October 17, 2010

If I Were A Boy

Sabtu, 16 Oktober 2010 tepatnya pukul 06.30, gue bergegas menuju Slipi, Jakarta Barat bersama bokap. Tujuannya adalah memneuhi panggilan psikotest PPA (Program Pendidikan Akuntansi) yang diselenggarain BCA.
Gue beserta beberapa temen gue mengirimkan lamarannya sekitar 6 September 2010, sayangnya cuma gue yang memenuhi seleksi administrasinya.
Sekitar pukul 07.30, kita sampai di BCA Wisma Asia I, langsung aja tuh menuju lt.19 seperti yang udah diinstruksikan sebelumnya.
Begitu pintu elevator terbuka di lt.19 ternyata udah banyak banget orang yang beragam latar belakang tapi satu tujuan, yaitu psikotest PPA BCA
Semua kursi tunggu udah penuh, alhasil gue berdiri menyandar tembok sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang dan keluar dari pintu elevator.
Lalu pandangan gue tertuju pada seorang gadis yang keluar dari pintu elevator bersama temannya.
Gadis itu memikat gue (ihh lebay), ganti gadis itu memiliki daya tarik. Gue suka gaya rambutnya, Unik !
Rambutnya pendek tapi menyisakan rambut lainnya di belakang, rada ikal. Mungkin itu hair extention, gue nggak paham betul secara gue bukan pemerhati gaya rambut.
Selain itu yang menjadi daya tarik gue…apalagi kalau bukan tuh cewek putih, nggak putih-putih amat sih tapi cukup teranglah dibanding gue.
Gue nggak tau apakah keperluan tuh cewek, apa mungkin mau ikutan psikotest juga ?
Yang jelas, saat psikotest, gue nggak menemukan wajahnya di ruang ang gue tempati, yaitu 1901.
Gue nggak mau cari tahu ke ruang lain, tapi saat break pengumuman lanjut atau nggaknya ke psikotest tahap 2, gue menemukan dia kembali. Dia duduk di sudut koridor sambil berbincang dengan temannya. Sekali lagi, dia cantik, natural stylist, dan pasti lucu buat didandanin ala harajuku.

15.00 gue ternyata lolos ke psikotest tahap 2, ruangannya masih sama 1901. gue duduk di baris ke-2 bagian pojok. Sendiri.
Lalu pa yang terjadi ? yapp bener readers, si cantik itu masuk dan minta izin buat duduk di sebelah gue.
Ohh boleh banget dongg, dia wangi, cantik, baik, dan ramah. Perfet at the first sight !
Dia mirip banget sama temen kecil gue, namanya Vanni. Gue sempet berpikir kalo itu dia, tetapi gue harus mematahkan pikiran gue
Namanya Tania, dia baru lulus tahun ini dari SMA Pelita Jurusan IPS.

Dia sempet pinjem rautan gue dan gue ngerautin pensil buat dia tapi nggak berhasil. Pensilnya nggak bisa diraut.

Berbagai tes yang setidaknya lebih ringan dibandingkan psikotest pertama gue lewati bersam dia. Dia sempat berujar kalo dia nggak bisa gambar, tapi gue sempat ngelirik gambar pohonnya yang meyerupai pohon pada umumnya.

Tes ditutup dengan menghitung deretan angka yang tertuang penuh depan belakang di atas kertas ukuran A3. dia sempat bertanya sampai mana pekerjaan yang gue selesaikan, ternyata kita Cuma beda 1 kolom pengerjaan.

Kita menuju basement bareng, bahkan dia menyuruh gue keluar terlebih dahulu saat pintu elevator terbuka. Dia seperti kakak yang baik rasanya buat gue. lalu dia memanggil gu, dia hampir lupa nama gue (sedihnya). Kita berjalan bareng keluar dari basement, dia cukup terkagum karena gue pulang sendiri ke Lb. Bulus di hari yang udah gelap, semntara dia nunggu dijemput bokapnya di pos satpam.
Dia memperingatkan gu untuk berhat-hati.
Gue nggak tahu nomor handphonenya, gue juga nggak tahu nama panjangya, dan kalo ngak salah namanya cuma Tania.
Gue nggak tahu apakah bisa ketemu lagi atau nggak sama dia..

Tetapi, sepanjang perjalanan pulang, gue berpikir
“seandainya gue seorang cowok, maka gue pengen punya cewek kaya dia”
Dan karena gue cewek… gue jadi pengen punya wajah secantik dia, hati seramah dia dan gue pengen punya kakak cewek yang perhatian kaya dia.

seandainya

0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis