Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

August 12, 2017

Adhitia Sofyan - (review) 8 Tahun 'Cooling Down'

Image result for 8 tahun adhitia sofyan





Pertama kali jatuh cinta dengan Adhitia Sofyan lewat lagu After The Rain di sekitar tahun 2012. Selanjutnya, lagu-lagu Adhitia Sofyan, baik dari album How to Stop Time, Quiet Down, hingga Forget our Plan adalah ‘teman’ bagi saya untuk menghasilkan postingan-postingan di 2012 hingga 2013 (jumlah postingan produktif).

Ya, musisi yang memiliki bedtime song dan rekaman di kamar tidur ini memang karyanya pas banget untuk menemani saya menulis. Rentetan album terdahulunya justru dibagikan secara gratis di websitenya, makanya saya lengkap mendengarkan. Nah untuk yang Silver Painted Radiance, sejujurnya baru dengar beberapa kali dan belum ada yang sungguh ‘nyangkut’ di kepala.

But well, kali ini saya akan mereview mini album ‘Adhitia Sofyan 8 Tahun.’ Album yang rilis di Youtube 10 July ini terdiri dari 5 lagu (Seniman, Naik Kereta Saja, Dan Ternyata, Sesuatu di Joga, dan 8 Tahun). Album ini terkesan berbeda dari album-album Adhitia Sofyan yang sebelumnya, karena di mini album ini kita tidak akan menemukan lagu Adhitia dengan lirik bahasa Inggris, tetapi bahasa Jawa.

Yup, dari 8 lagu yang mengisi mini album ini, lagu berjudul ‘Dan Ternyata’ adalah lagu dengan lirik bahasa Jawa. Dunno why, but that’s my favourite song in this album. No, bukan karena saya orang Jawa. Tetapi, seriouslyDan Ternyata’ tetap eargasm dan ‘Adhitia banget’ meski liriknya bahasa Jawa. After effect setelah mendengarkan ‘Dan Ternyata’ adalah “Kenapa Adhitia Sofyan bisa bikin lagu seenak ini?”

Lagu ini bercerita tentang seseorang yang masih mengharapkan kekasihnya untuk kembali. Berlaku seperti orang gila setiap malam karena resah dan gelisah, terus berharap kekasihnya akan kembali dan memberinya kabar. Sounds manja sih, tapi for me di lagu ini tetap ada optimisme dari lirik Adhitia Sofyan.

Dan ternyata, kowe ijik tak enteni (dan ternyata, kamu masih kutunggu)
Dan ternyata, aku ndak kemana mana
(Dan Ternyata – Adhitia Sofyan)

I love that simple opening lyrics but have means a lot. Dan part lain di lagu ini yang juga jadi favourite

Nek kowe bali jo lali (Kalau kamu kembali, jangan lupa)
Nek kowe mulih kandhani (Kalau kamu pulang, katakan)
Nek kowe eling kabari (Kalau kamu ingat, beritahu aku)
(Dan Ternyata – Adhitia Sofyan)


Lagu lain yang menjadi favorit adalah ‘Sesuatu di Jogja.’ Iramanya eargasm and I bet, everyone will love this song. Try to listen, readers. Liriknya juga simple tapi kaya akan kosakata.
Terbawa lagi langkahku ke sana
Mantra apa entah yang istimewa
Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja

Dan Jakarta muram kehilanganmu
Terang lampu kota tak lagi sama
Sudah saatnya kau tengok puing yang tertinggal
Sampai kapan akan selalu berlari
Hingga kini masih selalu ku nanti-nanti
(Sesuatu di Jogja – Adhitia Sofyan)

Lagu ini seolah mewakili setiap orang yang tak pernah bosan dengan Jogja dan selalu ingin kembali. Kalian setuju ? (left on comment)

Tiga lagu lain di album ini juga tidak kalah cocok untuk menjadi lagu pengantar tidur atau teman cooling down di ujung hari yang melelahkan (ini sebenarnya curhatan pribadi sih, karena mendengarkan album ini setiap pulang kerja hingga jatuh ketiduran). Mereka adalah ‘Seniman’, ‘Naik Kereta Saja’, dan ‘8 Tahun’.

Seniman lebih awal mengudara di radio-radio dan liriknya penuh keberanian juga puitis tentunya.

Kubilang ku tak bangun terlalu pagi
Ku tahu, ku kan besar jadi seniman

Memandangi hujan berkawankan sepi
Mencari-cari jawaban dunia
Mari duduk, kawan
Secangkir kopi, pinjam apimu
Kita rayakan kesunyian
(Seniman – Adhitia Sofyan)

Untuk lagu ‘Naik Kereta Saja’, taste nya seperti lagu yang harus kamu dengarkan bersama orang tersayang di penguhujung usia. Dan cocok didengarkan sambil naik kereta di perjalanan yang penuh sawah membentang.
Naik kereta saja aku lebih tenang
Memandangi jendela waktu yang terhenti
Mengutuk keinginan yang tak terpenuhi
(Naik Kereta Saja – Adhitia Sofyan)

The last song, ‘8 Tahun’ adalah lagu yang pastinya sarat makna secara personal bagi Adhitia Sofyan, karena personally saya tidak dapat menghubungkan antara judul 8 Tahun dengan lirik yang ada di dalamnya. Mungkin ini semacam perjalanan bermusik Adhitia Sofyan selama 8 tahun ini. Yang pasti, sulit rasanya memilih lagu Adhitia Sofyan yang nggak eargasm, semuanya asyik didengar dan sukses menghantarkanmu tidur atau setidaknya cooling down dari lelah dan penat ibukota. Dan satu lagi, lirik-lirik yang ditulis Adhitia Sofyan selalu penuh makna (cek di sini salah satunya)

Selamat mendengarkan

Ketika angin bicara
Tunjukkan arah titik bertemu
Maukah, kau simpan waktu
Lupakan dunia, temui aku di sana

(8 Tahun – Adhitia Sofyan)


July 1, 2017

Museum Bahari - Kecantikan yang Sunyi di Ujung Jakarta

Museum Bahari tampak dari lantai 2


Finally, my small bucketlist has been checklisted yesterday. That was Maritime Museum a.k.a Museum Bahari, a place that I wanna visit for long time ago. Kenapa ingin ke Museum Bahari ? Simple aja sih, karena letaknya yang berada di ujung Jakarta jadi semakin penasaran. Ditambah lagi, salah satu web series yang pernah bekerjasama dengan salah satu browser sempat mengangkat Museum Bahari sebagai tema dan settingnya. Dan sisa libur lebaran kemarin menjadi pilihan kami untuk berkunjung ke sana.

Museum Bahari terletak di Penjaringan, Jakarta Utara, tepatnya di Jl. Pasar Ikan No.1. Sebagai anak kereta, saya dan teman saya (yang juga anak kereta) memilih commuter line sebagai moda transportasi kami ke sana. Kami turun di Stasiun Jakarta Kota, kemudian naik kopami 02 (seperti metromini tetapi warnanya biru) dan turun di Museum Bahari. Perjalanan dari Stasiun Kota Tua menuju Museum Bahari menggunakan Kopami ini sebenarnya hanya memakan waktu kurang dari 10 menit (tidak termasuk bus yang menunggu penumpang alias ngetem).   

Museum Bahari tampak dari jalan raya
Untuk sampai ke Museum Bahari, kita harus berjalan sekitar 50 meter dari jalan raya. Saat kami berkunjung, keadaan Museum sangat sepi. Mungkin karena efek libur lebaran atau karena hari Jumat sehingga orang-orang shalat Jumat. Anyway, untuk ticketing, Museum Bahari bekerjasama dengan Bank DKI. Menurut saya, hal ini cukup menunjukkan kemajuan dan bentuk peduli pemda Jakarta terhadap museum yang ada di Jakarta. Ya, even bentuk tiketnya jadi sangat nggak menarik sih, kalau dibandingkan dengan tiket Museum Nasional misalnya.

Museum Bahari awalnya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan rempah-rempah pada zaman Belanda, lalu pada tahun 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari. Bangunannya terletak 2 lantai dan sudah banyak yang menggunakan mesin pendingin (air conditioner). Sehingga pengunjung dapat menikmati sejarah di dalamnya dengan nyaman. Meski di beberapa lorong belum ada dan juga terdapat perbaikan.

Perjalanan pertama saya ‘tawaf’ di Museum Bahari disambut oleh lorong berisikan maneken Pelaut Internasional dari berbagai belahan dunia. Mulai dari Ibn Batuta, Laksmana Chengho, Cornelis De Houtman hingga Pangeran Fatahilah . Selanjutnya ada juga lorong legenda laut yang menampilkan maneken beserta infokus yang berisi penjelasan ceritanya. Diantaranya adalah kisah flying dutchmann, Poseidon, Malin Kundang, Ratu Pantai Selatan (Nyi Roro Kidul), The Mermaid, Putri Mandalika, dsb.


Laksamana Cheng Ho

Ibn Batuta
Pangeran Fatahilah
Cornelis de Houtman

Poseidon

Beberapa poster zaman penjajahan Jepang

Sayangnya di lorong legenda laut tersebut, pencahayaannya sangat kurang. Sehingga lorong terlihat menyeramkan (apalagi saat hanya berdua dengan teman saya yang berada di lorong tersebut) sulitnya membaca sejarah tentang legenda tersebut. Di lorong lain, terdapat maneken tentang pelaut wanita. Mulai dari Laksmana Malahayati, hingga Mazu, The Godess of Sea .

Ruang Penyimpanan Rempah-Rempah
Di lantai dasar, Museum Bahari lebih berisikan kapal-kapal yang digunakan oleh masyarakat Indonesia dan miniature beberapa kapal, seperti kapal pinisi dan kapal Belanda.

Salah satu miniatur Kapal Belanda
Kapal Pinisi




Kecantikan Museum Bahari justru terletak di halamannya menurut saya. Dengan barisan jendela tua yang cukup berat untuk dibuka dan kursi kursi batu yang asyik sebagai tempat untuk bercengkrama. Bagi generasi millenialls, halaman Museum Bahari ini justru berisi spot-spot yang instagramable banget. For photo hunter, you really have to visiting this place.  Bersyukurnya kami, saat kesana tidak dalam keadaan yang crowded.

with Radini














Overall berkunjung ke Museum Bahari agak menyedihkan bagi saya. Karena rasanya sangat jauh tertinggal  oleh Negara tetangga (Malaysia) dengan Museum Samuderanya (baca di sini). Terlebih lagi, kita sebagai negeri kepulauan—yang katanya nenek moyangnya adalah seorang pelaut—masih sangatlah kurang untuk pelestarian dan perawatan Museum Bahari. Mungkinkah karena berada di ujung, jadi kurang terperhatikan? Semoga bukan itu alasannya.

Yang jelas, Museum Bahari ini menyimpan kecantikan yang sunyi. Halamannya entah kenapa menginspirasi untuk menjadi spot gardening wedding yang intimate and private. Okay, untuk yang terakhir abaikan saja.




For once time in your life, take your time to visit Maritime Museum, readers.

Terima kasih sudah membaca

Cost :
Tarif Kopami       : Rp. 5.000 (1x perjalanan)
Ticket Museum    : Rp. 5.000

More photo :
NB : Thanks to my friend, who took a pict for us






































May 11, 2017

Review Moview #EuropeOnScreen2017 : The Unknown Girl (La Fille Inconnue)









Europe On Screen (EOS) tahun ini kembali lagi dan saya kembali memilih IFI (Institut Francais Indonesia) sebagai venue untuk menikmati film ini bersama sepupu saya (seperti tahun lalu). Film yang kami (terpaksa) pilih ini adalah The Unknown Girl. Karena memang jam dan harinya bersahabat adalah alasan kami memilih film ini.

Film asal Belgia ini bercerita tentang dr. Jenny Davin, seorang dokter muda yang melakukan pencarian identitas seorang gadis remaja yang ditemukan tewas di dekat tempat prakteknya. Penelusuran dr. Jenny ini juga didasari perasaan bersalahnya kepada sang gadis. Karena pada malam sebelum ditemukan tewas, gadis ini muncul dalam cctv tempat praktek dr. Jenny dan menekan bel. Pada saat yang sama, dr. Jenny meminta Julien (anak magangnya) untuk tidak membukakan pintu. Karena menurut dr. Jenny, hal itu bukanlah darurat, kecuali si pemencet bel melakukannya hingga dua kali.

dr. Jenny bersama Julien (anak magang) saat bel intercom berbunyi

Gadis berkulit hitam yang ditemukan tewas tidak memiliki identitas, sehingga dr. Jenny semakin sangat bersalah jika gadis tersebut harus dikubur tanpa nama. Dengan usahanya sendiri, dr. Jenny mulai melakukan pencarian melalui pasien-pasiennya. Dia menunjukkan foto si gadis yang diambil dari rekaman cctv miliknya atas izin Kantor Detektif setempat.

Pencariannya mulai menemukan titik terang ketika salah seorang pasiennya, lelaki remaja bernama Bryan menunjukkan reaksi yang aneh ketika melihat foto tersebut. Meski awalnya Bryan mengelak, tetapi dr. Jenny dapat menemukan kejanggalan melalui denyut nadi dan pupil mata Bryan saat diperiksa. Tetapi, karena dasarnya remaja yang sedang labil, maka Bryan tetap terus mengelak dan dr. Jenny tak memaksanya untuk mengaku, hanya mengizinkan Bryan untuk datang ke tempatnya praktek jika sudah siap untuk menceritakan.

dr. Jenny mengetahui kalau Bryan mengetahui sesuatu tentang gadis itu melalui perubahan pupilnya

Kesabaran dr. Jenny membuahkan hasil, Bryan datang diantar dengan gurunya dengan keluhan masalah pencernaan. Tetapi dr. Jenny tahu kalau sesungguhnya Bryan datang lebih dari itu. Bryan mengaku melihat gadis berkulit hitam itu di dalam sebuah mobil van bersama lelaki tua. Saat itu dia sedang bersama temannya dan hanya berani mengintip dari kejauhan, dr. Jenny berjanji untuk tidak menceritakan apa yang dijelaskan Bryan kepada siapapun, termasuk orang tua Bryan.

dr. Jenny dengan sabar memeriksa Bryan

Berdasarkan pengakuan Bryan, dr. Jenny menghubungi si pemilik van yang dimaksud dengan dalih ingin membeli van tersebut. Tetapi, pada akhirnya dr. Jenny mengutarakan maksud sesungguhnya adalah pencarian identitas gadis kulit hitam yang tewas itu, karena ia mendapatkan informasi kalau gadis itu pernah terlihat berada di dalam van bersama lelaki tua. Si pemilik van berubah berang mendengar maksud sebenarnya dr. Jenny. Dia langsung mengusir dr. Jenny dari van.

Sebenarnya pemiliki van yang ditemui dr. Jenny adalah anak dari mantan pasien dr. Jenny yang telah meninggal. Jadi tidak sulit baginya untuk mengorek informasi lebih jauh lagi. dr. Jenny menuju rumah sakit tempat si ayah dari anak tersebut dirawat. Lelaki tua yang awalnya menolak untuk memberikan penjelasan akhirnya menjelaskan kepada dr. Jenny bahwa dia dan anaknya tidak mengenal gadis dalam rekaman cctv itu. Anaknya (pemilik van) langsung berubah berang karena mereka memiliki bisnis prostitusi yang berlokasi di dalam van tersebut. Si anak khawatir jika mereka terseret, maka polisi dapat mengetahui bisnis prostitusi tersebut. Sayangya, si anak tiba-tiba datang dan kembali berang menemukan dr. Jenny bersama ayahnya. Tanpa pikir panjang, si anak tidak ragu-ragu untuk menghajar dr. Jenny, meski dr. Jenny dapat menangkisnya.

Seriously di part ini, saya menemukan bahwa orang luar bisa sangat kasar kepada siapapun yang dia tidak suka, tanpa pandang bulu apakah dia wanita atau lelaki. Tetapi, karakter dr. Jenny yang sangat tangguh dan pemberani, which is masih tenang dan selalu waspada di part ini membuat saya sangat salut.

Beruntungnya dr. Jenny sempat diberitahu oleh ayah pemilik van itu jika wanita-wanita berkulit hitam itu biasanya banyak ditemui di cybercafé. Akhirnya dr. Jenny bergegas menuju cybercafé yang dimaksud. Anyway cyber café ini bisa dibilang semacam wartel (warung telepon). dr. Jenny disambut oleh kasir penjaga yang merupakan wanita berkulit hitam. dr. Jenny beralasan ingin menelpon ke Belgium. Dan Dr. Jenny memang menelpon Julien (anak magangnya) yang ngambek usai berseteru dengannya dan melarikan diri ke kampung halamannya.

Usai menghubungi Julien, Dr. Jenny sempat menunjukkan foto si gadis tanpa identitas itu kepada si kasir. Tetapi kasir itu tidak mengenalnya. dr. Jenny belum menyerah, dia meminta izin untuk memperlihatkan kepada 2 tamu lelaki yang sedang menonton tv di cybercafé itu. Tetapi 2 lelaki itu juga mengaku tidak mengenalnya.

Keesokkan harinya, dalam perjalanan pulang setelah dari rumah pasiennya, dr. Jenny dihadang 2 pria kulit hitam yang salah satunya adalah yang ia temui di cybercafé. Mobil dr. Jenny diminta menepi dan kacanya hampir saja di pecahkan. Pria itu meminta dr. Jenny untuk tidak mencari tahu lagi identitas si gadis atau dia akan celaka, karena identitasnya sudah diketahui. Part ini cukup bikin sport jantung buat saya, terlebih lagi saat dr. Jenny beresi keras tidak mau menurunkan kaca mobilnya tetapi diancam dengan hantaman linggis di kap mobilnya.

dr. Jenny yang diserang pria Cybercafe

Kejadiannya berlangsung siang hari di tempat yang cukup sepi. Setelah dua lelaki itu pergi dengan mobilnya, dr. Jenny justru menemukan Bryan lewat menggunakan motor bersama temannya. Tanpa pikir panjang, dr. Jenny langsung menyusulnya dan menemukan motor yang digunakan terparkir di sekitar gudang. Mengetahui dr. Jenny memanggil manggil namanya, Bryan keluar dengan ekspresi tidak senang. Tanpa pikir panjang dia mendorong dr. Jenny ke dalam sebuah lubang yang besar dan dalam.

dr. Jenny saat menemukan Bryan di gudnag kosong
Di part ini, saya hampir tertipu oleh adegan Bryan mengambil sebuah kawat besi besar yang meneyerupai pagar penutup. Bryan ternyata menggunakan itu untuk membantu dr. Jenny naik ke permukaan. Saya pikir awalnya Bryan akan menutup lubang itu.

Atas kejadian itu, keluarga Bryan mendatangi dr. Jenny pada malam harinya dan memutuskan untuk mengganti dokter karena merasa dr.Jenny sudah sangat tidak professional dengan masih mengganggu Bryan demi kepentingannya semata. dr, Jenny menerima keputusan tersebut dengan bijak dan akan mengirmkan medical record nya kepada dokter baru yang mereka tunjuk.

Namun tengah malam setelah kepergian keluarga Bryan dari tempat prakteknya, dr. Jenny mendapatkan telpon dari ayah Bryan yang tiba-tiba terkena serangan entah apa namanya. Yang pasti, dr.Jenny mulai mencium bahwa ayah Bryan ini mengetahui sesuatu. Sama halnya dengan anaknya, si ayah juga tidak mau mengaku. Meski, kemudian dia datang menemui dr.Jenny di malam berikutnya dan menjelaskan cerita lengkapnya.

Ayah Bryan mencoba ‘menawar’ gadis itu, tetapi si gadis tidak cocok dengan harganya. Ayah Bryan terus berusaha mengejar hingga berujung pada si gadis jatuh ke lubang sebuah pengerjaan proyek dan tertimpa beton. Mengetahui hal itu, dr.Jenny tidak lansgung menelpon polisi. Dia ingin ayah Bryan yang melakukannya sendiri. Dan pada akhirnya ayah Bryan menelpon polisi.

dr. Jenny saat meminta ayah Bryan untuk melaporkan dirinya ke polisi

Sebelum pengakuan tersebut, dr. Jenny telah mendapat kabar dari kantor detektif bahwa identitas si gadis sudah ditemukan. Namanya adalah Selena Ndong. Tetapi ternyata hal itu tidak benar. Nama asli gadis berkulit hitam yang tewas itu adalah Felicia. Hal itu diungkapkan oleh si kakak kepada dr.Jenny beberapa hari setelah ayah Bryan mengakui perbuatannya. Fyi, si kakak ini adalah kasir wanita di cybercafé. Pacar si kakak (yang juga merupakan penyerang dr.Jenny di jalan) yang memberikan identitas palsu kepada detektif karena tidak ingin dirinya diseret ke polisi karena identitasnya sebagain imigran gelap.

Perjalanan film berdurasi 113 menit ini cukup menarik dan tidak membosankan. Penonton diajak sangat menikmati. Meski beberapa perpindahan dari scene satu ke yang lainya terasa sangat kasar bagi saya.  Tetapi Dardenne bersaudara ini mampu menguatkan karakter dr.Jenny yang sangat humanis melalui banyak scene antara si dokter dengan pasien-pasiennya. Hal ini terlihat bagaimana dr. Jenny yang mengantarkan si pasien sampai depan pintu praktek, baru kemudian memanggil pasien selanjutnya.

Atau juga bagaimana dr. Jenny mendatangi pasien-pasiennya satu per satu atas panggilan telepon karena darurat. Pasiennya juga sangat menyayangi dr. Jenny dengan membawakan makanan pada kunjungannya. Tetapi, sosok humanis dr. Jenny yang rela menghadapi bahaya hanya untuk mengetahui identitas si gadis tidak dikenal membuat saya merasa sosok dr.Jenny adalah ilusi di masa kini. Mungkinkah kita masih benar-benar menemukan sosok dr. Jenny di zaman yang penuh dengan berbagai kepentingan di setiap kandungan pemikiran setiap orang? Rasanya sulit.

Salah satu scene kehangatan antara dr.Jenny dengan salah satu pasiennya

Film  bergenre discovery ini sangat recommended untuk kamu tonton pada pagelaran Europe On Screen 2017. Karena selain merupakan nominator untuk Palme d’Or at the Cannes Film Festival 2016 dan nominator untuk Best Foreign Film at the Cesar Awards 2017, film ini adalah winner of Best Non-US Release at the Online Film Critics Society Awards 2017.



Happy Watching, readers.


    


April 23, 2017

80H in Malaysia - KL Story



As I promised on Malacca Story before, perjalanan kali ini adalah tentang extend saya dengan Mba Ria di KL (Kuala Lumpur). Perjalanan dari Melaka ke KL menghabiskan waktu hampir 4 jam. Dan saat itu KL sedang diguyur hujan jadi cukup lumayan macet dan genangan di beberapa titik.

Tujuan utama kita (masih bersama rombongan) adalah KLCC Suria. Rasanya seperti kurang sah ya kalau Ke Malaysia tapi belum foto dengan background Gedung Kembar Petronas. Menara Petronas sendiri berada tepat di belakang Mall Suria.

Sebelum menuju kesana, kami sempat keliling-keliling di Suria—yang tampilannya layaknya Grand Indonesia. Salah satu yang cukup bikin surprised adalah toilet dalam Mall yang berbayar. Yup, namanya premium toilet berada di lantai dasar dan pengunjung dikenakan RM 2 untuk sekali masuk. Akhirnya kita memutuskan untuk naik satu lantai agar dapat menggunkan toilet free. Kalau dipikir lagi sih, Premium Toilet ini mungkin menjadikan pengunjung—yang terburu-buru ingin menggunakan toilet—sebagai sasaran utama, ditambah lagi dengan akses yang mudah, yaitu lantai dasar. Jadi, pengunjung tidak perlu menghabiskan waktu untuk pergi ke toilet yang lebih jauh.

Pasca dari toilet, saya bersama Mba Ria memutuskan untuk berpisah dengan rombongan dan menuju kolam air mancur. Suasana pasca hujan membuat keadaan sekitar licin meski sejuk. Akhirnya kita mengambil beberapa gambar dengan Menara Petronas  terpotong.

 Anyway, air mancur yang ada di belakang kami setiap beberapa menit melakukan pergantian tarian atau gerakan yang berbeda beda. Suasana di depan kolam ini juga sangat ramai dengan pengunjung yang berfoto foto atau hanya duduk-duduk sambil merokok. Ada juga pedagang fish eyes maupun selfie stick alias tongsis, jadi tidak heran jika banyak photobomb karena banyaknya orang yang berlalu lalang.

With Foutain as a background








Setelah cukup banyak berfoto dengan background Menara Petronas yang terpotong, kami memutuskan untuk berjalan jalan di seputar taman KLCC yang memang sangat luas, terawat, indah dan juga dipenuhi banyak orang khususnya para remaja. Setelah berjalan beberapa menit, finally kami menemukan spot yang bagus dengan background Menara Petronas tanpa terpotong lagi. Meski, photobomb masih sering ada karena banyaknya orang yang berlalu lalang. Untuk yang satu ini, rasanya memang harus dimaklumi. Namanya juga tempat umum, apalagi ikon suatu Negara.

A must photo shoot

a must selfie


Taman di KLCC

KL Tower yang tampak dari kejauhan

Setelah puas menjepret sana sini, kami memutuskan untuk masuk lagi ke dalam Suria dan belanja coklat di Supermarket Setan. Dan karena masih dihinggapi rasa penasaran akan isi dari Menara Petronas serta jembatan yang menghubungkannya (sky bridge), saya dan Mba Ria mencari tahu. Ternyata, untuk dapat naik ke atas dan ke skybridge dikenakan biaya RM 85 atau sekitar IDR 260.000. karena waktu yang sudah sangat sempit dan antrean yang cukup mengular, kami memutuskan untuk berfoto di depan maketnya dan window shopping di toko souvenir yang ada di dekatnya.


Maket Menara Petrnoas as a Background

Melihat 2 mobil di atas, jadi tergoda untuk selfie (Mall Suria)
Jam 19.00 waktu Malaysia adalah waktu yang kita sepakati untuk bertemu karena rombongan harus segera ke bandara. Dan mulai dari sejak itu, saya dan Mba Ria memulai perjalanan backpackeran kami yang sebenarnya masih buta soal akses transportasi umum di Malaysia yang terintegrasi. Beruntungnya ada temannya teman yang memberikan tumpangan dan rekomendasi tempat untuk menginap, yaitu di daerah Chow Kit. Alasannya, karena lebih dekat ke Pasar Seni ataupun Petailing Street. (FYI: tujuan utama kita sih emang pengen ke situ, makanya minta diarahin penginapan yang dekat untuk kesitu. Meski tadinya berencana untuk menginap di Bukit Bintang). Selain itu, daerah Chow Kit makanannya juga banyak  yang halal.

Setelah menemukan hotel yang dirasa pas, kami langsung check in dan menaruh barang-barang lalu melanjutkan keluar untuk mencari makan. Beruntungnya hotel kami dekat dengan KFC, jadi kami memutuskan untuk makan di KFC. By the way, KFC di Malaysia hanya menyediakan nasi lemak, tidak ada nasi putih. Karena emang dasarnya lapar dan butuh asupan energi untuk melanjutkan perjalanan—yang medannya belum benar-benar diketahui—maka sayapun melahap nikmat. Sementara, partner in crime saya, Mba Ria nggak memakan nasi lemaknya.

Mengingat pesawat kita akan flight keesokan harinya pukul 18.00, maka kami memulai shopping (re : beli oleh-oleh) pasca makan malam. Tujuan utama adalah Petailing Street. Kami mencoba naik bus umum setelah bertanya sana sini. Karena orang-orang yang kami tanya entah kenapa tidak benar-benar mengetahui rute bus mana yang digunakan ke tempat tujuan.

Setelah cukup lama menunggu, kami naik bus dengan tarif RM 1. Cukup murah dan jauh dekat tarifnya memang sama. Perjalanan tidak terlalu jauh ditambah tidak macet juga. Mungkin sekitar 15 menit. Sayangnya, kami tidak benar-benar tahu dimana kami turun, sehingga kami masih harus berjalan lagi untuk mencari Petailing Street. Dan sesungguhnya kami baru tahu kalau Petailing Street itu ya China Town.

Untuk barang-barang yang ditawarkan sesungguhnya hampir sama seperti di Indonesia. Jadi kok rasanya seperti tidak ada yang khas ya, rasanya malah lebih bagus di Melaka. Tapi toh tetap saja ‘tawaf’ di Petailing Street cukup memakan waktu karena tanpa terasa sudah pukul 23.00. Bus umum ataupun bus RapidKL dan GoKL berhenti beroperasi pukul 23.00. Salah satu pemilik toko menawarkan untuk mengantar kami ke hotel dengan mobilnya, tetapi harga yang dipatok cukup mahal (lupa, kalo tidak salah RM 25). Untuk taxi sebenarnya ada banyak yang terparkir tetapi khawatir harga yang dipatok akan seenaknya karena sudah malam, kami mencoba untuk ke Stasiun LRT dekat Pasar Seni.

Suasana di Stasiun LRT sudah pasti sepi. Beberapa orang masih terlihat termasuk seorang Bapak Bapak yang membantu kami untuk memesan tiket ke Chow Kit. Tetapi, berdasarkan penjelasan si Bapak, rute yang kami tempuh haruslah transit ke KL Central terlebih dahulu dan berganti MRT. Karena khawatir MRT menuju Chow Kit sudah tidak beroperasi ketika kami sudah sampai di KL Central, si Bapak tidak merekomendasikan. Akhirnya kami tidak jadi beli tiket dan turun untuk keluar stasiun.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam dan suasana sekitar cukup sepi. Meski tampak beberapa pekerja dan mobil berat yang sedang mengerjakan perbaikan trotoar atau juga beberapa turis backpacker yang sedang mencari alamat. Akhirnya kami memutuskan untuk order Grab Car dan berdoa semoga ada yang mau mengangkut kami.

Setelah sempat sekali dicancel oleh si driver, allhamdulillah kami berhasil mendapatkan driver yang baik hati. Lupa namanya siapa, yang pasti orang India dan ternyata dia bekerja di IBM (based on pengakuannya sih gitu). Btw si driver baik hati itu langsung dapat mengenali kalau kami bukan penduduk setempat. Nah berawal dari cerita singkat apa yang membawa kami ke Malaysia dan besok akan segera pulang, si driver berbaik hati menawarkan kami untuk berkeliling KL.

Well, mungkin harus diralat bukan menawarkan melainkan sangat menganjurkan “Kalian sudah ke Bukit Bintang? Kalian harus ke sana jika ke Malaysia. Kalian sudah kemana saja? Ini malam terkahir kalian di Malaysia, kalian harus ke sana”. Saya dan Mba Ria hanya bertatapan sambil tersenyum. Karena awalnya kami memang berencana menginap di Bukit Bintang tetapi rencana berubah di tengah perjalanan hehe.

Sambil berbincang, si driver baik hati ini bagaikan guide kami. Mengemudi dengan baik dan menjelaskan setiap spot yang kami lewati. Mulai dari Bukit Bintang yang ramai, lampu Menara Petronas yang sudah mulai dimatikan setengahnya pada jam tertentu, pabrik coklat murah untuk turis dll. Yang pasti untuk berptar-putar itu dia tidak menargetkan berapa tarifnya. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada kita ingin memberinya berapa.

Anyway, ternyata kita sempat terlewat dari Hotel. Hem, maklum hotelnya memang agak terpencil jadi sulit terlihat. Akibat terlewat dan jalan di Malaysia yang kebanyakan hanya satu arah, jadi kita harus memutar yang justru membawa kita melalui jalanan Pasar Chow Kit dan jalan-jalan tikus. Honestly, saat sudah memasuki jalanan-jalanan yang sempit dan sepi timbul kekhawatiran kalau tiba-tiba ada orang jahat yang muncul yang ternyata komplotan si driver. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terjadi. Kami sampai hotel dengan selamat pukul 01.30 dini hari.

Setelahnya tentu saja kami tidak tidur, melainkan membongkar koper dan membereskan untuk persiapan besok. Tidur di hotel juga hanya beberapa jam, karena pukul 08.00 kami sudah keluar hotel untuk mencari sarapan. Kali ini kami mencoba sarapan di convenience store (seven eleven). Mba Ria memilih indomie goreng dalam cup sementara saya porridge dalam kemasan dan susu kotak sebagai menu breakfast

Itinerary kami sebelumnya, pagi ini ingin mengunjung Masjid Jamek dan Kuala Lumpur City Gallery tetapi lagi-lagi semua berubah di tengah perjalanan. Mengingat waktu yang sangat terbuang karena belum benar-benar mengetahui bagaimana akses menggunakan transportasi di KL, kita masih kekurangan waktu untuk mencari oleh-oleh. Dan setelah sarapan, kami kembali ke Petailing Street dan sekaligus menjajal bagaimana rasanya belanja di Central Market atau Pasar Seni. Bye bye Masjid Jamek dan Kuala Lumpur City Gallery.

Kali ini, saya dan Mba Ria menuju Pasar Seni menggunakan bis RapidKL dengan tariff RM 1 juga (sama dengan bus umum). Di part ini rasanya gregetan, karena saya baru tahu kalau ternyata kita bisa naik bus ini dengan membayar langsung sebelum naik. Karena based on browsing sebelum tiba di KL, ada kartu terintegrasi yang digunakan untuk naik bus ini maupun MKT RapidKL. Nah karena kami tidak tahu dimana membelinya, maka sejak berada di KL kami tidak pernah naik bus ini meski sering sekali berkeliaran di depan mata. Huhuhuhu, kalau tau seperti itu semalam kita nggak perlu seperti bocah ilang dan kelamaan nunggu.

Pemandangan dari bus

Sesampainya di Central Market, ternyata belum buka karena masih jam 09.00 pagi. Sementara Central Market baru mulai buka jam 10 pagi. Akhirnya kita memutuskan untuk ‘tawaf’ lagi di Petailing Street. Nggak tahu kenapa ya, ini tempat mungkin ada magnetnya karena berhasil menarik kita untuk berkali kali kembali ke sini. Tetapi karena masih terlalu pagi, belum banyak toko-toko yang buka, kecuali rumah makan yang didominasi dengan menu pork.



Main problem saya dan Mba Ria adalah bingung mencari buah tangan yang pas untuk ibu-ibu kami, sampai saat kami menemukan sebuah toko dengan baju yang modelnya unik. Harganya lumayan fantastis, lebih fantastis lagi ketika si penjual menurunkan harga demi membujuk kita untuk mau membeli. Sayangnya, kami ragu kalau ibu-ibu kami mau mengenakan baju itu, akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan si penjual dengan rasa takut karena si penjual ini malas dan kiranya kami hanya main-main untuk menawar. (duh maaf ya pak cik, nggak maksud deh).

Demi menghindari si penjual, kita memutar jalan ke Central Market melewati jalan-jalan lain hinga melewati pasar bekas yang seriously baunya membuat saya hampir muntah. Setelah perjuangan yang panjang menembus bau yang sangat mengaduk aduk perut di pasar bekas itu, kami berhasil menemukan jalan keluar dan sampai di Central Market.

Suasananya sangat nyaman untuk berbelanja dan untuk pecinta crafting, maka ini surganya. Barang yang dijual di Central Market beberapa juga dapat kamu temui di Petailing Street meski harganya lebih murah. Tetapi banyak barang unik dan cantik yang hanya ada di Central Market. Bisa dibilang harga barang yang dijual di Central Market ini lebih tinggi tetapi mungkin sepadan dengan suasana belanja di dalamnya.

Tampak Luar Pasar Seni (Central Market)


Meski sudah tawaf berkali-kali di Central Market, kami tak juga menemukan buah tangan yang pas untuk ibu-ibu kami. Sampai akhirnya saya menemukan yang pas karena nyaris menyerah (kaki mulai pegal). Sementara Mba Ria masih juga belum. Tetapi jam 12 kita sudah harus check out dari hotel. Akhirnya kita kembali ke hotel.

Allhamdulillah kita tidak terlambat check out, meski sempat turun di jalan yang salah sehingga harus jalan ke hotel melalui jalan tembusan. What a really hard day for us. Karena memang sudah tengah hari dan perut mulai keroncongan akhirnya kami memutuskan untuk makan di dekat hotel. Penjualnya orang Indonesia, bahkan orang Jawa. Tetapi menunya tetap saja nasi lemak. Dan minuman yang saya pesan adalah Rybenna Lychee Tea. Pilihan tepat untuk KL yang super panas. Jajanan lain yag perlu dicoba adalah potongan buah segar (jambu) dengan coklat bubuk sebagai bumbunya. Kalau di Indonesia mungkin disebut sebagi rujak.

Setelah kenyang mengisi perut (btw, Mba Ria lagi –lagi nggak makan karena nggak suka sama nasi lemak), kita berjalan menuju halte dengan menyeret-nyeret koper menyebrang di tengah jalan. Oke, seriously untuk perkara menyebrang jalan ini agak sanksi apakah dapat dilakukan bebas, sementara memang tidak ada zebra cross ataupun jembatan penyebrangan. Yang pasti kalau memang ada cctv, sudah pasti yang menyebrang sembrangan adalah orang Indonesia. Huhuhuhu maafkan.

Btw kemana perjalanan kita selanjutnya ? Kembali ke Central Market, karena Mba Ria masih kekurangan buah tangan. Well, partner saya yang satu ini memang sangat totalitas dalam memberikan buah tangan  kepada keluarganya. Jadi kami kembali ke Central Market dengan bus umum.

Saat menunggu bus di halte, kami sempat berbincang dengan bapak-bapak yang ternyata adalah orang Indonesia. Beliau berasal dari Riau dan sudah 15 tahun bekerja di Malaysia. Karena tujuan kita sama yaitu Pasar Seni a.k.a Central Market, maka beliau membantu kita dalam menaikkan koper ke dalam bus. Begitu juga saat turun. Anyway selama setiap naik bus di KL, kita allhamdulillah selalu mendapatkan tempat duduk loh.

Meski jalanannya agak ribet dan tempat yang sebenarnya berdekatan tetapi terasa jauh karena harus memutar, KL lumayan tertata sih dibandingkan Jakarta. Volume motor yang tidak seganas di Jakarta menurut saya menjadi salah satu pembedanya. Harga angkutan umum (bus) yang seragam yaitu 1 RM kemanapun juga menjadikan masyarakatnya tidak ragu menggunakan transportasi umum.



Setelah menunggu Mba Ria ‘tawaf’ sendirian di Central Market, kami memutuskan untuk ke bandara menggunakan KLIA Express (semacam kereta bandara). Harganya cukup lumayan tetapi ada jaminan akan tiba di bandara dalam 1 jam. Kami sudah sepakat harus ampai di bandara sekitar pukul 15.00, karena pesawat akan flight pukul 18.00. Mengingat sudah pukul 14.00, maka kami segera ke KL Central untuk naik KLIA Express.

Kami pergi ke KL Central menggunakan LRT dari Stasiun Pasar Seni. Akhirnya kami menjajal membeli tiket di ticket machine. Nah sistemnya bukan kartu, tetapi semacam koin plastik berwarna biru (disebut token) yang imut-imut dan rentan banget untuk hilang atau terselip. Kalau sudah begitu, jangan harap kita bisa keluar dari stasiun tujuan. Karena untuk melewati gate keluar stasiun kita harus menggunakan token biru itu.

Image result for token lrt malaysia


Image result for token lrt malaysia



Perjalanan dari Stasiun Pasar Seni menuju KL Central hanya berjarak 1 stasiun, sehingga tarifnya hanya RM 1. Btw untuk segala keriwehan di LRT ini kami tidak sempat mendokumentasikan, karena berjibaku dengan waktu untuk dapat sampai secepatnya di bandara. Begitu tiba di KL Central, kami langsung menuju counter ticket KLIA Express. Tarifnya lumayan mahal, yaitu RM 55. Tetapi sebanding dengan kenyamanan yang ditawarkan juga kecepatannya. Kami hanya menghabiskan waktu 30 menit untuk sampai di bandara. Padahal jika menggunakan jalur darat, bisa sampai 2 jam. Bravo lah untuk KLIA Express. Anyway, lagi-lagi kami bertemu dengan orang Indonesia yang berasal dari Aceh saat ada di KLIA Express. Beliau sedang kunjungan kerja di Malaysia.

Selfie ceria di dalam KLIA Express
Favourite Place from log hard tired day
Just arrived in KLIA

Perasaan lega tiada tara begitu sampai di bandara. Meski pada akhirnya ternyata pesawat delay, tetapi perjalanan ini allhamdulillah berhasil kami selesaikan dan sampai di Jakarta. Thanks to Mba Ria who always help me in every situation. Apalagi saat bongkar koper di toilet bandara dan menata ulang packing kita untuk mengamankan buah tangan (khawatir ditahan pihak imigrasi). Juga untu semua perjalanan yang random dan melelahkan, tawaf berulang-ulang, panik karena loket checked in bagasi sudah tutup. Thanks for sharing in every situation dan menjadi pendengar keluh kesah, curhatan receh selama di Malaysia. Finally, we did it ya Mbak, backpackeran meski dorong-dorong koper. Dan maafin karena salah info soal RapidKL yang ternyata bisa naik dan bayar langsung. At least, dari kerandoman itinerary ini, kita bisa menjaajal hampir semua public transportation di Malaysia.

With My Partner in Crime, Mba Ria

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Semoga bermanfaat untuk readers. Yang pasti kalau mau jalan-jalan plus shopping, 2 hari rasanya nggak cukup di KL.

Nah, supaya layaknya blog traveler, saya akan sharing cost selama 2 hari di KL.


Pengeluaran :
Hotel : RM 30/night (sharing)
Diner in KFC : RM 7,9
Uber : RM 10 ( sharing)
Breakfast in Sevel : RM 4,9
Lunch : RM 6,3
KLIA Express : RM 55
Bus : RM 1/people
LRT : RM 1 (depends on destination)




Me in super riweh pose









© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis