Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

July 1, 2017

Museum Bahari - Kecantikan yang Sunyi di Ujung Jakarta

Museum Bahari tampak dari lantai 2


Finally, my small bucketlist has been checklisted yesterday. That was Maritime Museum a.k.a Museum Bahari, a place that I wanna visit for long time ago. Kenapa ingin ke Museum Bahari ? Simple aja sih, karena letaknya yang berada di ujung Jakarta jadi semakin penasaran. Ditambah lagi, salah satu web series yang pernah bekerjasama dengan salah satu browser sempat mengangkat Museum Bahari sebagai tema dan settingnya. Dan sisa libur lebaran kemarin menjadi pilihan kami untuk berkunjung ke sana.

Museum Bahari terletak di Penjaringan, Jakarta Utara, tepatnya di Jl. Pasar Ikan No.1. Sebagai anak kereta, saya dan teman saya (yang juga anak kereta) memilih commuter line sebagai moda transportasi kami ke sana. Kami turun di Stasiun Jakarta Kota, kemudian naik kopami 02 (seperti metromini tetapi warnanya biru) dan turun di Museum Bahari. Perjalanan dari Stasiun Kota Tua menuju Museum Bahari menggunakan Kopami ini sebenarnya hanya memakan waktu kurang dari 10 menit (tidak termasuk bus yang menunggu penumpang alias ngetem).   

Museum Bahari tampak dari jalan raya
Untuk sampai ke Museum Bahari, kita harus berjalan sekitar 50 meter dari jalan raya. Saat kami berkunjung, keadaan Museum sangat sepi. Mungkin karena efek libur lebaran atau karena hari Jumat sehingga orang-orang shalat Jumat. Anyway, untuk ticketing, Museum Bahari bekerjasama dengan Bank DKI. Menurut saya, hal ini cukup menunjukkan kemajuan dan bentuk peduli pemda Jakarta terhadap museum yang ada di Jakarta. Ya, even bentuk tiketnya jadi sangat nggak menarik sih, kalau dibandingkan dengan tiket Museum Nasional misalnya.

Museum Bahari awalnya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan rempah-rempah pada zaman Belanda, lalu pada tahun 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari. Bangunannya terletak 2 lantai dan sudah banyak yang menggunakan mesin pendingin (air conditioner). Sehingga pengunjung dapat menikmati sejarah di dalamnya dengan nyaman. Meski di beberapa lorong belum ada dan juga terdapat perbaikan.

Perjalanan pertama saya ‘tawaf’ di Museum Bahari disambut oleh lorong berisikan maneken Pelaut Internasional dari berbagai belahan dunia. Mulai dari Ibn Batuta, Laksmana Chengho, Cornelis De Houtman hingga Pangeran Fatahilah . Selanjutnya ada juga lorong legenda laut yang menampilkan maneken beserta infokus yang berisi penjelasan ceritanya. Diantaranya adalah kisah flying dutchmann, Poseidon, Malin Kundang, Ratu Pantai Selatan (Nyi Roro Kidul), The Mermaid, Putri Mandalika, dsb.


Laksamana Cheng Ho

Ibn Batuta
Pangeran Fatahilah
Cornelis de Houtman

Poseidon

Beberapa poster zaman penjajahan Jepang

Sayangnya di lorong legenda laut tersebut, pencahayaannya sangat kurang. Sehingga lorong terlihat menyeramkan (apalagi saat hanya berdua dengan teman saya yang berada di lorong tersebut) sulitnya membaca sejarah tentang legenda tersebut. Di lorong lain, terdapat maneken tentang pelaut wanita. Mulai dari Laksmana Malahayati, hingga Mazu, The Godess of Sea .

Ruang Penyimpanan Rempah-Rempah
Di lantai dasar, Museum Bahari lebih berisikan kapal-kapal yang digunakan oleh masyarakat Indonesia dan miniature beberapa kapal, seperti kapal pinisi dan kapal Belanda.

Salah satu miniatur Kapal Belanda
Kapal Pinisi




Kecantikan Museum Bahari justru terletak di halamannya menurut saya. Dengan barisan jendela tua yang cukup berat untuk dibuka dan kursi kursi batu yang asyik sebagai tempat untuk bercengkrama. Bagi generasi millenialls, halaman Museum Bahari ini justru berisi spot-spot yang instagramable banget. For photo hunter, you really have to visiting this place.  Bersyukurnya kami, saat kesana tidak dalam keadaan yang crowded.

with Radini














Overall berkunjung ke Museum Bahari agak menyedihkan bagi saya. Karena rasanya sangat jauh tertinggal  oleh Negara tetangga (Malaysia) dengan Museum Samuderanya (baca di sini). Terlebih lagi, kita sebagai negeri kepulauan—yang katanya nenek moyangnya adalah seorang pelaut—masih sangatlah kurang untuk pelestarian dan perawatan Museum Bahari. Mungkinkah karena berada di ujung, jadi kurang terperhatikan? Semoga bukan itu alasannya.

Yang jelas, Museum Bahari ini menyimpan kecantikan yang sunyi. Halamannya entah kenapa menginspirasi untuk menjadi spot gardening wedding yang intimate and private. Okay, untuk yang terakhir abaikan saja.




For once time in your life, take your time to visit Maritime Museum, readers.

Terima kasih sudah membaca

Cost :
Tarif Kopami       : Rp. 5.000 (1x perjalanan)
Ticket Museum    : Rp. 5.000

More photo :
NB : Thanks to my friend, who took a pict for us






































April 30, 2016

Review Film AADC 2 : We Have to Finished what We Have Started



Jurang antara kebodohan dan keinginan untuk memilikimu..sekali lagi

Barisan kalimat terakhir dari puisinya Rangga—karangan Aan Mansyur—itu secara nggak langsung menjelaskan kalau si Rangga yang legendaris itu kembali lagi. Meski tidak dalam satu purnama yang dia janjikan. Seenggaknya hal itu menjawab ribuan tanya penonton selama 14 tahun berselang.

Di tengah hiruk pikuknya Civil War, terbukti kalau penasarannya penonton dengan AADC (Ada Apa Dengan Cinta) 2 ini masih sangat besar. Buktinya, saya harus bolak balik 3 kali ke bioskop untuk bisa menjawab rasa penasaran saya akan kelanjutan ceritanya. Allhamdulillah, dengan perjuangan-yang-kok sampe gini banget  ya gue lakuin saking excitednya- itu, penasaran saya sudah selesai semalam.

So, here it is my review. Bukan maksud spoiler ya, just sharing tentang penilaian saya tentang film ini.

Setelah kamu nonton film, pertanyaan yang kemudian datang dari seseorang yang belum menonton adalah “Seru ga?”, tak terkecuali dengan film ini. Apalagi sudah digantung selama 14 tahun. Pertanyaan itu juga saya dapatkan dari seorang teman di Twitter. Seriously, saya suka banget dengan Ada Apa Dengan Cinta, (tulisannya di sini).. saking sukanya dan berkesan, saya justru tidak punya ekspektasi apapun dari film lanjutannya ini.

Saya seolah ingin memberikan ruang dan menelan apa yang disuguhkan di AADC 2 ini tanpa berharap apapun. Ya, meski kekecewaan itu sudah ada di depan saat tahu Geng Cinta ternyata nggak lengkap. Maka, di AADC 2 ini saya hanya excited dengan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga tentunya, tanpa memaksa mereka harus bersama. Saya justru berekspektasi kecil kalau endingnya bakalan gantung seperti film pertamanya.

Ide cerita yang dihadirkan pasca 14 tahun ini bisa dibilang sudah sangat common dan banyak kita jumpai di film-film Indonesia lain. Unfinished business yang menuntut diselesaikan saat orang paling legendaris di hati kamu muncul kembali, padahal kamu udah bersiap menyambut hidup yang baru. Saya rasa memang nggak mudah untuk mengemas kehidupan setelah 14 tahun dan yang sudah terjadi selama 14 tahun itu dalam 124 menit saja. Belum lagi bukan kehidupan satu orang yang harus kamu ceritakan kembali, tetapi 6 orang. (Cinta, Rangga, Maura, Milly, Karmen, dan Mamet).

Maka, menurut saya film ini berhasil membungkusnya menarik melalui intimate conversation di dalamnya antara satu tokoh ke tokoh lain. Bahkan, banyak sekali percakapan diantara pemainnya yang justru membuat saya dan penonton satu studio lebih sering terpingkal. Termasuk di banyak scene antara Cinta dan Rangga.

Meski genre nya adalah romance, tapi adegan mereka berdua justru lebih sering membuat kita terpingkal. Mulai dari pertemuan pertama mereka di pameran maupun di kedai kopi—saat Cinta bilang kalau Rangga jahat—hingga makan malam bersama.


Untuk karakter personil geng Cinta, maka menurut saya karakter Milly sangat mencuri perhatian dengan porsinya yang polos tapi menggelitik. Yang selalu berhasil memecah ketegangan diantara mereka. Sementara Rangga..karakter yang dibangun di 14 tahun kemudian lebih tegas dan dewasa, menurunkan sedikit keangkuhannya dengan mengobral banyak senyum di banyak scene saat jalan-jalan dengan Cinta tentunya. Karakter Cinta sendiri justru membuat saya gregetan dan gemes. Dia terlalu plin plan untuk di beberapa waktu, tetapi tegas dan mau mengakui kesalahannya.

Film yang sudah 14 tahun ditunggu tunggu ini tidak luput dari sponsor-sponsor keren dan mereka turut hadir di dalam film dalam bentuk nyata melalui scene-scene yang ada. Saat Cinta dikasih minum air mineral pasca menampar Rangga. Saat Karmen mengabadikan tempat tinggal Rangga di Jogja hingga saat momen tegang Karmen dan Milly membuntuti Rangga sambil makan es krim.

Setting film ini menempatkan Jogja dalam porsi yang lebih besar dibandingkan Jakarta dan New York. Dan saya rasa film ini berhasil mengangkat banyak hal dari Jogja, selain Malioboro yang lebih banyak dikenal orang. Nggak ada becak warna-warni yang in banget di jogja dalam film ini, tetapi ada pertunjukan boneka yang menyayat hati dan villa nya Geng Cinta yang cozy banget. Secara nggak langsung, film ini mengangkat Indonesia dengan cantik.
           
         Hal lain yang melekat dari AADC adalah soundtracknya. Mungkin kamu masih ingat lagu closing AADC yang judulnya “Demikianlah”. Di AADC 2 ini, lagu tersebut jadi openingnya. Lengkap dengan desain opening title yang kekinian banget. Suara Hati Seorang Kekasih juga masih mewarnai AADC 2 dengan gubahan yang lebih keras dan jauh dari mellow. Tune lagunya Bimbang juga masih sering nongol setiap Cinta kembali membuka puisi-puisi dari Rangga. Dan yang menyenangkan buat saya pribadi, intro lagu “Hanya” juga diselipkan sekali di part-part awal film.
                
           Wauww…nyatanya cukup panjang review dari saya tapi percayalah semua yang saya ceritakan di atas itu masih belum menjawab kenapa Rangga yang segitu coolnya dibilang jahat sama Cinta. Kamu nggak akan tahu jawabannya kalau nggak nonton.

                Tapi, yang mau ditarik kesimpulan dari film ini for me adalah we have to finished what we have started, so we can continue our life better with no one hurted. Banyak orang-orang yang belum move on dari seseorang paling legendaris di hatinya karena ada unfinished business diantara mereka. Sebelum kamu milih untuk memulai kisah baru dengan orang baru, lebih baik kamu tutup buku dulu dengan orang yang paing legendaris itu. Daripada nantinya kamu setengah-setengah dan melukai orang lain. Buat keputusan tegas, jangan plin plan.


Terima kasih sudah membaca sampai akhir and happy watching

30 April 2016






February 7, 2016

A First Trip to National Gallery

Kompliasi yang diambil di Gedung A "Conversation : Endless Act in Human History"

Seminggu yang lalu, saya diajak sahabat saya untuk menemaninya ke Galeri Nasional. Katanya, sedang ada pameran yang ingin sekali dia lihat. Kebetulan sekali saya belum pernah ke Galeri Nasional dan tidak ada salahnya mencoba ke sana. Menikmati Jakarta di kala weekend dan melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu nampaknya perpaduan yang pas.

Galeri Nasional ini bertempat di Jl. Medan Merdeka Timur No. 14. Kami bertemu di Stasiun Sudirman dan naik TransJakarta dari Halte Dukuh Atas 1 untuk Transit di Halte Monas. Nah dari Halte Monas ini, kami naik TransJakarta tujuan Pulogadung kemudian turun di Halte Gambir 2. Dari Halte Gambir 2, kami cukup menyebrang jembatan penyebrangan dan tadaaa…Galeri Nasional sudah di depan mata.

Ada 3 gedung yang terdapat di Galeri Nasional, yaitu Gedung A, B dan C. Sementara saat kami datang ke sana, semua gedung terisi penuh oleh pameran. Gedung B sendiri merupakan gedung yang menggelar Pameran Permanen, artinya kapanpun kamu pergi ke Galeri Nasional kamu akan menemukan koleksi yang sama di Gedung B.

Btw Gedung B ini adalah gedung pertama yang kami masuki ketika sampai di Galnas. Kita harus antre dan menunggu jeda beberapa menit untuk dapat masuk. Kita juga hanya diperbolehkan membawa benda-benda berharga, sementara tas harus dititpkan. Selain itu, kita tidak diperbolehkan menggunakan flash saat mengambil gambar di dalam GALNAS.

Secara garis besar, isi pameran di gedung B ini adalah perjalanan seni Indonesia yang dari masa ke masa. Isi pameran sendiri tidak hanya lukisan, tetapi juga patung atau bahkan film pendek. Saya sendiri bukanlah penikmat seni atau yang ahli dalam seni. Jadi, kurang memaknai setiap lukisan yang ada. Cuma bisa bilang ‘keren’, ‘bagus’ dan terkadang penasaran terbuat dari bahan seperti apa hingga ingin menyentuhnya. Tetapi hal itu tentu saja tidak saya lakukan, saya pada akhirnya hanya minta diabadikan bersama karya-karya anak bangsa tersebut.

Yang paling menarik bagi saya adalah sebuah karya di bawah ini.

Belajar Antre dari Semut
 Seekor binatang dengan wajah menggunakan topeng tapi memiliki rambut yang panjang berbaris menatap sebuah TV di depan mereka masing-masing. TV berukuran 14 inch itu menayangkan sebuah adegan semut yang sedang berjalan secara berurutan dan rapi, sebagaimana umumnya. Saya sungguh tidak mengerti dan bertanya, apa maksud dari semua ini. Mengapa TVnya dibiarkan menyala dengan suara yang aneh. Hingga akhirnya saya menemukan penjelasan di ujung dinding tentang karya tersebut. “Belajar Antre Dari Semut,” begitu bunyinya. Menohok dan juga kreatif. Meski harus dibayar mahal dengan tenaga listrik yang terus mengaliri agar TV dapat terus menyala.

Next, lukisan Raden Salah ini yang membuat saya terpana. 
Diantara 2 lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh
Saya excited sekali begitu menemukan 2 lukisan yang diceritakan dalam buku Adriana (karya Fajar Nugros dan Artasya Sudirman). Dua lukisan yang berkisah tentang pengangkapan Pangeran Diponegoro di masa yang berbeda. Dan salah satunya menyiratkan Pangeran Diponegoro mengenakan jubahnya, sementara di sisi yang lain tidak. Konon kabarnya (berdasarkan buku Adriana) jubah Pangeran Diponegoro ini memiliki kekuatan. Makanya, saat melakukan perundingan dengan Belanda dan berhasil ditangkap, Pangeran Diponegoro diketahui sedang tidak mengenakan jubahnya di dalam lukisan ini.

Pangeran Diponegoro tanpa jubahnya
Pangeran Diponegoro dengan jubahnya
‘Naiklah ke punggungku dan lihatlah bintang di langit, apa yang kau temukan ? Terbanglah ke sana dengan jubah yang dijaga dua malaikat.’ (salah satu potongan Teka Teki Adriana). By the way foto bareng lukisan Raden Saleh ini adalah most favourite saya dari semua hasil foto keliling Galnas.

Seperti yang saya bilang, kalau di Galnas ini koleksinya tidak hanya lukisan. Salah satunya adalah berikut ini…well, I’m not sure what exactly I can called it. Yang pasti ini keren. Bentuknya seperti celana, tetapi kalau kamu melihatnya lebih jelas readers, you will find something cool and funny.
Background Kumpulan Obat Kuat pada zamannya
 Celana ini terbuat dari sekumpulan bungkusan jamu obat kuat yang nampaknya pernah beredar di Indonesia. Dan ini bukan hanya sekedar bungkusan kertas atau plastik, bungkusan ini dibordir dan dijahit hingga saling membentuk celana. Makanya saya bilang ini cool dan keren. Anyway, ada siluet muka orang yang saling berhadapan juga di dalamnya kalau kamu dengan detail memerhatikan.

Karya lain yang membuat saya penasaran adalah “kehidupan”. Lagi lagi saya penasaran dari material apa karya ini terbuat hingga dapat menghasilkan efek terlihat banyak seperti itu.
Penasaran dengan Kehidupan I, II, III dan IV Nasution
Karya lain yang membuat saya menuangkan perhatian lebih di dalamnya adalah Peta Indonesia Baru. Kalau kamu menengoknya secara teliti, peta Indonesia ini dibolak balik posisinya sesuka si pembuat, tanpa merubah namanya. Contohnya, adalah pulau Sulawesi yang berbentuk K ini terlihat dalam keadaan horizontal berada di posisi Pulau Jawa pada Peta Indonesia saat ini. Meskipun demikian, keterangan di dalam Pulau berbentuk K itu adalah kota-kota yang terdapat di Pulau Jawa. Gambar lain adalah Pulau Sumatera yang posisinya justru vertikal menggantikan posisi Pulau Kalimantan. Dan apakah kamu dapat menerka readers, siapa yang mengambil alih posisi Pulau Sumatera pada peta Indonesia Baru tersebut. Lets try and found out. xixixi

Saya di hadapan Peta Indonesia Baru

”Conversation: Endless Acts in Human History” karya Entang Wiharso dan Sally Smart (kebangsaan Australia) ini adalah pameran yang ingin dilihat sahabat saya. Letaknya di Gedung A. Secara garis besar, pameran “Percakapan : Laku tanpa henti dalam sejarah manusia” ini menyentil kehidupan manusia saat ini. Isinya lebih banyak membahas tentang tubuh, perbatasan dan identitas. 

Karya Entang Wiharso
Maka dari itu tidak sedikit dari gambar-gambar di dalam pameran ini yang mungkin terlihat vulgar. Sally Smart sendiri lebih pada karya yang sifatnya menggunting dan menempel, seperti di bawah ini.

The Choreography of Cutting (Scissors)
Potongan potongan kertas itu menyiratkan banyak tokoh. Ada Michael Jackson, Lady Diana, Menteri Luar Negeri Adam Malik, Elvis Presley dll. Sekilas mirip chasing Iphone ya (heheheehehe). Sementara karya Sally yang lain banyak yang bentuknya tambalan-tambalan seperti di bawah ini.

Karya Lain dari Sally Smart




Pameran terakhir yang kami kunjungi adalah AFAIR 2016 yang terletak di gedung C. Pameran ini berisi karya-karya mahasiswa Arsitektur UI yang secara gak langsung juga bagian tugas kuliah mereka. Bentuknya ada maket ataupun desain autocad. Beberapa diantaranya sudah menuai prestasi di internasional. Harus diakui kalau desain mereka sangat out of the box dan visioner di mata saya yang sangat awam. Ya, semoga desain keren-keren itu dapat direalisasikan di negeri kita sendiri.

Nggak banyak foto yang saya ambil di sini karena sepenuhnya menikmati karya dan seakan merewind masa Junior High School kami. Sekolah kami mengadakan open house di setiap penerimaan murid baru dan di dalam rangkaian acaranya ada semacam pameran oleh kami yang pengunjungnya adalah orang tua murid. Yang paling saya ingat adalah kami melakukan demo cara membuat deterjen—hal ini related dengan pelajaran Kimia yang saat itu kami dapatkan.

Potret Jakarta dalam AFFAIR 2016
Melihat pengunjung di Affair 2016 ini adalah orang tua mahasiswa yang ingin melihat karya anaknya membuat saya flashback sejenak ke masa JHS hehe. Anyway, sayang sekali 2 pameran ini sudah beakhir pada 1 dan 4 Februari lalu. Tetapi, untuk pameran permanen yang ada di Gedung B masih ada. Jadi, kalau readers ingin mengunjunginya langsung saja ke sana. Tapi ingat, Senin libur. Dan sebaiknya membawa kamera yang bagus (jika ingin hunting foto).

Bersama Lukisan Kelahiran (kanan) di Gedung B Galeri Nasional

Untuk pameran temporer lainnya, mungkin readers harus sering-sering main ke webnya Galeri Nasional. Berkeliling di Galnas rasanya nggak cukup satu atau dua jam, jika kamu ingin mengetahui makna di setiap karya. Mungkin butuh seharian untuk mengelilingi sebuah gedung dan memaknainya, bukan hanya sekedar foto-foto layaknya orang awam seperti saya dan kebanyakan orang yang berkunjung di Galnas.
  

Thank you for completely reading.

 


Mural di Galeri Nasional

Salah satu koleksi di Gedung B Galeri Nasional
Koleksi Modern di Gedung B Galeri Nasional


October 18, 2015

#Reviews4Indonesia Adriana : A Maze of Love in Kilometer 0



“Can we meet up again?”
“Sure”
“When?”
“When lift’s carpet changes five times, I will meet you in the place where two snakes wrap to wound for each other, when proclamation was read.”

Adriana : A Maze of Love in Kilometer 0 told about Mamen’s adventure to meet up again with beautiful girl who he met in one of elevator’s national library through her riddles. Unfortunately, Mamen who has good looking and a lot of ex girlfriends when in high school didn’t had enough knowledge about history. Fortunately, he was helped by his bestfriend, Sobar. Sobar was like walked history book, so he could solved every word in the riddles. But, the situation was complex when somebody also sent the riddles for Adriana and Mamen.

This book was written from two points of views by Fajar Nugros and Artasaya Sudirman. For the first time maybe we will be confused and guess byself about who and what this book told about. Why ? Because this book didn’t just tell about Mamen and Adriana, but also many histories inside. There were about when Soekarno (Proclamator and First President of Indonesia) built statue of Pancoran, Hatta (Proclamator and First of Vice President Indonesia) and his dream which never can be reached, Pitung’s (Champion of legend in Jakarta) love story, reincarnation of Marie Antoinette, story of Adriana van den Bosch and his husband (James) who fight for indigenous until died, and story about behind the picture of Ki Hajar Dewantara (Fathers of Education in Indonesia) in Indonesian’s currency.   

There’s so many histories indeed which packaged in 386 pages, but you won’t be bored when you read. There’s always a reason to open in every pages, cause it felt like you found the puzzle pieces which you’ve never known. This book had back-forward plot so we  had to be patient and focus indeed. But seriously, you wont be bored when you read this book cause I felt like I was get in adventure.

This book also gave a lot of informations about histories of statues in Jakarta and its streets. One of quotes from this book was followed

I believe that our lovely city Jakarta contained a dragon. His tail was symbolized with fountain of  the Indonesian Banking which along to fountain of Hotel Indonesia. His stomach was in Semanggi where all of the axis turned and his head…in the Statue of Young Bulid who symbolized with fires. So, here we are, The stronger of Asian Tiger.

That’s why there’s so many buildings and center of bussines was there and made of traffic jam. This book also told about triangle love story with  extraordinary relieved from Mamen, I thought.

After finished this book, i would travel in Jakarta to see the statues and its history inside by myself. I was curious too with Adriana van Den Bosch’s grave in Bogor Botanical Garden. By the way, this book also had filmed with the same tittle by Fajar Nugros as Director in 2014.

Besides that, there’s so many riddles pieces which awesome packaged that you found out in this book. Here they were

“The day is three days after Fatahillah swept away Portuegese from Sunda Kelapa Harbour. The time was when Diponegoro’s War happened. However, people who touch ground have known when they were died, their bodies will have a grave far away from their countries. I am who waiting for you is Adriana, with  her dream that never extinguished”

“He solt his car to built me. Meet me in the place where I direct in the time of my deathly, Adriana”

“Tomorrow, when three in one ends, the dancer have to meet her boss in the head of dragon in the dark.”

“A place where Arjuna’s archer is there, look forward and bring me the archer, when three in one begins, Adriana”

“I was my country who I present  for this city”

“Meet me in the puddle of muds, a place where the buffalo has been dating, when they have legitimated me. Bring me the present for my heart, Adriana”

Okay, that’s all my review about Adriana. For readers who had read and loved this book, maybe we can make some tour history to visiting statues which told in this book. Happy reading and happy adventuring.



This book review is written to participate on #Reviews4Indonesia movement by NulisBuku.com & Kutukutubuku.com to support Indonesia as Frankfurt Book Fair's Guest of Honour 2015.


.






© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis