June 10, 2011

Sans Titre

Awalnya, kupikir ini semua akan menguap
Ya, bersiap menguap..seperti air yang berubah jadi uap ketika dipanaskan
Hilang ditelan angin
Lenyap
Aku pikir rasa ini juga akan seperti itu
Menguap, hilang, lenyap ditelan waktu
Semua rasa rindu, cinta, sayang dan entah yang lainnya tentang kamu
Akan sekejap melebur bersama waktu
Atau ditelan waktu
Dan aku akan tersenyum siap melupakanmu
Karena aku selangkah hampir mampu
Lalu, malam ini mengubah segalanya
Aku masih rindu kamu, masih ingin berceloteh bersama kamu
Sambil menekan tombol rewind bersama
Mengenang yang telah lalu
Yang aku dan kamu pernah lewati
Bahagia, salah paham, rindu, canda, kesal, haru, malu
Semua warna warni terangkum bersama
Tak peduli dengan status aku siapamu dan kamu siapaku
Yang jelas, aku dan kamu saling suka
Saling rindu…dan saling tahu
Malam ini menjelaskan semuanya
Meski lewat pesan singkat yang hampir memenuhi memori ponselku
Malam ini mengubah segalanya
Membuatku harus siapkan mental baja untuk jika harus benar-benar melepasmu
Melepasmu jauh menuju anganmu dan anganku
Meski waktu, samudra, selat, jalan raya, rumah-rumah penduduk, kendaraan—menjadi pemisah antara akau dan kamu
Tetapi, kalau memang tulang rusuk kita adalah satu
Dia akan menyatukan kita
Tak peduli kapan dan tak tahu kapan
Tapi aku percaya padaNya
Seperti aku percaya pengakuanmu malam ini yang melunturkan kesalahpahaman dan skenario pikiranku….


21 Mei 2011
I’ll miss you, dear

May 15, 2011

One Word : TIMPANG


Setelah sempat sakit sehari karena kepikiran dengan hasil UN dan gossip-gosip beredar, dag dig dug selama hari Sabtu, menunda semua hal sampe keluar pengumuman UN, nggak bisa tidur semalam sebelumnya, finally gue dinyatakan LULUS dengan nilai yang..ya Allhamdulillah memuaskan.

Mungkin, seharusnya gue nggak perlu ketar ketir dag dig dug dan nggak bisa tidur segala kalau saja gue bisa memercayai suatu hal yang terjadi sehari sebelumnya, yaitu Minggu menandakan gue lulus.

Hari Minggu 15 Mei 2011 pukul 10.48 (waktu ponsel gue)
‘Back To December’nya Taylor Swift mengalun dari Hp gue yang menandakan kalau ada telpon dan saat gue lihat di layar ponsel bertuilskan “Pak Pupud.mzr”. Oh Gosh ! Wali Kelas gue ! Ada apaan nih? Kok gue ditelpon ? Jangan-jangan gue mau dikasih tahu nggak lulus lagi. Astagfirullah jangan sampe deh.

Ok ! Calm down dan guepun mengangkat telpon itu, lalu terlibat pembicaraan yang gue sadari melalui kaca kalau bibir gue pucat. Pucat parah. Kaya orang mau mati. Asli.
Oke ! langsung ke inti “Kamu besok masuk ya. Ada geladi bersih, karena kamu perwakilan dari IPS”

Hah? Gue Cuma mengiya iyakan aja, sebenernya banyak banget yang pengen gue tanyain tapi berhubung kuping gue suka rada bermasalah jadi daripada pas dijelasin gue ber-haah haah ria, guepun mengurungkan niat itu. Pembicaraan berlangsung hanya selama 01.01

Dalam pikiran gue seolah ada yang bilang “wah fit berarti lo udah aman, udah lulus dong”, tapi ada suara lain “belum tentu fit, kemungkinan terburuk bisa aja terjadikan”

Ok ok sudahlah perdebatan itu sudah patah karena gue LULUS.

Dan..dan saat berbahagia kesana kemari (ditarik temen) buat jadi banci kamera yang menjamur (punya adek kelas). Foto sana sini dengan membanggakan kertas bertuliskan LULUS, salaman sama guru-guru, peluk sana sini (sesama jenis maksud gue), air mata bahagia dan berbagi selamat . semuanya mengharukan, moonzher 23 (almamater gue)

Tiba-tiba beberapa teman mengabarkan kalau gue dicariin Pak Yayat, Hahh ada apa?
Mana keliatannya gue disuruh buru-buru, padahal gue lagi repot nungguin undangan wisuda. Guepun langsung menuju dimana tempat pak Yayat berada.

Lalu gue diceritakan maksud dan tujuannya, yang samar-samar sudah gue dengar dari Pak Pupud sebelumnya.

Pengantin Wisuda, ritual yang seakan sudah biasa di moonzher saat acara wisuda.
Pengantin berasal dari siswa/i lulusan terbaik perwakilan IPA dan IPS. Awlanya gue bingung, nilai UN gue biasa aja, malah banyak yang lebih tinggi daripada gue tetapi ternyata dilihat dari keseluruhan rapot, dan gue yang terbaik dari IPS. Sementara untuk IPA, diwakili cowok, Syaiful—nggak tahu kelas berapa, tapi pas kelas X dia X.9—ya itu yang gue tahu.

jadi gue mau dijadiin Pengantin Wisuda..

Lalu kami deisejajarkan dan…ya terlihat sangat tidak serasi…terlihat sangat timpang
Ya. TIMPANG !

Gue terlalu rendah untuk dia, atau dia yang terlalu tinggi untuk gue.
Ahh entahlah, kami cuma dipandangi Bu Rusminah dan Pak Yayat.
Mereka bingung, hingga suatu keputusan diambil, gue dengan terpaksa diganti…karena terlalu…ralat gue kurang seimbang dengan dia

Mana seimbang 150an dengan...170an kali ya. Entahlah

Gue menerima dan akhirnya digantikan oleh Feby, setelah menimbang antara Ranggi, Lisa, Manda.

Gue berbesar hati mengorbankan…perasaan gue.
Jujur aja nggak ada rasa sedih, sebel atau apapun, cuma gue tahu satu hal


Selaras, Seimbang, Sesuai itu penting dan indah dilihat. Mungkin itu yang ingin disuguhkan oleh guru-guru dan panitia di hadapan ratusan pasang mata di 19 Mei 2011, di acara wisuda 23. bukankah itu sebuah harmoni dan keindahan ?



Syukuri dan Hadapi

16 Mei 2011
Coba gue tanya, anak SMA/MA/SMK tahun terakhir manakah yang nggak ketar ketir, deg-deg an, was-was menunggu hari itu.
Kalau gue, jujur aja sangat bergantung dengan hari itu.
Untuk melakukan aktivitas apapun gue bergantung tanggal segitu.
Mau jalan? Mau daftar SNMPTN tulis? Mau cari kebaya dan segala hal buat wisuda 19 Mei, guepun bergantung apa yang terjadi tanggal 16 Mei

Dan…hari ini apa yang terjadi tanggal 16 itu telah terjadi.

Hari ini Pengumuman Hasil Ujian Nasional tingkat SMA sederajat.

Momment-momment pengumuman memang sama kentalnya dengan angkatan sebelumnya. Kita dikumpulkan di lapangan basket dan berbaris sesuai kelas masing-masing, dimana di depannya telah siap wali kelas kami dengan setumpuk amplop hasil UN.
Momment ini udah dua kali gue kenali lewat bidikan-bidikan cantik anak Harmonia (Nama Buletin Sekolah) di halaman Harmonia. Tetapi hari ini, moment itu nggak cuma gue kenali, tetapi gue rasakan. Gue berdiri di tengahnya, dan ada kemungkinan masuk halaman Harmonia (*pdmodeon padahal gue kecil kaya upil mana keliatan)
Ahh sudahlah..gue bukan banci kamera, bodo amat masuk atau nggak, kena jepret atau nggak. Gue cuma takut, khawatir, dan nggak deg-deg an, tapi kata temen gue bibir gue pucat. Gue takut dengan hasil UN gue, gue takut kemungkinan buruk bisa aja terjadi. Astaga !

Sambutan Kepala Sekolah seolah menebalkan semua perasaan campur aduk kami. Antara takut, khawatir, penasaran, bahagia, dan haru. Setelah sambutan KepSek berakhir, kami dipanggil sesuai absent untuk menerima amplop penuh tanya tersebut.
Saat giliran gue…tangan gue seakan gemetar menggenggam bolpoin untuk tanda tangan. Tetapi tenang, tanda tangan gue nggak belepotan. Amplop itu berada di tangan gue disertai jabatan tangan oleh Wali Kelas, yaitu Pak Pupud. Nggak cuma jabatan tangan, tapi ada pembicaraan di situ “Jangan lupa ya, geladi bersih. Jadinya hari Rabu. Perwakilan terbaik dari IPS”.

Mendengar ucapan itu, seharusnya gue bisa berpikiran kalo gue emang LULUS, nggak perlu pasang tampang takut atau apa, tetapi tetep aja. Kita membuat lingkaran XII IPS 2 dengan amplop di tangan masing-masing. Lalu di situlah, tiba-tiba perasaan gue mengharu, mata gue berkaca-kaca, nggak tahu kenapa. Tetapi—entah beruntung atau tidak—air mata gue nggak tumpah. Untuk memastikan kita telah memegang amplop masing-masing, kita diminta mengangkat amplop. Saking semangatnya, ujung amplop gue (tajemkan tuh) sampai mengenai kening Mahe, teman di sebelah gue yang sangat cantik merona itu. Oke Mahe, silahkan Anda berkata kalau gue emang Lebay.

Dalam hitungan mundur KepSek (kalo nggak salah), kita membuka amplop…gue buka amplop sambil berujar “Bismillah” dan gue cuma fokus dengan tulisan berbackground kuning bertuliskan

LULUS


Gue nggak peduli dengan beragam tulisan panjang di atasnya yang menerangkan PerMendiknas—entah pasal berapa. Bahkan, gue juga nggak liat apakah ada nama gue tertera di situ atau nggak, yang gue tahu kertas itu ada di dalam amplop yang ditujukan untuk gue, jadi udah otomatis dong, tuh kertas buat gue.
Lalu gue menuju kertas berikutnya, kertas berisi nilai. Asli itu nilai banyak banget, gue sampe bingung dan baru sadar sekitar 10 detik kemudian, tabel mana yang merupakan nilai UN gue. Setelah digabung dengan Nilai Sekolah, ternyata nilai rata-rata gue (atau ditulisnya nilai akhir) adalah 8,6.

Seketika gue langsung menghambur sujud syukur, mengikuti Mahe.

Dasar manusia, ada persaan aneh yang tercipta dalam hati. Gue ngerasa nggak puas, gue ngerasa biasa aja saat itu juga, ditambah lagi saat mengcompare dengan nilai akhir teman-teman yang lain. Teman sebelah gue, Mahe. Nilainya di atas gue, yaitu 8,7. lalu menghambur Safira bergabung, nilainya lebih waww lagi 8,8. eitss belum berakhir, ternyata Lisa 8,9.


Gue tetap bersyukur, meski perasaan nggak bisa boong kalau gue kecewa sama nilai gue, kecewa sama diri gue. Tetapi gue bersyukur, doa gue seakan terjawab dan salah satu pencapaian gue di 2011 ini tercapai, yaitu : LULUS UN dengan rata-rata 8,5an
Meski cuma lebih 1 poin, gue bahagia, gue senang, gue gembira karena artinya gue punya kesempatan buat ambil formulir di sebuah gedung coklat di bilangan M.H. Thamrin.

Nah, gue mensyukuri semua ini. Allhamdulillahirabbilalamin. Terima kasih Ya Allah, Kau mendengar dan mengabulkan setiap doaku, sujudku, dan jerih payahku.

Maka setelah gue syukuri, gue harus siap menghadapi segala hal yang telah menanti.

May 12, 2011

Mesin Penenun Hujan

Mesin Penenun Hujan by Frau


Merakit mesin penenun hujan
Hingga terjalin, terbentuk awan
Semua tentang kebalikan
Terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu

Keputusan yang tak terputuskan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita

Kau sakiti aku, kau gerami aku,
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan

Merakit mesin penenun hujan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita

Vice Versa



Aku dan Kamu adalah dua hal yang selalu berkebalikan, tapi melengkapi seperti yin dan yang, seperti hitam dan putih, seperti vice dan versa


Alanda Kariza - Vice Versa









© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis