November 1, 2013

Lesson from October



Hello readers.                                   

Oktober telah hengkang dan November—si bulan ke-2 terakhir dalam kalendar masehi—telah datang. Saya menyadari kalau postingan bulan Oktober kemarin sangatlah sedikit dan sebenarnya merupakan arsip yang telah ada di notebook saya sejak tahun lalu.

Bukan untuk beralibi, tapi Oktober ini menjadi pusat kehectican bagi saya, mulai dari kegiatan kampus, perkuliahan, hingga keluarga. Kalau boleh sedikit share, Oktober ini menjadi waktu action nya kita (saya dan teman  teman panitia) atas sebuah acara. Setelah persiapan 2 bulan sebelumnya.

Honestly, saya hanya menjadi orang di balik layar yang harus mempersiapkan sebelum hari H, setelah hari H dan perkembangan setiap harinya. Kenapa pusat kehectican keluarga ? karena di  bulan ini juga  salah satu sepupu saya menikah di weekedays (oke sebenernya mungkin ini ga perlu dijelasin hehe) beberapa anggota keluarga yang jatuh sakit, dsb. Dan pusat kehectican kegiatan perkuliahan karena di bulan inilah UTS digelar.

Iya, ujian tengah semester. Artinya semester ini telah dilewati setengah perjalanan. Betapa cepatnya waktu ini berlari, Ya Tuhan. Honestly, saya menulis ini di sela waktu istirahat untuk mempersiapakan UTS yang tersisa 1 matkul lagi.

Postingan kali ini sebenarnya bukan untuk bercerita bagaimana semua acara itu berlangsung, tetapi lebih kepada pembelajaran yang bisa saya ambil dari 2,5 bulan ini. Yes, lesson I learned from all my experiences.

Ini kepanitiaan terbesar—dengan 6 acara—yang pernah saya ikuti dimana saya cukup berperan sentral di dalamnya.  Kalau mau dikaitkan dengan salah satu matkul, atau mungkin lebih maka saya bisa mengamini kalau Sistem Pengendalaian itu penting.

Iya, Pengendalian (controlling) yang merupakan proses pengawasan dengan memantau dan memperbaiki jika terjadi penyimpangan (Maaf, ini definsi pribadi hehe) memang sangatlah penting. Dari proses kemarin, saya belajar kalau semua panitia haruslah melakukan pengendalian satu sama lain. Dalam bentuk teguran untuk koreksi jika ada yang salah.

Jika ada kesalahan, maka tidak bisa hanya satu orang yang disalahkan meski mungkin itu merupakan kelalaian dan tanggung jawabnya. Tetapi, mungkin kita lupa kalau kita juga lalai untuk peduli, lalai memberikan koreksi, dan lalai untuk mengingatkannya

 Selain itu, kita juga harus memosisikan diri sebagai orang yang mendapatkan koreksi itu. Mendapatkan koreksi artinya pemberitahuan cara atau langkah yang benar yang seharusnya kita lakukan. Bukankah hal itu sangat baik ? I mean, jika ada orang yang memberitahu kita cara yang seharusnya dan sebaiknya, menunjukkan kalau orang tersebut peduli dan menginginkan kita mengerjakan dengan lebih baik lagi.

Maka dari itu, pantaskah kita marah-marah karena telah merasa bersusah payah melakukan hal—yang mendapat koreksi—itu ? jangan, readers. Ada baiknya kita merenungkan apa koreksi yang diberikan teman kata itu. Dan kita yang juga berkesempatan menjadi pihak pengkoreksi, mari ikut siapkan solusi untuk  teman kita yang terkoreksi itu. Semoga paham dengan maksudnya ya.



Pelajaran selanjutnya adalah soal tanggung jawab, wewenang dan profesionalitas. Dan kesimpulan besarnya dari saya adalah saya harus kembali belajar banyak soal profesionalitas. Karena bagaimanapun juga status (dalam hal ini jabatan) yang telah melekat dalam diri seseorang menciptakan stigma dari orang lain. Maka dari itu, kita harus mempertanggungjawabkan sebuah status itu dengan bekerja secara professional.

Dari acara kemarin, saya juga menemukan sebuah fakta kalau kita tidak bisa memaksakan orang lain mengikuti apa yang kita lakukan atau memaksanya melakukan hal yang seharusnya ia lakukan. Yang ada, kita hanya bisa memaksakan diri kita sendiri. Contoh kecilnya kalau kita malas, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk terus menyemangati kita agar kita tidak malas atau kita memaksa mereka untuk mengerjakan tugas kita. Yang ada kita hanya bisa memaksakan diri kita untuk bangun dan melawan semua rasa malas dalam diri itu.

Selanjutnya, soal persahabatan, kesetiakawanan atau se-iya sekata atau senasib dan sepenanggungan. Haha rasanya semua   terlalu berlebihan. Sebenarnya yang ingin saya garisbawahi adalah soal alasan. Alasan yang cukup tidak rasional tapi tetap kita jalankan. Contoh kecil dan nyata dari acara kemarin adalah saat rapat. Rapat persiapan acara seringkali digelar hingga bulan dan bintang menjadi hiasan (baca : sampe malem). Pernah sesekali, saya dan teman BPH masih harus rapat dengan pengurus soal budgeting setlah rapat umum selesai.

Tetapi, betapa kagetnya saya saat rapat bersama pengurus selesai, saya masih menemukan mereka di luar (gelap dan banyak nyamuk) masih menunggu dengan setia. Mari berpikir secara rasional, apa alasan kita menunggu teman yang masih memiliki kepentingan padahal jalan pulang belum tentu searah ditambah besok harus presentasi kuliah atau tugas?

Lalu, saat pulang maka kami benar-benar pulang, bukan merencanakan untuk makan bersama terlebih dahulu atau apa. Kami saling menunggu karena ingin keluar gerbang kampus secara bersama-sama. Sungguh alasan yang tidak mudah dipahami. Padahal teman kita itu tidak memberikan uang jajan, gadget terbaik atau mentraktir  kepada kita, lalu mengapa  ? Alasan menunggu itu ?

Bukankah ini sebuah alasan yang tidak rasional. Karena memang tidak ada alasan di dalamnya. inilah pengaruh dari adanya trust yang telah tertanam satu sama lain. Trust itu adalah jawaban yang tercipta karena proses yang tealh kita lewati selama 1 atau 2 tahun ke belakang ini Tetapi, readers  berhati-hatilah dengan trust, jika kamu mengkhianatinya maka akan sullit menumbuhkannya kembali.

 


Terima Kasih Cemara yang setia menunggu (hehe)

Bersama Ketua Pelaksana (Kanan)


Menyoal bohong. Saya paling benci dibohongi, apalagi dengan orang yang sudah sangat kita percaya, karean pada dasarnya saya sulit percaya kepada orang lain. Dan jika sekali saja kamu berbohong, maka kamu akan mencari kebohongan lain untuk menutupi kebohongan lainnya. That’s why kita nggak boleh bohong, karena secara nggak langsung hal ini menjelaskan kalau bohong itu tidak akan pernah menemukan garis finish.

Atas semua hal ini, yang sangat saya dapatkan adalah Tuhan akan mengabulkan doa umatNya, kita hanya perlu percaya dan tetap yakin serta bersabar menunggu kapan waktu itu tiba. Atas semua proses yang menyulitkan dan melelahkan ini, saya merasa bersyukur karena ini semua merupakan doa yang ssaya titipkan mealui malaikat dan dikabulkan oleh Tuhan. Doa yang bukan setahun atau 2 tahun kemarin saya ucapkan. Dan kenapa Tuhan baru mengabulkannya sekarang, saya percaya Tuhan punya alasan terbaikNya yang rasional.

Terima kasih untuk semua teman-teman panitia Pekan Koperasi atas kerjasama dan semangatnya. Mohon maaf untuk semua kata dan perilaku saya yang selama ini mungkin secara sengaja atau tidak melukai teman-teman. Semoga semua proses ini mendewasakan kita dan menjadikan pelajaran dan krayon indah dalam kehidupan kita.



0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis