Jurang antara kebodohan dan keinginan untuk memilikimu..sekali lagi
Barisan
kalimat terakhir dari puisinya Rangga—karangan Aan Mansyur—itu secara nggak
langsung menjelaskan kalau si Rangga yang legendaris itu kembali lagi. Meski
tidak dalam satu purnama yang dia janjikan. Seenggaknya hal itu menjawab ribuan
tanya penonton selama 14 tahun berselang.
Di
tengah hiruk pikuknya Civil War,
terbukti kalau penasarannya penonton dengan AADC (Ada Apa Dengan Cinta) 2 ini
masih sangat besar. Buktinya, saya harus bolak balik 3 kali ke bioskop untuk
bisa menjawab rasa penasaran saya akan kelanjutan ceritanya. Allhamdulillah,
dengan perjuangan-yang-kok sampe gini banget
ya gue lakuin saking excitednya-
itu, penasaran saya sudah selesai semalam.
So, here it is my review. Bukan maksud
spoiler ya, just sharing tentang penilaian saya tentang film ini.
Setelah
kamu nonton film, pertanyaan yang kemudian datang dari seseorang yang belum
menonton adalah “Seru ga?”, tak terkecuali dengan film ini. Apalagi sudah
digantung selama 14 tahun. Pertanyaan itu juga saya dapatkan dari seorang teman
di Twitter. Seriously, saya suka
banget dengan Ada Apa Dengan Cinta, (tulisannya di sini).. saking sukanya dan
berkesan, saya justru tidak punya ekspektasi apapun dari film lanjutannya ini.
Saya
seolah ingin memberikan ruang dan menelan apa yang disuguhkan di AADC 2 ini
tanpa berharap apapun. Ya, meski kekecewaan itu sudah ada di depan saat tahu
Geng Cinta ternyata nggak lengkap. Maka, di AADC 2 ini saya hanya excited
dengan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga tentunya, tanpa memaksa mereka harus
bersama. Saya justru berekspektasi kecil kalau endingnya bakalan gantung seperti film pertamanya.
Ide
cerita yang dihadirkan pasca 14 tahun
ini bisa dibilang sudah sangat common
dan banyak kita jumpai di film-film Indonesia lain. Unfinished business yang menuntut diselesaikan saat orang paling
legendaris di hati kamu muncul kembali, padahal kamu udah bersiap menyambut
hidup yang baru. Saya rasa memang nggak mudah untuk mengemas kehidupan setelah
14 tahun dan yang sudah terjadi selama 14 tahun itu dalam 124 menit saja. Belum
lagi bukan kehidupan satu orang yang harus kamu ceritakan kembali, tetapi 6
orang. (Cinta, Rangga, Maura, Milly, Karmen, dan Mamet).
Maka,
menurut saya film ini berhasil membungkusnya menarik melalui intimate conversation di dalamnya antara
satu tokoh ke tokoh lain. Bahkan, banyak sekali percakapan diantara pemainnya
yang justru membuat saya dan penonton satu studio lebih sering terpingkal.
Termasuk di banyak scene antara Cinta
dan Rangga.
Meski
genre nya adalah romance, tapi adegan mereka berdua justru lebih sering membuat kita
terpingkal. Mulai dari pertemuan pertama mereka di pameran maupun di kedai
kopi—saat Cinta bilang kalau Rangga jahat—hingga makan malam bersama.
Untuk
karakter personil geng Cinta, maka menurut saya karakter Milly sangat mencuri
perhatian dengan porsinya yang polos tapi menggelitik. Yang selalu berhasil
memecah ketegangan diantara mereka. Sementara Rangga..karakter yang dibangun di
14 tahun kemudian lebih tegas dan dewasa, menurunkan sedikit keangkuhannya
dengan mengobral banyak senyum di banyak scene
saat jalan-jalan dengan Cinta tentunya. Karakter Cinta sendiri justru membuat
saya gregetan dan gemes. Dia terlalu plin plan untuk di
beberapa waktu, tetapi tegas dan mau mengakui kesalahannya.
Film
yang sudah 14 tahun ditunggu tunggu ini tidak luput dari sponsor-sponsor keren
dan mereka turut hadir di dalam film dalam bentuk nyata melalui scene-scene yang ada. Saat Cinta dikasih
minum air mineral pasca menampar Rangga. Saat Karmen mengabadikan tempat
tinggal Rangga di Jogja hingga saat momen tegang Karmen dan Milly membuntuti
Rangga sambil makan es krim.
Setting film ini menempatkan Jogja dalam
porsi yang lebih besar dibandingkan Jakarta dan New York. Dan saya rasa film
ini berhasil mengangkat banyak hal dari Jogja, selain Malioboro yang lebih
banyak dikenal orang. Nggak ada becak warna-warni yang in banget di jogja dalam film ini, tetapi ada pertunjukan boneka
yang menyayat hati dan villa nya Geng Cinta yang cozy banget. Secara nggak
langsung, film ini mengangkat Indonesia dengan cantik.
Hal lain yang melekat dari AADC adalah soundtracknya. Mungkin kamu masih ingat
lagu closing AADC yang judulnya
“Demikianlah”. Di AADC 2 ini, lagu tersebut jadi openingnya. Lengkap dengan desain opening title yang kekinian banget. Suara Hati Seorang Kekasih juga
masih mewarnai AADC 2 dengan gubahan yang lebih keras dan jauh dari mellow. Tune lagunya Bimbang juga masih sering nongol setiap Cinta kembali membuka puisi-puisi dari Rangga. Dan
yang menyenangkan buat saya pribadi, intro
lagu “Hanya” juga diselipkan sekali di part-part
awal film.
Wauww…nyatanya
cukup panjang review dari saya tapi
percayalah semua yang saya ceritakan di atas itu masih belum menjawab kenapa
Rangga yang segitu coolnya dibilang
jahat sama Cinta. Kamu nggak akan
tahu jawabannya kalau nggak nonton.
Tapi, yang mau ditarik kesimpulan dari film ini for me adalah we have to finished what we have started, so we can continue our life
better with no one hurted. Banyak orang-orang yang belum move on dari seseorang paling legendaris
di hatinya karena ada unfinished business
diantara mereka. Sebelum kamu milih untuk memulai kisah baru dengan orang baru,
lebih baik kamu tutup buku dulu dengan orang yang paing legendaris itu. Daripada
nantinya kamu setengah-setengah dan melukai orang lain. Buat keputusan tegas,
jangan plin plan.
Terima kasih sudah
membaca sampai akhir and happy watching
30 April 2016
0 comments:
Post a Comment