January 21, 2017

What is age for you ?






Matahari yang terus terbit di Timur dan tenggelam di Barat semakin mengantarkan saya pada sebuah angka yang bertambah. Untuk sebuah usia yang terus bertambah, hal utama yang harus kita ingat adalah rasa syukur untuk dapat memilikinya. Meski, di belakangnya ada banyak pertanyaan sebagai bentuk refleksi diri. Seperti, “Apa saja yang sudah saya raih di usia ini?” “Sifat buruk mana yang sudah harus  saya buang di usia ini?” dan masih banyak lagi.

Bagi saya usia melambangkan banyak hal. Selain sebagai refleksi tentang diri, usia menyiratkan selera. Hal ini saya sadari dalam banyak hal. Mulai dari bacaan, tontonan hingga apa yang saya dengarkan. Saya ingat betul kalau komik bagian dari  bacaan favorit saya sejak mengenakan rok merah. Tetapi di penghujung SMA, perlahan saya merasakan kemampuan saya menyelesaikan komik yang saya baca justru semakin lambat. Hingga saya menyadari, saya sudah tak lagi gemar membaca komik. Tapi lebih memilih novel atau cerpen

Begitu juga dengan saluran radio yang saya dengarkan. Sebagai radio addicted, ada beberapa radio yang saya dengarkan dari masa ke masa. Guyonan pagi hari yang membuat semangat dengan durasi 4 jam atau curhat tengah malam seputar love story. Tapi nyatanya, semakin pertambahan usia, saya mulai tidak membutuhkan mendengarkan hal tersebut. Kini saya lebih memilih mendengarkan radio yang pagi harinya bukan lagi soal guyonan tapi related dengan worklife. Curhat malam hari juga rasanya sudah terlalu melelahkan didengar, sehingga lagu-lagu menenangkan pengantar tidur yang dimainkan di radio menajdi pilihan. Singkat kata, pergeseran radio anak muda ke radio yang agak adult juga menjadi efek dari pertambahan usia.

Tentu tidak semua orang setuju dengan saya, jika usia menggeser selera. Ada beberapa dari readers yang mungkin  tetap setia dengan selera yang sama berapapun usia mereka mengalami peningkatan. Dan hal itu bisa saja terjadi.

Usia dan perilaku adalah dua hal yang berdampingan. Keduanya saling berkaitan di mata banyak orang, hingga sering muncul ungkapan “Malu sama umur, kelakuan masih begitu.” Lalu sebagian bicara kalau usia hanya sebuah angka, “age is just a number

Lalu, apa makna usia sesungguhnya ? tentu ia bukan hanya sebuah angka. Jika toh pada akhirnya ada banyak pembatasan pada usia. Seperti usia yang diperbolehkan menonton film atau mendapatkan izin mengendarai kendaraan bermotor. Jika usia masih menjadi kotak kotak dalam pencapaian karir, dimana yang tua lebih mendapatkan posisi yang tinggi dengan sisa energi yang mereka miliki dibandingkan dengan yang muda dengan semangat energi yang masih meluap.

Makna usia sesungguhnya mungkin adalah tentang tanggung jawab. Age is about increasing responsibility. Bagaimana di setiap angka yang berganti ada tanggung jawab baru yang ikut dipikul. Selalu ada pertanggungjawaban atas setiap tindakan yang telah kita perbuat atau juga lisan yang terucap. Tetapi, meski begitu berapapun usiamu, tetap saja kamu adalah bayi di mata kedua orang tuamu. Sampai kapanpun itu, bukankah begitu ?

16 Juli 2016

Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya
Pohon besar tumbuh mendekati langit dan menjauhi tanah.
 Ia merasa telah melihat segala dari ketinggiannya
Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi
Tak bisa kembali ke kacamata yang sama bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula
Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu

(Jembatan Zaman dalam Filosofi Kopi – Dee Lestari)

0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis