January 22, 2017

Perkara Menunggu



Minggu menunggu. Setidaknya itu yang bisa saya simpulkan karena harus menunggu dua kali dengan nomor antrean untuk waktu dan perkara berbeda. Meski sebenarnya, keduanya memiliki persamaan. Perkara adminisrasi kenegaraan. Kenapa yang menyangkut pemerintahan selalu saja membuat kita menunggu? Parahnya nomor tunggunya cukup mengerutkan dahi.

Menunggu itu melelahkan, apalagi hingga seharian. Dan saya pernah merasakannya. Karena sebuah proses, menunggu di bagian itu terpaksa saya tuntaskan. Tetapi, rasanya tidak akan berlaku jika harus menunggu seseorang seharian.

Menunggu adalah hal yang menyebalkan. Saya percaya kalau sebagian orang meyakininya demikian. Menunggu menjadikan waktu kita sia-sia dan tak bermakna. Menunggu mengacaukan jadwal yang ada. Tetapi, tanpa kita sadari bukankah menunggu hampir selalu ada di setiap bagian kehidupan kita.

Tentang menunggu ojek online yang datang menjemput, menunggu giliran sampai di kasir untuk membayar, menunggu pesanan makanan sampai di meja kita, menunggu chat di balas dari gebetan/atasan, menunggu nada sambung berganti dengan suara yang kita harapkan di seberang, menunggu download-an hingga 100%, menunggu tanggal gajian, menunggu dosen bimbingan skripsi, menunggu hasil ujian diumumkan, menunggu pintu lift terbuka, menunggu datangnya kereta atau bahkan menunggu Mr. Right datang bertamu.

Di era gadget merajalela ini, rasanya kita lupa akan hal-hal kecil yang sebenarnya melibatkan faktor tunggu. Penyebabnya sudah pasti karena smartphone yang hampir selalu ada di tangan rasanya ampuh membunuh waktu tunggu. Entah scroll scroll timeline atau selfie cantik karena BT menunggu. Kalau saya mungkin lebih memilih untuk membaca buku yang memang kebetulan saya bawa jika harus menunggu.

Sebenarnya setiap orang pasti punya caranya sendiri untuk menikmati waktu tunggu itu, entah dengan chatting atau telepon dengan orang, berkenalan dengan orang asing di sebelahnya, membaca, tidur, mengkhayal atau berpikir. Semuanya adalah keputusan kita untuk menjadikan waktu menunggu itu jadi lebih bermanfaat atau hanya sekedar ‘membunuh waktu.’  

Sayangnya, kita luput dari sebuah kenyataan jika hidup ini memang perkara menunggu. Menunggu giliran untuk dijemput kematian. Menunggu kapan dipanggil olehNya. Karena kematian itu sebuah kepastian. Nah, untuk mengisi waktu menunggu dijemput itulah semua kembali kepada kita, dengan cara apa untuk mengisinya.

Terima Kasih  sudah membaca


0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis