March 9, 2012

Kaeela Selalu

Dari awal, aku dan kamu saling tahu

Saling menghargai dan terus menjalani


Kaeela selalu menyisir ujung rambutnya dengan jari-jari panjangnya sambil mendengarkan ceritaku. Sesekali senyum terukir dari bibirnya yang menununjukkan belahan di bagian bawah. Mata Kaeela yang bulat selalu berputar indah seolah tak percaya dengan ucapan-ucapan yang keluar dari mulutku. Tetapi sedetik kemudian, matanya akan kembali menuju ke mataku. Focus. Mendengarkan. Sesekali dahinya yang berkerut bingung seolah menekan tombol rewind pada diriku yang membuatku bercerita lebih pelan. Mengulang kembali hingga Kaeela paham. Kaeela selalu membuka mulutnya setelah melihat tenggorokanku mantap teraliri minuman ion dingin favorit kami berdua. Kaeela selalu mengucapkan ‘Bagus’ sebagai tanggapan utamanya setelah panjang lebar aku bercerita. Kaeela selalu tertawa setelah itu. Kaeela selalu mengomentari setiap detail ceritaku. Kaeela selalu memberi saran yang tak pernah kuiyakan tetapi secara tidak sadar, aku mengikutinya. Kaeela selalu begitu.

Sejak perkenalan pertama kami di kampus, tepatnya musim panas 2008. kami berada dalam satu kelompok yang sama saat orientasi. Kaeela selalu menebarkan senyumnya untukku, menyapaku dari kejauhan. Kaeela selalu memanggil namaku sambil melambaikan tangannya yang lembut. Hal yang tidak dia lakukan pada teman laki-laki lainnya.

Aku dan Kaeela bagaikan gula dan semut. Dimana ada Kaeela, di situ ada aku. Begitu pula sebaliknya. Kaeela menjadi tempat keluh kesahku menghadapi setumpuk pasal-pasal yang harus aku hafalkan. Kaeela selalu melihatku muntah saat mulai lelah menghafal pasal. Sedetik kemudian, Kaeela selalu menghampiriku dengan cat air di tangannya. Membiarkanku menghirupnya sedikit, lalu aku akan merasa lebih baik. Tak lama kemudian, Kaeela akan selalu tersenyum tenang melihatku melukis. Kaeela selalu tahu kalau aku tak suka Ilmu Hukum. Kaeela selalu tahu aku menyukai seni. Seni rupa.

Kaeela tidak keberatan. Dia juga menyukainya. Hanya saja dia tidak memiliki bakat itu, hal itu yang selalu dia utarakan kepadaku. Kaeela menyulap dinding kamar tidurnya menjadi tumpahan kreatifitas seniku. Kaeela tidak peduli apa yang akan kutumpahkan di dindingnya. Kaeela akan selalu menyukainya. Ya, Kaeela melakukan itu untukku. Kaeela hanya tidak ingin kreativitas dan bakatku terhenti karena tidak diizinkan berekspresi oleh ayah tiriku. Kaeela selalu menjauhkanku dari kopi hitam dan rokok, asap rokok sekalipun.

Kaeela selalu mengacak-acak rambutku dengan telapak tangannya yang lembut setiap aku panik belum mengerjakan tugas. Kehangatan tangan Kaeela selalu berhasil membuatku lebih rileks. Kaeela selalu menghabiskan roti isi keju buatan Mama yang diselundupkan ke tasku. Kaeela selalu menggenggam erat tanganku sambil gemetaran setiap kali menyebrangi jalan besar di depan kampus kami. Kaeela selalu menyisakan batang sawi di mangkoknya begitu kami selesai makan mi ayam di tempat favorit kami. Kaeela selalu pergi ke salon sebulan sekali untuk merapikan ujung rambutnya. Kaeela selalu cemburu dengan gadis-gadis lain yang berkulit putih. Kaeela tidak menyukai kulitnya yang coklat sawo matang—yang justru menjadi daya tarik bagiku sejak pertama kali melihatnya—

Februari 2009, aku dan Kaeela saling mengetahui perasaan kami satu sama lain. Kami sama-sama menghargai perasaan kami. Tetapi semua itu tak mengubah apapun. Aku dan Kaeela tetap bagaikan gula dan semut. Selalu beriringan kemanapun kami pergi.

Kaeela akan menangis tersedu-sedu, memaki, menghujat atau bahkan memukulku jika kesal. Setelah itu, dia akan bercerita siapa dan apa yang membuatnya seperti itu. Kaeela selalu begitu.

Kaeela selalu senang berada di perpustakaan. Wajahnya yang serius menekuni buku yang dia baca semakin membuatku gemas. Kaeela menyukai racing, terutama Moto GP. Sementara aku hanya akan duduk di sebelahnya, melipat wajah menjadi lipatan-lipatan kecil meski di dalam hati aku menyukai mata Kaeela yang terus menyipit menikmati racing. Kaeela akan mencubit hidungku sekeras mungkin jika Dani Pedrosa keluar sebagai juaranya, dan hanya mencubit hidungku manja jika bukan Dani yang menang. Kaeela selalu begitu.

Desember 2009, aku dan Kaeela telah lama saling mengetahui isi hati kami satu sama lain. Kaeela selalu tahu kalau aku menyukainya. Dan aku juga tahu kalau Kaeela selalu tidak pernah sedikitpun mengubah keputusan hatinya. Kaeela telah memilih orang lain menjadi kekasihnya. Bukan aku. Kaeela selalu tidak pernah bercerita mengenai lovelifenya. Tetapi Kaeela selau bercerita tentang hal lain yang seolah tak pernah lelah ia sampaikan, sekalipun lewat telpon.

Kaeela tak pernah lelah bercerita apapun kepadaku, hanya saja dia harus menyudahinya dengan sebuah kalimat lewat ujung telpon. “Ran, udah dulu ya. Reno udah jemput nih”

Setelah kalimat malam itu, Kaeela tak pernah lagi muncul di hadapanku atau bahkan orangtuanya. Suaranya juga tak pernah hinggap di telingaku atau telinga orangtuanya. Kaeela tak terlihat sejak keppergiannya bersama Reno untuk menghabiskan malam Minggu. Kaeela lenyap.


February 29, 2012

Masa Lalu

Untuk kebanyakan orang, masa lalu hanyalah sekedar masa lalu. Rentetan kisah yang pernah ada dan telah usang. Terbuang. Seperti sampah. Yang menggugurkan rasa resah atau rasa bersalah. Terlupakan. Tetapi, untukku tidaklah demikian. Untukku, masa lalu tak pernah berlalu.

Masa lalu yang mengantarkan kakiku melangkah ke gedung yang desain interriornya penuh dengan berbagai bunga dan warn-warna cerah. Menyiratkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan oleh seseorang yang pernah kucintai.

Sudah pasti aku akan berlari menuju orang itu, bukan untuk menyalaminya—seperti kebanyakan orang yang akan hadir nantinya di gedung ini—tetapi untuk menyeretnya. Menariknya kembali menuju ke pelukanku. Tetapi aku salah. Aku tak pernah sampai hati untuk menyeretnya atau bahkan melukainya.

Gadis itu terisak di depanku. Aku tak mengenali tatapan matanya yang indah setiap menuju ke mataku—seperti dulu. Hanya ada ketakutan di pelupuk matanya yang kini telah banjir air mata. Bukan itu yang ingin kulihat saat ini. Aku ingin tatapannya yang lalu. Yang berbinar bahagia setiap kali menatapku.

Gadis itu terus terisak…dan sesekali tertunduk. Tak ada satu katapun yang keluar dari bibir manisnya yang dulu dering kukecup, yang ada luapan air mata yang bagaikan air terjun—yang dulu tak pernah tumpah di hadapanku.

“Jangan menangis. Riasan wajahmu yang sudah cantik akan memudar nanti!”

Meski bagiku, gadis itu tetap cantik dengan atau tanpa riasan. Ruang rias pengantin itu memang penuh dengan harum melati, tetapi aku masih bisa menghirup aroma tubuhnya yang masih sama.

Gadis itu masih tetap terisak. Isak yang sungguh memilukan. Seolah perasaannya tertusuk belasan belati. Seperti yang kurasakan seminggu yang lalu—saat mendapati undangan pernikahannya dengan pria lain.

“Beri aku penjelasan”, mintaku singkat.

Sekuat tenaga gadis itu mencoba menghentikan isak tangisnya demi seuntai kalimat yang membakar perasaanku “Aku akan menikah hari ini dengan pria yang kucintai”, jawabnya tegas. Sama tegasnya dengan kalimat yang dia ucapkan lima tahun silam padaku.

“Siapa? Aku pria yang kau cintai, tetapi bukan namaku yang ada dalam undangan pernikahan. Kau akan menikah dengan siapa?”

“Tentu saja dengan pria yang kucintai. Dengan kekasihku yang telah kupacari setahun ini. Mengapa kau tak bisa menerimanya sejak awal ?”

Mataku panas. Perlahan kuhirup aroma bensin yang menyeruak di ruangan.

“Hubungan kita telah berakhir setahun yang lalu. Aku tak pernah lagi mencintaimu sejak setahun yang lalu. Aku telah melupakanmu. Aku telah mengatakannya padamu. Mengapa kau masih saja belum menerimanya?”.

Rentetan perkataan gadis itu seperti paku yang menancap di kepala dan hatiku, lalu disusul dengan tangisnya yang pecah dan tetap indah.

“Tetapi kau mencintaiku. Bukankah kau mencintaiku? Kau sering mengatakannya dulu? Mengapa kau lupa?”, tanyaku setengah berteriak mulai pusing dengan aroma bensin yang semakin membabi buta di ruangan itu.

“Sadarlah ! Itu adalah masa lalu. Masa lalu. Dan mereka hanya sekedar masa lalu. Kau adalah masa laluku. Masa depanku adalah hari ini. Menikah dengan pria yang akan kunikahi hari ini”

Hatiku panas. Aku semakin pusing dengan aroma bensin yang terus memaksa merasuki hidungku. Sekelebat bayangan muncul dalam benakku. Dalam mata terpejam, kudapati seorang gadis belia dengan seragam SMA menggenggam erat tangan kekasihnya. Menyusuri aspal basah sisa hujan siang tadi.

“Apa impianmu?”

“Aku ingin menikah dengan pria yang kucintai”, jawabnya tegas.

Tenggorokanku tercekat. Mataku kembali terbuka dan mendapati gadis SMA itu kini telah berkebaya putih dengan riasan yang telah luntur oleh air mata, tetapi kecantikannya tak pernah luntur sedikitpun bagiku.

Tanganku merogoh saku celana putihku dan menemukan sebuah kotak kuning kecil. Korek api. Kujatuhkan sebatang korek api lengkap dengan apinya ke lantai ruang rias pengantin. Disambut cepat dengan bensin yang telah sengaja kutumpahkan di lantai sejak awal.

Masa lalu tidak akan hanya menjadi masa lalu. Masa lalu adalah selamanya untukku.


February 17, 2012

A Thousand Years

A Thousand Years
by
Christina Perri



Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid
To fall
But watching you stand alone
All of my doubt
Suddenly goes away somehow

One step closer


I have died everyday
waiting for you
Darlin' don't be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more


Time stands still
Beauty I know she is
I will be brave
I will not let anything
Take away
What's standing in front of me
Every breath,
Every hour has come to this

One step closer


I have died everyday
Waiting for you
Darlin' don't be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

And all along I believed
I would find you
Time has brought
Your heart to me
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

One step closer
One step closer

I have died everyday
Waiting for you
Darlin' don't be afraid,
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

And all along I believed
I would find you
Time has brought
Your heart to me
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

Pulang



Sekarang aku dan kamu memiliki buku baru dengan lembaran halaman yang masih kosong. Kita sudah tutup buku dengan kejadian lalu. Aku dan kamu hanya perlu menyiapkan tinta dan menuliskannya di halaman yang masih kosong—di buku yang baru. Seperti sebuah perusahaan yang selalu mencatat setiap transaksi yang dilakukannya dalam sebuah jurnal, aku juga ingin setiap apa yang terjadi dan kita rasakan kita ungkapkan secara jujur dalam buku itu. Hanya saja, jika dalam sebuah jurnal ada ayat yang salah dan harus diganti, maka aku tidak ingin begitu. Aku tidak ingin menghapus atau mengganti setiap kesalahan—yang mungkin ada—diantara kita. Aku hanya ingin aku atau kamu memperbaikinya, mencoret kesalahan itu lalu menuliskan yang seharusnya di bawahnya. Tetapi jangan pernah menghapusnya, agar aku atau kamu bisa kembali melihat coretan itu sebagai pembelajaran untuk tidak akan lagi membuat coretan itu. Agar tidak ada banyak coretan di buku kita yang baru.

Ada ungkapan ‘time heals wound’ tetapi bagi kita ‘time has brought your heart into me’

Terima kasih telah tetap mempercayaiku sebagai pemegang kunci hatimu. Aku seperti pulang menuju hatimu…kembali.





Gemintang

Gemintang
by
Andien


Gemintang
Awali indahnya cerita
Melantunkan rasa
Nyanyikan
Denting nada dan senyuman
Menghadirkan cinta
Resahku menepi indahku bersemi
Mengingat utuh bayangmu
Hatiku mengucap kata merindukanmu
Laksana nyata manis nuansa
Dan jika gemintang tiada lagi melagu
Kisahku yang mencinta dirimu
Kan slalu abadi
Rembulan
Temani indah malam ini
Menyatukan asa
Lukiskan
Dekap hangat yang kau beri
Mengartikan kita
Gemintang nyanyikan
Rembulan lukiskan
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis