Showing posts with label tulus. Show all posts
Showing posts with label tulus. Show all posts

March 1, 2014

Kita Bisa

Kita Bisa
RAN ft. Tulus



Kadang terasa sulit untuk mensyukuri
Apa yang ada, apa yang ada
Atau memang hanya kita saja yang tak puas dengan
Apa yang ada, apa yang ada

Tak semua orang bisa punya kesempatan yang sama
Andaikan engkau dapat membuka mata

Kita bisa rasakan bahagia
Asalkan kita terus percaya
Sadari semua makhluk tercipta
Tuk saling dapat menjalani hidup ini bersama

Setiap detik yang kau jalani oh sungguh sangat berarti
Jangan pernah kau sia-siakan yeah
Semangat yang masih terpendam jangan biarkan tertelan
Marilah arungi arus kehidupan

Tak semua orang bisa punya kesempatan yang sama
Andaikan engkau dapat membuka mata

Kita bisa rasakan bahagia
Asalkan kita terus percaya
Sadari semua makhluk tercipta
Tuk saling dapat menjalani hidup ini bersama

Jangan engkau ragu, aku di sini untukmu
Walaupun tak selalu nilainya yang sama
… pasti kan menghampiri, badai pun datang menghakimi
Namun sinar-Nya kan menjaga jelas arah kita

Kita bisa bila percaya
Mewujudkan mimpi-mimpi kita bersama
Kita kan raih bahagia
Mengubah semua harapan jadi nyata

Kita bisa rasakan bahagia
Asalkan kita terus percaya
Kita kan raih bahagia
Tuk saling dapat menjalani hidup ini bersama
Bersama, bersama


February 20, 2014

Abel, Kisah Sewindu (End)



cerita sebelumnya



Aku hampir stress dengan semua pemikiranku sendiri hingga Radit datang dan mendekatiku. Awalnya, aku menganggap Radit adalah kakak yang baik dan teman berbagi wawasan. Tetapi, lama kelamaan perlakuannya kepadaku semain istimewa. Radit memeberikan segala hal yang selama ini kuimpikan sebagai seorang gadis. Radit secara tidak langsung memanjakanku dengan seglaa luapan perhatian dan kasih sayangnya. Radit sangat menyayangiku. Aku tahu itu. Maka, saat Radit mengajakku untuk menikah di kala usiaku 21 tahun, aku menerimanya.

Intensitas pertemuanku dengan Albi semakin berkurang. Setiap melihatnya, aku seperti terluka karena tak pernah bisa menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya kepadanya. Aku juga tak pernah tahu seperti apa perasaannya kepadaku. Atau sebaiknya mungkin aku tak perlu tahu, karena saat aku mengetahuinya, aku telah terlambat. Tidak ada yang dapat kuperbuat.

“Makasih, Bi. Aku sudah minta bantuan sama Mia untuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari baju pengatin, catering makanan, gedung, undangan. Kamu nggak perlu khawatir. Anyway, terima kasih sudah menawarkan diri,” jawabku sambil berlalu meninggalkan beranda.

Beberapa menit yang lalu, aku tahu segala usaha Albi mempertahankanku untuk menarikku keluar dari rencana pernikahan ini adalah bukti kalau ia memiliki perasaan yang sama denganku. Tetapi semuanya terlambat, Albian.
* * *

“Saya terima nikahnya Anggita Salsabila binti Hermawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan….”

Salsa. Salsabila. Ya, itu nama Abel yang sesungguhnya. Lalu mengapa ia dipanggil Abel ? Tiba-tiba pikiran itu justru sibuk mengisi kepalaku di tengah ijab kabul yang sedang berlangsung.

Aku menghadiri pernikahan Abel, cinta pertamaku yang bertepuk sebelah tangan.

Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya engkau memilih dia

END

25 Januari 2014
Inspired by Sewindu from Tulus

Abel, Kisah Sewindu #4

cerita sebelumnya 





Musim hujan sedang berlangsung ketika kamu datang dan resmi menjadi tetangga baruku. Aku selalu bertanya-tanya mengapa anak lelaki itu selalu duduk di depan pagar rumahnya sambil berpayung dan membelakangi rumahnya. Seorang wanita yang kuyakini sebagi ibunya tak pernah lelah membujuknya masuk ke dalam rumah baru mereka. Tapi anak lelaki itu sama sekali tidak menghiraukannya. Dia duduk di sana sepanjang pagi hingga malam. Hingga pada hari ke-7 aku memberanikan menegurnya.

“Hai. Kenapa kamu nggak masuk ke rumah? Apa kamu mau main sama aku?,” tanyaku saat itu.
“Kamu siapa?,” tanya anak itu degan mata yang tajam.
“Aku Salsa. Salsabila,” ujarku sambil mengulurkan tangan.
 “Nama kamu ribet. Aku ngggak mau main sama kamu,” jawabnya ketus sambil membalikkan badan dan membelakangiku. Punggungnya yang terlihat hangat membuatku memutar otak.
“Oke, panggil saja aku Abel kalau begitu,”

Aku juga tidak tahu darimana aku menemukan nama itu. Tetapi, demi punggungnya yang hangat. Demi dekat dengan anak lelaki itu, maka mulai hari itu aku menasbihkan diri untuk dipanggil Abel. Bang Andri, kakak lelaki kesayanganku tentu saja menolaknya mentah-mentah. Sementara ayah dan ibu hanya mengikuti kemauan anak perempuannya yang jatuh cinta pada usia 12 tahun. Bang Andri tetap memanggilku sebagai Salsa.

Mulai hari itu aku bermain bersama Albi. Bermain kelereng, mengejar layangan putus, bertanding play station. Bahkan aku memberanikan diri untuk naik pohon dan membuat sarang burung bersamanya. Padahal aku sangat takut dengan ketinggian. Demi tetap terus bersama Albi, aku membuang jauh semua ketakutanku itu. Bang Andri jelas-jelas tak menyukai Albi. Karena Albi telah mengubah adik perempuannya menjadi anak lelaki.

Sebenarnya Albi tidak mengubahku menjadi anak lelaki secara utuh. Aku hanya berubah menjadi anak lelaki ketika berada di hadapan Albi. Aku selalu berusaha terlihat kuat dan bisa di hadapannya. Aku selalu senang saat berada di dekat Albi. Tetapi saat tidak ada Albi, aku sesungguhnya anak perempuan manja dan cengeng. Selalu ingin diperlakukan istimewa.

Bermain dan pergi sekolah bersama Albi membuatku semakin denkat dengannya. Tidak ada satu haripun yang kami lewatkan tanpa bersama, kecuali saat ada acara keluarga kami masing-masing. Karena kedekatan kamilah, aku tahu penyebab Albi tidak mau masuk ke rumah selama seminggu awal kepindahan rumahnya itu.

Albi sebelumnya tinggal di Bandung bersama neneknya. Ibunya meninggal ketika melahirkannya. Ayah Albi datang ke Bandung seminggu sekali untuk mengunjunginya. Hubungan mereka baik – baik saja sampai pada akhirnya Ayah Albi memutuskan untuk menikah kembali dan mengajak Albi tinggal bersamanya di Jakarta.

Awalnya Albi tidak mau ikut pindah karena itu berarti ia akan meninggalkan makam ibunya yang berada di Bandung. Tetapi ayahnya terus memaksa Albi karena ia begitu menyayangi Albi. Ibu tiri Albi sangat cantik dan baik. Dari matanya, aku dapat meilhat kalau dia juga menyayangi Albi dengan tulus.

Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu siangmu malammu

Albi adalah orang pertama yang selalu meneriakkan namaku di setiap pagi, siang dan malam. Aku selalu menunggunya untuk memanggil namaku di pagi hari saat kami ingin berangkat sekolah. Albi tumbuh menjadi anak yang periang dan blak-blakan, juga tampan. Tidak salah jika dia memiliki banyak penggemar di saat SMA.

Ada banyak anak perempuan yang menitipkan surat cinta, cokelat atau sekedar salam kepada Albi melalui aku. Rasanya hatiku panas sekali dan tidak terima. Terkadang, aku tidak ingin memberikan surat itu kepada Albi dan ingin membuangnya ke tempat sampah terdekat. Tetapi aku tidak pernah melakukannya.

Aku selalu membawa surat, cokelat dan pesan itu kepada Albi tanpa ada satu yang terlewat. Cokelat yang ada tidak pernah dimakan Albi. Ia khawatir kalau cokelat itu telah dimanterai oleh si pengirim. Maka, akulah yang menjadi tong sampah cokelat itu. Aku selalu memakan habis semua cokelat dari fans Albi di depan Albi.

Sebagai kapten cheerleaders dan seorang flyer, aku sangat menjaga berat badanku. Sebenarnya aku tidak ingin makan cokelat-cokelat itu. Apalagi dalam sehari, setidaknya ada 5 cokelat yang dititipkan fans Albi untukku. Sebenarnya jika sedang tidak berada bersama dengan Albi, pada akhirnya cokelat itu tak tersentuh olehku.
“
Aku cuma  nggak mau punya hubungan dengan cewek – cewek yang ingin diperlakukan seperti princess. Semua itu hanya ada di dongeng. Lagipula cewek yang ingin diperlakukan seperti princess pasti bukan cewek yang tough. Aku khawatir cewek seperti mereka nggak bisa bertahan bersamaku di kala kesulitan.”

Aku tertegun mendengar alasan mengapa Albi tidak memilih satu dari sekian gadis yang mengejarnya. Alasan yang sulit. Alasan yang tidak mungkin bisa kutembus. Aku adalah bagian dari gadis-gadis yang ingin mendapatkan pesan selamat pagi dan selamat malam di ponselku. Mendapatkan bunga-bunga cantik yang jumlah tangkainya sesuai dengan usia hubungan kami di setiap bulannya. Dipayungi dengan jaket di kala kedinginan. Aku adalah cewek tipikal pada umumnya. Kriteria yang sungguh sangat dibenci oleh lelaki yang kusayangi. Tetapi demi terus berada di dekat Albi dan berharap suatu hari bisa menjalin hubungan dengannya, maka sejak itu aku berusaha menyembunyikan segalanya dari Albi.

Ada ketakutan yang bersarang saat mengetahui Amanda Kartika, si ratu karate sekolah kami berniat menyatakan cinta pada Albi. Aku tahu betul kalau Amanda bukan cewek tipikal, dia berbeda. Bagaimana jika Albi akan menerima Amanda sebagai kekasihnya. Dengan setengah kekhawatiran dan kesal pada Albi—karena dia tidak mengucapkan ulang tahun sampai jam istirahat berbunyi kepadaku—aku menyampaikan pesan dari Amanda.

“Tapi kalau kamu mau keliling Indonesia, nggak masalah buatku. Kemanapun perginya, asalkan sama kamu, its okay aja aku Bel.”

Aku tidak pernah lupa dengan kalimat yang diutarakan Albi saat itu. Aku berharap ada bintang jatuh yang lewat lalu akan kubuat permohonan untuk menghentikan waktu sampai di situ saja. Untuk membingkai kalimat sederhana yang melelehkan perasaanku. Bagiku, itu adalah kado terindah di ulang tahun ke-17 ku.

Sayangnya aku tidak pernah tahu bagaimana menunjukkan perasaanku pada Albi. Albi pasti tidak akan suka dengan segala hal yang berbau romantis, ala princess atau menye-menye. Dan aku semakin tidak tahu bagaimana membuat Albi tahu kalau aku menyukainya. Tapi, bagiamana dengan Albi sendiri ? aku tidak tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya kepadaku. Apakah Albi merasakan hal yang sama denganku?

Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi
Di sepanjang harimu
Tak mungkin bila
Engkau tak tau
Bila ku menyimpan rasa
Yang kupendam sejak lama

to be continued

Abel, Kisah Sewindu #3


cerita sebelumnya



Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi
Di sepanjang harimu

Waktu terus bergulir dan mengantarkan kami menginjakkan kaki pada dunia kampus. Aku dan Abel kembali kuliah di kampus yang sama, hanya jurusannya yang berbeda. Aku memilih Desain sementara Abel meneruskan di hubungan internasional. Semuanya masih berlangsung seperti tahun-tahun sebelumnya. Kebersamaan kami masih terjalin erat hingga pada tahun ke-3 kami  duduk di bangku kuliah, aku menyadari semua perlahan berubah.

“Abeeel…Abeeel,” panggilku dari beranda kamar pada Minggu malam.
“Kenapa Bi?,” tanya Abel yang keluar dari peraduannya dengan buku tebal di tangan.
“Main PS yuk,” ajakku sambil mengerlingkan mata.

“Sorry Bi, aku lagi baca buku tentang Khmer Merah. Lain kali aja atau kamu ajak orang lain aja,” jelas Abel ketus sambil berlalu menuju kamarnya. Menutup jendela kaca dan tirainya.

Itu adalah penolakan pertama Abel kepadaku. Sekaligus gerbang penolakan-penolakan selanjutnya. Sejak itu aku menyadari kalau semuanya tak lagi sama.

“Abeeeel…Abeeel,” teriakku pada Minggu pagi di depan rumahnya.
“Udah jadi mahasiswa masih aja teriak-teriak mirip anak kecil,” balas seorang lelaki yang tiba-tiba muncul dari garasi. Bang Andri, kakak lelaki Abel. Dia sebenarnya ramah kepada semua orang, terkecuali padaku.

“Udah kebiasaan bang. Abel belum bangun, Bang ?,“ tanyaku menyadari ada yang berbeda. Biasanya Abel telah siap dengan celana trainingnya untuk jogging pagi di sekitaran kompleks bersamaku.

 “Coba aja lihat ke kamarnya,” ujar Bang Andri singkat.

Aku mengikuti saran Bang Andri. Ini bukan pertama kali aku masuk ke kamar Abel. Setiap dia sakit, aku selalu mondar-mandir ke kamarnya untuk mengantarkan bubur, obat atau apapun yang Abel butuhkan. Kalau Abel belum bangun, mungkinkah ia sakit ?

“Bel, kok masih tidur ? Udah pagi nih. Ayo jogging,” bujukku sambl menggoyangkan badan Abel.
“Aku libur dulu deh hari ini, Bi. masih ngantuk. Semalam tidur jam 3,” jelas Abel dengan mata terpejam.
“Haah tidur jam 3 ? Abis darimana emangnya?”
“Nggak dari mana-mana kok. Cuma baru selesai telpon jam 3, Bi. Kamu jogging sendiri aja ya hari ini,” jelas Abel dengan suara yang berat dan mata terpejam.

Sejak saat itu aku seakan tak lagi mengenali Abel atau memang aku belum mengenal Abel yang sesungguhnya. Hingga beberapa bulan kemudian, semua menjadi terang perlahan. Saat Abel mengenalkanku pada segalanya.

“Albiaaan,” panggil sebuah suara yang sudah sangat akrab di telingaku.

Tanganku yang tadinya sedang membuka pagar rumah terhenti dan mengarahkan pandangan pada sumber suara. Mataku tertuju pada Ford XLT hitam yang kini terparkir di depan rumahku. Sumber suara berasal dari seorang gadis yang ada di dalam mobil. Abel.

“Darimana Bi ?,” tanya Abel begitu keluar dari mobil. Seorang pria juga keluar dari kursi pengendara kemudian pergi ke belakang mobil.

“Siapa, Bel?,” tanyaku sambil menunjuk pria itu dengan dagu.
“Itu Radit, Bi. kita habis sepedaan santai di Senayan”
“Sejak kapan?, tanyaku kosong”

Abel menatapku dengan raut wajah bertanya. Sementara mataku mengikuti setiap langkah pria metroseksual yang kini hadir diantara kami dengan sepeda di tangan.

“Makasih ya, Dit. Ohiya, kenalkan ini Albi. Albi, ini Radit.”

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta dan masa depan

Kami berjabat tangan keras, sekeras perasaan kami kepada Abel. Lewat mataya, aku tahu kalau Radit menaruh perasaan kepada Abel. Belakangan aku baru tahu kalau Radit adalah asisten dosen pada salah satu mata kuliah yang diambil Abel. Jelas saja pemampilannya necis. Radit sering datang membawa seikat mawar dan mengajak Abel kencan di Sabtu malam. Radit selalu mengenakan kemeja yang lengannya digulung setengah. Radit telah menggagalkan ritual menghitung bintang antara aku dan Abel. Radit jugalah yang kini menjadi orang pertama yang melihat senyum hangat Abel di setiap paginya.

Aku sendiri tidak menegetahui hubungan jenis apa yang terjalin antara keduanya. Abel tidak pernah menceritakan apapun. Lebih tepatnya intensitas pertemuan kami semakin berkurang.

Dan kau lupakan aku semua usahaku semua pagi kita semua malam kita

 Sampai kabar mengejutkan itu datang melalui ibu tiriku, bukan dari Abel. Tentu saja aku merasa kecewa dan ingin sekali meneriaki Abel. Syukurlah malam itu aku menemukannya di beranda kamarnya. Abel sedang memeluk secangkir the.

“Punya kabar gembira kok disimpan sendiri sih? Lupa kalau punya tetangga ya?,” bukaku  sambil merapatkan diri ke beranda kamarku.

Abel melempar pandangan dan senyumnya ke arahku. Dia bergeser dan mendekat ke ujung beranda kamarnya. “Kamu sudah dengar?”

“Kamu sudah yakin dengan keputusanmu? Lagipula kamu masih kuliah. Kenapa nggak tunggu sampai lulus dulu?,” tanyaku berusaha menahannya. Jika ia mengerti.

“Aku tinggal skripsi aja kok, Bi. Bulan depan datang ya,” ujar Abel sambil berniat berlalu.

“Kenapa nggak tunangan dulu ? Kenapa langsung menikah, Bel? Kenapa bulan depan?,” tanyaku bertubi tubi menghentikan langkahnya. Abel menoleh sambil tersenyum.

“Aku dan Radit sudah memikirkan ini semua sejak lama, Bi. kami juga minta saran dari keluarga kok”

“Bel, kamu masih ingat dengan mimpi kita saat ulang tahun kamu ke-17 kan?,” tanyaku untuk kembali menghentikan langkah Abel ke sekian kalinya.

“Ayo kita keliling Indonesia sebelum kamu married, Bel. Aku yakin kita hanya butuh waktu 1 atau 2 minggu,” pintaku bodoh.

Abel tertawa kecil lalu menggeleng. “Aku harus mempersiapkan pernikahanku sama Radit, Bi. Maaf, tapi aku nggak bisa mewujudkan mimpi kita itu”

Abel kembali melangkahkan kakinya menuju kamar tapi secepat mungkin aku menghentikannya.

“Abeel,” teriakku. Abel berhenti dan menengok.
“Ada yang bisa aku bantu untuk mempersiapkan pernikahanmu? Mungkin aku bisa menemanimu mencari gaun pengantin, catering, mencetak undangan atau mengirimkan undangan ke teman-teman kita. Selama ini kita satu sekolah. Aku yakin kalau aku lebih hafal nama-nama teman kita dibandingkan kamu. Bagaimana?”

tak akan lagi
kumenunggumu di depan pintu
dan.. Tak ada lagi tutur manis merayumu



to be continued
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis