July 14, 2015

Perubahan





How many special people change
How many lives are living strange ?
Cause everybody's changing
And I don't feel right

Kutipan lirik di atas sesungguhnya datang dari 2 lagu yang berbeda, dari 2 orang yang berbeda pula. Champagne Supernova by Oasis dan Everybody’s Changing dari Keane. Potongan lirik yang saya ambil memang sengaja tentang perubahan. Akhir-akhir ini seperti sedang tidak menerima sebuah perubahan dari orang lain.

Padahal, waktukan terus saja berputar (seperti postingan ini) Setiap orang pasti berubah. Kemudian saya menyadari sebuah kesalahan. Apa itu ? saya terlalu sibuk dengan pertanyaan ‘mengapa, apa dan bagaimana?’ atas perubahan setiap orang. Tetapi, saya lupa saya juga berubah.

Saat menemukan fakta kalau salah satu teman dekat saya di masa lalu telah berubah, saya sibuk merenunginya sendiri. Menghakimi dalam diri kalau dia berubah ke arah yang lebih buruk. Menatap sedih pada tiap kenangan yang pernah tercipta diantara kita. Overthinking dan rindu hingga terbawa mimpi. Saya terlalu naif atau bahkan sok suci.

Nyatanya. Dia berubah dan merasa bahagia, even dalam kacamata saya dia berubah ke arah yang nggak baik. Kacamata apa ? Kacamata norma dan prinsip kalau merokok itu nggak bagus untuk siapapun, baik wanita dan pria.

Iya, sepertinya saya terlau sibuk mengurusi hal itu meski hanya dalam pikiran saya sendiri. Saya lupa dan bertindak sok suci, sok paling benarlah. Padahal, saya sendiri seakan berada di ambang kehancuran. Saya berubah ke arah yang nggak baik juga nyatanya.

Saya menjadi pribadi yang jauh lebih buruk dari saya yang pernah ada di dalamnya. Saya menyadarinya dan pikiran saya terus mengajaknya untuk berubah. Tapi nyatanya tidak semudah itu, kadang pikiran saya terbelah dan tidak memberi kesembuhan untuk sebuah perubahan.

Kadang saya bertanya “hidup apa yang sedang saya jalani dan untuk siapa saya dedikasikan ini? Mengapa terasa hambar dan tak seberapi-api di 2 atau 3 tahun lalu.”


Saya yang paling tahu mengapa tapi saya juga yang paling sering mengkhianatinya. entah

July 13, 2015

Hadiah





Apakah kamu hantu masa lalu ?
Yang selalu datang di hari bertambahnya usiaku
Bercengkrama leluasa lalu pergi tanpa ragu
Apakah kamu paket hadiah valentine
Yang membuka valentine dengan obrolan
Ah sudahlah ! aku tak tahu pasti
Mungkin..
Kamu adalah hadiah yang selalu ada di ujung 13 Februari ku. Terima kasih

14 Februari 2015

*jika ini rindu, sampaikanlah tanpa ragu

Jika ini hanya sepi, biar saja dia terus bersembunyi

July 10, 2015

Lebaran

Lebaran ?

Dari mana asal katanya ? Pertanyaan itu bersarang di kepala saya sejak beberapa tahun lalu. Mengapa hari raya umat muslim yang bernama Idul Fitri ini memiliki sinonim lebaran di Indonesia. Rasanya aneh. Apa karena banyak kue dan makanan manis lainnya yang menjadi penyebab tubuh orang melebar di hari itu ? atau karena orang-orang mendapat THR seolah pintu rezekinya melebar ?

Tapi, yang pasti silaturahim adalah ritual yang tak terpisahkan dari sebuah lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Hari pertemuan keluarga besar yang kemudian menjadi sosok hari yang menakutkan dan penguatan mental baja atas beberapa pertanyaan. Ya, maybe hal ini hanya dirasakan oleh golongan –golongan tertentu saja. Misalnya mereka yang udah cukup umur untuk menikah atau sekedar punya pasangan, mereka yang belom dikaruniai momongan, mereka yang belum mendapatkan sekolah idaman dan mereka yang sedang mengejar gerbang kelulusan. Yang pasti hari itu adalah hari paling membahagiakan bagi anak kecil yang merindukan ‘salam tempel’. Dan saya berani bertaruh kalau kamu yang sedang membaca postingan ini pernah menjadi anak yang berbahagia itu. aamiin

Lalu, sudah siapkah kita dengan berbagai pertanyaan yang menyerang dari orang-orang terdekat atau orang jauh yang katanya keluarga tapi ketemunya hanya saat hari raya ?

“Mana pasangannya ?”, “Kapan nikah?” “Kapan punya anak ?”, “Sekolah dimana sekarang?”, “Kapan Lulus?” “Udah lulus belom ?” “Kerja dimana sekarang?” “Berapa IPnya kemarin?”

Ada lagi, pertanyaan menyebalkan yang mungkin kamu temui di hari raya ? Dari orang yang mungkin hanya kamu temui sesekali waktu. Atau dari orang yang memang benar peduli denganmu tapi hanya hobi bertanya tanpa memberi solusi. Silahkan tuliskan di comment

Akibat pertanyaan-pertanyaan itu, hari raya justru jadi hari yang di-malesin sama beberapa orang. Ya, meski kadar males dan sebelnya gak tinggi-tinggi amat tetap saja ada unsur tidak bersih di hari yang bersih itu. Tidak bisa dipungkiri, manusia akan selalu mendapatkan pertanyaan semasa hidupnya, bahkan ada media social yang kegunaannya untuk saling betanya (ask.fm). Terbukti, nggak semua orang risih jugakan dengan pertanyaan. Ada yang dengan senang hati bersedia untuk ditanya dengan memiliki akun ask.fm.

By the way, ini kok jadi salah fokus ngomongin ask fm. Maaf ya, writernya lagi hobi main ask.fm hehe (feel free to ask on here ). Jadi begini, saya juga masuk dalam golongan orang yang harus menguatkan mental baja bertemu keluarga. Bukan soal pertanyaan jodoh udah nyampe mana, tapi…ya you knowlah –sesuatu yang tidak boleh disebutkan karena dapat membuat galau berkepanjangan dan mules tak berkesudahan serta sedih tak berujung-. Ada beberapa cara yang pernah saya baca untuk menghadapi hal itu.

Salah satu yang paling berkesan bagi saya adalah ‘dibawa santai’. Iya dibawa santai dengan obrolan. Misalkan kalau tante kamu nanya “Kapan nih bawa calonnya? Udah ada belom”, kamu jawab aja “Ah tante nih, pura-pura lupa aja. Kan udah pernah aku kasih tahu waktu itu. lupa ya tante”. Jawab sambil ketawa kemudian ngeluyur ngambil es buah.

           Sudahlah, jangan menghindar dari berbagai pertanyaan yang muncul itu. karne hidup memang nggak pernah lepas dari pertanyaan. Bahkan sampai di dalam kubur nanti juga ditanya, bukan?

            “Siapa Tuhanmu?”

PS : completely tips, check in here



June 14, 2015

Potret Dalam Kereta (part 2)




Sudah hampir 5 tahun berlalu dari postingan Potret Dalam Kereta. Kalau kamu anker (anak kereta), ada baiknya baca postingan itu sambil menerawang pada keadaan perkereta apian di Indonesia. Ya, saya mungkin hanya pengguna kereta Jabodetabek yang sekarang lebih akrab disapa commuter line untuk waktu-waktu tertentu. Tetapi, menggunakan transportasi umum dan bertemu serta bertahan bersama stranger untuk kemudian terpisah karena telah sampai pada tujuannya masing-masing, membuat saya  seperti menemukan banyak kehidupan lain di luar sana. Yang kemudian pada akhirnya mengajak saya untuk bersyukur.

Merujuk kembali pada postingan 5 tahun silam tentang kereta api, maka kereta api di Indonesia, khususnya Jabodetabek sungguh telah berubah untuk 2 tahun terakhir ini. Bukankah kamu setuju, readers? Bagaimana saat ini kita tidak lagi menemukan pedagang yang turut berdesak-desakan menjajakan barang dagangannya di kereta. Yang ada hanyalah berbagai penumpang yang berdesak-desakan untuk sampai pada stasiun tujuan. Bagaimana kita tidak lagi melihat petugas yang merokok sebelum kereta berangkat. Yang ada hanyalah petugas yang dengan cepat membersihkan gerbong sebelum kereta berangkat.

Bagi saya, perlahan Indonesia menuju perubahan yang semakin baik. Kadang kita tidak pernah menyadarinya kalau kita tidak sesekali melihat ke belakang. Mengapa ? karena tidak jarang, kita sering mengisi hari-hari yang kita lewati dengan keluhan. Well, sebenarnya postingan kali ini pointnya bukan itu. saya masih akan share tentang potret kehidupan yang sempat saya temui dalam commuter line.

Hari itu…Sabtu, 28 Maret untuk pertama kalinya saya dan ibu pergi naik commuter line bersama. Sebut saja agenda favorit wanita = Shopping. Tetapi, kejadian ini terjadi saat pulang. Allhamdulillah kami mendapatkan tempat duduk sedari Stasiun Tanah Abang dan akan turin di Stasiun Sudimara. Saat kereta sampai di Stasiun Kebayoran, ada sepasang nenek-kakek yang naik dengan membawa koper yang cukup besar.

Saya ingin memberikan tempat duduk saya kepada nenek-nenek itu, tetapi semua itu hanya ada dalam pikiran. Kadang, terasa sulit untuk bertindak. Sampai pada akhirnya, nyokap berbisik dan meminta saya untuk berdiri dan memberikan tempat duduk itu kepada si nenek. Sayapun mengikuti perintah nyokap. Tetapi, ketika saya mempersilahkan si nenek untuk duduk, dia tidak langsung duduk. Ada percakapan di antara sepasang sejoli itu. begini kira-kira.

Nenek : Kakek, sini duduk
Kakek : Kamu aja yang duduk
Nenek : Kamu aja
Kakek : Udah kamu aja gpp

Begitulah percakapan berulang-ulang sekitar 30 detik. Hingga akhirnya saya memilih untuk menduduki kursi saya kembali. Ahhahaha becanda deh. Pada akhirnya si nenek yang duduk. Sementara saya berdiri dan berbincang kecil dengan kakek.

Cukup lucu sih adegan kakek nenek yang justru saling mempersilahkan satu sama lain untuk duduk. Ya, rasanya lebih so sweet dibandingkan sepasang kekasih LDR-an yang rebutan buat nyuruh nutup telpon duluan. Ah sudahlahh.

Cerita kedua saya alami di gerbong kereta dalam perjalanan pulang menggunakan commuter line tujuan Bogor-Tanah Abang. Ada seorang bocah yang tingkahnya sungguh sangat tidak karuan. Usianya sekitar 3 tahun, kalau mata saya tidak salah menerka dari look nya. Anak laki-laki itu bersama ibunya duduk di hadapan saya dan paling pinggir. Si anak terus saja bergelantungan tidak karuan. Membuat ibunya mau tak mau harus bersusah payah mengimbangi si anak.

Saya haya tersenyum kecil dan sesekali mengernyitkan dahi. Melihat kejadian itu, yang ada kepala saya adalah bagaimana anak itu tumbuh dewasa. Ralat..mungkin lebih tepatnya, bagaimana banyak anak yang tumbuh dengan tidak dewasa ketika mereka sudah besar dengan bertingkah nakal dan bandel. Nggak kebayang aja, kalau pas kecil mereka sudah sangat membuat ibunya susah kepalang dengan tingkahnya lalu saat dewasa masih belum juga menyudahinya.

Bukan maksud apa-apa sih, tapi saya sempat mengambil gambar anak itu. Sesungguhnya anak itu lucu. Tapi, rasanya kamu akan lebih lucu kalau duduk manis, nak. Suapaya semua orang yang di kereta mampu melihat wajahmu yang lucu, nak.

Tingkah Laku si Anak (1)
Tingkah Laku si Anak (2)
Cerita ketiga, masih seputar anak kecil laki-laki. Tapi usianya bukan balita. Mungkin antara 7-8 tahun. Kejadiannya terjadi masih pada hari yang sama tetapi di kereta Tanah Abang-Serpong. Anak itu loncat loncat sambil menggebrak-gebrak jendela pintu saat kereta itu berjalan. Setidaknya itu yang paling saya ingat. Melihat kejadian itu, saya seakan berulang kali menahan nafas. Khawatir jika suatu waktu pintu itu terbuka dan si anak jatuh. Bergidik sendiri bukan kalau membayangkannya?

Kemudian pandangan saya lemparkan kepada ibunya yang tidak menegur si anak. Saya dalam hati mempertanyakan, “Mengapa tidak memperingatkan anaknya yang tidak bisa diam itu? Apakah dia tidah tahu kalau itu menggganggu ketenangan orang yang mungkin saja ingin beristirahat dalam perjalanan?” fiuuh sudahlah.  Saya lebih memilih menutup mata, mencoba tidur seperti apa yang dilakukan teman di sebalah saya.

Kami turun di Stasiun Sudimara dan menunggu teman saya, Marisa yang antre menukarkan kartunya. Sambil menunggu, saya memperhatikan orang-orang yang menyemut keluar dari stasiun untuk segera naik angkot. Seperti yang sering saya lakukan, sebelum aktif menggunakan motor. Hingga kemudian, sepasang mata saya menemukan seorang bocah aktraktif di dalam kereta tadi. Dia berjalan paling depan, diikuti seorang ibu yang mengalungkan pengeras suara di dadanya dan tangan tertumpu di bahu si anak. Di bahu sang ibu, tertumpu lagi sepasang tangan milik lelaki yang berjalan di belakangnya.

Seketika jawaban saya terjawab sudah, mengapa si ibu tidak memperingatkan anaknya di kereta tadi. Mata saya masih belum lepas dari mereka yang saling beriringan berjalan menuju jalan raya untuk menyebrang, dikepalai si anak kecil itu tadi. Seketika saya merasa sangat bersyukur karena Tuhan masih menganugerahi alat indra yang fungsional kepada kedua orang tua saya.

Hari itu, setelah seharian wisata kuliner bersama kedua sahabat saya, ada rasa syukur lai yang saya bawa pulang.

Terima kasih telah membaca


June 11, 2015

Berlari




Aku tahu aku berlari
Terus berlari agar sampai lebih dulu
Karena langkahku tak sebesar yang mereka miliki, maka aku terus berlari terlebih dahulu
Mencuri start yang tak ada hukum mutlaknya
Aku berlari dan terus berlari
Hingga tersesat dalam arena lain
Meski terus berlari dan berlari
Aku berlari agar sampai lebih dahulu
Aku berlari hingga terhenti dan menyadari
Pada suatu waktu, mereka juga berlari
Mereka mulai berlari dengan langkah yang lebih besar dari milikku
Kemudian aku di sini

Terus berlari dengan langkah yang kumiliki
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis