July 30, 2013

Mengenal Hatimu #3


Anggiena pantas kesal dengan sikapku di teras rumahnya seminggu yang lalu. Tetapi seharusnya tidak perlu beralrut-larut hingga tak mengizinkanku menghubunginya selama seminggu terakhir.

            Akhirnya, sebuah ide muncul dalam benakku untuk menyelesaikan misi tak peduli yang sedang Anggiena lancarkan ini.

            “Man, gila kali ya elo. Udahlah syukuri aja ciptaan Tuhan. Rambut elo itu unik kali, keriting tiada duanya,” cerocos Tyo tanpa balas olehku sejak 30 menit yang lalu.

            Aku hanya tersenyum sendiri sambil terus melancarkan ideku.

            “Kamu mirip sama orang yang mau tes CPNS tahu nggak. Rambutnya dikasih apa sampe klimis kaya gitu? Aku nggak suka,” ucap Giena ketus.

            “Tadi aku pinjam catokan rambut adeknya Tyo. Tapi, kerenkan yang?”

            “Aku bilang aku nggak suka. Menurut kamu itu keren? Aneh banget tau.” Giena melipat kedua tangannya di depan dada sambil memalingkan wajahnya.

            “Aku cuma pengen kamu nggak ngambek lagi. Aku minta maaf, Gie atas ucapan aku seminggu yang lalu”

            Giena belum sempat menimpali ucapanku ketika ponselnya berdering dari saku celana jeansnya.

            “Halo?....Iya, hari ini nggak ada acara kok... Okay, aku tunggu ya. Bye

            “Terus, kamu kesini mau ngapain? Cuma mau nunjukkin rambut klimis ala Mr. Bean itu?,” tanya Giena begitu mengakhiri pembicaraannya di telpon—yang entah dengan siapa.

            “Hari ini Camelion main di Food Festival. Kesana yuk. Kitakan udah lama nggak lihat perform Camelion.”

            “Aku mau pergi, Van. Minggu depan aja lihat Camelion di kafe. Gimana?”

            “Mau kemana? Yang barusan telpon tadi itu siapa?”

            “Barry”. Ucapan yang keluar dari bibir Giena bukan sebagai jawaban, tetapi lebih tepat sebagai jeritan memanggil seseorang. Dugaanku benar saat kudapati Barry tengah keluar dari mobilnya. Giena bergegas menghampiri Barry.

            “Cepet banget sampenya. Aku belum sempat ganti baju,” ujar Giena kepada Barry. Suaranya samar-samar terdengar.

            “Kebetulan aku emang udah deket rumah kamu pas telpon tadi. Lho, ada Revan juga. Kalian mau jalan ya?”

            “Iya, awalnya. Tapi, ternyata Giena nggak bisa”


to be continued

0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis