July 15, 2013

My Sky





"Waktu lo ketemu orang dan orang itu jauh banget dari tipe lo, jauh banget dari kesukaan lo, orang yang jauh dari bayangan lo, yang menurut lo nggak banget, tapi lo bisa nerima dia dengan segala kekurangan dia apa adanya, you call her someone special. Dan saat lo pengen menjaga sesuatu yang di luar jangkauan lo, saat lo gila karena itu dan saat lo rela ngelakuin apa aja buat kebahagiaan dia, you call it love. Dan kalau dia adalah seseorang yang penuh kekurangan itu, well...you're definitely in love, Man" - Ethan

My Sky - Silvia Arnie

Friendship






kau dan aku, kita bersahabat baik sejak kemarin
tapi sekarang persahabatan kita menghilang
makin dekat berubah menjadi cinta yang sangat dalam
ini tak salahkan? karena kita tahu isi hati masing-masing
dulu aku sedih, putus asa dan kesepian
kau datang menghibur membuatku merasa senang
melalui halangan dan rintangan 
kau tak pernah meninggalkan aku
lalu hatiku berubah
cinta sahabat berubah
menjadi kabur dan hilang
cinta baru telah lahir menjalar di segenap hatiku

(Potongan Lagu Thailand entah apa judulnya pada film Friendship)

July 14, 2013

Clannad, Air Mata yang Terendap






Setelah lebih dari 2 orang mereccomend saya atas anime ini, maka dalam waktu 4 hari saya menghabiskan  45 + episode OVA + episode recall. So, anime apakah itu ?

Judulnya Clannad. Inti keseluruhannya anime ini seperti sebuah novel. Menggambarkan perjalanan dari mulai SMA hingga akhirnya berkeluarga. Cukup panjang dan terbagi Clannad dan Clannad after story.

Di Clannad, anime ini menceritakan tentang Furukawa Nagisa, siswi kelas 3 SMA Hakarizaka yang lemah dan pernah tinggal kelas selama setahun. Dia ingin sekali masuk klub teater yang telah bubar di sekolahnya. Sayangnya, tidak ada siswa yang ingin bergabung. Terlebih lagi, siswa kelas 3 sudah mulai sibuk dengan ujian. Padahal, supaya klub itu bisa berdiri paling tidak harus memiliki 2 anggota. Meski begitu dia tidak menyerah, karena ada seorang cowok yang ikut membantunya, yaitu Okazaki Tomoya –yang juga duduk di kelas 3 juga, tetapi di kelas yang berbeda.

Nagisa dan Tomoya
Mulailah Okazaki yang memilik banyak teman itu (FYI : Nagisa nggak punya banyak teman dan penyendiri) mengajak temannya untuk masuk ke klub teater. Cukup banyak teman yang diajaknya.

Ryou dan Kyou
Si kembar Fujibayashi Kyou dan Fujibayashi Ryou. Keduanya kelas 3 dan sama sama ketua kelas di kelas yang berbeda.  Ryou berada di kelas yang sama dengan Tomoya. Gadis yang lembut dan suka meramal. Dia juga terlihat menaruh hati dengan Tomoya. Nah kalau Kyou, sungguh berbeda karakternya. Dia cewek galak yang sebenarnya cantik dan kuat. Selain itu dia juga sangat melindungi saudara kembarnya, Ryou. Kyou juga membantu Ryou supaya bisa jadian dengan Tomoya.

Sunohara Youhei
Sang Sahabat sejati, Sunohara Youhei. Sunohara yang memilik rambut kuning mencolok ini  adalah karakter yang membuat anime ini lebih ‘hidup’ dengan tawa. Mengapa? Karena selain sebagai pria yang hobinya menggoda cewek, dia juga sering dianiaya serta tidak dipedulikan.


Si jenius Ichinose Kotomi. Cewek berambut ungu yang sebenarnya manis ini merupakan siswa independen yang hobinya membaca buku di perpusatakaan. Tidak masalah jika dia tidak masuk kelas karena dia memang siswa independen. Sayangnya sulit sekali berbicara dengan dia. 
Ichinose Kotomi

Superwoman Sakagami Tomoyo. Nah kalau dia merupakan siswi kelas 2 yang gosipnya pernah berkelahi melawan geng motor. Hampir setiap hari ia berkelahi dengan Sunohara. Pemenenagnya? Tentu saja Sakagami. Honestly, I think she’s beautiful.
Sakagami Tomoyo
Miyazawa Yukine
Si lembut Miyazawa Yukine. Cewek imut nih hobinya ada di ruang referensi. Dan siapapun yang datang ke ruang tersebut pasti akan dijamu dengan ramah oleh Yukine, dengan dibuatkan teh atau bahkan nasi goreng. It sounds curious when you can make fried rice in your school, right? . tetapi, Yukine yang lembut dan imut (saya suka karakternya) ini ternyata disegani oleh para geng motor yanga da di kota tersebut. 

Sayangnya dari teman-teman Okazaki di atas, tidak ada satupun yang berminat untuk masuk ke klub teater. Di tengah pencarian anggota, Nagisa dan Okazaki justru dihadapkan pada persoalan baru. Apakah itu ? mereka bertemu dengan Ibuki Fuko,  roh—yang merupakan adik dari mantan guru di sekolah tersebut—yang raganya sedang terbaring di rumah sakit karena koma setelah ditabrak mobil beberapa tahun lalu.

Fuko chan yang menyukai bintang laut berusaha membuat kerajinan dari kayu yang berbentuk bintang laut. Ia berencana memberikan kerajinan tersebu kepada siapapun sebagai undangan untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Akhirnya Okazaki dan Nagisa membantu membuat kerajinan tersebut. Fuko chan yang biasanya tinggal di sekolahpun akhirnya tinggal di rumah Nagisa dan disambut baik oleh kedua orang tua Nagisa, bahkan mereka ikut membuat bintang laut.



Honestly, saya sangat menghindari cerita yang di luar logika. Contohnya seperti Fuko yang sebenarnya roh tetapi bisa dilihat oleh hampir seluruh siswa di sekolah tersebut, seolah Fuko bukanlah roh. Secara logika, mana bisa hal ini diterima ? tetapi entah ya, saya justru berkaca-kaca level bawah di part ini.

Terlebih lagi, saat Okazaki dan Nagisa ingin mempertemukan Fuko dengan Ibuki Koukou (kakak Fuko seklaigus mantan guru di sekolah tersebut) dalam acara Festival Pendiri Sekolah. Sayangnya, kakak Fuko justru tidak bisa melihat roh adiknya itu. Hanya dia yang tidak bisa, dan dia berkeyakinan kalau adiknya terbaring di Rumah Sakit. Rohnya tidak berkeliaran di sekolah seperti gossip yang beredar, karena Koukou-san selalu menemani adiknya di RS dan menceritakan segala hal.

Dengan kerja keras, Fuko membagikan bintang laut kepada setiap orang yang ia temuinya serta mengajak orang tersebut untuk datang ke pernikahan kakaknya. Sayangnya, lama kelamaan orang-orang yang pernah menerima bintang laut itu mulai melupakan akan kenangan akan Fuko. Ingatan mereka tentang Fuko seolah terhapus begitu saja seiring kondisi tubuh Fuko yang memburuk.

Tetapi, seakan keajaiban, pernikahan yang digelar di sekolah itu dihadiri oleh mereka yang pernah dihadiahi bintang laut oleh Fuko. Meski sebenarnya mereka lupa apa yang bisa membuat mereka datang ke pernikahan tersebut. Dan di situlah, hanya melalui angin yang berhembus Fuko menyampaikan ucapan selamat kepada kakaknya yang baru menikah. Rasanya terharu sekali karena si kakak tidak bisa melihat roh itu.

Fuko dan Koukou-san (kakaknya)

Karena perjuangan Fuko lah yang akhirnya menginspirasi Nagisa untuk tetap semangat mewujudkan impiannya masuk ke klub teater. Teman-teman Okazaki yang kini juga telah menjadi temannyapun ikut masuk. berarti syaratnya telah terpenuhi karena klub teater kini telah memiliki anggota ? Tetapi ternyata masih belum bisa didirikan, karena setiap klub harus memiliki guru pembimbing. Akhirnya Nagisa dkk harus berjuang kembali untuk mendapatkan guru pembimbing.

Setelah melewati segala rintangan, terbentuklah klub teater dan impian Nagisa untuk tampilpuun semakin dekat. Tetapi malam sebelum tampil, Nagisa justru menemukan kenyataan lewat album foto orang tuanya dahulu dan diary ibunya. Nagisa menghakimi dirinyalah yang menghentikan impian kedua orang tuanya. Sebelumnya, ayah nagisa merupakan aktot teater yang hebat. Sementara ibunya merupakan guru SMP. Tetapi, karena Nagisa yang sakit dan hampir meninggal di usianya ke-5. Kedua orang tuanyapun memutuskan untuk berkonsentrasi menjaga Nagisa bersama. Mereka memilih mendirikan toko roti keluarga.

Di situlah pelajaran yang bisa kita ambil, karena kalau menurut Nagisa demikian, tetapi menurut kedua orang tua Nagisa berbeda. Anak bukanlah penghenti impian orang tuanya. Ketika seorang anak lahir, maka kedua orang tua bukanlah membuang impian mereka melainkan mengubah  impian mereka dengan impian si anak.

Setelah sukses menggelar pertunjukkan teater solonya itu, Nagisa jadian dengan Okazaki. Kalau menurut saya ini terlalu singkat tanpa konflik, harusnya cewek-cewek yang sebenarnya menaruh hati dibiarkan menyatakan cinta terlebih dahulu ke Okazaki. Dengan demikian baru kelihatan jelas kalau Okazaki sungguh mencintai Nagisa, karena dia lebih memilih Nagisa.

Cerita lain yang menguras emosi saya adalah Clannad After Story episode 3 dan 4 (meski suaranya tidak sesuai dengan gambar) . tentang apa ? ceritanya berkisah tentang Sunohara dan adiknya, Mei chan.

Melihat Sunohara yang suka bolos dan berandalan membuat Mei menjadi khawatir kalau abangnya itu sulit mendapatkan pacar. Sikapnya juga banyak berubah karena sudah tidak memedulikan Mei lagi. Padahal dulu, Sunohara selalu melindungi Mei jika diganggu oleh orang lain. Sekarang, Sunohara seakan tidak peduli dan beranggapan bahwa adiknya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Youhei dan Mei

Mei menganggap Sunohara berubah semenjak ia dikeluarkan dari klub sepakbola. Mungkin jika Sunohara kembali bermain sepakbola, dia akan menjadi Sunohara yang dulu. Akhirnya Mei mencoba membujuk klub sepakbola untuk menerima Sunohara kembali. Tetapi. Usahanya justru dipermainkan oleh anggota klub hingga Sunohara tiba-tiba datang menghajar mereka satu per satu.

Sunohara saat membela Mei di hadapan klub sepakbola
 Sebelumnya, Sunohara dan Okazaki sempat bertengkar. Dan ini yang membuat saya merasa terenyuh. Pasalnya mereka sudah sangat bersahabat dan selalu bersama, lalu jika sampai melihat cowok yang sudah bersahabat kental bertengkar maka rasanya saya ingin menangis.

Part itu merupakan bagian yang mempermainkan emosi. Sementara yang membuat saya berkaca-kaca tingkat tinggi artinya air mata telah menetes sebutir jagung adalah saat Okazaki melepas ayahnya untuk kembali ke kampung halaman. Ini ada di Clannad After Story episode 19, dimana Okazaki telah memiliki seorang anak. Okazaki menyadari betul kalau hubungannya dengan ayahnya sangatlah tidak baik. Ayahnya yang pemabuk menjadi faktor utama kebencian Okazaki kepada ayahnya itu.


Tetapi, karena sebuah peristiwa yang hampir dilupakan Okazaki, maka ia sadar dan akhirnya meminta ayahnya untuk pulang ke kampung halaman sesuai permintaan neneknya. Perkataan yang membuat saya sedih itu adalah “dia kehilangan orang yang paling dia sayangi di saat terindah hidupnya dan sejak itu dia terus sendirian bersamaku. dia terus berusaha demi anak yang tidak tahu terima kasih sepertiku. meskipun begitu, apa dia bahagia ? ayah...”

Okazaki Naouyuki (ayah Tomoya)

Baik, rasanya tidak mungkin saya menceritakan seluruh episode di sini. Setidaknya itulah part part yang berkesan dan menguras emosi. Kalau mau animenya, minta saja sama orang ini. Karena beberapa teman bilang ‘lo harus nonton clannad. Banjir deh’ maka saya berjanji dalam diri akan membuat review anime ini begitu selesai menontonnya. Anime ini baru saya tonton setelah mengendap di notebook sejak Februari lalu. Honestly, ini review anime yang pernah saya buat. Meski kualitas gambarnya lebih rendah dibanding anime zaman sekarang tetapi ceritanya menarik dan saya merekomendasikannya untuk readers

Selamat menonton !


June 26, 2013

Cerdas Cermat Competition




Benarkah tanpa niat  yang  besar, kita justru memperoleh sesuatu yang lebih besar dari niat itu sendiri?

Lalu, orang yang memperoleh hal tersebut menyimpulkannya sebagai sebuah kebetulan atau keberuntungan semata. Tapi, saya pribadi tidak setuju dengan sebuah ungkapan kebetulan. Di dunia tidak ada yang kebetulan, bagi saya semua yang terjadi di dunia ini sudah digariskan atau ditetapkan olehNya sejak awal.

Bicara soal niat, beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman mengikuti Cerdas Cermat Competition yang diadakan oleh fakultas dalam rangka milad ke-11. Awalnya, kami cuma saling tunjuk sana sini sambil malu-malu untuk memilih siapa yang jadi perwakilan kelas untuk ikut  lomba tersebut. Tetapi, saat mengetahui kalau sistem seleksi awalnya serupa dengan game “Ranking 1”, berbondong-bondong kami semua mendaftar. Alhasil, di sesi kedua itu mayoritas dipenuhi oleh saya dan teman-teman KECE.

Meski, sistemnya seperti Ranking 1, tapi peserta dibagi tim. Setiap tim terdiri dari 2 orang, saya bersama Bonita. Setelah registrasi ulang, honestly saya kebingungan karena yang dapat setumpuk kertas—untuk menjawab—hanya Bonita. Sementara saya nggak dan masih berdiri di depan meja regis untuk beberapa detik. Lalu, menggeser diri sendiri dan sadar kalau kertas itu untuk kami berdua.

Kami hanya butuh menjawab 3 pertanyaan yang sebenarnya simple tapi butuh kerja keras untuk mengingat kembali di draft pikiran masing-masing. Contoh : Negara apa yang pertama kali menjajah Indonesia ? Dari daerah mana lagu poco-poco berasal ? dari pertanyaan yang kelihataannya sederhana itu, banyak lho keluar jawaban ngawur yang sumbernya dari kebingungan. contohnya ada yang menjawab Belanda, Jepang, Inggris untuk Negara yang pertama kali menjajah Indonesia. Lalu, sebagian besar peserta menjawab Sulawesi Utara sebagai daerah yang mengenalkan lagu Poco-Poco. Untuk pertanyaan yang terakhir ini, saya hampir saja ikut menjawab Sulawesi Utara. Tetapi, Bonita sempat berujar Maluku dan di sanalah tanpa ada konflik tim diantara kami, saya menuliskan Maluku pada kertas jawaban.

Proses Penyisihan ala Ranking 1


Allhamdulillah jawaban itu mengantarkan kami masuk ke Babak Final bersama tim Manajemen. Di babak final, kami harus melawan 3 tim lain (2 dari Akuntansi dan 1 dari Manajemen). Setelah melewati Pertanyaan Wajib, kami melaju ke The Real Cerdas Cermat (soalnya udah mencet-mencet bel) bersama 1 tim Akuntansi dan 1 tim Manajemen. (FYI : 1 tim akuntansi gugur di babak pertanyaan wajib).

Di pertanyaan rebutan tanpa pengurangan nilai ini, gregetnya dapet banget karena rebutan menjawab yang ditentukan lewat bel. Nah masalahnya, tim kami agak telat mencet bel dan kurang lama menekan bel (maklum, wanita perlu kelembutan. Sementara dua tim lain full cowok)

Pertanyaan yang diujikan seputar keislaman, keindonesiaan, fakultas, dan ekonomi. Di tengah pertanyaan rebutan dnegan pengurangan nilai, tim manajemen terpaksa didiskualifikasi karena supporternya ketauan memberikan jawaban. Alhasil melajulah kami (2 Tim Akuntansi smt 4 yang temenan tapi beda kelas) untuk merebutkan…apa ya. Saat itu saya tidak tahu apa hadiahnya. Dengan kata lain, saya juga tidak tahu apa yang ingin saya raih. Hanya kemenangan juara 1, benarkah itu ?

Setelah melewati berbagai pertanyaan yang sungguh menguras memori 2 tahun ke belakang, gelombang teriakan supporter KECE yang fenomenal, pengurangan nilai yang menghadirkan pressure tersendiri, panas dingin karena malu juga, finally kami keluar dengan skor 4000. Sementara tim lawan 1750.

Tetapi, permainan belum sleesai, readers. Kami harus mempertaruhkan minimal skor kami untuk sebuah pertanyaan penentu kemenangan. Tim kami mempertaruhkan 2000, sementara tim lawan dengan hebatnya mempertaruhkan skor mereka seluruhnya.

Pertanyaan penentu itu dilengkapi dengan intermezzo yang panjang dan rumit hingga menghadirkan bias pada pertanyaan. Tapi, saya membisikkan jawaban pada Bonita sesuai yang saya tangkap. Meski di sana sempat ada miss diantara kami (karena Bonita mengira ‘Siapa Pengganti Dirut Bank Mandiri?’ sementara saya mengira ‘Siapa Pengganti Menteri Keuangan?’) Jawaban tim kami dan tim lawan sama-sama benar, tapi tim kamilah yang allhamdulillah keluar sebagai Juara dengan skor 6000. Overall, saya tahu anak akuntansi itu hebat-hebat. Selamat untuk kalian juga, Lutfi dan Abrar.

Saya dan Bonita bersama Piala Bergilir
Pesan yang mau saya sampaikan dalam postingan ini adalah niat kami. Niat kami yang tidak pernah sampai ingin masuk ke Final ataupun membawa pulang Piala Bergilir Dekan (Jadi, ternyata hadiahnya piala bergilir, sertifikat dan uang tunai).

Piala Bergilir Dekan
“Iseng aja mau ikutan.” Itu yang mungkin keluar dari mulut Bonita, tapi kalau saya bukan iseng. Haya ingin mencoba ikut meramaikan suasana Milad FEB dan ingin bermain ala Ranking 1 yang seru. Sebenarnya ada pergolakan batin, antara malu, takut nggak bisa jawab, takut paling aneh. Tetapi, entaah ya semua mengalir begitu saja saat kami melewati permainan tersebut.

Dan harus saya katakan, kalau Bonita adalah team mate yang super sekali buat saya. Yang namanya tim, nggak mungkin banget nggak ada persaingan ego membenarkan jawaban masing-masing. Tetapi, bersama Bonita saya merasa ada kepercayaan tersendiri yang membuat saya mengalah akan ego, juga ada ketenangan dan penerimaan tanpa penyesalan. (maaf kalau berlebihan, saya masih pada jalur aman kok hehe)

Contoh nih, saat pertanyaan Negara yang pertama menjajah. Saya refleks menuliskan ‘Portugis’ lalu ragu ketika jawaban sudah terngkat di atas. Tetapi, di situ—meski dengan tekanan—Bonita bilang “Tapi, jawaban aku juga Portugis. Kalau jawaban kamu apa emang?”.

Lalu, di pertanyaan lagu Poco-Poco, otak saya seperti mendengungkan jawaban Sulawesi Utara. Sudah sempat menulis ‘S’ juga, tetapi Bonita berbisik dan bilang Maluku. Lalu seketika, tangan saya menuliskan Maluku. Buat saya, itu pergolakan yang sangat hebat. Karena kalau saya lebih menekan pada ego, bisa saja saya memperjuangkan jawaban Sulawesi Utara saya pada Bonita. Tetapi, entah kenapa saya seakan mengalah dan langsung percaya pada Bonita.

Lalu, ada lagi saat pertanyaan wajib lainnya yaitu pasar dengan satu pembeli. Awalnya Bonita sempat berbisik ‘pasar persaingan tidak sempurna’, tetapi saya mencoba menengahi ‘bukannya monopsoni ya bon?’ . lalu tanpa perdebatan, tetapi didasarkan kepercayaan (mungkin) kami menjawab monopsoni dan benar.

Tapi, tidak semuanya berbuah manis. Ada jawaban keraguan kami yang hanya berani kami dengungkan berdua, padahal jawaban tersebut benar. tetapi, kami tidak menyalahkan satu sama lain karena tidak menjawab, tetapi hanya saling berbagai kekecewaan. Kami juga tidak menyalahkan saat jawaban kami salah dan poinnya terpaksa dikurangi. ”At least, kita sudah mencoba menjawab.” Itu kata Bonita

Overall, rasanya ini semua bukan soal niat, tetapi ketulusan kita menjalani. Itu yang saya simpulkan sendiri. Bagaimana ketulusan rakyat-rakyat KECE berdiri dan bersorak saat tim kami menambah poin, bagaimana ketulusan mereka meneriaki nama kami, atau menyampaikan dukungan via sms  dan twitter sampe bikin hashtag #fitlovebon (yang ini teman saya emang imajinasi tinggi, berasa kompetisi besar haha but anyway thank youuu guys). Bagaimana emosi mereka keluar untuk membela kami yang sempat dikira diberitahu jawaban, bagaimana mereka rela meninggalkan kelas demi melihat kami. Haha so thankieeees, KECE-ers

Ini dia rakyat Kece yang rela mendukung dengan volume super bass
Yang special juga nih, buat Ibu Manajer Sella yang rela pulang larut karena ikut khataman Quran dan penyerahan hadiah. Terima kasih telah setia menjadi manajer super sekaligus tim dokumentasi. Kecup buat kalian semua KECE-ers pokoknya.

Proses Penyerahan Hadiah yang diabadikan Ibu Manajer
Tahun depan, pertahankan lagi ya piala bergilir untuk KECE. Kalau bisa yang masuk grand final KECE semua. Aamiin.

Bonita, Saya, Sella, Andien, Elfi setelah penyerahan hadiah

Belajar dari Sakit

rasanya ingin cepat lepas dari penyakit ini, seperti balon yang lepas di udara




Rasanya sulit sekali berecerita untuk mengakhiri semester genap ini. Ngomong-ngomong, sudah lama sekali nggak posting ya readers . Lagi-lagi saya membawa kabar buruk kalau di masa UAS semester genap ini kembali sakit. Kali ini lebih parah dari semester genap tahun lalu. Kalau dirunut kembali dari awal, maka saya mulai sakit sejak awal Juni. Dari UAS itu sendiri belum mulai (FYI : uas mulai tanggal 17 Juni 2013), saya memang sudah sering ngedrop.

 Anehnya ngedrop ini cuma setiap weekend saja. Kalau sudah mulai Jumat sore sampai Minggu, kasur rasaya menjadi teman setia. Badan lemas nggak bisa diajak kemana-mana. Alhasil setiap hari Minggu saya pergi ke klinik dan diberi obat. Seminggu kemudian, saat obatnya habis saya sakit lagi, lalu ke dokter lagi.

 Karena sudah jengah, nyokap memutuskan supaya saya cek darah saja. And then jawabannya ternyata saya kena anemia. Hb (Hemoglobin) saya sangat di bawah rata-rata  wanita normal dan bisa ditransfusi kalau seandainnya menyentuh angka 7. Harusnya saya dirawat, tetapi saya paling anti sama yang namanya dirawat. Sebisa mungkin saya akan menolak.

Meski sudah memasuki minggu tenang tapi ada banyak tambahan dari matkul-matkul alhasil saya hanya menggunakan  waktu istirahat sehari, sisanya melanjutkan kuliah seolah tidak sakit. Padahal wajah pucat dan ke kampus layaknya orang piknik. Mengapa ? karena nyokap menjejalkan bekal lengkap (sayur dan lauk), jus jambu, pocari sweat, obat-obatan, air mineral, sari kurma.

Belum, saya belum sembuh. Setelah cek darah itu, kini gantian kaki saya yang sakit. Dan minggu depannya saya kembali ke dokter. Kembali harus makan obat-obatan yang pahit (FYI : saya nggak bisa menelan obat jadinya harus digerus) tapi nggak berefek apapun.

Saya berserah diri saja sama UAS. Mengerjakan semampu otak saya bekerja dalam keadaan yang tidak fit. Hanya keajaiban yang mengantarkan nilai UAS saya bagus dan semoga saja keajaiban itu benar-benar hadir. Aamiin.

Hari Sabtu kemarin saya rasanya sudah nggak kuat dan akhirnya pergi ke RS. Hasilnya belum keluar tapi honestly saya takut. Takut setakut-takutnya dengan hasil Lab yang biayanya menggila itu. Sambil menunggu hasil lab, dokter memberikan saya obat yang allhamdulillah membuat saya kini kembali seperti orang normal. Maksudnya udah lumayan sehat. Kalau sudah begini rasanya seperti nggak mau tahu gimana hasil Lab itu, karena saya takut.

Tapi, mohon doanya ya readers kalau saya hanya kecapekan semata. Aamiin.

Sebenarnya yang mau saya ulas dari postingan ini adalah hikmah yang saya ambil dari sakit yang berkepanjangan, misterius dan nggak pernah saya alami ini. Maklum, biasanya saya sakit parah Cuma karena maag dan itu menyiksa parah, nggak pernah yang seperti ini.

So, what we can learned when I was sick ?

A Lot of things, readers.

Terdengar klise kalau sehat itu mahal, lebih klisenya kata-kata itu baru kamu amini ketika kamu sedang sakit. Sakit membuat saya introspeksi diri kalau ternyata selama sehat saya banyak melakukan kegiatan yang negative. Contoh : saya paling sering marah-marah atau teriak-teriak kalau adik saya meletakkan barang sembarangan atau tidak dikembalikan kembali ke tempatnya.

Lalu, saat saya sakit saya baru menyadari kalau saya nggak mungkin teriak karena hal tersebut.  Banyak hal yang tidak bisa saya lakukan ketika saya sakit, tetapi ketika melihat ada hal yang bisa kita lakukan pasti kita akan melakukan hal tersebut. Karena di situlah kepercayaan diri kita kembali muncul kalau kita masih bisa melakukan suatu hal, tidak melulu dibantu orang lain.

Saya jadi berpikir, selama sehat saya hanya bisa mengeluh. Seharusnya di kala rizki (kesehatan) itu datang kita pergunakan sebaik mungkin. Dengan kegiatan yang menghasilkan feedback positif.

Selanjutnya, yang membahagiakan untuk diri saya pribadi adalah sakit berkepanjangan ini membuat saya finally bisa menelan obat. Yap, tidak digerus lagi. Mungkin karena sudah jenuh berkali-kali ke dokter dan harus minum obat yang kadar pahitnya semakin tinggi, juga membuang waktu kalau harus digerus, maka saya belajar untuk menelan obat. Allhamdulillah bisa, meski masih dalam proses belajar.

Tetapi, meski banyak obat yang kamu minum selama sakit. Entah itu herbal, tradisional atau kimia, semuanya tidak akan langsung menyembuhkan. Yang paling penting adalah bagaimana psikologis kamu, hati dan pikiran kamu selama sakit. Saya pernah menemukan sebuah slogan di kantung plastik salah satu apotek, tulisannya “Hati yang gembira adalah obat”. Awalnya saya mengerutkan dahi dan tidak mengerti maknanya, tetapi kemudian saya mengerti karena berbagai peristiwa.

Obat psikologis itu datangnya dari orang lain yang berusaha membuat kita tertawa. Entah itu sengaja atau tidak. Hal-hal sederhana atau manis yang mereka berikan kita kepada kita, baik dalam bentuk perhatian atau cerita panjang lebar bisa menjadi hiburan dan membuat kita lupa akan penyakit kita. Semangat dari mereka juga tidak kalah penting, meski yang utama tentu saja semangat dari diri kita sendiri. Kita butuh afirmasi, seperti seorang teman yang mengajarkan kepada saya untuk berpikir dan berseru “I’m okay, I’m fine and I’m healthy” . Sementara kalau afirmasi saya pribadi adalah “Strong enough to be, Fit!”

and the most important is my parents, espescially my mom. Dia adalah orang nomor satu yang khawatir sekaligus super strong merawat saya ketika sakit. Saya ingin sekali sembuh untuk beliau. Dan karena sakit saya ini, nyokap sempat ikutan sakit beberapa hari. Lucunya, di usia saya yang  bukan lagi anak kecil ini selama sakit saya ditemani tidur nyokap, padahal nggak pernah minta. Hehe. Melihat nyokap dan bokap sampai sempat sakit karena merawat saya selama sakit membuat saya berpikir kalau 2 orang itu tidak lagi muda dan saya sudah harus segera menggantikan peran mereka. Maka dari itu, mohon doanya ya readers semoga saya lekas sembuh total. Aamiin.

At least, itulah pelajaran yang bisa saya bagi selama sakit ini. Terma kasih terima kasih untuk semua yang telah care dengan saya. Atas waktu perhatian dan segalanya. Especially for my mom. Big thankiesss and lot a loves.


© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis