January 17, 2014

You're In Town


You're In Town
by Adhitia Sofyan


I heard the news that you’re in town
Well that explains the big grey sky
Wandering around and going my way

I dig the grave in my backyard
Pull the coffin full of dust
See a glance of just what story remains

So go far take what you need
I’ll be around when everything falls
And then I’ll go run it again
To see if it crashes down the same
But then, I don’t feel like losing anymore

The city weeps while you’re in town
The lights went on a little dimmer
As if they knew the way its going to end
                                                                                    
I see we’ve hit the tall brick wall           
Where conversation has run dry
This would be the part you say your goodbye

Your beautiful disguise stays in my head
Leaving empty traces lost in time
Until all burned down to live again



About Path, About Me







Seperti janji saya pada postingan sebelumnya untuk mengulas keeksklusifanPath menurut saya, maka kali ini saya akan menepatinya.

Mari kita mulai

Seperti kebanyakan orang saat baru memiliki social media yang baru, maka langkah pertama yang saya lakukan adalah mulai  menambahkan teman (add friend). Karena saat itu teman yang saya tahu hanyalah 2 sahabat JHS (Junior HIgsh School) saya maka berakar dari situlah saya mencari teman. I mean saya menambahkan teman yang kebanyakan merupakan teman-teman semasa JHS.

Selanjutnya teman lain mulai bermunculan, baik teman JHS, SHS (Senior High School), teman kampus hingga beberapa teman SD saya. Path yang membatasi si penggunanya memiliki 150 teman benar-benar membuat saya benar-benar selektif dalam memiliah siapa-siapa saja untuk dijadikan teman di Path ini.

Kalau pada jejaring sosial lain, saya tidak bermasalah berteman dengan siapapun ( bagi saya akan ada banyak informasi yang saya peroleh), maka pada Path saya menemukan fungsi sesungguhnya dari social media, yaitu hanya berhubungan dengan orang yang kita ingin tahu kabar dan keadaannya.

Saya menemukan banyak wajah baru dan aktivitas baru dari kehidupan teman-teman saya yang sudah lama tak saya jumpai. Entah itu tentang kuliah mereka, wisuda kakak mereka, tempat hangout mereka, pacar baru mereka, hobi baru mereka, ataupun pekerjaan baru mereka (ada beberapa teman yang merupakan kakak tingkat).

Teman saya, Ilfi pernah bilang kalo Path itu lengkap. Kombinasi dari segalanya. Dari foursquare, twitter, dsb. Karena saya bukanlah orang yang rajin menjajal semua social media, jadi saya tidak bisa membenarkannya. Yang saya tahu Path melengkapi hobi saya dan itulah yang membuat saya keranjingan. Hihiii.

Sebagai radio addicted, saya senang sekali mendengarkan music. Terutama di radio. Dan Path meneyediakan music box—dimana kamu bisa share sedang mendengarkan lagu apa kepada teman-teman di Path. Lengkap dengan Judul lagu, nama penyanyi, album dan tahun lagu itu dirilis. Fasilitas itulah yang sebentar-sebentar membuat saya melirik ke Path (hehe. Maaf kalau memenuhi TL teman-teman di Path hehe).



Tidak hanya itu saja, ada movie box dan books box yang memberikan fasilitas tidak jauh berbeda dari music box. Kamu dapat share film yang sedang kamu tonton atau buku yang sedang kamu baca.

Untuk setiap aktivitas yang kamu share, orang lain bisa memberikan reaksi berupa emote (gasped, sad, smile, laugh, dan love) ataupun menyampaikan comment. Path juga menyediakan fasilitas chat secara private tanpa pembatasan karakter serta dapat berkirim sticker



Yang unik, Path juga menyediakan fasilitas I’m awake dan Go to sleep. Awalnya saya merasa aneh dengan fasilitas ini dan terlalu berlebihan karena untuk aktivitas bangun dan tidur saja sampai dishare ke orang lain. Tetapi kemudian saya tertarik, karena di bawahnya terdapat penjelasan cuaca saat kita bangun atau tidur, termasuk suhu udara di sekitar kita. Hal itulah yang membuat saya kemudian ikut menggunakan fasilitas itu. Semata-mata hanya ingin tahu deskripsi di bawahnya. Haha

Social media besutan Dave Morin ini juga punya beberapa kekurangan bagi saya. Mulai dari pencarian yang lama dan kadang tidak lengkap pada Music box, books box dan movies box. First name yang hampir sama satu sama lain, notification yang datangnya terlamba, dsb.

Tapi Path menjadikan saya dekat dengan teman yang jauh. Hanya dengnan mengetahui aktivitasnya. Kini, saya tahu mengapa ada orang yang tidak mau menerima request berteman dengan orang yang tidak benar-benar mereka kenal. Karena kini saya yang menjadi orang itu dan tahu apa jawabannya. Meski di beberapa hal mungkin ada toleransi untuk berteman dengan orang yang tidak kita kenal, tetapi memiliki selera musik yang sama. Dan saya ada di bagian itu. Haha

Terima kasih atas waktunya. Semoga bermanfaat





January 8, 2014

The Guys Who We...


Ada 2 kesamaan yang saya temui pada 2 hal berbeda yang saya selami selama 3 hari terakhir ini. Okay, ringkasnya dari novel yang saya baca dan drama korea yang saya ikuti. Tokoh utama wanita pada akhirnya akan memilih lelaki lain—yang belum mencintainya—ketimbang lelaki satunya lagi—yang jelas-jelas mencintainya dan selalu berada di sisi si wanita itu kapanpun dibutuhkan

Saya baru menyadari hal itu ketika harus menerima ending Dating Cyrano Agency. Min Young akhirnya memilih Il Reok ketimbang Master (Seung Pyo). Padahal Master sampai tertusuk pisau hanya untuk menyelamatkan Min Young yang diculik. Sementara Il Reok? Dia hanya terus menafikkan perasaannya dan berulang kali memukul Min Young untuk mundur memerjuangkan cintanya.

Alasannya ? “I am not good man for you”

Sama persis dengan alasan Skan yang berubah drastis menghindari Krystal dalam novel Goddbye Happiness karangan Arini Putri—yang belum lama ini saya baca. Tokoh utama wanita akan selalu berjuang mendapatkan cinta pria—yang belum mencintainya atau menolak mencintainya. Tak peduli harus terluka ataupun menangis merana dibuatnya. Padahal di belakangnya telah ada pria lain yang selalu setia memayunginya, meminjamkan bahu untuk memebenamkan kepala, atau sehelai saputangan—penghapus air mata.

Tetapi, meski telah dipayungi, si tokoh wanita utama seakan terus berlari menembus hujan. Dia ingin mencapai pelangi dan memilikinya. Tak peduli kalau kehujanan bisa membuatnya sakit.

Itukah ciri khas Korea ? Karena kalau ditilik kembali, fenomena Boys Before Flowers juga mengisahkan Jandi yang mati-matian mempertahankan hubungannya dengan JunPyo, padahal ada Ji Hoo di belakangnya yang selalu ada di kala Jandi membutuhkannya.

Ada yang tahu jawabannya mengapa? Sekilas bukankah ini lucu ? Juga tidak adil atau bahkan bodoh ? Kenapa bersusah payah mengejar pria lain kalau ada good man yang selalu setia di belakangmu dan akan selalu ada kapanpun kamu butuh ? bukankah itu bodoh ? Menyia-nyiakan yang ada ? Seperti tidak mensyukuri apa yang telah dikirimkan Tuhan untukmu ?

Kalau dilihat kembali, saya kadang kesal sendiri. Tetapi, ada poin positif yang coba saya tangkap dari lelucon bodoh ini. Seperti yang kita—para penikmat drama atau novel dan sejenisnya—tahu kalau cerita akan selalu berakhir dengan tokoh utama wanita mendapatkan pria yang ia cintai. Dan si pangeran yang memayungi akan berlapang dada mengikhlaskan sambil berkata “Aku bahagia untukmu.”

Endingnya akan selalu begitu, bukan ?

It means di balik perjuangan si wanita, ia akhirnya mendapatkan pria yang ia cintai. Karena untuk mendapatkan apa yang kita inginkan itu tak pernah mudah. Harus ada proses, perjuangan, kerja keras, rasa sakit. Pada akhirnya, semua itulah yang menjadikan pertimbangan apakah kita dengan begitu saja mengakhiri hubungan—setelah kerja keras dan perjuangan yang besar untuk mendapatkannya—dengan si dia ?

Dan…ya jangan sudah capek-capek kita perjuangkan untuk mendapatkannya tapi justru diabaikan di kemudian hari. Seperti pulau indah kita di Timur Indonesia.

Tapi kembali lagi pada pria yang kita inginkan itu, benarkah ia yang memang kita butuhkan ?

Nah lho bingungkan ? Saya juga…

So, be realistic, girls


Sekian dan terima kasih atas waktunya.


we want





 OR



we need



Pertemuan dengan Path

Halo readers

Saya memiliki Path sejak 6 bulan lalu, tetapi baru aktif menggunakannya 4 bulan terakhir ini. Awalnya sempat baca postingan teman dalam blognya yang menceritakan kalau dia keranjingan bermain Path. Saat itu saya belum tahu fasilitas apa saja yang ada di dalam Path dan tidak tertarik juga dengan Path.

Karena pada akhirnya, semua sosial media yang baru—entah apa namanya—dan menjamur banyak digunjingkan orang, saya hanya tetap setia pada Twitter. Mengapa ? Karena Twitter memberikan informasi terupdate. Timeline cepat berubah dan tidak memunculkan apa yang dibicarakan orang pada 2 atau 3 hari yang lalu.

Ya, itulah yang terjadi pada news feed facebook saya. Sebagian besar isinya adalah update status teman saya—yang kebanyakannya lagi berisi curhatan—pada 2 atau 3 hari lalu tapi masih muncul juga. That’s why facebook saya seperti tidak punya kehidupan, karena saya jarang menggunakannya. Lihat saja sampai saat ini covernya belum diperbarui sama sekali. Haha

Sementara Twitter memberikan informasi terhangat, layaknya brownies yang baru keluar dari oven. That’s why saya lebih aktif bermain Twitter. Entah itu mantengin timeline atau meretweet  status dari yang saya follow.

Jadi, ada suatu hal yang membuat saya tertarik pada Path dan memutuskan untuk membuatnya. Pada suatu kesempatan, ada kuis di twitter—yang saya lupa hadiahnya—mengenai cerita Lupus. Iya, Lupus yang hobinya makan permen karet dan jambul khas itu lho. Bukan penyakit Lupus ya.

Pada kuis itu, peserta hanya diminta mengulas cerita yang menjadi favoritnya dan ada di buku Lupus judul apa serta alasannya. Dengan fasilitas 140 karakter yang disediakan Twitter saya memanfaatkannya sebaik mungkin. Meski tentu saja masih sangat super kurang puas. Beberapa hari kemudian saya iseng mencari siapa pemenangnya dan jawabannya. Di situlah saya bertemu dengan Path.

Maksud saya, ternyata banyak peserta yang menggunakan fasilitas Path dalam menjawab. Jadi, mereka tidak lagi terbatas dengan 140 karakter. Mereka bisa menceritakan cerita Lupus favorit mereka beserta alasannya dan terdapat di buku apa. Karena setiap moment yang kita share di Path bisa otomatis terhubung ke Twiter, Facebook, Tumblr, Foursquare (jika kita mengizinkan). Path ini  Di situ saya masih belum mengetahui apa itu Path. I mean, media sosial jenis apa sih Path itu.

Tetapi, saat ada kesempatan untuk akhirnya bisa bikin akun Path. Sayapun membuatnya melalui notebook. Saya lupa bagaimana caranya, yang jelas langkah saya terhenti saat ternyata untuk melanjutkan aktivitas di Path, saya harus mengaksesnya melaui smartphone. Langkah saya terhenti karena saat itu belum punya smartphone. Tetapi, saya sudah punya akun Path. Haha

Hingga 2 bulan kemudian, saya juga lupa bagaimana bisa mengakses akun Path yang sudah saya buat pada 2 bulan sebelumnya. Yang jelas, cukup lama juga sih untuk dapat mengakses Path via smartphone dikarenakan saya lupa menggunakan alamat email yang mana.

Sejak saat itu, saya mengamini teman blogger saya. Saya ikut keranjinga Path. Tetapi saya menemukan keesklusifan Path dan fungsi dari media sosial yang sesungguhnya. Path berbeda bagi saya…dia memiliki arti tersendiri.

Mengapa ? ada banyak alasan

Tunggu postingan selanjutnya ya.

6 months 600 momments

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis