September 20, 2014

Cerita KKN - Cerita Ayam Bu Kades




Saya berada di dalam kelompok 13 bersama 13 orang lain dari fakultas berbeda dan belum kenal. Mereka adalah Nanda, Rida, Bobby dari FISIP (Fakultas Ilmu Sosial Politik), Shinta, Tami, Dadan dan Dessy dari FSH (Fakultas Syariah dan Hukum). Ada juga Inu dan Nji dari FAH (Fakultas Adab dan Humaniora), Fadhli dari FIDKOM (Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi), Abdu dari FST (Fakultas Sains dan Teknologi), Isti dan Ina dari FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis). Dan tentu saja teman sejurusan saya, yaitu Sella dan Oji dari FEB.

Postingan saya kali ini akan menceritakan bagaimana kami ber16 tinggal bersama selama hampir 30 hari. Kami nggak sepenuhnya mengenal satu sama lain kecuali yang emang satu jurusan. Kenapa bisa terbentuk jadi satu kelompok bareng ? Awalnya Tami ngajak barengan kelompok KKN, kebetulan kami teman SMA meski gak pernah sekelas dan gak kenal banget juga. Nah saya ngajak teman dari jurusan. Tami ngajak teman dari fakultas lain yang temannya itu ngajak teman di fakultasnya. Yaah you knowlah what I mean. Jadi kita semacam MLM horizontal gitu maybe.

Rumah tinggal kami sebenarnya cukup nyaman. Sangat nyaman bahkan. Kamar mandi ada 2, toilet jongkok dan duduk. Ada TV LCD dan kasur springbed. Rumahnya juga 2 lantai, meski lantai bawahnya adalah garasi yang disulap menjadi dapur. Tapi itu semua tidak ada artinya kalau air dan listrik tidak ada. Dan itu adalah tempat tinggal kaum hawa yang jumlahnya ada 8 orang.

Sementara tepat di sebelahnya ada rumah mungil yang sangat gelap dan lembap dengan kamar mandi yang pintunya sulit dibuka dari dalam, dengan WC yang PHP kalau digunakan untuk BAB dan hanya memiliki 1 kamar. Itulah tempat tinggal Geng Ayam yang jumlahnya juga 8. Kontras memang. Julukannya menjadi seperti kehidupan bawang merah dan bawang putih. (Ya you knowlah siapa yang jadi bawang merah dan bawang putih). Jadi kenapa tim cowok disebut geng ayam ? ini ada sejarahnya dan cerita ayam bu kades setelahnya.

Ayam itu menjadi sebuah makanan yang wauww banget selama kita KKN di Desa. Sebut saja makanan mewah karena jadwal makannya hanya seminggu sekali. Di hari yang entah keberapa kami makan ayam untuk pertama kalinya di desa. Kami makan bersama sama di kertas nasi yang digelar memanjang untuk ber 16. Anak cowok merasa nggak adil dengan pembagian ayamnya, dimana kata mereka, anak cewek dapet 4 potong sementara anak cowok hanya dapat 2 potong. Alhasil di tengah waktu makan, ayam mereka sudah habis dan seolah hanya merasakan ilusi makan ayam, karena ayamnya sudah hilang dalam sekejap.

Saya juga kurang tau bagaimana proses pembagian ayam yang katanya nggak adil itu. Tapi mungkin si anak cowok itu terlau perasa. Mungkin mereka semua berzodiak Leo. Mulai dari situlah kita semua agak sensitive kalau sudah bicara soal ayam dan muncullah sebutan geng ayam.
Geng Ayam yang sedang menanti potongan ayam crispy jatuh dari langit di depan rumah mungil mereka

Karena ayam menjadi sengketa yang dapat memicu perpecahan maka suatu hari kami dikirimkan ayam yang sudah dibumbui dan siap goreng oleh ibunya Dessy. Ayam itu rencananya akan digoreng besok dan karena kita nggak punya lemari pendingin, kita minta tolong Nji untuk menitipkan ayam itu di kulkasnya Bu Kades. Kebetulan juga Nji sering bolak balik ke rumah bu kades untuk membicarakan pembangunan tempat wudhu jadi kayanya lebih enak dia yang naro.

Keesokkan harinya, orang seisi rumah sudah bersuka cita karena akan makan ayam. Dessy yang mau masak juga sudah berpakaian rapi untuk menjemput ayam yang dititipkan di kulkasnya Bu Kades. Tapi sebelum itu, Dessy sempat bertanya ke Nji untuk memastikan kembali apakah ayamnya sudah dititipkan. Karena kalau ternyata udah ngubek ngubek kulkas mencari ayam eh ternyata si ayam masih nangkring di rumah anak cowok tentu saja Dessy yang malu sendirian. Bukan kita.

Usut punya usut Nji tidak menitipkan ayam itu ke kulkasnya Bu Kades. Ayamnya juga nggak ada di rumah anak cowok. Ada salah komunikasi antara anak cewek dan anak cowok. Ayam itu mereka berikan kepada Bu Kades. Iya diberikan secara Cuma-Cuma. Gratis ke Bu Kades dan keluarganya. Bukan dititipkan lho, jadi kita nggak mungkin bisa ambil. Yang kita bisa Cuma melepaskan mimpi makan ayam hari itu dan beberapa hari ke depan.

Cerita ayam bu kades itu terungkap saat saya sedang tidur dan saat mendengar kronologisnya yang demikian, ada banyak perasaan. Entah lucu atau juga miris karena saat itu ayam seolah barang mewah yang menjadi primadona kita semua. Atau juga sedih. Tapi ya apalah mau dikata. Kalau tidak ada cerita soal ayam itu pastilah tidak ada sebutan geng ayam. Tidak ada yang semakin menjadikan kita erat dan satu. Tapi geng ayam hebat lho. Meski mereka nggak makan ayam tapi mereka bisa menang lomba tarik tambang melawan bapak bapak saat lomba 17an.

Makasih juga geng ayam yang tiap pagi dan tiap malam selalu setia memancing sumber kehidupan (baca : AIR).
Geng Ayam yang ikutan panjat pinang

Terima kasih atas waktunya. Sampai bertemu di cerita KKN lainnya
6 September 2014

0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis