December 19, 2011

Saham - Saham Cinta

gue menemukan tulisan ini sekitar sebulan yang lalu. isinya bagus, sampai-sampai gue memutuskan untuk share di sini.

Terkadang kau memulainya sebagai seorang investor dengan puluhan milyar cinta di tanganmu hingga serasa tak akan pernah habis ketika kau menginvestasikannya.

Terkadang bahkan kau tak menginvestasikannya segera, menunggu dan terus menunggu untuk menempatkannya di sebuah perusahaan impian yang tak kunjung tiba, padahal begitu banyak perusahaan yang baik bagimu namun kau tak menyadarinya.

Terkadang kau tak kunjung-kunjung menginvestasikan cintamu karena takut akan resiko yang akan kau tanggung. Padahal kau sendiri sadar bahwa tak ada cinta tanpa resiko.

Terkadang kau dengan mudah menanamkan sahammu pada sebuah perusahaan, namun setelah kau telah merasa mendapat capital gain yang cukup kau dengan mudah mencari perusahaan potensial yang lain.

Namun terkadang kau memulainya dengan menjadi seorang investor yang benar-benar pengaplikasikan teorimu, portofolio. Kau menginvestasikan saham-sahammu pada beberapa perusahaan berbeda.

Beberapa saat setelah kau menanamkan sahammu. Saham-saham itu mulai berkembang, memberikan deviden bagimu. Seberapa bijakkah kau tergantung pilihanmu, menanamkannya kembali sebagai retain earning untuk menumbuhkan perusahaan[cinta]mu lebih besar, atau berpangku tangan menikmati deviden atas saham yang kau tanamkan. Padahal terkadang perusahaanmu sangat berharap akan retain earning[cinta] namun tetap setia memberikanmu deviden meskipun kau tak menambah saham-sahammu di perusahaanmu itu. Perusahaanmu tetap setia mendengarkan pendapatmu, padahal tak jarang membawa mereka kepada kehancuran.

Terkadang kau memulainya sebagai sebuah perusahaan, yang selalu merasa miskin, yang selalu merasa bahwa perusahaanyalah yang paling menyedihkan di dunia ini, yang selalu berharap akan datangnya seorang investor.

Namun terkadang kau memulainya sebagai sebuah perusahaan yang tangguh, yang walaupun tak memiliki tangible asset, namun kau memiliki intangible asset yang hebat. Harga dirimu. Kau tak pernah berharap akan adanya investor yang membantumu. Kau cukup tangguh untuk berjuang sendirian.

Pemilihan permodalan menjadi sebuah dilema. Memilih untuk utang atau menjual saham. Yang menjadi persoalan adalah terkadang mereka yang memberikan modal [cinta] padamu salah mengartikannya sebagai utang, mereka menuntutmu untuk mengembalikannya beserta bunga.

Namun jangan patah arang. Untungnya selalu ada investor berbasis syariah. Yang menanamkan modal kepadamu tanpa mengharap riba, yang terkadang ikut menanggung kerugianmu, setia disaat suka maupun duka.
oleh : Thontowi A. Suhada


http://ekonomgila.blogspot.com/2011/09/saham-saham-cinta.html

December 14, 2011

Mendadak FORKAT



Gue mendadak beku, kaku, bingung dan panas dingin saat nama gue benar-benar dipanggil untuk maju ke depan sebagai kandidat Ketua Forkat. Hem Forkat apa deh ?

FORKAT (Forum Angkatan) Akuntansi adalah salah satu bagian yang mulai diperhitungkan di BEMJ (Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan) Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta. Program ini dibentuk sebagai wadah untuk menaungi aspirasi dan suara-suara mahasiswa akuntansi di setiap angkatannya.

Nah di setiap angkatan itu ada ketua forkat yang bertugas sebagai penghubung antara mahasiswa akuntansi dengan BEMJ Akuntansi. jadi apapun yang dibutuhkan mahasiswa mahasiswa akuntansi, baik secara akademis atau non-akademis, serta aspirasi mereka bisa disampaikan ke Forkat. Contohnya : mahasiswa-mahasiswa akuntansi butuh suatu kegiatan belajar bersama. Aspirasi itu bisa disampaikan ke forkat lalu disampaikan ke BEMJ dan jika disetujui bisa dibuatkan agenda kegiatan itu.

Forkat itu dipilih oleh teman-teman satu angkatan yang sama. Forkat pertama kali diadain tahun 2009, pemilihannya di acara THINK ACCT (To be Happy in Communitty of Accounting). Think Acct sendiri adalah acara ta’aruf (perkenalan) yang diadakan setiap tahun untuk maba khusus jurusan akuntansi.

Think Acct 2011 ini diselenggarakan di Buperta Cibubur. Di dalamnya juga ada pemilihan Ketua Forkat 2011 yang kandidatnya ditunjuk oleh kakak senior. Sebelumnya kakak senior itu menawarkan apakah ada yang mau mencalonkan diri sebagai Ketua Forkat 2011 tetapi karena nggak ada, kandidatnya ditunjuk oleh mereka.

Terus dengan dasar apa mereka menunjuk si kandidat itu ?

Jawaban-jawaban mahasiswa di setiap pos dalam jerit malam pukul 03.00 pagi.

Gue yang emang ngebet ikutan Think Acct gak pernah mimpi ataupun bertujuan untuk jadi ketua forkat. Ngebayangin jadi kandidatnya aja nggak pernah. Tapi hari itu, Minggu 11 Desember 2011 berkata lain.

Nama gue dipanggil pertama oleh Kak Nadiyya (Ketua Forkat 2008) sebagai kandidat pertama Ketua Forkat.

Kandidat lainnya adalah Niwa (1B) dan Hamdan (1C). setelah dijajarkan bertiga di depan seluruh hadirin Think Acct saat itu (kakak senior berbagai angkatan dan teman-teman satu angkatan), kita langsung diminta menjelaskan visi dan misi kita jika menjadi ketua forkat.

JLEB ! “siapa yang mencalonkan diri, siapa yang buat visi dan misi”. Dalam hati gue berteriak, gue nggak mencalonkan diri kenapa disuruh bikin visi misi. Setelah itu, kita (kandidat Ketua Forkat) diminta mengambil kertas undian yang menentukan kita akan menjawab pertanyaan salah satu kakak—yang dimahatinggikan dan ada saat itu— dari 3 kakak cantik.

Gue dapet pertanyaan dari kak Nadiyya tentang apakah gue pantas menjadi Ketua Forkat?

Saat itu gue sungguh seperti berada dalam Pemilihan Putri Indonesia. Langsung ditanya dan harus langsung dijawab dan disaksikan berbagai pasang mata.

*sigh

Selanjutnya ada berbagai pertanyaan dari hadirin, baik kakak senior maupun teman-teman seangkatan.

Selama berada di depan, gue nerveous. Asli. Panas dingin. Perasaan gue nggak tenang. Jawaban gue ngawur dan gak sebagus kandidat lainnya. Tapi temen-temen gue masih terus kasih semangat dari bangku penonton. Yang membuat gue lumayan terhibur adalah wajah ekspresifnya Ilfi dengan senyum khasnya dan bilang ‘semangat fit !’, Sella juga nggak kalah kasih semangat buat gue. Di situ gue ngerasa mereka ada banget buat gue.

“Thanks ya Sel, Fi. Kebersamaan kita benar-benar berarti di Think Acct ini” . *tarik ingus

Gue minta maaf kepada semua yang telah begitu bersemangat mendukung gue, memfavoritkan gue, mempercayakan gue hingga mengusulkan gue sebagai salah satu kandidatnya, khususnya kakak senior yang bertugas menanyai gue di pos 5 mengenai wawasan dan pengetahuan.

Gue sungguh meminta maaf karena telah sangat begitu mengecewakan pada siang itu. Jawaban gue nggak sebagus saat gue menjawab di pos-pos pada pagi dinihari. Mungkin mereka beranggapan gue dapet ilham pas pagi dinihari, maka dari itu jawaban gue bagus dan layak diperhitungkan, tetapi dalam dunia nyata saat siang hari gue nggak ada apa-apanya.

Terserah mereka mau bilang apa.

Saat jerit malam, yaitu dengan mata tertutup dan satu per satu diantarkan ke setiap kakak di masing-masing pos. Lalu ditanya-tanyai mulai dari pengetahuan agama, leadership, ketahanan mental, pengenalan diri pribadi, dan yang terakhir wawasan dan pengetahuan. Semua pertanyaan yang dilontarkan mereka itu memang bisa gue jawab dengan baik, bahkan terkesan memuaskan, tetapi gue sadar, kalau itu semua bersifat knowledge. Pengetahuan semata, yang pernah gue alami, gue saksikan, gue dengar dan gue ketahui. Sementara saat pemilihan Ketua Forkat, pertanyaan yang terlontar adalah mengenai problem solving. Masalah keorganisasian yang jauh banget dari kehidupan gue, yang nggak pernah gue ketahui secara dalam. Gue masih berada dalam proses belajar. Gue belum bisa memecahkan masalah karena gue belum berpengalaman. Itu yang gue sadari. Itu yang gue pelajari dan itu yang gue dapatkan.

Selain itu ada factor x yang nggak bisa gue ungkap di sini. Gue tahu factor x itu menggerogoti perasaan gue selama pemilihan Ketua Forkat. Faktor x itu menenggelamkan semua rasa optimis dan keinginan gue untuk maju. Factor x itu selalu hadir lebih dahulu dan menguasai emosi dan pikiran gue. Factor x itu adalah sebuah realita yang hanya gue yang tahu.

Finally, Hamdan keluar menjadi Ketua Forkat 2011 dengan perolehan suara sebanyak 15 suara, disusul Niwa dengan 7 suara dan gue 4 suara. Total perolehan suara adalah 26 suara, sesuai maba akuntansi 2011 yang hadir dalam Think Acct itu.

Terima kasih untuk AKU KECE (Akuntansi Kelas C), kepada Wahyu Heldera, Achmad Fauzi, Hadi Nugraha, Faisal Fauzi, Fandi Arman, Sella Rachmawati, dan Ilfi Auliani.

Terima kasih untuk kalian semua yang diantaranya telah memilih gue, padahal gue sadar secara objektif gue nggak pantas untuk dipilih. Maaf gue telah mengecewakan kalian dan terkesan mengabaikan semangat yang udah kalian kasih, tetapi melihat kalian dari bangku penonton, gue sungguh senang dan merasa kita adalah keluarga besar Akuntansi Kelas C dalam Think Acct 2011 kemarin.

*tarik ingus



December 2, 2011

Bangkok Traffic (Love) Story







Sepekan yang lalu, gue memaksa mata gue untuk terus bertahan menikmati sebuah drama Thailand bergenre romantic comedy. Judulnya Bangkok Traffic Story. Film produksi Thailand yang diproduksi pada October 2009 ini disutradarai Adisorn Tresirikasem

Film ini bercerita tentang seorang wanita berumur 30 tahun yang memiliki karir mapan tetapi belum juga menemukan tambatan hatinya, yaitu Mei Li

Mei Li mengendarai mobil dalam keadaan mabuk setelah menghadiri pesta pernikahan sahabatnya, Ped. Naas, mobilnya menabrak pembatas jalan hingga kaca spionnya terlempar mengenai sekumpulan orang-orang yang sedang makan di warung kaki lima. Itulah saat pertama kali dia bertemu dengan seorang ahli mesin skytrain Bangkok, yaitu Lung.



Mobil Li rusak parah sehingga dia terpaksa pergi ke tempat kerjanya menggunakan skytrain. Hal ini membuat Li menjadi sering bertemu dengan Lung. Mereka bertemu dalam keadaan yang bertolak belakang. Mereka bertemu saat Li baru pulang kerja, sementara Lung baru ingin pergi bekerja.



Li merasa harus melakukan gebrakan dalam lovelifenya, diapun memtuskan untuk bisa mendapatkan Luung.

Suatu hari Li tidak sengaja merusakkan kacamata milik Lung. Sebagai bentuk rasa bersalah, Li membelikan kacamata baru untuk Lung dan menuliskan nomor ponselnya di dalamnya, seperti saran Plem (tetangga Li yang supel dalam bergaul). Li berharap Luung akan menelponnya tetapi cara itu nampaknya tidak berhasil. Luung tidak juga menghubunginya.



Akhirnya Li bersama Plem menunggu Luung di tempat penyewaan dvd yang sering dikunjungi Luung.


Alih-alih ingin membantu temannya bisa mendapatkan nomor ponsel Lung, Plem justru ikutan tertarik dengan Luung dan berhasil mendapatkan nomor ponsel Luung dengan kecerdikannya.




Keesokkan harinya, Plem telah bekerja part time di tempat tersebut agar bisa bertemu dengan Luung. Hal ini tentu saja membuat Li merasa 'gerah' dan kesal. Well, part ini juga buat gue gregetan sama Plem.

Sebagai pembalasan, Li mengirim pesan (sms) ke-3 pacar Plem untuk datang ke tempat part time Plem itu.



Melihat 3 kekasihnya yang datang satu per satu dengan sangat tiba-tiba itu membuat Plem terkejut. 3 orang cowok yang ditigain sama Plem itu akhirnya saling berkelahi. Ini kocak menurut gue, karena salah satunya ada yang langsung jatuh tersungkur nggak bisa bangun. You know why readers? Cowok itu mengenakan celana yang superketat (mungkin kaya celana pensil kalo di Indonesia) sehingga membuatnya harus mengeluarkan berjuta tenaga untuk bergerak.

Dalam keadaan kisruh itu Luung datang, tapi naasnya lagi dia menjadi sasaran cowok-cowok yang bertengkar yang menyebabkan tasnya berisi laptop terlempar dan jatuh tepat di depan kaki Li. Merasa tidak enak, Li membawa laptop itu pada suami Ped untuk diperbaiki, tetapi sayang laptop itu udah nggak bisa bertahan lagi, readers.

Li mengantar tas berisi laptop itu ke kantor Luung, tetapi dia hanya menemukan satpam jaga dan menitipkan pesan. Menurut gue ini bukan pesan, karena kalau pesan itu cukup singkat, padat dan jelas tapi ini memaksa si satpam jaga itu untuk menuliskannya di 1 halaman kertas polio bergaris. Hemm mungkin ini lebih tepat disebut dengan surat wasiat. Ya, dan ternyata itu adalah sebuah lirik lagu Thailand.

Akhirnya lagi, Li justru tertidur di pos satpam itu menunggu Luung yang sedang bekerja. Li minta maaf atas rusaknya laptop Luung tersebut.


Luungpun membuang tas laptop itu di tong sampah dan tanpa sepengetahuannya, Li mengambilnya dari tong sampah dan membawanya pulang dengan sangat bahagia


Di dalam tas itu, Li menemukan negative film yang ternyata merupakan foto Luung dan mantan pacarnya yang merupakan artis terkenal.

Foto-foto mesra Luung dan mantan kekasihnya itu justru terexpose masyarakat luas karena ulah si pencetak foto.

Li merasa bersalah dan meminta maaf—atas terpublishnya foto-foto itu ke masyarakat luas—saat bertemu Luung di Bangkok Skytrain. Ada part dimana gue merasa kagum dengan masyarakat Thailand, yaitu Li dan Luung sama-sama sedang duduk dalam Bangkok Skytrain lalu sekejap berdiri saat mengetahui ada rombongan anak TK bersama gurunya naik. Ini menunjukkan kalau mereka (Li dan Luung) memberikan tempat duduk mereka untuk serombongan anak TK. How care they are !

Rombongan anak TK itu ternyata ingin pergi ke planetarium Bangkok. Dengan iseng, Li mengajak Luung turun untuk sama-sama ke Planetarium Bangkok. Luungpun menyetujuinya. Mereka melihat pameran yang menjelaskan bahwa komet akan segera terlihat. Li berharap bisa melihat komet bersama Luung.



Li hampir saja merayakan Festival Songkran bersama ke-2 orang tua dan neneknya di luar Bangkok kalau saja Luung tidak mengajaknya untuk merayakan bersama.



Festival Songkran adalah perayaan tahun baru masyraakat Thailand, biasanya Bangkok menjadi sepi karena ditinggal masyarakatnya untuk mudik ke kampung halaman bertemu dengan kerabat-kerabatnya. Festival ini juga bisa diartikan menjadi perang air, karena anak-anak memercikkan air ke orang dewasa sebagai tanda meminta berkat lalu pada akhirnya memercikkan air kepada siapa saja.


Li melewatkan perayaan songkran bersama Luung..dan juga Plem yang tiba-tiba ikut. Hal ini lagi-lagi membuat gerah dan kesal Li. Gue juga (lho). Iya tapi serius, Plem itu ganggu banget. Sampai saat Li memutuskan mengajak Luung naik ke mobil rombongan yang sedang melintas untuk menghindari Plem, agar mereka hanya bisa berdua tanpa Plem. Tetapi Pelm masih saja menyusul menggunakan ojek. Gerrrr




Li memutuskan mengakhiri perayaan songkran itu dan pulang ke rumah. Tidak lama kemudian, Li yang mengetahui rumah Lung memilih bertamu ke rumah Luung. Merekapun akhirnya jalan-jalan mengitari Bangkok. Hanya berdua, tanpa Plem. Yess !



Pada perayaan hari keluarga di tempat Luung bekerja, Luung mengajak Li. Li kembali tidak sengaja merusak benda milik Luung, yaitu kamera digital yang di dalamnya berisi foto mereka ber-2.



Di sanalah Li mengetahui kenyataan pahit bahwa Luung akan pergi ke Jerman karena mendapat beasiswa di sana selama 2 tahun.

Hati Li merasa hancur karena harus melepas seseorang yang baru saja klik dengannya. Sehari sebelum keberangkatan Luung ke Jerman, Li nampak galau dan hancur. Dia berjalan-jalan sendirian dengan harapan menenangkan hatinya dan memastikan semua akan baik-baik saja.



Mereka akhirnya benar-benar berpisah di Jembatan Taksin

Percakapan di jembatan itu kurang lebih begini….

Li : Apakah selama ini kau pernah menganggapku lebih dari seorang teman ?

Lung : Aku selalu berharap tidak pernah. Tetapi aku tidak bisa menahannya.

*sigh

Mungkin bosan juga ya baca rangkaian kisah ini tapi entah kenapa gue pengen banget ngeshare film ini buat readers.

Dan bagian ter so sweet buat gue serta terharu biru adalah saat di hari kepergian Luung ke Jerman, dia mengirimkan sebuah kotak kepada Li.

Isinya :

1. Kaca Spion Mobil Li yang kacanya retak

Kata Luung : Kaca ini hampir saja mengenai kepalaku

2. Kaca Mata Luung yang rusak

Kata Luung : Dengan kacamata darimu aku menjadi bisa melihat dunia. Tetapi aku terlalu pengecut untuk menghubungimu meski aku tahu kau memberikan nomor ponselmu.

3. Laptop rusak yang di atasnya terlipat kertas folio bergaris (isinya permintaan maaf yang ternyata lirik lagu Thailand)

Kata Luung : Aku ingin kau menyanyikan lagu ini sampai selesai

3. Tiket Planetarium Bangkok

Kata Luung : Saat kebanyakan pasangan memilih menonton di bisokop dalam kencan pertamanya, kita justru memilih melewatkannya dengan melihat bintang di Planetarium

4. Kamera digital yang rusak

Kata Luung : meski kau tidak sengaja merusaknya, tetapi bukankah kita masih punya memorinya ?

Li langsung melihat isi memori itu lewat laptopnya dan menemukan banyak foto dirinya yang diambil Luung tanpa sepengetahuannya. Juga foto mereka berdua. Air mata Li langsung bercucuran, ia lekas berlari menuju Bandara Suvarnabhumi untuk mengucapkan selamat tinggal pada Luung tetapi sayang pesawat Luung telah lepas landas.

Pada akhirnya mereka tidak dapat menyaksikan komet bersama.

Kenapa part di atas gue bilang sweet ?

Karena Luung adalah cowok yang rapi, yang telaten, yang sabar, yang memerhatikan hal-hal kecil dan dia menyimpan rapi semua benda-benda yang sekilas biasa nan kecil tapi sesungguhnya punya makna yang besar.

Cowok yang memerhatikan konsep pengarsipan. Gue rasa jarang ada yang seperti dia.

Hem sad endingkah?

Belum selesai…

2 tahun kemudian, tepatnya pada sebuah malam mereka bertemu kembali di Bangkok Skytrain dalam keadaan yang bertolak belakang. Dimana Li baru ingin pergi kerja, sementara Luung baru saja selesai rapat dan bergegas pulang.



Pertemuan mereka singkat karena kemudian harus naik Bangkok Skytrain yang arahnya berbeda.


Tiba-tiba di dalam skytrain yang dinaiki Li listriknya mati sehingga skytrain berhenti di tengah jalan. Semua orang panik dan mengabarkan kerabat mereka lewat telpon. Semua orang dalam skytrain, kecuali Li. Honestly, gue sedih juga ngeliat part ini. Kasihan Li.

Sampai akhirnya, ponsel Li berdering dan ternyata dari Luung. Luung mengajak Li merayakan festival songkran bersama kembali. Li pun menyetujuinya. Tidak lama kemudian, listrik kembali menyala dan Luung sudah berada dalam skytrain yang sama dengan Li sambil berkata “Itu nomorku, disimpan ya”

Itu nggak masuk akal menurut gue tapi yaudahlah gue kaget dan bahagia pada part itu.

Gue emang suka sering jadi korban film. Jadi suka benar-benar tergila-gila sama film itu dan memikirkannya terus-terusan atau ngomongin tuh film terus-terusan. Aneh. Lebay. Ya terserahlah. Everyone has different characteristic and its not a mistake.

Melihat Bangkok Traffic Story membuat gue iri dengan Thailand, berharap kota yang gue tinggali juga punya skytrain. Berharapa aktivitas gue selalu menggunakan skytrain, ketemu seseorang yang misterius. #korbanfilm.




Tapi yasudah, nyatanya Pemerintah sudah benar-benar menyerah untuk membangun monorail dan membiarkan menara kegagalan sebagai bukti bahwa awalnya Jakarta hampir punya monorail. Bye

November 18, 2011

Mendengar Papua

Kebanyakan orang mengejar sesuatu yang ingin mereka miliki dengan berbagai upaya serta perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar, sekalipun nyawa mereka menjadi taruhannya. Lalu saat sesuatu itu telah mereka miliki dan mereka genggam, tidak sedikit dari kebanyakan orang itu menjaganya dengan tidak hati-hati. Karena merasa telah memiliki sesuatu itu, maka tidak ada kesungguhan dalam menjaganya, bhakan bisa dikatakan begitu acuh.

Contohnya banyak, mulai dari hal kecil aja. Masa-masa menggebet . untuk ngedapetin cewek yang disuka, nggak sedikit kok cowok yang rela berkorban ngelakuin segala cara supaya cewek itu bisa jadi pacarnya. Setelah udah jadi pacarnya, awalnya masih sayanggg banget tapi seiring berjalannya waktu, tidak sedikit cowok yang hliang rasa kesungguh-sungguhannya, bahkan bisa aja jadi acuh.

Keadaan itu nggak jauh beda sama Indonesia. Sudah sangat sulit memperjuangkan suatu daerah untuk direbut dari bangsa lain, dengan darah dan keringat pahlawan tapi setelah berada di genggaman daerah itu justru seolah ditelantarkan dan dipinggirkan.

Entah apa alasannya, apa karena daerah itu berada di paling timur Indonesia ?

Gue juga nggak tahu.

Fakta yang menarik dan baru gue tahu adalah Pulau Irian Jaya (Papua) itu ternyata luasnya 3,5 kali dari Pulau Jawa. Wauuuwww !

Kita yang sedang berebut lahan dan oksigen di pulau Jawa, serta berdoa supaya air laut menunda untuk menenggelamkan Pulau Jawa, nyatanya harus membuka mata kalau di Timur Indonesia sana ada suatu wilayah yang lebih luas dan mampu menampung kita.

Jangan tanya kekayaan apa yang terkandung di dalamnya, tapi cukup tahu saja kalau di Mimika Papua terdapat sebuah perusahaan Negara adidaya yang berafiliasi dengan PT. Freeport Indonesia.

Mereka mengeruk emas, tembaga dan perak untuk dipasarkan di penjuru dunia. Mereka mengeruk dari perut bumi Indonesia, perut bumi Papua yang diperjuangkan 50 tahun lalu.

Jika dipasarkan ke seluruh penjuru dunia, harusnya Papua menjadi provinsi terkaya di Indonesia atau paling tidak sejajar dengan provinsi lain, seperti Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dll bukan ?

Ya, Papua memang memiliki pendapatan perkapita Rp. 11.000.000 tapi 45% penduduknya berada dalam kemisikinan. Sungguh ironis menurut gue. Itu menandakan hanya segelintir orang yang menikmati manfaat dari hasil alam Papua yang begitu berlimpah, lalu sisanya kemana ?

Waduh gue juga nggak tahu. Fakta-fakta di atas juga baru gue ketahui beberapa hari yang lalu.

Mendengar kata Papua, yang terlintas pasti manusia berkulit coklat kehitaman dengan koteka dan bambu panjang di tangannya. Atau penembakan karyawan PT. Freeport Indonesia.

Beberapa minggu lalu, sebelum SEA GAMES merajai stasiun TV swasta maupun nasional—seperti saat ini—layar kaca Indonesia diliputi kabar mengenai Papua yang memanas. Penembakan karyawan PT.Freeport seperti berlangsung setiap hari.

Jujur kalau mendengar kata Papua, yang terbayang dalam pikiran gue adalah Raja Ampat . suatu tempat yang seperti surga, katanya. Gue sendiri belum pernah lihat langsung, palingan lewat gambar atau tayangan di TV tapi asli emang keren banget dan gue pengen banget ke sana dibanding Bali.




Saat mendengar kata Papua, yang gue bayangkan adalah langit-langitnya yang cerah seperti digambarkan dalam film Denias garapan Ale & Nia Sihasale.

Saat mendengar kata Papua, gue selalu ingat dengan tradisi mereka yang unik, perang antar suku yang diakhiri dengan bakar batu.

Papua punya banyak potensi menurut gue. Tidak hanya dari sumber daya alamnya, tetapi juga sumber daya manusia. Terbukti dari pemenang olimpiade Fisika yang berasal dari Papua, pemain bola juga yang keren-keren aksinya, berasal dari Papua

Lalu, mengapa sepertinya Papua seolah terpinggirkan ? seolah dianaktirikan ? hingga mereka ingin memisahkan diri dari kesatuan NKRI ?

Apakah perhatian kita kurang kepada mereka ?


Mari kita tanya pada diri kita sendiri.



© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis