May 12, 2010

Tragedy of Rainy

Hari ke-10 di bulan Mei kayanya hari sial gue deh. Pasalnya, mulai dari mentari menyambut gue untuk bergegas ke sekolah sampai balik lagi ke rumah untuk belajar lagi kesialan itu menyelimuti gue.

Mulai dari pagi, perut gue seakan nggak bisa diajak kompromi, GILA MULESS ABISS, padahal gue udah sempet ke belakang pas sebelum ke sekolah.
Di sekolah…masih MULESS dan beruntungnya gak berlangsung lama karena itu penyakit mules gue menghilang entah kemana. Eitsss.. tapi kesialan gue belum berakhir (kan baru mulai)

Di saat gue lagi berpikir keras menjawab 20 soal pilihan ganda ulangan bahasa inggris (allhamdulillah lumayan bisa) ternyata teman-teman se-tim buat lomba Undang-Undang yang lagi kumpul di perpus sedang meneriaki gue alias mengusulkan gue untuk menjadi salah 1 speaker (juru bicara) di Lomba Cerdas Cermat Undang-Undang Sabtu nanti.
Ohhh… gue nggak tau harus memaknai ini apa, sebenarnya bukan sebuah kesialan tapi kebanggan karena teman-teman gue justru memercayai gue but.. tetep aja gue beresi keras kepada si guru pembimbing supaya gue digantikan dengan yang lainnya dengan alasan “saya itu orangnya demam panggung pak, ganti aja ya pak sama yang lainnya, nanti saya takut nge-blank pak”. Ini alasan yang sangat jujur, kebohongannya 0 %, tapi dengan santai si guru pembimbing itu menjawab “nggak ada panggung kok. Lagipula pemilihannya sudah demokratis”.

Ok, dengan dukungan teman-teman gue yang lain, guepun menerimanya. Mengikhlaskan diri gue menjadi juru bicara.

Senin itu gue nggak bawa payung, tetapi tetap aja nekat melawan gelapnya langit (yang menandakan udah mau ujan) untuk bergegas pulang (mau nonton My Fair Lady).
Seperti biasa, karena senin itu gue naik angkot, jadi gue turun di Parakan (bareng Glady), sialnya tuh tukang angkot menurunkan gue dan Glady di seberang sehingga untuk melanjutkan naik angkot berikutnya gue mesti nyebrang (mana ujan gede).
Akhirnya gue dan Glady meneduh di toko helm bersama anak SMAN lain yang juga lagi neduh di situ, ada 3 cewek yang SEMUANYA nyebelin. Mereka ngeliatin gue yang turun angkot lari-lari karena kebasahan dengan tatapan yang menurut gue nggak ‘ngenakin.
Sekitar 30 menitan gue bersama Glady nunggu di tempat itu bersama 3 CEWEK NYEBELIN itu,

What could you do in the rain? Just waiting and watching what happened in front of you.

Karena gue di pinggir jalan, jadi yang gue liat di depan gue adalah kendaraan yang berseliweran, mulai dari angkot, motor, mobil, trux, minbus, taxi.

Hingga tragedy of rainy ini dimulai… ada sebuah angkot kosong yang tiba-tiba mogok di tengah jalan. Posisi angkot itu menyilang dan menghalangi kendraan lain yang mau lewat. Dalam hujan yang mengguyur begitu dears itu, si tukang angkot itu mencoba keluar dari angkot dan mendorong angkotnya, tapi nggak berhasil, entah karena hujan atau memang nggak mungkin mendorong angkot sendirian. Gue nggak tau, yang jelas angkot itu nggak bisa berpindah, tetap eksis di tengah jalan.
Anehnya nggak ada seorangpun yang mengulurkan tangan buat membantunya, padahal nggak jauh dari situ gue yakin ada tukang ojek karena memang ada pangkalan ojek.
Berkisar 15 menit angkot itu tetap di tengah jalan, parahnya lagi ada seorang ibu dengan seorang bayinya yang justru naik ke anagkot itu (aduh si ibu nambahin beban).
Si tukang angkot itu masih tetap mencoba buat mendorong angkotnya tapi hasilnya NIHIL, nggak bergeser sedikitpun. Nggak ada yang menolong.

Glady, temen gue yang kakinya lagi sakit mengajak gue untuk iktu membantu mendorong angkot itu, begitu juga 3 CEWEK NYEBELIN itu, tapi gue masih maju mundur buat menolong si tukang angkot itu, maslahnya tenaga gue kayanya nggak akan seberapa untuk mendorong tuh angkot, lagipula hujan begitu deras ditemani sambaran petir yang tak bersahabat.

Gue terdengar egois, nggak punya hati, perasaan atau sedikitpun rasa iba. Jahat banget ya gue.

Tetapi untunglah, ada 2 orang lelaki yang menolong mendorong angkot itu ke pinggir, yang lebih memprihatinkan lagi, salah 1 orang yang menolong itu rupanya hanyalah orang yang kebetulan lewat dan sengaja memberhentikan motornya untuk menolong mendorong angkot itu. Benar-benar berhati malaikat. Nggak kaya gue.

Nggak lama hujan agak mereda, gue dan Glady naik angkot selanjutnya buat pulang,
Yahh kesialan gue, keujanan basah kuyup dan saat mau belajar bahasa inggris untuk mengadapi ulangan yang kedua, kertas materinya ketinggalan di kelas.

Ohh sialnya gue…

0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis