Showing posts with label fast fiction. Show all posts
Showing posts with label fast fiction. Show all posts

February 11, 2017

Balon (Aku dan Kamu ) part 1



“Kenapa Balon?,” tanyaku pada akhirnya. Menyudahi semua tanya yang bergejolak sendiri dalam diriku.

Kamu sibuk mengaduk es podeng yang ada di hadapanmu. Menyisihkan alpukat, buah yang paling kamu hindari.

“Kenapa tadi nggak bilang ke abangnya buat nggak pake alpukat aja?,” pertanyaan kedua meluncur dari mulutku.

Kamu masih belum menjawab. Tetapi lebih memilih menyuapkan sesendok es ke dalam mulutmu. Beberpa detik kemudian kamu mengangkat bahumu dengan mata terpejam. Bahasa tubuhmu menyiratkan kamu menikmati es yang melebur di lidahmu. Hujan di luar sana tak lagi kamu hiraukan.

Sementara aku hanya menggeleng kecil dengan menyeruput teh manis hangat yang kupesan dari warung di seberang.

“Karena aku ingin terbang. Dan memegang balon selalu menghadirkan kepercayaan buatku kalau dia berjanji akan mengajakku terbang.”

Aku mengalihkan pandanganku dari teh manisku ke matamu. Mencoba mencari cerita di balik perkataanmu dari dua bola mata coklatmu. Meski aku tak pernah menemukan jawabannya di sana.

“Itu untuk jawaban pertama,” ujarmu dengan telunjuk kananmu yang kemudian kamu tempelkan ke pipi kananmu.

“Yang kedua…”

“Aku nggak tertarik dengan yang kedua,” sergahku cepat sebelum kamu mulai menjelaskan jawabannya. Aku selalu tahu jawabannya. Tapi aku tak pernah tahu kenapa selalu kembali menanyakan hal yang sama saat menemukanmu meminggirkan alpukat di es podengmu. Aku nggak mau merepotkan abangnya. Lagipula, dengan memesan “nggak pake bla bla” menyiratkan kamu pemilih dan nggak menerima apa adanya.

Kamu akan menjawab seperti itu. Tidak masuk akal buatku. Karena toh kamu akan tetap menjadi pemilih dengan meninggalkan si alpukat di gelas.

“Kenapa ingin terbang?”

Kamu diam. Sibuk dengan es podengmu. Aku juga diam. Sibuk dengan pikiranku, mengingat kembali bagaimana bisa sampai di sini.

* * *
to be continued
26 Maret 2016

October 31, 2015

(Bukan) Ayah Pencitraan #SafetyFirst


(Bukan) Ayah Pencitraan
Oleh : Fitria Wardani



Sirine palang kereta api sudah mulai bernyanyi. Perlahan palangnya mulai turun dan menutup jalan sementara bagi pengendara kendaraan bermotor yang ingin melintas. Mereka menghentikan kendaraannya untuk menunggu kereta api melintas. Tetapi tidak bagi Marwan, dia menerjang palang pintu yang belum sepenuhnya tertutup dengan sepeda motornya. Si penjaga palang pintu hanya menggeleng kesal bersama papan bertuliskan ‘stop’ di tangannya.
“Ayah, kenapa bahunya warna biru ?,” tanya Bayu, putra Marwan yang berusia 5 tahun ketika melihat ayahnya mengolesi salep di bahu kirinya.
“Digigit tawon tadi di jalan,” jawab Marwan bohong. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa luka itu akibat terkena palang pintu kereta yang dia terobos siang tadi.
“Tawonnya jahat banget, Yah. Nanti kalau ketemu, Bayu bunuh tawonnya.”
“Jangan dong, Bayu. Kita nggak boleh menyakiti binatang,” nasihat Marwan pada anaknya yang kini duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.
Bayu langsung terdiam tak membalas. Dia anak yang pintar sekaligus patuh akan segala nasihat yang keluar dari bibir Ayahnya. Bagi Bayu, Marwan bukan hanya sosok ayah, melainkan pahlawan dan panutan yang selalu ingin dia tiru.
* * *

Marwan menginjakkan kakinya ke depan untuk menambah gigi pada motornya ketika lampu lalu lintas berubah kuning. Lalu dia memacu gasnya saat lampu lalu lintas baru saja berubah berwarna hijau. Hal itu dia lakukan semata-mata karena ada polisi yang berjaga jaga di perempatan yang baru saja dia lewati. Jika tidak ada polisi yang berjaga-jaga dan mengawasi, Marwan perlahan akan mencari celah untuk dapat menerobos lampu lalu lintas yang berwarna merah.
Pekerjaannya sebagai kurir di salah satu perusahaan logistik internasional menuntutnya untuk dapat tepat waktu dalam mengantar dan menagih tagihan. Ditambah lagi dengan keadaan jalanan ibukota yang kian hari kian penuh dengan kendaraan bermotor, mau tak mau dia sering membawa kendaraan secara brutal di jalan raya agar dapat sampai di tujuan dengan tepat waktu.

* * *
Istri Marwan menarik resleting jaket putranya hingga satu jengkal di bawah leher. Bayu sudah rapi dan siap untuk pergi bersama ayahnya. Sore itu, mereka akan pergi membeli robot-robotan di toko  mainan. Marwan ingin menepati janjinya untuk membelikan robot-robotan begitu Bayu masuk peringkat 5 besar di kelasnya.
“Anak ayah sudah siap belum untuk menjemput robot impiannya?,” tanya Marwan dari atas motor yang mesinnya sudah menyala.
“Sudah, Yah,” jawab Marwan berlari dengan semangat siap untuk duduk di jok belakang.
“Eit tunggu dulu,” tahan Marwan menghentikan langkah putranya yang hampir naik ke motornya.
“Ada apa lagi Ayah ? Bayu sudah pake jaket, sepatu, kaos kaki dan kacamata,” jelas Bayu sambil menyentuh setiap perlengkapan yang dia sebutkan.
“Ada yang ketinggalan nih, Bayu,” ujar istri Marwan dari dalam rumah sambil membawa helm kecil di tangannya
Bayu cemberut saat mengetahui dia harus mengenakan helm kecil berwarna biru dengan gambar Upin Ipin yang dibawa ibunya.
“Bayu nggak suka pake helm, Ayah. Kepala Bayu sakit kalau pake helm,” bujuk Bayu pada ayahnya.
“Tetapi lebih sakit lagi kalau kepala Bayu kena aspal jalanan karena nggak pake helm,” jelas Marwan lembut pada putranya.
“Valentino Rossi aja yang pebalap hebat, kalau naik motor pake helm. Bayu juga pake ya, biar mirip Valentino Rossi,“ tambah istri Marwan sambil memakaikan helm kepada putranya.

* * *
Ayah, kenapa kita berhenti di sini ? Kitakan belum sampai di toko mainan,” tanya Bayu saat motor yang dikendarai Marwan berhenti di persimpangan jalan.
“Kamu lihat itu Bayu,” tunjuk Marwan pada seonggok tiang yang dapat memancarkan tiga warna berbeda.”Itu namanya lampu lalu lintas. Sekarang yang sedang menyala warnanya merah, artinya semua yang bawa kendaraan harus berhenti dan menunggu sampai warnanya berganti jadi hijau. Kalau warnanya sudah hijau, kita baru boleh jalan lagi,” jelas Marwan sabar pada putranya.
“Kalau yang tengah itu warna apa Ayah?,” tanya Bayu mulai memahami.
“Yang tengah itu warnanya kuning, tandanya kita harus berhati-hati.”
“Ayah…orang itu tetap jalan padahal lampunya masih merah,” teriak Bayu sambil menunjuk ke arah pengendara motor yang menerobos lampu merah dengan kencang.
Marwan hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.
“Orang itu nggak tahu kalau lampunya merah tandanya nggak boleh jalan ya, Yah?,” tanya Bayu polos.
“Orang itu tahu Bayu, tapi mungkin karena nggak ada polisi makanya orang itu tetap jalan.”
“Kalau ada polisi, kenapa memangnya Yah?”
“Nanti ditilang. Dihukum sama Pak Polisi”
“Masuk penjara ya Yah ? Ih sereem.”
“Makanya, Bayu kalau sudah besar, jangan seperti orang itu ya. Jangan menerobos lampu merah meski nggak ada polisi,” nasihat Marwan pada putranya.
“Bayu kalau sudah besar nanti mau jadi seperti Ayah pokoknya. Yang selalu pake helm dan patuh lalu lintas, meski nggak ada Pak Polisi.” jawab Bayu bersemangat tanpa tahu bagaimana sosok ayahnya di jalanan tanpa putranya.
* * *
Marwan menginjak rem kakinya sekuat tenaga. Tangan kanannya sama kuat menarik rem yang bersembunyi di balik stang motornya. Hal itu dia lakukan agar kuda besinya tidak menabrak ibu paruh baya yang melintas di hadapannya dengan santai.
Beruntung, Marwan dapat mengendalikan sepeda motornya sehingga tabrakan itu terhindarkan. Si ibu hanya melintas santai dengan tatapan kesal. Tak terima diberikan tatapan yang demikian, Marwan membuka kaca helmnya.
“Bu, hati-hati dong kalau mau nyebrang. Ibu tuh hampir tertabrak sama saya tahu nggak? Kalau saya nggak rem kuat-kuat, bisa mati ibu,” teriak Marwan marah-marah.
Si ibu yang tadinya telah melewati Marwan tidak terima diteriaki demikian. Dia menghampiri Marwan dengan tatapan yang semakin sinis.
“Heh Pak, mata kamu lihat tidak itu di depan apa namanya ? Zeba cross, tempat buat pejalan kaki menyebrang. Saya sudah benar toh nyebrang di situ. Bapak toh ya kalau tahu ada zebra cross ya mbok lebih pelan jalannya, jangan masih tetap ngebut. Tidak menghargai pejalan kaki. Dasar gila,” omel si ibu di depan wajah Marwan.
“Dasar edan, dikira ini sirkuit balapan apa ya. Bawa motor ngebut, udah salah marah-marah. Dikira jalanan milik nenek moyangnya i,” gerutu si ibu sambil melanjutkan menyebrangnya tetap di jalur zebra cross.
* * *

“Assalamualaikum,” sapa Marwan sambil melepaskan jaketnya begitu sampai rumah.
“Ayah sudah pulaaaaaang. Lihat, Bayu gambar apa Yah. Lihat. Lihat,” sambut Bayu pada Ayahnya dengan buku gambar yang ditinggi-tinggikan oleh tangannya.
“Iya nanti Ayah lihat, tapi Bayu tadi dengar tidak kalau Ayah mengucapkan salam ? Kalau ada yang mengucapkan salam, kita harus menjawabnya terlebih dahulu,” jelas Marwan lembut.
“Ohiya. Waalaikum salam, Ayah,” jawab Bayu malu-malu.
“Nah begitu. Coba mana Ayah lihat, anak Ayah gambar apa sih?,” tanya Marwan sambil meraih buku gambar yang dipegang putranya sejak tadi.
Marwan mengamati gambar yang tidak sepenuhnya sempurna tetapi dapat dipahami. Sebuah potret keadaan jalanan dimana motor dan mobil menunggu di bawah lampu lalu lintas. Di depannya terdapat zebra cross dengan gambar orang yang sedang melintas.
“Ini gambar Ayah dan Bayu yang sedang naik motor tapi berhenti, karena lampunya merah. Tadi ada polisi yang datang ke sekolah dan ngajarin rambu-rambu lalu lintas, Yah. Terus Polisi itu juga bilang kalau mau nyebrang harus di zebra cross. Lihat yah, ini namanya zebra cross, warnanya putih sama hitam. Mirip kaya zebra kan Yah?,” jelas Bayu sambil menunjuk-nunjuk ke buku gambarnya.
“Bayu gambar ada nenek-nenek yang nyebrang di zebra cross, trus Ayah sama Bayu ngeliatin sambil nunggu lampu merahnya berubah. Kalau lampu merahnya udah berubah jadi hijau, orang nggak boleh nyebrang lagi. Polisi tadi juga bilang kalau mau nyebrang harus di zebra cross, karena itu yang paling benar. Tapi, kalau ada orang yang nyebrang di zebra cross trus ditabrak, nanti orang yang nabrak bisa masuk penjara Yah. Karna dia salah udah nggak berhenti pas ada zebra cross,” celoteh Bayu seolah memindahkan apa yang dikatakan polisi di sekolahnya kepada ayahnya.
“Wah Bayu hebat ya, tahu banyak tentang lalu lintas”
“Iya, Yah. Kalau besar nanti Bayu ingin jadi Polisi. Bolehkan Yah?”
Marwan mengelus kepala putranya sambil tersenyum. “Tentu saja boleh.”
“Horeee,” teriak Bayu senang. “Ibu, kata Ayah, Bayu boleh jadi polisi Bu,” teriak Bayu sambil berlari masuk ke rumah untuk menghampiri ibunya.
Marwan melepaskan sepatunya sambil merekam kembali penjelasan putra tunggalnya tadi. Lamunannya juga mengantarkan dia pada peristiwa tadi siang saat hampir menabrak ibu-ibu yang tengah menyebrang di zebra cross. Apa jadinya kalau tadi dia sampai menabrak si ibu. Apakah dia akan dituntut dan dimasukkan ke dalam penjara. Marwan menggelengkan kepalanya seolah mengusir pikiran dan kejadian buruk yang hampir terjadi. Yang dia tahu, dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Nampaknya Marwan sungguh serius untuk tidak mengulangi perbuatannya yang kerap kali melanggar peraturan lalu lintas ataupun berkendara tidak tertib. Hal itu dibuktikannya dengan mengabaikan panggilan yang terus menggetarkan ponselnya. Menjawab telpon dan berbicara sambil berkendara sering kali Marwan lakukan. Padahal, hal itu menjadi penyebab utama kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian.
Tetapi kali ini, Marwan mengabaikan panggilan tersebut dan terus melaju dengan riang gembira. Marwan berhenti menjadi ayah pencitraan yang berperilaku tertib berlalu lintas di hadapan putranya. Dia ingin tulus berperilaku tertib lalu lintas untuk keselamatan dirinya. Ponsel Marwan yang terus bergetar tanpa henti membuat dia meminggirkan kendaraannya dan berhenti untuk menjawab telpon.
Sayangnya, baru saja Marwan ingin menekan tombol jawab, panggilan itu telah berhenti. Terdapat 5 panggilan tidak terjawab dan sebuah pesan singkat dari tetangganya. Tumben sekali tetangga Marwan menelponnya hingga berkali-kali, pikir Marwan. Marwan membuka pesan singkat yang dikirim tetangganya itu. Lututnya terasa lemas begitu membaca pesan di dalamnya.

Pak Marwan, tolong angkat telponnya. Keadaan darurat. Bayu dan istri bapak menjadi korban tabrak lari saat menyebrang di jalan.
* * *
Marwan berhenti di persimpangan saat lampu lalu lintas menyala merah. Pikirannya kalut, matanya sudah berkaca-kaca, tangisnya hampir pecah. Dia tak sabar untuk sampai di Rumah Sakit dan memeluk kedua orang yang amat dia cintai, yaitu istri dan anaknya. Kaki Marwan sudah menginjakkan giginya, meski lampu lalu lintas masih menyala merah.
Marwan melemparkan pandangannya ke sekitar dan tidak menjumpai sosok berbaju coklat yang biasanya berdiri mengawasi. Ini kesempatan yang baik bagi Marwan untuk dapat menerobos lampu merah agar dapat segera sampai di Rumah Sakit. Beberapa pengendara motor lain juga nampak mencari celah dan berhati-hati untuk menerobos lampu merah. Marwan hampir memacu gasnya ketika seakan dia mendengar bisikan di belakangnya.
 “Bayu kalau sudah besar nanti mau jadi seperti Ayah pokoknya. Yang selalu pake helm dan patuh lalu lintas, meski nggak ada Pak Polisi.”
Marwan terkaget dan menoleh ke belakang. Tak ditemuinya pemilik suara itu di jok belakang motor Marwan. Marwan semakin kalut. Dia ingat benar akan ucapan Bayu saat mereka hendak pergi membeli robot-robotan sore itu. Marwan menurunkan gigi motornya dan menunggu lampu lalu lintas itu berganti hijau, baru kemudian melanjutkan perjalanannya. Dia berharap kalau sesuatu yang terburuk tidak akan terjadi.

* * *
Tangis Marwan benar-benar pecah ketika menemukan istri dan anaknya yang telah tertutup kain putih di ruang mayat. Keduanya menjadi korban tabrak lari oleh pengendara motor yang tidak bertanggung jawab ketika mereka sedang menyebrang. Saat kejadian, jalanan memang tengah lengang tetapi terdapat seorang saksi yang menyaksikan ibu dan anak itu menyebrang dengan santai di zebra cross. Tanpa disadari sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju kencang dan menghantam mereka. Keadaan yang sepi tersebut menjadikan kesempatan yang baik bagi si penabrak untuk melarikan diri.
Marwan hanya bisa menangisi keduanya. Terus meratapi sambil terus bertanya pada dirinya sendiri. Inikah balasan untuknya karena kerap melanggar peraturan lalu lintas ? Tapi mengapa balasan ini harus diterima oleh istri dan anaknya ? Mengapa Tuhan tidak menurunkan balasannya langsung pada dirinya? Tak ada yang mampu menjawab semua pertanyaan Marwan. Tak ada seorangpun.

End

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com



March 5, 2015

Hujan (Day 5)

Karena hujan pernah menahanmu di sini
(Utopia – Hujan)



Aku tertahan di sana. Di hadapan air mata penyesalanmu yang turun tanpa henti. Seperti hujan yang tak berhenti semalaman pada hari sebelumnya. Aku memaaafkanmu dan menyeka air matamu. Tetapi, itu setahun  yang lalu.

Detik ini aku lebih ingin menyeka hujan yang turun di malam sebelumnya. Supaya aku mampu membelah malam dan menghampirimu. Tak apa, meski harus kujumpai kamu dengan sesosok pria yang bibirnya menyatu denganmu. Tak apa, meski hatiku akan tercabik di saat itu. Tak apa, meski mungkin aku akan meradang di kala itu. Tak apa, meski aku harus terbuang dengan rasa sakit. Tak apa, asal  bukan saat ini….saat mendengar kenyataan yang tersimpan setahun lamanya.

Tetapi, hujan pernah menahanku di sini. Hujan dari pelupuk matamu
5 Maret 2015
9.40 PM

*inspired by Hujan-Utopia

 

November 11, 2014

Mesin Waktu Denisa (End)







Aku berdiri di balik pohon sambil terus mengamati seorang lelaki berusia 30an yang mematung di depan pagar. Tubuhnya dibalut kemeja putih dan celana biru dongker. Di dada kanannya terdapat badge nama “Deden”.  Nampaknya dia adalah satpam di perumahan ini. Tatapannya penuh harap menunggu seseorang keluar dari rumah besar yang penuh dengan bermacam tanaman hias di dalamnya.

Seperti halnya melihat Denisa kemarin, aku merasa mengenali lelaki itu. Tetapi sebuah nama tak juga hadir dalam benakku.

“Denisaaa...Denisaaa..,” panggil lelaki itu ketika melihat Denisa keluar dari dalam rumah besar itu bersama Maki. Aku berjalan mendekat ke arah pagar. Dan ikut berdiri di sebelah lelaki yang memanggil Denisa tadi.

Denisa menghampiri Deden dengan setengah berlari. “Ayahhh...”

“Denisa, ayo pulang, nak,” ajak Deden yang dipanggil Ayah oleh Denisa. Dahiku semakin berkerut. Tetapi, jika kuamati lebih dalam, wajah Denisa dan Deden memiliki kesamaan. Mereka sama-sama memiliki mata bulat yang indah.

Belum sempat Denisa menjawab, Maki telah berada di belakang Denisa sambil menggamit lengan Denisa. “Denisa-san, kita harus segera pergi. Jika tidak, pesawatnya akan terbang meniggalkan kita”

“Ayah, Denisa ingin naik pesawat bersama Nyonya dan Tuan Suzuki, juga Maki dan Yuki-kun. Kata Maki, dari pesawat Denisa bisa melihat awan. Setelah itu, Denisa juga akan bermain boneka salju. Denisa ingin pergi dulu ya, Ayah”

Denisa menyambut tangan Maki dan berjalan menjauhi pagar, sampai langkah Denisa terhenti karena Ayahnya kembali memanggil.

“Denisa sayang, tunggu sebentar nak!,” pinta Ayah Denisa.

Denisa berlari riang menghampiri Ayahnya yang bediri di balik pagar.

“Ada apa Ayah? Bunda juga sudah tahu kalau Denisa akan naik pesawat bersama Keluarga Suzuki”

Ayah Denisa mengangguk. Kuperhatikan matanya mulai mengumpulkan cairan bening yang sebentar lagi akan meluncur menjadi air mata. Entah Denisa, si bocah polos yang menggemaskan ini menyadarinya atau tidak.

“Apa Denisa tahu kalau Denisa naik pesawat, Denisa tidak akan bertemu dengan Ayah dan Bunda lagi? Karena tempat Denisa ingin melihat salju akan jauh dari rumah Ayah dan Bunda”

Bola mata Denisa berputar ke atas seolah berpikir “Maki, apa tidak ada tempat untuk melihat salju yang dekat dengan rumah Denisa?”

Maki hanya diam. Tidak lama kemudian, Yuki datang dan berdiri mematung di sebelahnya.

“Denisa, ayo pulang, nak. Keluarga Suzuki akan pergi cukup jauh. Kalau Denisa ikut, kamu tidak dapat bertemu dengan Ayah dan Bunda lagi. Kalau sudah begitu, Ayah akan  sedih.”

Sedetik kemudian setets air bening mengalir dari bola mata yang bulat milik lelaki yang dipanggil Ayah oleh Denisa. Melihat Ayahnya menangis, Denisa ikut menangis.

 “Denisa sayang Ayah dan Bunda. Ayah, jangan sedih. Denisa akan pulang sekarang,” teriak Denisa. Dengan sigap dan seolah terbiasa melakukannya, Denisa dengan mudah membuka pagar dan menghambur ke pelukan lelaki yang berlinang air mata itu. Sementara Maki belari ke dalam rumah dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya. Secercah senyum kepuasan tersirat dalam air muka lelaki berseragam satpam itu. Yang kemudian kusadari bahwa dia adalah Ayahku.

* * *
Aku mengerjapkan mataku karena cahaya memenuhi seisi ruangan. Kudapati sebuah foto ukuran 3R tergenggam erat di tangan. Beberapa foto juga berserakan di lantai. Album foto terbuka dan menampakkan isinya. Aku mencoba mengajak tubuhku untuk duduk dan berpikir.

“Ngapain kamu tiduran di gudang gitu sih, Nis?,” tanya seorang wanita yang memasuki ruangan yang kusadari kemudian adalah gudang.

“Bunda yang nyalain lampu barusan?”

“Iya. Bunda mau cari sesuatu”

Setelah peringatan 40 hari kematian Ayah yang berlangsung semalam di rumah, aku rindu dengan Ayah. Kusambagi gudang yang berisi tumpukan album foto kenangan keluarga. Tetapi aku tertidur karena kelelahan menangis saat melihat gambar-gambar indah penuh kenangan.

Setelah sadar betul dari rasa kantuk, kuteliti foto yang ada di genggamanku. Nampak sepasang orang tua berwajah Jepang dengan kedua remaja di samping mereka. Remaja putri yang usianya berkisar 15an dan lelaki tinggi menjulang yang usianya 20an. Aku seakan mengenal mereka dan baru saja bertemu dengan mereka, tetapi dimana?. Otakku terus bekerja untuk mencari jawabannya hingga aku tahu siapa mereka.

Bukankah mereka Maki dan Yuki? Dua kakak beradik keturunan Jepang yang kutemui dalam mimpi semalam.

“Bunda, ini foto siapa ya? Bunda kenal?,” tanyaku langsung pada Bunda yag masih sibuk membongkar isi kardus.

Bunda mendekat dan meraih foto yang kugenggam. “Ooh, ini Keluarga Suzuki. Dulu kamu suka banget main sama anak-anaknya. Ini namanya Maki Suzuki, kalau jalan kemana aja, kamu pasti diajak. Nah, yang ini yang ganteng, kakaknya Maki. Namanya Yuki Suzuki. Setiap pulang kuliah, kamu pasti digendong dan dibelikan roti.”

Bunda menjelaskan dengan sabar sambil menunjuk gambar Yuki dan Maki.

“Kenapa kita bisa kenal dengan keluarga Suzuki, Bun?”

“Karena Ayah jaga di kompleks perumahan mereka. Sementara Bunda pernah jadi pembantu rumah tangga di sebelah rumahnya Keluarga Suzuki. Makanya, kamu suka main sama mereka. Karena si Maki ini suka banget sama anak kecil, ingin punya adik katanya. Bahkan, tadinya kamu hampir dibawa pulang ke Jepang sama mereka lho”

“Masa sih Bun, terus gimana?”

“Bunda sih setuju aja. Ayahmu juga awalnya setuju. Tapi, tiba-tiba kamu pulang sama Ayahmu. Katanya, kamu lebih memilih ikut Ayah dan Bunda dibanding keluarga Suzuki”

Bunda bergegas pergi dari gudang saat mendengar dering telepon rumah yang berbunyi. Aku merenung sambil memutar ulang rekaman mimpi dalam memori, juga cerita singkat Bunda barusan. Semuanya begitu sesuai. Mimpi semalam seperti jalan menuju masa lalu. Mesin waktu lewat mimpi. Ajaib sekali rencana Tuhan. Aku mengulum senyum sendiri.


End

3 September 2012

November 4, 2014

Mesin Waktu Denisa

Mesin Waktu Denisa
by
 Fitria Wardani



“Maki, ayo tangkap bolanya! Kenapa hanya diam saja?,” tanya seorang gadis cilik berusia 5 tahun. Geraknya lincah mengejar bola yag menggelinding tanpa tuan. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan khas anak kecil. Rambutnya yang pendek dengan keriting menggantung bergerak bebas bersama angin sore. Kedua pipi coklatnya yang bulat begitu menggemaskan.

Aku memandanginya begitu seksama, seperti pernah melihatnya di suatu waktu tertentu. Tetapi, otakku tak juga menemukan jawaban siapa gadis cilik yang bermain bola itu. Begitu juga dengan seorang remaja putri yang dipanggil Maki olehnya.

“Maki, kenapa hanya diam? Apa sudah bosan bermain denganku?,”  tanya gadis cilik itu dengan mata yang membulat indah sambil menghampiri Maki.

“Tidak, Denisa-san. Aku sangat senang bermain denganmu. Ayo bermain lagi. Aku janji akan menangkap bolanya,” ujar gadis remaja berkulit cerah yang bernama Maki itu. Dari logat bicaranya, nampaknya Maki adalah orang Jepang asli.

Maki dan Denisa kembali asik bermain bola di taman belakang rumah. Aku duduk mengamati di bangku taman yang begitu nyaman. Pandanganku terbawa oleh bola yang menggelinding bergantian ke arah Maki dan Denisa. Dua gadis berkulit berbeda yang berbahagia, seolah ada ikatan darah antara mereka berdua. Tawa riang keduanya yang menyelimuti suasana taman di sore hari tiba-tiba terhenti oleh sebuah suara yang menggelegar.

“Denisa-san..Denisa-san...dimana kamu? Apakah ingin bersembunyi dari Pangeran Roti yang tampan ini?.”

Sosok tinggi yang menjulang, berkulit terang seperti Maki masuk ke taman dengan plastik yang menggantung di lengannya. Usianya sekitar 20an. Alis matanya tebal dengan dagu yang runcing. Tubuhnya tegap dan wajahnya tampan khas pria Jepang. Siapa lelaki ini? Aku menyipitkan mata hingga menggosok-gosok tak percaya. Apa aku telah jatuh dalam dunia komik-komik Jepang yang kubaca?, tanyaku dalam hati.

“Pangeran Yukiiii,” teriak Denisa sambil menghambur ke arah pria tampan yag bernama Yuki itu.

“Apakah itu cara yang pantas untuk menyambut pangeranmu?,” tanya Yuki sambil melipatkan kedua tangan di depan dadanya . Wajahnya menyiratkan kecewa dan tidak suka. Tapi, tentu saja itu sebuah tipuan untuk Denisa.

Denisa menghubungkan dua telunjuknya sambil menundukkan kepala. Seperti ingin menangis dan ketakutan. “Aku tidak bisa menyambut Yuki-kun seperti yang Yuki-kun inginkan. Karena Yuki-kun begitu tinggi,” ujar Denisa penuh pembelaan dengan manis dan lugu.

Yuki seketika memosisikan tubuhnya dalam keadaan berjongkok di hadapan Denisa. Sedetik kemudian Denisa langsung mencium pipi Yuki dan memeluknya erat. Aku terperanjat kaget melihat kelakuan gadis cilik itu.

“Aku telah menyambut Yuki-kun dengan cium dan peluk. Apa Pangeran Yuki membawa roti lezat?,” tanya Denisa sambil melepas pelukannya.

“Tentu saja. Pangeran Yuki si Pangeran Roti tidak akan pernah ingkar janji. Dan...hari ini Pangeran Yuki akan memberikan hadiah untuk Denisa-san,” jelas Yuki sambil memberikan sebuah boneka kelinci biru.

“Lucuuu sekali. Apa ini untuk Denisa?,” tanya Denisa sambil tak henti mengagumi boneka di tangannya.

“Iya. Namanya Momiji. Kalau kangen dengan Pangeran Yuki, katakan saja pada Momiji. Wajah Momiji akan berubah menjadi Yuki,” jelas Yuki.

Keceriaan di wajah Denisa hilang perlahan “Apa Pangeran Yuki akan pergi jauh? Apa Pangeran Yuki akan meninggalkan Denisa, makanya memberikan Momiji ?,” tanya Denisa bertubi-tubi. Matanya mulai memerah.

Yuki nampak gelagapan, mencari jawaban untuk pertanyaan gadis cilik di hadapannya. Tapi, syukurlah Maki membantuya keluar dari keadaan itu.

“Denisa-san, apa kamu tidak ingin membagi rotimu denganku?,” tanya Maki yang masih memeluk bola di belakang Denisa.

“Iya, ayo kita makan roti dari Pangeran Roti. Kalau sudah dingin, rotinya tidak akan lezat,” tambah Yuki.

 “Baiklah, tapi aku akan memanggil Nyonya Suzuki. Dia juga harus makan roti lezat dari Pangeran Roti,” ujar Denisa sambil berlari masuk ke dalam rumah.

Maki dan Yuki tertinggal di taman belakang dengan wajah yang sama-sama terlipat murung.

“Aku akan membujuk Okasan untuk mengajak Denisa-san pulang bersama kita,” ujar Maki lebih kepada dirinya sendiri.

“Maki-chan, apa kamu ingin membuat Denisa-san terpisah dari kedua orangtuanya?,” tanya Yuki kaget.

“Tapi, aku akan sangat kesepian jika tidak ada Denisa-san. Lagipula, Kak Yuki sebenarnya juga tidak ingin berpisah dengan Denisa-san, bukan?,” tanya Maki sambil berlalu.

“Tapi, bagaimana dengan perasaan orang tuanya? Pikirkan itu, Maki-chan,” teriak Yuki yang menghentikan langkah Maki


“Denisa-san anak yang baik. Setelah besar, dia pasti akan mencari kedua orang tuanya”

to be continued

February 20, 2014

Abel, Kisah Sewindu (End)



cerita sebelumnya



Aku hampir stress dengan semua pemikiranku sendiri hingga Radit datang dan mendekatiku. Awalnya, aku menganggap Radit adalah kakak yang baik dan teman berbagi wawasan. Tetapi, lama kelamaan perlakuannya kepadaku semain istimewa. Radit memeberikan segala hal yang selama ini kuimpikan sebagai seorang gadis. Radit secara tidak langsung memanjakanku dengan seglaa luapan perhatian dan kasih sayangnya. Radit sangat menyayangiku. Aku tahu itu. Maka, saat Radit mengajakku untuk menikah di kala usiaku 21 tahun, aku menerimanya.

Intensitas pertemuanku dengan Albi semakin berkurang. Setiap melihatnya, aku seperti terluka karena tak pernah bisa menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya kepadanya. Aku juga tak pernah tahu seperti apa perasaannya kepadaku. Atau sebaiknya mungkin aku tak perlu tahu, karena saat aku mengetahuinya, aku telah terlambat. Tidak ada yang dapat kuperbuat.

“Makasih, Bi. Aku sudah minta bantuan sama Mia untuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari baju pengatin, catering makanan, gedung, undangan. Kamu nggak perlu khawatir. Anyway, terima kasih sudah menawarkan diri,” jawabku sambil berlalu meninggalkan beranda.

Beberapa menit yang lalu, aku tahu segala usaha Albi mempertahankanku untuk menarikku keluar dari rencana pernikahan ini adalah bukti kalau ia memiliki perasaan yang sama denganku. Tetapi semuanya terlambat, Albian.
* * *

“Saya terima nikahnya Anggita Salsabila binti Hermawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan….”

Salsa. Salsabila. Ya, itu nama Abel yang sesungguhnya. Lalu mengapa ia dipanggil Abel ? Tiba-tiba pikiran itu justru sibuk mengisi kepalaku di tengah ijab kabul yang sedang berlangsung.

Aku menghadiri pernikahan Abel, cinta pertamaku yang bertepuk sebelah tangan.

Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya engkau memilih dia

END

25 Januari 2014
Inspired by Sewindu from Tulus

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis