May 9, 2013

Talk about Relationship




Saya baru saja bertemu dengan teman SMA yang sekarang sedang kuliah di Semarang mengambil D3. Long weekend ini dia pulang untuk liburan. Tidak ada tempat terbaik yang kita rindukan selain rumah, maka dari itu dia rela menghabiskan long weekend ini untuk pulang ke rumah.

Waktu berjalan begitu cepat, ketika dalam obrolan kami salah satu teman saya yang lain berujar “eh kiki, tahun depan udah lulus ya.” Ohiya, D3 = 3 tahun, lalu setahun lagi atau kurang saya akan menyusul (aamiin).

Di situ saya baru sadar kalau jarum jam berputar begitu cepat. Sebenarnya usia sudah cukup menjadi bukti kalau waktu telah berputar dan saya bukan lagi anak kecil. Tetapi perbincangan sore ini seakan menampar saya dan menjauhkan saya dari realita umur biologis saya.

Mendengar teman saya dan pacarnya—yang sudah pacaran sejak SMA—sama-sama berjualan apa saja untuk mengumpulkan modal mereka menikah nanti, saya tercengang. Entah ya serius atau tidak tapi kelihatannya sih memang demikian apalagi dengan perencanaan waktu yang sudah dibuat si cowok untuk melamar si cewek. Buat saya, cowok itu visioner dan melihat hubungan mereka, saya merasa kerdil akan pemikiran ke depan.

Sebenarnya bukan karena envy belum punya pasangan tetapi envy dengan pemikiran visioner atas hubungan mereka. Tidak salah kok buat saya,karena biaya hidup semakin hari semakin tinggi. Kita nggak mungkin hidup tanpa memikirkan orang lain i mean suatu hari kita juga harus memikirkan biaya hidup untuk kita sendiri, pasangan dan anak. Intinya untuk keluarga kita yang baru. Semakin menunda, biayanya memang akan semakin tinggi.

Saya tidak pernah berpikir ke arah ke sana dan honestly tidak pernah menargetkan. Bukan berarti saya tidak memiliki target, hanya saja target saya bukan ke arah sana, atau mungkin belum ke arah membangun keluarga baru. Hanya saja mendengar teman sebaya saya membicarakan hal itu seolah menyadarkan saya kalau saya sebenarnya sudah dewasa, bukan lagi anak kecil—yang seperti kebanyakan orang lihat. Entah ya saya berlebihan atau mungkin karena berada di lingkungan single-ers maka kami tidak pernah  membicarakan hal seserius itu.

Selama ini kok rasanya hanya bercanda dan tertawa tanpa bicara serius. Kalau kita serius, bicaranya pasti nggak pernah jauh dari tugas kuliah, uts, kuis atau meramalkan  profesi audit dalam realitanya nanti. Mungkin itulah sebabnya kalau saya merasa tertampar mendengar teman sebaya yang membicarakan soal rencana hubungannya ke depan.      

  
Ada juga cerita soal teman saya yang menjalani LDR Semarang-Kalimantan sudah hampir 2 thun lebih. Saya belum mendengar visi mereka ke depan yang serius tetapi si cewek mengaku siap jika harus menetap di Kalimantan setelah berkeluarga nanti. Buat saya itu ‘wah sekali’.

Postingan kali ini sih intinya menyadarkan kalau saya rasanya kalah dewasa dalam pemikiran soal relationship. Balik lagi bukan karena tidak atau belum ada pasangan, tetapi saya memaknainya sebagai suatu hal yang belum masuk prioritas saya. Istilahnya saya belum teralalu interest untuk memikirkan hal itu.

Gimana dong ya, kalau memang nggak ada interest atau ketertarikan akan sesuatu kita nggak mungkin berniat untuk mengejarnya, bukan ? mungkin dengan obrolan hari ini—dimana saya berperan besar sebagai pendengar—saya harus membuka mata dan lebih baik lagi dalam manajemen waktu. Kok rasanya saya banyak menyia-nyiakan waktu ya di semester ini.

Semoga bisa, mohon doanya
Terima kasih

Wake up wake up
Isn't time always been on the run?
(Adhitia Sofyan – Tokyo Lights Fade Away)

0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis