December 24, 2013

Kopi Hitam Untuk Ayah

Kopi Hitam Untuk Ayah
Oleh :
Fitria Wardani


Anida meletakkan ponselnya setelah mengupdatetea time’ pada akun twitternya. Kini tangannya berpindah meraih secangkir teh hangat dan menempelkannya pada bibirnya yang tipis.

“Segar benar nih sore-sore ngeteh. Boleh dong Ayah sekali-kali dibuatkan kopi,” serang Pak Marwan kepada anak gadisnya di teras rumah pada sore yang cerah.

“Iya dong, Yah. Karena sore hari adalah the best time fot tea time,” jelas Anida sambil kembali menekuri timeline lewat ponselnya.

“Halah apa itu Ayah nggak ngerti. Coba buatkan kopi saja buat Ayah. Supaya kamu ada teman ngetehnya, yaitu Ayah”

Anida memberengut. Ia paling kesal jika kesibukannya menekuri timeline di Twitter harus terganggu oleh aktivitas lain, termasuk diminta membuatkan kopi oleh Ayahnya.

“Ayah kan tadi pagi sudah minum kopi. Masa sore-sore minum kopi lagi. Jangan terlalu sering minum  kopi dong, Yah.”

Pak Marwan terkekeh kecil mendengar jawaban putri pertamanya yang kini duduk di SMA tahun kedua tersebut. “Lho, memangnya kenapa? Bapak-bapak itu ya memang minuman favoritnya kopi. Sama seperti anak muda yang aktivitas favoritnya update status, kaya kamu itu,” timpal Pak Marwan sambil mencubit hidung Anida.

Anida yang merasa tersindir langsung meletakkan ponselnya.

“Haduuh sakit tahu, Yah,” gerutu Anida sambil mengelus hidungnya yang kini berwarna merah.

“Apa sih yang sakit? Dari dalam kok Ibu dengar ada yang adu debat,” sambung Ibu Marwan yang datang dengan baki berisi 2 cangkir kopi hitam.

“Ini lho Bu, Anida disuruh membuatkan kopi untuk Ayahnya saja nggak mau. Selagi sore dan hari libur padahal, belum tentu toh kalau libur sore-sore begini dia ada di rumah. Biasanya udah main entah kemana. Apalagi minggu depan sudah Ramadhan”

“Terus kenapa kalau sudah Ramadhan memangnya?,” tanya Anida.

“Ya sudah nggak membuatkan kopi, tapi membuatkan teh untuk buka puasa,” jelas Ibu santai.

“Dan setiap sore sudah jarang keliatan batang hidungnya. Pasti buka puasa di sana sini. Seperti orang nggak punya rumah saja,” tambah Pak Marwan.

“Nah ya sudah, nanti aku buatin teh special buat Ayah sebelum buka puasa di sana sini. Kalau kopi, aku nggak tahu takaran yang pasnya, Yah. Lagipula, Ibu sama Ayah jangan minum kopi sering-seringlah. Nggak bagus buat kesehatan.”

Ayah hanya geleng-geleng kepala sambil menyeruput kopi yang telah dibuatkan istri tercinta.

* * *

Anida tak berhenti mengulum senyum sendirian sejak siang tadi. Pasalnya, usahanya menekuri timieline Twitter kakak kelasnya—yang sekaligus merupakan gebetannya—selama ini menemukan titik terang. Anida dan kawan-kawannya berencana mengadakan buka bersama pada hari ke-7 Ramadhan nanti.

Seperti sore lainnya saat berada di rumah, maka sore menyambut Ramadhan itu Anida mampir ke dapur untuk menyeduh secangkir teh hangat untuk dinikmatinya sendiri.

“Mau buat teh?,” tanya Ibu saat masuk ke dapur meletakkan semangkuk opor ayam. Layaknya sebuah tradisi, Ibu Marwan dan tetangganya saling berkirim makanan untuk menyambut Ramadhan yang akan datang esok.

“Iya dong Bu, ngeteh terakhir nih. Nanti malam sudah tarawih. Besok pagi sudah puasa. Bulan depan sudah lebaran,” sahut Anida sambil meraih toples gula. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada toples kopi yang ada di sebelahnya.

Anida yang perasaannya sedang bahagia menyambut Ramadhan sekaligus tidak sabar menunggu buka bersama dengan gebetannya teringat Ayahnya yang pernah minta dibuatkan kopi. Terlebih lagi, gebetannya juga menyukai kopi.

“Bu, kopi kesukaannya Ayah, takarannya berapa sendok?,” tanya Anida kepada Ibunya yang sedang sibuk menyiapkan makanan yang akan dikirim ke tetangga.
* * *
            Anida masih menatap secangkir kopi hitam yang telah diracik oleh tangannya sendiri. Matanya bagaikan kran air yang terus mengucurkan air mata. Kopi itu seharusnya menjadi kopi pertama yang disesap Ayahnya. Mendengar bagaimana komentar Ayahnya akan rasa kopi hitam dengan 1 sendok gula, apakah sudah pas atau pahit atau bahkan juga kemanisan.
           
 Anida tidak pernah tahu kalau Ayahnya tidak menyukai kopi yang manis. Ia baru tahu sore tadi dari Ibunya. 

“Gulanya 1 sendok saja, tapi jangan terlalu penuh. Ayahmu nggak sukakopi yang manis.”

            Tapi, kini Anida tidak tahu apakah kopi racikannya sudah sesuai di lidah Ayahnya atau belum. Anida tidak akan pernah tahu, karena Pak Marwan belum sempat menyesap kopi hitam pertama buatan putri kesayangannya itu. Pak Marwan ditemukan terbujur kaku dalam sujudnya saat Shalat Ashar di rumahnya. Dia terkena serangan jantung. Nyawanya sudah tak tertolong lagi.

            Kini, Anida hanya bisa terisak dengan gumpalan penyesalan dalam hatinya. Mengapa baru hari ini ia membuatkan kopi untuk Ayahnya itu. Mengapa tidak kemarin atau kemarinnya lagi. Mengapa tidak dalam seminggu terakhir ini ia racikan kopi, selagi ia berada di rumah dan Ayahnya yang  juga sedang di rumah karena mengambil cuti. Atau mengapa tidak langsung ia buatkan kopi saat Ayahnya meminta seminggu lalu.

            Semua pertanyaan ‘mengapa’ berjejalan dalam pikiran Anida. Rasa penyesalan ikut berenang dalam genangan air matanya. Kematian Ayahnya di sore hari menyambut Ramadhan ini bagaikan kejutan yang tak diharapkannya.

            Ia tak tahu siapa yang harus disalahkan. Ia terus mencari dan bertanya. Mengapa Ramadhan tak datang lebih awal, mengapa baru nanti malam ? atau Mengapa Malaikat Izrail harus menjemput Ayahnya sore ini? Mengapa bukan esok atau esoknya lagi.

            Anida terus mencari dalam tangis atas kejutan sebelum Ramadhan yang tak diharapkan ini, meski telah dihadiahkan oleh Allah SWT.

End

Dimuat dalam #Buku5 #ProyekMenulis Kejutan Sebelum Ramadhan yang diselenggarakan nulisbuku.com

 

0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis