Showing posts with label imo. Show all posts
Showing posts with label imo. Show all posts

July 16, 2017

Dua Digit Angka Bernama Usia

Image result for AGE




We were sad of getting old
It made us restless
(When we’re Young – Adele)



Angka adalah segalanya. Hampir di seluruh aspek kehidupan. Dari barisan 26 huruf yang membentuk kata hingga paragraf, maka beberapa digit angka selalu menarik matamu terlebih dahulu dibandingkan yang lainnya. Bahkan dua digit angka masih selalu menarik untuk ditanyakan dan selalu menjadi momok.

Namanya ‘usia’, yang sudah pasti seringnya hanya terdiri dari dua digit angka. Tapi, tak pernah gagal mengantarkan sebuah pemikiran dan asumsi. Bukankah banyak keputusan yang sering diambil hanya karena usia?

Contoh kecil adalah “Tahun depan saya sudah 27 tahun, sudah seharusnya saya menikah” atau “Umur saya sudah menginjak kepala tiga lho, sudah seharusnya saya berhenti main game online” atau “Saya akan belajar memasak tahun ini, karena usia saya sudah menginjak kepala dua” atau “Saya akan mulai hemat setelah melewati masa muda saya, sekarang ingin menikmati hidup dulu” atau mungkin kamu punya contoh lain, tinggalkan di komen ya.

Banyak hal yang baru akan kita lakukan berdasarkan dua digit angka—yang sebenarnya tidak ada aturan bakunya. Harusnya semua orang bebas untuk melakukan apa yang dia inginkan karena sebuah keharusan, kesiapan dan keinginan yang kuat dari dalam dirinya, bukan karena usia. Kenapa harus menunggu umur 30 untuk berhenti main game? Kenapa tidak mulai hari ini?

Mengapa kita terlalu tenggelam dalam sebuah pemikian general akan sebuah usia? Mengapa kita tidak melakukan hal tersebut karena diri kita sendiri? Bukan karena pemikiran dan momok dua digit angka bernama usia.

Meski memang tidak dapat dipungkiri, kalau usia adalah perjalanan waktu yang mendewasakan setiap manusia. Tetapi, jika bisa mempersingkat perjalanan waktu melalui sikap dan pemikiran, haruskah kita menggantungkannya pada dua digit angka bernama usia?



January 22, 2017

Perkara Menunggu



Minggu menunggu. Setidaknya itu yang bisa saya simpulkan karena harus menunggu dua kali dengan nomor antrean untuk waktu dan perkara berbeda. Meski sebenarnya, keduanya memiliki persamaan. Perkara adminisrasi kenegaraan. Kenapa yang menyangkut pemerintahan selalu saja membuat kita menunggu? Parahnya nomor tunggunya cukup mengerutkan dahi.

Menunggu itu melelahkan, apalagi hingga seharian. Dan saya pernah merasakannya. Karena sebuah proses, menunggu di bagian itu terpaksa saya tuntaskan. Tetapi, rasanya tidak akan berlaku jika harus menunggu seseorang seharian.

Menunggu adalah hal yang menyebalkan. Saya percaya kalau sebagian orang meyakininya demikian. Menunggu menjadikan waktu kita sia-sia dan tak bermakna. Menunggu mengacaukan jadwal yang ada. Tetapi, tanpa kita sadari bukankah menunggu hampir selalu ada di setiap bagian kehidupan kita.

Tentang menunggu ojek online yang datang menjemput, menunggu giliran sampai di kasir untuk membayar, menunggu pesanan makanan sampai di meja kita, menunggu chat di balas dari gebetan/atasan, menunggu nada sambung berganti dengan suara yang kita harapkan di seberang, menunggu download-an hingga 100%, menunggu tanggal gajian, menunggu dosen bimbingan skripsi, menunggu hasil ujian diumumkan, menunggu pintu lift terbuka, menunggu datangnya kereta atau bahkan menunggu Mr. Right datang bertamu.

Di era gadget merajalela ini, rasanya kita lupa akan hal-hal kecil yang sebenarnya melibatkan faktor tunggu. Penyebabnya sudah pasti karena smartphone yang hampir selalu ada di tangan rasanya ampuh membunuh waktu tunggu. Entah scroll scroll timeline atau selfie cantik karena BT menunggu. Kalau saya mungkin lebih memilih untuk membaca buku yang memang kebetulan saya bawa jika harus menunggu.

Sebenarnya setiap orang pasti punya caranya sendiri untuk menikmati waktu tunggu itu, entah dengan chatting atau telepon dengan orang, berkenalan dengan orang asing di sebelahnya, membaca, tidur, mengkhayal atau berpikir. Semuanya adalah keputusan kita untuk menjadikan waktu menunggu itu jadi lebih bermanfaat atau hanya sekedar ‘membunuh waktu.’  

Sayangnya, kita luput dari sebuah kenyataan jika hidup ini memang perkara menunggu. Menunggu giliran untuk dijemput kematian. Menunggu kapan dipanggil olehNya. Karena kematian itu sebuah kepastian. Nah, untuk mengisi waktu menunggu dijemput itulah semua kembali kepada kita, dengan cara apa untuk mengisinya.

Terima Kasih  sudah membaca


January 21, 2017

What is age for you ?






Matahari yang terus terbit di Timur dan tenggelam di Barat semakin mengantarkan saya pada sebuah angka yang bertambah. Untuk sebuah usia yang terus bertambah, hal utama yang harus kita ingat adalah rasa syukur untuk dapat memilikinya. Meski, di belakangnya ada banyak pertanyaan sebagai bentuk refleksi diri. Seperti, “Apa saja yang sudah saya raih di usia ini?” “Sifat buruk mana yang sudah harus  saya buang di usia ini?” dan masih banyak lagi.

Bagi saya usia melambangkan banyak hal. Selain sebagai refleksi tentang diri, usia menyiratkan selera. Hal ini saya sadari dalam banyak hal. Mulai dari bacaan, tontonan hingga apa yang saya dengarkan. Saya ingat betul kalau komik bagian dari  bacaan favorit saya sejak mengenakan rok merah. Tetapi di penghujung SMA, perlahan saya merasakan kemampuan saya menyelesaikan komik yang saya baca justru semakin lambat. Hingga saya menyadari, saya sudah tak lagi gemar membaca komik. Tapi lebih memilih novel atau cerpen

Begitu juga dengan saluran radio yang saya dengarkan. Sebagai radio addicted, ada beberapa radio yang saya dengarkan dari masa ke masa. Guyonan pagi hari yang membuat semangat dengan durasi 4 jam atau curhat tengah malam seputar love story. Tapi nyatanya, semakin pertambahan usia, saya mulai tidak membutuhkan mendengarkan hal tersebut. Kini saya lebih memilih mendengarkan radio yang pagi harinya bukan lagi soal guyonan tapi related dengan worklife. Curhat malam hari juga rasanya sudah terlalu melelahkan didengar, sehingga lagu-lagu menenangkan pengantar tidur yang dimainkan di radio menajdi pilihan. Singkat kata, pergeseran radio anak muda ke radio yang agak adult juga menjadi efek dari pertambahan usia.

Tentu tidak semua orang setuju dengan saya, jika usia menggeser selera. Ada beberapa dari readers yang mungkin  tetap setia dengan selera yang sama berapapun usia mereka mengalami peningkatan. Dan hal itu bisa saja terjadi.

Usia dan perilaku adalah dua hal yang berdampingan. Keduanya saling berkaitan di mata banyak orang, hingga sering muncul ungkapan “Malu sama umur, kelakuan masih begitu.” Lalu sebagian bicara kalau usia hanya sebuah angka, “age is just a number

Lalu, apa makna usia sesungguhnya ? tentu ia bukan hanya sebuah angka. Jika toh pada akhirnya ada banyak pembatasan pada usia. Seperti usia yang diperbolehkan menonton film atau mendapatkan izin mengendarai kendaraan bermotor. Jika usia masih menjadi kotak kotak dalam pencapaian karir, dimana yang tua lebih mendapatkan posisi yang tinggi dengan sisa energi yang mereka miliki dibandingkan dengan yang muda dengan semangat energi yang masih meluap.

Makna usia sesungguhnya mungkin adalah tentang tanggung jawab. Age is about increasing responsibility. Bagaimana di setiap angka yang berganti ada tanggung jawab baru yang ikut dipikul. Selalu ada pertanggungjawaban atas setiap tindakan yang telah kita perbuat atau juga lisan yang terucap. Tetapi, meski begitu berapapun usiamu, tetap saja kamu adalah bayi di mata kedua orang tuamu. Sampai kapanpun itu, bukankah begitu ?

16 Juli 2016

Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya
Pohon besar tumbuh mendekati langit dan menjauhi tanah.
 Ia merasa telah melihat segala dari ketinggiannya
Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi
Tak bisa kembali ke kacamata yang sama bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula
Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu

(Jembatan Zaman dalam Filosofi Kopi – Dee Lestari)

March 19, 2016

Ngomongin SosMed


Hello readers

Butuh waktu lama untuk memulai kata pertama…dan honestly, saya telah berulang kali menghapus dan mengetik hanya untuk memberikan opening. And well, finally saya memulai dengan kejujuran dalam bentuk menceritakan apa yang saya rasakan.

Sungguh bukan penulis yang baik. Maafkan.
Kemarin dalam perjalanan pulang, saya berbincang bersama teman kerja mengenai paket internet yang berujung ke sosial media. Mereka berdua bagaikan pasangan tak terpisahkan dalam setengah dekade terakhir menurut saya. Punya sosial media..harus punya paket internet. Dan kebanyakan paket internet digunakan untuk bersosial media. Am I wrong?

Semakin banyak sosial media yang dimiliki seseorang, maka semakin banyak paket internet yang dibutuhkan untuk dapat mengakses keseluruhan sosial media yang dimilikinya, bukankah begitu ?. Nah dari situ, saya tiba-tiba berhitung. Apa yang saya hitung ? Jumlah sosial media yang saya install di ponsel ternyata ada 10 aplikasi. Wauww…saya cukup kaget juga sih saat menyadarinya.

Sepuluh itu apa saja ? Mari saya urutkan dari yang paling popular saya gunakan akhir-akhir ini. Mereka adalah WhatsApp, Line, Twitter, Setipe, BBM, Instagram, Facebook, Path, Telegram dan Skype. Pertanyaan selanjutnya dari orang-orang yang mengetahui fakta di atas adalah, “Itu lo pake semua, fit ?” Jawabannya adalah 9 dari 10 saya gunakan (Untuk Skype, hanya install tapi sampai saat ini belum log in).

Sosial Media di Ponsel saya
Semuanya punya preferensi dan tingkat kebutuhan masing-masing. WA jadi yang paling utama untuk  komunikasi dengan teman-teman kuliah atau yang urusannya menyangkut kelompok (grup). BBM khusus untuk teman SD dan saudara. LINE khusus untuk teman SMP. Twitter untuk update informasi dan ikutan kuis (kalau beruntung). Facebook ? Ini sih karena udah bawaan dari ponsel, jadi bukanya kalo lagi pengen. Path dan Instagram dibuka di jam-jam tertentu dengan kuota yang sangat mendukung.

Oke oke bukan itu intinya. Ngomongin Sosial Media adalah ada banyak sosial media yang sering digunakan tapi apa benar kita telah menggunakannya sesuai fungsinya? Atau justru melenceng a.k.a beralih fungsi.

Dua tahun lalu..saya merasa Path adalah sosial media eksklusif dan menjalankan perannya bagi saya. Membantu mengetahui kabar teman-teman yang sudah lama tak saya ketahui. Jumlah pertemanan yang terbatas menjadikan kita lebih selektif dan kualitatif dalam berteman secara personal. Tetapi, waktu bergulir dan inovasi terus dikembangkan apda setiap aplikasi di sosial media.

Path sekarang tidak hanya membatasi pertemanan 150 orang, tapi 500. Kalau kamu ingin selektif sharing moment di path, maka bisa gunakan fasilitas inner circle. Perubahan lain juga terjadi di sosial media yang lain, seperti BBM yang berinovasi dengan sticker beragam, LINE yang ada fitur news feed nya, dsb.

Lalu bagaimana dengan postingan kita di sosial media ? bagaimana kita menggunakan semua sosial media yang kita miliki ? Sudahkah sesuai fungsinya ?

Tidak ada peraturan baku yang mengaturnya. Tetapi dari kacamata saya pribadi, semakin hari sosial media beralih fungsi. Dia tidak menyatukan kita..tetapi justru menjauhkan kita. Sosial media menjadi wadah komersil bagi beberapa orang. Sayangnya, hal itu yang justru menjadikan sosial media ditinggalkan oleh si pengguna, yang pada akhirnya menjauhkan satu sama lain.

Ilustrasinya begini,
A : “Lo ada LI*E ga? Bagi dong ID nya?”
B : “Yaah gue ga pake. Banyak iklannya abisnya. Jadi males.”

Pada akhirnya mereka nggak jadi menyambung silaturahim atau bisa juga jadi dengan aplikasi lain.

Salah alih fungsi lain adalah sosial media adalah bahan mengkomersialkan segala hal yang sesungguhnya personal atau remeh temeh. Kalau remeh temeh aja dishare, bisakah disebut pamer ?

Pamer atau tidaknya postingan seseorang di sosial media adalah tergantung bagaimana pikiran kita mencerna dan hati menyikapinya.  Menjudge seseorang pamer itu bukan hanya menjatuhkan sifat negative ke orang tersebut, tetapi secara tidak langsung juga dapat melabeli diri kita sendiri, yang jangan-jangan sesungguhnya hanya iri.

Ilustrasinya begini,
A : (posting foto tiket pesawat ke Singapura)
B : (scroll timeline) “Pamer banget sih” (ngomong dalam hati)
6 jam kemudian
A : (check in d restoran, lengkap dengan menu makanan Thai Jumbo Prawn)
B : (scroll timeline) “Pamer terus, apa gue unshared ya, atau inner circle?”
1 hari kemudian
A : (posting foto tangan gatel-gatel karena alergi makan udang)
B : (scroll timeline) “Penting banget apa yang beginian dishare, dikira sembuh kalo difoto dan diposting di path”

Have you ever felt as an A or B, readers ? 
Siapa sih yang salah ? A yang suka pamer atau B yang memang nggak punya aktifitas makanya ngejudge orang pamer ? Jika B mendapatkan kesempatan untuk terbang ke luar negeri, apa dia tidak akan melakukan hal yang sama dilakukan oleh si A ?

Semua soal bagaimana kita menjernihkan hati dan memosisikan diri. Melihat sesuatu secara keseluruhan dan konsisten. Kalau memang menurt kamu, posting tiket pesawat itu pamer. Maka kamu tidak akan melakukan hal sejenis di lain waktu. Itu namanya konsisten.

Untuk postingan bagian tubuh entah apa itu yang terluka..seriously saya pribadi merupakan orang yang paling anti dan benci. Alasannya bukankah itu menjijikkan dan  bagaimana jika itu adalah aurat ? Mengapa kita dengan murahnya menyuguhkan aurat kita ke banyak orang.

Saya pernah berada di posisi A dan B. Menjadi A yang gemar check in momment sana sini untuk sebuah jumlah momment yang bertambah atau sekedar melihat banyaknya sticker yang ditinggalkan atas postingan kita. Tetapi, lalu saya bertanya..dengan intensitas yang sesering ini apakah postingan saya mengganggu orang dan terkesan pamer.

Kalau sudah begitu, saya tidak akan memposting hal yang sama pada sosial media yang saling tehubung. Melihat postingan yang isinya sama di berbagai sosial media dari satu orang yang sama adalah hal yang paling saya benci. Jadi, pasti saya akan mempsoting hal yang berbeda di berbagai sosial media yang berbeda.

Menjadi orang yang sinis seperti B juga pernah saya rasakan. Pertanyaan mengapa si A pamer terus di setiap postingannya. Tetapi, saya bertanya kembali..apakah si A salah dengan posting seperti itu ? Ataukah ini hanya saya yang lebih sering duduk diam men-scroll timeline tanpa kemana-mana dan berbuat sesuatu, hingga perasaan iri muncul kepada orang lain. Apakah jenis perasaan iri yang muncul ini adalah perasaan iri yang diizinkan ? Atau bahkan seharusnya tidak pantas ?

Jika sudah begini, maka saya akan memilih untuk beristirahat dari sosial media. Rehat sejenak dari scroll timeline di Path. Puasa membuka berbagai sosial media dan hanya memfokuskan pada satu hal yang memang untuk berkomunikasi (instant mesagging). Efeknya ? Tenang..rasanya menenangkan.

Tidak perlu pusing mengomentari postingan orang..tidak perlu juga sibuk check in lokasi setiap mengunjungi tempat-tempat penting.  Justru dengan itu kita bisa sungguh-sungguh menikmati moment yang kita miliki.

Well, tulisan ini dibuat pada suatu malam saat si penulis merasa kesepian dengan kesepuluh sosial media yang dia miliki. Tetapi sama halnya dengan aplikasi yang terus mengalami perubahan, maka hati seorang manusia pun juga demikian. Siapa yang tahu jika tulisan ini justru berbanding terbalik dengan apa yang saya rasakan pada tahun tahun ke depan.



We’ll never know. Tetapi, mari bijak bersosial media.

Terima kasih sudah membaca dan mengerti.



March 18, 2015

Bisa dan Terbiasa




Setiap orang bukannya tidak bisa, mereka hanya tidak atau belum terbiasa.

Perjalanan pulang di angkot sering membisikkan saya pemikiran pemikiran baru atau bahkan quotes yang entah munculnya dari mana. Semuanya terlintas begitu saja dari benak saya melalui pemikiran atau penglihatan yang random. Salah satu hasilnya adalah sebaris kalimat utama dalam postingan blog ini. sementara sisanya, menghias indah di status twitter saya.

Ya, Setiap orang bukannya tidak bisa, mereka hanya tidak atau belum terbiasa. Kalau dipikir lagi dan dimkanai secara mendalam dan ditanamkan dalam diri kita, maka rasanya tidak ada sikap sombong karena merendahkan. Karena seseorang itu hanyalah belum terbiasa. Jika mereka telah terbiasa, mereka juga pasti akan bisa.

Seorang anak kecil tidak bisa langsung berdiri tegak, berjalan atau bahkan berlari. Tulangnya perlu penyesuaian untuk membiasakan bertahan menopang tubuhnya. Setelah terbiasa, maka anak itu dapat berjalan, bahkan berlari.

Saya rasa semua manusia juga demikian dalam melakukan suatu hal. Mereka yang tidak bisa mengendarai sepeda motor kopling atau gigi sebenarnya hanya belum terbiasa menggunakannya. Saat mereka memiliki keinginan yang kuat untuk dapat menegendarai sepeda motor kopling atau gigi serta terus berlatih, maka pada akhirnya mereka bisa. Mereka bisa karena terbiasa.

Ada orang yang malas luar biasa. Mereka sesungguhnya hanya belum terbiasa untuk berkoitmen dan  melawan rasa malas dalam diri mereka melalui tindakan. Ya, kita semua bukan tidak bisa. Kita hanya tidak atau belum terbiasa. Jadi, apa yang kita pikir tidak bisa kita lakukan saat ini sesungguhnya adalah hal yang belum terbiasa kita lakukan. Maka dari itu, ayo berlatih.

Dan saya rasa kamu tidak sendirian, karena saya pun sering mengalami hal itu. Maka dari itu, seklai lagi ayo berlatih untuk membiasakan. Hingga pada akhirnya kita bisa melakukan apa yang kita anggap tidak bisa kita lakukan.

Terima kasih sudah membaca



  

March 13, 2015

Semua Orang Harus Move On


Ketahuilah kalau postingan ini bukanlah suatu hal yang menye-menye supaya kamu yang baru saja putus cinta nggak kemudian marah karena isi postingan ini tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan atau pikirkan.

Setiap orang memiliki zona nyaman mereka tersendiri. Entah dengan lebih memilih terus bergerumul dengan teman-temannya, menciptakan dunianya sendiri, bermain game online tanpa henti di usianya yang sudah tidak wajar atau zona nyaman lainnya. Banyak orang yang terlena di area kenyamanan mereka. Padahal, zona nyaman lebih sering menenggelamkan mereka ke dasar. Bukan mengajak mereka ke puncak. That’s why, we have to move on. Ya, move on dari zona nyaman.

Move on nggak hanya soal patah hati, sedih dan gundah gulana. Terkadang kita nggak menyadari, kalau kita juga seharusnya move on dari yang namanya bahagia. Ya, bahagia yang berlebihan akan melenakan dan membuat kita lupa.

Perasaan bahagia yang berlebihan, seperti mendapatkan posisi strategis dalam pekerjaan, atau nilai yang sudah sangat aman pada saat ujian bisa menjadi contohnya. Terkadang, kita terlena pada posisi itu. Pada posisi bahagia dan menyombongkannya, serta bersifat tenang kemudian lupa. Padahal, semua hal di dunia ini hanya bersifat sementara, salah satunya rasa bahagia.

Bahagia yang kita rasakan hari ini akan kadaluarsa pada keesokannya. Jadi, masih merasa bahagia atas suatu hal yang telah berlangsung selama seminggu lalu, tanpa ada move on ke kegiatan yang mengantarkanmu ke kebahagiaan selanjutnya bagi saya adalah sebuah kesalahan.

Kita terlalu fokus memaknai move on dari kesedihan dan keputusasaan, tetapi kita lupa kalau kita juga harus move on dari perasaan bahagia yang berlebihan. Dan itu yang sangat berbahaya. Semua yang ada di dunia ini sifatnya sementara. Begitu juga dengan kebahagiaan. Apa yang membuat kita bahagia hari ini tidak akan membahagiakan di kemudian hari kalau kita hanya terus merasa nyaman dengan kebahagiaan saat ini, tanpa move on ke cara lain untuk menggapai kebahagiaan lainya.

Memang tidak mudah melalui. Bahkan rasanya lebih sulit dibandingkan dengan move on dari keputusasaan. Sayapun sedang berusaha…untuk move on dari perasaan bahagia yang berlebihan.

Selamat berusaha


Terima kasih telah membaca

14 Maret 2015
1.44 AM


March 12, 2015

#JurnalSyukur (Day 12)




Merasa setuju dengan pernyataan di atas? Atau sekedar merasakannya? Ya, saya pernah merasakannya. Mungkin sebagian orang di luar sana juga bisa mengangguk setuju. Entah dengan cara menyadarinya sendiri sambil tersenyum atau melalui cuplikan sinetron dimana si kaya dan miskin yang tertukar.

Contoh simple lain adalah menjadi anak laki laki yang mendapatkan perlindungan berlebihan (overprotektif) dari orang tua. Belum ada di rumah saat matahari perlahan tergelincir tenggelam, maka puluhan panggilan telpon dari ibunya akan singgah di ponselnya. Merasa risih, kesal dan terganggu. Lalu mengeluh.

Sementara ada anak lelaki di luar sana yang sengaja pulang malam. Tidur-tiduran di kosan temannya sambil menunggu panggilan telopn dari sang ibu yang memintanya untuk pulang. Atau sekedar menanyakan keeradaannya. Kehidupan yang kalian pikir tertukar dan kalian harapkan satu sama lain.

Tapi benarkah semua itu?

Benarkah, apa yang kita keluhkan adalah apa yang diinginkan orang lain? Benarkah kita tidak membutuhkan kehidupan yang kita keluhkan ini? Atau hanya kehilangan yang nantinya akan menyadarkan apakah kita akan merindukan dan membutuhkan kehidupan yang kita keluhkan saat ini?

Jawabannya sederhana : Rasa syukur. Kita belum mensyukuri apa yang kita keluhkan. Kita hanya mengeluh, bukan bersyukur. Sepanjang kita terus berkeluh, maka kita akan terus menginginkan kehidupan orang lain. Itu yang saya sadari pada akhirnya.

Bagaimana saya pernah berpikir ingin hidup di tengah gadget terbaru dan menginginkan hidup orang lain di luar sana yang rasanya lebih beruntung dari saya. Tetapi, apakah semuanya sudah benar? Mengapa tidak kita syukuri kehidupan yang telah disuguhkan Tuhan kepadamu, mulai dari kamu membuka mata.

Hal itulah yang kemudian mendasari saya untuk menjalankan sebuah resolusi yang saya namai #JurnalSyukur. Terinspirasi dari cerita Dian Sastro yang menuliskan 10 hal yang kamu syukuri setelah bangun tidur dan sebelum pergi tidur serta seorang wanita yang menuliskan jurnal syukur di tabnya dalam perjalanan pulang kantor di commuter line. Sayapun membuat #JurnalSyukur versi saya yang berisi 10 hal yang saya syukuri dalam 1 hari.

Kegiatan ini sudah memasuki bulan ketiga dan jujur saja rasanya semua begitu dimudahkan. Saya merasa menemukan kemudahan di setiap langkah saya. Di setiap pengambilan keputusan dan proses mengikhlaskan, Tuhan seakan menggelarkan permadani yang membawa saya ke jalan lain yang baru saat saya berani melepaskan dan memilih.

Saat saya mensyukuri setiap kesempatan dan jalan yang disuguhkan Tuhan, maka saya percaya Dia memiliki rencana tersendiri yang baik bagi saya. Tugas saya adalah terus mensyukurinya, menjalankan sebaik mungkin dan berpikiran positif akan setiap rencanaNya. Sekuat itu rasa syukur yang kamu ciptakan dalam dirimu akan memepengaruhi pikiranmu.

Ingatlah, hal besar tidak akan menjadi besar jika bukan karena sekumpulan hal kecil yang menjadi satu. Jadi, mulailah bersyukur dari hal hal kecil. Mulai dari setiap pagi kamu mampu membuka mata dan tetap bisa melihat dunia. Bayangkan, jika pada suatu hari kamu membuka mata, tapi yang terlihat adalah gelap.

Bersyukur saat kamu mampu menyapukan jemarimu ke layar ponsel untuk mengecek notification. Bayangkan jika suatu hari tanganmu merasa kram dan tak mampu digerakkan. Bersyukur saat kamu terbangun di atas kasur yang empuk dan selimut hangat, sementara ada banyak orang yang harus tidur dalam dinginnya lantai toko dan bisingnya jalan.

10 hal yang kita syukuri dalam sehari dalam bentuk tulisan sesungguhnya adalah sedikit. Ada 10x lipat yang seharusnya kita syukuri, tetapi saya rasa bisa kita pikirkan dalam kepala dan diyakini dalam hati untuk sisanya. Semoga setelah kita mampu bersyukur, maka tidak ada kehidupan orang lain yang kita inginkan. Kalaupun ada, semoga Tuhan menggelarkan permadani setelah kita mensyukurinya.

Semoga bermanfaat.


March 3, 2015

Ketenangan (Day 3)



Apa itu ketenangan? Dan bagaimana menciptakannya ?

Ketenangan adalah  lebih dari terhindar dari suara bising. Ketenangan adalah menjalani tanpa resah dan rasa khawatir. Sebulan terakhir ini saya merasa tidak tenang, meski frekuensinya bisa loncat loncat dan tidak beraturan. Tetapi, ketidaktenangan adalah suatu hal yang mampu membunuh diri setiap orang. Setidaknya itu yang saya rasakan atas semua ketidaktenangan yang menghampiri.

Seperti yang sudah saya tuturkan, kalo ketenangan bukan hanya terhindar dari sebuah kebisingan. Ketenangan adalah persoalan hati. Ketenangan adalah sinkronisasi hati dan pikiran yang semuanya bersinergi menjalankan gerak langkah kita.

Kerikil kecil yang menjadikan masalah akan bersarang di kepala kita, menghantui pikiran kita setiap waktu dan akibatnya hati kita dipenuhi gelisah. Kalau urusannya sudah menyentuh hati, maka motorik kita seakan tak mampu lagi merespon otak kita. Apa yang ingin kita kerjakan tak sesuai dengan kaki yang kita langkahkan.

Ketidaktenangan yang membunuh sumbernya berasal dari pikiran. Terkadang saat overthinking, saya merasa otak saya tak memeberi ruang untuk tidur. Kemudian berujung tidak tidur tapi tak juga mampu beraktivitas, mungkin karena gelisah.

Belakangan saya menyadari sesuatu, kalau ketidaktenangan dan kekhawatiran yang membuncah hanya membutuhkan satu formula. Formula itu bernama keihklasan. Saya tak pernah tahu wujudnya tapi saat hati saya merasa tenang, saya menyimpulkan di situlah saya telah mengikhlaskan.

Memang, ikhlas ada suatu hal yang tak berwujud, tak bisa juga diucapkan ataupun diproklamirkan. Hanya orang yang telah ikhlas yang mampu memahami tanpa perlu mengumbarnya. Pada akhirnya organ yang bernama hati itu adalah sumber utama dari setiap kegelisahan. Dia akan mengirim sel – sel lain ke dalam pikiran, makanya jadi overthinking.

Sebenarnya ini hanya teori asal berdasarkan pengalaman. Tapi, karena itulah saya tahu mengapa ada lagu berjudul “Tombo Ati atau Obat Hati.” Dan beruntungnya, itu bukan hanya sekedar lagu, tetapi juga resep atas ketidaktenangan.

Terima kasih

Selasa, 3 Maret 2015

3.33 PM




October 10, 2014

Usaha Keras..


Usaha keras tak akan mengkhianatimu

Saya sering menemukan kalimat itu dari status seorang teman yang biasanya ia tuliskan karena mendapat nilai ujian yang memuaskan. Atau karena berhasil lolos interview di perusahaan impian. Saya tidak tahu persis darimana quotes itu berasal. Awalnya saya kira itu potongan lirik Grup Idol yang keroyokan itu lho tapi entahlah. Bukan asalnya yang ingin saya bagi di sini, melainkan maknanya.

Saat pertama kali bertemu dengan quotes itu, sesungguhnya saya memaknai kalau quotes itu indah dan bermakna besar dan banyak. Tapi kemudian saya mengutuki sendiri makna dari quotes itu. Benarkah usaha keras tak akan mengkhianatimu ? Benarkah usaha keras akan selalu mengantarkanmu pada pelaminan bernama kebahagiaan dan hasil yang kamu inginkan ?

Kalau  bagi saya tidak. Mungkin ini sedikit curhatan. Pernah suatu kali saya ingin serius dan fokus. Berusaha dengan keras untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam suatu ujian atau presentasi hingga mengorbankan segalanya (re : waktu istirahat). Lalu kemudian secara mendadak Sang Dosen tidak dapat masuk kelas yang secara otomatis ujian ataupun presentasimu ditunda.

Dimana quotes “Usaha keras yang katanya tidak akan mengkhianatimu” bersembunyi ?

Kadang saya hanya bisa tertawa kecil mengingat quotes itu dan honestly belum lama ini saya alami. Iya iya mungkin ini curhatan tapi kemudian saya mash menggali apa pesan tersirat yang bermakna positif dalam kejadian ini. Saya hanya ingin berprasangka baik kepada Tuhan, sang Sutradara utama di kehidupan.

Lalu jawaban saya adalah semua itu adalah ujian kecil dari Tuhan. Ujian sejauh mana kamu ingin serius untuk focus dan usaha terus. Ujian seteguh apa usahamu, sekuat apa kesabaranmu dan sejauh mana kamu mampu konsisten mempertahankan segala kesabaran dan usahamu itu. Kalau hanya pada sebuah kerikil ini kamu langsung kecewa, maka pantaskah Tuhan membalas semua usaha mu yang belum konsisten itu dengan balasan yang setimpal ?

Jawabannya ada di kamu, readers. Karena toh tidak semua orang akan setuju dengan quotes itu. Meminjam contoh dari teman saya yang mengibaratkan sudah berusaha keras dalam tes CPNS tapi tidak lolos sementara ada orang lain yang dengan cara curangnya berhasil diterima.

Kalau seudah begitu lagi, mungkin sekali lagi saya meminjam quotes teman saya kalau usaha keras hanya membuatmu lega, tapi hasilnya bisa disabotase oleh orang lain yang curang.


Terima kasih sudah membaca


July 9, 2014

Kerah Baru



“ciyee kerah baru”

Candaan itu yang keluar dari senior saya di hari pertama saya resmi mengenakan seragam SMA (setelah hari-hari sebelumnya mengenakan seragam SMP dan melewati masa orientasi). Sebenarnya kalau dipikir lagi, ungkapan itu bisa ditujukan kepada pelajar manapun yang datang pada tahun pertama di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Seperti kepada anak yang baru masuk TK, pelajar kelas VII dan X. kenapa kerah baru ? karena pelajar di tahun pertama pasti mengenakan baju baru yang kerahnya masih sangat kaku secara kasat mata.

Kerah baru = dunia pendidikan baru yang lebih tinggi dari sebelumnya. Dan karena lebih tinggi, maka kamu perlu mendakinya melalui serangkaian ujian dan prosesnya. Baik ujian kelulusan maupun ujian masuk ke dunia pendidikan yang lebih baru.

Indonesia  terkenal dengan birokrasinya yang ruwet. Termasuk dalam halnya hanya untuk masuk sekolah. Bukan hal asing atau tabu lagi yang namanya jual beli bangku pendidikan. Kenapa ada yang sampai seperti itu ? karena setiap orang tua ingin memberikan pendidikan yang terbaik kepada putra-putrinya selagi mereka mampu (dan dengan cara apapun).

Meski pemikiran di atas nggak bisa dipukul sama rata, artinya nggak semua orang tua melakukan transaksi bangku pendidikan demi sekolah terbaik anaknya. Baik itukan relatif, jadi ukurannya berbeda-beda, bukankah demikian ?

Tetapi, hampir semua orang tua bersedia mengorbankan waktu dan tenaganya demi mendampingi si buah hati untuk seleksi masuk sekolah misalnya. Dan seleksi ini tidak mudah. Ada banyak rangkaian dan proses.

 Intinya, untuk mengantarkan pada gerbang pendidikan yang baru, ada perjuangan dan perasan keringat ayah dan ibu kamu di baliknya. Jadi ada banyak pesan dan tanggung jawab bagi setiap kerah baru kalau kamu harus lebih bersungguh-sungguh.

Dan untuk semua tenaga pengajar di Indonesia, entah itu guru ataupun dosen, saya rasa mereka juga harus lebih bersungguh –sungguh dalam mendidik setiap kerah baru itu. Tidak malas-malasan dan jelas harus berkualitas. Karena dibalik semangat kerah baru, ada perasan keringat dan tumpukan harapan dari kedua orang tuanya.

Terima kasih telah membaca sampai selesai 
4 Juli 2014
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis