February 11, 2017

Balon (Aku dan Kamu ) part 1



“Kenapa Balon?,” tanyaku pada akhirnya. Menyudahi semua tanya yang bergejolak sendiri dalam diriku.

Kamu sibuk mengaduk es podeng yang ada di hadapanmu. Menyisihkan alpukat, buah yang paling kamu hindari.

“Kenapa tadi nggak bilang ke abangnya buat nggak pake alpukat aja?,” pertanyaan kedua meluncur dari mulutku.

Kamu masih belum menjawab. Tetapi lebih memilih menyuapkan sesendok es ke dalam mulutmu. Beberpa detik kemudian kamu mengangkat bahumu dengan mata terpejam. Bahasa tubuhmu menyiratkan kamu menikmati es yang melebur di lidahmu. Hujan di luar sana tak lagi kamu hiraukan.

Sementara aku hanya menggeleng kecil dengan menyeruput teh manis hangat yang kupesan dari warung di seberang.

“Karena aku ingin terbang. Dan memegang balon selalu menghadirkan kepercayaan buatku kalau dia berjanji akan mengajakku terbang.”

Aku mengalihkan pandanganku dari teh manisku ke matamu. Mencoba mencari cerita di balik perkataanmu dari dua bola mata coklatmu. Meski aku tak pernah menemukan jawabannya di sana.

“Itu untuk jawaban pertama,” ujarmu dengan telunjuk kananmu yang kemudian kamu tempelkan ke pipi kananmu.

“Yang kedua…”

“Aku nggak tertarik dengan yang kedua,” sergahku cepat sebelum kamu mulai menjelaskan jawabannya. Aku selalu tahu jawabannya. Tapi aku tak pernah tahu kenapa selalu kembali menanyakan hal yang sama saat menemukanmu meminggirkan alpukat di es podengmu. Aku nggak mau merepotkan abangnya. Lagipula, dengan memesan “nggak pake bla bla” menyiratkan kamu pemilih dan nggak menerima apa adanya.

Kamu akan menjawab seperti itu. Tidak masuk akal buatku. Karena toh kamu akan tetap menjadi pemilih dengan meninggalkan si alpukat di gelas.

“Kenapa ingin terbang?”

Kamu diam. Sibuk dengan es podengmu. Aku juga diam. Sibuk dengan pikiranku, mengingat kembali bagaimana bisa sampai di sini.

* * *
to be continued
26 Maret 2016

0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis