November 16, 2012

Relansi dan Karung Goni



                Ada banyak kejadian yang menjadikan pemuda begitu berperan penting dalam sejarah Indonesia. Sumpah Pemuda, Proklamasi dan Reformasi. Ketiganya terjadi karena tangan-tangan pemuda dan asanya yang membara untuk bangsa.
                Jika ibu pertiwi saat ini dalam keadaan bersedih, tangan-tangan pemudalah yang sudah seharusnya menyembuhkan. Tidak terkecuali dalam membantu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)—yang semakin terpojok—memberantas korupsi. Maka, jika saya menjadi Ketua KPK, hal pertama yang akan saya lakukan adalah mengajak para pemuda berperan aktif dalam kegiatan KPK.
                Kita masih ingat dengan Gerakan Satu Juta Facebooker Dukung Bibit Chandra pada Oktober 2009. Atau pita hitam yang disematkan di lengan sebagai tanda berduka atas kriminalisasi KPK. Lalu, belum luput dari ingatan, bertebarannya hashtag  #SaveKPK di jejaring Twitter. Aksi nyata mereka diwujudkan dengan mengepung gedung KPK pada 5 Oktober lalu, menolak salah satu penyidik KPK yang diciduk paksa. Semua mereka lakukan demi keberlangsungan KPK memberantas korupsi. Dari banyaknya fenomena sosial ini, bukankah sudah jelas bahwa kepedulian pada KPK masih tertanam dalam diri masyarakat kita.
                Semua pembelaan masyarakat pada KPK tanpa diminta, membuat saya berpikir untuk mengajaknya berperan serta. Membuka Program RELANSI (Relawan Pemuda Anti Korupsi) dengan memberikan pelatihan dan pembelajaran langsung dalam membantu KPK memberantas korupsi di negri ini.
                Bergugurannya penyidik KPK di tengah tumpukan kasus yang masih belum terselesaikan tentunya semakin memperlambat kinerja KPK. Banyak orang berkoar bahwa KPK lambat, padahal bukan keinginan KPK tentunya. Penyidik yang ditarik menjadi salah satu penyebab pelambatan penyelesaian kasus.
                Bahkan, saya ikut merasa miris ketika mendengar kabar bahwa ajudan Ketua KPK pun ikut mengundurkan diri.  Oleh karena itu, mengajak pemuda berperan aktif menjadi relawan dalam KPK, nampaknya akan sesuai. Saya yakin mereka yang mencintai Indonesia dan KPK akan segenap hati bekerja di KPK.
                Hal yang kedua adalah memberikan tindakan tegas kepada koruptor. Baju tahanan KPK yang ada saat ini tidak mengidentikkan seseorang malu memakainya. Seharusnya baju tahanan KPK dibuat dari karung goni. Baju tersebut harus dikenakan si koruptor selama dalam tahanan, bukan hanya saat sidang berlangsung.
                Selain itu, pemiskinan bagi koruptor juga layak dilakukan. Jika telah menjadi tersangka, saya selaku Ketua KPK akan langsung mengirimkan surat ke instansi tempat si koruptor itu bekerja untuk menghentikan gajinya. Penyitaan aset dan hukuman seuumur hidup juga akan saya berlakukan, karena dengan tindakan tegas dan beranilah yang bisa membuat si koruptor itu berpikir ulang melakukan korupsi.
                Sepertinya mudah saja bicara dan bermimpi akan begini dan begitu, tetapi seorang Ketua tetaplah manusia. Begitu juga dengan Ketua KPK, dan manusia merupakan makhluk sosial yang tetap membutuhkan bantuan orang lain. Maka dari itu, peran aktif setiap orang untuk membentengi dirinya dari korupsi juga harus ditanamkan.


0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis