April 14, 2013

SOP Pertemanan




Manusia yang diciptakan sebagai makhluk sosial tentunya membutuhkan orang lain. Siapapun itu, rasanya tidak salah kalau kita menyebutnya sebagai teman. Saya percaya kalau setiap orang memiliki definisi yang berbeda untuk mendefinisikan apa itu teman. Apapun itu, bagi saya bukanlah sebuah masalah dan tak perlu terlalu dipertanyakan.
Yang mengusik bagi saya adalah mengenai  prosedurnya. Standard Operational Procedure (SOP) dari sebuah proses pertemanan itu sendiri. Memang sih, tidak ada aturan bakunya bagaimana SOP yang benar dalam menjalani pertemanan. Tetapi, berbagai perisitwa yang terjadi belakangan ini membuat saya bertanya geli 

“Mengapa tidak ada SOP pertemanan?.”

Pemikiran saya sederhana. SOP tersebut mengatur bagaimana pertemanan itu seharusnya dijalankan. Tidak ada kebohongan, itu kunci utamanya bagi saya. Saya paling anti dibohongi dan selalu berusaha jujur kepada setiap orang. Dan SOP Pertemanan yang ada dalam gagasan sederhana saya lainnya adalah keterbukaan. Keterbukaan di sini maksudnya adalah menyampaikan langsung apa yang nggak kamu suka dari temanmu itu langsung ke temanmu. Bukan bicara di belakang.

Yang ini sebenarnya terinspirasi dari 5cm. Saat baca buku itu sekitar 2 atau 3 tahun lalu, ada part yang intinya menjelaskan kalau ada sifat buruk yang nggak kamu suka dari temanmu sebaiknya kamu langsung beri tahu ke orangnya langsung. Bukan membicarakannya ke orang lain. Istilahnya jangan ngomong di belakang, karena hal itu percuma. Kamu justru memperburuk temanmu dan kamu juga akan semakin merasakan dampak negatifnya. Dengan menyampaikan langsung ke temanmu, maka dia tahu apa kejelekan yang seharusnya dia ubah. Hal ini akan membawa temanmu ke arah yang lebih postif. Sementara kamu, tidak akan lagi merasakan kejelekan temanmu itu. 

Bagi saya, itu merupakan pelajaran berharga dalam berteman yang saya dapatkan di 5 cm. Lalu, saya baru bisa merasakan dan mengaplikasikannya beberapa waktu ini. Oleh seorang teman yang mau menerima semua masukan saya atas setiap kritikan yang saya sampaikan langsung kepadanya.

Saya ingat betul, kira-kira setahun yang lalu saat interview UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Ada sebuah pertanyaan yang kira-kira begini bunyinya “Kalau kamu nggak suka sama seseorang atau ada masalah sama orang itu, apa yang akan kamu lakukan?.” Saya memilih mendiamkan, bukan untuk menyelesaikan. Saya lebih memilih untuk menerima saja, tanpa mengungkapkan ‘ketidaksukaan’ saya itu. Tetapi, setahun telah berlalu dan ada banyak peristiwa pertemanan yang saya lalui. 

Saya bukan lagi replica diri dari setahun yang lalu. Perlahan, melalui seorang teman, saya akhirnya berani mengungkapkan apa yang saya nggak suka dari sifatnya.  Juga tak ragu memuji atau menyampaikan kekaguman atas sifatnya yang lainnya. Melalui teman itu, saya banyak belajar. Hal penting lainnya, kamu tidak perlu berbelit dalam mengungkapkan apapun ke temanmu. Kamu cukup ungkapkan secara langsung  dan jujur.    

Karena memang di dunia nyata  tidak ada SOP Pertemanan, maka berbagai kemungkinan buruk tetap saja bisa terjadi. Ada konflik, kekesalan, perasaan tidak terima atau sakit hati atau apapun itu. Penyebabya bisa berasal dari ketidakjujuran atau faktor eksternal. Peristiwa itu yang menyadarkan saya kalau sebenarnya itu adalah proses. Semua konflik dari pertemanan adalah proses untuk menghasilkan output manusia berkarakter.

Dari konflik itu, kita diajak memahami bagaimana karakter orang lain. Bagaimana kita tidak lagi egois dan mencoba memahami seorang teman, memosisikan diri kita sebagai mereka. Semua itu untuk membentuk kita menjadi output yang (seharusnya) lebih baik.

Saya ingat betul kalau dalam seminggu saya pernah 2 sampai 3 kali slek dengan teman yang sama hanya karena sebuah masalah sepele. Saya merasa makan hati menghadapinya dan ingin menyerah saja. Tetapi, salah satu teman saya berkata seperti ini kira-kira, “Justru karena ada slek dalam bertemanlah yang menjadikan pertemanan itu lebih berwarna.” 


Saya tidak langsung mengamininya, tetapi saya sudah tidak lagi makan hati menghadapi teman itu. Mungkin karena telah terbiasa atau telah mengenal secara dalam karakternya, jadi bisa paham? Entahlah, apapun itu proses pertemanan yang penuh dengan konflik kecil ataupun besar bertujuan membentuk karakter setiap orang dan mendewasakannya.

Terima kasih atas waktunya, readers

April 7, 2013

Kenapa AADC ?






Jadi ceritanya, saya memang ingin mengusulkan kepada salah satu TV swasta memutar kembali Film yang membangkitkan perfilman Indonesia. Mengapa? Karena saya begitu menyukai film tersebut, tetapi sudah lama tidak menontonnya.

Kemudian, teman saya (Bonita) membertiahukan bahwa di salah satu computer di PasMod (Pasar Modal) menyimpan softcopynya. Finally, setelah siangnya ngopi  via flashdisk, malamnya saya langsung menonton. Padahal sudah jam 23.30 dan besoknya ada kuliah pagi. Tapi gimana ya, excited banget sama film itu.

Jadi, film apakah itu? Film tahun 2002 itu besutan Rudi Sujarwo itu berjudul Ada Apa dengan Cinta ? (AADC). Sudah nggak asing lagi. Saat baru pertama keluar di bioskop, saya masih duduk dikelas 4 SD. Tetapi, saya masih ingat betul kalau kami (saya dan 5 teman lainnya) suka menirukan alias sok-sokan bergaya ala Cinta and the genk. Ada yang berperan jadi Maura, Alya, Carmen, Milly, Cinta dan tidak ketinggalan Mamet. Tapi, tidak ada yang berperan sebagai Rangga. Mungkin karena sosok itu ketinggian. Hehe

Baiklah, saya ingat betul kalau Bonita sempat bertanya “Kenapa ya AADC menjadi film yang menandai kebangkitan perfilman Indonesia? Bukannya isinya cuma ya….” Oke itu titik-titiknya Cuma bisa dijelaskan denga ekspresi wajahnya Bonita.

Setelah saya pikir kembali, memang sih isinya bisa dibilang simple. Mengisahkan tentang kehidupan sekelompok remaja di masa SMA. Kalau dilihat kembali dari zaman sekarang kisah seperti itu bisa dibilang memang klise, tetapi belum tentu klise di zaman itu. Artinya, di zaman itu alias saat di awal abad millennium belum banyak yang mengangkat kisah kehidupan anak SMA. Ya, mungkin seperti itu. Saya juga tidak tahu persis, karena saat itu masih berseragam merah putih. Dan anak kecil zaman dulu memang masih polos. Tidak seperti anak kecil sekarang yang sudah kenal berbagai hal berbau dewasa.

Well, review saya adalah ini merupakan drama romantic Indonesia yang dialognya saya-kamu, bukan aku-kamu seperti kebanyakan. Film ini dialognya sastra banget, khususnya dialog antara Cinta dan Rangga. Selain itu banyak puisi keren yang diselipkan. Film tentang persahabatan ini memang penuh kejujuran dan seperti terjadi kebanyakan di dalam kehidupan.

Contohnya adalah saat Alya menelpon Cinta. Awalnya Alya berniat ingin curhat, tetapi sebelum itu, dia ingin mengetahui apakah kondisi Cinta sudah baik atau masih bad mood karena Rangga. Lalu? Cinta masih kesal dengan Rangga, alhasil justru Cinta yang menumpahkan kekesalannya. Sementara Alya mengurungkan niat untuk curhat.

Part di atas itu adalah part yang pernah  saya alami, tetapi dulu. Ingat sekali, kadang kalau sedang ingin mencurhatkan sesuatu ke teman pasti melihat mood si teman itu terlebih dahulu. Kalau sedang sedih, sementara curhatan saya tentang kebahagiaan, maka saya mengurungkan niat untuk curhat. Atau juga jika teman saya sedang bahagia , sementara curhatan saya isinya menyedihkan maka saya tidak ingin merusak kebahgiaan teman saya dan tidak jadi curhat.

Aneh ya tapi itu yang saya alami saat SMP.

Pilihan Cinta untuk mengorbankan perasaannya ke Rangga demi tetap bersama sahabat-sahabatnya juga merupakan hal yang sering terjadi. Apalagi kalau sekiranya si cowok gebetan itu dianggap minus di mata sahabat. Pasti kita akan lebih memilih menyembunyikan perasaan kita dari sahabat. Tetapi, kalau nekat sih bisa aja backstreet. Hehe

Atau juga malu ngaku karena sebelumnya musuh bebuyutan tuh cowok eh malah naksir. Apa kata sahabat hayoo? Pasti malu dan akhir-akhirnya memilih menyembunyikan perasaan itu dari sahabat atau balik lagi dengan pilihan backstreet.

Tapi apapun itu, AADC memang seperti kejadian nyata kok. Sahabat tidak akan mengatur kita untuk berpacaran dengan siapa, mereka juga tidak akan meninggalkan kita jika terpuruk karena cinta. Sahabat yang baik selalu ada dan memberi support.

Sama halnya dengan Cinta yang akhirnya ngaku kalau menyimpan perasaan pada Rangga. Sahabatnya nggak ada yang langsung kabur dan meninggalkan dia tuh buktinya. Mereka justru mengantarkan Cinta ke bandara untuk terakhir kalinya bertemu Rangga dan menyampaikan perasaannya.  

Part selanjutnya yang memang bikin galau dan sering terjadi adalah jadwal kencan yang bentrokan dengan peristiwa tak terduga soal sahabat. Seperti Cinta yang udah siap ngedate bareng Rangga, tetapi kemudian Alya telpon dan butuh banget ketemu. Akhirnya Cinta lebih memilih jalan sama Rangga dan terpaksa membohongi Alya dengan alibi pergi ke dokter. Rasanya, banyak manusia yang melakukan hal di atas.

Jadi, kalau ditanyakan mengapa film ini yang menjadi kebangkitan perfilman Indonesia. Maka jawaban saya mungkin adalah karena film ini jujur mengungkapkan bagaimana peristiwa kecil yang banyak dirasakan banyak orang.

Ohiya, ada dialog yang diucapkan Limbong (Pedagan buku di Kwitang) yang saya suka, bunyinya “Berawal dari buku, berlanjut ke malam Minggu.” Dialognya simple, diucapkan karena Rangga pertama kali mengajak seorang cewek (Cinta) ke Kwitang, karena Cintalah yang menemukan buku Aku.

Baiklah, sekian review saya yang kurang mendalam ini. Yakin banget deh kalau 80% dari readers sudah menonton film ini.

Terima kasih untuk Nicholas Saputra yang selalu mebuat saya meleleh.





March 31, 2013

Memilih Dipilih



Saya sering mendengar sebuah ungkapan yang berbunyi seperti ini, “Life is a  Choice.” Ya, hidup adalah sebuah pilihan, karena dalam kehidupan kita tidak pernah tidak untuk dihadapkan oleh berbagai pilihan. Kadang pilihan itu terasa menyulitkan, tetapi ada banyak orang yang justru kehilangan pilihan atau bahkan tidak punya pilihan.

Contohnya ? banyak sekali. Anak-anak kecil yang bertelanjang kaki dan berpindah dari satu mobil ke mobil lainnya di lampu merah salah satunya. Bisa dikatakan kalau mereka adalah orang-orang yang tidak punya pilihan.

Dan saat orang-orang seperti mereka dihadapkan sebuah pilihan, yaitu memilih seorang pemimpin, maka di situlah mereka menggantungkan harapan. Sama halnya dengan kita yang harus memilih ketua kelas di kelas misalnya. Menjadi pilihan yang sulit untuk memilih jika keduanya memilii kelebihan masing-masing dan akan menjadi begitu mudah jika ada kepentingan di belakangnya.

Seperti banyak orang terkenal di Indonesia yang selalu berkoar kalau negeri kita adalah demokrasi, maka Pemilu (Pemilihan Umum) bukanlah hal yang asing bagi kita. Apalagi, hampir setiap hari rasanya selalu ada Pilkada di negeri ini. Mulai dari pemilihan Walikota dan wakilnya, Gubernur beserta wakilnya, dsb.

Beberapa hari lalu, kampus saya menjalankan Pemilihan Umum tingkat Jurusan dan Fakultas (BEMJ dan BEMF). Ada KPU (Komisi Pemilihan Umum) sebagai panitia penyelenggaranya di sini. Isnya adalah para teman-teman saya yang independen dan juga merupakan mahasiswa.

Yang ingin saya soroti dalam postingan kali ini bukanlah bagaimana proses itu berlangsung. Tetapi makna memilih dan dipilih. Memilih seorang pemimpin (meski skalanya hanya BEM) tetap merupakan sebuah proses yang tidak seharusnya sembarangan dilakukan. Begitu juga orang yang dipilih, tentunya tidak boleh orang yang asal-asalan.

Setiap pemimpin yang dipilih memiliki banyak gantungan harapan yang digantungkan oleh para pemilihnya. Dan si pemilih itu seharusnya cerdas dalam memilih. Saya sulit mengerti, meski juga bertanya-tanya dan penasaran. Mengapa ada segelintir orang yang bisa dengan setia mendukung dan memilih seorang sosok yang belum tenu baik adanya? Loyalitas macam apa yang bercokol dalam diri mereka ? kebanyakan yang saya tahu, tidak sedikit orang-orang yang merasa paling benar dan rela berkobar demi si calon, meski sesungguhnya si pemilih ini tidak paham betul akan si calon. Mungkinkah ini karena paksaan kepentingan sebuah golongan?

Saya tidak tahu. Hanya tidak habis pikir, ada orang yang rela berletih lelah untuk suatu hal yang sebenarnya tidak mereka pahami dengan baik. Apa tenaga mereka dibayar? Entahlah. Menjadi pemimpin juga bukan asal-asalan. Memimpin itu amanah. Kalau kamu dipercayakan menjadi seorang pemimpin, artinya bebanmu bertambah, karena amanah yang kamu emban sekarang menjadi bertambah.

Apapun itu, marilah menjadi pemilih  yang cerdas dan pemimpin yang amanah.

Terima kasih untuk waktunya

Running Man Perdana ala KECE


Sabtu pagi di long weekend ini saya isi dengan bangun lebih pagi. Tentu saja bukan tanpa tujuan. Saya ingin ke GBK (Gelora Bung Karno) Senayan untuk bermain Running Man.
Wait, jadi apa itu memangnya Running Man?

Jadi, Running Man adalah Reality Show yang ada di Korea sejak setahun yang lalu (kalau tidak salah). Ya, readers boleh bilang kalau saya terbawa Korean Wave. Tapi beneran deh, Running Man ini adalah reality show dengan game game kreatif yang sukses mengocok perut. Meski saya tidak menonton seluruh episode seacara lengkap, at least saya tahu game-game andalannya.

Tujuan awalnya sih adalah lari (baca : olahraga) di GBK, tapi kemudian tercetus sebuah ide untuk main Running Man. Dan itu membuat saya excited untuk ikutan. Haha

Lalu, saat tiba di GBK, kami harus bertemu dengan lautan manusia yang hadir untuk mengikuti acara Wisuda Akbar bertema “One Day, One Ayat” dari PPPA Daarul Quran milik Yusuf Mansur. Tapi, yasudahlah Running Man harus tetap jalan.

Kami, Tim Running Man Perdana terdiri dari 9 orang (3 cewek dan 6 cowok). Orang-orang ini dibagi menjadi 2 tim dengan cara gambreng. Tim Putih yaitu Sella, Faisal, Ilfi, Opi, dan Wahel. Sementara saya tergabung di Tim Hitam bersama Fazril, Nazmudin dan Rizky.

Tim Running Man Perdana

Tim Putih (Sella, Wahel, Faisal, Ilfi, Opi)


Tim Hitam (Saya, Nazmudin, Rizky, Fazril)
Game pertama adalah mencari objek foto. Jadi, masing-masing tim mengelilingi GBK dengan arah yang berlawanan sambil memoto apa saja (asal bukan objek bergerak). Setelah itu, tim lawan harus mencari objek foto dari tim tersebut, begitu juga sebaliknya. Masing-masing tim diberi waktu 10 menit untuk memoto dan 20 menit untuk mencari objek foto tim lawan. Ohiya, sebagai bukti maka setiap tim harus berfoto dengan objek foto tim lawan yang telah mereka temukan.

Gamepun dimulai. Setelah berputar sekitar 10 menit, kami bertukar foto. Tim saya mengirimkan 6 foto untuk Tim lawan. Sementara Tim lawan memberikan 5 objek foto untuk tim saya. Pencarianpun dimulai. Kami memecah lautan manusia mencari objek foto yang lumayan sulit. Salah satunya adalah objek foto ini.

Entah beruntung atau tidak, yang jelas kami berpapasan dengan mobil sedot tinja yang setelah ditelisik lebih dalam, lampu belakangnya merupakan salah satu objek foto dari tim lawan. Finally, Rizky dan Nazmudin berlari mengejar mobil itu untuk dapat berfoto dengan tulisan di lampunya (sebagai bukti). Di sinilah, baru kerasa banget main Running Man nya. Kita beneran lari mengejar mobil tinja sambil bawa-bawa kamera hape di tengah lautan manusia (can you imagine that?) Ya, termasuk saya. Padahal kalau dipikir, saya nggak perlu lari karena sudah ada Rizky dan Nazmudin yang berlari. Haha. Ngomong-ngomong, ini kan melanggar peraturan, karena tim alwan memoto objek bergerak. Padahal sudah jelas dilarang.

Objek foto dalam mobil sedot tinja
Lalu, kami terus mencari objek foto dari tim lawan hingga terasa lelah. Bahkan secara tidak sadar, tiba-tiba kami justru bertemu dengan tim lawan dari arah yang berlawanan. Wah ternyata kami semua telah sama-sama berjalan lumayan jauh.

Yasudah, kita umumkan hasil pencarian kita. Dan hasilnyaaa, tim saya hanya berhasil menemukan 3 objek foto tim lawan, sementara tim lawan berhasil mengumpulkan 5 objek foto kami. Baiklah, game pertama dimenangkan oleh Tim Putih. Tenang, masih ada Game 2 dan 3.

Untuk game selanjutnya, kami merasa kami harus mencari tempat lain. Finally, Krida LOka menjadi tempatnya (arena jogging track, di belakang Aquatic). Untuk mencapai Krida Loka ini lumayan jauh ya jalannya. Sampai di sana, kami semua terkejut karena ternyata ada HTM (Harga Tiket Masuk)nya. Padahal, seharusnya sebagai sarana rekreasi dan sarana olahraga tidak perlu dikomersilkan . ya, tapi namanya juga orang cari duit, hehe. Dan karena sudah sangat jauh berjalan untuk menemukan pintu masuknya si Krida Loka, maka kami merogoh kocek masing-masing.

Baiklah, kami nggak langsung main Game ke-2. Kami memilih duduk dulu untuk sekedar minum dan makan rotinya Sella rame-reame. Makasih ya Sella, sudah menolong perut-perut mereka yang kelaparan (termasuk saya).

Setelah itu, kami mulai Game ke-2 yaitu Kaki Ayam. Jadi setiap orang harus menggunakan satu kaki sebagai pertahanan untuk menjatuhkan tim lawan. First battle adalah antara Fazril dan Opi. Seperti  biasa, Fazril selalu menegecewakan kalau digantungin harapan. Haha. Dia jatuh duluan. Maka skor 1-0 untuk Tim Lawan. Second Battle adalah saya lawan Sella dan saya pemenangnya. Haha. Maka skor menjadi 1-1. Next battle adalah saya lawan Ilfi lagi dan pemenangnya saya lagi. Skor 1-2. Next battle Nazmudin dan Rizky melawan Wahel dan Faisal. Dimenangkan oleh tim saya. Dan the last battle adalah semua bermain, kecuali Ilfi (dia ngedokumentasiin).

Battle with Sella
Battle antara Nazmudin dan Opi






Tim Running Man Perdana melepas lelah setelah bermain Kaki Ayam



Kami sama-sama punya target dalam menjatuhkan tim lawan. Saya berhasil menjatuhkan Sella, tapi beberapa detik kemudian saya ikutan jatuh. Haha. But finally, gamenya dimenangkan oleh tim saya karena Nazmudin dan Fazril berhasil menjatuhkan Opi.

Jadi, skor sementara secara keseluruhan (Game 1 dan Game 2) adalah 1-1. Kita beranjak ke game 3. Setelah sempat mau estafet, kami berubah haluan. Game ke 3 adalah Foto dalam Frame. Caranya ? ada satu kamera yang stand by dan diatur dengan timer. Tim yang jumlah anggotanya terbanyak masuk dalam frame (wajahnya kelihatan dalam kamera), maka dia yang menang.

Karena jumlah kami nggak imbang (5 vs 4), maka tim lawan harus merelakan satu orang sebagai si pemegang kamera dan nggak ikut main. Sementara anggota tim yang bermain awalnya mengambil ancang-ancang untuk naik ke bukit (bergaya dan berebut kamera). Dan di  frame pertama ini saya sungguh bersemangat untuk berlari ke bukit.

Tetapi, saat berlari ternyata Faisal (tim lawan) tangannya menghalangi dan seolah membuat banteng pertahanan sendiri. Di game ini, kita memang boleh menghalau tim lawan agar tidak kelihatan di kamera.

Ternyata di atas bukit keadaan semakin chaos. Setiap orang ingin terlihat di dalam kamera dan berusaha keras menyingkirkan orang-orang di sekitarnya , termasuk teman anggotanya. Contohnya adalah Fazril. Entah karena efek super lapar atau apa, maka dia sering banget mendorong siapapun di dekatnya agar cuma dia yang masuk ke kamera, termasuk Rizky (temen satu timnya sendiri).

Chaosnya parah karena Ilfi sampai jatuh dan bunyi gedebug. Oke, ini tingkatnya sudah sangat danger  buat saya. Maka, saya memutuskan cuma minggir dan tidak berusaha masuk ke dalam frame. Takut kena imbas kegarangan mereka. Apalagi saya imut (eh. Haha). Tetapi, ada moment so sweet nya.

Opi  membantu Ilfi yang terjatuh


Ckreek ! Frame 1 telah didapat, dan hasilnya menunjukkan…SERI. Mengapa? Karena yang terfoto oleh kamera adalah Fazril dan Nazmudin (Tim Saya) bersama Wahel dan Faisal (Tim Lawan). Beralih ke frame 2, kali ini yang megang kamera adalah Faisal.

Frame 1 (Nazmudin, Faisal, Wahel, Fazril)

Sudah nggak bersemangat buat lari. Toh di bukit nanti bakalan dorong-dorongan. Finally, di frame ke-2 nggak terlalu bersemangat tetapi saya mencoba masuk ke dalam frame. Tetapi hasilnya gagal. Semua gagal. Yang terlihat adalah wajahnya Sella dan ketutup tangan.

Kami menuju ke frame terakhir, sekaligus penentu siapa tim yang akan menang. Di Frame terakhir ini, ada battle yang sengit. Kerudung saya sampai tertarik, tetapi hasilnya adalah saya, Ilfi, Nazmudin dan Fazril. Dengan demikian, game 3 ini tim saya yang menjadi pemenangnya.

Frame 3 (with Ilfi, Nazmudin, Fazril)


Dan kesimpulannya, Pemenang Running Man edisi Perdana adalah Tim Saya a.k.a Tim Hitam (Kenapa  hitam? Karena pas gambreng, tangannya hitam). Kenapa menang? Karena skornya 2-1. Maka berakhirlah Running Man edisi Perdana.


Melepas lelah setelah game Running Man berakhir

Tunggu episode selanjutnya (kalau saya ikut lagi) 



Foto bersama Badut Rabbani


























March 27, 2013

We Could be in Love

So, here it is.. salah satu teman saya berhasil membuat saya jatuh cinta dengan lagu ini


We Could be in Love
by Lea Salonga 



Be still my heart
Lately it's mind is on it's own
It would go far and wide
Just to be near you


Even the stars
Shine a bit bright I've noticed
When you're close to me

Still it remains a mystery

Anyone who seen us

Knows what's going on between us

It doesn't take a genius
To read between the linesbrad: ohh
 
And it's not just wishful thinking
Or only me who's dreaming
I know what these are symptoms of
We could be in love

I ask myself why
I sleep like a baby through the night
Maybe it helps to know
You'll be there tomorrow

Don't open my eyes ohhh
I'll wake from the spell I'm under
Makes me wonder howtell me how
I could live without you now

And what about the laughter
The happy ever after
Like voices of sweet angels
Calling out our names
 
And it's not just wishful thinking
Or only me who's dreaming
I know what these are symptoms of
We could be in love

All my life
I have dreamed of this
But I could not see your face

Don't ask why two such distant stars
Can fall right into place


© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis