggelam, entah aku harus bahagia atau merana.
Bahagia karena senja selalu mengingatkanku padamu. Langit oranye seakan menyatukan kita di daratan yag berbeda selama setahun ini.
Ataukah merana menahan luka, karena nyatanya kamu tak juga peka mengartikan segala air mata. Aku melirik jam tangan biru metalikku.  Menelan pahit, seperti matahari yang  ditelan bumi. Aku terduduk  menghirup angin sore yang menyesaki lubang hidungku.
Menatap kosong dan terus menanti....



Takkan lelah aku menanti
Takkan hilang cintaku ini
Hingga saat kau tlah kembali
Kan kukenang di hati saja

(Yang Terdalam - Peterpan)

 

Melangkah

Melangkah
by
Raissa





dahulu ku bermimpi
kisah cinta abadi bersamamu
ternyata semua berakhir
tak seperti yang ku harapkan
baru ku mengerti ku sadari

 oh ku tak sendiri
pancaran sinar mentari
menemani tiada henti

oh dan tak ku sesali
tlah ku lupakan dirimu
tak mengapa, aku melangkah
sendiri dapat ku jalani

ternyata semua berakhir
tak seperti yang ku harapkan
baru ku mengerti ku sadari

 oh ku tak sendiri
pancaran sinar mentari
menemani tiada henti

oh dan tak ku sesali
tlah ku lupakan dirimu
tak mengapa, aku melangkah
sendiri dapat ku jalani


pernah ku terhanyut dalam sepi
namun ku berani melangkah pasti
tanpa dirimu

 oh ku tak sendiri
pancaran sinar mentari
menemani tiada henti

oh dan tak ku sesali
tlah ku lupakan dirimu
tak mengapa, aku melangkah
sendiri dapat ku jalani

 oh ku tak sendiri
pancaran sinar mentari
menemani tiada henti

oh dan tak ku sesali
tlah ku lupakan dirimu
tak mengapa, aku melangkah
sendiri dapat ku jalani

sendiri dapat ku jalani
sendiri dapat ku jalani


February 18, 2013

Demokratis




Saya rasa saya terlalu tinggi menilai Anda

Kecewa dalam luka yang menganga

Berdiri sendiri dalam ruang hampa, tanpa udara

Saya kira  Anda demokratis, maka saya bersuara

Tapi semuamemang di luar kepala, juga rencana

Anda sama dengan yang lainnya

Meninggalkan cerita tanpa kata

Meluluhlantah setiap rasa

Menyisakan kecewa lewat kata


Unique





Kamu orang pertama yang menggelapkan kata

Buat saya, kamu batu

Mesti kadang terlihat lucu

Kamu berhasil menghilangkan setiap rangkaian kata

Sukses membuat saya menjauh dari degup

Canggung, ragu, tanya ataupun asa

Kamu seperti arus yang mengajak saya mengalir

Melewati, tanpa perlu memahami

Menjalani, tanpa perlu meratapi

Bahagia, tanpa perlu bertanya

Kamu membuat saya menekan tomobol off pada hati

Memaknai peristiwa, bukan cinta



12 Desember 2012



February 17, 2013

(bukan) Jatuh Cinta



Sepertinya saya sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.

Detak jantung berlompatan ataupun tangan berkeringat tak ada lagi. 

Bersama kamu, bukan jatuh cinta ataupun letupan bahagia.

Hanya mengalir dan menikmatinya


February 14, 2013

Couple Ride Parade





Mischa masih termangu melihat seonggok kertas di hadapannya. Sebuah pamflet ‘Couple Ride Parade’ yang ditunjukkan Mika usai jogging di taman tadi pagi terbujur kaku di hadapannya.

“Kita harus banget ikutan ini ya, hun. Pasti seru dan so sweet,” bujuk Mika.

Mischa mengamati pamflet itu dengan dahi berkerut. Jawabannya adalah tidak mungkin, tapi maukah Mika memahaminya.

* * *

Hun, besok sore kita hunting sepeda tandem ya? Apa mau nyewa aja? Aku mau yang warnanya pink ya.” cerocos Mika di halaman rumahnya. Sementara Mischa hanya sibuk menyirami tanaman di kebun rumah kekasihnya itu.

“Pokoknya setelah kita dapet sepeda tandemnya, kita harus latihan pagi dan sore. Supaya menang,” cerocos Mika lagi.

“Aku belum bilang ‘iya’ lho, Mik untuk ikutan lomba sepeda itu.” Mischa akhirnya buka mulut.

“Lho kenapa? Harus ikutan pokoknya. Naik sepeda tandem itu kan romantis.”

“Ya tapi aku nggak bisa”

“Kenapa? Kamu nggak bisa naik sepeda tandem?”

“Bukan begitu.”

“Terus? Tell me why, hunny,” bujuk Mika.

“Aku bukan nggak bisa naik sepeda tandem, tapi karena aku…aku emang nggak bisa naik sepeda”

“Haah?” Mika tersentak kaget, menemukan sebuah fakta yang baru ia ketahui tentag kekasihnya itu.

Mischa buang muka, antara malu dan kesal pada dirinya sendiri.

* * *

       Nobody’s perfect but practice makes perfect. Kamu nggak perlu khawatir, hun. Couple Ride Parade nya masih 2 minggu lagi. It means kita punya waktu untuk latihan. Umm..lebih tepatnya, aku punya waktu untuk ngelatih kamu naik sepeda. Dan kamu pasti bisa, and then kita akan menjadi pemenangnya,” jelas Mika sambil menuntun sepedanya yang berwarna merah muda. Mischa hanya pasrah setelah semua penolakannya dilibas oleh Mika. 

         Keringat Mika dan Mischa sudah sama-sama mengucur deras. Mereka berdua terlihat begitu kelelahan hanya setelah 30 menit berlalu.

         “Aku capek, hun. Kita lanjut besok aja deh,” usul Mika. 

         “Yaudah kalau kamu capek, kita cari Walls Cornetto dulu yuk.”

* * *

                “Kamu pegang stang yang stabil dong, hun. Jangan goyang goyang gitu,” ujar Mika memberi arahan.

                Tetapi, bukannya mengikuti arahan dari kekasihnya, Mischa justru turun dari sepeda secara tiba-tiba. Belum selesai sampai di situ, Mischa juga membanting sepeda merah muda milik Mika ke tanah. Mika terlonjak kaget.

                “Apa-apaan sih Mis? Kenapa ngebanting sepeda aku begitu?,” tanya Mika marah.

                “Aku capek tahu nggak kamu arahin nggak jelas. Sebentar sebentar ke kanan, ke kiri, ke kanan lagi. Kamu nggak becus ngarahinnya,” jelas Mischa kesal.

                “Kamu kira cuma kamu yang capek? Aku juga capek harus megangin sepeda ini dari belakang karena kamu nggak berani kalau aku lepas. Dasar cowok pengecut”

                Misha langsung pergi meninggalkan Mika. Sementara Mika duduk menepi sambil mengucurkan air mata meratapi sepedanya.

                Lalu, 2 buah Walls Cornetto tiba-tiba saja hadir di hadapan Mika.

                “Tadi aku lihat tukang es dan langsung ingat kamu. Maafin aku ya, hun. Besok aku janji akan latihan lebih baik lagi,” ungkap Mischa menyesal.

                Mika mengangguk mantap dan mengambil Cornetto favoritnya.

* * *

                “Aku udah nggak mau latihan naik sepeda lagi. Kita nggak perlu ikutan lomba sepeda tandem itu,” buka Mischa di sela-sela istirahat berlatih sepeda.

                Mika yang sedari tadi asyik menjilati Walls Cornetto favoritnya seketika langsung menghentikan aksinya. “Maksudnya?”

                “Kamu kok lemot banget sih. Aku kasih tahu sekali lagi. Kita nggak perlu ikut Couple Ride Parade itu. Useless juga kan”

                “Lombanya tinggal 3 hari lagi dan kamu bilang nggak jadi ? Kok kamu seenaknya 
sendiri gitu sih. Egois dasar”

                “Bukannya kamu yang egois, Mik. Dari awal kamu yang maksain buat ikutan lomba sepeda tandem nggak jelas itu. Kamu nggak sedikitpun mikirin gimana perasaanku. Bahkan kamu nggak nanya kenapa aku nggak bisa main sepeda? Karena kamu nggak pernah mau tahu. Kamu itu lebih egois.”

                Mika tak kuat lagi menahan air mata yang terkumpul di pelupuk matanya. Tetapi ia malu jika harus menangis di depan Mischa. Mika lari sekuat tenaga meninggalkan Mischa, yang dia tahu dia hanya ingin menangis.

* * *

                Mika ngambek. Atau mungkin marah besar. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Mischa. Sudah 2 hari sejak pertengkaran itu, Mika tidak ingin dihubungi oleh Mischa. Semua perasaan berkecamuk dalam dada Mischa. Meski dengan setengah takut dan rasa mual, Mischa berlari ke garasi untuk mengambil sepeda adiknya dan membawanya ke taman.

* * *

                Hari itu tiba, Couple Ride Parade yang diimpikan Mika. Naik sepeda tandem berkeliling taman bersama Mischa. Mika berani memimpikanya karena dia tahu kalau Mischa begitu menyayanginya, tetapi kini semua harapannya sirna sudah. Mika meringkuk di kamar di Minggu pagi yang cerah. Dia hanya ingin tidur seharian penuh dan melewatkan hari yang ditunggunya itu terbakar sia-sia. Tetapi, sebuah bel sepeda yang berisik menganggunya.

                Mika beranjak dari tempat tidur dan mendekati jendela untuk melihat siapa orang iseng yang membunyikan bel sepeda itu. Betapa terbelalaknya Mika saat melihat Mischa dengan mengendarai sepeda telah berada di depan rumahnya.

                “Kamu ngapain?,” tanya Mika segera setelah berhadapan dengan Mischa.

                “Sepedaan yuk. Mau aku bonceng nggak?”

                “Emang kamu bisa?”

                Nyatanya hari itu lebih  indah dari hari yang pernah dimimpikan oleh Mika. Mika dan Mischa berkeliling taman dengan bersepeda.

                “Ternyata lebih romantis dibonceng ya daripada naik sepeda tandem barengan,” buka Mika di sela-sela jilatan es krim Walls Cornetto.

                “Kamu suka dibonceng seperti ini?,” tanya Mika sambil terus mengayuh pedal.

                “Iya. This is so sweet, hun

                “Tapi, kalau kamu mau nyobain naik sepeda tandem bareng aku, aku siap kok. Lagipula lombanya diundur, jadi kita masih punya kesempatan”

                “Hahh? Diundur, hun?,” tanya Mika kaget hingga membuat sepeda yang mereka tumpangi nyaris oleng.

                “Iiii..ya tapi hati-hati dong, hun. Jangan banyak gerak. Akukan masih pemula. Nanti kalau kita jatuh, kamu jugakan yang lecet.”

                “Hehe, maaf hun. Habis aku senang dan nggak nyangka aja. Btw kok kamu bisa naik sepeda begini? Jangan-jangan selama ini kamu Cuma pura-pura nggak bisa ya?”

                “Mana mungkin aku pura-pura. Aku pernah trauma naik sepeda karena saat itu pernah nabrak tukang ketoprak. Lalu semua bumbu kacangnya tersiram ke tubuhku. Makanya kalau setiap naik sepeda, aku ngerasanya mual mulu. Ingat sama bumbu kacang”

                “Hun, maaf. Aku nggak tahu cerita itu dan bodohnya aku juga nggak pernah nanya. Terus gimana sekarang Masih mual setiap naik sepeda?”

                “Nggak kok, hun. Sekarang setiap naik sepeda, aku selalu membayangkan kamu. Jadi, rasa mualnya hilang deh. Selama kamu ngambek, hampir seharian lho aku latihan sepeda sendirian di taman. Semuanya demi kamu, hun.

                “Makasih ya. Maafin aku yang sempat egois”

* * *

                Hari itu tiba. Couple Ride Parade. Sekarang apapun yang terjadi, Mika nggak peduli menang atau kalah. Sekalipun tidak kesampaian naik sepeda tandem bersama Mischa rasanyapun tidak mengapa. Di sudah sangat bahagia dibonceng Mischa beberapa hari yang lalu.

                “Kalau kamu nggak mau ikutan lomba ini, kita bisa mundur sekarang kok hun,” bujuk Mika untuk kesekian kalinya.

                “Nggak perlu. Aku mau naik sepeda tandem bareng kamu, hun.

                Karena cintanya yang begitu dalam dan tulus kepada Mika, Mischa tidak hanya mampu menghilangkan rasa traumanya kan naik sepeda, tetapi ia juga begitu gigih dalam mengayuh sepeda tandem. Alhasil mereka berhasil memenangkan Couple Ride Parade itu. Kebahagiaan Mika terasa lengkap.
                  

 
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis