February 13, 2012

19 tahun lalu

Saat gue menulis postingan ini, maka 3 jam lagi 13 Februari—hari yang ada sekali dalam setahun—akan segera berakhir. Berganti dengan Hari Kasih Sayang alias Valentine.

Sebelum berakhir, ada yang ingin gue share malam ini, readers.

60 menit yang lalu, Radini dan Marisa baru saja meninggalkan rumah gue. Tadinya gue hampir bersyukur karena nggak ada yang mengingatkan gue tentang usia 19 tahun—yang gue sandang mulai hari ini—melalui birthday cake. Tetapi gue salah, sore tadi sekitar pukul 18.00, Marisa dan Radini datang dengan birthday cake mungil berhiaskan 3 lilin kecil (merah, kuning, biru).

Setengah kaget juga sih. Karena aku hampir lupa kalau jam 6 sore tadi masih jadi bagian hari ulang tahun gue.

Ini bukan tiup lilin pertama dari mereka, sudah yang ke-6 selama perjalanan ulang tahun gue. Honestly, gue jarang banget yanga namanya blow candle di hari ulang tahun. Karena gue sendiri nggak maniak atau bisa dibilang nggak suka sama cake. Tetapi semenjak kenal mereka—pas SMP—semuanya berubah, ultah gue yang ke-14 hingga sekarang selalu tiup lilin dari mereka.

Sampai hari ini, di hari ulang tahun gue, mereka seakan nggak pernah absent untuk datang membawa kue dan keceriaan.

Sebenarnya semakin ke sini, bukan itu yang gue liat. Wish kecil-kecilan gue, nggak ada birthday cake. Gue berharap dapat durian yang isinya ditata rapi dan di tengahnya diselipkan lilin. Hahaha. Just small wish

Gue senang mereka datang. Gue merasa perhatian dan kasih sayang mereka begitu besar buat gue. Bukan berarti teman gue yang lainnya nggak, hanya saja Radini dan Marisa adalah 2 sahabat yang gue kenal sejak SMP. Kita pisah sekolah saat SMA hingga kuliah sekarang, namun kebersamaan dari mereka masih terlihat jelas.

Terima kasih atas cinta kasih, pengertian dan kepedulian kalian untuk gue. Gue sadar betul, gue belum bisa membalas kebaikan dari kalian, hanya Allah yang bisa membalasnya.

Gue berharap persahabatn kita kekal, meski sebenarnya nggak ada yang benar-benar kekal di dunia ini.

19 tahun…tahun depan jika Allah masih menyediakan jatah umur buat gue, maka angkanya akan berganti menjadi 2. so, ini angka 1 terakhir dong. Hehe

Ulang tahun kali ini, gue mencari kado, bukan untuk gue, tapi untuk orang lain.

Seseorang yang lebih berhak mendapatkan kado di hari ulang tahun gue, tapi bukan gue.

Seminggu yang lalu, entah angin darimana merasuki pikiran gue. Saat seseorang berulang tahun, mengapa dia yang diberikan kado? Dia yang mendapatkan ucapan bahagia selamat ulang tahun? Tidak salah. Itu memang tradisi yanga da, bukan?. Tetapi kita melupakan satu orang terpenting, menurut gue.

Seorang wanita yang melahirkan kita…

Bukankah saat kita berulang tahun, itu berarti adalah hari dimana seorang ibu melahirkan kita.

19 tahun gue hari ini berbahagia adalah 19 tahun yang lalu seorang wanita dengan penuh perjuangan—antara hidup dan mati—serta bersimbah darah dan keringat melahirkan gue ke duina.

Jadi, 19 tahun hari ini harusnya adalah hari yang paling utama bagi gue untuk mengucapkan terima kasih kepada seorang wanita yang telah melahirkan gue, yaitu nyokap.

Hari dimana gue bertambah menjadi 19 tahun ini seharusnya adalah harinya nyokap. Merayakan keberhasilannya melahirkan gue dengan sehat wal afiat dan menjadi ibu untuk anak pertamanya.

Gue memberikan hadiah kecil untuk nyokap di hari ulang tahun gue ini. Hadiahnya nggak seberapa, tetapi apa yang gue berikan pada nyokap adalah sesuatu yang—gue tahu—sedang dia butuhkan.

Honestly, ke-2 orang tua gue nggak pernah merayakan hari ulang tahun untuk anak-anaknya. Sekedar hadiahpun, mereka nggak pernah ngasih di hari ulang tahun kita (anak-anaknya).

Gue mengerti…sangat sangat mengerti, karena buat gue ‘hadiah’ dari mereka bukanlah saat hari ulang tahun kami, melainkan setiap hari atau bahkan hari-hari yang terasa sulit.

Mereka selalu ada di sana.

“terima kasih Ma untuk 19 tahun lalu yang telah melahirkan aku dengan penuh perjuangan”


February 12, 2012

The Girl Wears Skinny Jeans

Aku menggeser posisi dudukku mendekati jendela dalam sebuah bus kota yang semakin termakan usia. Seorang gadis cantik dengan skinny jeans dan kemeja kotak-kotak perpaduan warna pink dan coklat itu duduk di sebelahku kini.

“Terima kasih”, ujarnya dengan seulas senyum manis menatapku.

Aku membalasnya dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Tak peduli.

Kondektur bus kota itu menghampiri gadis skinny jeans untuk memintai ongkos. Gadis itu nampak kesulitan mengambil uangnya di saku. Tangannya memegangi sekeranjang penuh berisikan mawar merah—yang telah dipisahkan tiap tangkainya oleh plastik—dengan jumlah puluhan.

“Bisa tolong pegang ini sebentar?”, tanya gadis itu padaku sambil menyerahkan sekeranjang mawarnya.

Aku hampir meraih keranjang itu kalau saja gadis itu tidak kembali menariknya kembali. Aku seolah dipermainkan oleh anak bau kencur ini.

“Hati-hati ya. Jangan sampai rusak”, pesannya padaku.

Aku hanya mengangguk dan memasang wajah meyakinkan tak akan menyakiti bunga pertanda cinta itu.

Setelah menitipkan bunga mawar itu kepadaku dan berhasil merogoh uangnya di saku jeansnya, gadis itu menyodorkan selembar uang 100 ribu kepada si kondektur bus.

“Waduh mbak, gak ada yang lebih kecil tuh uangnya? belum ada kembaliannnya mbak, baru juga narik”.

Aku melirik kecut dan membuang muka ke jendela bus. Tak ingin terlibat dalam adegan antara kondektur dan gadis skinny jeans.

“Mas, boleh pinjam uangnya 2000? Saya nggak ada uang kecil nih?”, tanya gadis skinny jeans itu padaku.

Aku langsung menoleh. Bodoh sekali, pikirku. Aku mencoba membangun benteng pertahanan.

“Saya nggak ada 2 ribuan. Maaf”, jawabku cuek sambil kembali meambatkan mataku ke arah jendela.

“Adanya berapa mas ?”, tanya gadis skinny jeans itu lagi. Tak disangka

Dengan kesal aku menoleh “Adanya 10 ribu”, jawabku ketus.

“Kalau segitu ada kembaliannya kok mbak, mas”, sambung si kondektur tiba-tiba.

“Pinjam dulu dong mas ! nanti saya ganti”, pinta gadis skinny jeans itu tampak canggung.

Apa boleh buat, selembar uang 10 ribu yang menjadi bekal perjalananku hari ini kini telah berpindah tangan ke tangan kondektur bus. Sebagai gantinya lembaran uang yang lebih banyak kembali ke tanganku, tetapi dengan nominal yang telah berkurang.

“Terima kasih ya sudah menjaga bunga ini”, ujar gadis skinny jeans itu sambil meraih sekeranjang mawar yang awalnya berada di pangkuanku.

Aku hanya mengangguk.

“Terima kasih juga sudah meminjamkan saya uang. Dompet saya dibawa teman saya, tapi sekarang dia udah di bunderan HI, saya juga mau kesana. Mas ini tujuannya mau kemana? Kalau nggak keberatan, bisa ikut turun di bundaran supaya saya bisa ganti uang mas ?”, tutur gadis skinny jeans dengan sopan dan nyaris membuat mataku terbelalak.

“Saya juga mau turun di bundaran”, jawabku ketus. Lagi.

“Kebetulan kalau begitu”

Aku tak menimpali gadis skinny jeans yang duduk di sebelahku. Dia sedang sibuk menciumi mawar-mawar segar di pangkuannya sambil sesekali merapikannya. Nampaknya mawar itu akan dijual, pikirku.

Kami berdua telah sampai di bundaran HI. Tanpa banyak tanya, aku mengikuti gadis itu bergabung dengan teman-teman skinny jeans lainnya juga dengan keranjang mawar yang telah berjejer di bundaran HI.

Gaya baru apa ini? Jualan mawar di bundaran HI kepada setiap pengemudi kendaraan bermotor yang lewat? Pasti mereka perkumpulan gadis skinny jeans.

“Ma, lo darimana aja sih? Lama banget. Kita kurang tenaga nih”, sambut gadis yang mengenakan skinny jeans selutut.

“Sorry Deb. Kesiangan gue. Eh pinjem duit 2 ribu dulu dong”

“Hahh? Udah telat dan repot gini lo malah pinjem duit 2 ribu lagi. Udahlah nanti aja !”, balas si skinny jeans selutut dengan suara yang seakan ditarik dari uratnya.

Aku hanya bergidik. Mengerikan. Sungguh ada gadis seperti itu.

“Yaudah sekarang mulai tugas lo, Ma. Lo berdiri di bagian sana !”, pinta gadis skinny jeans selutut yang kuketahui namanya Deb berdasarkan pembicaraan yang kudengar.

“Dan lo ! lo ikut gue”, ujar Deb menunjuk ke arahku. Ke arahku? Hei apa-apaan ini? Kenapa aku jadi ikut menjual bunga mawar? Memang dasar bodoh, tetap saja diriku mengikuti si Deb yang menyeramkan itu.

Deb menjelaskan apa yang harus kulakukan. Beri senyuman pada setiap pengemudi yang melintas, ucapkan ‘selamat siang dan selamat hari ibu’, berikan setangkai mawar, lalu berikan senyuman kembali. Sudah itu saja. Jadi ini bukan kegiatan menjual bunga mawar kesimpulanku.

Aku melakukan apa yang diperintahkan Deb dengan sangat baik, menurutku. Di bawah terik matahari, aku melihat berbagai reaksi yang berbeda dari pengemudi yang melintas. Ada yang senang, cuek, bahkan ada yang sampai minta 3 tangkai mawar.

Setelah hampir 1 jam melaksanakan tugas bersama gadis skinny jeans yang jumlahnya belasan, kini aku telah bersama gadis skinny jeans yang menerjunkanku ke lembah kegiatannya yang tak kumengerti.

Kami duduk di sebuah kedai makanan cepat saji. Di hadapanku, tersaji minuman soda. Sementara di hadapan gadis skinny jeans yang entah siapa namanya itu tersaji minuman soda dan french fries.

“Maaf ya mas, jadi ikut panas-panasan bagi-bagi mawar di bundaran. Pasti Mas ini kaget pas disuruh sama Debby”

“Nggak apa kok”, jawabku singkat. Lagi.

“Mas mau pesan apa nih? Masa cuma minum aja? Saya yang traktir kok”

“Nggak usah. Terima kasih. Saya nggak biasa dengan makanan fast food

“Ooh”

Hening. Aku juga tak tahu harus berkata apa lagi. Nampaknya aku nyaman berada di dekat gadis skinny jeans yang namanya belum kuketahui sampai saat ini. Apa baiknya aku tanya?

“Oya, Mas tadi katanya juga ada urusan di bundaran HI kan ya? Terus gimana tuh?”

Astaga ! aku lupa. Ya, diantara gedung-gedung yang berjejer tinggi mengelilingi bundaran HI, ada salah satu gedung yang seharusnya menjadi satu tujuanku untuk melalmar pekerjaan. Nampaknya persatuan gadis skinny jeans itu telah menghipnotisku hingga lupa. Wajahku berubah panik.

“Ada apa Mas?”, tanya gadis skinny jeans itu dengan wajah yang amat lugu dan polos. Wajah yang langsung kusukai. Entah kenapa.

“Tadi saya berniat melamar pekerjaan. Tapi saya justru baru ingat saat kamu tanya barusan”, jawabku jujur.

“Yaah maaf banget ya Mas. Kalau tahu Mas ini ada keperluan penting, pasti nggak akan saya ajak bagi-bagi bunga di hari ibu ini”

“Hari Ibu?”

“Ya, hari ini kan tanggal 22 Desember. Hari ini hari Ibu, Mas. Masnya lupa juga ya?”

“Astaga. Iya, saya lupa”

Bukan lupa. Aku memang tak pernah peduli.

“Setiap hari Ibu, saya dan teman-teman kampus memang selalu bagi-bagi bunga mawar kepada setiap pengemudi yang melintas. Nggak peduli, si pengemudi cewek atau cowok. Pesan kami cuma agar si pengemudi selalu ingat dengan ibunya dan kalau bisa memberikan bunga pemberian kita ke ibunya”

“Secara cuma-cuma?”

“Ya”

“Darimana kalian dapat uang untuk beli tangkai-tangkai mawar yang bejibun? Kaliankan mahasiswa?”

“Uangnya berasal dari kita yang disisihkan setiap bulan. Acara inikan memang udah berjalan rutin, jadi nggak seberapalah kalau disihkan setiap bulan. Dapet pahala jugakan”

“Wah hebat ya. Saya malah nggak pernah kepikiran dengan ide seperti itu. Cewek memang cenderung kreatif ya”

“Haha iya begitulah. Eh ya Mas, aku nggak nyangka Masnya ini mau ngelamar kerja. Aku kira baru kuliah semester 1. Hihi”

Gadis skinny jeans itu terkekeh kecil namun manis.

“saya terlihat muda ya?”

“Iya, Mas”

“kalau kamu memang sudah semester berapa?”

Belum sempat dijawab, ponsel gadis itu berdering. Sepertinya seseorang di seberang telpon memintanya untuk menemuinya.

“Mas, saya ada urusan nih”, ujarnya padaku setelah menutup telpon.

Nah benarkah.

“Ini mawar untuk Mas. Dikasih ke ibunya ya. Selamat Hari Ibu. Sayangi Ibu nya Mas ya.”, ujarnya lembut smabil menyodorkan setangkai mawar terakhir yang tersisa.

Ini penghinaan, mana mungkin aku yang notabene seorang lelaki menerima mawar merah dari seorang gadis yang baru kukenal, bahkan belum kutahu namanya.

“Nggak usah. Saya…alergi mawar. Mawarnya buat kamu saja”

“Alergi? Masa sih? Alibi ya? Daritadi nampaknya Mas ini nggak kenapa napa tuh. Sudahlah Mas. Mawar ini dikasih ke ibunya saja ya, bilang dari saya. Ohya, ini uang 2 ribu yang saya pinjam tadi. Maaf baru saya ganti”

“Hei, kenapa mawar ini nggak kamu kasih ke ibu kamu saja?”, tahanku sebisa mungkin.

Gadis skinny jeans yang sedari tadi begitu ceria tiba-tiba menampakkan raut wajah yang berbeda.

“Ibu saya sudah meninggal, mas”, jawabnya lemas

Aku tercekat. Kusadari telah membuatnya teringat akan ibunya yang kini telah tinggal di alam yang berbeda.

“Kamu bisa hadiahkanmawar ini di makamnya kan? Saya nggak keberatan menemani kamu ke makam ibumu”, usulku tiba-tiba. Sedetik kemudian aku baru sadar betapa murahan dan terkesan menggoda kata-kata yang kukeluarkan barusan.

Gadis skinny jeans itu tersenyum kecil, yang terkesan dipaksakan menurutku.

“Makamnya ada di Bandung, Mas”

“Oh. Maaf”, jawabku singkat. Bingung mau bicara apa lagi.

“Iya nggak apa kok. Yasudah, terima kasih ya Mas. Saya permisi dulu”, pamit gadis skinny jeans itu.

Kini aku tertinggal di salah satu meja di resotoran cepat saji dengan setangkai mawar merah di tangan berteman kebodohan dan penyesalan yang menjejali otak karena tidak menanyakan nama gadis skinny jeans itu.


February 10, 2012

Valentine 2004

“Orang yang nulis diary itu adalah orang yang nggak bisa berkomunikasi dengan orang lain”, papar Rio—cowok berkulit gelap yang berada di layar kaca.

Aku langsung meraih remote tv dan menekan tombol power. Kata-kata itu sungguh menyinggungku—orang yang menjadikan menulis buku harian sebagai hobinya. Tidak bisa dipungkiri, perkataan cowok itu langsung menusuk diriku. Aku memang sulit memulai pembicaraan dengan orang lain, khususnya dengan orang yang baru kukenal. Tetapi, aku tidak akan berhenti bicara saat sedang bergumul dengan orang-orang yang telah lama kukenal.

Kata-kata itu menghipnotisku. Meruntuhkan moodku malam ini. Mau apa ya? Tanyaku dalam hati. Aku memilih kamar, membuka laci tempat diaryku bersarang. Aku hampir meraih diaryku sampai tetapi aku urungkan.

Perkataan itu menjadi begitu brengsek dan menyebalkan, terus berputar dalam benakku. Mataku terhenti pada sebuah diary berwarna biru yang sampulnya bergambar Barbie. Diaryku saat berumur 11 tahun.

Aku meraihnya. Banyak tulisan tanganku saat itu yang menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi saat aku duduk di Sekolah Dasar, tepatnya kelas 6. cerita keseharianku bersama sahabat-sahabatku, cinta monyet yang sekaligus cinta pertamaku—yang bertepuk sebelah tangan.

Sejak kelas 4 SD, aku mulai menulis diary. Tidak tahu apa awal mulanya. Tetapi ceritanya hanya sekilas dan tidak mendetail. Saat berada di kelas 1 SMP, aku sempat berhenti melakukan rutinitas itu, tetapi kemudian berlanjut hingga sekarang. Hingga usiaku hampir meninggalkan masa remaja, yaitu 19.

Aku hanya menyusuri halaman demi halaman dengan sekilas, hingga mataku tertuju pada halaman yang bertanggalkan 16-02-04. Betapa terkejutnya aku, saat menemui sebuah cerita yang berada di akhir halaman.

Oh iya, hari ini Vrendy ngasih aku dan Yessy coklat. Vrendy dan Riduan patungan beli coklat itu buat kami, Rizky yang ngasih tahu itu ke aku

Aku ternganga. Menekan tombol rewind dalam otak, mencari dalam draft ingatan. Tetapi aku tak menemukannya. Hanya samar-samar. Benarkah? Benarkah kejadian itu pernah menjadi bagian dari cerita hidupku.

Alangkah so sweet nya mereka, batinku dalam hati.

Aku kembali membuka ingatanku.

Saat berada di bangku Sekolah Dasar, kami memang sangat polos. Mengikuti berbagai hal yang ngetren saat itu. Tahap imitasi, begitulah dalam bahasa sosiologi. Suka meniru. Salah satunya adalah ciri khas valentine.

Aku dan sahabat-sahabatku bertukar kado saat hari valentine, tetapi aku lupa kalau pernah makan coklat itu. Setelah itu, aku tidak lagi pernah merayakan valentine, mengucapkannyapun tidak. Karena aku sudah bertabur informasi, kalau kami umat Muslim tidak boleh merayakan valentine.

Valentine atau hari kasih sayang harus tercipta setiap hari, bukan dikhususkan pada tanggal 14 Februari itu. Tetapi Valentine 2004 menjadi sebuah kenangan yang hampir terkubur dalam ingatanku.

Aku masih tersenyum kecil sendiri. Sekelebat pikiran muncul dalam benakku.

Orang yang menulis diary itu bukannya tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain, tetapi orang yang menulis diary itu justru mengabadikan setiap peristiwa yang ada—yang mungkin akan kita lupakan, karena daya ingat manusia begitu terbatas. Dan kenangan yang diabadikan dalam buku hariannya itu yang menjadikan orang tersebut tak berhenti menjalin komunikasi dengan orang lain

Seketika kukirim pesan singkat pada Yessy :

Yes, ingat gak? Valentine 2004, kita pernah dapet coklat dari Riduan sama Vrendy? Mereka patungan beli coklat untuk kita?

Sent.

Lalu, sebaris pesan juga kukirim pada Riduan :

Riduan, ingat nggak ? Lo sama Vrendy pernah patungan beli coklat buat gue sama Yessy?

Sent.

Beep. Beep. Sebuah pesan dari Yessy :

Hah iya apa fit? Gue lupa, tapi gue pernah ngerasa mkan coklat bareng lo pas valentine, ga tau darimana. Yaampun so sweet bgt mereka ya

Beep. Beep. Sebuah pesan dari Riduan :

Haha sumpah klo itu mah inget banget gue :D . haha susah payah ngumpulin buat beli coklat

Aku tersenyum membaca dan mengetahuinya, juga mengingatnya.


Aku Kesal ! Jelas Saja

Aku sudah sampai. Siap dijajakan. Siap dipilih dan aku akan menjadi yang pertama dipilih untuk setiap orang yang singgah di depan lapak sederhana nan dadakan ini.

Aku begitu percaya diri karena akulah yang terbaik, yang berada di tempat yang paling bersih diantara teman-temanku yang lain. Aku begitu manis dan menggiurkan, yang akan memberi kenikmatan bagi setiap lidah yang menyentuhnya.

Matahari sudah mearajai hari. Terasa begitu menyengat, tetapi tidak untukku. Karena aku yang merupakan salah satu dari yang berkualitas, terlindungi begitu nyaman dari sengatan matahari.

Sambil menikmati kendaraan yang berlalu lalang, aku berharap ada salah satu dari mereka yang menghentikan perjalanannya, lalu memilihku. Tidak ada satupun yang singgah. Mereka terlalu sibuk dengan tujuan mereka masing-masing. Seperti teman-temanku yang sedang sibuk membujuk lalat-lalat nakal—yang mengerumuni mereka—untuk pergi.

Teman-temanku, yang sepertinya lebih tepat kujuluki senior malang itu berada di keranjang terpisah dengan lalal-lalat yang datang menyinggahi. Sungguh malang nasib mereka. aku bersumpah tak akan pernah berada di tempat mereka, karena sebentar lagi seorang pembeli akan menjemputku.

Matahari baru tenggelam disambut azan magrib dan jalanan basah sisa hujan yang yang mengguyur.

“Mereka akan datang sebentar lagi. Mereka akan memilih kita pastinya”

Suara itu berasal dari senior mudaku yang harganya lebih rendah disbanding aku tentunya. Akulah yang terbaik. Tentu saja.

Aku mengulum senyum sinis yang tidak disadari mereka. Tentu saja ornag yang datang akan memilihku, karena akulah yang terbaik. Karena aku adalah kualitas nomor satu.

Benar sja. Tak lama kemudian, kendaraan yang berlalu lalang dengan pengemudinya satu per satu singgah di lapak ini. Lelaki berkumis yang menjadi Tuanku mulai mengahmpiri seorang Bapak yang baru saja membuka helmnya.

Si Kumis memperkenalkan aku, senior muda dan senior muda jenis lain beserta harganya. Si Bapak itu dahinya berkerut bingung menetukan pilihan. Akhirnya, 4 orang senior mudaku ikut pulang bersama Bapak itu.

Aku kesal. Jelas saja. Mengapa Si Bapak lebih memilih senior mudaku dibandingkan denganku yang memiliki kualitas nomor satu? Tetapi aku terus berwajah manis dan memancarkan auraku untuk menarik setiap orang yang datang. Malam sudah larut. Tak ada juga yang memilihku. Keranjang di bagian senior muda dan senior muda jenis lain telah berkurang setengahnya. Sudahlah, aku mengantuk. Masih ada hari esok, pikirku. Akupun tertidur.

Aku membuka mata dan menemuakn diriku telah dijajar rapi dalam keranjang senior muda. Hargaku telah turun hari ini, itu yang kutahu.

Aku memutuskan untuk tidur sepanjang hari karena aku tahu kapan orang-orang akan ramai mengunjungi lapak ini. Tetapi nampaknya aku salah, saat terbangun tepat azan magrib membahana kutemui Si Kumis meletakkan senior muda yang baru di sisiku. Itu berarti setengahnya dari keranjang yang kutempati ini telah terpilih oleh orang yang datang saat aku tertidur.

Aku kesal. Jelas saja. Tetapi aku mencoba berwajah manis dan memancarkan auraku untuk menarik setiap orang yang memang telah berdatangan untuk memilih aku dan teman-temanku.

Kali ini seorang nenek tua keluar dari mobil mewah silver miliknya. Seperti biasa, Si Kumis melaksanakan tugasnya. Nenek kaya tua itu tak sedikitpun melirik ke arah keranjangku. Dia sibuk memilih di keranjang tempat aku menghabiskan hari pertama kedatanganku, kemarin. Keranjang yang berisikan teman-temanku yang baru datang dengan kualitas nomor satu dan harga tertinggi.

Tak lama nenek kaya tua itu membawa 3 kantong platik hitam berisikan teman-temanku yang baru datang hari ini.

Aku kesal. Jelas saja. Akupun memilih untuk tidur.

Suara mendengung yang gaduh dan menganggu tidurku ternyata berasal dari lalat-lalat brengsek.

Aku kesal. Jelas saja. Kini aku berada di level terendah dengan harga Rp.5000. tempat senior malang yang pernah kukutuki nasibnya saat kedatanganku di hari pertama.

Rasanya mimpi untuk dapat dipilih oleh orang yang datang. Sekali lirik saja, mereka akan yakin untuk tidak memilihku karena lalat-lalat brengsek yang kini mengerumuniku.

Azan magrib membahana. Satu per satu orang mulai menyinggahi lapak ini.

Si Kumis menjalankan tugasnya, seperti hari-hari kemarin.

“Mau yang mana pak? Yang super 12 ribu. Harum Manis sama Indramayunya 7 ribu saja. Dikombinasikan juga boleh”

Aku kesal. Jelas saja. Karena aku tidak diperkenalkan. Mungkin karena ada papan bertuliskan 5000 di atasku.


© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis