April 30, 2016

Review Film AADC 2 : We Have to Finished what We Have Started



Jurang antara kebodohan dan keinginan untuk memilikimu..sekali lagi

Barisan kalimat terakhir dari puisinya Rangga—karangan Aan Mansyur—itu secara nggak langsung menjelaskan kalau si Rangga yang legendaris itu kembali lagi. Meski tidak dalam satu purnama yang dia janjikan. Seenggaknya hal itu menjawab ribuan tanya penonton selama 14 tahun berselang.

Di tengah hiruk pikuknya Civil War, terbukti kalau penasarannya penonton dengan AADC (Ada Apa Dengan Cinta) 2 ini masih sangat besar. Buktinya, saya harus bolak balik 3 kali ke bioskop untuk bisa menjawab rasa penasaran saya akan kelanjutan ceritanya. Allhamdulillah, dengan perjuangan-yang-kok sampe gini banget  ya gue lakuin saking excitednya- itu, penasaran saya sudah selesai semalam.

So, here it is my review. Bukan maksud spoiler ya, just sharing tentang penilaian saya tentang film ini.

Setelah kamu nonton film, pertanyaan yang kemudian datang dari seseorang yang belum menonton adalah “Seru ga?”, tak terkecuali dengan film ini. Apalagi sudah digantung selama 14 tahun. Pertanyaan itu juga saya dapatkan dari seorang teman di Twitter. Seriously, saya suka banget dengan Ada Apa Dengan Cinta, (tulisannya di sini).. saking sukanya dan berkesan, saya justru tidak punya ekspektasi apapun dari film lanjutannya ini.

Saya seolah ingin memberikan ruang dan menelan apa yang disuguhkan di AADC 2 ini tanpa berharap apapun. Ya, meski kekecewaan itu sudah ada di depan saat tahu Geng Cinta ternyata nggak lengkap. Maka, di AADC 2 ini saya hanya excited dengan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga tentunya, tanpa memaksa mereka harus bersama. Saya justru berekspektasi kecil kalau endingnya bakalan gantung seperti film pertamanya.

Ide cerita yang dihadirkan pasca 14 tahun ini bisa dibilang sudah sangat common dan banyak kita jumpai di film-film Indonesia lain. Unfinished business yang menuntut diselesaikan saat orang paling legendaris di hati kamu muncul kembali, padahal kamu udah bersiap menyambut hidup yang baru. Saya rasa memang nggak mudah untuk mengemas kehidupan setelah 14 tahun dan yang sudah terjadi selama 14 tahun itu dalam 124 menit saja. Belum lagi bukan kehidupan satu orang yang harus kamu ceritakan kembali, tetapi 6 orang. (Cinta, Rangga, Maura, Milly, Karmen, dan Mamet).

Maka, menurut saya film ini berhasil membungkusnya menarik melalui intimate conversation di dalamnya antara satu tokoh ke tokoh lain. Bahkan, banyak sekali percakapan diantara pemainnya yang justru membuat saya dan penonton satu studio lebih sering terpingkal. Termasuk di banyak scene antara Cinta dan Rangga.

Meski genre nya adalah romance, tapi adegan mereka berdua justru lebih sering membuat kita terpingkal. Mulai dari pertemuan pertama mereka di pameran maupun di kedai kopi—saat Cinta bilang kalau Rangga jahat—hingga makan malam bersama.


Untuk karakter personil geng Cinta, maka menurut saya karakter Milly sangat mencuri perhatian dengan porsinya yang polos tapi menggelitik. Yang selalu berhasil memecah ketegangan diantara mereka. Sementara Rangga..karakter yang dibangun di 14 tahun kemudian lebih tegas dan dewasa, menurunkan sedikit keangkuhannya dengan mengobral banyak senyum di banyak scene saat jalan-jalan dengan Cinta tentunya. Karakter Cinta sendiri justru membuat saya gregetan dan gemes. Dia terlalu plin plan untuk di beberapa waktu, tetapi tegas dan mau mengakui kesalahannya.

Film yang sudah 14 tahun ditunggu tunggu ini tidak luput dari sponsor-sponsor keren dan mereka turut hadir di dalam film dalam bentuk nyata melalui scene-scene yang ada. Saat Cinta dikasih minum air mineral pasca menampar Rangga. Saat Karmen mengabadikan tempat tinggal Rangga di Jogja hingga saat momen tegang Karmen dan Milly membuntuti Rangga sambil makan es krim.

Setting film ini menempatkan Jogja dalam porsi yang lebih besar dibandingkan Jakarta dan New York. Dan saya rasa film ini berhasil mengangkat banyak hal dari Jogja, selain Malioboro yang lebih banyak dikenal orang. Nggak ada becak warna-warni yang in banget di jogja dalam film ini, tetapi ada pertunjukan boneka yang menyayat hati dan villa nya Geng Cinta yang cozy banget. Secara nggak langsung, film ini mengangkat Indonesia dengan cantik.
           
         Hal lain yang melekat dari AADC adalah soundtracknya. Mungkin kamu masih ingat lagu closing AADC yang judulnya “Demikianlah”. Di AADC 2 ini, lagu tersebut jadi openingnya. Lengkap dengan desain opening title yang kekinian banget. Suara Hati Seorang Kekasih juga masih mewarnai AADC 2 dengan gubahan yang lebih keras dan jauh dari mellow. Tune lagunya Bimbang juga masih sering nongol setiap Cinta kembali membuka puisi-puisi dari Rangga. Dan yang menyenangkan buat saya pribadi, intro lagu “Hanya” juga diselipkan sekali di part-part awal film.
                
           Wauww…nyatanya cukup panjang review dari saya tapi percayalah semua yang saya ceritakan di atas itu masih belum menjawab kenapa Rangga yang segitu coolnya dibilang jahat sama Cinta. Kamu nggak akan tahu jawabannya kalau nggak nonton.

                Tapi, yang mau ditarik kesimpulan dari film ini for me adalah we have to finished what we have started, so we can continue our life better with no one hurted. Banyak orang-orang yang belum move on dari seseorang paling legendaris di hatinya karena ada unfinished business diantara mereka. Sebelum kamu milih untuk memulai kisah baru dengan orang baru, lebih baik kamu tutup buku dulu dengan orang yang paing legendaris itu. Daripada nantinya kamu setengah-setengah dan melukai orang lain. Buat keputusan tegas, jangan plin plan.


Terima kasih sudah membaca sampai akhir and happy watching

30 April 2016






April 2, 2016

Monita Tahalea - Dandelion (Review)



Hello, readers

Satu bulan yang lalu, seorang teman sangat hobi memasukkan lagu Memulai Kembali dari Monita Tahalea dalam playlist Youtube di sela-sela kami bekerja. Efek yang dihadirkan adalah lagu itu seolah lagu wajib yang pasti kami dengarkan setiap hari sambil bekerja. Efek yag lebih dahsyat lagi, saya mendengarkan satu albumnya, yaitu Dandelion dan jatuh cinta.

Kalau mendengar Monita Tahaela, maka yang melekat di benak saya adalah lagunya yang berjudul Kekasih Sejati. Tetapi, mendengarkan satu albumnya yang berjudul Dandelion seolah mengenal lebih dalam musikalitas Monita Tahalea.

Well, album Dandelion ini berisi 9 lagu dan 1 diantaranya berbahasa Inggris. Yang menjadi favorit bagi saya adalah 168, Memulai Kembali, Tak Sendiri, Perahu, dan Saat Teduh. Entah apakah ini dapat disebut dengan favorit, jika jumlah yang saya favoritkan saja lebih dari setengahnya.

Mungkin karena saya penikmat Adhitia Sofyan, maka saya jatuh cinta dengan hampir keseluruhan album Dandelion ini. Genre yang diambil memang bukan bedtime song, layaknya Adhitia Sofyan. Tetapi, alunan musik yang dipilih di album ini seolah menghadirkan efek menyatu dengan alam.

Suara Monita yang selalu membuat saya merasa seperti disiram air es, lirik yang sangat puitis dan meaningfull adalah perpaduan yang menghasilkan Dandelion. Album ini bercerita tentang cinta, ajakan love yourself, dan persahabatan.

Saat Teduh adalah salah satu lagu yang menceritakan sosok seorang sahabat yang hadir mengusir lara dan sepi. Lagu ini memang mellow dan cocok menjadi lagu pengantar tidur, tetapi sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan dalam lagu ini sangat dalam. Dengan alunan yang menenangkan, lewat lagu ini kita seolah diajak flashback tentang siapa sosok sahabat kita yang pas dengan lirik lagu ini .

Teringat seorang , sahabat setia
Dia slalu berkata, aku beserta
Suka dan duka, kayuh bersama
Tetaplah janjinya, tuk bersamaku
Larapun pergi menjauh
Sepiku bagaikan debu
Hatipun tenang dekatmu
Kunyanyi slalu denting jiwaku
Senandungkan langkah bersamamu
( Saat Teduh)

Lagu lain tentang persahabatan sekaligus ajakan love yourself adalah Hai. Berbeda dengan Saat Teduh, lagu ini nggak mellow tetapi tetap dalam jalur yang menenangkan dan enak didengarkan sambil tiduran di kamar melepas lelah. Lagu ini juga banyak menyelipkan bunyi-bunyian musik tradisional.

Hai teman, Apa kabar
Lama tak kudengar suaramu
Apa harimu bermentari
Adakah malammu dihiasi mimpi
Hai teman
Hapus sudah senyum kelabu di wajahmu
Masa yang lalu telah berlalu
Kini hari baru bernyanyi untukmu
Temanku tidakkah kamu tahu bahwa dunia rindukan senyummu
Dengarlah, indah suara rintik hujan
Yang turun membasahi bumi, memeluk tanah gersang
(Hai)


                And here it is…yang jadi juara di hati saya dan selalu diputar berkali kali, dinyanyikan berulang ulang..dalam hati, bibir maupun kepala. Judulnya 168. Bagi saya, isi lirik ini bagaikan dongeng yang dirangkai dengan lirik lirik puitis. Intro dan permainan gitar dalam lagu ini berhasil menghipnotis saya untuk menghadirkan imaji sebuah pohon di atas bukit dan hujan yang tak kunjung datang. Lagu 168 ini juga meyelipkankan lirik bahasa Prancisnya. Lagu ini cukup ngejazz dan menjadi misteri sendiri kenapa judulnya 168.  I still didn’t get the answer, readers. Maybe you can help me in comment box. Xixi

Sebuah nostalgia yang takkan terlupa
Tentang gadis bingung dan pengembara
Berbagi cerita di penghujung senja
Menunggu datangnya hujan
Tiada kunjung datang hujan yang dinantikan
Namun hari-hari semakin berarti
Berteman butir waktu
Berpayung langit biru
Akhirnya yang tiba cinta
Ternyata bukan tentang menanti dan menunggu
Tetapi memang telah waktunya tuk bertemu
Walau tak selalu berakhir bersama
Mungkin nanti..kan bertemu kembali
(168)

                Lagu lain yang cukup upbeat dalam album ini adalah Memulai Kembali dan Tak Sendiri. Memulai Kembali rasanya memang nggak perlu diceritakan lagi, karena lagu ini sangat sering diputar di radio dan chart music di acara tv. Tetapi memang sih lagu ini tidak pernah gagal untuk mengajak saya membayangkan laut setiap baru mendenagkan intronya. Liriknya juga puitis dan meaningfull love yourself gitu. Kalau menurut Provoke Magazine, cocoknya sih didengarkan setelah putus.

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan lahan menghilang
Dan kabut sendupun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama
(Memulai Kembali)

Sementara lagu Tak Sendiri dibawakan tak sendiri oleh Monita. Di Lagu yang paling ngebeat dan mengajak tubuh kita sedikit bergoyang ini, onita duet bersama Gaby. Iya, Gaby Idol yang nyanyi Begitu Indah itu lho. Duet mereka di sini sangat keren dan seolah mengantarkan energi positif ke setiap yang mendengarnya bahwa mereka nggak sendirian.

Dan aku kembali
Menatap mentari yang berseri
Ku tak sendiri
Cintamu selalu bersemi
Hadirmu membawa harapan
Kuyakin kau akan selalu ada
Dan aku kembali
Menatap mentari yang berseri
(Tak Sendiri)

And the last..lagu yang sayang kalau dilewat karena nggak direview adalah Perahu. Lagu ini memang sejenis dengan Saat Teduh, super mellow. Liriknya juga bagaikan puisi. Makanya saya suka.

Angin malam, langit gulita
Lautan tenang
Ku bertanya dalam jelaga
Dimana asa
Terlalu lama bersembunyi di balik langkah
Kulayarkan saja sebuah perahu jingga
Tuk pergi melihat angkasa
Berharap malam ini kulihat bintang di sana
Akankah perahu asa membawa sejuta renjana
(Perahu)

Meski hampir keseluruhan lirik lagu dalam album Dandelion ini sangat puitis dan metafora yang keren, sayangnya mereka hanyalah lirik berulang. Selain itu durasi lagu di album Dandelion ini sangat sebentar. Hanya tiga lagu yang memiliki durasi di atas 4 menit, sementara yang lainnya kurang dari 4 menit dan terasa begitu cepat. Atau mungkin karena liriknya yang hanya diulang ulang saja. Entahlah, saya cukup sok tahu juga sih dengan mereview Album Dandeilon milik Monita ini karena bukan wartawan musik.

Tetapi sebagai pendengar, Album Dandelion ini salah satu yang keren untuk musisi Indonesia. Rasanya saya juga harus berterima kasih pada Widya, teman saya yang mengenalkan album ini.

Terima kasih sudah membaca.

Lagu Lagu di Album Dandelion – Monita Tahalea :
1.       Hai
2.       Memulai Kembali
3.       168
4.       Perahu
5.       Bisu
6.       Saat Teduh
7.       Tak Sendiri
8.       I’ll Be Fine (Lirik Bahasa Inggris)
9.       Breathe


 

   

March 19, 2016

Berlari dan Tenggelam


Kekasih, kamu pernah berlari ?
Aku melakukannya akhir-akhir ini. Pada halaman-demi halaman buku yang kulalap untuk menenggelamkan kalut. Pada setiap buku baru, meski hanya dalam barisan free sample di Play Store.
Aku ingin berlari dan tenggelam, tetapi belum ingin mati. Jika benar kulakukan di danau, sungai, lautan atau kolam renang sekalipun aku akan mati karena tak mampu berenang.
kekasih, aku sangat ingin berlari. Dari sepi yang menggerogoti rasa bahagia. Dari sesak pikiran akan masa depan. Dari segala ketakutan dan keraguan yang hilir mudik mengusik sel otakku.
Aku berlari dari semua itu. Menuju dunia baru yang keberadaannya ada dalam pikiran setiap TuhanNya. Karena menenggelamkan diri dari barisan paragraf yang membawa cerita adalah ayunan terhangat bagiku. Mereka seperti balon udara yang mengangkat pikiranmu dan berkelana untuk lupa.
Kekasih, jangan ikut berlari bersamaku, jika kamu belum mampu.
Ajak aku berlari ke tempat lain yang lebih baik dari seiap wangi halaman buku


19 Maret 2016

Dalam alunan Fix You milik Coldplay

Ngomongin SosMed


Hello readers

Butuh waktu lama untuk memulai kata pertama…dan honestly, saya telah berulang kali menghapus dan mengetik hanya untuk memberikan opening. And well, finally saya memulai dengan kejujuran dalam bentuk menceritakan apa yang saya rasakan.

Sungguh bukan penulis yang baik. Maafkan.
Kemarin dalam perjalanan pulang, saya berbincang bersama teman kerja mengenai paket internet yang berujung ke sosial media. Mereka berdua bagaikan pasangan tak terpisahkan dalam setengah dekade terakhir menurut saya. Punya sosial media..harus punya paket internet. Dan kebanyakan paket internet digunakan untuk bersosial media. Am I wrong?

Semakin banyak sosial media yang dimiliki seseorang, maka semakin banyak paket internet yang dibutuhkan untuk dapat mengakses keseluruhan sosial media yang dimilikinya, bukankah begitu ?. Nah dari situ, saya tiba-tiba berhitung. Apa yang saya hitung ? Jumlah sosial media yang saya install di ponsel ternyata ada 10 aplikasi. Wauww…saya cukup kaget juga sih saat menyadarinya.

Sepuluh itu apa saja ? Mari saya urutkan dari yang paling popular saya gunakan akhir-akhir ini. Mereka adalah WhatsApp, Line, Twitter, Setipe, BBM, Instagram, Facebook, Path, Telegram dan Skype. Pertanyaan selanjutnya dari orang-orang yang mengetahui fakta di atas adalah, “Itu lo pake semua, fit ?” Jawabannya adalah 9 dari 10 saya gunakan (Untuk Skype, hanya install tapi sampai saat ini belum log in).

Sosial Media di Ponsel saya
Semuanya punya preferensi dan tingkat kebutuhan masing-masing. WA jadi yang paling utama untuk  komunikasi dengan teman-teman kuliah atau yang urusannya menyangkut kelompok (grup). BBM khusus untuk teman SD dan saudara. LINE khusus untuk teman SMP. Twitter untuk update informasi dan ikutan kuis (kalau beruntung). Facebook ? Ini sih karena udah bawaan dari ponsel, jadi bukanya kalo lagi pengen. Path dan Instagram dibuka di jam-jam tertentu dengan kuota yang sangat mendukung.

Oke oke bukan itu intinya. Ngomongin Sosial Media adalah ada banyak sosial media yang sering digunakan tapi apa benar kita telah menggunakannya sesuai fungsinya? Atau justru melenceng a.k.a beralih fungsi.

Dua tahun lalu..saya merasa Path adalah sosial media eksklusif dan menjalankan perannya bagi saya. Membantu mengetahui kabar teman-teman yang sudah lama tak saya ketahui. Jumlah pertemanan yang terbatas menjadikan kita lebih selektif dan kualitatif dalam berteman secara personal. Tetapi, waktu bergulir dan inovasi terus dikembangkan apda setiap aplikasi di sosial media.

Path sekarang tidak hanya membatasi pertemanan 150 orang, tapi 500. Kalau kamu ingin selektif sharing moment di path, maka bisa gunakan fasilitas inner circle. Perubahan lain juga terjadi di sosial media yang lain, seperti BBM yang berinovasi dengan sticker beragam, LINE yang ada fitur news feed nya, dsb.

Lalu bagaimana dengan postingan kita di sosial media ? bagaimana kita menggunakan semua sosial media yang kita miliki ? Sudahkah sesuai fungsinya ?

Tidak ada peraturan baku yang mengaturnya. Tetapi dari kacamata saya pribadi, semakin hari sosial media beralih fungsi. Dia tidak menyatukan kita..tetapi justru menjauhkan kita. Sosial media menjadi wadah komersil bagi beberapa orang. Sayangnya, hal itu yang justru menjadikan sosial media ditinggalkan oleh si pengguna, yang pada akhirnya menjauhkan satu sama lain.

Ilustrasinya begini,
A : “Lo ada LI*E ga? Bagi dong ID nya?”
B : “Yaah gue ga pake. Banyak iklannya abisnya. Jadi males.”

Pada akhirnya mereka nggak jadi menyambung silaturahim atau bisa juga jadi dengan aplikasi lain.

Salah alih fungsi lain adalah sosial media adalah bahan mengkomersialkan segala hal yang sesungguhnya personal atau remeh temeh. Kalau remeh temeh aja dishare, bisakah disebut pamer ?

Pamer atau tidaknya postingan seseorang di sosial media adalah tergantung bagaimana pikiran kita mencerna dan hati menyikapinya.  Menjudge seseorang pamer itu bukan hanya menjatuhkan sifat negative ke orang tersebut, tetapi secara tidak langsung juga dapat melabeli diri kita sendiri, yang jangan-jangan sesungguhnya hanya iri.

Ilustrasinya begini,
A : (posting foto tiket pesawat ke Singapura)
B : (scroll timeline) “Pamer banget sih” (ngomong dalam hati)
6 jam kemudian
A : (check in d restoran, lengkap dengan menu makanan Thai Jumbo Prawn)
B : (scroll timeline) “Pamer terus, apa gue unshared ya, atau inner circle?”
1 hari kemudian
A : (posting foto tangan gatel-gatel karena alergi makan udang)
B : (scroll timeline) “Penting banget apa yang beginian dishare, dikira sembuh kalo difoto dan diposting di path”

Have you ever felt as an A or B, readers ? 
Siapa sih yang salah ? A yang suka pamer atau B yang memang nggak punya aktifitas makanya ngejudge orang pamer ? Jika B mendapatkan kesempatan untuk terbang ke luar negeri, apa dia tidak akan melakukan hal yang sama dilakukan oleh si A ?

Semua soal bagaimana kita menjernihkan hati dan memosisikan diri. Melihat sesuatu secara keseluruhan dan konsisten. Kalau memang menurt kamu, posting tiket pesawat itu pamer. Maka kamu tidak akan melakukan hal sejenis di lain waktu. Itu namanya konsisten.

Untuk postingan bagian tubuh entah apa itu yang terluka..seriously saya pribadi merupakan orang yang paling anti dan benci. Alasannya bukankah itu menjijikkan dan  bagaimana jika itu adalah aurat ? Mengapa kita dengan murahnya menyuguhkan aurat kita ke banyak orang.

Saya pernah berada di posisi A dan B. Menjadi A yang gemar check in momment sana sini untuk sebuah jumlah momment yang bertambah atau sekedar melihat banyaknya sticker yang ditinggalkan atas postingan kita. Tetapi, lalu saya bertanya..dengan intensitas yang sesering ini apakah postingan saya mengganggu orang dan terkesan pamer.

Kalau sudah begitu, saya tidak akan memposting hal yang sama pada sosial media yang saling tehubung. Melihat postingan yang isinya sama di berbagai sosial media dari satu orang yang sama adalah hal yang paling saya benci. Jadi, pasti saya akan mempsoting hal yang berbeda di berbagai sosial media yang berbeda.

Menjadi orang yang sinis seperti B juga pernah saya rasakan. Pertanyaan mengapa si A pamer terus di setiap postingannya. Tetapi, saya bertanya kembali..apakah si A salah dengan posting seperti itu ? Ataukah ini hanya saya yang lebih sering duduk diam men-scroll timeline tanpa kemana-mana dan berbuat sesuatu, hingga perasaan iri muncul kepada orang lain. Apakah jenis perasaan iri yang muncul ini adalah perasaan iri yang diizinkan ? Atau bahkan seharusnya tidak pantas ?

Jika sudah begini, maka saya akan memilih untuk beristirahat dari sosial media. Rehat sejenak dari scroll timeline di Path. Puasa membuka berbagai sosial media dan hanya memfokuskan pada satu hal yang memang untuk berkomunikasi (instant mesagging). Efeknya ? Tenang..rasanya menenangkan.

Tidak perlu pusing mengomentari postingan orang..tidak perlu juga sibuk check in lokasi setiap mengunjungi tempat-tempat penting.  Justru dengan itu kita bisa sungguh-sungguh menikmati moment yang kita miliki.

Well, tulisan ini dibuat pada suatu malam saat si penulis merasa kesepian dengan kesepuluh sosial media yang dia miliki. Tetapi sama halnya dengan aplikasi yang terus mengalami perubahan, maka hati seorang manusia pun juga demikian. Siapa yang tahu jika tulisan ini justru berbanding terbalik dengan apa yang saya rasakan pada tahun tahun ke depan.



We’ll never know. Tetapi, mari bijak bersosial media.

Terima kasih sudah membaca dan mengerti.



New Page


This my new page, not only in my blog in 2016, but also in one chapter of my life. Sebenarnya halaman baru itu sesungguhnya sudah mulai di pertengahan Desember lalu dan masih berlangsung hingga kini. Postingan kali ini sebagai sapaan hangat serta menolak membiarkan folder di Januari ini terasa kosong. Jadi maafkan kalau saya banyak bercerita tanpa arah.

Saya sedang menjalani probation di salah satu fashion e-commerce di Indonesia. Nggak perlu disebut namanya ya (hehe). kehidupan kantor yang 9-17 bahkan lebih sering sampai jam 20.00 itu ternyata cukup untuk membuat saya lupa soal pergantian hari. Hingga tiba menyadari kalau Januari sebentar lagi akan berakhir dan saya belum mengisi satu postingan pun di blog ini. Hehe

Kehidupan baru yang saya mulai ini menghadapkan saya dengan teman baru, lingkungan baru, pribadi baru yang bermacam, serta pengalaman dan pengetahuan yang baru juga. Yang paling menarik bagi saya adalah emosi yang baru. Iya, emosi yang baru yang timbul dari setiap peristiwa yang terjadi di sekitar saya.


23 Januari 2016
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis