July 29, 2012

Sendiri

Sendiri 
by
Ecoutez




Sudah kering air mataku kini
Tiada yang perlu ditangisi tuk kepergianmu
Satu hal yang masih selalu tersisa
Cinta yang tulus dariku hanya untukmu


Betapa sulitnya diriku mencoba tuk melupakanmu
Sesungguhnya ku masih selalu berharap namun ku tak kuasa
Aku terbiasa sendiri semenjak kau tinggal pergi, jangan risaukan diriku
Tersenyumlah kasih dengan hidupmu yang baru dengannya
Aku terbiasa sendiri semenjak kau tinggal pergi, jangan risaukan diriku
Berikanlah dia cinta yang tulus darimu tuk selamanya
Aku terbiasa sendiri semenjak kau tinggal pergi, jangan risaukan diriku
Tersenyumlah kasih dengan hidupmu yang baru dengannya
Aku terbiasa sendiri semenjak kau tinggal pergi, jangan risaukan diriku
Berikanlah dia cinta yang tulus darimu tuk selamanya


Dua Belas Jam Aldina #1




Jika aku tahu berapa lama waktu yang masih tersisa untuk bersamamu, maka aku takkan memendam semua perasaanku hingga batas waktu yang tak tentu.
Jika aku tahu berapa lama waktu yang diberikan Tuhan untukmu, aku tak akan pernah mengendapkan perasaanku

Kulirik jam tangan biru metalikku yang menunjukkan tepat pukul 10. Matahari di hari Sabtu ini bersinar malu-malu. Angin yang berhembus sesekali menerbangkan rambutku. Hari ini begitu sejuk. Aku berdoa semoga hari ini tidak hujan. Hari yang akan kulewatkan dengan teman lamaku, Ega.
Ega berjalan menuju halte tempat aku menunggu dengan langkah pasti. Seuntai senyumnya yang manis dan khas telah terlihat dari kejauhan. Ega yang kini telah sampai di hadapanku adalah Ega yang berbeda dari 7 tahun lalu. Ega yang kukenal 7 tahun lalu—tepatnya saat kami sama-sama berada di bangku Sekolah Menengah Pertama—adalah seorang anak lelaki yang flamboyan. Ega lebih suka bermain bersamaku serta 2 sahabat perempuanku yang lain. Ega yang tak berjalan tegap, melainkan gemulai. Ega yang lebih suka warna merah muda daripada biru atau hitam, layaknya warna favorit anak lelaki. Ega yang perasaannya begitu sensitive, cepat menangis jika diolok-olok temannya. Ega yang pernah begitu menyayangiku. Ya, itulah Ega, sahabatku 7 tahun lalu.
Sekarang, Ega berjalan dengan begitu tegap. Tatapan matanya bisa begitu menusuk setiap gadis yang diajaknya bicara. Kehadirannya selalu menjadi pusat perhatian orang di sekitarnya. Tubuhnya nampak atletis dengan kemeja merah muda dan abu-abu yang membungkus tubuhnya. Kulitnya yang putih bersih seakan dimandikan susu setiap hari. Senyumnya bagaikan ombak yang bisa meruntuhkan istana pasir di pantai.
“Hai, Al”, sambut Ega dengan ramah dan senyumnya yang mempesona.
“Hai Ga. Masih suka warna pink?”, tanyaku iseng sambil menyapukan pandanganku menuju ke kemeja pink abu-abu yang dikenakannya.
“Iya, begitulah”, jawabnya sambil melihat sekilas pada kemeja yang dia kenakan, lalu pandangannya kembali padaku “Kamu manis sekali hari ini, Al”, puji Ega sambil menyapukan matanya melihat aku berflat shoes putih dengan dress pink selutut bertali sphagetti berbalut blazer putih.
“Terima kasih”, ujarku manis.
Ega melempar pandangannya ke arah lain seolah tak sanggup melihat ekspresiku yang melumatkan dirinya.
“Atas gombalannya”, sambungku lagi
“Serius manis, Al. Anyway…kode alam nih sepertinya kita”
Aku mengernyitkan dahi. Meminta penjelasan lebih jauh.
“Kita nggak janjian mau pake baju pink kan? Tapi sama-sama pake baju pink. Alam seolah menyatukan kita. Itu kode alam”, jelasnya sambil mencubit hidungku.
Aku terperangah. Tetapi mencoba untuk biasa saja.
“Siap untuk hari ini?”, tanya Ega yang berhasil mengakhiri kebisuan sejenak yang tercipta.
“Pasti !”, jawabku mantap.
Ega langsung mencuri telapak tanganku, mengaitkan dengan telapak tangannya. Kami menumpang bus tua yang hampir termakan usia menuju sebuah tempat yang menyimpan banyak kenangan diantara kami.
“Wauww bangunan ini nampak asing buatku. Banyak sekali yang berubah. Kamu setuju denganku, bukan?”, tanya Ega terkagum. Matanya tak lepas dari bangunan Sekolah Menengah Pertama kami yang nampak ramai oleh kegiatan ekstrakurikuler.
Aku menggeleng dan menyipitkan mata “Nggak juga ah, Ga”, jawabku yang langsung mematahkan argumen Ega sekaligus berhasil membuat cowok itu mengalihkan pandangannya padaku.
Mata Ega menyipit seolah tidak terima argumennya dipatahkan.
“Nggak ada yang berubah dari bangunan sekolah ini. Masih sama seperti 8 tahun lalu. Masih sama seperti saat aku, Chika, Mia dan teman-teman yang lainnya meninggalkan sekolah ini”
“Tapi…seingatku bangunannya berwarna krem, bukan hijau seperti saat ini”
“Iya, benar. Tapi setelah kamu memutuskan pindah di kenaikan kelas 3, bangunan ini dicat ulang menjadi hijau.”
“Ohya, aku pindah. Kenanganku di sini tentunya nggak akan sebanyak yang kamu miliki.”
“Ya, kamu pindah…tanpa memberitahuku. Sahabat macam apa itu”, dengusku kesal mengingat kepindahan Ega yang tiba-tiba dan tak sempat mengucapkan ‘selamat tinggal’.
“Aku kira kamu begitu membenciku saat itu dan sudah tak lagi menganggapku sebagai sahabat.”, jelas Ega dengan suara rendah. “Jadi, aku rasa aku tidak perlu memberitahumu, karena kamu sudah tidak peduli”. Ada kesedihan dari nada bicara dan matanya yang menerawang entah kemana.
“Bagaimana mungkin?”
“Karena kejadian itu? Bukankah begitu?”, lempar Ega dengan matanya yang menatapku begitu dalam. Seolah ada perasaan tersakiti dari tatapannya.
Aku melepaskan mataku dari Ega dan membiarkan angin menampar wajahku. Hingga sedetik kemudian, Ega mencengkram tanganku “Ada tempat yang ingin kukunjungi. Yuuk !”, ajak Ega lembut.
Aku mematung di depan tembok yang penuh akan berbagai coretan, baik nama, pesan, nama sekolah kami atau tempat tongkrongan yang terkenal semasa kami sekolah hingga saat ini.
“Al, sini deh !”, panggil Ega yang berada di sudut tembok. Wajahnya nampak sumringah seolah telah menemukan harta Fir’aun yang telah lama dicarinya.
Aku menghampirinya dan Ega tersenyum lebar. Ujung telunjuknya mengarah pada sebuah tulisan yang membuatku nyaris tercekat. Tertulis di sana Ega ♥ Aldina. Lalu, sebaris angka yang kuduga sebagai waktu penulisannya 061204.
“Astaga. Ini kamu yang tulis, Ga?”, tanyaku dengan wajah heran sekaligus kaget.
Ega mengangguk. “Kamu, ingat hari apa itu? 6 desember 2004?”
“Entahlah. Mungkin aku harus cek di kalender ponselku. Yang jelas, hari itu nggak mungkin Sabtu atau Minggu karena kamu menulis ini saat berada di sekolah, bukan?”, tanyaku sambil menyapukan pandangan mencari coretan lain. Manatahu ada namaku lagi di sana.
“Bukan begitu maksudku, Al. Hari itu…adalah hari dimana aku menyatakan perasaanku padamu, ingat itu?”, tanya Ega dengan nada yang serius.
Aku menghentikan pencarian namaku di tembok itu dan menengok ke arah Ega yang langsung menangkap mataku.
Ohya. Tentu saja. aku tak pernah sekalipun melupakannya. Karena Ega adalah orang pertama yang menyatakan cinta padaku dan..memintaku menjadi pacarnya saat itu.
“Haha lupa ya Al? Sudah lama juga sih, pantas saja kalau lupa”. Aku mendengar tawa yang terkesan dipaksakan dari Ega dan dia segera melepaskan matanya dari mataku.
“Mana mungkin aku lupa. Aku punya ingatan yang baik kok. Ya, aku ingat hari itu. Kamu keringat dingin mengucapkannya. Chika dan Mia yang menyuruhmukan?”
Chika dan Mia adalah sahabat kami. Kemanapaun kami pergi, bermain dan belajar selalu berempat. Saat kejadian itu berlangsung, Chika dan Mia yang membantu dan mendorong-dorong Ega untuk melakukan perbuatan yang—menurutku—bodoh dan menyebalkan.
“Al, sudah kubilang dari awal kalau bukan Chika dan Mia yang memaksaku. Mereka mengetahui kalau aku menyukaimu dan mengusulkan agar aku menyampaikan perasaanku padamu”
“Dan memintaku menjadi pacarmu?”, tanyaku dengan nada ketus.
“Ya, karena mereka bilang kau juga suka padaku…dan mereka adalah sahabatmu. Kupikir mereka benar, aku mempercayai mereka tetapi nyatanya..”
“Maafkan aku, Ga. Saat itu, Chika dan Mia begitu memaksaku yang justru menjadikanku membenci kamu karena aku merasa mereka lebih menyayangimu daripada aku. Mereka lebih mementingkan perasaanmu ketimbang aku. Mereka tidak pernah bertanya bagaimana perasaanku”
Aku menarik nafas. Mengumpulkan serpihan ingatan dan perasaan 8 tahun lalu.
“Keyakinan dari Chika dan Mia yang membuatku melambung percaya diri sehingga menuliskan tanggal ini sebelum tahu akan seperti apa jawabanmu”
“Maafkanku, Ga. Saat itu, aku hanya menganggapmu sebagai adik sekaligus sahabat bagiku. Rasanya aku ingin melindungimu dari cercaan teman-teman yang mengataimu…”
“Banci”, jawab Ega tanpa ragu.
Aku diam. Mencoba mencari kata yang pantas untuk menaggapi ucapan terakhir Ega, tapi kau tak juga menemukannya.
“Sudahlah. Lupakan saja itu. Mereka pasti sekarang hanya menelan ludah karena melihat Ega Rivano yang mereka olok-olok banci telah berubah seratus delapan puluh derajat”, papar Ega dengan bahagia.
“Setuju!”, jawabku cepat dengan tangan mengepal seolah ingin meninju orang.
Tawa kami meledak bersama.
“Tapi, perasaan yang kunyatakan padamu 8 tahun lalu masih sama hingga saat ini, Al”, ucap Ega menghentikan tawaku seketika.
Aku hanya terperangah. Meski kurasa aku mulai menyukai Ega, tetapi aku tak mau memberi harapan besar atau janji yang aku sendiri tidak pernah tahu apakah dapat kuwujudkan atau tidak nantinya.
Anyway, aku lapar, Al. Kantin yuuk!”, ajak Ega memecah kesunyian.
Kami telah duduk saling berhadapan di salah satu meja yang terdapat di kantin sambil menunggu pesanan mie ayam favorit kami semasa sekolah dulu.
“Jadi, kamu pindah sekolah ke Bandung?”, tanyaku mengawali pembicaraan.
“Iya. Aku nerusin SMP ku yang tinggal setahun itu di Bandung. Lalu balik lagi ke Jakarta pas SMA”
“Mondar-mandir aja. Nggak capek tuh?”
“Nggak kok. Seenggaknya masih lebih capek mengejar kamu”, goda Ega.
“Ih gombal banget deh”
Mie ayam yang kami pesan telah datang dan kami melahapnya dengan mantap sambil sesekali mengobrol.
“kenyanggg”, ujar Ega menyudahi mie ayam yang mangkoknya telah bersih.
“Rasanya masih sama ya, Ga”
“Iya, masih sama. Sama halnya dengan perasaanku ke kamu”
Bisa kurasakan pipiku bersemu merah mendengar perkataan Ega. Tetapi aku memilih menyembunyikan wajahku dari tatapan mata Ega.
“Sekarang kamu sibuk apa Ga? Sepertinya kamu sudah jadi eksekutif muda nih?”, tanyaku memecah keheningan.
“Haha bisa aja kamu Al. aku saat ini sedang sibuk kuliah”
“Kudengar kamu punya usaha rumah makan?”
“Iya. Bisnis kecil-kecilan yang modalnya kudapat dari setahun bekerja. Kamu tahukan selepas SMA aku sempat bekerja setahun. Nah setelah mendapat hasil yang lumayan dari usaha rumah makanku, aku memilih kuliah. Hal yang sangat kuinginkan sejak dulu”, jelas Ega.
Ya. Ega memang ingin kuliah sejak awal. Tetapi karena terbentur oleh masalah biaya, Ega mengikhlaskan dirinya bekerja di sebuah Hotel. Kini, Ega mewujudkan mimpinya. Berkuliah, bahkan dengan uangnya sendiri. Ega telah menjadi lelaki mandiri pikirku.
Setelah hujan sempat mengguyur dan memaksa kami menunggu lebih lama di sekolah, akhirnya hujan menyudahi aksinya. Bau hujan masih menyeruak menemani kami berbincang sambil bergegas meninggalkan sekolah.
“Kapan ya aku melewatkan hujan terakhir di sekolah?”, tanyaku yang lebih kutujukan pada diriku sendiri.
“Kalau aku sih ingat betul kapan saat aku melewati hujan terakhir di sekolah”, balas Ega ringan
Aku memalingkan kepalaku ke Ega yang bisa diartikan Ega sebagai sebuah pertanyaan Kapan.
“Saat aku minta maaf kepadamu untuk yang terakhir kalinya”, jawab Ega ringan.
Aku menghentikan langkahku dan memutar kembali hari yang dimaksud Ega. Aku tak pernah melupakan hari itu. Karena hari itu merupakan hari terakhir aku melihat Ega.




Sahabat (Pena) #2





Aku memoles bibirku dengan lipgloss cair merah muda. Menyesuaikan dengan gaun bertali sphagetti merah muda yang soft. Kuraih clutch putihku dan langsung menuju Honda Jazz Merah milikku. Mang Asep telah siap mengantarku ke sebuah restaurant—tempat aku dan Mas Andre janji bertemu.
“Andre nggak jemput kamu?,” tanya suara.Mbak Niken kaget dari ujung telpon.
“Aku juga nggak tahu mbak. Mas Andre bilang, ‘kita ketemu di venue jam 7 ya’ begitu. Dia nggak bilang mau jemput aku. Jadi, aku berangkat sendiri aja ke venue”
“Aneh banget sih tuh anak. Masa ngajak cewek ngedate tapi nggak mau jemput,” gerutu Mbak Niken kesal sendiri.
“Ini cuma makan malam aja kok, Mbak. Bukan ngedate,” jawabku malu.
“Apapun namanya. Kamu harus siap dengan berbagai kemungkinan. Ohya, siapkan jawaban terbaik juga”


Mas Andre menungu di meja yang berada di sudut restaruan bergaya Perancis ini. Interior restaurant ini memang sangat romantis. Cahaya yang ada nampak redup dan dipenuhi oleh lilin-lilin. Sementara warna yang mendominasi adalah warna putih.
“Maaf menunggu lama ya, Mas?,”. tanyaku sambil bersegera duduk.
“Nggak masalah. Orang yang ingin aku kenalkan ke kamu juga belum datang kok”
Apa yang kudengar barusan? Orang yang ingin Mas Andre kenalkan padaku?
“Aku mengundangmu makan malam untuk mengenalkan dengan seseorang. Seseorang yang pasti akan kamu suka juga.” jelas Mas Andre dengan senyum merekah. Rasanya aku tidak pernah melihat senyum Mas Andre sebahagia saat ini.
“Oya, Olin. Mungkin kamu mau pesan minum duluan?”
“Nggak perlu, Mas. Kita tunggu teman Mas Andre saja,” jawabku cepat.
“Olin, sebenarnya yang ingin aku kenalkan ke kamu bukanlah temanku. Tetapi dia calon tunanganku. Aku berniat melamarnya”
Apa? Jadi Mas Andre? Selama ini dia sudah memiliki kekasih? Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya. Padahal hampir setiap hari kuhabiskan dengan Mas Andre.
Belum selesai kekagetanku atas ‘kejutan’ yang dibuat Mas Andre, kini ia nyaris membuatku tak bisa bernafas.
“Illina,” panggil Mas Andre pada seseorang sambil melambaikan tangannya. Meminta orang yang dipanggilnya untuk datang.
Nama itu. Illina? Benarkah nama itu yang baru saja keluar dari bibir Mas Andre? Mungkinkah Illina itu adalah…
Illina yang dimaksud Mas Andre berdiri di hadapanku. Rambutnya panjang dengan ikal di ujungnya. Hitam pekat. Tubuhnya dibalut dress hijau dengan cardigan kuning gading. Matanya terbungkus kacamata. Tetapi dia sangat cantik. Dia lebih cantik dari yang kukenal. Dia Illina yang kukenal baik selama 7 tahun. Illina, hantu dari masa laluku.
“Maaf Mas, aku terlambat. Jalanan macet sekali”
“Nggak apa kok. Kami belum terlalu lama menunggu, iyakan Olin?”
Aku menelan ludah. Membasahi tenggorokanku dan mencoba bersuara. Tetapi gagal. Aku hanya mengangguk.
“Aku sudah ceritakan banyak tentang kamu ke Illina. Sayangnya, aku nggak banyak menceritakan tentang Illina ke kamu. Tetapi, malam ini aku akan mengenalkanmu. Nah Olin, ini Illina. Dia pacarku”
Nafasku tercekat. Mungkin aku akan segera lupa bagaimana caranya bernafas. Tetapi nampaknya aku akan lebih senang jika aku lupa dengan siapa itu Mas Andre. Kalau perlu, seharusnya ia tidak perlu hadir dalam kehidupanku, jika pada akhirnya menghadirkan Illina kembali dalam kehidupanku.
“Hai Olin. Terima kasih sudah meluangkan waktumu yang begitu sibuk sebagai penulis untuk makan malam ini,” sambut Illina santun dan manis. Tetapi ucapannya jutru menusuk ke dasar hatiku.
“Hai,” jawabku pendek.



“Aku sudah baca cerpenmu yang kemarin dan aku langsung menangis di ujung cerita. Kok bisa sih kamu sejahat itu membuat ending cerita untuk pasangan kekasih itu?,” cerocosku panjang lebar kepada Illina di kantin saat jam istirahat.
“Yaaaa, aku hanya ingin pasangan kekasih itu berakhir seperti itu,” jawab Illina menggantung sambil menyedot Jus Stroberri kesukaannya.
“Tetapi aku sudah menjadi penggemar sekaligus korban cerpen kamu yang overall sad ending seperti itu”
“Kalau sudah ngefans, ya terima saja bagaimana ending di setiap cerpenku,” timpal Illina santai sambil memamerkan lidahnya.
“Lin”
Panggilan itu sontak membuatku, maupun Illina menoleh ke sumber suara. Irgi. Illina kembali mengembalikan pandangannya, mengetahui bukan dirinya yang dimaksud. Uhh. Menyebalkan sekali. Sudah kubilang jangan menggunakan panggilan itu saat aku sedang bersama Illina.
“Hai, Olin Sayang,” sapa Irgi ramah. Juga menyebalkan.
“Ini buat kamu”. Irgi menyodorkan segelas minuman jeruk dingin kepadaku.
“Makasih,” jawabku tersenyum tipis, namun tulus.
Irgi adalah pacarku. Sementara, Illina dalah sahabatku sejak kami duduk di bangku SMP. Sekarang, kami bertiga sama-sama duduk di kelas 2 SMA.
“Lagi ngobrolin apa nih? Ikutan dong”
“Bukan ngobrolin game kok, Gi. Jadi kamu pasti nggak akan suka,” jawab Illina.
“Pasti ngobrolin cerpen deh. Iyakan?”
“Bingo ! Tahu aja ih kamu, yang”
“Hem kalo gitu, aku ganggu dong. Yaudah, aku akan segera pergi. Tapi, aku sempat mikir deh. Kalian berduakan sama-sama suka nulis, kenapa nggak duet bareng untuk membuat novel. Terus kirim ke penerbit deh. Pasti diterbitin deh,” usul Irgi sok tahu.
Aku dan Illina hanya saling berlempar senyum.


Mama sudah berulang kali meneriakkan namaku, menyuruhku untuk makan malam. Tetapi, aku masih membaringkan tubuhku di kasur sambil menekuri notebookku. Seperti biasa, setelah membaca cerpen terbaru Illina di blog pribadinya, ada saja inspirasi yang merasuki pikiranku. Setiap detail dalam cerpen milik Illina tersimpan banyak hal yang dapat kukembangkan. Tidak heran jika cerpen yang kubuat, jumlahnya sudah menyamai Illina, bahkan telah melebihinya.
“Olin, telpon dari Illina,” ujar Mama tiba-tiba dengan kepala yang menyembul dari balik kamar.
Aku baru teringat. Nada panggilan maupun pesan di ponselku selalu ku set silent mode, juga tanpa getar. Semua itu kulakukan saat ide untuk menulis cerpen beterbangan di kepalaku dan memintanya untuk segera dituangkan ke dalam tulisan. Pasti, Illina sudah mencoba menghubungiku ke ponselku sejka tadi.
Aku keluar kamar dan meraih gagang telpon yang teronggok seorang diri. Tetapi di seberangnya ada sahabatku, Illina, si sumber inspirasi.
“Iya, Lin ada apa?,” tanyaku langsung.
“Tugas makalah individu dari Pak Sobri itu dikumpul besok atau minggu depan sih? Aku belum selesai nih soalnya”, jawab Illina langsung. Ada nada ketakutan di sana. Illina memang paling takut mengumpulkan tugas terlambat atau tidak sesuai dengan kehendaknya. Ya, dia adalah Nona Perfecto.
“Minggu depan, Sayang. Nggak usah panik gitulah. Lebih baik kamu buat cerpen baru daripada panik gitu”
“Hffpph”. Terdengar helaan nafas dari ujung telepon.”Syukur deh kalau gitu. Duuh istirahat dulu ah buat cerpennya. Lagi banyak tugas nih. Anyway, aku udah baca cerpen kamu yang terbaru. Nggak nyangka banget deh sama ending ceritanya. Dasar Miss Unpredictable”
Aku dan Illina memang saling menulis cerpen dan mempostingnya di blog pribadi kami masing-masing. . Kami akan saling mengkritik atau memuji satu sama lain setelah membacanya.
“Haha, biar saja daripada kamu Miss Sad Ending !”
“Tapi aku suka dengan jalan ceritanya. Begitu hidup”
“Makasih. Cerpen aku juga kebanyakan terinspirasi dari kamu, Lin”
“Ohya? Yang mana?”
“Mana aja”
Illina hanya mendengus kesal, lalu kami berdua tertawa seketika. Masih melalui kabel telpon yang menghubungkan kami. Mama melintas sambil senyum, memaklumi tingkah dua remaja yang telah 5 tahun bersahabat.



Mas Andre perlahan menyesap teh hangat yang telah dibuatkan oleh Bi Inah. Mas Andre sudah berada di ruang tamu rumahku sejak 30 menit yang lalu. Wajar saja dia langsung datang ke rumah saat aku membatallkan seluruh agenda hari ini. Mas Andre khawatir dengan keadaanku. Apalagi, aku pulang duluan sebelum dinner berakhir dengan alasan tidak enak badan.
“Illina titip salam buat kamu. Dia berharap kamu segera sembuh. Supaya bisa produktif lagi menulis”
Wajahku menegang. Illina. Kenapa harus nama itu lagi yang kudengar. Padahal aku berniat istirahat hari ini untuk menjauhkan nama itu dari telingaku. Mas Andre nampaknya merasakan perubahan pada diriku saat ia mengucapkan nama kekasihnya itu.
“Mas sudah tahu kalau kamu dan Illina bersahabat sejak SMP. Illina sudah cerita semuanya”
Semuanya? Tanyaku dalam hati dengan pandangan bertanya ke arah Mas Andre.
“Kecuali satu hal. Akibat kerenggangan kalian. Illina tidak menceritakannya, dia bilang dia tidak tahu mengapa hubungan kalian merenggang. Mas harap, kamu mau berbagi dengan Mas, Lin. Atau mungkin kamu juga ingin menceritakan kembali bagaimana persahabatan kamu dengan Illina.”
“Mas Andre sudah dengar dari Illina, bukan?”
“Iya. Tetapi bisa saja versinya lain kalau kamu yang bercerita”. Mas Andre terseyum ramah dan semakin membuat seluruh tubuhku lemas.
“Tidak ada yang berbeda, Mas. Semua cerita yang akan keluar dari mulutku pastinya sama dengan apa yang telah diceritakan Illina”
“Baiklah. Kalau begitu, ceritakan saja apa yang menyebabkan hubungan kalian merenggang?”
Aku menyesap teh hangat yang telah dingin buatan Bi Inah. Membasahi tenggorokanku. Meletakannya kembali, lalu menerawang jauh. Mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan ketakutanku yang tak pernah kubagi dengan siapapun..



Seorang gadis berambut panjang ikal duduk manis. Matanya menyapu ke seluruh penjuru kantin. Mencari seseorang dan orang itu adalah aku.
“Hey girl. Sendirian aja. Udah lama?,” goku iseng sambil menempelkan bokongku di kursi kantin kampus.
“Lama banget. Kemana aja sih Lin?”
“Duuh biasa deh Dosen kalau udah khotbah, suka lupa berhenti. Maaf ya. Aku traktir es krim, bagimana?”
Illina mengangguk. Kini, aku dan Olin telah menjadi mahasisiwi semester 2. aku mengambil Jurusan Hubungan Internasional, sementara Illina memilih Sastra Inggris. Kami berkuliah di tempat yang sama, tetapi tentu saja tidak sering bertemu seperti dulu. Karena gedung tempat kami bernaung berbeda.
Aku sudah hampir siap untuk menyuapkan suapan pertama ketoprak langgananku di kampus, kalau saja handphoneku tidak berdering. ‘Aryani is calling’ tertera di layer handphoneku. Dia adalah kakak sepupuku.
“Iya, kenapa mbak?”
“Kemana?” tanyaku lagi. “Untuk apa?.....Sekarang?....Ya sudah aku ke sana 15 menit lagi”
“Siapa?,” tanya Illina
“Mbak Aryani. Aku disuruh ke kantor Penerbit Buku Ilusi. Kamu mau temani aku?”
Illina sudah tahu kalau Mbak Aryani adalah kakak sepupuku. Sebagai sahabat selama 6 tahun, kami sudah sangat saling mengenal.
“Mau sih, tapi sayangnya aku nggak bisa, Lin. Ada kuliah jam 1. Dosennya killer, nggak mungkin cabut”
Aku melirik jam tangan hijau tosca milikku dan mendapati angkanya menunjukkan pukul 12.30. aku menghembuskan nafas pasrah, karena harus pergi ke Penerbit Ilusi sendirian dengan tujuan…aku saja tidak tahu apa tujuanku ke sana. Kecuali satu hal, Mbak Aryani yang memintaku dengan setengah berteriak bahagia seolah baru saja memenangkan undian 1 Milyar.


Seorang wanita pertengahan 30 tahun menyalamiku dengan sangat ramah saat aku baru saja memasuki salah satu ruangan di Kantor Penerbit Ilusi.
“Jadi ini yang namanya Olin?,” tanya wanita itu sambil melirik ke arah Mbak Aryani. Mbak Aryani juga ada di ruangan yang nampaknya ruang kerja si wanita itu. Wanita yang belum kuketahui siapa namanya.
“Iya, ini Esthyca Violin. Sepupu saya ini sekarang semester 2 Jurusan Hubungan Internasional. Kisah-kisahnya itu dituliskan semasa dia masih SMA,” cerocos Mbak Aryani.
Wanita itu mengangguk. Aku bingung. Kisah apa?
“Olin, kami suka dengan cerpen-cerpen yang telah sepupumu kirimkan ke Penerbit Ilusi. Kami ingin membukukannya, bagaimana? Apa kamu setuju?”
Jantungku nyaris mencelos. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Cerpen-cerpenku? Akan dibukukan? Lalu diterbitkan? Ya Tuhan, benarkah ini? atau hanya mimpi siang bolong saja kah?
Mbak Aryani menyikut lenganku. Menyadarkanku dari semua ini. menjelaskan lebih dalam kalau ini bukan mimpi.
Aku mengangguk cepat. “Setuju. Tentu saya setuju”
Ternyata Mbak Aryani iseng mengirimkan kumpulan cerpenku yang kusimpan di notebookku.
Berbagai proses pengeditan mulai dilakukan dan sekitar 2 minggu setelahnya, buku pertamaku diterbitkan. Berisi kumpulan cerpen-cerpenku yang kutulis semasa SMA. Cerpen-cerpen yang kutulis karena terinspirasi dari cerpen Illina. Buku pertamaku terpajang di berbagai Toko Buku. Aku merasa bahagia, sekaligus bangga. Juga berterima kasih dengan Mbak Aryani yang telah membuka semua kesempatan ini.
Beberapa hari setelah euphoria itu aku menyadari bahwa cerpenku tidak seutuhnya lahir dari pikiranku. Aku telah banyak mengembangkan semua cerpen yang lebih dulu dibuat oleh Illina. Aku merasa telah merebut sesuatu yang seharusnya menjadi milik Illina. Rasa bersalahku semakin menggunung, terlebih lagi saat mengetahui bahwa cerpen-cerpen milik Illina ditolak oleh berbagai penerbit karena ceritanya dianggap hampir sama dengan milikku.
Illina memang tidak pernah marah atau merasa idenya dicuri atau menjadi objek plagiat meski tidak secara keseluruhan, tetapi aku tidak lagi nyaman berada di dekat Illina. Aku merasa sangat berdosa di hadapannya, tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin Illina juga merasakan apa yang kurasakan. Mulai melakukan talkshow, bedah buku, promosi. sayangnya, aku tidak tahu bagaimana caranya agar Illina bisa merasakan itu semua juga. Aku memutar otak dan mengusulkan ke Penerbit Ilusi agar menyetujui novel duet antara aku dan Illina. Tapi pihak penerbit menolaknya, karena aku harus terlebih dahulu fokus dengan buku pertamaku.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Buku pertamaku yang harus cetak ulang setelah 3 bulan terbit memaksaku semakin sibuk dan sulit komunikasi dengan Illina. tetapi inilah kesempatan bagiku, pikirku. Kesempatan untuk pergi sejauh mungkin dari Illina. aku tidak sanggup menelan rasa bersalah ini. Illina terlalu baik untukku karena tidak marah padaku, tetapi aku tidak bisa bertahan dengan semua kebaikan Illina. aneh! Ya memang. Akhirmya, aku mulai fokus dengan promosi buku pertamaku dan mulai menulis novel untuk buku selanjutnya.
Keasikan menulis novel membuatku lupa akan Illina. tetapi tidak pernah melupakan rasa bersalahku dari Illina. Selama ini, aku hidup dihantui rasa bersalah. Aku menutup diri dari siapapun. Menulis selalu membuatku lupa akan Illina, hantu masa lalu bagiku. Meski begitu, selama 3 tahun ini aku merindukan Illina. Kalau banyak orang mengatakan kehidupanku begitu sempurna, itu adalah salah. Aku kehilangan Illina. seorang sahabat yang sangat kucintai dan mencintaiku.



“Kamu tidak bersalah atas semua ini, Olin. Berhentilah menghukum dirimu sendiri dengan semua pikiran buruk itu,” ujar Mas Andre akhirnya.
“Aku salah,Mas. Jelas-jelas aku salah karena aku adalah sahabat yang jahat,” jawabku sambil terisak.
“Kamu tidak jahat. Semua ini sudah ditakdirkan. Kamu sebagi penulis dan Illina sudah sangat bahagia menjadi seorang penerjemah, karena dia juga tetap menulis”
Aku terisak. Penerjemah? Illina menjadi penerjemah sekarang? Dia pasti senang, karena salah satu cita-citanya tercapai.
Mas Andre menggenggam tanganku lembut. Ada kehangatan yang mengaliri seluruh darahku. Dari sinar matanya tersirat ketulusan dan kesungguhan. “Kamu nggak salah, Olin. Cerpen-cerpen kamu adalah hasil karyamu. Asli buah pikiranmu. Illina adalah inspirasimu, tapi bukan objek plagiatmu. Kamu harus percaya itu”



“Nah sekarang adalah pemakaian kalung yang akan dilakukan oleh Andre Diraatmadja kepada Putri Illina Kertadjaya sebagai hadiah sekaligus pemasangan cincin tunangan sebagai pengikat bagi keduanya,” ujar MC yang disambut dengan tepuk tangan meriah para tamu yang datang. Termasuk aku.
Mas Andre memasangkan kalung emas putih dengan liontin bintang di leher Illina dengan lembut. Setelah itu mereka satu sama lain melingkarkan cincin tunangan di jari manis satu sama lain. Aku tersenyum bahagia melihatnya. Meski kutahu, cincin yang melingkar di jari manis Mas Andre adalah lampu merah bagiku.
Mas Andre telah membuat hatiku luluh dan akhirnya kembali kepada kehidupanku yang indah dan kurindukan. Kehidupanku bersama Illina. Ya, aku telah berbaikan dengannya. Aku tidak tahu kata apa yang tepat, karena rasanya kami memang tidak bertengkar. Aku melenyapkan semua pikiran buruk yang menghakimiku selama 3 tahun ini. Semua itu berkat Mas Andre yang terus mendorongku untuk percaya bahwa aku tidak bersalah.
Illina menghampiriku dengan kebaya biru lautnya yang sangat cantik.
“Aku sudah bertunangan, Olin,” ujarnya bahagia. “Aku bahagia”, tambahnya sambil memelukku.
“Aku juga bahagia untukmu dan Mas Andre”
“Kamu tahu, rasanya kebahagiaanku malam ini lengkap karena 2 orang yang sangat kusayangi berada di sisiku”
Illina melepaskan pelukannya. “Jangan pergi lagi ya, Olin. Aku nggak bisa menemukan sahabat seperti kamu di duina ini, karena Olin cuma satu di hati aku”
Aku nyaris tersedak mendengar kata-kata puitis dari Illina yang sangat berlebihan itu. Aku mengangguk pelan dan kembali memeluknya.
Aku ikhlas melepaskan Mas Andre, tetapi aku nggak akan ikhlas untuk melepaskan sahabatku yang satu ini. Sekarang, kehidupan Esthyca Violin, penulis muda berbakat sudah lengkap, karena dia telah menemukan sahabatnya yang telah lama hilang.



Pergi cinta lupakanlah aku cinta
Ku relakan akan dia.. ada dipelukmu
Pergi cinta.. hapus bayanganku.. cinta
Bahagiakan dia.. cinta
Sampai akhir waktu
Engkau bersamanya

(Pergi Cinta - Audy)



END

July 17, 2012

Sahabat (Pena) #1



Olin, penulis muda berbakat yang sedang naik daun memiliki segalanya, kecuali satu hal.

“Aku suka banget mbak dengan ilustrasi untuk cover novel terbaruku. Akhirnya bisa digambarin juga sama Mbak Niken. Maklum, Mbak Niken kan super sibuk”, cerocosku setelah menempelkan bokongku di kursi empuk di sebuah kedai kopi yang berada dalam Mall.
“Aku juga senang bisa buatin ilustrasi untuk cover novelis yang lagi naik daun ini. Maaf ya baru bisa buatin di novel kelima kamu ini,” balas Mbak Niken dengan senyum lembut dan cantik.
Mbak Niken adalah ilustrator cover di Penerbit Ilusi, penerbit tempat aku bernaung.. Aku mengenalnya sejak novel keduaku terbit. Kami memang dekat, Mbak Niken sudah kuanggap seperti kakak perempuanku, sekaligus teman curhat, juga teman berbagi inspirasiku.
“Iya, Mbak. Terima kasih banyak lho. Nanti buatin lagi untuk novel-novel selanjutnya ya. hihi,” godaku.
“Sip. Tenang aja. Omong-omong, Andre kemana? Kamu datang sama dia kan?,” tanya Mbak Niken dengan celingak celinguk, mencari sosok lelaki yang bersamaku.
Mas Andre adalah manajerku setahun belakangan ini.
“Tadi di acara launching novelku, Mas Andre ketemu sahabat lamanya. Jadi, dia minta waktu untuk ngobrol sebentar. Tapi nanti dia kesini kok,” jawabku.
“Ooh begitu. Ohya, bagaimana hubungan kamu dengan Andre? Sudah sampai mana?,” tanya Mbak Niken tiba-tiba.
“Yaa, hubungan layaknya manajer dengan penulis. Memang, maksudnya Mbak Niken, hubungan yang seperti apa?,” tanyaku menahan wajah yang sepertinya mulai memerah.
“Olin, aku tuh tahu lagi kalau kamu sebenarnya suka kan sama Andre? Aku bisa lihat kok dari tatapan kamu ke dia,” ungkap Mbak Niken tepat sasaran.
“Duh susah ya punya teman kayak Mbak Niken. Jeli banget matanya,” jawabku tak mengelak.
“Jadi?,”
“Aku nggak tahu gimana perasaannya Mas Andre ke aku, Mbak,” jawabku sedih.
“Yasudah, kamu tanyakan saja”
Mataku langsung melotot. Semudah itukah menurut Mbak Niken? Tentu saja tidak buatku gerutuku dalam hati.
“Kamu beritahu saja bagaimana perasaanmu ke Andre. Nanti dia juga akan balas memberitahu perasaannya. Jadi kamu tidak akan bertanya-tanya sendiri seperti inikan?”
“Tapi, Mbak. Aku kan perempuan….”
“Lho memangnya kenapa? Nggak salah kok seorang perempuan menyampaikan perasaannya ke seorang pria yang dia suka.”
Aku tertunduk. Menerawang ke dalam cangkir berisi coklat panas yang kupesan. Seolah mencari kebenaran dari perkataan Mbak Niken di dasar gelas yang terisi gelapnya coklat.
Mbak Niken menyentuh tanganku lembut. “Ingat, kamu hanya menyampaikan perasaanmu ke Andre, bukan memintanya untuk menjadi suamimu”
Aku tersenyum lembut menatap Mbak Niken yang tersenyum hangat. “Akan kupikirkan, Mbak,” jawabku jujur.
“Halo. Ladies. Sudah menunggu lamakah?,” tanya Mas Andre yang memecah keseriusan perbincanganku tadi dengan Mbak Niken.
Aku terlonjak kaget. Seperti biasa. Kedatangan Mas Andre selalu memacu jantungku berdegup lebih cepat.
“Lama sekali. Seharusnya kamu tidak meninggalkan seorang wanita sendirian,” cerocos Mbak Niken sambil melirikku.”Untung saja ada aku yang menemaninya”
Mas Andre tertawa, memamerkan sederet gigi putihnya yang rapi. Lalu ia melemparkan matanya ke arahku sambil tersenyum “Maaf ya, Olin”
Aku hanya mengangguk kecil. Tetapi kakiku lemas setiap melihat senyum itu.


Seperti biasa, Mas Andre telah berdiri manis dihujani sinar matahari pagi di depan gerbang rumahnya.
“Selamat pagi, Mas,” sambutku ceria dari kursi belakang Honda Jazz Merah.
“Selamat Pagi juga, Olin,” jawabnya dengan senyum yang menghias. Aku langsung memegangi lututku. Lemas.
“Selamat Pagi, Mang Asep,” sambut Mas Andre setelah duduk manis di sebelahku kepada supirku.
Mas Andre memang ramah. Itu yang membuatku menyukainya.
“Agenda hari ini adalah siaran di Imagine Radio, bedah buku di Universitas Harapan Kasih, launching buku di Senayan City. Well, hari ini agendamu tidak terlalu padat. Jadi, kalau kamu ingin berjalan-jalan kamu bisa gunakan hari ini.”, jelas Mas Andre membacakan agendaku seperti biasa.
Aku hanya menerawang ke luar melalui kaca mobil. Memikirkan seseorang yang ingin kutemui, tapi tidak tahu dimana keberadaannya.
“Ohya, ada yang ingin mengajakmu makan siang hari ini”
“Siapa?,” tanyaku langsung sambil melepas pandanganku dari luar dan menuju ke Mas Andre.
“Irgi. Katanya dia teman SMA mu? Ingat?”
Tentu saja. Dia mantanku saat SMA. Mau apa dia?
“Aku nggak mau, Mas”
“Kamu yakin? Padahal dia sudah menghubungi Mas seminggu terakhir ini. Meminta Mas untuk menyelipkan jadwal makan siang bersamanya di agendamu. Sayangnya, seminggu terakhir ini agendamu penuh. Terpaksa Mas menundanya. Tapi baiklah kalau kamu tidak mau.”
Seminggu terakhir? Seniat itukah irgi? Terakhir kami bertemu adalah Ramadhan 2 tahun yang lalu. Setelah itu tidak pernah saling kontak.
“Kemarin Mas ngobrol dengan Dian. Orang dari Air Mineral Tirta, kamu tahukan?”
“Iya,” anggukku serius. “Air mineral berperisa itukan ? Terus kenapa Mas?”
“Kalau kamu nggak keberatan, aku ingin menambahkan agendamu dengan membintangi iklan tersebut. Kemarin Dian kasih tawaran itu. Itu kalau kamu nggak keberatan, bagaimana?”
“Aku mau kok, Mas”
“Oke,” jawab mas Andre dengan senyum merekah. Tangannya menari-nari di buku agenda biru miliknya.
Apa Irgi berniat balikan denganku? Masa iya sih?
“Ohiya. Prosa Magazine ingin menyediakan satu rubrik khusus untuk kamu. Rubrik bulanan. Kamu bisa menuliskan apa saja di dalamnya. Kamu mau memikirkannya terlebih dahulu?,”
“Hemm…ya aku aku akan pikirkan, Mas. Mas Andre juga bantu kasih masukan ya”
“Sip,”. Tangannya kembali menari di agenda biru itu.
Aku selalu suka bagaimana cara Mas Andre melemparkan berbagai tawaran kepadaku. Tidak memaksa. Setiap kata yang dipilihnya begitu lembut dan sopan. Mungkin itulah yang membuatku bertahan selama setahun terakhir ber-manajerkan Mas Andre. Sebelumnya, manajerku adalah perempuan, yaitu Mbak Aryani yang merupakan sepupuku. Karena harus menikah, ia terpaksa melepas jabatannya sebagai manajerku. Lalu, mengenalkanku dengan temannya, yaitu Mas Andre. Ada banyak keraguan, juga kecanggungan saat pertama kali bermanajerkan Mas Andre. Pasalnya dia adalah seorang lelaki. Aku khawatir, ia tidak dapat mengerti aku. Apalagi dengan kehidupan sosialku saat itu.
“Satu lagi. Minggu depan, ada undangan makan malam dariku. Bersediakah?”
Aku nyaris tersedak. Meski tidak sedang makan apapun. Tentu saja aku bisa. Apa dia akan melamarku?
“Oh pati bisa kok, Mas,” jawabku dengan senyum sumringah.
“Bagus”



“Mas Andre, kita mau makan siang dimana?,” tanyaku langsung setelah keluar dari Imagine Radio.
“Maaf. Olin, hari ini aku nggak bisa menemani kamu makan siang. Aku ada janji dengan temanku. Kamu nggak keberatankan? Atau aku minta Niken untuk temani kamu makan siang?,” jelas Mas Andre. Seperti biasa, kata-kata yang dipilihnya selalu lembut dan sopan. Dari nada bicaranya juga tersirat rasa penyesalan.
“Oh oke. Nggak masalah kok Mas,” jawabku mencoba agak tidak terdengar kecewa.
Kami hanya diam di dalam lift yang mengantarkan ke lantai dasar. Imagine Radio berada di salah satu Mall besar di Jakarta.
“Mas, aku ingin makan siang dengan Irgi saja. Bisa tolong beritahu dia?”



Aku mengaduk orange juice dengan malas. Isinya tinggal setengah. Kalau tahu Mas Andre, aku pasti sudah dicekiknya karena telah menghabiskan setengah gelas orange juice sebelum makan nasi. Pasalnya, aku memiliki penyakit maag. Pikiranku melayang ke Mas Andre. Mengapa Mas Andre tidak memberitahuku terlebih dahulu kalau dia akan makan siang dengan temannya? Lalu siapakah teman yang dia maksud? Mengapa aku tidak dikenalkan? Apakah teman yang ditemuinya kemarin di launching buku?
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Mencoba menepis pikiran tentang Mas Andre. Dia hanya manajerku. Dia juga seorang manusia. Dia butuh privasi. Sama halnya dengan aku yang butuh privasi, makanya hanya orang-orang tertentu yang dapat menghubungiku. Sisanya, berurusan saja dengan Mas Andre. Begitu juga dengan Irgi.
Irgi? Iya lelaki itu. Aku yakin. Lelaki berkaus kuning dengan jaket putih yang membungkusnya itu adalah Irgi. Tatapan mencari seseorang dari matanya itu tak pernah bisa menggantikan Irgi dengan siapapun. Karena ekspresi bodoh mencari-carinya itulah yang selalu kusuka. Tetapi 5 tahun lalu, gerutuku dalam hati.
Irgi menangkap mataku dan seketika menghampiri meja—tempat aku menunggu sejak 30 menit yang lalu.
“Hai Olin. Maaf udah buat kamu menunggu lama. Masih ingat akukan? Irgi?,”
Irgi mengawali kalimat pertamanya dengan sangat lancar. Kalimat pertama yang dia ucapkan padaku sejak 2 tahun tidak bertemu ataupun kontak. Sementara aku? aku beresi keras menelan ludah dan mengumpulkan sekuat tenaga membalas pertanyaannya. Harus kuakui, aku merasa gugup.
“Tentu saja aku ingat. Aku belum menjadi nenek hingga mudah lupa”, jawabku.
Irgi tertawa kecil. Aku juga mengikuti. Mencairkan kecanggungan yang mungkin saja akan datang.
Anyway, aku lapar. Bisa kita pesan makan sekarang?,” tanyaku.
“Ohiya. Pasti,” jawab Irgi salah tingkah.
Waitress baru saja pergi setelah mencatat pesananku dan Irgi.
“Aku dapat telepon mendadak dari manajermu untuk makan siang bareng kamu. Makanya aku sedikit terlambat. Maaf”, ucap Irgi membuka percakapan.
Its Okay. Aku juga minta maaf karena telah mengabarimu mendadak”
“Kamu nggak perlu minta maaf. Aku mengerti kok, kegiatanmua begitu padat. Kamu sudah meluangkan waktu untukku saja, rasanya sudah sangat senang hatiku.”
Ini gombal, Olin. Ingat itu!
Aku hanya tersenyum. Tidak tahu atau lebih tepatnya malas harus menimpali apa.
“Kata Mas Andre, kamu berusaha untuk makan siang bersamaku sejaminggu terakhir ini. Ada apa memangnya?,” tanyaku sambil mengaduk soto betawi pesananku yang telah tiba.
“Hanya ingin melihatmu. Aku…”
Mataku langsung terangkat dari mangkuk soto betawi saat mendengar ucapan Irgi yang menggantung. Berharap dia melanjutkan omongannya yang menggantung.
“Aku kangen sama kamu, Lin. Sudah 2 tahun lho kita nggak ketemu”
Aku hanya tersenyum kecil. Senyum mengejek. Juga benci mendengar pernyataan Irgi. Khawatir. Kalau-kalau perasaan untuk Irgi kembali muncul setelah sekian lama dapat kuhapus. Irgi memang pria yang baik. Aku tahu dia begitu menyayangiku, tetapi aku lebih tahu kalau dia lebih menyayangi seluruh isi game di pcnya. Itulah yang membuat aku putus dengan Irgi. Kecintaannya dengan game tak bisa lagi kumaafkan.
“Kamu kangen nggak sama aku, Lin?”
“Hmm, aku kangen sama kamu dan juga teman-teman SMA lainnya. Sayang aku nggak punya nomor mereka, jadi nggak bisa menghubungi mereka”, jawabku merekayasa. Tidak ingin Irgi merasa geer karena aku merindukannya.
“Iya. Dengan jadwal kamu yang padat, pasti kamu susah untuk bertemu dnegan mereka ya. Tapi, kamu masih sering ketemu dengan Illina kan? Kudengar, sekarang dia menjadi penerjemah. Apa itu benar?”
Aku nyaris tersedak mendengar nama itu. Sebuah nama yang telah kukubur selama 3 tahun terakhir. Nama yang begitu indah, tapi juga menyakitkan jika harus kuingat, meski tidak benar-benar aku lupakan.
“Sebaiknya kta makan dulu. Obrolannya kita lanjutkan nanti. Aku lapar sekali” 



July 10, 2012

Rumah Hatimu



Pulang adalah kata yang begitu menyenangkan. Menghangatkan. Juga menenangkan.
Seperti halnya kamu yang selalu rindu pulang ke pangkuan ibumu tercinta, aku rindu pulang ke hatimu. Hingga pada waktu yang telah ditentukanNya, Dia mengizinkan aku pulang menuju hatimu, kembali. Setelah sebelumnya meninggalkan rumah hatimu yang sejujurnya menghangatkan bagiku.
Aku pernah kembali pulang menuju hatimu meski hanya sekejap. Meski tak sesungguhnya pulang dalam dekap yang hangat.
Karena aku pulang, maka hatimu layaknya rumah yang kurindukan. Tetapi saat aku kembali dan berada di dalamnya, aku sadar  rumah hangat yang telah lama kutinggalkan telah berubah. Kamu sudah berubah, karena waktu terus berputar. Karena usia terus bertambah. Karena pikiran terus menemukan jalannya yang baru. Karena kamu tidak akan selamanya seperti dulu. Kamu akan berubah dan memang telah berubah.
Hingga  rumah hangat hatimu tak sehangat dulu, tak senyaman seperti dulu  lagi, bagiku.
Meski wajah, tutur kata, gerak tubuh, dan tatapanmu masih sama dan tak pernah berubah. Kenyataannya aku tak kerasan di rumah hangat hatimu yang tak sehangat dulu.
Dengan berat hati, aku kembali pergi. Meninggalkan rumah hatimu yang kau bukakan untukku di setiap waktu. Karena seperti halnya tinggal di sebuah rumah, saat kau merasa tidak kerasan, kau akan mencari rumah yang baru. Begitu juga dengan hati, karena aku tidak lagi kerasan dengan rumah hangatmu yang tak sehangat dulu, maka aku pergi. 
Perubahan dalam rumah hatimu tidak salah, yang salah adalah bagaimna kita menghadapinya. Kita. Aku dan kamu. Tidak bisa atau bahkan saling tidak ingin memberikan ruang untuk menghadapinya. Untuk menghadapi segala perubahan dalam diri kita masing-masing.
Kini, rumah hatimu yang selalu kau bukakan setiap waktu untukku, telah kau tutup dengan hati-hati untukku. Meski aku tahu, kau akan selalu tersenyum menyambutku di teras rumah hatimu. Tak membiarkanku masuk atau sekedar mengetuknya. Kita hanya akan berbincang di depan teras rumah hatimu. Berbincang bersama sebagai seorang teman.


© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis