Showing posts with label dear. Show all posts
Showing posts with label dear. Show all posts

July 13, 2015

Hadiah





Apakah kamu hantu masa lalu ?
Yang selalu datang di hari bertambahnya usiaku
Bercengkrama leluasa lalu pergi tanpa ragu
Apakah kamu paket hadiah valentine
Yang membuka valentine dengan obrolan
Ah sudahlah ! aku tak tahu pasti
Mungkin..
Kamu adalah hadiah yang selalu ada di ujung 13 Februari ku. Terima kasih

14 Februari 2015

*jika ini rindu, sampaikanlah tanpa ragu

Jika ini hanya sepi, biar saja dia terus bersembunyi

March 5, 2013

Waiting Time



Mungkin semesta berkonspirasi membawa kita terhanyut dalam kenangan indah. Atau juga radar neptunus mengusik hidupmu—yang baru dengan orang baru—untuk singgah pada kisah kita. Rasanya memang sungguh tidak tepat. Entah kapan akan menemukan waktu yang tepat.
Untuk kali ini, hanya waktu yang sungguh mengembalikan  kita bercengkrama dalam tawa. Seperti teman lama yang tak pernah bersua. Meski kita adalah 2 orang yang lebih dari teman lama. Bercerita ria semua peristiwa dalam hampir 4 tahun ke belakang, meski bukan peristiwa yang pantas kita bicarakan—mengingat seseorang yang baru telah setia di sampingmu. Tetapi, aku menyambut lalu terhanyut.
Bagi kamu, ini abstrak. Bagi mereka, mungkin ini abnormal. Tapi bagiku, ini semua tinggal tunggu waktu. Menunggu ujung dari keabsurdan yang kita jalani. Tinggal tunggu waktu, untuk menyudahi luka orang lain.



1 Maret 2013

March 3, 2013

Februari





Februari telah berlari meninggalkanku sendiri
Bersama sebongkah kebahagiaan yang kamu hadirkan layaknya ibu peri
Meski hanya lewat suaramu di ujung negeri
Kamu tak pernah gagal membuat wajahku berseri, sepanjang hari
Mengusir rasa lelah di dalam diri
Dengan membongkar semua kenangan melalui diary
Tertawa bahagia tengah malam megingat ’99 hari’
Atau seribu hari ke belakang
Kamu adalah pemenang
Untuk hatiku yang tak pernah memilih dengan gampang
Kamu adalah orang nomor satu dalam tulisanku
Rentetan rindu yang berujung semu
Hatiku berada dalam masa hibernasi
Radar neptunus juga tak kuberi nasi
Tetapi, ajaibnya dia tetap beraksi
Mengantarkan sinyal rindu sebagai sebuah misi
Membawamu kembali di Februari yang penuh kasih


1 Maret 2013

November 2, 2012

Tulisan Rindu




Detik yang terus berlalu tak bisa menghapus yang sudah lalu
Tak bisa membuatnya kembali atau mencari pengganti
Cerita tentang kamu akan selalu ada bagiku
Tulisan-tulisan rindu akan terus kututurkan
Bukan berharap kamu mengerti atau kembali
Bukan juga menyentuh relung hatimu, memelas belas kasih
Hanya untuk aku yang berusaha menghapusmu
 Hanya untuk aku yang tenggelam bahagia dalam puisi cinta untukmu
Tulisan-tulisan rindu akan terus kututurkan
T idak berharap kamu menemukan
Atau berubah pikiran
Karena akau hanya ingin terus menuturkan
Agar dapat menidurkan dirimu dalam kenangan


15 Agustus 2012

September 26, 2012

Sederhana, Dear




Hampir 6 bulan berlalu, setelah kamu tidak pernah bertanya ‘kenapa’. Satu kata tanya itu ternyata menyebalkan ya? Kalau kita menggunakannya di masa ini, maka kita akan mendapat jawaban yang cukup klise dan tak kalah menyebalkan, yaitu “Ih kepo banget sih”.
Tapi, tanya ‘kenapa’ itu tidak akan kubalas dengan “ih kepo banget sih” jika kamu yang bertanya di 6 bulan yang lalu.
6 bulan ya, dear. Hampir setengah tahun. Semuanya singkat, sesingkat pesan yang kukirim dan kamu balas. Sesingkat proses kita mengakhiri segalanya. Aku juga tidak mengerti mengapa menuliskan ini. Jujur, ini tanpa latar belakang ataupun perencanaan dalam kerangka pikirku. Ini berbeda dengan segala tulisan rinduku untukmu yang sengaja kusiapkan hanya untuk kamu.
Lalu, kenapa? Aku juga tidak tahu. Bukan berarti aku masih menginginkanmu dan mengharapkanmu. Tidak. Tidak sama sekali, dear. Kita saling lepas dan kuyakin telah sama-sama bahagia. Bahagia itu tidak mesti dengan orang baru, bukan?
Bahagia itu sederhana. Kamu bisa bahagia karena dirimu sendiri. Ya, karena kamu dan Dia. Lalu, terciptalah bahagia. Sederhana seandainya kita bisa lebih bersyukur dalam menjalani kehidupan.
Jadi, seperti ini, dear....aku belum tidur. Bukan terkena insomnia atau apa. Hanya belum mencoba tidur dan ingin menulis. Dan kamu selalu menjadi objek tulisanku. Bagaikan bercerita padamu dan kamu mendengarnya. Seperti 6 bulan yang lalu, saat kamu selalu mendengarkan ceritaku lewat sambungan telpon. Mungkin kita harus berterima kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan seorang Alexander Graham Bell.
Baiklah, aku tidak ingin berlarut-larut. Cukup malam yag telah larut. Menuliskan kenangan itu sangat menyenangkan. Kalau dulu menuliskan kenangan tentangmu rasanya pilu. Maka, saat ini tidak lagi.
Yang masih kukenang dan kutertawakan sendiri adalah saat kamu mendongengkan jalan cerita SAW 3 lewat telpon padaku. Aku terlalu pengecut untuk menonton film itu. Berbagai tumpahan darah dan adegan yang hanya bikin ngilu membuatku tak menyelesaikan film itu. Maka itu, kamu menceritakannya padaku. Dari bibirmu, langsung ke telingaku. Anehnya, cerita yang mengalir dari bibirmu tak lagi membuatku takut, ngilu atau apapun itu. Yang ada hanya satu, aku bagaikan didongengkan oleh kamu. Aneh untuk segelintir atau bahkan banyak orang. Tetapi itulah kita. Hubungan kita nampak abnormal, jika orang awam tahu yang sebenarnya.
Nah, itu yang membuatku selalu tertawa sendirian setiap mengingatnya. Yang selanjutnya adalah saat aku merasa rindu kepada kamu. Jawabannya dalah main game sama kamu di tengah malam. Game yang hanya aku, kamu dan sepupuku yang tahu. Game tengah malam yang secara tidak sadar membuat aku lebih kenal kamu. Lebih tahu kamu.
Tapi, itu 6 bulan yang lalu. Sekali lagi ya, dear. Aku sama sekali nggak punya maksud apapun karena aku suka sekali menulis. Dan menuliskan tentang kamu ataupun kenangan kita adalah tulisan yang mengalir dari hati, tanpa perlu pemikiran yang keras.
Terima kasih, dear. Happy life for us  


00.44 am


August 2, 2012

Hey, Dear !



Hey, Dear
Long time no tell with you, Long time no tell about you
Long time no texting, Long time no call
And…Long time no see
Hey, Dear ! How’s your holiday ? Great absolutely
I’m happy for you, for your happiness in holiday
Hey, Dear ! Apa kabar ? Gimana IP ? Gimana AIESEC ?
Hey, Dear ! Do you miss me?
Hey, Dear ! tidakkah kita berada dalam  satu daratan untuk beberapa waktu ini ?
Bukankah Selat Sunda tak lagi memisahkan aku dan kamu ?
Tapi, ego kita masih sama - sama kuat bertahan, benar bukan ?
Hey, Dear ! waktumu seminggu lagi, bukan ?
Sudah mulai berkemas ?
Tolonglah berkemas dengan baik kali ini. Kumohon, jangan ada yang tertinggal.
Berkemaslah yang baik dan benar. Bawa semua dirimu bersamamu, jangan lagi kau tinggalkan setitipun tentang kamu dalam hatiku.
Pergi berkemaslah dari hati dan pikiranku.
Hey, Dear ! Have a save flight


26 July 2012

Hati (Terserah Kamu)








Aku kira fungsi hati hanyalah penawar racun
Tapi nyatanya, lebih dari itu
Aku tak pernah sangka kalau hati bisa terus mengajak otakku untuk memikirkanmu
Aku bertanya nakal dalam hati dan pikiran…
Adakah suatu waktu, kamu merasa ada yang kurang dalam hidupmu, tanpa aku ?
Adakah suatu waktu, rindu menyusup ke celah hatimu yang sudah kau tutup rapat untukku ?
Adakah suatu ketika wajahku datang tiba-tiba tanpa permisi dalam pikiranmu ?
Dan…adakah ruang kosong milikku di hatimu yang masih kau suguhkan spesial untukku ?
Jawabannya, terserah kamu



20 July 2012 – 1.31 a.m


July 10, 2012

Rumah Hatimu



Pulang adalah kata yang begitu menyenangkan. Menghangatkan. Juga menenangkan.
Seperti halnya kamu yang selalu rindu pulang ke pangkuan ibumu tercinta, aku rindu pulang ke hatimu. Hingga pada waktu yang telah ditentukanNya, Dia mengizinkan aku pulang menuju hatimu, kembali. Setelah sebelumnya meninggalkan rumah hatimu yang sejujurnya menghangatkan bagiku.
Aku pernah kembali pulang menuju hatimu meski hanya sekejap. Meski tak sesungguhnya pulang dalam dekap yang hangat.
Karena aku pulang, maka hatimu layaknya rumah yang kurindukan. Tetapi saat aku kembali dan berada di dalamnya, aku sadar  rumah hangat yang telah lama kutinggalkan telah berubah. Kamu sudah berubah, karena waktu terus berputar. Karena usia terus bertambah. Karena pikiran terus menemukan jalannya yang baru. Karena kamu tidak akan selamanya seperti dulu. Kamu akan berubah dan memang telah berubah.
Hingga  rumah hangat hatimu tak sehangat dulu, tak senyaman seperti dulu  lagi, bagiku.
Meski wajah, tutur kata, gerak tubuh, dan tatapanmu masih sama dan tak pernah berubah. Kenyataannya aku tak kerasan di rumah hangat hatimu yang tak sehangat dulu.
Dengan berat hati, aku kembali pergi. Meninggalkan rumah hatimu yang kau bukakan untukku di setiap waktu. Karena seperti halnya tinggal di sebuah rumah, saat kau merasa tidak kerasan, kau akan mencari rumah yang baru. Begitu juga dengan hati, karena aku tidak lagi kerasan dengan rumah hangatmu yang tak sehangat dulu, maka aku pergi. 
Perubahan dalam rumah hatimu tidak salah, yang salah adalah bagaimna kita menghadapinya. Kita. Aku dan kamu. Tidak bisa atau bahkan saling tidak ingin memberikan ruang untuk menghadapinya. Untuk menghadapi segala perubahan dalam diri kita masing-masing.
Kini, rumah hatimu yang selalu kau bukakan setiap waktu untukku, telah kau tutup dengan hati-hati untukku. Meski aku tahu, kau akan selalu tersenyum menyambutku di teras rumah hatimu. Tak membiarkanku masuk atau sekedar mengetuknya. Kita hanya akan berbincang di depan teras rumah hatimu. Berbincang bersama sebagai seorang teman.


© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis