Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

December 17, 2016

Curhatan 2016


Ini sungguh perjalanan yang mengantarkan saya pada sebuah ‘kehidupan’

Kalimat di atas bagian dari #throwback2015 saya, dan di 2016 ini saya telah benar-benar memasuki kehidupan. The real life. Kehidupan sesungguhnya saat kamu tak lagi mengenakan seragam (sekolah) ataupun status (mahasiswa/kuliah). Ya, 2016 ini saya sungguh menerjemahkan kalau apa yang saya jalani adalah sungguh menjadi manusia dan memulainya.

After #throwback2015 via buku harian, saya menemukan banyak luapan emosi yang lebih serius di awal tahun daripada perasaan menye-menye yang hobi saya curhatin zaman SMA atau kuliah. Mostly tentang kerjaan. Bertemu dengan teman baru dari dunia kerja juga menghadirkan kisah baru bagi saya, ajaibnya saya menemukan kecocokan dan seakan telah mengenal sejak lama pada salah satunya. Bahasa sederhananya adalah klik.

Soal keputusan dan pembelajaran adalah hal besar yang terjadi dalam hidup saya di 2016 ini. Tentang bagaimana kita menggantungkan kepercayaan kepada diri sendiri atas keputusan yang kita ambil, bukan pada keputusan orang lain agar dapat menyalahkan pada nantinya. Dan apapun keputusan yang telah kamu putuskan, tak pernah membuatnya baik untuk menghadirkan kata “kalau saja saya…”

2016 dan Perubahan
Perubahan itu sudah pasti ada, bahkan rasanya terasa besar di tahun ini. Hal ini dikarenakan sudah menasbihkan diri sepenuhnya jadi karyawan full time, maka jadwal bangun tidur hingga pergi tidur di kala weekday seakan menjadi ritme. Imbasnya ke weekend yang sangat berharga digunakan untuk berisitirahat atau bertemu dengan orang yang menjadi prioritas saya. Imbasnya terlihat dengan postingan blog yang sangat menurun drastis. Mostly postingan tahun ini tentang review, baik film, lagu, buku atau juga tempat makan oke.

Perubahan dalam diri saya yang paling saya rasakan adalah kemuakan dengan media. Katakanlah apatis dengan politik dibanding dengan seorang saya di 2-3 tahun lalu dihitung mundur. Dan mulai jenuhnya dengan sosial media. Ya, saya sendiri tidak percaya akan sampai di titik ini. Titik jenuh dengan sosial media yang dihadapi oleh seorang social media freak hahaa. That’s a life, reader. Kamu benar-benar menemukannya ketika telah meningalkan bangku bernama pendidikan dan melebur sesungguhnya bersama masyarakat. Rasanya merindukan teman-temanmu dan kehidupan di dalamnya pada hari-hari yang melelahkan dan sepi.

2016 dan Kehidupan
Makna kehidupan dan semangat itu saya temukan justru dari orang-orang di sekitar, khususnya teman dekat atau saudara. Saat bersilaturahim dan mendengarkan ceritanya, saya selalu merasa bersyukur dengan hidup yang Tuhan hadiahkan saya di saat ini. Tidak jarang juga merasa malu atas apa yang saya sikapi dengan hidup ini. Banyak hal yang diajarkan oleh orang yang saya temui tentang kehidupan, tanpa sepengetahuan mereka. Dan berkali lipat syukur adalah berkah yang Tuhan berikan dalam bentuk orang tua saya saat ini.


Aah 2016 ini ternyata akan benar-benar berakhir. Rasanya begitu cepat, mungkin karena tidak banyak menorehkan banyak postingan di rumah kedua ini. Yang pasti, kehidupan itu akan memasuki rimbanya di 2017 nanti. Entah kenapa saya meyakini hal itu.

Bye, 2016 !


December 26, 2015

2015 : Me and Myself




Halo !
Its long time no told something to be posted in my second home. Dan ternyata, 2015 sudah menghitung hari untuk bergegas meninggalkan kita. Like as ritual, beberapa waktu lalu, saya membaca ulang buku harian saya untuk flashback kembali tentang 2015 ini.

For me, 2015 is about me and my self. Ya, perjalanan 365 hari saya bersama diri saya sendiri untuk menaklukan kerikil dan segala energi negatif dari diri saya sendiri. Semuanya tentang persoalan melawan energi negatif dan berdamai dengan diri saya sendiri.

Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi saya, karena lebih dari separuhnya membuat pikiran saya tecurah untuk sebuah kata LULUS. Menuntaskan tanggung jawab saya. Mencapai finish line untuk sebuah pendidikan panjang yang diinvestasikan oleh kedua orang tua saya. That’s why, it feels so hard. Feels like there were tons of burdend in my shoulder. But I know, that’s not as big enough with my parents’ effort for me.

Perjuangan mengerjakan skripsi itu diwarnai dengan ambisi saya yang lain, yaitu menjajal dunia kerja yang linier dengan disiplin ilmu saya. Magang di Kantor Akuntan Pubik, menjadi resolusi dan ambisi yang menggebu dalam diri saya di awal 2015. Dan akhirnya terwujud pada bulan Maret.

Tetapi, nyatanya semua tidak berjalan mulus seperti yang saya harapkan dan rencanakan dari awal. Saya gagal meraih tiket wisuda di bulan Agustus. Saya tidak ingin memberikan alasan, tapi mungkin pembelaan atau pengakauan dosa, kalau saya terlalu berambisi dan gagal mewujudkannya. Tidak mampu memanajerial waktu yang saya miliki dengan tanggung jawab baru yang saya pilih.

Maka, Juli hingga Agustus adalah masa yang berat bagi saya. Karena pada saat itulah, saya mencoba berdiri perlahan dan mulai berlari. Mengumpulkan kepingan semangat dari memoir diri saya di masa lalu, yang rasanya lebih baik dari keterpurukan yang terjadi.

Saya mencoba bangkit, menebalkan semangat dengan selalu berkeyakinan selalu ada satu hal yang pasti, yaitu Dia. Ya, Dia akan selalu bersama saya, hambaNya yang selalu percaya bahwa akan ada kado terindah dariNya. Saya terus mencoba berdamai pada diri saya dan sesekali mengingatkan, bahwa roda acapkali berputar. Ada kalanya kamu jatuh ataupun tersungkur, tapi kamu harus bangun. Karena sesungguhnya kamu yang paling tahu siapa dirimu sesungguhnya, sehingga kamu harus bangkit.
Setelah tiket wisuda itu berhasil saya raih, saya menyadari sebentar lagi pintu menuju hutan harus saya lalui. Tak ada jalan lain. Ini sungguh perjalanan yang mengantarkan saya pada sebuah ‘kehidupan’. Tetapi, hal ini membuat saya semakin ingin dekat denganNya. Semakin mempercayai, Dia selalu berada bersama saya. Bersama kita, umatNya yang terus mempercayai bahwa Dia akan selalu memberikan yang terbaik, asal kita ikhlas dan berserah serta selalu bersyukur.

Hal itu benar-benar terjadi, saat saya merelakan untuk melepaskan kesempatan menjadi volunteer dalam event  Social Media Week pada Februari 2015 lalu, maka Dia memberikan kesempatan lain bagi saya. Yaitu, intern di Mirum Jakarta. Serta hal lain yang tak bisa saya ungkapkan di sini. Saya menjadi percaya bahwa keikhlasan dan ketulusan melepaskan sesuatu akan mengantarkanmu pada suatu hal yang baru, yang bisa jadi lebih baik dari apa yang kamu lepaskan. Kuncinya satu, jangan ragu akan rencana dan kehendakNya.

Tahun ini juga menjadikan saya pribadi yang bisa berbahagia dengan diri saya sendiri. Dengan perasaan syukur yang selalu saya selipkan setiap harinya melalui #JurnalSyukur. Tanpa terasa program #Jurnal Syukur yang saya mulai pada 4 Januari 2015 lalu, kini sudah hampir mencapai penghujung. Rasanya seperti baru kemarin, saya mulai menulisnya. #JurnalSyukur memberikan energi positif bagi saya untuk terus berpikiran positif.

2015 ini sungguh perjalanan bagi saya untuk bisa berdamai dengan diri sendiri, jika ada kalanya seorang yang selalu menjadi yang pertama dan terbaik dapat terjatuh dan tersungkur. Perjalanan yang mengendurkan ambisi saya dan menengok lebih dalam, mana yang memang terbaik untuk saya. Bukan untuk sebuah pengakuan di mata orang lain.

Terima kasih Tuhan, untuk 2015 ini. It makes me closer enough with myself. Semoga saya dan kita semua dapat terus memperbaiki diri di usia yang terus menggerogoti ini.       

Selamat jalan, 2015
Cheers


July 30, 2015

Di Balik 'Masak-Masakan'


Ada 3 hal yang pernah saya khawatirkan apakah saya mampu melakukannya, yaitu naik motor, menelan obat dalam bentuk tablet atau kapsul dan yang terakhir adalah memasak. Honestly, saya nggak pernah punya inisiatif untuk masak yang datangnya dari diri saya sendiri.

Mungkin pernah sekali, saat itu ketika main ke rumah @parwatiradini, Saya disuguhkan donat yang dibentuk ala yakitori gitu. Dan Radini bilang itu buatannya. Radini ini memang jago masak.

Pulang dari rumahnya, saya excited pengen bikin donat. Setelah bahan-bahan siap, mulailah membuat donat dengan cara googling plus dibantu nyokap hampir 70%. Jadi kesannya nyokap yang masak, karena doi yang kebanyakan ambil alih. Yaah maklum, namanya juga pertama kali mau terjun ke dapur dengan inisiatif dan excited tingkat dewa, jadi mungkin nyokap khawatir kalau dapurnya kenapa napa atau saya nya yang kenapa-napa. Alhasil, donatnya nggak berhasil alias totally failed. Feel saya juga jadi kurang greget untuk masak.

Kejadian itu sekitar 1 atau 2 tahun lalu (lupa tepatnya). Pokoknya, sejak itu, saya kembali menjadi Fitria yang emang Wardani, yaitu nggak bisa masak. Nggak mau masak dan nggak ada niatan untuk bisa masak. Dan menambahkan criteria list of my future husband harus bisa masak. Hahha (*devil laugh*).

Tetapi setelah first lesson of cooking class macaroni cheese beberapa waktu lalu berhasil membuat saya excited untuk membuat macaroni cheese selanjutnya. Tapi, adik perempuan saya pernah berkelakar yang selalu membuat saya tertawa jika mengingatnya. Dia bilang, “Mbak udah bisa bikin macaroni keju. Tapi jangan setiap hari selama seminggu keluarga ini dimasakin macaroni keju. Nanti bisa muntah.”

Well, dan kelakar adik saya itulah yang membuat saya menjadi makin excited untuk ingin mencoba masak yang berbahan dasar gampang-gampang aja dulu. Seenggaknya niatan itu sudah ada dalam diri saya, hihiii. Semoga api excitednya dapat terus menyala. Kalau ditanya kenapa excited untuk masaknya baru saat saat ini, mungkin karena jenuh dan males banget buat ngerjain ya you knowlah –sesuatu yang tidak boleh disebutkan karena dapat membuat galau berkepanjangan dan mules tak berkesudahan serta sedih tak berujung.

Baiklah next postingan kalau sudah ada menu baru yang dapat saya buat, akan saya bagi di sini. Terima kasih sudah membaca.






Ps : kalau ada yang nanya, criteria list of my future husband nya berubah dong ? Jawabannya adalah nggak, tetapi dengan tanda bintang. Jadi, harus tetap bisa masak. Kalau nggak bisa masak, yaa boleh aja asal lidahnya mau menerima hasil karya masakan dari cewek yang pernah nggak punya niat untuk bisa masak.

July 25, 2015

Surat untuk Ramadhan



Ramadhan, terima kasih telah datang kembali
Membiarkanku mengabdi dan memaknai
Ramadhan, terima kasih telah datang kembali
Menyiram cahaya dan keindahanmu padaku serta orang tersayang
Ramadhan yang kusayang, mengapa rasanya hanya sebentar kau datang
Benarkah kau harus bergegas pergi meninggalkan kami esok hari?
Ramadhan, aku akan menunggumu kembali dan memeperbaiki Ramadhanku kali ini
Ramadhan, terima kasih dan kutunggu kau kembali



16 Juli 2015

July 10, 2015

Lebaran

Lebaran ?

Dari mana asal katanya ? Pertanyaan itu bersarang di kepala saya sejak beberapa tahun lalu. Mengapa hari raya umat muslim yang bernama Idul Fitri ini memiliki sinonim lebaran di Indonesia. Rasanya aneh. Apa karena banyak kue dan makanan manis lainnya yang menjadi penyebab tubuh orang melebar di hari itu ? atau karena orang-orang mendapat THR seolah pintu rezekinya melebar ?

Tapi, yang pasti silaturahim adalah ritual yang tak terpisahkan dari sebuah lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Hari pertemuan keluarga besar yang kemudian menjadi sosok hari yang menakutkan dan penguatan mental baja atas beberapa pertanyaan. Ya, maybe hal ini hanya dirasakan oleh golongan –golongan tertentu saja. Misalnya mereka yang udah cukup umur untuk menikah atau sekedar punya pasangan, mereka yang belom dikaruniai momongan, mereka yang belum mendapatkan sekolah idaman dan mereka yang sedang mengejar gerbang kelulusan. Yang pasti hari itu adalah hari paling membahagiakan bagi anak kecil yang merindukan ‘salam tempel’. Dan saya berani bertaruh kalau kamu yang sedang membaca postingan ini pernah menjadi anak yang berbahagia itu. aamiin

Lalu, sudah siapkah kita dengan berbagai pertanyaan yang menyerang dari orang-orang terdekat atau orang jauh yang katanya keluarga tapi ketemunya hanya saat hari raya ?

“Mana pasangannya ?”, “Kapan nikah?” “Kapan punya anak ?”, “Sekolah dimana sekarang?”, “Kapan Lulus?” “Udah lulus belom ?” “Kerja dimana sekarang?” “Berapa IPnya kemarin?”

Ada lagi, pertanyaan menyebalkan yang mungkin kamu temui di hari raya ? Dari orang yang mungkin hanya kamu temui sesekali waktu. Atau dari orang yang memang benar peduli denganmu tapi hanya hobi bertanya tanpa memberi solusi. Silahkan tuliskan di comment

Akibat pertanyaan-pertanyaan itu, hari raya justru jadi hari yang di-malesin sama beberapa orang. Ya, meski kadar males dan sebelnya gak tinggi-tinggi amat tetap saja ada unsur tidak bersih di hari yang bersih itu. Tidak bisa dipungkiri, manusia akan selalu mendapatkan pertanyaan semasa hidupnya, bahkan ada media social yang kegunaannya untuk saling betanya (ask.fm). Terbukti, nggak semua orang risih jugakan dengan pertanyaan. Ada yang dengan senang hati bersedia untuk ditanya dengan memiliki akun ask.fm.

By the way, ini kok jadi salah fokus ngomongin ask fm. Maaf ya, writernya lagi hobi main ask.fm hehe (feel free to ask on here ). Jadi begini, saya juga masuk dalam golongan orang yang harus menguatkan mental baja bertemu keluarga. Bukan soal pertanyaan jodoh udah nyampe mana, tapi…ya you knowlah –sesuatu yang tidak boleh disebutkan karena dapat membuat galau berkepanjangan dan mules tak berkesudahan serta sedih tak berujung-. Ada beberapa cara yang pernah saya baca untuk menghadapi hal itu.

Salah satu yang paling berkesan bagi saya adalah ‘dibawa santai’. Iya dibawa santai dengan obrolan. Misalkan kalau tante kamu nanya “Kapan nih bawa calonnya? Udah ada belom”, kamu jawab aja “Ah tante nih, pura-pura lupa aja. Kan udah pernah aku kasih tahu waktu itu. lupa ya tante”. Jawab sambil ketawa kemudian ngeluyur ngambil es buah.

           Sudahlah, jangan menghindar dari berbagai pertanyaan yang muncul itu. karne hidup memang nggak pernah lepas dari pertanyaan. Bahkan sampai di dalam kubur nanti juga ditanya, bukan?

            “Siapa Tuhanmu?”

PS : completely tips, check in here



June 14, 2015

Potret Dalam Kereta (part 2)




Sudah hampir 5 tahun berlalu dari postingan Potret Dalam Kereta. Kalau kamu anker (anak kereta), ada baiknya baca postingan itu sambil menerawang pada keadaan perkereta apian di Indonesia. Ya, saya mungkin hanya pengguna kereta Jabodetabek yang sekarang lebih akrab disapa commuter line untuk waktu-waktu tertentu. Tetapi, menggunakan transportasi umum dan bertemu serta bertahan bersama stranger untuk kemudian terpisah karena telah sampai pada tujuannya masing-masing, membuat saya  seperti menemukan banyak kehidupan lain di luar sana. Yang kemudian pada akhirnya mengajak saya untuk bersyukur.

Merujuk kembali pada postingan 5 tahun silam tentang kereta api, maka kereta api di Indonesia, khususnya Jabodetabek sungguh telah berubah untuk 2 tahun terakhir ini. Bukankah kamu setuju, readers? Bagaimana saat ini kita tidak lagi menemukan pedagang yang turut berdesak-desakan menjajakan barang dagangannya di kereta. Yang ada hanyalah berbagai penumpang yang berdesak-desakan untuk sampai pada stasiun tujuan. Bagaimana kita tidak lagi melihat petugas yang merokok sebelum kereta berangkat. Yang ada hanyalah petugas yang dengan cepat membersihkan gerbong sebelum kereta berangkat.

Bagi saya, perlahan Indonesia menuju perubahan yang semakin baik. Kadang kita tidak pernah menyadarinya kalau kita tidak sesekali melihat ke belakang. Mengapa ? karena tidak jarang, kita sering mengisi hari-hari yang kita lewati dengan keluhan. Well, sebenarnya postingan kali ini pointnya bukan itu. saya masih akan share tentang potret kehidupan yang sempat saya temui dalam commuter line.

Hari itu…Sabtu, 28 Maret untuk pertama kalinya saya dan ibu pergi naik commuter line bersama. Sebut saja agenda favorit wanita = Shopping. Tetapi, kejadian ini terjadi saat pulang. Allhamdulillah kami mendapatkan tempat duduk sedari Stasiun Tanah Abang dan akan turin di Stasiun Sudimara. Saat kereta sampai di Stasiun Kebayoran, ada sepasang nenek-kakek yang naik dengan membawa koper yang cukup besar.

Saya ingin memberikan tempat duduk saya kepada nenek-nenek itu, tetapi semua itu hanya ada dalam pikiran. Kadang, terasa sulit untuk bertindak. Sampai pada akhirnya, nyokap berbisik dan meminta saya untuk berdiri dan memberikan tempat duduk itu kepada si nenek. Sayapun mengikuti perintah nyokap. Tetapi, ketika saya mempersilahkan si nenek untuk duduk, dia tidak langsung duduk. Ada percakapan di antara sepasang sejoli itu. begini kira-kira.

Nenek : Kakek, sini duduk
Kakek : Kamu aja yang duduk
Nenek : Kamu aja
Kakek : Udah kamu aja gpp

Begitulah percakapan berulang-ulang sekitar 30 detik. Hingga akhirnya saya memilih untuk menduduki kursi saya kembali. Ahhahaha becanda deh. Pada akhirnya si nenek yang duduk. Sementara saya berdiri dan berbincang kecil dengan kakek.

Cukup lucu sih adegan kakek nenek yang justru saling mempersilahkan satu sama lain untuk duduk. Ya, rasanya lebih so sweet dibandingkan sepasang kekasih LDR-an yang rebutan buat nyuruh nutup telpon duluan. Ah sudahlahh.

Cerita kedua saya alami di gerbong kereta dalam perjalanan pulang menggunakan commuter line tujuan Bogor-Tanah Abang. Ada seorang bocah yang tingkahnya sungguh sangat tidak karuan. Usianya sekitar 3 tahun, kalau mata saya tidak salah menerka dari look nya. Anak laki-laki itu bersama ibunya duduk di hadapan saya dan paling pinggir. Si anak terus saja bergelantungan tidak karuan. Membuat ibunya mau tak mau harus bersusah payah mengimbangi si anak.

Saya haya tersenyum kecil dan sesekali mengernyitkan dahi. Melihat kejadian itu, yang ada kepala saya adalah bagaimana anak itu tumbuh dewasa. Ralat..mungkin lebih tepatnya, bagaimana banyak anak yang tumbuh dengan tidak dewasa ketika mereka sudah besar dengan bertingkah nakal dan bandel. Nggak kebayang aja, kalau pas kecil mereka sudah sangat membuat ibunya susah kepalang dengan tingkahnya lalu saat dewasa masih belum juga menyudahinya.

Bukan maksud apa-apa sih, tapi saya sempat mengambil gambar anak itu. Sesungguhnya anak itu lucu. Tapi, rasanya kamu akan lebih lucu kalau duduk manis, nak. Suapaya semua orang yang di kereta mampu melihat wajahmu yang lucu, nak.

Tingkah Laku si Anak (1)
Tingkah Laku si Anak (2)
Cerita ketiga, masih seputar anak kecil laki-laki. Tapi usianya bukan balita. Mungkin antara 7-8 tahun. Kejadiannya terjadi masih pada hari yang sama tetapi di kereta Tanah Abang-Serpong. Anak itu loncat loncat sambil menggebrak-gebrak jendela pintu saat kereta itu berjalan. Setidaknya itu yang paling saya ingat. Melihat kejadian itu, saya seakan berulang kali menahan nafas. Khawatir jika suatu waktu pintu itu terbuka dan si anak jatuh. Bergidik sendiri bukan kalau membayangkannya?

Kemudian pandangan saya lemparkan kepada ibunya yang tidak menegur si anak. Saya dalam hati mempertanyakan, “Mengapa tidak memperingatkan anaknya yang tidak bisa diam itu? Apakah dia tidah tahu kalau itu menggganggu ketenangan orang yang mungkin saja ingin beristirahat dalam perjalanan?” fiuuh sudahlah.  Saya lebih memilih menutup mata, mencoba tidur seperti apa yang dilakukan teman di sebalah saya.

Kami turun di Stasiun Sudimara dan menunggu teman saya, Marisa yang antre menukarkan kartunya. Sambil menunggu, saya memperhatikan orang-orang yang menyemut keluar dari stasiun untuk segera naik angkot. Seperti yang sering saya lakukan, sebelum aktif menggunakan motor. Hingga kemudian, sepasang mata saya menemukan seorang bocah aktraktif di dalam kereta tadi. Dia berjalan paling depan, diikuti seorang ibu yang mengalungkan pengeras suara di dadanya dan tangan tertumpu di bahu si anak. Di bahu sang ibu, tertumpu lagi sepasang tangan milik lelaki yang berjalan di belakangnya.

Seketika jawaban saya terjawab sudah, mengapa si ibu tidak memperingatkan anaknya di kereta tadi. Mata saya masih belum lepas dari mereka yang saling beriringan berjalan menuju jalan raya untuk menyebrang, dikepalai si anak kecil itu tadi. Seketika saya merasa sangat bersyukur karena Tuhan masih menganugerahi alat indra yang fungsional kepada kedua orang tua saya.

Hari itu, setelah seharian wisata kuliner bersama kedua sahabat saya, ada rasa syukur lai yang saya bawa pulang.

Terima kasih telah membaca


May 13, 2015

Sebagian


Azan subuh bersiap memanggil dengan gesekan suara di ujung pengeras suara
Sebagian orang mengerjapkan matanya untuk bangun dan bergegas
Sebagian lagi baru saja dapat memejamkan matanya setelah bergumul dengan kegelisahan
Ibu memindahkan nasi goreng dnegan sap mengepul dari penggorengan ke piring
Sebagian orang bosan dan kenyang dengan menu sarapan nasi goreng
Sebagiannya lagi merindukan nasi goreng buatan tangan sang Ibunda di kala mereka dalam perantauan
Kadang manusia bertindak bodoh tanpa makna dengan meneteskan air mineral gelas melalui sedotan plastik
Sementara sebagian orang lain harus berjalan puluhan kilometer demi setetes air bersih
Sebagian orang hampir mati beku karena kedinginan di dalam ruangannya
Sebagian lagi terpanggang matahari sepanjang hari
Sebagian orang lelah berdiri
Sementara sebagian lagi justru bosan duduk terus menerus
Hidup ini terkadang bukan soal keadilan tapi menyeimbangkan untuk melengkapi
Untuk menyadari kemudian mensyukuri




April 11, 2015

Fall


Kamu pernah merasa tersandung ? menyentuh sesuatu dengan tidak sengaja. Memasuki jalur yang tidak biasa, yang ternyata mengacaukan targetmu atau menghalangi kamu mencapai tujuanmu ?

Tapi apa benar kamu tersandung ? atau mungkin saja itu hanya sebuah ujian yang sedang diberikan Tuhan untukmu. Pernahkah kamu berpikir demikian ?

Setiap manusia itu memang diciptakan untuk kemudian kembali kepadaNya, tetapi di dalamnya ada proses menyiapkan bekal untuk menghadapNya. Setiap manusia itu memang tidak sera merta berada dalam langkah yang sama. Mereka melewati semua tahap secara fisik dan mental. Usia dan waktu yang mengantarkan mereka menuju perubahan secara fisik dan mental itu.

Perubahan secara fisik itu dapat dilihat oleh orang lain dan bahkan diabadikan melalui foto foto kenangan yang sudah membingkai setiap proses kita. Mulai dari orok, bayi, balita, anak-anak, remaja hingga dewasa. Semua orang secara kasat mata dapat melihat perubahan yang kita alami secara fisik. Tetapi, jika soal mental. Benarkah orang lain turut mengetahui perubahan mental kita ?

Jawabannya bisa jadi iya untuk segelintir orang, tetapi saya rasa hanya diri kita sendirilah yang paling tahu soal perubahan mental yang terjadi pada kita. Manusia akan mengalami proses, mengalami perubahan. Dan salah satunya adalah mental. Ini bukan soal mudah, saya rasa.

Mental adalah perasaan. Berbagai tekanan yang menghimpit seiring usia dan waktu yang terus menggelinding. Mental adalah perasaan yang harus kamu siapkan dalam menghadapi setiap masalah pada fase baru yang kamu lewati. Jika berhasil, nanti kamu akan menginjakkan pada fase yang lebih baru lagi. Akan seperti itu higga kamu sampai pada tujuanmu.

Lalu pernahkah kamu tersandung atau jatuh dalam mencapai tujuanmu itu ?

Sudahkah kamu bangun 2 kali saat terjatuh sekali? Tetapi berapa kali kamu mencoba untuk bangun hingga benar-benar berhasil berdiri kembali dan berlari ?

Bisa beritahu saya bagaimana caranya ?


March 13, 2015

Semua Orang Harus Move On


Ketahuilah kalau postingan ini bukanlah suatu hal yang menye-menye supaya kamu yang baru saja putus cinta nggak kemudian marah karena isi postingan ini tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan atau pikirkan.

Setiap orang memiliki zona nyaman mereka tersendiri. Entah dengan lebih memilih terus bergerumul dengan teman-temannya, menciptakan dunianya sendiri, bermain game online tanpa henti di usianya yang sudah tidak wajar atau zona nyaman lainnya. Banyak orang yang terlena di area kenyamanan mereka. Padahal, zona nyaman lebih sering menenggelamkan mereka ke dasar. Bukan mengajak mereka ke puncak. That’s why, we have to move on. Ya, move on dari zona nyaman.

Move on nggak hanya soal patah hati, sedih dan gundah gulana. Terkadang kita nggak menyadari, kalau kita juga seharusnya move on dari yang namanya bahagia. Ya, bahagia yang berlebihan akan melenakan dan membuat kita lupa.

Perasaan bahagia yang berlebihan, seperti mendapatkan posisi strategis dalam pekerjaan, atau nilai yang sudah sangat aman pada saat ujian bisa menjadi contohnya. Terkadang, kita terlena pada posisi itu. Pada posisi bahagia dan menyombongkannya, serta bersifat tenang kemudian lupa. Padahal, semua hal di dunia ini hanya bersifat sementara, salah satunya rasa bahagia.

Bahagia yang kita rasakan hari ini akan kadaluarsa pada keesokannya. Jadi, masih merasa bahagia atas suatu hal yang telah berlangsung selama seminggu lalu, tanpa ada move on ke kegiatan yang mengantarkanmu ke kebahagiaan selanjutnya bagi saya adalah sebuah kesalahan.

Kita terlalu fokus memaknai move on dari kesedihan dan keputusasaan, tetapi kita lupa kalau kita juga harus move on dari perasaan bahagia yang berlebihan. Dan itu yang sangat berbahaya. Semua yang ada di dunia ini sifatnya sementara. Begitu juga dengan kebahagiaan. Apa yang membuat kita bahagia hari ini tidak akan membahagiakan di kemudian hari kalau kita hanya terus merasa nyaman dengan kebahagiaan saat ini, tanpa move on ke cara lain untuk menggapai kebahagiaan lainya.

Memang tidak mudah melalui. Bahkan rasanya lebih sulit dibandingkan dengan move on dari keputusasaan. Sayapun sedang berusaha…untuk move on dari perasaan bahagia yang berlebihan.

Selamat berusaha


Terima kasih telah membaca

14 Maret 2015
1.44 AM


March 12, 2015

#JurnalSyukur (Day 12)




Merasa setuju dengan pernyataan di atas? Atau sekedar merasakannya? Ya, saya pernah merasakannya. Mungkin sebagian orang di luar sana juga bisa mengangguk setuju. Entah dengan cara menyadarinya sendiri sambil tersenyum atau melalui cuplikan sinetron dimana si kaya dan miskin yang tertukar.

Contoh simple lain adalah menjadi anak laki laki yang mendapatkan perlindungan berlebihan (overprotektif) dari orang tua. Belum ada di rumah saat matahari perlahan tergelincir tenggelam, maka puluhan panggilan telpon dari ibunya akan singgah di ponselnya. Merasa risih, kesal dan terganggu. Lalu mengeluh.

Sementara ada anak lelaki di luar sana yang sengaja pulang malam. Tidur-tiduran di kosan temannya sambil menunggu panggilan telopn dari sang ibu yang memintanya untuk pulang. Atau sekedar menanyakan keeradaannya. Kehidupan yang kalian pikir tertukar dan kalian harapkan satu sama lain.

Tapi benarkah semua itu?

Benarkah, apa yang kita keluhkan adalah apa yang diinginkan orang lain? Benarkah kita tidak membutuhkan kehidupan yang kita keluhkan ini? Atau hanya kehilangan yang nantinya akan menyadarkan apakah kita akan merindukan dan membutuhkan kehidupan yang kita keluhkan saat ini?

Jawabannya sederhana : Rasa syukur. Kita belum mensyukuri apa yang kita keluhkan. Kita hanya mengeluh, bukan bersyukur. Sepanjang kita terus berkeluh, maka kita akan terus menginginkan kehidupan orang lain. Itu yang saya sadari pada akhirnya.

Bagaimana saya pernah berpikir ingin hidup di tengah gadget terbaru dan menginginkan hidup orang lain di luar sana yang rasanya lebih beruntung dari saya. Tetapi, apakah semuanya sudah benar? Mengapa tidak kita syukuri kehidupan yang telah disuguhkan Tuhan kepadamu, mulai dari kamu membuka mata.

Hal itulah yang kemudian mendasari saya untuk menjalankan sebuah resolusi yang saya namai #JurnalSyukur. Terinspirasi dari cerita Dian Sastro yang menuliskan 10 hal yang kamu syukuri setelah bangun tidur dan sebelum pergi tidur serta seorang wanita yang menuliskan jurnal syukur di tabnya dalam perjalanan pulang kantor di commuter line. Sayapun membuat #JurnalSyukur versi saya yang berisi 10 hal yang saya syukuri dalam 1 hari.

Kegiatan ini sudah memasuki bulan ketiga dan jujur saja rasanya semua begitu dimudahkan. Saya merasa menemukan kemudahan di setiap langkah saya. Di setiap pengambilan keputusan dan proses mengikhlaskan, Tuhan seakan menggelarkan permadani yang membawa saya ke jalan lain yang baru saat saya berani melepaskan dan memilih.

Saat saya mensyukuri setiap kesempatan dan jalan yang disuguhkan Tuhan, maka saya percaya Dia memiliki rencana tersendiri yang baik bagi saya. Tugas saya adalah terus mensyukurinya, menjalankan sebaik mungkin dan berpikiran positif akan setiap rencanaNya. Sekuat itu rasa syukur yang kamu ciptakan dalam dirimu akan memepengaruhi pikiranmu.

Ingatlah, hal besar tidak akan menjadi besar jika bukan karena sekumpulan hal kecil yang menjadi satu. Jadi, mulailah bersyukur dari hal hal kecil. Mulai dari setiap pagi kamu mampu membuka mata dan tetap bisa melihat dunia. Bayangkan, jika pada suatu hari kamu membuka mata, tapi yang terlihat adalah gelap.

Bersyukur saat kamu mampu menyapukan jemarimu ke layar ponsel untuk mengecek notification. Bayangkan jika suatu hari tanganmu merasa kram dan tak mampu digerakkan. Bersyukur saat kamu terbangun di atas kasur yang empuk dan selimut hangat, sementara ada banyak orang yang harus tidur dalam dinginnya lantai toko dan bisingnya jalan.

10 hal yang kita syukuri dalam sehari dalam bentuk tulisan sesungguhnya adalah sedikit. Ada 10x lipat yang seharusnya kita syukuri, tetapi saya rasa bisa kita pikirkan dalam kepala dan diyakini dalam hati untuk sisanya. Semoga setelah kita mampu bersyukur, maka tidak ada kehidupan orang lain yang kita inginkan. Kalaupun ada, semoga Tuhan menggelarkan permadani setelah kita mensyukurinya.

Semoga bermanfaat.


October 10, 2014

Usaha Keras..


Usaha keras tak akan mengkhianatimu

Saya sering menemukan kalimat itu dari status seorang teman yang biasanya ia tuliskan karena mendapat nilai ujian yang memuaskan. Atau karena berhasil lolos interview di perusahaan impian. Saya tidak tahu persis darimana quotes itu berasal. Awalnya saya kira itu potongan lirik Grup Idol yang keroyokan itu lho tapi entahlah. Bukan asalnya yang ingin saya bagi di sini, melainkan maknanya.

Saat pertama kali bertemu dengan quotes itu, sesungguhnya saya memaknai kalau quotes itu indah dan bermakna besar dan banyak. Tapi kemudian saya mengutuki sendiri makna dari quotes itu. Benarkah usaha keras tak akan mengkhianatimu ? Benarkah usaha keras akan selalu mengantarkanmu pada pelaminan bernama kebahagiaan dan hasil yang kamu inginkan ?

Kalau  bagi saya tidak. Mungkin ini sedikit curhatan. Pernah suatu kali saya ingin serius dan fokus. Berusaha dengan keras untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam suatu ujian atau presentasi hingga mengorbankan segalanya (re : waktu istirahat). Lalu kemudian secara mendadak Sang Dosen tidak dapat masuk kelas yang secara otomatis ujian ataupun presentasimu ditunda.

Dimana quotes “Usaha keras yang katanya tidak akan mengkhianatimu” bersembunyi ?

Kadang saya hanya bisa tertawa kecil mengingat quotes itu dan honestly belum lama ini saya alami. Iya iya mungkin ini curhatan tapi kemudian saya mash menggali apa pesan tersirat yang bermakna positif dalam kejadian ini. Saya hanya ingin berprasangka baik kepada Tuhan, sang Sutradara utama di kehidupan.

Lalu jawaban saya adalah semua itu adalah ujian kecil dari Tuhan. Ujian sejauh mana kamu ingin serius untuk focus dan usaha terus. Ujian seteguh apa usahamu, sekuat apa kesabaranmu dan sejauh mana kamu mampu konsisten mempertahankan segala kesabaran dan usahamu itu. Kalau hanya pada sebuah kerikil ini kamu langsung kecewa, maka pantaskah Tuhan membalas semua usaha mu yang belum konsisten itu dengan balasan yang setimpal ?

Jawabannya ada di kamu, readers. Karena toh tidak semua orang akan setuju dengan quotes itu. Meminjam contoh dari teman saya yang mengibaratkan sudah berusaha keras dalam tes CPNS tapi tidak lolos sementara ada orang lain yang dengan cara curangnya berhasil diterima.

Kalau seudah begitu lagi, mungkin sekali lagi saya meminjam quotes teman saya kalau usaha keras hanya membuatmu lega, tapi hasilnya bisa disabotase oleh orang lain yang curang.


Terima kasih sudah membaca


October 3, 2014

CERITA KECE



Tolong jangan illfeel dulu dengan judulnya untuk readers yang tidak tahu ada makna apa di belakangnya. Kece adalah sebuah kepanjangan, yaitu KELAS C. lebih lengkapnya sih AKU KECE (Akuntansi Kelas C). yepp, itu adalah sebutan bagi kelas saya selama hampir 3 tahun ini.

Saya ingat sekali kalau pencetusnya adalah Adi Indawanto, salah satu teman kami. Dicetuskannya tepat tahun 2011 dan diabadikan di nama grup FB. Ada perjalanan panjang yang terjadi bersama mereka. Mulai dari jalan-jalan, jenguk teman yang sakit dan pengajian kelas.

Ada juga cerita Wahel yang sakit tifus dan hampir akukece sekelas menjenguknya, bahkan sampe foto bareng sama kedua orang tuanya. Tepatnya kapan seriously lupa, mungkin yang sakit yang inget  hehe.
Antara Jenguk Orang Sakit dan Ngerebek Rumah Orang (rame bener)
Dan saya juga tidak pernah lupa ada KECE yang meneriakkan saya dan Bonita di Cerdas Cermat Milad FEB 2013 lalu. Mereka sampai beramai-ramai membuat hashtag #fitlovebon dan mention serta sms ke sesame personil KECE untuk mendukung kami. That was so crazy but funny. Thanks guys
Terima Kasih Dukungan Kece atas dukungan di Cerdas Cermat Competitionn
Soal cerita jalan-jalan kami yang ke Puncak untuk kali pertama (2012)  sudah pernah saya share. Untuk yang kedua (masih ke Puncak juga di 2013) tidak saya share. Tetapi ada beberapa dokumentasi yang bisa saya share.

Photo Session Diwarnai Kabut (Jalan Jalan Puncak 2013 )

AKUKECE  memang seakan punya ritual jalan-jalan setiap libur semester ganjil.  Liburan kecil-kecilan sekitar 2-3 hari yang diisi dnegan curhat-curhatan atau game, main uno, dan foto-foto. Ritual baru setahun terakhir ini adalah pengajian kelas menjelang UAS. Biasanya kita khataman quran bareng-bareng sambil ngetag kue-kuean yang dihidangkan setelah khatama semua usai. Semua yang mempersiapkan ya kita bersama.

Pengajian kelas yang pertama itu berlangsung Juni tahun lalu. Lokasinya di rumah Icha, karena masih awal banget banyak yang ikutan. Honestly saya suka sekali dengan foto rame-rame yang semua personil KECE nya kelihatan jelas.

Posenya Keren Semua

Pengajian kelas menjelang UAS di semester 5 diadakannya di Lab.Pojok Bursa, karena waktu yang mendadak dan terbatas. Dokumentasinya juga terbatas karena pada heboh ngetag-in kue kue gitu. Kue emang primadona deh pokoknya, kecuali bagi saya ya. Haha




And then ini pengajian kelas menjelang UAS di semester 6 ini. Jumlahnya drastis berkurang dari setahun yang lalu. Banyak yang nggak datang karena agenda masing-masing dan waktu yang lagi-lagi mendadak. Diadakannya di rumah Ical. Kue – kue masih jadi primadona, tapi kali ini nggak perlu berebut heboh karena semua orang kebagian jatah lebih atas personil KECE lain yang nggak dateng.
Pengajian Kelas Limited Person
Sayang banget sih banyak yang nggak datang, padahal kita sudah jarang ketemuan juga karena sudah beda konsentrasi. But at least, postingan kali ini mungkin akan sangat bermakna pada suatu hari di kala personil KECE membacanya. Nggak tahu juga sih seberapa maknanya , tapi ada kenangan yang dipatrikan di salah satu posting saya.

Perjalanan KECE yang sudah menghadirkan 3 pasangan cinlok, persahabatan dan pertemanan baru yang mungkin terlihatnya berkubu-kubu. Tapi itu wajar sih kalau menurut saya. Asalkan tiap kubu itu nggak saling membunuh atau bermusuhan.

Perjalanan KECE yang menghadirkan laboraturium pembelajaran bagaimana menyelami karakter setiap orang. Perjalanan bersama KECE yang paling manis bagi saya di tahun 2013 kemarin. sudahlah tidak ingin banyak berkata-kata lagi. Harapan saya cuma satu, semoga KECE saling mengingatkan dan saling peduli. Aamiin

Selamat berpuasa

14 Juni 2014









September 20, 2014

Cerita KKN - Kutukan Air Tukang Ayam

Apa pertanyaan pertamamu ketika membuka mata di pagi hari ?

“Jam berapa sekarang ?” atau “Sekarang jam berapa ?”

Selama hampir 30 hari, saat membuka mata di pagi hari hampir semua kaum hawa memiliki pertanyaan yang sama, yaitu “Ada air nggak?”. Kalau bagi geng ayam, ayam adalah barang mewah, maka bagi kami-Tukang Ayam (sebutan buat geng cewek) air adalah barang mewah. Iya, setiap pagi kami selalu wudhu dan buang air kecil dengan air galon.

Kemegahan Rumah Cewek yang Tak Berair


Setiap pagi kami selalu membangunkan cowok untuk menyalakan mesin air atau memancingnya. Dan air tidak langsung menyala begitu saja. Butuh waktu untuk didiamkan terlebih dahulu. Alhasil suara air menjadi hal yang sangat kami rindukan. Pernah waktu itu saya berteriak kegirangan karena kran air seolah mengeluarkan air tapi ternyata itu adalah sebuah tahu yang masuk ke minyak panas. Teman saya sedang menggoreng tahu di bawah rupanya.

edit by RidaQinvi


Dan saat air keluar. Hal itu tidak berlangsung lama, hanya seperti ilusi karena datang sekejap. Nggak jarang airnya mati di kala kita sedang mandi kemudian nyala lagi atau bahkan mati dan tidak menyala sama sekali. Makanya kalau dapat antrian mandi paling terakhir, ada perasaan khawatir tidak kedapatan air. Solusinya ? nggak mandi seharian atau kalau mau cari aman numpang mandi ke rumah bu lurah dan para tetangga. Atau numpang mandi ke kamar mandi anak cowok.

Yang beruntung bisa mandi di kamar mandi rumah sendiri dengan antrian awal juga nggak benar-benar senang dan berhati lapang. Mereka juga biasanya mandi sambil gelisah. Takut kalau airnya mati di tengah-tengah. Atau airnya abis dan kemudian diamuk massa (seisi rumah) karena dituduh ngabisin air. Jadi setiap malam sebelum tidur biasanya kami membujuk anak cowok untuk turun ke bawah, yaitu ke musolla atau masjid dan mengambil air di sana untuk ditampung meski hanya seember.

Pernah suatu malam, kami ber16 turun ke bawah di tengah rintik gerimis yang gelap dan sepi untuk buang air kecil, cuci muka dan sikat gigi sebelum tidur. Tidak hanya itu. Kami juga membawa pulang beberapa ember air sebagai persediaan air untuk buang air kecil di tengah malam. Dan keesokan paginya wudhu dan buang air kecil dengan air galon kalau memang air tampungannya habis sembari menunggu mesin air yang dipancing mau mengeluarkan air. Begitulah keseharian kami.

Maka dari itu, kami tukang ayam kalau melihat air rasanya ingin segera mencuci atau mandi. Maklum airnya memang sulit. Dan pada suatu hari untuk menggembirakan hati kami, kami jalan-jalan ke Curug Cigamea. Rasanya ingin nyuci di sana saat melihat air terjun yang terbuang begitu saja.

Kesibukan KKN 13 di Curug Cigamea

Usut punya usut mungkinkah kami terkena kutukan takabur ?

Jadi saat itu malam jumat sebelum air susahnya makin parah. Saya, Dessy, Sela dan Isti baru selesai mengaji di musolla dan berniat pulang. Kami melewati tempat wudhu sekaligus MCK. Pokoknya tempat yang banyak airnya. Saat itu kaki kami kotor dan masih harus jalan yang lumayan untuk sampai ke rumah. Ada percakapan di sana.

Saya       : guys, kita nggak cuci kaki dulu nih ?
Dessy    : udah cuci kakinya di rumah aja, air kitakan banyak

Sesampainya di rumah, kami mendapat kabar kalau airnya mati dan sejak saat itu air semakin sulit. Pesan bagi kita semua, jangan takabur, nak. Semua yang ada di dunia ini hanya titipan. Sang Pencipta bisa merenggutnya kapanpun Dia mau. Seperti geng ayam yang kehidupannya direnggut karena listriknya mati seharian dan nggak bisa main PES. Seperti tukang ayam yang airnya direnggut sehingga harus numpang PUP di rumah warga.

Dan ternyata tanpa perlu ke Curug Cigamea, ada aliran sungai di Desa. Ya meski untuk mencapainya kamu harus lewat sawah dan jurang jurang gitu. Tapi lagi lagi, saat melihat air. Bawaannya tentu saja ingin mandi. Oh, air kamu memang benar-benar sumber kehidupan.

Kegembiraan Bersama 'Sumber Kehidupan'


FYI : pagi tadi untuk pertama kalinya setelah hampir sebulan, saya bangun dengan tenang. Tanpa perlu bertanya “Ada air nggak ?”


6 September 2014
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis