November 5, 2013

Mencari Resolusi


 Mencari Resolusi
by 
Fitria Wardani






Jam dinding di kamar bertembok coklat tua itu telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Suara kebatan kertas yang disibak keras dan cepat masih mengisi ruangan. Gadis itu tidak sedang membaca, tetapi mencari. Ia terus mencari sebuah halaman yang tergambar jelas di dalam kepalanya saat ini. Sebuah halaman yang menuliskan daftar resolusi tahun 2013 miliknya. 

Sembilan  buku jilid spiral yang diklaim sebagai buku hariannya bertebaran di atas meja. Buku-buku harian tersebut merekam lengkap kehidupannya selama 3 tahun terakhir. Hobinya melaporkan setiap peristiwa dalam hidupnya—kepada secarik kertas—membuatnya menghabiskan 3 buku harian dalam setahun.

Setiap tahunnya pula, ia tak pernah lupa untuk menyisipkan daftar resolusi serta daftar pencapaiannya di akhir tahun. Malam ini adalah minggu ke-40 di tahun 2013. Tidak ada seorangpun yang memerintahnya untuk menengok kembali isi daftar resousinya itu, kecuali pikirannya. Ia ingin melihat kembali daftar resolusinya dan menuliskan beberapa pencapaiannya pada 2013 yang telah menginjak bulan ke-10 ini.

Tetapi, meski telah berkutik pada 9 buku hariannya selama 2 jam, ia masih belum menemukannya. Ia terus membuka setiap halaman semakin kencang dan cepat. Kebatannnya jelas melukiskan kekesalannya atas pencarian yang tak juga ia temukan. Berulang kali ia merapal sendiri akan keyakinannya menuliskan di lembar sebelah kanan. Tetapi, ia tak juga menemukannya.

Tiba-tiba matanya menyala dan mulutnya berujar “Adakah seseorang yang mencuri daftar resolusiku?.” Sinar matanya yang menyala perlahan meredup saat secercah pemikiran hinggap di dalam logikanya “Seseorang tidak akan memperoleh manfaat dari daftar resolusimu, jadi tak mungkin jika ada yang mencurinya.”

Ia terus mencarinya. Terus berkutik pada 9 buku jilid spiral yang jika bisa bicara mungkin mereka akan mengerang kesakitan karena disibak begitu keras. Sementara yang jelas ia temui adalah daftar resolusi dan pencapaiannya di tahun 2012.

Ia lelah dan menyerah. Matanya perlahan tertutup, meski isi kepalanya masih terus membayangkan sebuah halaman berisi penuh daftar resolusinya untuk tahun 2013. Bayangan yang begitu jelas, ia hanya lupa menuliskan di buku hariannya yang mana.
* * *
Ulasan senyum menghias secercah wajah yang asyik dengan kertas di hadapannya. Tangannya menari setelah diperintahkan oleh kerja otak membuat daftar resolusi yang ingin ia capai di 2013 nanti. Sesekali ia mencoret atau memperbaiki setiap poin di dalam daftar resolusinya jika dinilai lebih besar dari kapabilitasnya.

Setelah dirasa cukup, maka ia menempelkan daftar resolusi itu pada sebuah halaman di buku harian jilid spiralnya itu. Senyumnya kembali merekah. Senyum yang sama di setiap tahunnya saat ia mengantarkan daftar resolusinya memasuki gerbang kehidupan di tahun yang baru.

Tetapi, sedetik kemudian matanya yang berbinar meredup. Senyumnya hilang perlahan saat melihat sebuah halaman berisi pencapaiannya di 2012. Hanya ada dua poin pencapaian dari 15 daftar resolusi yang telah ia buat. Sementara di tahun sebelumnya, ada 3 poin pencapaian dari 20 poin daftar resolusi yang ia buat.

Gadis itu berang. Daftar resolusi yang ia buat tiap tahun tak memuaskan secara kuantitatif, apalagi kualitatif. Seketika ia muak membuat sebuah resolusi dan sedetik kemudian merobek sebuah halaman yang baru saja ia hadirkan.

Robekan sebuah halaman daftar resolusinya untuk tahun 2013 kini telah menjadi gulungan yang bersarang indah di dalam tong smaapah kecil kamarnya.

“Persetan dengan resolusi,” ujarnya sambil berlalu. Tembok coklat tua kamarnya menjadi saksi.

End


26 September 2013
00.30 WIB

0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis