February 18, 2013

Unique





Kamu orang pertama yang menggelapkan kata

Buat saya, kamu batu

Mesti kadang terlihat lucu

Kamu berhasil menghilangkan setiap rangkaian kata

Sukses membuat saya menjauh dari degup

Canggung, ragu, tanya ataupun asa

Kamu seperti arus yang mengajak saya mengalir

Melewati, tanpa perlu memahami

Menjalani, tanpa perlu meratapi

Bahagia, tanpa perlu bertanya

Kamu membuat saya menekan tomobol off pada hati

Memaknai peristiwa, bukan cinta



12 Desember 2012



February 17, 2013

(bukan) Jatuh Cinta



Sepertinya saya sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.

Detak jantung berlompatan ataupun tangan berkeringat tak ada lagi. 

Bersama kamu, bukan jatuh cinta ataupun letupan bahagia.

Hanya mengalir dan menikmatinya


February 14, 2013

Couple Ride Parade





Mischa masih termangu melihat seonggok kertas di hadapannya. Sebuah pamflet ‘Couple Ride Parade’ yang ditunjukkan Mika usai jogging di taman tadi pagi terbujur kaku di hadapannya.

“Kita harus banget ikutan ini ya, hun. Pasti seru dan so sweet,” bujuk Mika.

Mischa mengamati pamflet itu dengan dahi berkerut. Jawabannya adalah tidak mungkin, tapi maukah Mika memahaminya.

* * *

“Hun, besok sore kita hunting sepeda tandem ya? Apa mau nyewa aja? Aku mau yang warnanya pink ya.” cerocos Mika di halaman rumahnya. Sementara Mischa hanya sibuk menyirami tanaman di kebun rumah kekasihnya itu.

“Pokoknya setelah kita dapet sepeda tandemnya, kita harus latihan pagi dan sore. Supaya menang,” cerocos Mika lagi.

“Aku belum bilang ‘iya’ lho, Mik untuk ikutan lomba sepeda itu.” Mischa akhirnya buka mulut.

“Lho kenapa? Harus ikutan pokoknya. Naik sepeda tandem itu kan romantis.”

“Ya tapi aku nggak bisa”

“Kenapa? Kamu nggak bisa naik sepeda tandem?”

“Bukan begitu.”

“Terus? Tell me why, hunny,” bujuk Mika.

“Aku bukan nggak bisa naik sepeda tandem, tapi karena aku…aku emang nggak bisa naik sepeda”

“Haah?” Mika tersentak kaget, menemukan sebuah fakta yang baru ia ketahui tentag kekasihnya itu.

Mischa buang muka, antara malu dan kesal pada dirinya sendiri.

* * *

       “Nobody’s perfect but practice makes perfect. Kamu nggak perlu khawatir, hun. Couple Ride Parade nya masih 2 minggu lagi. It means kita punya waktu untuk latihan. Umm..lebih tepatnya, aku punya waktu untuk ngelatih kamu naik sepeda. Dan kamu pasti bisa, and then kita akan menjadi pemenangnya,” jelas Mika sambil menuntun sepedanya yang berwarna merah muda. Mischa hanya pasrah setelah semua penolakannya dilibas oleh Mika. 

         Keringat Mika dan Mischa sudah sama-sama mengucur deras. Mereka berdua terlihat begitu kelelahan hanya setelah 30 menit berlalu.

         “Aku capek, hun. Kita lanjut besok aja deh,” usul Mika. 

         “Yaudah kalau kamu capek, kita cari Walls Cornetto dulu yuk.”

* * *

                “Kamu pegang stang yang stabil dong, hun. Jangan goyang goyang gitu,” ujar Mika memberi arahan.

                Tetapi, bukannya mengikuti arahan dari kekasihnya, Mischa justru turun dari sepeda secara tiba-tiba. Belum selesai sampai di situ, Mischa juga membanting sepeda merah muda milik Mika ke tanah. Mika terlonjak kaget.

                “Apa-apaan sih Mis? Kenapa ngebanting sepeda aku begitu?,” tanya Mika marah.

                “Aku capek tahu nggak kamu arahin nggak jelas. Sebentar sebentar ke kanan, ke kiri, ke kanan lagi. Kamu nggak becus ngarahinnya,” jelas Mischa kesal.

                “Kamu kira cuma kamu yang capek? Aku juga capek harus megangin sepeda ini dari belakang karena kamu nggak berani kalau aku lepas. Dasar cowok pengecut”

                Misha langsung pergi meninggalkan Mika. Sementara Mika duduk menepi sambil mengucurkan air mata meratapi sepedanya.

                Lalu, 2 buah Walls Cornetto tiba-tiba saja hadir di hadapan Mika.

                “Tadi aku lihat tukang es dan langsung ingat kamu. Maafin aku ya, hun. Besok aku janji akan latihan lebih baik lagi,” ungkap Mischa menyesal.

                Mika mengangguk mantap dan mengambil Cornetto favoritnya.

* * *

                “Aku udah nggak mau latihan naik sepeda lagi. Kita nggak perlu ikutan lomba sepeda tandem itu,” buka Mischa di sela-sela istirahat berlatih sepeda.

                Mika yang sedari tadi asyik menjilati Walls Cornetto favoritnya seketika langsung menghentikan aksinya. “Maksudnya?”

                “Kamu kok lemot banget sih. Aku kasih tahu sekali lagi. Kita nggak perlu ikut Couple Ride Parade itu. Useless juga kan”

                “Lombanya tinggal 3 hari lagi dan kamu bilang nggak jadi ? Kok kamu seenaknya 
sendiri gitu sih. Egois dasar”

                “Bukannya kamu yang egois, Mik. Dari awal kamu yang maksain buat ikutan lomba sepeda tandem nggak jelas itu. Kamu nggak sedikitpun mikirin gimana perasaanku. Bahkan kamu nggak nanya kenapa aku nggak bisa main sepeda? Karena kamu nggak pernah mau tahu. Kamu itu lebih egois.”

                Mika tak kuat lagi menahan air mata yang terkumpul di pelupuk matanya. Tetapi ia malu jika harus menangis di depan Mischa. Mika lari sekuat tenaga meninggalkan Mischa, yang dia tahu dia hanya ingin menangis.

* * *

                Mika ngambek. Atau mungkin marah besar. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Mischa. Sudah 2 hari sejak pertengkaran itu, Mika tidak ingin dihubungi oleh Mischa. Semua perasaan berkecamuk dalam dada Mischa. Meski dengan setengah takut dan rasa mual, Mischa berlari ke garasi untuk mengambil sepeda adiknya dan membawanya ke taman.

* * *

                Hari itu tiba, Couple Ride Parade yang diimpikan Mika. Naik sepeda tandem berkeliling taman bersama Mischa. Mika berani memimpikanya karena dia tahu kalau Mischa begitu menyayanginya, tetapi kini semua harapannya sirna sudah. Mika meringkuk di kamar di Minggu pagi yang cerah. Dia hanya ingin tidur seharian penuh dan melewatkan hari yang ditunggunya itu terbakar sia-sia. Tetapi, sebuah bel sepeda yang berisik menganggunya.

                Mika beranjak dari tempat tidur dan mendekati jendela untuk melihat siapa orang iseng yang membunyikan bel sepeda itu. Betapa terbelalaknya Mika saat melihat Mischa dengan mengendarai sepeda telah berada di depan rumahnya.

                “Kamu ngapain?,” tanya Mika segera setelah berhadapan dengan Mischa.

                “Sepedaan yuk. Mau aku bonceng nggak?”

                “Emang kamu bisa?”

                Nyatanya hari itu lebih  indah dari hari yang pernah dimimpikan oleh Mika. Mika dan Mischa berkeliling taman dengan bersepeda.

                “Ternyata lebih romantis dibonceng ya daripada naik sepeda tandem barengan,” buka Mika di sela-sela jilatan es krim Walls Cornetto.

                “Kamu suka dibonceng seperti ini?,” tanya Mika sambil terus mengayuh pedal.

                “Iya. This is so sweet, hun”

                “Tapi, kalau kamu mau nyobain naik sepeda tandem bareng aku, aku siap kok. Lagipula lombanya diundur, jadi kita masih punya kesempatan”

                “Hahh? Diundur, hun?,” tanya Mika kaget hingga membuat sepeda yang mereka tumpangi nyaris oleng.

                “Iiii..ya tapi hati-hati dong, hun. Jangan banyak gerak. Akukan masih pemula. Nanti kalau kita jatuh, kamu jugakan yang lecet.”

                “Hehe, maaf hun. Habis aku senang dan nggak nyangka aja. Btw kok kamu bisa naik sepeda begini? Jangan-jangan selama ini kamu Cuma pura-pura nggak bisa ya?”

                “Mana mungkin aku pura-pura. Aku pernah trauma naik sepeda karena saat itu pernah nabrak tukang ketoprak. Lalu semua bumbu kacangnya tersiram ke tubuhku. Makanya kalau setiap naik sepeda, aku ngerasanya mual mulu. Ingat sama bumbu kacang”

                “Hun, maaf. Aku nggak tahu cerita itu dan bodohnya aku juga nggak pernah nanya. Terus gimana sekarang Masih mual setiap naik sepeda?”

                “Nggak kok, hun. Sekarang setiap naik sepeda, aku selalu membayangkan kamu. Jadi, rasa mualnya hilang deh. Selama kamu ngambek, hampir seharian lho aku latihan sepeda sendirian di taman. Semuanya demi kamu, hun.”

                “Makasih ya. Maafin aku yang sempat egois”

* * *

                Hari itu tiba. Couple Ride Parade. Sekarang apapun yang terjadi, Mika nggak peduli menang atau kalah. Sekalipun tidak kesampaian naik sepeda tandem bersama Mischa rasanyapun tidak mengapa. Di sudah sangat bahagia dibonceng Mischa beberapa hari yang lalu.

                “Kalau kamu nggak mau ikutan lomba ini, kita bisa mundur sekarang kok hun,” bujuk Mika untuk kesekian kalinya.

                “Nggak perlu. Aku mau naik sepeda tandem bareng kamu, hun.”

                Karena cintanya yang begitu dalam dan tulus kepada Mika, Mischa tidak hanya mampu menghilangkan rasa traumanya kan naik sepeda, tetapi ia juga begitu gigih dalam mengayuh sepeda tandem. Alhasil mereka berhasil memenangkan Couple Ride Parade itu. Kebahagiaan Mika terasa lengkap.
                  

 

Hello 20



Anda pernah mengalami kecelakaan? Sebuah peristiwa yang tidak pernah kita duga dan harapkan. Lalu bagaimana, jika kecelakaan itu berbuah manis? Misalnya Anda justru berkenalan dengan orang yang menimbulkan kecelakaan ? Atau mungkin dokter  tampan yang mengobati luka kecelakaan Anda itu? 

Nampaknya, semua itu hanya ada dalam produksi film, sinetron atau beberapa cerita di buku. Tetapi, kecelakaan termanis itu ada di hari bertambahnya usia saya. Hari yang menjelaskan ke seluruh dunia sebuah tanggal 13 Februari 2013.

Allhamdulillah, tahun ini Allah masih memberikan jatah umur bagi saya dan…right, saya berganti kepala di tahun ini. Dua. Sekarang usia saya di awali dengan angka dua.

Lalu bagaimana dengan kecelakaan yang berbuah manis itu?

Hujan mengguyur tanpa ampun di Depok siang tadi. Saya dan beberapa teman yang berniat survey ke salah satu villa (untuk RAT) dipaksa hujan untuk menunggu lumaya lama. Karena dirasa sudah terlalu sore untuk melanjutkan perjalanan, maka kami memutuskan untuk kembali pulang. Sebenarnya kami tidak langsung pulang, saya dan ketiga teman (Mumu, Fazril, Sella) memutuskan untuk shalat Ashar terlebih dahulu. Rombongan yang lain nampaknya meneruskan perjalanan.

Lalu, kecelakaan berbuah manis itu adalah terwujudnya small wish  saya di tahun lalu.
Honestly, saya sendiri hampir lupa kalau pernah menuliskannya di blog. Saya kira, saya hanya menyimpan small wish  itu sendiri dalam hati, tetapi nyatanya Sella mengingatnya. Uooooh thank youuu my Sella. Hehehe

Baiklah, mereka sukses menghadirkan durian-durian cantik di hadapan saya.


Durian cantik nan seksi



Meski tanpa lilin, Sella mengutarakan maksud dari semua itu dan saya pribadi sudah memberi stempel small wish saya complete. Akhirnya di tengah rintik gerimis itu, kita berempat makan durian bareng tanpa babibu.

with Mumu (kiri) & Fazril


Ya, meski awalnya malu-malu (secara ditraktir Fazril) hahahahha.

Sella, Mumu, Fazril


Okay, ini mungkin memang aneh, siapa yang ulang tahun, siapa yang traktir. Uooohh tapi makasih banget lho Fazril, Sella, Mumu.

Dan setelah melahap habis 3 durian bersama, kita pulang dengan Bismillah. Maklum, pengendaranya baru saja makan durian (khawatir mabuk) tapi allhamdulillah semua pulang dengan selamat. Meski di rumah "meledug" dan sendawa aroma durian, hhahaha.

Sore itu rasanya melengkapi 13 Februari 2013 milik saya. Paginya, sudah ada morning surprise yang dihadirkan 2 malaikat saya, Radini dan Marisa. Aah mereka memang tak pernah absent mengantarkan lilin-lilin kecil untuk ditiup oleh saya di setiap bertambahnya umur saya.

Happy 20 Fitria


Meski begitu, mereka juga selalu berhasil membuat saya bahagia tiada tara karena tidak menyangka kalau mereka akan datang pagi-pagi.

Belum selesai sampai di situ. Radini menyodorkan sebuah bingkisan yang berbentuk bingkai sambil berkata “Lo harus buka ini sekarang, Fit. Dan jelaskan maksudnya apa.” Asli, saya rasanya seperti dipergoki selingkuh. Kalau kata Mumu sih, “watashi kininarimasu (saya penasaran)” .

Okay, finally saya langsung membukanya. Selain sungguh ingin tahu karena tatapan matanya Radini menusuk seolah saya merebut gebetannya (hehe, peace din). Dan….Wauwww
Mereka membuatkan ini untuk saya


Prakarya

 

Dan maksud dari ‘tolong jelaskan, ini maksudnya apa’ itu adalah salah satu foto snapshot saya di SMA yang sedang mencoba menjepit poni. Oke, itu memang cacat.

Tapi, mereka telah membingkai semua kenangan saya menuju 20 tahun. Terima kasih Radini, Marisa. Terima kasih untuk morning surprisenya, untuk tiup lilin yang sudah ke-7 kalinya dalam perjalanan usia saya, terima kasih untuk selalu mendengarkan semua curhatan saya yang tidak pernah jauh dari ‘dia’ . terima kasih untuk selalu menyemangati saya dalam keadaan apapun. Terima kasih, my besties.

Selain usia yang sekarang dimulai dnegan angka dua, ada banyak perbedaan yang saya rasakan di ulang tahun kali ini. Mulai dari bangun tidur dan mendapatkan ada 6 pesan selamat ulang tahun. Entah kenapa rasanya nyesek aja melihat siapa saja pengirimnya. Juga bercampur haru. Bukan karena mengetahui bahwa yang menjadi the first telah berubah, melainkan terharu karena mereka mau meluangkan waktu mengucapkan tengah malam. Padahal, saya saja terkapar pulas di 15 menit menuju 13 Februari 2013. Hahaha. Terima 
kasih sudah membuat saya terharu, terima kasih untuk semua doa-doanya.

Semoga semua barisan doa yang kalian kirimkan untuk saya juga berbalik ke kalian :)

Sekali lagi, terima kasih untuk kalian yang telah membuat hati saya meluap bahagia seharian


© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis