May 7, 2016

Review Movie #EOS2016 : Flowers (Loreak)




Europe On Screen (EOS) 2016 kembali digelar mulai akhir April lalu. Festival Film Eropa yang menghadirkan film-film dari belahan benua Eropa ini tahun ini menurut saya terkesan istimewa dan berbeda. Pasalnya selain menghadirkan jumlah film yang cukup banyak, venue pemutaran film pun semakin meluas, yaitu hingga merambah ke Mall Bintaro Xchange, Art Cinema TIM – IKJ, Istituto Italiano di Cultura, dan Institut Francais Indonesia (IFI). Sebelumnya hanya Goethe Haus dan Erasmus Huis yang sudah langganan untuk venue EOS di Jakarta.

Jumat lalu, saya dan sepupu saya memilih IFI Thamrin sebagai venue nonton EOS ini dengan film Spanyol berjudul Flowers (Loreak). Kami datang pukul 13.00, satu jam sebelum pemutaran film untuk resgistrasi tiket gratisnya. IFI Thamrin sendiri berada di area Kedutaan Besar Perancis (tepat di sebelah Mall Sarinah). Auditorium IFI yang digunakan sebagai tempat menonton dapat memuat sekitar 170 orang dan terisi lebih dari setengahnya saat pemutaran Flowers.

Flowers (Loreak) bercerita tentang tiga wanita yang tergugah karena bunga dengan dijembatani seorang pria yang sama. Film ini diceritakan dalam 3 sudut pandang melalui 3 subtema yang berbeda.

Flowers for Anne.
                “Katakan saja dengan bunga”. Nasihat itu sudah tak asing lagi rasanya. Bahkan bunga seolah tidak hanya dapat mengatakan, tetapi juga menenangkan. Hal itu yang dirasakan Anne ketika dia dinyatakan dokter telah memasuki masa menopause. Kesedihan seolah menyelimuti kehidupannya sampai saat satu bouqet bunga datang ke rumahnya pada hari Kamis.

Anne sempat mengira bahwa kiriman bunga lili putih itu berasal dari suaminya, tetapi suaminya justru memberikan pernyataan sebaliknya. Pada hari Kamis berikutnya, kiriman bunga untuk Anne datang lagi. Tanpa pengirim, ataupun catatan. Bunga dengan jenis-jenis yang berbeda terus datang tanpa pengirim dan pesan untuk Anne. Hal ini tentu saja membuat suami Anne resah dan memutuskan untuk mendatangi Florist bersama Anne untuk mencari tahu siapa pengirim bunga-bunga itu. Sayangnya, mereka tidak menemukan jawabannya.

Suami Anne boleh resah dan kesal atas kiriman bunga misterius untuk istrinya itu—sampai menyuruh Anne membuangnya, tetapi Anne justru bahagia. Kiriman bunga misterius itu seolah mengubur kesedihannya atas vonis menopause dokter. Anne tidak kehabisan akal, dia menyembunyikan bunga yang datang di lemari pakaiannya dan pada keesokkan harinya membawa bunga tersebut ke kantor. Maka, kiriman bunga misterius yang datang setiap Kamis itu teronggok indah di meja kerja Anne.
Anne menolak untuk membuang kiriman bungan misterius
Anne bekerja di area pembangunan sebagai back office (mungkin accountingnya) sendiri dalam container room. Hingga suatu hari, Benat seorang penggerak eskavator mampir ke ruangannya dan memberikan tips kepada Anne untuk memberikan aspirin kepada bunganya agar lebih awet. Jadi, Anne tidak perlu sering mengganti air di dalam vas bunganya.

Benat Look Down from Above
Benat merupakan penggerak eskavator yang memiliki seorang istri penjaga toll bernama Loudres dan seorang anak lelaki bernama Mikel. Dia sangat menyayangi keluarganya  tetapi sayangnya, hubungan istrinya dengan ibunya (Tere) tidak baik. Keduanya sering berbeda pendapat sehingga membuat Loudres kesal. Salah satu contohnya saat seisi rumah dibereskan oleh Tere, tetapi Loudres tidak menyukai penataan letaknya yang menurutnya tidak sesuai.

Ruang Kerja Benat

Pekerjaan Benat sebagai penggerak eskavator membuatnya lebih sering menghabiskan waktu di ketinggian dalam kabin kecil eskavator ditemani oleh binocular kecil. Melalui binocular itu, sesekali Benat melihat Anne, teman kerjanya berjalan jalan di bawah bersama metal detector—untuk mencari kalungnya yang hilang. Melalui binocular itu pula, Benat sesekali melihat sekumpulan domba di bukit-bukit.
Benat melihat Anne yang sedang mencari kalungnya
Benat yang seorang lelaki penyayang, baik kepada ibunya maupun istrinya mengalami kecelakaan pada suatu hari hujan di jalanan yang menikung. Jenazahnya tidak langsung dimakamkan, karena berdasarkan keinginannya sendiri, Benat menyumbangkan jenazahnya untuk penelitian pada Fakultas Kedokteran Universitas. Hal ini membuat keluarganya terpukul karena baru bisa mendapatkan jenazah Benat pada 5 tahun kemudian.

Loudres dengan Benat saat makan malam
Loudres, sang istri tentu saja yang merasa paling sedih. Dia mengemasi semua barang-barang Benat dan membuang bunga-bunga cantik yang ditanam Benat di beranda rumah. Dia juga meninggalkan rumah bersama anaknya, Mikel. Tere, sang ibu mertua sudah mencoba membujuknya namun tak berhasil. Karena pada dasarnya, mereka berdua tidak pernah satu visi.
Tere (Ibu Benat/Mertua Loudres) yang sedang dibujuk anaknya untuk berbaikan dengan Loudres
Selain barang-barang Benat yang berada di rumah, barang lain miiknya yang masih tertinggal di kabin eskavator juga dikemasi oleh teman-temannya. Diantara barang-barang tersebut terselip sebuah kalung bertuliskan “Anne.” Di sisi lain, setelah kematian Benat kiriman bunga misterius untuk Anne sudah tidak datang lagi.

Flowers for Benat
Jenazah Benat yang tidak dimakamkan membuat orang-orang tersayangnya meletakkan bunga di papan tikungan jalan tempat Benat meregang nyawa untuk terakhir kalinya. Tere sering melakukannya selama 3 tahun terakhir dan menemukan bunga lain yang terikat di sana, tanpa pengirim maupun pesan. Bunga itu juga selalu segar dan tahan lama.

Tere berpikir bahwa mungkin saja bunga itu berasal dari mantan menantunya, Loudres. Tetapi, Loudres yang pada suatu hari bertemu dengan suami dari kakak perempuan Benat mengaku tidak pernah meletakkan bunga di tempat kematian Benat. Tere semakin penasaran dan akhirnya menuliskan nomornya di sebuah note dalam bunga tersebut agar si pengirim dapat menghubunginya.

Ternyata Tere tidak sendiri, Loudres juga penasaran dengan siapa yang meletakkan bunga segar dan menggantinya ketika sudah layu di tempat kematian suaminya. Hal itu membuat Loudres mengambil cuti dari pekerjaannya dan menunggu beberapa meter dari tempat kematian suaminya selama seharian untuk menjawab rasa penasarannya.

Anne yang sedang meletakkan bunga
Seorang wanita turun dari mobil dengan sebuah bouqet bunga di tangannya. Dengan lihai dia mengganti bunga yang layu dengan bunga segar di tangannya dan kembali masuk ke dalam mobil. Dari jauh  Loudres menagamati dan menerka sendiri siapa wanita yang nampak lihai melakukan hal tersebut.

Pada kesempatan lain, Loudres akhirnya memberi tumpangan pada wanita itu ke tempat Benat mengalami kecelakaan. Seperti biasa, wanita itu mengganti bunga yang layu dengan bunga segar yang dia bawa. Setelah berselang agak lama, Loudres membuka percakapan. Wanita itu tidak mengetahui bahwa Loudres adalah mantan suami Benat. Wanita itu bercerita bahwa orang yang dia kirimi bunga adalah teman kerjanya yang dia tidak kenal, meski kerap mengiriminya bunga setiap hari Kamis. Wanita itu juga baru menyadarinya ketika Benat telah meninggal dan kiriman bunga misterius untuknya tak lagi datang. Ya, wanita itu adalah Anne. Kalung pemberian suaminya yang bertuliskan namanya juga ditemukan di kabin eskavator tempat Benat bekerja.
Bunga Misterius untu Anne
Loudres mendengarkan cerita Anne sambil terus menyimpan identitasnya. Di part ini tampak jelas Loudres menyetir pemikiran Anne untuk tidak meyangka bahwa bunga yang didapatnya setiap Kamis berasal dari Benat. Pematahan argument yang dilakukan Loudres justru membuat penonton terpingkal konyol. Sementara Anne merasa aneh dengan cecaran Loudres yang merupakan orang asing di matanya. Percakapn mereka berakhir ketika Loudres tidak sengaja menabrak domba di tengah jalan. Kesempatan ini digunakan Anne untuk kabur dari Loudres.
Loudres dan Anne sama-sama mengamaati domba yang tertabrak
Dua tahun berselang, Loudres mendapatkan telpon dari Fakultas Kedokteran yang menyatakan abu Benat sudah dapat diambil. Loudres menjemput abu Benat tetapi tidak langsung membawanya pulang. Dia membawanya ke rumah Tere, berharap dia mau menyimpan abu anak laki-laki kesayangannya. Tetapi, betapa kagetnya Loudres ketika sampai di sana, dia justru menemukan Tere dalam keadaan hilang ingatan karena sudah tua (re : pikun).

Akhirnya Loudres membawa abu Benat ke rumah Anne. Berharap Anne mau menyimpan abu lelaki yang dianggap Anne pernah menajdi penggmear rahasianya. Namun, Anne justru berpikir bahwa mungkin saja saat itu memang bukan Benat yang mengiriminya bunga dan dia juga sudah berhenti meletakkan bunga di tikungan jalan tempat Benat mengalami kecelakaan.
Loudres dengan abu suaminya di hadapannya
Pada akhirnya, Loudres adalah wanita yang hingga terakhir meletakkan bunga untuk suaminya di tikungan jalan dan menyimpan abunya.

Film ini cukup membosankan pada 30 menit pertama hingga bunga kiriman misterius untuk Anne berganti warna di meja kantornya, saya merasa ditarik hanyut ke dalam cerita. Film ini memenangkan Signis Award pada San Sebastian Film Festival 2014 dan Cine Latino Award pada Palm Springs International Film Festival 2015

Film ini memang masih menyiskan teka teki, apakah benar Benat yang mengirinkan bunga setiap Kamis untuk Anne. Yang menjadi pertanyaan lain bagi saya adalah apa keteraitan domba dengan Benat. Pasalnya setelah mobil Benat mengalami kecelakaan, seekor domba berada di sana. Dan saat dalam perjalanan Anne bersama Loudres, seekor domba tidak sengaja tertabrak padahal mereka sedang di jalan raya.

Film berdurasi 99 menit ini bagi saya ingin menyampaikan ketulusan cinta Loudres pada Benat. Meski telah mengubur semua tentang suaminya selama 3 tahun setelah kematiannya, toh dia masih tetap peduli ketika mengetahui bahwa ada wanita lain yang rajin meletakkan bunga di tempat kematian suaminya selama 3 tahun lamanya.

Favourte part saya adalah saat Loudres mencoba menjelaskan kepada Tere bahwa dia meyakini Anne tidak punya hubungan special dengan suaminya. Saat itu Tere berkata, “You think what do you want and we’ll do the same.”

Pemutaran Flowers di IFI merupakan yang terakhir. Tetapi, pagelaran Europe On Screen ini akan berlangsung hingga 8 Mei. Kamu bisa cek jadwalnya di http://europeonscreen.org/schedule/ dan memilih film dan venue sesuai keinginanmu. Kalau ternyata, nggak sempat kita doakan sjaa Europe On Screen akan kembali tahun depan. Karena biasanya sih begitu.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir.


0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis