January 24, 2014

Secret







Secret 
by Adhitia Sofyan



About the song :
That secret thought behind your head that you’d always want to steal the one you want from others.




Can you keep a secret, Just a little secret
It wont take much of your time
Maybe it’s the weather, I don’t really bother
I’m just trying to make you mine

Leave your boring castle
Run with me

And when you hold my hand
I’ll be all right I would not cry
In to the open air
We’ll see the light along the way

Will you take a moment, just a little moment
It wont take much of your plan
If destiny is waiting, tell her I’ll be walking
Cause I’m not playing the waiting game

#bridge
Maybe it’s the weather
I don’t really bother
I’m just trying to make you mine
If destiny is waiting
Tell her I’ll be leaving
Run with me
Run with me



January 20, 2014

Querida Ocha #2


Querida Ocha
Oleh :
Fitria Wardani






Sekotak Double Cheesy Pizza terhidang di depanku dan Sandy—yang sedang menggarap laporan keuangan bulanan Querida Ocha.
“Cihuyy Pizza. Tau aja gue lagi laper, Ga,” sambut Sandy segera sambil menjauhkan semua bukti transaksi keuangan yang sedari tadi mengepungnya.
Sementara Arga si pembawa Pizza justru merapat ke jendela. Duduk manis sambil mengamati ponselnya, seolah ponselnya lebih mengenyangkan dibanding Pizza yang terhidang. Aku mengamatinya lekat. Arga memang begitu addicted dengan ponselnya, namun itu semua karena aplikasi game kesayangannya.
Aku masih memandangi Arga lekat-lekat. Mencoba membaca gestur tubuhnya serta menerjemahkan. Barangkali Arga yang duduk di dekat jendela adalah manusia hasil kloning makhluk luar angkasa, pikirku tidak masuk akal. Sementara yang dipandangi sama sekali tidak menyadari tatapan mataku yang tidak lepas darinya sedari tadi.
“Shal, lo nggak doyan Pizza nih? Buat gue semuanya ya kalau gitu,” ujar Sandy menyadarkan lamunanku. Mulutnya terisi penuh gumpalan Pizza. Dia mirip sekali dengan monster jika sedang makan. Menyeramkan.
“Dasar monster rakus. Gue juga mau,” balasku singkat sambil mulai memunggungi posisi Arga dan melahap potongan – potongan pizza.
Sandy melahap potongan pizza itu tanpa ampun. Seakan itu pizza terakhir yang di produksi di dunia. Aku jengah dan kesal melihatnya.
“Jangan dihabisin. Arga belum makan,” ingatku sambil memukul punggung tangan Sandy yang ingin mengambil potongan pizza terakhir.
“Dia nggak mau,” jawabnya singkat.
“Sok tahu!” ujarku kesal sambil kembali memukul punggung tangannya—yang mencoba mengambil potongan pizza terakhir—dengan lebih keras.
Sandy menatapku. Kedua bola matanya seakan menantang dan benci. Mata kami saling mengadu dalam beberapa detik. Lalu, Sandy berdiri dan meninggalkan basecamp. Entah kemana. Arga dengan segera menyadari kepergian Sandy dari basecamp melalui pintu yang dibanting begitu keras.
“Mau kemana Sandy, Shal?,” tanya Arga. Kali ini matanya diarahkan kepadaku. Ponselnya juga entah sejak kapan telah terpisah dari genggamannya. Diam-diam hatiku merasa senang.
“Minum,” jawabku cepat dan asal.
“Minum kok ke cafĂ©? Minum teh?” tanya Arga sambil berjalan menuju ke arahku.
Pertanyaan Arga seakan menampik kebohongan yang coba kubuat. Basecamp memiliki lemari pendingin yang juga menyimpan minuman. Kami sengaja meletakkannya di basecamp agar tidak perlu repot-repot ke cafĂ©  untuk mengambil minuman jika sedang haus.
“Iya mungkin, ” jawabku pasrah. Tidak mau menambah kebohongan lagi. “Si Monster Sandy makan pizzanya kalap. Lo cuma disisain satu potong nih, Ga.”
“Udah abisin aja. Pizza nya kan emang gue beli khusus buat kalian.”
Sepotong pizza itu tiba-tiba menyiratkan wajah Sandy dalam benakku.
“Lo nggak nanya kenapa tiba-tiba gue beliin pizza buat kalian?”
“Nanti aja deh gue tanyanya,” ujarku sambil berdiri dan bergegas meninggalkan basecamp membawa sepotong pizza yang tersisa.
Sandy sedang mencuci wajahnya di wastafel café setelah aku menjelajah seisi Querida Ocha hanya untuk mencarinya. Aku berjalan mendekatinya dan menyodorkan sepotong pizza yang tadi begitu ingin dimakannya, namun kuhalang-halangi.
“Arga nggak mau dan gue tahu lo kepengen banget last piece ini,” ujarku dengan nada memelas.
“Apa gue bilang? Kalo Arga yang beli Pizzanya artinya tuh pizza emang buat kita. Udah buat lo aja,” jelas Sandy sambil berlalu menuju kebun belakang.
“Kenapa? Tadi kan lo ngebet banget sama nih pizza. Udah deh jangan ngambek, buruan makan,” ocehku sambil mengikuti Sandy dan menyodorkan pizza potongan terakhir itu.
Sandy terhenti dan duduk menatap langit. “Nggak mau ah. Pizzanya udah terkontaminasi bakteri dari tangan lo sih, Shal”
Aku ikut duduk di sebelahnya sambil mencoba memelototinya.
“Oke gue makan tapi ada syaratnya,” ujarnya luluh.
“Apaan sih? Udah cepetan deh. Satu jam lagi tamu bakalan banyak karena ini malem minggu”
“Tapi lo yang masukin pizzanya ke mulut gue,” pinta Sandy sambil membuka mulut layaknya anak kecil minta disuapi.
Dengan setengah hati, aku menjejalkan potongan pizza terakhir ke mulut Sandy. Dengan sabar menungguinya mengunyah, kemudian memasukannya lagi. Begitu hingga akhirnya potongan pizza itu lenyap dari tanganku.
“Dasar monster manja,” hardikku sambil bangkit dari tempat duduk. Tetapi, tangan Sandy menahanku dan menarikku untuk duduk kembali.
“Sebentar lagi sunset, Shal. Lo  suka sunset kan?”
Aku tidak mengiyakan, juga tidak menolak. Mataku kini kutancapkan pada hamparan langit yang mulai berwarna Oranye. Aku tak pernah bisa melewatkan waktu dimana langit menciptakan keindahannya, karena aku begitu mengaguminya.
“Arga juga suka sama langit, tapi dia lebih suka sunrise”
“Ohya, kok gue nggak pernah tahu ya?”
“Lo kan kalo tidur mirip kebo. Jadi nggak pernah kita ajak ngeliat sunrise. Padahal, gue sama Arga sering banget ngeliat sunrise sama-sama”
“Dunia ini memang milik kalian berdua ya,” desahku pelan.
“Setiap gue ngeliat langit, gue pasti selalu berdoa. Dan saat ngeliat sunset bareng lo sekarang, lo tahu nggak apa yang gue doakan?”
“Apa?,” tanyaku pelan.
“Gue berdoa semoga setelah makan pizza terakhir tadi, gue nggak akan mati. Karena pizza yang terakhir masuk perut gue tadi telah bercampur dengan bakteri kecoa dari tangan lo”
“Sial. Itu kejadian seminggu yang lalu. Kenapa disangkut pautin sih?,” cecarku kesal dan sekarang benar-benar berlalu meninggalkan monster bernama Sandy itu.



***
Jarum jam telah menujukkan pukul 23.30 saat Querida Ocha benar-benar bersih dari pengunjung. Malam minggu ini pengunjung benar-benar membludak. Alhasil, aku dan Sandy ikut turun tangan. Sebenarnya bukan hal baru jika kami harus turun tangan melayani konsumen. Tetapi, porsi kerja kami malam ini lebih besar daripada malam-malam sebelumnya, ditambah lagi dengan Arga yang hilang entah kemana.
“Arga kemana sih, Shal? Bisa-bisanya cafĂ© lagi rame, dia malah kabur.”
“Kabur apaan sih, San. Kalo ngomong nyantai dikit dong. Arga lagi ada urusan mungkin”
“Ada urusan kok ga bilang-bilang sama kita? Handphonenya dihubungin juga nggak aktif. Sengaja bangetkan?,” omel Sandy.
Emosi Sandy memang sering meluap-luap, bahkan untuk hal sepele sekalipun. Sebenarnya aku juga bertanya dalam hati, kemana perginya Arga yang tiba-tiba. Sejak peristiwa sunset tadi, aku tidak menemukan Arga.
“Kayanya gue tahu Arga kemana.”
“Kemana?” sergahku cepat ingin tahu.

Querida Ocha #1

Querida Ocha
by
Fitria Wardani






Makhluk kecil berwarna coklat dan bersayap itu masih memiliki tenaga untuk melakukan pembelaan. Hujaman sapu yang bertubi-tubi telah kuhantamkan padanya, tetapi dia masih belum mau juga menyerah.

            “Shal, nyantai dikit kenapa jadi cewek. Jangan ekstrem gitu,” ingat seorang lelaki berambut hitam pekat di ujung jendela padaku.

            Aku tidak menggubrisnya dan masih sibuk memberikan hantaman keras pada makhluk bernama

            “Kecoaaa!,” jerit lelaki lain yang baru memasuki ruangan.

            “Gue juga tahu kalo itu kecoa. Maka dari itu, gue sedang membasminya daritadi. Udah sini bantu gue, San. Jangan teriak-teriak aja bisanya,” pintaku sambil mencari si kecoa yang tiba-tiba menghilang begitu mendengar jeritan Sandy.

            “Sorry banget nih, Shal. Kalau kecoa, gue white flag aja deh. Geli,” elaknya sambil meletakkan bokongnya di sofa empuk dekat lelaki berambut hitam pekat itu.

            “Cemen ah lo jadi cowok,” hardikku.

            “Ga, bantuin Shaline nangkep kecoa tuh. Kasihan daritadi kerja sendirian, nanti tulangnya rontok lagi”

            Arga dan Sandy tertawa bersama karena bualan Sandy.

            “Heh, jangan ketawa aja dong. Kecoanya kabur sekarang”

            “Bagus dong, Shal. Tugas lo udah selesai sekarang,” timpal Arga.

            “Dia kabur karena kaget pas lo teriak tadi, San. Dan sekarang lo harus tanggung jawab nyari tuh kecoa”

            “Lho kok salah gue?, ” sergap Sandy tidak menerima disalahkan olehku.

            “Kecoanya kabur karena daritadi lo pukulin pake sapu, Shal,” bela Arga dengan pandangan penuh ke layar ponselnya.

            “Kok lo ngebela Sandy sih, Ga? Kalau kecoanya mati di tempat antah berantah gimana? Nanti disemutin. Dan gue paling benci kalau udah ngeliat semut berkumpul. Hiii,” ujarku bergidik membayangkan sekumpulan semut yang sibuk menggotong bangkai kecoa.

            “Sama kecoa bisa membabi buta, giliran sama semut segede upil aja lo takut. Cewek macem apaan tuh?,” ujar Arga menimpali. Matanya masih terpaku pada layar ponsel di hadapannya. Sesekali senyuman juga hadir di bibirnya.

            Aku membanting sapu yang kugunakan berburu kecoa sejak tadi. Menyerah berburu makhluk kecil menjijikkan itu. Kuhentakkan badan di atas sofa panjang sambil melepaskan ikatan rambut dan membiarkannya terurai.

            “Shal, lo bau keringat. Minggir Sana,” hina Sandy.

            “Biar bau, yang penting nggak takut sama kecoa,” sindirku.

            “Biar takut sama kecoa yang penting nggak takut sama semut,” balas Sandy tak mau kalah.

            “Ga, lo seminggu ini stay di sini kan? Lo nggak bersih-bersih ya sampai-sampai ada kecoa masuk ?,”  tanyaku pada Arga yang duduk Santai dengan wajah sumringah menatap layar ponselnya.

            “Itukan bukan tugas Arga, Shal. Kitakan punya tukang bersih-bersih,” bela Sandy.

            Selalu begitu. Menyalahkan salah satu diantara mereka, Arga atau Sandy di saat ada keduanya adalah hal sia-sia. Mereka akan saling membela  satu sama lain dan membuatku tersudut.

            “Tukang bersih-bersihnya itu cuma spesialis bersihin CafĂ©, bukan basecamp kita. Ingat, ini area rahasia yang cuma boleh dimasuki oleh kita bertiga,” ingatku.

            Sandy diam pertanda mengamini dan membenarkan ucapanku. Kami bertiga merupakan  teman SMA yang membuka usaha kedai teh bernuansa Jepang. Namanya Querida Ocha. Kedai teh kami tidak terlalu besar, tetapi di dalamnya terdapat ruangan khusus yang kami namai basecamp. Sebenarnya ruangan ini bisa dikatakan sebagai Ruang Direktur, karena hanya kami bertiga yang boleh memasuki ruangan ini. Tidak ada terkecuali. Di ruangan inilah kami menggagas konsep dan ide baru atau membicarakan segala hal tentang Querida Ocha. Kami tidak boleh membawa teman kami masuk ke dalam ruangan ini, termasuk pacar. Tetapi, siapa juga yang akan mengajak pacarnya datang ke ruangan ini. Diantara kami bertiga, tidak ada yang memiliki pacar, gebetanpun juga rasanya tidak ada.


            “Gue cabut dulu ya, Guys,” ujar Arga tiba-tiba sambil berdiri dan keluar dari basecamp.

            Aku melongo dan sedetik kemudian melempar pandangan ke Sandy “Mau kemana dia San?”

“Mana gue tahu. Malam Mingguan mungkin. Hari ini kan Sabtu”

“Hari ini Sabtu? Kok gue lupa ya”

“Iyalah, lo terlalu sibuk dengan kecoa lo itu sih,” balas Sandy sambil berlalu

“Awas ya, San. Pokoknya lo harus cari kecoa itu sampai ketemu. Gue nggak mau tahu”

Tidak ada balasan dari Sandy. Sepertinya ia telah berkecimpung di kesibukan Querida Ocha. Aku menghembuskan nafas dan pertanyaan dalam kepala. Masih sibuk menerka kemana perginya Arga tiba-tiba tanpa memberitahu. Arga terbilang pria yang cerewet. Dia selalu mengutarakan setiap kejadian yang menimpa dirinya. Apa mungkin Arga memiliki gebetan baru? Tetapi peduli apa? Aku menarik bantal kecil dan menutupkannya di atas kepalaku. Mencoba tidur dan menghiraukan perasaan entah apa di dalam hati.


© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis