March 9, 2012

Senyum Sapa Mentari

Menyelami dirimu dari ujung kaki hingga kepala tak akan jemu

Warna biru selalu teduh

Berjam-jam memandangmu tak menjadikanku jenuh

Meski kenyataannya hanya dari jauh

Karena aku berada di langkah tujuh atau sepuluh darimu

Keasyikanmu tenggelam dalam buku tak pernah kaku

Aku tak pernah berniat menyapamu

Terus mempercayai kau yang lebih dulu

Menyeret kaki dan tangan hangatmu ke hadapanku

Seorang diri

Bukan bersama kartu-kartu bahagiamu

Bukan bersama dia yang juga bermentari

Aku hanya ingin kamu..seorang diri


inspired by Senyum Sapa Mentari


Kaeela

Dari awal, aku dan kamu saling tahu

Saling menghargai dan terus menjalani

Setiap getaran yang tercipta

Setiap senyum yang terkemuka

Air mata yang tumpah

Tawa yang pecah

Kesal yang menjadi gelisah

Benci yang menjadi sampah

Aku dan kamu rasakan itu

Tanpa malu untuk mengaku

Sudah seperti udara yang aku dan kamu hirup

Bagaikan bumbu hidup yang tak pernah mengatup

Hingga akhirnya semua redup

Menjadi senyap karena kamu lenyap

Hilang tanpa meninggalkan asap

Sebelum aku sempat mendekap

Tetapi semua rasa yang aku dan kamu tahu masih terus mengendap

Aku takkan meratap

Juga tak lupa mengerjap dan menatap bintang

Berharap kamu pulang karena keajaiban


inspired by Kaeela Selalu


Adaptasi (lagi)

Matahari sedang bersinar maksimal saat gue sedang menuliskan postingan ini.

Well…ini hari ke-2 gue kembali masuk ke perkuliahan.

Harus gue ceritakan kalau kemarin, Senin 5 Maret 2012 atau tepatnya hari pertama masuk kuliah jadi hari yang sangat berat untuk gue pribadi.

Dimulai dari jam bangun yang lebih awal. Kembali menjadi jam 6, setelah hampir 2 bulan ini selalu bangun di atas jam 8.

Sulit rasanya berpisah dengan selimut dan kasur yang empuk. Benci dengan lantai kamar mandi dan dinginnya air di pagi hari. Tetapi semua itu ya harus kembali perlahan gue rangkul. Karena itulah aktivitas gue selama satu semester ke depan. Senin-Rabu dengan kuliah pagi.

Seperti yang sudah gue bilang, hari pertama sangat berat. Berjalan di sepanjang fakultas di kampus 1 UIN Jakarta menjadi hal yang biasa buat gue 2 bulan yang lalu selama 4 bulan, tetapi pagi itu tidak.

Rasanya perjalanan menuju fakultas tercinta dan terujung begitu menyiksa. Sakit perut sepanjang jalan. Entah nerveous. Entah deg-degan. Entah takut. Entah khawatir. Entah panggilan alam ? (yang terakhir jelas bukan)

Yang gue tahu, matkul pertama di hari pertama adalah Pengantar Ekonomi Makro dengan dosen pengajar yaitu dosen yang mengajar Pengantar Ekonomi Mikro di semester sebelumnya, at least gue udah kenal. Masalahnya (baca:yang menjadi masalah perut gue) adalah gue masuk di kelas B dengan isi rakyatnya tentu saja mayoritas anak B sementara gue dulunya di kelas C.

Oke, kalau readers bingung. Maka gue akan *tarik nafas mencertitakan kembali (untuk yang belum tau)

Di UIN Jakarta—tempat dimana gue menjadi mahasiswanya—menggunakan AIS (Academic Information System) dalam pekuliahan. Sistem ini meliputi jadwal perkuliahan serta nilai akhir nantinya.

Nah, dengan AIS ini, mulai dari semester 2 dan seterusnya setiap mahasiswa bisa menyusun jadwal perkuliahannya sendiri. Mau pilih matkul apa, dosennya siapa, waktunya kapan, mau ikut kelas apa. Semuanya bisa kita atur di AIS tetapi ya ga semudah update status di facebook yang lancar setelah klik share. AIS suka gangguan dan teman gue sering jadi korbannya. Kalau gue pribadi, Allhamdulillah belum pernah kesel parah karena gangguan si AIS. Hehe

Karena ada AIS, gue yang awalnya dikasih cap sebagai anak C berkelana sebagai anak B di matkul Pengantar Ekonomi Makro. Tetapi untuk matkul lain, gue tetap bertahan di C. sementara temen-temen gue yang bertahan di C bisa dihitung dengan jari.

Karena si AIS inilah, kelas C menjadi kelas campuran karena isinya gak 100% C, begitu juga dengan kelas lain.

Si AIS ini sebenarnya baik kok menurut gue. Setiap mahasiswa jadi punya kebebasan dan bisa menyesuaikan dengan keperluannya tetapi gue pikir bisa aja melahirkan sikap individualis karena jadinya sendiri sendiri.

Pengantar Ekonomi Makro itu, gue dan Bonita ngerasa terasing karena Cuma berdua yang dari C. sisanya mayoritas B dan beberapa anak kelas A. Pas masuk, gue bertemu dengan wajah-wajah yang sudah gue ketahui namanya saat Think Acct tetapi pagi itu folder “Nama Teman Kuliah” dalam otak gue seperti tersapu bersih. Kosong. Gue lupa. For the first timegue lupa sama nama orang. Parah ah. Akut !

Selesai Makro, matkul selanjutnya Bahasa Inggris 2 di kelas C. menghadapi kelas Bahasa Inggris udah menjadi pikiran gue dari sebelum amsuk kuliah. Ada ketakutan dan kekhawatiran aja. Masalahnya, setau gue lagi nggak ada yang ngambil Bahasa Inggris 2 di C, termasuk Bonita atau Chandra (teman gue yang bertahan di C).

Orang-orang yang gue temui di Makro nggak gue temui lagi di Bahasa Inggris ini. Rakyat Bahasa Inggris 2 di kelas C berkisar 30 orang. Setengahnya diisi dengan kakak senior (cowok semua), sisanya campuran kelas A,B,C.

Di kelas ini gue harus beradaptasi…kenalan lagi. Menghafal satu per saru kembali wajah mereka.

Usai Bahasa Inggris 2, masih ada matkul lagi yaitu aspek Hukum Dalam Ekonomi (AHDE). Gue kembali memilih di kelas C dan isi kelasnyapun wajahnya sudah berbeda-beda lagi but at least gue kenal dengan hampir setengahnya. Sisanya…kenalan lagi..adaptasi lagi.

Fiuuuuh hari pertama kuliah = 3 matkul = adaptasi lagi membuat kepala gue nyaris pecah. Sakit banget rasanya. Pusing. Tetapi itulah Full Monday gue selam satu semester ini.

Nggak ada nongkrong bareng di basement bareng 13 12 11 lagi. Nggak ada shalat ashar berjemaah lagi. Nggak ada jalan bareng di sore hari sambil ketawa-ketawa menuju gerbang UIN. Nggak ada English Day yang masih belepotan. Semuanya nggak ada lagi.

Yang ada…adaptasi…lagi

Kaeela Selalu

Dari awal, aku dan kamu saling tahu

Saling menghargai dan terus menjalani


Kaeela selalu menyisir ujung rambutnya dengan jari-jari panjangnya sambil mendengarkan ceritaku. Sesekali senyum terukir dari bibirnya yang menununjukkan belahan di bagian bawah. Mata Kaeela yang bulat selalu berputar indah seolah tak percaya dengan ucapan-ucapan yang keluar dari mulutku. Tetapi sedetik kemudian, matanya akan kembali menuju ke mataku. Focus. Mendengarkan. Sesekali dahinya yang berkerut bingung seolah menekan tombol rewind pada diriku yang membuatku bercerita lebih pelan. Mengulang kembali hingga Kaeela paham. Kaeela selalu membuka mulutnya setelah melihat tenggorokanku mantap teraliri minuman ion dingin favorit kami berdua. Kaeela selalu mengucapkan ‘Bagus’ sebagai tanggapan utamanya setelah panjang lebar aku bercerita. Kaeela selalu tertawa setelah itu. Kaeela selalu mengomentari setiap detail ceritaku. Kaeela selalu memberi saran yang tak pernah kuiyakan tetapi secara tidak sadar, aku mengikutinya. Kaeela selalu begitu.

Sejak perkenalan pertama kami di kampus, tepatnya musim panas 2008. kami berada dalam satu kelompok yang sama saat orientasi. Kaeela selalu menebarkan senyumnya untukku, menyapaku dari kejauhan. Kaeela selalu memanggil namaku sambil melambaikan tangannya yang lembut. Hal yang tidak dia lakukan pada teman laki-laki lainnya.

Aku dan Kaeela bagaikan gula dan semut. Dimana ada Kaeela, di situ ada aku. Begitu pula sebaliknya. Kaeela menjadi tempat keluh kesahku menghadapi setumpuk pasal-pasal yang harus aku hafalkan. Kaeela selalu melihatku muntah saat mulai lelah menghafal pasal. Sedetik kemudian, Kaeela selalu menghampiriku dengan cat air di tangannya. Membiarkanku menghirupnya sedikit, lalu aku akan merasa lebih baik. Tak lama kemudian, Kaeela akan selalu tersenyum tenang melihatku melukis. Kaeela selalu tahu kalau aku tak suka Ilmu Hukum. Kaeela selalu tahu aku menyukai seni. Seni rupa.

Kaeela tidak keberatan. Dia juga menyukainya. Hanya saja dia tidak memiliki bakat itu, hal itu yang selalu dia utarakan kepadaku. Kaeela menyulap dinding kamar tidurnya menjadi tumpahan kreatifitas seniku. Kaeela tidak peduli apa yang akan kutumpahkan di dindingnya. Kaeela akan selalu menyukainya. Ya, Kaeela melakukan itu untukku. Kaeela hanya tidak ingin kreativitas dan bakatku terhenti karena tidak diizinkan berekspresi oleh ayah tiriku. Kaeela selalu menjauhkanku dari kopi hitam dan rokok, asap rokok sekalipun.

Kaeela selalu mengacak-acak rambutku dengan telapak tangannya yang lembut setiap aku panik belum mengerjakan tugas. Kehangatan tangan Kaeela selalu berhasil membuatku lebih rileks. Kaeela selalu menghabiskan roti isi keju buatan Mama yang diselundupkan ke tasku. Kaeela selalu menggenggam erat tanganku sambil gemetaran setiap kali menyebrangi jalan besar di depan kampus kami. Kaeela selalu menyisakan batang sawi di mangkoknya begitu kami selesai makan mi ayam di tempat favorit kami. Kaeela selalu pergi ke salon sebulan sekali untuk merapikan ujung rambutnya. Kaeela selalu cemburu dengan gadis-gadis lain yang berkulit putih. Kaeela tidak menyukai kulitnya yang coklat sawo matang—yang justru menjadi daya tarik bagiku sejak pertama kali melihatnya—

Februari 2009, aku dan Kaeela saling mengetahui perasaan kami satu sama lain. Kami sama-sama menghargai perasaan kami. Tetapi semua itu tak mengubah apapun. Aku dan Kaeela tetap bagaikan gula dan semut. Selalu beriringan kemanapun kami pergi.

Kaeela akan menangis tersedu-sedu, memaki, menghujat atau bahkan memukulku jika kesal. Setelah itu, dia akan bercerita siapa dan apa yang membuatnya seperti itu. Kaeela selalu begitu.

Kaeela selalu senang berada di perpustakaan. Wajahnya yang serius menekuni buku yang dia baca semakin membuatku gemas. Kaeela menyukai racing, terutama Moto GP. Sementara aku hanya akan duduk di sebelahnya, melipat wajah menjadi lipatan-lipatan kecil meski di dalam hati aku menyukai mata Kaeela yang terus menyipit menikmati racing. Kaeela akan mencubit hidungku sekeras mungkin jika Dani Pedrosa keluar sebagai juaranya, dan hanya mencubit hidungku manja jika bukan Dani yang menang. Kaeela selalu begitu.

Desember 2009, aku dan Kaeela telah lama saling mengetahui isi hati kami satu sama lain. Kaeela selalu tahu kalau aku menyukainya. Dan aku juga tahu kalau Kaeela selalu tidak pernah sedikitpun mengubah keputusan hatinya. Kaeela telah memilih orang lain menjadi kekasihnya. Bukan aku. Kaeela selalu tidak pernah bercerita mengenai lovelifenya. Tetapi Kaeela selau bercerita tentang hal lain yang seolah tak pernah lelah ia sampaikan, sekalipun lewat telpon.

Kaeela tak pernah lelah bercerita apapun kepadaku, hanya saja dia harus menyudahinya dengan sebuah kalimat lewat ujung telpon. “Ran, udah dulu ya. Reno udah jemput nih”

Setelah kalimat malam itu, Kaeela tak pernah lagi muncul di hadapanku atau bahkan orangtuanya. Suaranya juga tak pernah hinggap di telingaku atau telinga orangtuanya. Kaeela tak terlihat sejak keppergiannya bersama Reno untuk menghabiskan malam Minggu. Kaeela lenyap.


© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis