Showing posts with label social. Show all posts
Showing posts with label social. Show all posts

December 17, 2016

Curhatan 2016


Ini sungguh perjalanan yang mengantarkan saya pada sebuah ‘kehidupan’

Kalimat di atas bagian dari #throwback2015 saya, dan di 2016 ini saya telah benar-benar memasuki kehidupan. The real life. Kehidupan sesungguhnya saat kamu tak lagi mengenakan seragam (sekolah) ataupun status (mahasiswa/kuliah). Ya, 2016 ini saya sungguh menerjemahkan kalau apa yang saya jalani adalah sungguh menjadi manusia dan memulainya.

After #throwback2015 via buku harian, saya menemukan banyak luapan emosi yang lebih serius di awal tahun daripada perasaan menye-menye yang hobi saya curhatin zaman SMA atau kuliah. Mostly tentang kerjaan. Bertemu dengan teman baru dari dunia kerja juga menghadirkan kisah baru bagi saya, ajaibnya saya menemukan kecocokan dan seakan telah mengenal sejak lama pada salah satunya. Bahasa sederhananya adalah klik.

Soal keputusan dan pembelajaran adalah hal besar yang terjadi dalam hidup saya di 2016 ini. Tentang bagaimana kita menggantungkan kepercayaan kepada diri sendiri atas keputusan yang kita ambil, bukan pada keputusan orang lain agar dapat menyalahkan pada nantinya. Dan apapun keputusan yang telah kamu putuskan, tak pernah membuatnya baik untuk menghadirkan kata “kalau saja saya…”

2016 dan Perubahan
Perubahan itu sudah pasti ada, bahkan rasanya terasa besar di tahun ini. Hal ini dikarenakan sudah menasbihkan diri sepenuhnya jadi karyawan full time, maka jadwal bangun tidur hingga pergi tidur di kala weekday seakan menjadi ritme. Imbasnya ke weekend yang sangat berharga digunakan untuk berisitirahat atau bertemu dengan orang yang menjadi prioritas saya. Imbasnya terlihat dengan postingan blog yang sangat menurun drastis. Mostly postingan tahun ini tentang review, baik film, lagu, buku atau juga tempat makan oke.

Perubahan dalam diri saya yang paling saya rasakan adalah kemuakan dengan media. Katakanlah apatis dengan politik dibanding dengan seorang saya di 2-3 tahun lalu dihitung mundur. Dan mulai jenuhnya dengan sosial media. Ya, saya sendiri tidak percaya akan sampai di titik ini. Titik jenuh dengan sosial media yang dihadapi oleh seorang social media freak hahaa. That’s a life, reader. Kamu benar-benar menemukannya ketika telah meningalkan bangku bernama pendidikan dan melebur sesungguhnya bersama masyarakat. Rasanya merindukan teman-temanmu dan kehidupan di dalamnya pada hari-hari yang melelahkan dan sepi.

2016 dan Kehidupan
Makna kehidupan dan semangat itu saya temukan justru dari orang-orang di sekitar, khususnya teman dekat atau saudara. Saat bersilaturahim dan mendengarkan ceritanya, saya selalu merasa bersyukur dengan hidup yang Tuhan hadiahkan saya di saat ini. Tidak jarang juga merasa malu atas apa yang saya sikapi dengan hidup ini. Banyak hal yang diajarkan oleh orang yang saya temui tentang kehidupan, tanpa sepengetahuan mereka. Dan berkali lipat syukur adalah berkah yang Tuhan berikan dalam bentuk orang tua saya saat ini.


Aah 2016 ini ternyata akan benar-benar berakhir. Rasanya begitu cepat, mungkin karena tidak banyak menorehkan banyak postingan di rumah kedua ini. Yang pasti, kehidupan itu akan memasuki rimbanya di 2017 nanti. Entah kenapa saya meyakini hal itu.

Bye, 2016 !


June 14, 2015

Potret Dalam Kereta (part 2)




Sudah hampir 5 tahun berlalu dari postingan Potret Dalam Kereta. Kalau kamu anker (anak kereta), ada baiknya baca postingan itu sambil menerawang pada keadaan perkereta apian di Indonesia. Ya, saya mungkin hanya pengguna kereta Jabodetabek yang sekarang lebih akrab disapa commuter line untuk waktu-waktu tertentu. Tetapi, menggunakan transportasi umum dan bertemu serta bertahan bersama stranger untuk kemudian terpisah karena telah sampai pada tujuannya masing-masing, membuat saya  seperti menemukan banyak kehidupan lain di luar sana. Yang kemudian pada akhirnya mengajak saya untuk bersyukur.

Merujuk kembali pada postingan 5 tahun silam tentang kereta api, maka kereta api di Indonesia, khususnya Jabodetabek sungguh telah berubah untuk 2 tahun terakhir ini. Bukankah kamu setuju, readers? Bagaimana saat ini kita tidak lagi menemukan pedagang yang turut berdesak-desakan menjajakan barang dagangannya di kereta. Yang ada hanyalah berbagai penumpang yang berdesak-desakan untuk sampai pada stasiun tujuan. Bagaimana kita tidak lagi melihat petugas yang merokok sebelum kereta berangkat. Yang ada hanyalah petugas yang dengan cepat membersihkan gerbong sebelum kereta berangkat.

Bagi saya, perlahan Indonesia menuju perubahan yang semakin baik. Kadang kita tidak pernah menyadarinya kalau kita tidak sesekali melihat ke belakang. Mengapa ? karena tidak jarang, kita sering mengisi hari-hari yang kita lewati dengan keluhan. Well, sebenarnya postingan kali ini pointnya bukan itu. saya masih akan share tentang potret kehidupan yang sempat saya temui dalam commuter line.

Hari itu…Sabtu, 28 Maret untuk pertama kalinya saya dan ibu pergi naik commuter line bersama. Sebut saja agenda favorit wanita = Shopping. Tetapi, kejadian ini terjadi saat pulang. Allhamdulillah kami mendapatkan tempat duduk sedari Stasiun Tanah Abang dan akan turin di Stasiun Sudimara. Saat kereta sampai di Stasiun Kebayoran, ada sepasang nenek-kakek yang naik dengan membawa koper yang cukup besar.

Saya ingin memberikan tempat duduk saya kepada nenek-nenek itu, tetapi semua itu hanya ada dalam pikiran. Kadang, terasa sulit untuk bertindak. Sampai pada akhirnya, nyokap berbisik dan meminta saya untuk berdiri dan memberikan tempat duduk itu kepada si nenek. Sayapun mengikuti perintah nyokap. Tetapi, ketika saya mempersilahkan si nenek untuk duduk, dia tidak langsung duduk. Ada percakapan di antara sepasang sejoli itu. begini kira-kira.

Nenek : Kakek, sini duduk
Kakek : Kamu aja yang duduk
Nenek : Kamu aja
Kakek : Udah kamu aja gpp

Begitulah percakapan berulang-ulang sekitar 30 detik. Hingga akhirnya saya memilih untuk menduduki kursi saya kembali. Ahhahaha becanda deh. Pada akhirnya si nenek yang duduk. Sementara saya berdiri dan berbincang kecil dengan kakek.

Cukup lucu sih adegan kakek nenek yang justru saling mempersilahkan satu sama lain untuk duduk. Ya, rasanya lebih so sweet dibandingkan sepasang kekasih LDR-an yang rebutan buat nyuruh nutup telpon duluan. Ah sudahlahh.

Cerita kedua saya alami di gerbong kereta dalam perjalanan pulang menggunakan commuter line tujuan Bogor-Tanah Abang. Ada seorang bocah yang tingkahnya sungguh sangat tidak karuan. Usianya sekitar 3 tahun, kalau mata saya tidak salah menerka dari look nya. Anak laki-laki itu bersama ibunya duduk di hadapan saya dan paling pinggir. Si anak terus saja bergelantungan tidak karuan. Membuat ibunya mau tak mau harus bersusah payah mengimbangi si anak.

Saya haya tersenyum kecil dan sesekali mengernyitkan dahi. Melihat kejadian itu, yang ada kepala saya adalah bagaimana anak itu tumbuh dewasa. Ralat..mungkin lebih tepatnya, bagaimana banyak anak yang tumbuh dengan tidak dewasa ketika mereka sudah besar dengan bertingkah nakal dan bandel. Nggak kebayang aja, kalau pas kecil mereka sudah sangat membuat ibunya susah kepalang dengan tingkahnya lalu saat dewasa masih belum juga menyudahinya.

Bukan maksud apa-apa sih, tapi saya sempat mengambil gambar anak itu. Sesungguhnya anak itu lucu. Tapi, rasanya kamu akan lebih lucu kalau duduk manis, nak. Suapaya semua orang yang di kereta mampu melihat wajahmu yang lucu, nak.

Tingkah Laku si Anak (1)
Tingkah Laku si Anak (2)
Cerita ketiga, masih seputar anak kecil laki-laki. Tapi usianya bukan balita. Mungkin antara 7-8 tahun. Kejadiannya terjadi masih pada hari yang sama tetapi di kereta Tanah Abang-Serpong. Anak itu loncat loncat sambil menggebrak-gebrak jendela pintu saat kereta itu berjalan. Setidaknya itu yang paling saya ingat. Melihat kejadian itu, saya seakan berulang kali menahan nafas. Khawatir jika suatu waktu pintu itu terbuka dan si anak jatuh. Bergidik sendiri bukan kalau membayangkannya?

Kemudian pandangan saya lemparkan kepada ibunya yang tidak menegur si anak. Saya dalam hati mempertanyakan, “Mengapa tidak memperingatkan anaknya yang tidak bisa diam itu? Apakah dia tidah tahu kalau itu menggganggu ketenangan orang yang mungkin saja ingin beristirahat dalam perjalanan?” fiuuh sudahlah.  Saya lebih memilih menutup mata, mencoba tidur seperti apa yang dilakukan teman di sebalah saya.

Kami turun di Stasiun Sudimara dan menunggu teman saya, Marisa yang antre menukarkan kartunya. Sambil menunggu, saya memperhatikan orang-orang yang menyemut keluar dari stasiun untuk segera naik angkot. Seperti yang sering saya lakukan, sebelum aktif menggunakan motor. Hingga kemudian, sepasang mata saya menemukan seorang bocah aktraktif di dalam kereta tadi. Dia berjalan paling depan, diikuti seorang ibu yang mengalungkan pengeras suara di dadanya dan tangan tertumpu di bahu si anak. Di bahu sang ibu, tertumpu lagi sepasang tangan milik lelaki yang berjalan di belakangnya.

Seketika jawaban saya terjawab sudah, mengapa si ibu tidak memperingatkan anaknya di kereta tadi. Mata saya masih belum lepas dari mereka yang saling beriringan berjalan menuju jalan raya untuk menyebrang, dikepalai si anak kecil itu tadi. Seketika saya merasa sangat bersyukur karena Tuhan masih menganugerahi alat indra yang fungsional kepada kedua orang tua saya.

Hari itu, setelah seharian wisata kuliner bersama kedua sahabat saya, ada rasa syukur lai yang saya bawa pulang.

Terima kasih telah membaca


March 7, 2015

Plan, Study, Do, Act (PSDA)


Bersama Ical (kiri) dan Irvan (Kanan) saat alam Penutupan Pekan Koperasi 2014

27 Februari 2014, hari dimana kita semua mendapatkan keputusan diterima atau tidaknya menjadi pengurus, serta pembagiannya. Di hari yang sama juga, kita sedang berkunjung ke Perpustakaan salah satu Universitas Negeri yang tersohor itu. Di hari yang sama itu, kita mengetahui kalau kita nantinya akan menjadi satu tim. Sudah pasti lupa, bagaimana awalnya bisa dekat. Tapi, siapa sangka kalau setahun ke belakang ini ada banyak cerita bersama mereka.

Mengorganisasikan manusia. Berbeda kepala yang sudah pasti berbeda isi. Berbeda kepentingan, berbeda pula waktu untuk menyatukan. Tetapi, bisa dibilang tugas utama kita adalah mengorganisasikan serta mengembangkan mereka, manusia - manusia lain dengan beragam sifat dan kepribadian.

Mudah ? Tentu saja tidak. Sulit ? Rasanya tidak juga, kalau kamu hanya mengenal sebuah kalimat PSDA (Pengembangan Sumber Daya Anggota).  Tetapi, PSDA lebih dari itu. Kami menerjemahkan PSDA sebagai Plan, Study, Do, Act. Iya, mulai dari perencanaan, mempelajari risiko dan konsekuensi serta kemungkinan yang akan timbul dari rencana kita, mengimplementasikan konsep di kepala dan terakhir beraksi dengan percaya diri.

Kami bertiga (saya, Irvan dan Ical) adalah teman sekelas sejak 2011. Liburan bersama setiap tahun sudah sering. Tetapi, bekerjasama untuk suatu hal kami belum pernah melakukannya. Kami bertiga adalah orang yang benar-benar baru di bidang PSDA ini. Tidak ada satupun dari kami yang mengetahui secara dalam tentang PSDA ataupun menjadi staffnya. Maka dari itu, kami harus mempelajarinya bersama. Meraba dalam kegelapan sambil berpegangan satu sama lain dan saling menguatkan serta menyemangati.

Bersama Irvan dan Ical saat Diksar 2014


Namanya juga organisasi, tentu saja kami tidak luput dari yang namanya pertikaian. Adu argument, silang pendapat, atau kesal yang disimpan dalam hati. Semua itu tentunya warna dan jika dikumpulkan hari ini, maka serpihan setahun ke belakang kemarin adalah gunungan cerita yang lucu jika kembali dikenang.

Saya senang bekerjasama dengan 2 orang charming yang memiliki banyak fans di KOPMA (Koperasi Mahasiswa). Seriously, saya suka envy sama Irvan dan Ical yang lebih mudah berbaur bersama anggota. Tertawa dan  ngobrol bersama, tanpa ada sekat. Mereka menjalankan fungsi yang tidak pernah diminta dalam jobdesk kepengurusan, mereka bagaikan “Bapak Anggota”. Jujur saja, meski saya juga bagian dari PSDA tetapi saya sering mendapat julukan jutek dari anggota. Atau bahkan ada beberapa anggota yang takut sama saya. Astaga masa takut sama makhluk seimut saya-_-

Saya percaya kalau Irvan dan Ical adalah kader terbaik yang dimiliki Kopma, terbukti dengan mereka yang diusung anggota menjadi kandidat Ketua Kopma 2015 lalu. Salah satu dari mereka bisa menjadi ketua kalau mereka menginginkannya. Tetapi, pilihan tetap di tangan mereka.

Setahun ini, entah bagaimana caranya kami pada akhirnya mampu melewati semua rintangan dan moment-moment yang bisa diceritakan pada postingan ini. Mulai dari rapat membahas program kerja, perumusan pendidikan pengantar, rapat rekomendasi via WA yang berhari hari, sampai penumpahan kekesalan masing masing atas tanggungjawab bidang kita.

Suasana Rapat Bidang PSDA

Mungkin kita hanya bertiga di PSDA. Berbeda dengan bidang lain yang ada di Kopma yang jumlahnya 4-5, tetapi ketidakhadiran 1 diantara kita bisa mempengaruhi dimulai atau tidaknya sebuah rapat. Dan hal yang demikian pernah terjadi.

Khusus banget untuk partner in crime for the indescribable moments last year, terima kasih untuk kerjasamanya. Terima kasih untuk kesabaran kalian menghadapi saya yang mungkin kurang maksimal dalam menjalankan tugas. Terima kasih untuk terus mensupport saya, bahkan hingga akhir di sidang revisi hari ini. Terima kasih untuk Irvan yang sudah sangat mencoba membela habis-habisan di RAT Januari lalu. Maaf, kalau saya masih kurang maksimal.

Terima kasih juga buat Ical yang selalu jadi partner in crime soal penyampaian informasi kalau ada anggota baru yang nanya ini itu mengenai Klub Bisnis. Terima kasih buat selalu jadi tumpahan unek unek kalau kesal dan sakit hati di saat ngadaiin acara tapi nggak banyak yang datang.

Pokoknya terima kasih untuk kalian berdua, my teammate in PSDA.  Irvan Sopian dan Faisal Fauzi, yang tiba tiba langsung menghampiri dan narik kursi untuk duduk di belakang saya saat pandangan umum siang tadi. Terima kasih, duduknya kalian di belakang saya adalah bentuk dukungan kalian hingga akhir kepada saya. Maaf masih merepotkan dan menjadikan kalian turut serta menanggung tanggung jawab PSDA hingga sebulan ini karena sidang revisi ini. Terima kasih sudah menemani hingga akhir.

By the way, ini ada quotes dari saya soal PSDA. Quotes ini lahir saat rapat rekomendasi di WA pada 15 Januari lalu.


“Gue percaya kita semua yang masuk PSDA belajar untuk memelihara hati. Jadi, semua anak PSDA pasti sabar dan udah biasa disakitiin hatinya”

Bersama Pengawas PSDA 2014

7 Maret 2015
9.10 PM

March 2, 2015

Di Sebuah Angkutan Darat... (Day 2)


Selalu ada tinta dan halaman kosong yang tak bosan menjadi tumpahan. Bahkan saat tulisan ini dibuat, saya sedang berada di dalam angkutan umum .

 Jadi beginikah rasanya menulis dalam perjalanan. Perlu digarisbawahi kalau ini adalah menulis. Bukan mengetik dengan seperangkat gadget masa kini. Saya menulis dengan sebuah pensil mekanik.

Ternyata rasanya sulit, ditambah lagi jalanan Jakarta yang penuh ketidakpastian dan keberagaman. Mulai dari lubang sisa hujan, kemacetan hingga puluhan ekspresi wajah pengisi kemcaetan. Tapi percayalah, sesulitnya menulis di atas angkutan darat yang sedang berjalan tidak akan sesulit menghadapi gerbang kehidupan yang bernama realita.

Selamat malam dan terima kasih telah membaca



October 17, 2014

Demi Ucok (for woman, mother and daughter)



“Hidup itu cuma ada 2 alasan, takut atau cinta. kalau lo takut udah pasti deh lo salah arah” (Glo – Demi Ucok)

                Beberapa hari lalu di tengah penat akan rutinitas, saya iseng menonton film ini. Kebetulan juga sudah lama nggak nonton film. Saya kira film ini memiliki genre yang jenisnya sama dengan film film nasionalis tapi ‘menampar’ seperti Tanah Surga (Katanya), Serdadu Kumbang, dll. Tetapi ternyata film ini jauh dari perkiraan saya. Film tahun 2009 ini sebenarnya didedikasikan for woman, mother and daughter.

                Bercerita tentang Gloria Sinaga, cewek Batak yang berusaha mati-matian untuk mengejar mimpinya menjadi sutradara. Di sisi lain, ibunya –yang akrab disapa ‘Mak Gondut’—mengejar-ngejar agar Glo cepat-cepat menikah dengan cowok Batak juga. Sementara Glo masih ingin membuat film keduanya yang harus lebih professional dari film pertamanya. Sayangnya Glo harus mati-matian mencari orang yang mau membiayai filmnya.

                Ibu Glo bersedia saja membiayai film anaknya dengan syarat Glo harus menikah terlebih dahulu dengan cowok Batak. Tapi Glo nggak mau. Dia tidak ingin menjadi seperti ibunya yang mempunyai mimpi sebagai seorang aktris tapi kemudian menikah dengan cowok Batak dan melupakan mimpinya menjadi seorang aktris karena sudah malas mengejar mimpi.

                Sebenarnya Glo mendapat cek senilai 1 M untuk membuat film dari teman ibunya tetapi Glo yang idealis urung menggunakan cek itu. Mengapa  ? Karena si pemeberi cek itu adalah seorang koruptor.

                Akhirnya dengan tekat ingin mengejar mimpi dan percaya kalau dia bisa mendapatkan uang dari mimpinya, Glo minggat dari rumah untuk mewujudkannya. Dia tinggal di rumah temannya yang lesbi tapi sedang hamil, yaitu Niki. Lucunya, rumah kontrakan Niki ini tidak jauh dari rumah Mak Gondut sehingga Glo dan Mak Gondut  dapat saling memantau satu sama lain melalui teropong. Maklum, Mak Gondut hanya tinggal bersama Manohara (anjing kesayangan), karena ayahnya Glo sudah meninggal. Jadi maklum saja kalau Glo dan Mak Gondut saling mengkhawatirkan satu sama lain.

                Melalui website demiapa.com, Glo mencari orang yang mau mendanai filmnya. (FYI : demiapa.com adalah website dimana kita bisa mensubmit ide film dan memberikan kesempatan bagi yang tertarik dengan ide film kita untuk mendanainya. Nah feedbacknya bisa sekreatif kita. Misalnya yang mau donasi 100 ribu bisa diundang ke Premiere filmnya kalau sudah jadi).
demiapa.com
                Oke, meski ngotot ingin membuat film Glo masih belum tau betul dia ingin membuat film apa hingga akhirnya dia membuat teaser tentang kehidupan ibunya untuk dijadikan film. Mak Gondut ini adalah sosialita yang wara wiri di 3 partai untuk menawarkan Dr. Clear (produk MLM) dan sering mengadakan pagelaran wayang di gereja.

Glo bersama 2 sahabatnya (Niki dan Acun)
                Cerita tentang Mak Gondut ini nampaknya sangat menarik hingga banyak orang yang berniat mendonasikan uangnya untuk film garapan Glo ini. Tetapi, di lain hal Mak Gondut mendapat banyak serangan penghinaan atas teaser itu dari teman-temannya. Hingga akhirnya Mak Gondut jatuh sakit.

                Ada banyak pelajaran kehidupan dalam film ini tentang betapa cintanya seorang ibu kepada anaknya, seperti yang diungkapkan oleh Niki  “Lo sih kalo udah punya anak nggak bakal peduli. semua demi anak lo."

                Film ini akan mengajak kamu tertawa di setiap scene yang natural tetapi menggelitik. Contohnya scene saat Mak Gondut dan Glo di dalam mobil. Mak Gondut ingin mengupdate status di BBMnya tetapi dia tidak mengatahui caranya dan meminta diajari Glo—yang sedang menyetir mobil.
Scene lucu verse saya
                 Film ini juga mengenalkan banyak hal tentang Batak. Diantaranya "keberhasilan perempuan batak itu diliat dari anaknya"  seperti yang diungkapkan Mak Gondut. Film ini juga mengharukan dengan backsong lagu Batak yang entah apa judul dan maknanya. Yang pasti, saya berharap aka nada banyak film sejenis Demi Ucok ini karena mengangkat budaya dan kehidupan sosial masyarakat suku  tertentu. Ya, dengan dikemas dalam film, secara tidak langsung kita turut mempelajari, mengetahui dan melestarikan budaya Indonesia.
Pesta Pernikahan Suku Batak

                Meski mungkin kamu masih asing dengan pemainnya, seperti  Geraldines Sianturi, Saira Jihan, Sunny Soon dan Lina Marpaung, film berdurasi 76 menit ini wajib banget untuk kalian tonton, readers. Happy watching

"gue akan terus ngejar mimpi. jodoh nggak usah dikejar. paling dateng sendiri. kalao nggak dateng sendiri, pasti didatangkan mami" (Glo)










October 3, 2014

CERITA KECE



Tolong jangan illfeel dulu dengan judulnya untuk readers yang tidak tahu ada makna apa di belakangnya. Kece adalah sebuah kepanjangan, yaitu KELAS C. lebih lengkapnya sih AKU KECE (Akuntansi Kelas C). yepp, itu adalah sebutan bagi kelas saya selama hampir 3 tahun ini.

Saya ingat sekali kalau pencetusnya adalah Adi Indawanto, salah satu teman kami. Dicetuskannya tepat tahun 2011 dan diabadikan di nama grup FB. Ada perjalanan panjang yang terjadi bersama mereka. Mulai dari jalan-jalan, jenguk teman yang sakit dan pengajian kelas.

Ada juga cerita Wahel yang sakit tifus dan hampir akukece sekelas menjenguknya, bahkan sampe foto bareng sama kedua orang tuanya. Tepatnya kapan seriously lupa, mungkin yang sakit yang inget  hehe.
Antara Jenguk Orang Sakit dan Ngerebek Rumah Orang (rame bener)
Dan saya juga tidak pernah lupa ada KECE yang meneriakkan saya dan Bonita di Cerdas Cermat Milad FEB 2013 lalu. Mereka sampai beramai-ramai membuat hashtag #fitlovebon dan mention serta sms ke sesame personil KECE untuk mendukung kami. That was so crazy but funny. Thanks guys
Terima Kasih Dukungan Kece atas dukungan di Cerdas Cermat Competitionn
Soal cerita jalan-jalan kami yang ke Puncak untuk kali pertama (2012)  sudah pernah saya share. Untuk yang kedua (masih ke Puncak juga di 2013) tidak saya share. Tetapi ada beberapa dokumentasi yang bisa saya share.

Photo Session Diwarnai Kabut (Jalan Jalan Puncak 2013 )

AKUKECE  memang seakan punya ritual jalan-jalan setiap libur semester ganjil.  Liburan kecil-kecilan sekitar 2-3 hari yang diisi dnegan curhat-curhatan atau game, main uno, dan foto-foto. Ritual baru setahun terakhir ini adalah pengajian kelas menjelang UAS. Biasanya kita khataman quran bareng-bareng sambil ngetag kue-kuean yang dihidangkan setelah khatama semua usai. Semua yang mempersiapkan ya kita bersama.

Pengajian kelas yang pertama itu berlangsung Juni tahun lalu. Lokasinya di rumah Icha, karena masih awal banget banyak yang ikutan. Honestly saya suka sekali dengan foto rame-rame yang semua personil KECE nya kelihatan jelas.

Posenya Keren Semua

Pengajian kelas menjelang UAS di semester 5 diadakannya di Lab.Pojok Bursa, karena waktu yang mendadak dan terbatas. Dokumentasinya juga terbatas karena pada heboh ngetag-in kue kue gitu. Kue emang primadona deh pokoknya, kecuali bagi saya ya. Haha




And then ini pengajian kelas menjelang UAS di semester 6 ini. Jumlahnya drastis berkurang dari setahun yang lalu. Banyak yang nggak datang karena agenda masing-masing dan waktu yang lagi-lagi mendadak. Diadakannya di rumah Ical. Kue – kue masih jadi primadona, tapi kali ini nggak perlu berebut heboh karena semua orang kebagian jatah lebih atas personil KECE lain yang nggak dateng.
Pengajian Kelas Limited Person
Sayang banget sih banyak yang nggak datang, padahal kita sudah jarang ketemuan juga karena sudah beda konsentrasi. But at least, postingan kali ini mungkin akan sangat bermakna pada suatu hari di kala personil KECE membacanya. Nggak tahu juga sih seberapa maknanya , tapi ada kenangan yang dipatrikan di salah satu posting saya.

Perjalanan KECE yang sudah menghadirkan 3 pasangan cinlok, persahabatan dan pertemanan baru yang mungkin terlihatnya berkubu-kubu. Tapi itu wajar sih kalau menurut saya. Asalkan tiap kubu itu nggak saling membunuh atau bermusuhan.

Perjalanan KECE yang menghadirkan laboraturium pembelajaran bagaimana menyelami karakter setiap orang. Perjalanan bersama KECE yang paling manis bagi saya di tahun 2013 kemarin. sudahlah tidak ingin banyak berkata-kata lagi. Harapan saya cuma satu, semoga KECE saling mengingatkan dan saling peduli. Aamiin

Selamat berpuasa

14 Juni 2014









September 20, 2014

Cerita KKN - Kutukan Air Tukang Ayam

Apa pertanyaan pertamamu ketika membuka mata di pagi hari ?

“Jam berapa sekarang ?” atau “Sekarang jam berapa ?”

Selama hampir 30 hari, saat membuka mata di pagi hari hampir semua kaum hawa memiliki pertanyaan yang sama, yaitu “Ada air nggak?”. Kalau bagi geng ayam, ayam adalah barang mewah, maka bagi kami-Tukang Ayam (sebutan buat geng cewek) air adalah barang mewah. Iya, setiap pagi kami selalu wudhu dan buang air kecil dengan air galon.

Kemegahan Rumah Cewek yang Tak Berair


Setiap pagi kami selalu membangunkan cowok untuk menyalakan mesin air atau memancingnya. Dan air tidak langsung menyala begitu saja. Butuh waktu untuk didiamkan terlebih dahulu. Alhasil suara air menjadi hal yang sangat kami rindukan. Pernah waktu itu saya berteriak kegirangan karena kran air seolah mengeluarkan air tapi ternyata itu adalah sebuah tahu yang masuk ke minyak panas. Teman saya sedang menggoreng tahu di bawah rupanya.

edit by RidaQinvi


Dan saat air keluar. Hal itu tidak berlangsung lama, hanya seperti ilusi karena datang sekejap. Nggak jarang airnya mati di kala kita sedang mandi kemudian nyala lagi atau bahkan mati dan tidak menyala sama sekali. Makanya kalau dapat antrian mandi paling terakhir, ada perasaan khawatir tidak kedapatan air. Solusinya ? nggak mandi seharian atau kalau mau cari aman numpang mandi ke rumah bu lurah dan para tetangga. Atau numpang mandi ke kamar mandi anak cowok.

Yang beruntung bisa mandi di kamar mandi rumah sendiri dengan antrian awal juga nggak benar-benar senang dan berhati lapang. Mereka juga biasanya mandi sambil gelisah. Takut kalau airnya mati di tengah-tengah. Atau airnya abis dan kemudian diamuk massa (seisi rumah) karena dituduh ngabisin air. Jadi setiap malam sebelum tidur biasanya kami membujuk anak cowok untuk turun ke bawah, yaitu ke musolla atau masjid dan mengambil air di sana untuk ditampung meski hanya seember.

Pernah suatu malam, kami ber16 turun ke bawah di tengah rintik gerimis yang gelap dan sepi untuk buang air kecil, cuci muka dan sikat gigi sebelum tidur. Tidak hanya itu. Kami juga membawa pulang beberapa ember air sebagai persediaan air untuk buang air kecil di tengah malam. Dan keesokan paginya wudhu dan buang air kecil dengan air galon kalau memang air tampungannya habis sembari menunggu mesin air yang dipancing mau mengeluarkan air. Begitulah keseharian kami.

Maka dari itu, kami tukang ayam kalau melihat air rasanya ingin segera mencuci atau mandi. Maklum airnya memang sulit. Dan pada suatu hari untuk menggembirakan hati kami, kami jalan-jalan ke Curug Cigamea. Rasanya ingin nyuci di sana saat melihat air terjun yang terbuang begitu saja.

Kesibukan KKN 13 di Curug Cigamea

Usut punya usut mungkinkah kami terkena kutukan takabur ?

Jadi saat itu malam jumat sebelum air susahnya makin parah. Saya, Dessy, Sela dan Isti baru selesai mengaji di musolla dan berniat pulang. Kami melewati tempat wudhu sekaligus MCK. Pokoknya tempat yang banyak airnya. Saat itu kaki kami kotor dan masih harus jalan yang lumayan untuk sampai ke rumah. Ada percakapan di sana.

Saya       : guys, kita nggak cuci kaki dulu nih ?
Dessy    : udah cuci kakinya di rumah aja, air kitakan banyak

Sesampainya di rumah, kami mendapat kabar kalau airnya mati dan sejak saat itu air semakin sulit. Pesan bagi kita semua, jangan takabur, nak. Semua yang ada di dunia ini hanya titipan. Sang Pencipta bisa merenggutnya kapanpun Dia mau. Seperti geng ayam yang kehidupannya direnggut karena listriknya mati seharian dan nggak bisa main PES. Seperti tukang ayam yang airnya direnggut sehingga harus numpang PUP di rumah warga.

Dan ternyata tanpa perlu ke Curug Cigamea, ada aliran sungai di Desa. Ya meski untuk mencapainya kamu harus lewat sawah dan jurang jurang gitu. Tapi lagi lagi, saat melihat air. Bawaannya tentu saja ingin mandi. Oh, air kamu memang benar-benar sumber kehidupan.

Kegembiraan Bersama 'Sumber Kehidupan'


FYI : pagi tadi untuk pertama kalinya setelah hampir sebulan, saya bangun dengan tenang. Tanpa perlu bertanya “Ada air nggak ?”


6 September 2014

Cerita KKN - Cerita Ayam Bu Kades




Saya berada di dalam kelompok 13 bersama 13 orang lain dari fakultas berbeda dan belum kenal. Mereka adalah Nanda, Rida, Bobby dari FISIP (Fakultas Ilmu Sosial Politik), Shinta, Tami, Dadan dan Dessy dari FSH (Fakultas Syariah dan Hukum). Ada juga Inu dan Nji dari FAH (Fakultas Adab dan Humaniora), Fadhli dari FIDKOM (Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi), Abdu dari FST (Fakultas Sains dan Teknologi), Isti dan Ina dari FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis). Dan tentu saja teman sejurusan saya, yaitu Sella dan Oji dari FEB.

Postingan saya kali ini akan menceritakan bagaimana kami ber16 tinggal bersama selama hampir 30 hari. Kami nggak sepenuhnya mengenal satu sama lain kecuali yang emang satu jurusan. Kenapa bisa terbentuk jadi satu kelompok bareng ? Awalnya Tami ngajak barengan kelompok KKN, kebetulan kami teman SMA meski gak pernah sekelas dan gak kenal banget juga. Nah saya ngajak teman dari jurusan. Tami ngajak teman dari fakultas lain yang temannya itu ngajak teman di fakultasnya. Yaah you knowlah what I mean. Jadi kita semacam MLM horizontal gitu maybe.

Rumah tinggal kami sebenarnya cukup nyaman. Sangat nyaman bahkan. Kamar mandi ada 2, toilet jongkok dan duduk. Ada TV LCD dan kasur springbed. Rumahnya juga 2 lantai, meski lantai bawahnya adalah garasi yang disulap menjadi dapur. Tapi itu semua tidak ada artinya kalau air dan listrik tidak ada. Dan itu adalah tempat tinggal kaum hawa yang jumlahnya ada 8 orang.

Sementara tepat di sebelahnya ada rumah mungil yang sangat gelap dan lembap dengan kamar mandi yang pintunya sulit dibuka dari dalam, dengan WC yang PHP kalau digunakan untuk BAB dan hanya memiliki 1 kamar. Itulah tempat tinggal Geng Ayam yang jumlahnya juga 8. Kontras memang. Julukannya menjadi seperti kehidupan bawang merah dan bawang putih. (Ya you knowlah siapa yang jadi bawang merah dan bawang putih). Jadi kenapa tim cowok disebut geng ayam ? ini ada sejarahnya dan cerita ayam bu kades setelahnya.

Ayam itu menjadi sebuah makanan yang wauww banget selama kita KKN di Desa. Sebut saja makanan mewah karena jadwal makannya hanya seminggu sekali. Di hari yang entah keberapa kami makan ayam untuk pertama kalinya di desa. Kami makan bersama sama di kertas nasi yang digelar memanjang untuk ber 16. Anak cowok merasa nggak adil dengan pembagian ayamnya, dimana kata mereka, anak cewek dapet 4 potong sementara anak cowok hanya dapat 2 potong. Alhasil di tengah waktu makan, ayam mereka sudah habis dan seolah hanya merasakan ilusi makan ayam, karena ayamnya sudah hilang dalam sekejap.

Saya juga kurang tau bagaimana proses pembagian ayam yang katanya nggak adil itu. Tapi mungkin si anak cowok itu terlau perasa. Mungkin mereka semua berzodiak Leo. Mulai dari situlah kita semua agak sensitive kalau sudah bicara soal ayam dan muncullah sebutan geng ayam.
Geng Ayam yang sedang menanti potongan ayam crispy jatuh dari langit di depan rumah mungil mereka

Karena ayam menjadi sengketa yang dapat memicu perpecahan maka suatu hari kami dikirimkan ayam yang sudah dibumbui dan siap goreng oleh ibunya Dessy. Ayam itu rencananya akan digoreng besok dan karena kita nggak punya lemari pendingin, kita minta tolong Nji untuk menitipkan ayam itu di kulkasnya Bu Kades. Kebetulan juga Nji sering bolak balik ke rumah bu kades untuk membicarakan pembangunan tempat wudhu jadi kayanya lebih enak dia yang naro.

Keesokkan harinya, orang seisi rumah sudah bersuka cita karena akan makan ayam. Dessy yang mau masak juga sudah berpakaian rapi untuk menjemput ayam yang dititipkan di kulkasnya Bu Kades. Tapi sebelum itu, Dessy sempat bertanya ke Nji untuk memastikan kembali apakah ayamnya sudah dititipkan. Karena kalau ternyata udah ngubek ngubek kulkas mencari ayam eh ternyata si ayam masih nangkring di rumah anak cowok tentu saja Dessy yang malu sendirian. Bukan kita.

Usut punya usut Nji tidak menitipkan ayam itu ke kulkasnya Bu Kades. Ayamnya juga nggak ada di rumah anak cowok. Ada salah komunikasi antara anak cewek dan anak cowok. Ayam itu mereka berikan kepada Bu Kades. Iya diberikan secara Cuma-Cuma. Gratis ke Bu Kades dan keluarganya. Bukan dititipkan lho, jadi kita nggak mungkin bisa ambil. Yang kita bisa Cuma melepaskan mimpi makan ayam hari itu dan beberapa hari ke depan.

Cerita ayam bu kades itu terungkap saat saya sedang tidur dan saat mendengar kronologisnya yang demikian, ada banyak perasaan. Entah lucu atau juga miris karena saat itu ayam seolah barang mewah yang menjadi primadona kita semua. Atau juga sedih. Tapi ya apalah mau dikata. Kalau tidak ada cerita soal ayam itu pastilah tidak ada sebutan geng ayam. Tidak ada yang semakin menjadikan kita erat dan satu. Tapi geng ayam hebat lho. Meski mereka nggak makan ayam tapi mereka bisa menang lomba tarik tambang melawan bapak bapak saat lomba 17an.

Makasih juga geng ayam yang tiap pagi dan tiap malam selalu setia memancing sumber kehidupan (baca : AIR).
Geng Ayam yang ikutan panjat pinang

Terima kasih atas waktunya. Sampai bertemu di cerita KKN lainnya
6 September 2014
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis