July 17, 2013

Doa


Do’a
Oleh:
Fitria Wardani








Namanya Kresnoadji, tetapi biasa dipanggil Resno. Pria tampan nan sederhana yang tak pernah absen untuk shalat lima waktu. Bukan itu saja, ia juga tak pernah lelah mengajak dan mengingatkan teman-temannya, terutama aku.

                “Ndi, mau ikut gue nggak?”
                “Kemana?,” tanyaku balik penasaran.
                “Shalat Ashar,” jawab Resno santai sambil berdiri dari kursi.
                “Yee..kirain mau kemana,” timpalku kesal sambil melemparkan sarung notebook ke arahnya.
                “Udahlah, ayo Ashar dulu kita. Siapa tahu kita dapat pencerahan”

                Resno melenggang santai dari Taman Rindang—tempat kami mengerjakan tugas kuliah yang begitu menegangkan syaraf otak. Kakinya sudah pasti menuju Musholla di lantai 5 Fakultas Teknik. Aku  segera bergegas mengejarnya.
               

                “Assalamualaikum warrahmatullah…. Assalamualaikum warrahmatullah
            
             Salam itu mengakhiri shalat yang Resno pimpin. Ia menggeret bokongnya ke belakang hingga posisinya telah sejajar denganku. Hal yang selalu ia lakukan setelah menjadi Imam shalat diantara kami. Sore itu, Musholla Fakultas memang sepi. Hanya ada aku dan Resno di bagian lelaki, sementara di bagian wanita terdengar kasak-kusuk beberapa wanita.

                 Aku menunduk memanjatkan doa dan shalawat sambil sesekali melirik Resno. Hal yang selalu ia lakukan selepas shalat, menundukkan kepala begitu dalam. Mulutnya akan berkomat-kamit merapal doa dan shalawat. Lalu, posisi duduknya yang bersila akan dibentuk layaknya seorang pesinden. Kedua telapak tangannya akan dihimpitkan dan disejajajarkan dengan dada. Resno mulai menengadahkan kepalanya dan akan berbicara denganNya dari hati ke hati menggunakan bahasa ibu.  Bibirnya hanya mengatup-ngatup tipis nyaris tak terlihat. Doanya juga tidak terdengar oleh telinga manusia. Karena Resno hanya ‘berbicara’ dan meminta padaNya, pada Gusti Allah Yang Maha Kuasa.

                Kedua telapak tangan Resno telah dihimpitkan dan disejajarkan dengan dada. Kepalanya mulai ia angkat, tetapi belum sampai 5 detik, Resno menurunkan tangannya dan pergi. Aku kontan melongo. Lima detik bukanlah waktu yang bisa digunakan untuk berbicara dari hati ke hati denganNya. Terlalu singkat, bahkan belum apa-apa. Ah mungkin Resno mendapat panggilan alam alias kebelet ke belakang, pikirku.

                Setelah melaporkan daftar permintaanku kepadaNya, aku keluar dari Musholla dan menemukan Resno sedang duduk menungguku.

                “Buruanlah, Ndi !,” panggilnya sambil berdiri ketika melihatku keluar dari Musholla.. Sepatunya telah terpasang rapi di kedua kakinya yang jenjang.
               


                “Acaranya mulai jam 1 dan sekarang udah jam 12. Lo tahukan perjalanan ke Café sekitar 45 menit. Itupun kalau kesananya ngebut.. Tapi lo aja masih di rumah sekarang? Mau nyampe jam berapa kita?”

                Tari, temanku mengoceh dengan Udin di seberang telpon. Memintanya untuk cepat datang ke kampus, karena akan menghadiri ulang tahun Elga. Gadis itu memang Miss On Time, sangat tidak suka dengan segala hal yang terlambat.

                Aku hanya memandanginya sambil menggeleng, lalu mengedarkan pandangan untuk sekedar cuci mata. Sementara, Resno yang ikut menunggu duduk diam dengan telinga tersumbat headset. Ide yang baik, sayang aku tidak membawa headset.

                “Zuhur dulu ah yuk !,” ajak Resno tiba-tiba.

                Aku dan Tari langsung menoleh ke arah Resno yang sedang merapikan headsetnya.

                “Duuh, Resno. Kita tuh udah hampir terlambat, lo malah pake acara shalat segala. Sholatnya nanti aja di sana. Lagipula, gue belom denger azan,” ujar Tari dengan nada marah-marah khas wanita

                “Iya, No. emangnya udah azan?”

                “Udah azan, barusan gue denger di radio”

               “Terus nanti, kalo pas lo sholat, si Udin dateng gimana? Tambah lama deh nunggunya. Tambah telat kita. Kenapa sih orang Indonesia nggak bisa ngehargain waktu. Hobinya telat melulu”, rutuk Tari kesal dengan muka memberengut.

                “Lebih baik telat ke acara ulang tahun daripada telat menghadap Allah. Kalau si Udin dateng dan gue belom selesai shalat, yaudah lo duluan aja ke Café,” jawab Resno pedas.

                “Terus lo ke sananya gimana? Kan cuma gue penunjuk jalannya,” balas Tari dengan beberapa tarikan urat lehernya.

                “Fine ! gue nggak dateng kalo gitu”. Lalu, Resno melenggang pergi. Menuju Masjid utama kampus tentunya, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kami menunggu.

                Aku hanya diam sebagai saksi. Tersenyum dalam hati melihat bagaimana ekspresi Tari selepas mendengar kalimat terakhir Resno. Mukanya pucat pasi dan ketakutan. Jelas saja. Tari, yang merupakan teman sekelas kami—aku dan Resno—juga sekaligus sahabat Elga—si empunya acara—didaulat mengajak Resno ke Ulang tahun Elga. Mengapa? Karena Elga menaruh hati dengan Resno. Sayang, Elga tidak kenal dekat karena bukan anak Teknik.

                Tari menurunkan egonya, demi Elga. Ia melangkah bersamaku menuju Masjid untuk menunaikan Shalat Zuhur. Mulutnya tak henti merutuki Resno. Aku hanya terkekeh sendiri.


                Resno melaksanakan Shalat Zuhur di sebelahku. Jemaah diimami oleh dosen nampaknya.. Setelah usai, kuperhatikan lagi tingkah Resno. Dia merapal doa dengan khusyu tapi saat ritual obrolan dari hati ke hati denganNya, Resno bertingkah aneh. Kakinya diposisikan layaknya pesinden. Kedua telapak tangan Resno mulai dihimpitkan dan disejajarkan dengan dada, tetapi belum sempat ia menengadahklan kepalanya, Resno telah menyudahi aksinya. Ia melenggang pergi. Panggilan alam lagikah? batinku.



                “No, gue denger si Meisya baru putus tuh sama cowoknya,” laporku pada Resno saat kami sedang mencari referensi buku di toko buku bekas langganan kami.

                Meisya adalah mahasiswi jurusan Sastra Korea. Resno naksir Meisya sejak setahun yang lalu, Sayang Resno terlambat bergerak sehingga Meisya keburu direbut cowok lain.

                “Denger darimana lo?,” tanya Resno santai sambil menyapukan matanya ke jajaran buku-buku. Menyortir judul buku mana yang merupakan pilihannya.

                “Sepupu guekan anak Satra Korea juga. Terus pas gue liat di facebooknya, statusnya udah berubah single tuh”

                “Ooh”

                “Kok cuma ’ooh’? Lo udah ada gebetan lain ya?,” tanyaku penasaran sambil membalikkan badannya ke arahku.

                “Ya emangnya gue harus bilang apa?”

                “Gue ingetin aja nih ya, No. Kalo lo beneran suka sama Meisya, lo kejar deh buruan. Jangan sampe kemakan cowok lain untuk kedua kalinya. Gue kasih tau ya, No. Lo itu cowok baik, pinter, rajin sholat…dan semua cewek suka sama cowok kaya lo. Lo nggak usah minder, Man !, ” nasihatku sambil menepuk pundak Resno yang kekar.

                “Ohya, ngomongin sholat, gue belom Shalat Isya nih. Udah jam berapa nih?”

                Resno melirik jam tangan hitamnya tanpa menggubris nasihatku samasekali.

                “Shalat dulu yuk ah, Ndi !,” ajak Resno sambil meninggalkan kios buku bekas.

              Dengan malas, kulirikkan mataku ke jam tangan Swiss hijau army yang melingkar di lengan kiri. Baru jam 8 malam. Bukankah waktu yang disediakan untuk Shalat Isya begitu panjang?

                Aku menghela nafas sendiri dan mengikuti Resno. Mencari Musholla terdekat tentunya.



                Resno merapal doa setelah shalat dan shalawat nabi di sebelahku. Aku mengamatinya lewat ekor mataku. Memerhatikan, apakah ia akan bersikap seperti belakangan ini, tidak ‘berbicara denganNya dari hati ke hati’ ?

                Aku lebih kaget lagi dengan aksi Resno kali ini. Kakinyapun tidak ia posisikan layaknya pesinden, seperti yang biasa ia lakukan. Setelah selesai mengusap wajahnya, Resno segera berdiri dan keluar dari Musholla.

                Tak mungkin ini panggilan alam. Aku sempat melihat Resno masuk ke bilik toilet saat sedang mengambil air wudhu. Ada apa dengan Resno? Kali ini, aku harus bertanya padanya.


                “No, gue perhatiin akhir-akhir ini lo sebentar banget doanya kalo sholat. Udah nggak ada ‘curhat heart to heart’ sama Gusti Allah kayaknya,” bukaku setelah mengikat tali sepatuku.

                Resno hanya mengangkat sudut bibir sebelahnya. Entah apa arti senyumnya itu.

                “Lo nggak minta apa gitu sama Gusti Allah? Biasanya lo kan selalu lama doanya,” tambahku lagi. Mengajak Resno membuka mulut.

                “Emangnya gue mau minta apalagi?”

                Pertanyaan Resno tidak dapat kujawab, karena tentu hanya Resno yang paling tahu jawabannya.

           “Kalau selama ini gue doanya lama, itu karena gue minta kesembuhan buat nyokap gue. Tapi, sekarang nyokap gue udah tenang di sana. Jadi, gue mau minta apalagi?,” papar Resno.

                Aku terpekur. Mama Resno memang telah meninggal sebulan yang lalu karena penyakit jantung. Sementara ayah Resno telah menelantarkan Resno dan ibunya sejak ia berusia 10 tahun.

                “Kenapa nggak minta Meisya jadi pacar lo? Atau supaya lo bisa lulus cepet dan dapet kerjaan keren atau…minta supaya bisa ketemu sama bokap lo?,” tanyaku dengan nada yang diturunkan pada pilihan yang terakhir.

                “Soal Mesiya, kuliah dan kerjaan itu semua cuma duniawi, Ndi. Cuma titipan, nggak akan gue bawa mati. Gue nggak akan minta untuk urusan itu. Soal bokap gue…terserah Gusti Allah aja”

                “Kalo gitu, kenapa lo masih tetap sholat? Rajin banget lagi?”

                “Karena gue butuh, Ndi.”

                Butuh?

                “Shalat itu seperti oksigen buat gue, Ndi. Kalo gue nggak menghirup oksigen, gue bisa mati. Sama aja kaya kalo gue nggak shalat, mungkin gue bisa mati”


End


27 Juli 2012 
            

0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis