February 9, 2013

10 Hari++


Halo readers!
Entah kenapa sulit sekali memulai kata pertama di postingan pertama dalam Februari ini. Juga postingan pertama setelah lama meninggalkan blog.

Setelah menjalani jadwal UAS yang begitu mencekik, saya langsung menghibur diri dengan melibatkan diri bergabung dalam acara kelas ke Puncak. Awalnya sih nggak mau ikut, tapi finally ikut juga di H-1.

Anyway, postingan kali ini bukannya ingin menceritakan bagaimana dingginnya puncak ataupun perkebunan teh yang perlahan mulai menggundul. Saya rasa semua orang sudah tahu banyak tentang itu.

Postingan kali ini adalah tentang pengalaman 10 hari saya yang begitu mengesankan. Liburan ini, saya freelance 10 hari, allhamdulillah salah satu resolusi 2013 untuk mencicipi bagaimana rasanya bekerja sudah saya penuhi di tahun ini. Lebih bersyukurnya lagi di sebelum umur saya benar-benar berganti kepala (ups)

Okay, proses melamarnya begitu mendadak, karena saya mengantar lamaran dan ditraining pada hari yang sama. Lalu lusanya langsung mulai bekerja di penempatan yang berbeda-beda. Kerjanya juga sendiri. Jadi, saya benar-benar masuk ke lingkungan  baru dan orang-orang baru sendirian. Tanpa siapapun yang saya kenal.

Freelance sebagai Duza (Duta Zakat) selama 10 hari sebenarnya tidak terlalu melelahkan, karena hampir 80% nya saya haya duduk diam. Tetapi, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan.

‘apa yang kamu dapatkan hari ini adalah hasil kerja keras kemarin’

Hari ke-2 merupakan penghasilan yang cukup besar dan dibandingkan hari-hari lain, dan jika harus merunut ke belakang, maka hari ke-2 adalah hasil kerja keras di hari pertama.

Hari pertama bekerja di tempat baru, orang baru, dan lingkungan baru membakar semangat saya yang begitu besar. Ya, meski sebelumnya sempat menyasar saat menuju kantor saya bekerja. Hari pertama itu, saya  menyusuri 7 lantai gedung bertingkat plus 2 lantai bawah tanah (basement). Berhenti di setiap lantai dan menitipkakan flyer, mengenalkan diri dan mengingatkan para karyawan untuk membayar zakat. Saya bergerak ke sana kemari di tempat yang baru tanpa ada ragu, yang saya inginkan di hari itu cuma satu, yaitu memberitahu mereka bahwa saya ada selama 10 hari untuk memudahkan mereka membayar zakat secara tunai ataupun nontunai.

Hasilnya, di hari kedua, saya mampu mengumpulkan dana zakat yang allhamdulillah lumayan. Lalu keesokkan harinya semakin menipis karena yang saya kerjakan semakin sedikit. Keraguan saya justru semakin tersemat, malu malu untuk melangkah. Khawatir kalau yang saya ajak justru nonmuslim. Semua langkah yang saya kerjalan semakin sedkit, kemudian menyusul dengan dana zakat yang mampu saya kumpulkan di keesokan harinya.
Tetapi, saya juga dapat mengambil hikmahnya, karena di setiap saya hampir putus asa, Allah mengirimkan saya secercah harapan. Semua pengalaman 10 hari plus plus ini mengajarkan tentang itu.

Saat baru pertama mengirim lamaran, saya begitu merasakannya. Kami (Saya, Sella dan Eva) mengantarkan lamaran di salah satu Masjid di kawasan Sunter (Jakarta Utara). Tidak ada satupun dari kami yang tahu pasti dimana persis Masjid itu berdiri. Kami hanya berbekal alamat yang diberikan. Kami turun di Jalan yang tertera di alamat, namun kami tidak langsung menemukan masjid tersebut. Kami menyusuri jalanan yang cukup jauh, berdebu serta kendaraan-kendaraan besar pengangkut mobil-mobil yang baru selesai diproduksi. Kami terus berjalan sesuai instruksi satpam—yang kami tanyakan di awal—di teriknya matahari Rabu.

Hingga akhirnya, Sella (kalau tidak salah) mulai menyerah dan mengusulkan agar kita bertanya pada satpam. Saat kami berniat menyebrang untuk bertanya pada satpam, kami baru menyadari kalau pos satpam yang ingin kami tuju (yang letaknya di seberang) ternyata  telah berdiri sebuah Masjid—yang memang kami cari. Akhirnya kami mengurungkan niat untuk bertanya, tapi lebih mendekat ke Masjid untuk memastikan apakah benar kalau Masjid itulah yag kami cari. Dan jawabannya benar.

Dari sini, saya belajar dan menyadari dalam hati. Juga membenarkan sebuah ungkapan yang pernah saya baca. Intinya begini ‘di saat kamu sudah mulai lelah dan hampir menyerah, sesungguhnya kamu sudah dekat dengan tujuanmu’. Dan yapp, benar sekali. Saat kami hampir menyerah untuk menemukan Masjid—yang kami cari—justru sebenarnya kami telah dekat dengan Masjid itu. Intinya, jangan mudah menyerahlah. Kita hampir dekat dengan tujuan kita.

10 hari++ ini membuka mata saya dan memaksa diri saya merasakan bagaimana rasanya berada di tengah-tengah kehidupan orang dewasa, juga glamournya Jakarta.  Bagaimana mereka yang terpisahkan oleh tingkatan profesi juga bisa berinteraksi dan bercanda bersama, meski juga ada yang terkesan otoriter dan menunjukkan kekuasaan.

10 hari++ ini juga membuat saya merasakan bagaimana hecticnya Jakarta di Senin pagi dan Jumat sore. Jakarta sudah benar-benar sesak oleh kendaraan bermotor. Baik mobil, maupun motor. Yang makan tempat sudah pasti mobil. Mobil-bobil besar yang hanya berpenumpang satu orang, atau bahkan hanya mengangkut satu potong pakaian yang tergantung di kursi belakang penumpang. Tidak hanya itu saja, plat nomor mereka juga kebanyakan—yang saya amati—memiliki urutan huruf yang baik. Ada juga yang bisa merangkai nama. Tandanya ? sudah banyak masyarakat Jakarta yang kehidupannya telah berada di kalangan menengah, tetapi sudah pedulikah mereka dengan sesama?

Karena ditempatkan di salah satu kantor pembayaran kredit mobil, saya jadi terapncing untuk memahami, mengenal dan menghafal merk mobil. Kelihatannya simple, kuno atau apalah tapi honestly saya memang tidak hafal dan tidak peduli dengan merk mobil yang ada di Indonesia. 10 hari++ ini membuat saya mengamati merk mobil, juga plat nomornya selama membelah kemacetan pagi dan sore menuju tempat kerja.

Jika dulu, saya bercita cita untuk bekerja di Jakarta, menjadi bagian dari salah satu gedung bertingkat yang menyesaki Sudirman, maka kali ini saya agak sanksi. Pasalnya, kemacetan Jakarta sungguh menguras waktu dan emosi. Baru tahu kenapa saat itu salah satu teman saya (Sella) pernah bilang  begini kira-kira, ‘Gue mah pengen kerja di daerah. Pokoknya keluar dari Jakarta. Gue udah bosen sama Jakarta’. Okay, now I know kenapa Sella bicara begitu. Dan saya juga baru tahu, mengapa setiap weekend banyak orang menuju Puncak. Puncak begitu tenang, jauh dari kebisingan dan kesemrawutan Jakarta. Tidak heran jika orang-orang yang telah bergelut dengan kemacetan Jakarta selama 5 hari ingin mencicipi udara puncak yang begitu segar meski hanya kurang dari 24 jam. ‘Jakarta keras, men’. Sella sering banget bilang begitu, tapi ternyata aspal Jakarta nggak sekeras pemiliknya. Toh kalau hujan menggguyur beberapa jam, maka beberapa hari kemudian aspalnya langsung rusak dan membentuk lubang-lubang baru yang siap diisi oleh air jikala hujan datang. Baru menyadari kalau tugasnya Pak Jokowi memang begitu berat membenahi Jakarta.

Kenapa saya memilih trade off freelance selama 10 hari ? Padahal saya punya banyak stock anime dan drama yang menggoda untuk ditonton. Jawabannya karena saya punya tujuan akhir dari proses 10 hari ini, dan saat 10 hari itu berakhir pada 7 Februari, saya memang tidak mendapatkan tujuan yang saya inginkan dengan manis.
Ekspektasi saya yang begitu indah, serta skenario pikiran yang sudah saya siapkan tidak dapat terpenuhi semuanya. Ada banyak orang yang ingin saya bahagiakan, juga ini itu yang ingin saya penuhi. Tapi, tentu saja saya hanya memiliki kemampuan terbatas. Yang jelas, keluarga jadi orang pertama yang mencicipi hasil kerja duduk saya plus menahan kantuk.

Dan saya tidak pernah merasakan kenyang yang sekenyang ini. Saya nggak nafsu makan, nggak mau makan apapun karena terlampau bahagia melihat senyum kebahagiaan mereka yang hadir oleh kerja duduk saya. Hoho.

Untuk 10 hari++ ini, saya menemukan sebuah kalimat dari salah satu cleaning service di tempat saya freelance. Saat itu sedang makan bekal buatan ibu, dan katanya ‘Kalau masih dibawaiin bekal, artinya orang tuanya masih sayang’. Kata-kata itu terasa begitu ngeJLEB dan mengahrukan buat saya pribadi, karena hampir setiap hari bawa bekal. Baik ke kampus, maupun freelance.

Meski endingnya tidak semanis yang saya harapkan, bukan berarti saya memlilih untuk tidak berceritakan ? Saya pasti ngeshare, karena 10 hari++ itu, plus plusnya adalah value yang tidak dapat saya dapatkan di bangku kuliah.

Baiklah, cerita ini saya akhiri dengan kebahagiaan dan penuh rasa syukur.

Bye, readers.

3 comments:

Unknown said...

selamat atas kerja keras'y,hehehe

Bonita said...

glad to read that. hehe.
trus ada niatan kerja dimana lagi nih ??

Fitria Wardani said...

sepertinya akan mencari lagi, bon

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis