Showing posts with label daily. Show all posts
Showing posts with label daily. Show all posts

February 25, 2017

Before February Will End Up Soon


Hay hay
Its been a long time for me to blogging and sharing anything. Mungkin karena sering bikin review singkat di Goodreads hampir setiap finishing baca buku, jadi rasanya seperti sudah sering kali menulis. Jadi, kesempatan postingan kali ini mungkin nggak akan serius banget, tapi cukup melepaskan hasrat ingin bercerita (meski ceritanya bakal kesana kesini).
The point is this February will end up soon. Bulan kasih sayang yang selalu saya nanti ini justru nuansa kasih sayangnya nggak terasa. Isu politik dimana mana, sampai rasanya ribut-ribut merayakan Valentine menjadi topic yang tenggelam dalam sorotan di Februari ini. Semuanya fokus dengan H+1 Valentine, yaitu merayakan pesta demokrasi (katanya).
Banyak perubahan dari berbagai isu pilkada—yang katanya serentak tapi fokusnya Cuma ke Jakarta—ini. Ada yang makin renggang, ada juga yang makin lengket. Beruntungnya isu pilkada ini tidak masuk dalam ranah obrolan saya dengan teman2 segeng manapun. Karena nggak kebayang kalau harus terpecah hanya karena isu pilkada.
Sebenarnya selain isu isu pilkada, ada fitur-fitur baru yang ditambahkan dari media sosial. Mulai dari Instagram Live, fitur posting 10 foto sekaligus dan Whats App Story. Yeah, kalau dipikir hampir semua sosial media jadi saling memiliki fitur yang sama satu lain. Lalu apa istimewanya ? Jika hampir semua media sosial menampilkan fitur yang sama, saling terkait dan saling terhubung. Lalu orang-orang yang ada di media sosial yang satu dengan yang lain adalah orang yang sama dengan postingan yang sama di berbagai media sosial.
Oh Lord, rasanya seperti dibunuh oleh kejenuhan akan hal yang sama. Kualitas pertemanan yang sifatnya realita justru menjadi hal langka. Apalagi di tengah kesibukan dan roda waktu yang terus berputar mengantarkan Senin kembali ke Jum’at.

   

December 17, 2016

Curhatan 2016


Ini sungguh perjalanan yang mengantarkan saya pada sebuah ‘kehidupan’

Kalimat di atas bagian dari #throwback2015 saya, dan di 2016 ini saya telah benar-benar memasuki kehidupan. The real life. Kehidupan sesungguhnya saat kamu tak lagi mengenakan seragam (sekolah) ataupun status (mahasiswa/kuliah). Ya, 2016 ini saya sungguh menerjemahkan kalau apa yang saya jalani adalah sungguh menjadi manusia dan memulainya.

After #throwback2015 via buku harian, saya menemukan banyak luapan emosi yang lebih serius di awal tahun daripada perasaan menye-menye yang hobi saya curhatin zaman SMA atau kuliah. Mostly tentang kerjaan. Bertemu dengan teman baru dari dunia kerja juga menghadirkan kisah baru bagi saya, ajaibnya saya menemukan kecocokan dan seakan telah mengenal sejak lama pada salah satunya. Bahasa sederhananya adalah klik.

Soal keputusan dan pembelajaran adalah hal besar yang terjadi dalam hidup saya di 2016 ini. Tentang bagaimana kita menggantungkan kepercayaan kepada diri sendiri atas keputusan yang kita ambil, bukan pada keputusan orang lain agar dapat menyalahkan pada nantinya. Dan apapun keputusan yang telah kamu putuskan, tak pernah membuatnya baik untuk menghadirkan kata “kalau saja saya…”

2016 dan Perubahan
Perubahan itu sudah pasti ada, bahkan rasanya terasa besar di tahun ini. Hal ini dikarenakan sudah menasbihkan diri sepenuhnya jadi karyawan full time, maka jadwal bangun tidur hingga pergi tidur di kala weekday seakan menjadi ritme. Imbasnya ke weekend yang sangat berharga digunakan untuk berisitirahat atau bertemu dengan orang yang menjadi prioritas saya. Imbasnya terlihat dengan postingan blog yang sangat menurun drastis. Mostly postingan tahun ini tentang review, baik film, lagu, buku atau juga tempat makan oke.

Perubahan dalam diri saya yang paling saya rasakan adalah kemuakan dengan media. Katakanlah apatis dengan politik dibanding dengan seorang saya di 2-3 tahun lalu dihitung mundur. Dan mulai jenuhnya dengan sosial media. Ya, saya sendiri tidak percaya akan sampai di titik ini. Titik jenuh dengan sosial media yang dihadapi oleh seorang social media freak hahaa. That’s a life, reader. Kamu benar-benar menemukannya ketika telah meningalkan bangku bernama pendidikan dan melebur sesungguhnya bersama masyarakat. Rasanya merindukan teman-temanmu dan kehidupan di dalamnya pada hari-hari yang melelahkan dan sepi.

2016 dan Kehidupan
Makna kehidupan dan semangat itu saya temukan justru dari orang-orang di sekitar, khususnya teman dekat atau saudara. Saat bersilaturahim dan mendengarkan ceritanya, saya selalu merasa bersyukur dengan hidup yang Tuhan hadiahkan saya di saat ini. Tidak jarang juga merasa malu atas apa yang saya sikapi dengan hidup ini. Banyak hal yang diajarkan oleh orang yang saya temui tentang kehidupan, tanpa sepengetahuan mereka. Dan berkali lipat syukur adalah berkah yang Tuhan berikan dalam bentuk orang tua saya saat ini.


Aah 2016 ini ternyata akan benar-benar berakhir. Rasanya begitu cepat, mungkin karena tidak banyak menorehkan banyak postingan di rumah kedua ini. Yang pasti, kehidupan itu akan memasuki rimbanya di 2017 nanti. Entah kenapa saya meyakini hal itu.

Bye, 2016 !


March 19, 2016

New Page


This my new page, not only in my blog in 2016, but also in one chapter of my life. Sebenarnya halaman baru itu sesungguhnya sudah mulai di pertengahan Desember lalu dan masih berlangsung hingga kini. Postingan kali ini sebagai sapaan hangat serta menolak membiarkan folder di Januari ini terasa kosong. Jadi maafkan kalau saya banyak bercerita tanpa arah.

Saya sedang menjalani probation di salah satu fashion e-commerce di Indonesia. Nggak perlu disebut namanya ya (hehe). kehidupan kantor yang 9-17 bahkan lebih sering sampai jam 20.00 itu ternyata cukup untuk membuat saya lupa soal pergantian hari. Hingga tiba menyadari kalau Januari sebentar lagi akan berakhir dan saya belum mengisi satu postingan pun di blog ini. Hehe

Kehidupan baru yang saya mulai ini menghadapkan saya dengan teman baru, lingkungan baru, pribadi baru yang bermacam, serta pengalaman dan pengetahuan yang baru juga. Yang paling menarik bagi saya adalah emosi yang baru. Iya, emosi yang baru yang timbul dari setiap peristiwa yang terjadi di sekitar saya.


23 Januari 2016

December 26, 2015

2015 : Me and Myself




Halo !
Its long time no told something to be posted in my second home. Dan ternyata, 2015 sudah menghitung hari untuk bergegas meninggalkan kita. Like as ritual, beberapa waktu lalu, saya membaca ulang buku harian saya untuk flashback kembali tentang 2015 ini.

For me, 2015 is about me and my self. Ya, perjalanan 365 hari saya bersama diri saya sendiri untuk menaklukan kerikil dan segala energi negatif dari diri saya sendiri. Semuanya tentang persoalan melawan energi negatif dan berdamai dengan diri saya sendiri.

Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi saya, karena lebih dari separuhnya membuat pikiran saya tecurah untuk sebuah kata LULUS. Menuntaskan tanggung jawab saya. Mencapai finish line untuk sebuah pendidikan panjang yang diinvestasikan oleh kedua orang tua saya. That’s why, it feels so hard. Feels like there were tons of burdend in my shoulder. But I know, that’s not as big enough with my parents’ effort for me.

Perjuangan mengerjakan skripsi itu diwarnai dengan ambisi saya yang lain, yaitu menjajal dunia kerja yang linier dengan disiplin ilmu saya. Magang di Kantor Akuntan Pubik, menjadi resolusi dan ambisi yang menggebu dalam diri saya di awal 2015. Dan akhirnya terwujud pada bulan Maret.

Tetapi, nyatanya semua tidak berjalan mulus seperti yang saya harapkan dan rencanakan dari awal. Saya gagal meraih tiket wisuda di bulan Agustus. Saya tidak ingin memberikan alasan, tapi mungkin pembelaan atau pengakauan dosa, kalau saya terlalu berambisi dan gagal mewujudkannya. Tidak mampu memanajerial waktu yang saya miliki dengan tanggung jawab baru yang saya pilih.

Maka, Juli hingga Agustus adalah masa yang berat bagi saya. Karena pada saat itulah, saya mencoba berdiri perlahan dan mulai berlari. Mengumpulkan kepingan semangat dari memoir diri saya di masa lalu, yang rasanya lebih baik dari keterpurukan yang terjadi.

Saya mencoba bangkit, menebalkan semangat dengan selalu berkeyakinan selalu ada satu hal yang pasti, yaitu Dia. Ya, Dia akan selalu bersama saya, hambaNya yang selalu percaya bahwa akan ada kado terindah dariNya. Saya terus mencoba berdamai pada diri saya dan sesekali mengingatkan, bahwa roda acapkali berputar. Ada kalanya kamu jatuh ataupun tersungkur, tapi kamu harus bangun. Karena sesungguhnya kamu yang paling tahu siapa dirimu sesungguhnya, sehingga kamu harus bangkit.
Setelah tiket wisuda itu berhasil saya raih, saya menyadari sebentar lagi pintu menuju hutan harus saya lalui. Tak ada jalan lain. Ini sungguh perjalanan yang mengantarkan saya pada sebuah ‘kehidupan’. Tetapi, hal ini membuat saya semakin ingin dekat denganNya. Semakin mempercayai, Dia selalu berada bersama saya. Bersama kita, umatNya yang terus mempercayai bahwa Dia akan selalu memberikan yang terbaik, asal kita ikhlas dan berserah serta selalu bersyukur.

Hal itu benar-benar terjadi, saat saya merelakan untuk melepaskan kesempatan menjadi volunteer dalam event  Social Media Week pada Februari 2015 lalu, maka Dia memberikan kesempatan lain bagi saya. Yaitu, intern di Mirum Jakarta. Serta hal lain yang tak bisa saya ungkapkan di sini. Saya menjadi percaya bahwa keikhlasan dan ketulusan melepaskan sesuatu akan mengantarkanmu pada suatu hal yang baru, yang bisa jadi lebih baik dari apa yang kamu lepaskan. Kuncinya satu, jangan ragu akan rencana dan kehendakNya.

Tahun ini juga menjadikan saya pribadi yang bisa berbahagia dengan diri saya sendiri. Dengan perasaan syukur yang selalu saya selipkan setiap harinya melalui #JurnalSyukur. Tanpa terasa program #Jurnal Syukur yang saya mulai pada 4 Januari 2015 lalu, kini sudah hampir mencapai penghujung. Rasanya seperti baru kemarin, saya mulai menulisnya. #JurnalSyukur memberikan energi positif bagi saya untuk terus berpikiran positif.

2015 ini sungguh perjalanan bagi saya untuk bisa berdamai dengan diri sendiri, jika ada kalanya seorang yang selalu menjadi yang pertama dan terbaik dapat terjatuh dan tersungkur. Perjalanan yang mengendurkan ambisi saya dan menengok lebih dalam, mana yang memang terbaik untuk saya. Bukan untuk sebuah pengakuan di mata orang lain.

Terima kasih Tuhan, untuk 2015 ini. It makes me closer enough with myself. Semoga saya dan kita semua dapat terus memperbaiki diri di usia yang terus menggerogoti ini.       

Selamat jalan, 2015
Cheers


July 10, 2015

Lebaran

Lebaran ?

Dari mana asal katanya ? Pertanyaan itu bersarang di kepala saya sejak beberapa tahun lalu. Mengapa hari raya umat muslim yang bernama Idul Fitri ini memiliki sinonim lebaran di Indonesia. Rasanya aneh. Apa karena banyak kue dan makanan manis lainnya yang menjadi penyebab tubuh orang melebar di hari itu ? atau karena orang-orang mendapat THR seolah pintu rezekinya melebar ?

Tapi, yang pasti silaturahim adalah ritual yang tak terpisahkan dari sebuah lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Hari pertemuan keluarga besar yang kemudian menjadi sosok hari yang menakutkan dan penguatan mental baja atas beberapa pertanyaan. Ya, maybe hal ini hanya dirasakan oleh golongan –golongan tertentu saja. Misalnya mereka yang udah cukup umur untuk menikah atau sekedar punya pasangan, mereka yang belom dikaruniai momongan, mereka yang belum mendapatkan sekolah idaman dan mereka yang sedang mengejar gerbang kelulusan. Yang pasti hari itu adalah hari paling membahagiakan bagi anak kecil yang merindukan ‘salam tempel’. Dan saya berani bertaruh kalau kamu yang sedang membaca postingan ini pernah menjadi anak yang berbahagia itu. aamiin

Lalu, sudah siapkah kita dengan berbagai pertanyaan yang menyerang dari orang-orang terdekat atau orang jauh yang katanya keluarga tapi ketemunya hanya saat hari raya ?

“Mana pasangannya ?”, “Kapan nikah?” “Kapan punya anak ?”, “Sekolah dimana sekarang?”, “Kapan Lulus?” “Udah lulus belom ?” “Kerja dimana sekarang?” “Berapa IPnya kemarin?”

Ada lagi, pertanyaan menyebalkan yang mungkin kamu temui di hari raya ? Dari orang yang mungkin hanya kamu temui sesekali waktu. Atau dari orang yang memang benar peduli denganmu tapi hanya hobi bertanya tanpa memberi solusi. Silahkan tuliskan di comment

Akibat pertanyaan-pertanyaan itu, hari raya justru jadi hari yang di-malesin sama beberapa orang. Ya, meski kadar males dan sebelnya gak tinggi-tinggi amat tetap saja ada unsur tidak bersih di hari yang bersih itu. Tidak bisa dipungkiri, manusia akan selalu mendapatkan pertanyaan semasa hidupnya, bahkan ada media social yang kegunaannya untuk saling betanya (ask.fm). Terbukti, nggak semua orang risih jugakan dengan pertanyaan. Ada yang dengan senang hati bersedia untuk ditanya dengan memiliki akun ask.fm.

By the way, ini kok jadi salah fokus ngomongin ask fm. Maaf ya, writernya lagi hobi main ask.fm hehe (feel free to ask on here ). Jadi begini, saya juga masuk dalam golongan orang yang harus menguatkan mental baja bertemu keluarga. Bukan soal pertanyaan jodoh udah nyampe mana, tapi…ya you knowlah –sesuatu yang tidak boleh disebutkan karena dapat membuat galau berkepanjangan dan mules tak berkesudahan serta sedih tak berujung-. Ada beberapa cara yang pernah saya baca untuk menghadapi hal itu.

Salah satu yang paling berkesan bagi saya adalah ‘dibawa santai’. Iya dibawa santai dengan obrolan. Misalkan kalau tante kamu nanya “Kapan nih bawa calonnya? Udah ada belom”, kamu jawab aja “Ah tante nih, pura-pura lupa aja. Kan udah pernah aku kasih tahu waktu itu. lupa ya tante”. Jawab sambil ketawa kemudian ngeluyur ngambil es buah.

           Sudahlah, jangan menghindar dari berbagai pertanyaan yang muncul itu. karne hidup memang nggak pernah lepas dari pertanyaan. Bahkan sampai di dalam kubur nanti juga ditanya, bukan?

            “Siapa Tuhanmu?”

PS : completely tips, check in here



June 14, 2015

Potret Dalam Kereta (part 2)




Sudah hampir 5 tahun berlalu dari postingan Potret Dalam Kereta. Kalau kamu anker (anak kereta), ada baiknya baca postingan itu sambil menerawang pada keadaan perkereta apian di Indonesia. Ya, saya mungkin hanya pengguna kereta Jabodetabek yang sekarang lebih akrab disapa commuter line untuk waktu-waktu tertentu. Tetapi, menggunakan transportasi umum dan bertemu serta bertahan bersama stranger untuk kemudian terpisah karena telah sampai pada tujuannya masing-masing, membuat saya  seperti menemukan banyak kehidupan lain di luar sana. Yang kemudian pada akhirnya mengajak saya untuk bersyukur.

Merujuk kembali pada postingan 5 tahun silam tentang kereta api, maka kereta api di Indonesia, khususnya Jabodetabek sungguh telah berubah untuk 2 tahun terakhir ini. Bukankah kamu setuju, readers? Bagaimana saat ini kita tidak lagi menemukan pedagang yang turut berdesak-desakan menjajakan barang dagangannya di kereta. Yang ada hanyalah berbagai penumpang yang berdesak-desakan untuk sampai pada stasiun tujuan. Bagaimana kita tidak lagi melihat petugas yang merokok sebelum kereta berangkat. Yang ada hanyalah petugas yang dengan cepat membersihkan gerbong sebelum kereta berangkat.

Bagi saya, perlahan Indonesia menuju perubahan yang semakin baik. Kadang kita tidak pernah menyadarinya kalau kita tidak sesekali melihat ke belakang. Mengapa ? karena tidak jarang, kita sering mengisi hari-hari yang kita lewati dengan keluhan. Well, sebenarnya postingan kali ini pointnya bukan itu. saya masih akan share tentang potret kehidupan yang sempat saya temui dalam commuter line.

Hari itu…Sabtu, 28 Maret untuk pertama kalinya saya dan ibu pergi naik commuter line bersama. Sebut saja agenda favorit wanita = Shopping. Tetapi, kejadian ini terjadi saat pulang. Allhamdulillah kami mendapatkan tempat duduk sedari Stasiun Tanah Abang dan akan turin di Stasiun Sudimara. Saat kereta sampai di Stasiun Kebayoran, ada sepasang nenek-kakek yang naik dengan membawa koper yang cukup besar.

Saya ingin memberikan tempat duduk saya kepada nenek-nenek itu, tetapi semua itu hanya ada dalam pikiran. Kadang, terasa sulit untuk bertindak. Sampai pada akhirnya, nyokap berbisik dan meminta saya untuk berdiri dan memberikan tempat duduk itu kepada si nenek. Sayapun mengikuti perintah nyokap. Tetapi, ketika saya mempersilahkan si nenek untuk duduk, dia tidak langsung duduk. Ada percakapan di antara sepasang sejoli itu. begini kira-kira.

Nenek : Kakek, sini duduk
Kakek : Kamu aja yang duduk
Nenek : Kamu aja
Kakek : Udah kamu aja gpp

Begitulah percakapan berulang-ulang sekitar 30 detik. Hingga akhirnya saya memilih untuk menduduki kursi saya kembali. Ahhahaha becanda deh. Pada akhirnya si nenek yang duduk. Sementara saya berdiri dan berbincang kecil dengan kakek.

Cukup lucu sih adegan kakek nenek yang justru saling mempersilahkan satu sama lain untuk duduk. Ya, rasanya lebih so sweet dibandingkan sepasang kekasih LDR-an yang rebutan buat nyuruh nutup telpon duluan. Ah sudahlahh.

Cerita kedua saya alami di gerbong kereta dalam perjalanan pulang menggunakan commuter line tujuan Bogor-Tanah Abang. Ada seorang bocah yang tingkahnya sungguh sangat tidak karuan. Usianya sekitar 3 tahun, kalau mata saya tidak salah menerka dari look nya. Anak laki-laki itu bersama ibunya duduk di hadapan saya dan paling pinggir. Si anak terus saja bergelantungan tidak karuan. Membuat ibunya mau tak mau harus bersusah payah mengimbangi si anak.

Saya haya tersenyum kecil dan sesekali mengernyitkan dahi. Melihat kejadian itu, yang ada kepala saya adalah bagaimana anak itu tumbuh dewasa. Ralat..mungkin lebih tepatnya, bagaimana banyak anak yang tumbuh dengan tidak dewasa ketika mereka sudah besar dengan bertingkah nakal dan bandel. Nggak kebayang aja, kalau pas kecil mereka sudah sangat membuat ibunya susah kepalang dengan tingkahnya lalu saat dewasa masih belum juga menyudahinya.

Bukan maksud apa-apa sih, tapi saya sempat mengambil gambar anak itu. Sesungguhnya anak itu lucu. Tapi, rasanya kamu akan lebih lucu kalau duduk manis, nak. Suapaya semua orang yang di kereta mampu melihat wajahmu yang lucu, nak.

Tingkah Laku si Anak (1)
Tingkah Laku si Anak (2)
Cerita ketiga, masih seputar anak kecil laki-laki. Tapi usianya bukan balita. Mungkin antara 7-8 tahun. Kejadiannya terjadi masih pada hari yang sama tetapi di kereta Tanah Abang-Serpong. Anak itu loncat loncat sambil menggebrak-gebrak jendela pintu saat kereta itu berjalan. Setidaknya itu yang paling saya ingat. Melihat kejadian itu, saya seakan berulang kali menahan nafas. Khawatir jika suatu waktu pintu itu terbuka dan si anak jatuh. Bergidik sendiri bukan kalau membayangkannya?

Kemudian pandangan saya lemparkan kepada ibunya yang tidak menegur si anak. Saya dalam hati mempertanyakan, “Mengapa tidak memperingatkan anaknya yang tidak bisa diam itu? Apakah dia tidah tahu kalau itu menggganggu ketenangan orang yang mungkin saja ingin beristirahat dalam perjalanan?” fiuuh sudahlah.  Saya lebih memilih menutup mata, mencoba tidur seperti apa yang dilakukan teman di sebalah saya.

Kami turun di Stasiun Sudimara dan menunggu teman saya, Marisa yang antre menukarkan kartunya. Sambil menunggu, saya memperhatikan orang-orang yang menyemut keluar dari stasiun untuk segera naik angkot. Seperti yang sering saya lakukan, sebelum aktif menggunakan motor. Hingga kemudian, sepasang mata saya menemukan seorang bocah aktraktif di dalam kereta tadi. Dia berjalan paling depan, diikuti seorang ibu yang mengalungkan pengeras suara di dadanya dan tangan tertumpu di bahu si anak. Di bahu sang ibu, tertumpu lagi sepasang tangan milik lelaki yang berjalan di belakangnya.

Seketika jawaban saya terjawab sudah, mengapa si ibu tidak memperingatkan anaknya di kereta tadi. Mata saya masih belum lepas dari mereka yang saling beriringan berjalan menuju jalan raya untuk menyebrang, dikepalai si anak kecil itu tadi. Seketika saya merasa sangat bersyukur karena Tuhan masih menganugerahi alat indra yang fungsional kepada kedua orang tua saya.

Hari itu, setelah seharian wisata kuliner bersama kedua sahabat saya, ada rasa syukur lai yang saya bawa pulang.

Terima kasih telah membaca


April 19, 2015

Kembali Menulis



Sudah berapa lama ya rasanya absen dari rumah ketiga saya ini (rumah pertama : keluarga, rumah kedua : buku diary) ? Jawabannya kali ini tidak lagi sama dengan yang pernah ada sebelumnya. Tetapi alasan kembali saya menulis di blog ini setelah sebulan vakum adalah sama.

Memulai kembali menulis setelah lama tak menulis selalu saya siasati dnegan kembali membuka draft tulisan yang pernah saya posting di blog dalam laptop saya. Membaca beberapa postingan di bulan yang sama pada 2,3 atau bahkan 4 tahun lalu menjadi refleksi bagi saya. Menjadi pengingat, apa yang saya tuliskan pada April 2011 lalu misalnya atau April 2 tahun lalu. (contoh  lain)

Membaca ulang tulisan saya adalah hal yang tidak pernah saya sesali, terkadang hanya senyum gelitik yang berbisik ke pikiran untuk mencari kepingan ingatan hal itu. Membaca tulisan saya sendiri bagi saya adalah kepuasan tersendiri.

Bahkan saya menulis untuk saya sendiri. Ya, mungkin terdengar egois. Tetapi, karena saya suka membaca tulisan saya sendiri itulah yang menjadi moodbooster saya untuk kembali menulis. Karena membaca tulisan saya sendiri adalah mengenang kembali kalau saya orang yang pernah berkualitas dengan menciptakan tulisan tersebut. Jadi, kenapa saya tidak mempertahankan kualitas saya dengan menulis lagi.

Sedikit bocoran atau mungkin curhat terpendam, kevakuman saya menulis yang paling utama disebabkan ketidaktahuan akan apa yang ingin saya share. Sementara modus baru kevakuman saya menulis yang terjadi belakangan ini bisa dibilang lebih berbahaya dan baru terjadi dalam diri saya.

Atas overthinking dan masalah mahasiswa tingkat akhir, saya sempat terpikir kalau menulis akan menyita waktumu. Apalagi kalau isinya cuma curhatan, karena selama ini isi postingan saya kebanyakan demikian. Menulis tidak akan menemukan solusi tetapi mengurangi waktumu menemukan solusi. Ya, semoga ini pertama dan terakhir kalinya saya mengalami pemikiran modus ini.

Maka dari itu, untuk mempertahankan isi postingan saya di setiap bulannya, bulan lalu saya mengikuti #MaretMenulis. Berawal dari tweet yang ada di Timeline saya, entah dari following zaman kapan yang mungkin pernah saya follow. Isinya adalah sebagai berikut :


Jadi, untuk menyetel pola pemikiran kita untuk selalu menulis setiap harinya. Apapun itu. Dan tidak peduli apakah ada orang yang membacanya atau tidak. Yang paling utama, kita harus percaya kalau pada suatu hari nanti pasti akan ada orang yang membaca tulisan kita itu. Meski hanya 1 orang. Dan #MaretMenulis ini juga untuk melatih konsistensi kita dalam hal menulis. Karena rumus untuk menciptakan tulisan yang baik adalah kekonsistenan dirimu.

Bentar bentar diusir sama petugas perpus nih…

Okay *brb* setelah 10 jam kemudian…

Jadi apa kabar #MaretMenulis saya lalu ? Nyatanya, saya hanya mampu menjalankannya setengah bulan. Saya masih belum bisa konsisten terhadap diri saya sendiri tentang menulis setiap hari. Maaf karena pada akhirnya harus stuck di jalan tapi semoga postingan di bulan Maret bermanfaat.

Terima kasih


March 12, 2015

#JurnalSyukur (Day 12)




Merasa setuju dengan pernyataan di atas? Atau sekedar merasakannya? Ya, saya pernah merasakannya. Mungkin sebagian orang di luar sana juga bisa mengangguk setuju. Entah dengan cara menyadarinya sendiri sambil tersenyum atau melalui cuplikan sinetron dimana si kaya dan miskin yang tertukar.

Contoh simple lain adalah menjadi anak laki laki yang mendapatkan perlindungan berlebihan (overprotektif) dari orang tua. Belum ada di rumah saat matahari perlahan tergelincir tenggelam, maka puluhan panggilan telpon dari ibunya akan singgah di ponselnya. Merasa risih, kesal dan terganggu. Lalu mengeluh.

Sementara ada anak lelaki di luar sana yang sengaja pulang malam. Tidur-tiduran di kosan temannya sambil menunggu panggilan telopn dari sang ibu yang memintanya untuk pulang. Atau sekedar menanyakan keeradaannya. Kehidupan yang kalian pikir tertukar dan kalian harapkan satu sama lain.

Tapi benarkah semua itu?

Benarkah, apa yang kita keluhkan adalah apa yang diinginkan orang lain? Benarkah kita tidak membutuhkan kehidupan yang kita keluhkan ini? Atau hanya kehilangan yang nantinya akan menyadarkan apakah kita akan merindukan dan membutuhkan kehidupan yang kita keluhkan saat ini?

Jawabannya sederhana : Rasa syukur. Kita belum mensyukuri apa yang kita keluhkan. Kita hanya mengeluh, bukan bersyukur. Sepanjang kita terus berkeluh, maka kita akan terus menginginkan kehidupan orang lain. Itu yang saya sadari pada akhirnya.

Bagaimana saya pernah berpikir ingin hidup di tengah gadget terbaru dan menginginkan hidup orang lain di luar sana yang rasanya lebih beruntung dari saya. Tetapi, apakah semuanya sudah benar? Mengapa tidak kita syukuri kehidupan yang telah disuguhkan Tuhan kepadamu, mulai dari kamu membuka mata.

Hal itulah yang kemudian mendasari saya untuk menjalankan sebuah resolusi yang saya namai #JurnalSyukur. Terinspirasi dari cerita Dian Sastro yang menuliskan 10 hal yang kamu syukuri setelah bangun tidur dan sebelum pergi tidur serta seorang wanita yang menuliskan jurnal syukur di tabnya dalam perjalanan pulang kantor di commuter line. Sayapun membuat #JurnalSyukur versi saya yang berisi 10 hal yang saya syukuri dalam 1 hari.

Kegiatan ini sudah memasuki bulan ketiga dan jujur saja rasanya semua begitu dimudahkan. Saya merasa menemukan kemudahan di setiap langkah saya. Di setiap pengambilan keputusan dan proses mengikhlaskan, Tuhan seakan menggelarkan permadani yang membawa saya ke jalan lain yang baru saat saya berani melepaskan dan memilih.

Saat saya mensyukuri setiap kesempatan dan jalan yang disuguhkan Tuhan, maka saya percaya Dia memiliki rencana tersendiri yang baik bagi saya. Tugas saya adalah terus mensyukurinya, menjalankan sebaik mungkin dan berpikiran positif akan setiap rencanaNya. Sekuat itu rasa syukur yang kamu ciptakan dalam dirimu akan memepengaruhi pikiranmu.

Ingatlah, hal besar tidak akan menjadi besar jika bukan karena sekumpulan hal kecil yang menjadi satu. Jadi, mulailah bersyukur dari hal hal kecil. Mulai dari setiap pagi kamu mampu membuka mata dan tetap bisa melihat dunia. Bayangkan, jika pada suatu hari kamu membuka mata, tapi yang terlihat adalah gelap.

Bersyukur saat kamu mampu menyapukan jemarimu ke layar ponsel untuk mengecek notification. Bayangkan jika suatu hari tanganmu merasa kram dan tak mampu digerakkan. Bersyukur saat kamu terbangun di atas kasur yang empuk dan selimut hangat, sementara ada banyak orang yang harus tidur dalam dinginnya lantai toko dan bisingnya jalan.

10 hal yang kita syukuri dalam sehari dalam bentuk tulisan sesungguhnya adalah sedikit. Ada 10x lipat yang seharusnya kita syukuri, tetapi saya rasa bisa kita pikirkan dalam kepala dan diyakini dalam hati untuk sisanya. Semoga setelah kita mampu bersyukur, maka tidak ada kehidupan orang lain yang kita inginkan. Kalaupun ada, semoga Tuhan menggelarkan permadani setelah kita mensyukurinya.

Semoga bermanfaat.


February 7, 2015

13 Februari

Beberapa tahun terakhir ke belakang, 13 Februari adalah hari yang sangat saya tunggu. Bahkan saat kalender telah membuka ke bulan Februari, maka saya layaknya seorang anak yang telah menunggu rapi di depan beranda rumah untuk menyambut ayah yang pulang membawa hadiah. Ya, seperti itulah saya menunggu tanggal 13 di bulan Februari. Lalu akan sangat bersedih saat jarum jam melewati angka 12 di tengah malam meninggalkan 13 Februari. Tetapi untuk tahun ini, dengan sangat berat hati, saya tak lagi menunggunya. Tak lagi penasaran siapa yang akan datang meminta saya untuk  meniup lilin atau siapa yang menjadi orang pertama dan terakhir mengantarkan kata ‘selamat’ pada saya.

Saya bahkan setengah sadar saat menemui kalender Februari sudah memasuki awal minggu kedua. Saya ingin berlari mundur ke hari pertama di bulan Januari. Saya ingin mengulang bulan Januari kemarin yang entah kenapa seakan terskip begitu saja. Manusia merugi, sebut saja saya begitu karena mungkin memang benar adanya. Apakah di bulan Januari kemarin saya sedang bermimpi hingga lupa terbangun dan sadar telah berada di tengah Februari ini. Ataukah saya terlalu terlarut dengan pikiran yang membebani diri sendiri tanpa mampu saya bagi—yang orang modern menyebutnya dengan kata stress. Sungguh memalukan dan tak patut dicontoh.

Meluapkan pikiran ini juga tidak akan membawa saya kembali pada Januari. Tidak juga membuat waktu berjalan pelan menuju 13 Februari. Menulis seperti ini juga bukan meminta perhatian Anda atau siapapun yang mencari topik pembicaraan atau sok perhatian namun terlambat. Menulis seperti ini hanya bagian dari menyambut Februari di postingan blog ini. Dan menulis seperti ini adalah bentuk pertemuan saya dengan blog ini karena cukup lama berpaling dengan media sosial yang lain.

Terima kasih sudah mau membaca hingga akhir .

8 Februari 2015
11.22 A.M
Backsong : Konayuki – Remioromen

Ps : Tolong jangan dibahas !

*Tulisan ini dibuat oleh seorang pengkhianat deadline dalam waktunya yang sempit  mengejar deadline


January 27, 2015

(Nostalgia) #hellofest9

Januari hampir saja usai, tapi belum ada 1 postinganpun yang menghias blog saya ini. Dan entah kenapa, tiba-tiba malam ini gatal untuk membuat postingan atas peristiwa yang sudah lewat terlalu lama. Momment Hellofest 9 di November 2013.

Kenapa saya tertarik untuk cerita soal ini ? Jawabannya sederhana. Ada seorang teman yang tiba-tiba mengingatkan tentang kejadian ini dan setelah saya check di diary, ternyata saya tidak menuliskannya di sana. Tapi, saya ingat dengan jelas bagaimana peristiwa itu berlangsung.

Sabtu, 9 November 2013. Pelaksanaan Hellofest 9 hari pertama.

Hellofest adalah event pop culture tergokil seantero Indonesia. Berawal dari hanya sebuah perayaan kelulusan murid-muridnya di hellomotion, hellofest jadi ajang unjuk gigi anak muda kreatif, baik dari soal short movie, costplay, bazzar kreatif maupun kuliner. Saya kenal event ini pada Februari 2012 dengan kumpulan short movienya yang keren dan nyentil. Karena itulah, Hellofest 2013 adalah hellofest yang sangat saya tunggu sejak kalender 2013 itu dibuka.

Hal itulah yang melatarbelakangi bagaimana ngototnya saya ingin ke Hellofest dan mencoba membujuk teman-teman (yang susah banget diajak menginjakkan kakinya di Jakarta) saya untuk datang ke Hellofest. Yang paling utama tentu saja nonton short movienya—yang tayangnya jam 8 malam.

Well, dengan usaha bujuk membujuk, finally saya, Faisal, Mumu, Wanda, dan Rizky pergi ke Hellofest 9 yang berlokasi di Taman Krida Loka, Senayan. Di sana kita janjian sama teman lain, yaitu Bonita, Icha, Rahma, Eva dan Hadi. Mumu yang saat itu sedang sakit nekat ikutan dengan alasan mau foto bareng Hatsune Miku. Tetapi, karena kita datangnya sore, costplay tentu saja sudah berakhir dan Mumu gagal bertemu Hatsune Miku sementara saya, Faisal dan Bonita sibuk keliling dan foto-foto asyik.

Nggak tahu ini siapa cuma suka dengan rambutnya makanya minta foto
Kompilasi HelloFest9 by @faifau



Karena tujuan utama adalah nonton short movie, maka setelah puas muter-muter kita memutuskan untuk mencari spot terbaik saat nonton nanti. Lumayan seru karena pemutaran short movienya di Kolam Renang. Tetapi, sungguh sangat disayangkan acara ini berlangsung mundur beberapa jam dari yang dijadwalkan. Pemutaran baru mulai jam 8 lewat (lupa) dan akhirnya kita nggak nonton sampai tuntas.

Setelah dapat spot terbaik, narsis dulu . (saya, Bonita, Mumu, Wanda)
photo from IG @bonputri
Mengingat ada salah satu teman yang nggak fit dan khawatir ada teman yang nggak dapet bis maka kita pulang di tengah pemutaran film. Saya, Faisal, Mumu, Wanda dan Rizky pulang bareng karena searah. Mengingat (lagi) Mumu lagi nggak enak badan, maka saya memilih nebeng sama Faisal. So, Mumu jadi single player bawa motor dan dia berada di barisan motor paling akhir dari 3 motor yang ada.

Karena berada di barisan paling akhir, saya jadi harus sering memantau alias nengok ke belakang untuk memastikan kalau Mumu tetap berada dalam keadaan yang baik (baca : nggak tiba-tiba pingsan di jalan). Hingga pada suatu pertigaan di Pasar Kebayoran peristiwa itu terjadi.

Mumu yang seharusnya mengambil jalan lurus justru belok ke kiri. Saya panik dan langsung bilang sama Ical kalau Mumu salah jalan. Ical ketularan panic dan kita memutuskan untuk putar balik. Sementara Wanda dan Rizky sudah berada di paling depan dan entah dimana keberadannya. Well, nggak mau si Mumu nanti tambah jauh nyasarnya, finally kita putar balik dan mengikuti arah nyasarnya Mumu untuk menarik Mumu kembali ke jalan yang lurus.

Meski udah hampir jam 11 malam (atau mungkin lewat ya. Lupa) suasana pasar masih hingar bingar dan macet. Mumu yang kala itu ber-bebek-an Mio Hijau dan jaket biru tetap saja sulit ditemui. Saya dan Ical panik bukan main. Kepanikan kami semakin lengkap saat sirine kereta berbunyi. Hal itu menandakan bakalan ada kereta lewat dan jalan kami terhenti. Bagaimana kalau si Mumu ternyata udah lewat dari palang pintu kereta dan semakin nyasar entah kemana.

Semua hipotesa dan kekhwatiran yang semacam itulah yang sama-sama menari di atas kepala saya dan juga Faisal. Hingga akhirnya, kita menemukan sosok Mumu bersama bebek Hijaunya menunggu kereta yang sedang lewat. Jarak kami dengan Mumu cukup terpaut beberapa motor dan angkot. Kami terjebak di sebelah angkot, tepatnya di pintu masuk penumpang. Di situlah, Faisal dengan semangat 45 memanggil-manggil nama Mumu, tapi sayang sekali dan dua kali panggilan tak berarti di telinganya Mumu.

Mumu sungguh berada di jalan yang salah hingga Faisal berdiri dari jok motornya dan sekuat tenaga memanggil “Mu…Mu…Mumu....” dalam jumlah yang tak terhingga. Syukurlah, Mumu akhirnya nengok dan seenaknya memutar arah. FYI, saat itu Cuma ada satu arah dan Mumu dengan santainya berbalik arah dan melawan arus. Sementara saya dan Faisal ? Kami masih terjebak di tengah kemacetan dan tidak bisa memutar.

Well, that’s what friends are for. Quotesnya nggak tepat ya ?

Yaudah isi quote persahabatan versi kamu di comment atau mention si pelaku di sini atau ini 

PS : 
1. Kalau kamu nanya bagaimana endingnya saya dan Faisal, maka jawabannya allhamdulillah bisa muter dan ikut melawan arus. Kita bertiga kembali dengan selamat dan disambut wajah bingung dan sebal Wanda dan Rizky yang nungguin lama banget.

2. Kalau kamu nanya, apakah saya ikut memanggil-manggil Mumu, maka jawabannya adalah tidak. Saya nggak mampu lagi memanggil Mumu karena sibuk menahan perasaan campur aduk. Antara lucu, malu, bingung dan khawatir.

3. Kalau kamu tanya, kenapa hal ini sampai saya posting seriously jawabannya adalah ini part yang tak terlupakan dari proses nyasar dan penyelamatan teman.

*Postingan ini sama sekali tidak bermaksud untuk memperburuk citra seseorang. Cuma buat diinget aja








October 7, 2014

Cerita KKN - Disya 'Primadona Babakan Empang'

Heloo October

Selamat berjumpa kembali dengan cerita KKN saya di Bogor. Postingan kali ini adalah seputar primadona Kp. Babakan Empang yang selalu menjadi pembicaraan oleh kami (Geng Ayam dan Tukang Ayam).

Selama hampir satu bulan tinggal di Pasarean, tepatnya di Kp. Babakan Empang ada sebuah nama yang selalu kami sebut ketika membuka pintu di pagi hari. Sebuah nama yang selalu kami sebut ketika ada makanan yang terhidang. Sebuah nama yang selalu kami sebut ketika bersiap pergi dari rumah (entah mengajar atau ke Curug).

Nama itu adalah “Disya.” Bukan hanya namanya yang cantik tapi si pemilik nama juga cantik. Dia bersih dan lembut. Nggak heran kalau hampir semua personil geng ayam senang mengelus elusnya. Dan tidak salah juga kalau saya menyebutnya sebagai primadona. Karena hampir semua teman-teman kelompok KKN MPR memanggil Disya dengan manja dan memperlakukannya bagaikan adik kami.


Nama lengkapnya Disya Nul Fatul Jannah. Dia udah di bai’at masuk Islam oleh salah satu geng ayam. Meski Disya jalannya pincang dan hobi makan nasi kami tetap menerima Disya di rumah kami. Hampir setiap pagi, kami (personil Tukang Ayam) selalu meneriakkan nama Disya begitu membuka pintu. Karena apa ? Karena ada sampah berserakan dari trash bag . Disya adalah pelakunya. Kucing itu pasti telah mencakar cakar untuk mencari potongan tulang ayam.
Disya Nul Fatul Jannah
Disya Dibai'at

Kami juga selalu meneriaki “Disya” setiap ada makanan yang didekati dan diendus Disya. Disya kucing cantik yang hobinya makan nasi. Selain itu dia juga suka makan chiki. Lebih tepatnya stick panjang yang pedas itu. Dia juga suka makan tisu meski malu malu. Fakta ini saya temukan ketika iseng memberikan stick pedas itu di atas tisu pada Disya. Dan dengan lahap Disya mengunyahnya, termasuk tisu yang nempel itu.

Kami selalu meneriaki “Disya” saat sedang bermain di depan rumah. Disya itu hobi banget ngulet dan berjemur. Mungkin itu tips dia tetap eksis menjadi primadona Kp. Babakan Empang. Saya rasa tidak berlebihan kalau saya menyebut Disya sebagai primadona karena memang begitu kenyataannya.
Disya Ngulet

Disya sudah seperti anggota keluarga kami. Entah bagaimana awalnya dia bisa mengakrabkan diri dan hilir mudik di dalam rumah kami. Kami juga nggak tahu siapa ibu dan bapaknya. Nama Disya juga diberikan oleh Shinta (salah satu personil Tukang Ayam). Katanya kucing itu cantik seperti temannya Shinta yang namanya Disya.

Kabar terakhir menyatakan kalau Disya kurusan. Mungkin karena dia sudah lama nggak makan stick panjang yang pedas itu. Yang pasti Disya si primadona Kp. Babakan Empang itu sudah seperti anak sendiri. Maaf nak, kami telah meninggalkanmu dan belum sempat memberikan pengobatan pada kakimu yang pincang itu.
Disya Kurusan






October 3, 2014

CERITA KECE



Tolong jangan illfeel dulu dengan judulnya untuk readers yang tidak tahu ada makna apa di belakangnya. Kece adalah sebuah kepanjangan, yaitu KELAS C. lebih lengkapnya sih AKU KECE (Akuntansi Kelas C). yepp, itu adalah sebutan bagi kelas saya selama hampir 3 tahun ini.

Saya ingat sekali kalau pencetusnya adalah Adi Indawanto, salah satu teman kami. Dicetuskannya tepat tahun 2011 dan diabadikan di nama grup FB. Ada perjalanan panjang yang terjadi bersama mereka. Mulai dari jalan-jalan, jenguk teman yang sakit dan pengajian kelas.

Ada juga cerita Wahel yang sakit tifus dan hampir akukece sekelas menjenguknya, bahkan sampe foto bareng sama kedua orang tuanya. Tepatnya kapan seriously lupa, mungkin yang sakit yang inget  hehe.
Antara Jenguk Orang Sakit dan Ngerebek Rumah Orang (rame bener)
Dan saya juga tidak pernah lupa ada KECE yang meneriakkan saya dan Bonita di Cerdas Cermat Milad FEB 2013 lalu. Mereka sampai beramai-ramai membuat hashtag #fitlovebon dan mention serta sms ke sesame personil KECE untuk mendukung kami. That was so crazy but funny. Thanks guys
Terima Kasih Dukungan Kece atas dukungan di Cerdas Cermat Competitionn
Soal cerita jalan-jalan kami yang ke Puncak untuk kali pertama (2012)  sudah pernah saya share. Untuk yang kedua (masih ke Puncak juga di 2013) tidak saya share. Tetapi ada beberapa dokumentasi yang bisa saya share.

Photo Session Diwarnai Kabut (Jalan Jalan Puncak 2013 )

AKUKECE  memang seakan punya ritual jalan-jalan setiap libur semester ganjil.  Liburan kecil-kecilan sekitar 2-3 hari yang diisi dnegan curhat-curhatan atau game, main uno, dan foto-foto. Ritual baru setahun terakhir ini adalah pengajian kelas menjelang UAS. Biasanya kita khataman quran bareng-bareng sambil ngetag kue-kuean yang dihidangkan setelah khatama semua usai. Semua yang mempersiapkan ya kita bersama.

Pengajian kelas yang pertama itu berlangsung Juni tahun lalu. Lokasinya di rumah Icha, karena masih awal banget banyak yang ikutan. Honestly saya suka sekali dengan foto rame-rame yang semua personil KECE nya kelihatan jelas.

Posenya Keren Semua

Pengajian kelas menjelang UAS di semester 5 diadakannya di Lab.Pojok Bursa, karena waktu yang mendadak dan terbatas. Dokumentasinya juga terbatas karena pada heboh ngetag-in kue kue gitu. Kue emang primadona deh pokoknya, kecuali bagi saya ya. Haha




And then ini pengajian kelas menjelang UAS di semester 6 ini. Jumlahnya drastis berkurang dari setahun yang lalu. Banyak yang nggak datang karena agenda masing-masing dan waktu yang lagi-lagi mendadak. Diadakannya di rumah Ical. Kue – kue masih jadi primadona, tapi kali ini nggak perlu berebut heboh karena semua orang kebagian jatah lebih atas personil KECE lain yang nggak dateng.
Pengajian Kelas Limited Person
Sayang banget sih banyak yang nggak datang, padahal kita sudah jarang ketemuan juga karena sudah beda konsentrasi. But at least, postingan kali ini mungkin akan sangat bermakna pada suatu hari di kala personil KECE membacanya. Nggak tahu juga sih seberapa maknanya , tapi ada kenangan yang dipatrikan di salah satu posting saya.

Perjalanan KECE yang sudah menghadirkan 3 pasangan cinlok, persahabatan dan pertemanan baru yang mungkin terlihatnya berkubu-kubu. Tapi itu wajar sih kalau menurut saya. Asalkan tiap kubu itu nggak saling membunuh atau bermusuhan.

Perjalanan KECE yang menghadirkan laboraturium pembelajaran bagaimana menyelami karakter setiap orang. Perjalanan bersama KECE yang paling manis bagi saya di tahun 2013 kemarin. sudahlah tidak ingin banyak berkata-kata lagi. Harapan saya cuma satu, semoga KECE saling mengingatkan dan saling peduli. Aamiin

Selamat berpuasa

14 Juni 2014









© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis